HOME/RUMAH

Rabu, 13 Desember 2017

Lelakiku




Oleh ROHYATI SOFJAN


Prolog:
            JIKA kau bertanya tentang lelaki-lelakiku, atau lelaki mana yang paling memengaruhiku. Akan kubagi suatu cerita berikut secuil rahasia yang melingkupi sejarah hidupku. Barangkali kau akan terpana meski sudah kubagi sebagian kisah itu. Biarlah kubagi lanjutannya untuk memperkaya pemahaman risalah cintamu. Setidaknya untuk narasi-narasi yang ingin kau tuturkan pada sekian orang tak berbilang.
Atau setidaknya melegakan sesak dadamu kala yang tersayang terpaksa menjadi kenangan; tak ada yang buruk dari kenangan. Ia bagian dari perjalanan. Masa lalu, kini, dan mendatang: sebagai tempat becermin kita!
Ini untuk Risalah Atas Nama Cinta-mu.
Murni tanpa pengaruh novel Ayat-ayat Cinta-nya Habiburrahman El Shirazy yang telah kau baca; dan sedang kupertimbangkan apakah esok akan beli itu di Ultimus sehabis gajian, karena kau seolah ikut “merajukku” untuk memahami bagian suratmu tentang: “Di manakah seorang ‘Aisha’ itu kini berada?”
Maka bersiaplah!

#1

Ini bukan cinta pertama.
Memang seharusnya aku menulis memoar tentang cinta pertama, namun apakah ada bedanya jika yang kutulis perihal seseorang yang menjadi subjek cinta platonis jilid V, guru ketiga dalam hidupku (almarhum ayahku adalah guru pertama), dan barangkali cinta platonis yang bisa dikategorikan pertama secara dewasa; dari usia dan pencapaian peranku kala jadi musafir dengan sepenuh kesadaran sekaligus ketidaksadaran.
Semua bermula dari dunia pilihanku (dan pilihanmu) yang mempertemukan kami, juga pada akhirnya malah mempertemukan kita.
Percayakah kau, jika sensasi yang hanya bisa kunikmati sendiri itu seolah telah menyatu dalam urat nadiku. Ia bagian dari darahku. Yang memompa semangatku.
Ah, tentang spirit itu bukankah telah kubagi dalam surat sepanjang 42 halaman yang kukirim dalam paket 1.333 gram, Januari kemarin. Surat yang membuatmu “garing”. Lalu kau balas dengan paket entah berapa gram sebab lebih berat dan besar daripada kirimanku, berisi surat 8 halaman print out dan 50 halaman tulisan tangan di blokno te yang utuh (sebagai jawaban atas protesku kala kita chat di YM! sebab aku suka tulisan tanganmu yang rapi); kaligrafi; naskah …Hayyah… dan Sepenggal Risalah yang kau ingin aku edit berikut disketnya; dua buku Adiyatul Ibad (untuk mengaplikasi imanku yang futur melulu? :p); buku Aku Bertanya, maka Aku Ada karya Fahruddin Faiz -- kawanmu dari UIN Kalijaga, sebagai balasan atas buku Risalah Patah Hati kirimanku yang ditulis Faiz juga --, barangkali untuk memahami mengapa kau selalu memancingku dengan pertanyaan demi pertanyaan yang membuat kita harus berdebat sekaligus “meledak”; esai “Menjadi Seorang Laki-laki”-mu; dan puisi “Perahu” karya muassis sekaligus pembina sanggarmu.
Mungkin kau akan bertanya, haruskah ada lanjutannya lagi? Aku tahu kau akan selalu demikian. Hidup dengan rentetan pertanyaan yang membutuhkan pertanyaan pula sebagai jawaban. Untuk hal itu aku coba mengimbangi, meski kau berulangkali membuatku terpaksa “tulalit”. Seolah menunjukkan memang demikianlah seharusnya seorang lelaki di mata perempuan. Taklukkan dia dengan kecerdasan hati dan pikiran. Antara intelejensi, emosi, dan spiritual.
Kau membawaku menjelajahi dimensi tak terbayangkan!
Akan tetapi, bukankah aku hendak bercerita tentang cinta, entah yang ke berapa jika kau atau siapa saja tak meyakini bahwa itu bukan yang pertama. Lalu mengapa harus merembet pada kisah kita?
Baiklah, aku putar ulang gramofon kenangan!

#2

Dalam usiaku yang jelang kepala tiga (haruskah aku cemas akan usia, ada “hantu” berupa kerut, bercak di wajah, selulit, osteoporosis, menopause, bahkan uban [rambutku belum beruban], juga label perawan tua jika belum juga kutemukan Qowwam itu), hanya ada lima lelaki yang kuyakini sebagai bagian dari sejarah cinta platonisku.
Kau lebih tahu yang terakhir. Yang ke lima sekaligus yang pertama secara dewasa. Kau telah tahu siapa ia dari cerita-ceritaku. Kau juga amati ia bagaimana di milis kita. Namun yang tak kumengerti, apakah kau paham mengapa harus demikian. Selain rasa cemburu, akankah seorang perempuan memosisikanmu dalam posisinya. Perempuan yang memujanya (namun tidak sebagai dewa), mengaguminya, menjadikannya figur untuk diteladani, sekaligus mengkritisinya.
Apakah itu cinta?
Di sana ada hasrat. Sebagaimana aku berhasrat sebagai seorang perempuan matang yang ingin menjelajahi wilayah tubuh lelaki untuk menemukan arti penjelajahan dalam ikatan “setara” dan “saling”. Namun aku sadar hasratku tidaklah pada tempatnya. Itu ujian. Kelak ada lelaki lain dalam cinta lain yang mengajariku bahwa hidup tidak semata untuk hasrat; dan itu dalam ikatan sah secara agama dan normatif: bukan perzinaan!
Semoga kita (juga ia) dijauhkan dari dosa itu. Amin.
Namun apakah aku berdosa jika sampai sekarang, sejak Februari 2000, masih mencintainya?
Februari 2000?
Sekarang awal Maret 2005. Berarti lima tahun.

Aku masih mengeja makna cinta

Malam dan kantuk saling pagut
Adakah kau sampai pada akhir tanya
Sebab hati dan hidupku tak beringsut
Pada ada dan tiada.

Bandung, 01.40 dini hari dalam WIB, 1 Maret 2005


 #3

Dibutuhkan keberanian.
Ya, dibutuhan keberanian untuk melanjutkan memoar ini sebab membagi rahasia bukanlah hal yang mudah meski di antara kita sudah saling terbuka, ada saja hal lain berupa batas-batas yang tak ingin dibagi demi privasi.
Bagaimana seseorang bisa jatuh cinta? Dari mata turun ke hati, atau malah dari kata lalu menjiwai? Entahlah. Yang jelas dari sekian subjek cinta platonisku, ketertarikanku pada mereka selalu bermula pada pandangan pertama. Seolah ada dorongan tertentu untuk itu. Ada sesuatu yang entah mengapa seakan mengharuskanku demikian, dan semua bermula dari senyuman.

Bandung, 01.15 dini hari dalam WIB, 5 Maret 2005



#4

Pertama kali aku mengenal cinta platonis kala usiaku sekira 14 tahun. Pada seorang lelaki 2 SMA di kampungku. Suatu siang kami berpapasan di gang yang sempit dekat rumahku, dan ia tersenyum padaku. Duhai sensasinya! Seketika itu juga aku terpesona padanya. Bagiku ia makhluk paling menarik di antara sekian lelaki yang berlalu-lalang.
Aku tak perlu bercerita bagaimana lanjutannya, itu tak lebih dari cinta monyet yang masih sangat naïf. Yang jelas aku selalu ingin berjumpa dan berpapasan dengannya untuk saling melempar senyum meski cuma bisa ngomong, “Hai!” atau “Punten,” atau “Bade ka mana?”
Lalu seiring waktu dan tempat, sosoknya tergantikan sosok-sosok lain. Aku tak terpesona lagi padanya, bukan karena ia berlaku buruk padaku melainkan fase pendewasaan ketika belajar mengeja makna dunia.
Sepuluh tahun kemudian setelah empat nama sempat ikut andil mewarnai hariku, tiga tahun kemudian setelah aku lulus SMU dan mengakhiri rasa terpesonaku pada subjek cinta platonis jilid IV yang kawan sekolah karena tak bertemu lagi; nasib mempertemukan kami agar ia menjadi bagian dari sejarahku -- juga sejarahmu.
Suatu sore di pertengahan Februari, kala aku sedang menunggu di suatu ruang, sekonyong-konyong ia masuk untuk mengambil buku, entah tafsir Quran atau Hadis
Sosoknya yang tinggi dan atletis dengan rambut gondrong seperti Lilo KLA menghenyakkanku. Bayang-bayang seorang psikopat, guru keduaku menyeruak. Kucoba meyakinkan diri bahwa paranoidku tak beralasan, aku coba mengamati warna mata dan wajahnya dari jarak beberapa langkah tempat dudukku.
Dan kau tahu reaksinya? Hanya senyum kecil yang tersungging di bibir. Pemakluman atas ulahku. Senyum itu. Betapa tenteram aku. Pertama karena ia bukan psikopatku, kedua karena tidak ditujukan untuk memikat sesiapa, dan ketiga karena aku tergetar oleh senyumnya. Ada sesuatu yang menggerakkanku untuk “jatuh cinta” pada pandangan pertama.
Apa karena ia tampan? Tentu saja di mataku. Entah di matamu karena kau telah lihat sosoknya dalam CD naskah buku Forum Bahasa Media Massa. Namun percayalah, ada banyak wajah-wajah berkibasan di sekitar. Lalu mengapa aku bisa terpesona padanya? Ada banyak alasan tak terumuskan. Ini bukan masalah kimia atau fisika. Ini masalah doaku pada-Nya, agar aku jatuh cinta pada orang yang tepat. Dan ia bagian dari takdir yang kutemui dengan jalan bergerak, sebab bagiku hidup adalah gerak.
Mungkin kau bingung dengan keyakinanku. Namun bukankah, seperti tulisanmu dalam surat tentang topik cemburu, keyakinan pun memiliki alasan. Dan inilah alasanku: sesuatu yang tak terpahamkan!
Karena ialah, aku jadi bersemangat  dalam duniaku namun waktu itu aku belum tahu siapa ia apalagi namanya.
Lalu aku sampai pada babak lain: mengenalnya lebih dekat
Suatu malam aku harus ke tempatnya untuk menyerahkan naskahku. Dan aku ingin bertemu dengan penanggung jawab rubriknya. Aku diminta ke atas karena ia ada di lantai dua. Kunaiki saja tangganya dan sempat kulihat sosoknya sedang duduk di depan komputer bersama seorang rekan. Masih saja tampan meski terlihat kelelahan, dan rambutnya kini diikat ke belakang. Kami saling berpandangan. Tentu saja aku gugup sekaligus riang meski berusaha tak menunjukkan.
            Kala aku ditanya seorang bapak akan keperluanku, kukatakan saja niatku. Dan kau tahu apa yang terjadi? Sosok gondrong itu tiba-tiba bangkit dari kursinya dan berjalan menghampiri. Aku pucat. Lampu neon yang semula berpendar terang terasa buram ganti menyilaukan.
Dan dengan gemetar kutanyakan padanya apakah benar ia adalah…. Suaraku tidak jelas waktu itu. Ia mencondongkan kepalanya untuk memahami ucapanku. Aku tambah gemetar dan terpaksa mengulang dengan lebih gemetar. Sungguh aku ingin segera menghilang dari ruangan itu. Menjelma kelereng dan jatuh menggelinding menuruni anak tangga di belakangku, lalu terus, terus ke jalan raya.
Akan tetapi, aku harus menghadapinya tak peduli gugupku kian menjadi-jadi dan terpaksa ia berulangkali mencondongkan kepalanya dekat wajahku. Entah berapa sentimeter dekatnya, setidaknya lidahku tak tergigit oleh gemetar bibirku. Aku tak pernah berpikir akan demikian. Tuhan sungguh Sangat Nakal! 
Lalu akhirnya adegan itu harus usai. Waktu serasa melambat berabad-abad. Dan di luar, kala menyeberangi jalan di suatu perempatan, aku ingin menari-nari jika hilang kendali. Malam itu luar biasa, aku harus bertemu dan tahu siapa ia dengan cara tak terduga!
Kemudian, kupikir aku tak punya keberanian untuk bertemu lagi dengannya. Namun tangan nasib menarikku pada pertemuan demi pertemuan lain, untuk berbincang dengannya meski di dua kesempatan. Dan saat itu gugupku sudah hilang. Ia mampu membuatku santai, nyaman, sekaligus aman. Itu terjadi pada pertengahan 2000 lalu.
Lalu kami tak pernah bertemu lagi. Meski pernah kukirimi ia surel (surat elektronik), tetapi karena suatu hal aku tak sengaja memblokir alamatnya sehingga tak pernah menerima balasannya. Kupikir ia tak ingin berinteraksi lagi, jadi kusudahi saja. Namun milad Lukman A Sya yang ke-27 pada 1 November 2003 mengubah segalanya. Aku sengaja menulis surel ucapan selamat  dari Plasa dengan Cc beberapa kawan, berikut Bcc untuk alamatnya. Iseng saja. Tak ada tanggapan. Namun tanggapan lain untuk surel lain tiba-tiba menghuni inbox-ku di Yahoo!-ku yang lain. Tentu saja aku terkejut sekaligus bahagia bukan main.
Namun  kau tahu ‘kan, seperti kataku, bahwa interaksi kami dalam batasan-batasan formal. Ada jarak yang kami jaga. Berbeda dengan kita yang bisa saling maki dengan kosakata kasar yang kubisa, jika kesal atau bercanda, “Sialan!”
Di sanalah aku belajar menempatkan diri secara dewasa. Pelan namun pasti, aku telah ber-evolusi. Evolusi yang revolusioner dalam sejarah hidupku. Kuharap aku tak salah menjadikannya guru sebab ia mengajariku banyak hal yang tak kuketahui, dan aku tinggal mencari jalanku sebagai seorang murid.
Seperti kataku, aku mencintai sesuatu dengan caraku yang dungu, ganjil, atau apa saja yang menggenapkan luka mewujud bahagia.
Tahukah kau apa yang paling kutakutkan dalam episode ini: jadi murid yang gagal. Namun aku tak tahu apakah ia punya kekhwatiran sebagai seorang “guru”: diabaikan! Dan aku tak ingin gagal apalagi mengabaikan. Meski hidup penuh dengan sekian kegagalan dan pengabaian.


 #5

Satu hal yang kusuka darinya: di mana keyakinan nyaman bersandar. Betapa sulitnya memercayai apalagi dipercayai itu. Ia berbeda dari sekian individu yang kukenal. Adakah insan yang meluangkan waktu untuk peduli dan berbagi? Kudapatkan kepercayaaan diriku yang masih berkeping-keping untuk kurangkai menjadi satu kesatuan untuh bagi pembentukan karakter.
Sungguh aku tak percaya, lelaki yang diam-diam kucintai secara platonis bisa “menguatkan” dengan caranya, memercayai bahwa aku pasti bisa di balik keterbatasanku, mengajariku apa yang ia tahu, memberiku nasihat dan jawaban bagi sekian tanya yang kulontarkan, dan sekian kesempatan lain yang ia bukakan pintunya setelah aku berjuang tentunya.
Jangan katakan ia lakukan semua itu demi “menghargai” cinta platonisku. Meski kau bilang, lelaki mana yang tidak tersanjung dicintai seperti itu. Kurasakan nada kecemburuan yang mencengangkan: apakah kau tak cukup dicintai atau hanya ingin dicintai orang tertentu saja?
Aku termasuk orang yang paling takut dicintai. Entah sudah berapa cinta kutampik dengan sikap-sikapku yang sangat menjaga jarak. Beberapa orang mengatakan aku rumit. Bersikap menyebalkan sebagai semacam proteksi diri dari kemungkinan disukai dan dicintai.
Kau mungkin akan bilang, “Bagiku kau tak seperti itu!” Namun aku punya alasan mendasar, salah satunya sifat antisosial: AKU TAKUT HIDUP BERSAMA ORANG LAIN!
Ketakutan aneh yang berulangkali kucoba lawan. Entah sejak kapan rasa itu timbul. Barangkali hidup dengan sekian penolakan sejak kanak-kanak terbawa hingga dewasa. Aku tak cukup percaya diri dan berarti untuk berbagi secara mendalam. Sisi gelap ini pun kubagi padanya.
Kau tahu apa yang ia lakukan padaku? Ia tak memanipulasi. Kadang aku merasa ia mencoba bersikap manusiawi untuk memahami polahku, namun kadang juga aku tak yakin ia merasa tak terganggu. Sudah kukatakan panjang lebar dalam suratku dulu. Aku merasa lelaki adalah misteri. Misteri yang bisa membuatku frustrasi.
Ada satu peristiwa yang membahagiakan dan tak terlupakan, menunggunya di Terminal Leuwipanjang untuk suatu acara konvensi bahasa. Aku datang lebih awal, duduk manis dengan perasaan tak karuan. Ini perjalanan pertamaku, ke arah Barat dan dengannya (meski bertiga dengan seorang asisten editor dari Mizan yang datang belakangan).
Saat melihat sosoknya muncul di kejauhan dengan mata yang mencari dan gaya berjalannya yang bagiku terasa lucu; aku melambai selaku seorang perempuan dewasa yang kekanakan. Riang namun tak menunjukkan. Kami sama-sama sopan dan menjaga jarak. Tahukah kau mengapa, karena barangkali kini kutemukan jawabannya dalam risalah cintamu:
“Sudah kukatakan kepadamu untuk jangan percaya dengan kata-kata yang kuucapkan. Dan kalaupun kemudian engkau ingin percaya, percayalah kepada cinta. Bukan kepadaku, karena aku pun percaya padanya melebihi percayaku pada diri sendiri.”

Ia subjekku, aku menghormatinya. Ia figurku, aku meneladaninya. Ia cintaku, aku kehilangan kata. Bersamanya, meski tak berduaan dan sekejap saja, membuatku mencoba mencari alasan mengapa di balik rasa cintaku. Namun tak kunjung kutemukan!
Aku tak paham. Kau tak paham. Ia tak paham. Mereka tak paham. Hanya Pemilik Cinta-lah yang paling paham.
Bagiku ia hanya “pengantar” menuju pendewasaan peran. Namun dari empat orang subjekku, hanya ia yang berbuat lebih. Bukan maksudku mengecilkan peran lelaki-lelaki subjekku yang lain, mereka telah mewarnai hidupku dan membentuk karakterku, untuk masa lalu dengan sederet kenangan yang tak ingin kurusak. Keberanianku hanya bercinta secara platonik. Tidak didekati apalagi mendekati. Toh, aku sudah merasa cukup mendapat spirit dari itu. Bersemangat di sekolah, lingkungan rumah, sampai di kegiatan ekskul karate.
Sekarang….
Aku hidup di masa sekarang untuk entah sampai kapan. Aku ingin hidup dengan “jiwa”, bukan zombi. Aku tak merasa harus memuja cinta dengan batas yang menggelikan. Aku mencintainya hanya untuk platonisasi semata. Kelak platonisasi itu mendapat bentuk lain. Biarlah ia cukup sebagai subjek, figur, dan cinta. Sampai kutemukan cinta lain yang menggenapkan ganjil. Seorang Qowwam tempat aku benar-benar yakin.

Epilog:
            “Karena kita adalah apa yang kita cintai, dan itulah mengapa kita mencintai dan dicintai.”

Maaf kupinjam kalimatmu dalam Risalah #4, halaman 13, untuk Risalah Atas Nama Cinta MZ Fanan Isag.
Kalimat itu kurasa cukup mewakili untuk mengakhiri paparanku yang melelahkan. Terus terang masih banyak hal lain yang ingin kuungkapkan, namun aku takut dengan sesuatu yang terlalu mendetail.
Selamat pagi. Aku harus kembali melakukan ritual harian, pekerjaan membosankan demi mempertahankan kehidupan. Namun aku harus kuat karenanya, karena kau, dan karena-Nya.
Aku mencintai kalian!***

Bandung, 07.45 pagi dalam WIB, 6 Maret 2005


Catatan kaki:
  1. Qowwam: diambil dari kalimat Arrijalun qowwamuna alannisaa, yang berarti lelaki adalah pemimpin bagi perempuan.
  2. Punten: semacam kata sapaan dalam bahasa Sunda untuk maaf.
  3. Bade ka mana: mau ke mana?


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D