Tampilkan postingan dengan label DONGENG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label DONGENG. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Desember 2017

Pangeran Tampan yang Sombong



Dongeng Rohyati Sofjan


DAHULU kala, di kerajaan Selalu Damai, ada seorang putra mahkota yang tampan namun sayangnya sombong. Baginda raja dan ratu tentu saja risau dengan kesombongan putra tunggalnya yang merupakan pewaris tahta utama. Mereka ingin sang pangeran berubah lebih rendah hati dan tidak sombong lagi.
“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Raja pada Ratu ketika semua nasihat mereka malah diabaikan pangeran. Ratu pun tidak tahu, ia merasa sedih. Apalagi mereka berniat menjodohkan pangeran dengan putri kerajaan tetangga yang jelita dan baik budi. Apa jadinya sang putri kalau tahu bahwa calon suaminya ternyata sombong? Raja dan Ratu khawatir perjodohan tersebut gagal dan akan menimbulkan permusuhan antar kerajaan, mengingat ayah sang putri, Raja Diraja, merupakan raja yang keras dan tegas.
Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya Raja dan Ratu sepakat mengirim Pangeran untuk berkelana seorang diri, memantau keadaan negeri selama satu bulan purnama. Mereka memberi perbekalan yang cukup untuk Pangeran. Pada mulanya Pangeran Tampan enggan, namun tidak tega untuk menolak titah kedua orang tuanya.
Maka dikeraskannya hati untuk mengelana. Ia terlalu sombong untuk mengakui tidak tahu apa yang akan dijumpainya di perjalanan. Pangeran Tampan berkuda seorang diri tanpa baju kebesaran, dengan muram, membayangkan betapa lamanya waktu satu bulan purnama itu.
Ia berkeliling kota, tanpa peduli benar akan apa yang terjadi di sekitarnya. Hiruk pikuk pasar mendadak hening ketika Pangeran melenggang lewat pasar. Rakyat yang sudah sangat mengenalinya tentu saja terheran-heran melihat Pangeran kali ini berkuda seorang diri tanpa pengawalan. Pangeran tidak peduli. Rakyat diam. Mereka berdiri takzim, tidak ada keributan sebab mereka takut pada dampak yang ditimbulkan.
Begitu Pangeran telah melewati batas pasar menuju ujung jalan terjauh, rakyat yang memadati pasar menarik napas lega. Namun, tak urung mereka terheran-heran, pasar kembali riuh dengan kegiatan semula, dan obrolan seru seputar ketidaklaziman yang tadi.
Pangeran berkuda terus, sampai lelah dan memutuskan beristirahat. Ia menemukan saung, bangunan terbuka, yang disediakan pihak kerajaan sebagai tempat peristirahatan pejalan, lengkap dengan pancuran air di sampingnya dan tungku kayu bakar untuk memasak. Ada gerabah untuk memasak sampai kuali untuk merebus air, bersih dan terawat di sudut lemari kayu yang terlindungi.
Baginda Raja yang bijaksana rupanya sangat peduli pada rakyatnya, jadi mereka bisa bepergian jauh tanpa kuatir akan dibegal penjahat, atau kebingungan mencari tempat untuk beristirahat. Rakyat tentu senang dan ikut merawat fasilitas umum tersebut. Bagi yang telah memakai, akan langsung membersihkan dan merapikan barang dan tempat itu. Bahkan onggokan kayu bakar ada di kolong saung, sangat mencukupi siapa pun.
Pangeran beristirahat sambil termenung. Adakah maksud dari titah orang tuanya, hingga mereka mengirim dirinya untuk berkelana. Ia tahu benar akan tempat-tempat yang telah dijelajahinya di sudut negeri, termasuk hutan tempat ia biasa berburu, tapi semua selalu dengan kawalan pengawal. Dan Pangeran tak begitu peduli pada apa yang telah dibangun oleh Baginda Raja dan Ratu yang bijaksana.
Tapi kali ini lain, ia berkelana seorang diri, tanpa kawalan siapa pun, berpakaian sebagaimana rakyat jelata. sesungguhnya ia tidak tahu apa yang akan dijumpainya dalam perjalanan, namun pada akhirnya, begitu berada di tempat ini, Pangeran sadar bisakah membangun negeri agar senantiasa tenteram dan sejahtera. Bisakah ia menjadi pemimpin yang adil dan bijaksana, dicintai dan dihormati rakyatnya sepanjang masa?
Pada saat ia sedang termenung sambil memakan perbekalannya, lewatlah seorang pengelana tua. Sang pengelana masuk begitu saja ke saung itu, tak sadar bahwa yang sedang berada di dalamnya adalah Pangeran yang terkenal sombong seantero negeri.
“Salam, Anak Muda,” kata Sang Pengelana riang. Tidak seperti biasanya, Pangeran hanya tersenyum. Padahal dulu ia terlalu sombong untuk sekadar didekati rakyat jelata.
“Bapak kelihatan lelah sekali, tentu telah menempuh perjalanan jauh?” sapa Sang Pangeran santun sambil menyodorkan perbekalannya. Pengelana Tua itu tersenyum senang. Ada binar bahagia di matanya.
“Silakan dimakan, Pak, untuk mengganjal lapar dan haus.” katanya ramah.
Pengelana Tua itu tidak tahu apa pun mengenai Pangeran, ia orang gunung dari kerajaan seberang, katanya sedang mengembara untuk menemukan jodoh sejati bagi anaknya. Pangeran tertawa senang mendengarnya.
“Semoga Bapak bertemu jodoh untuk anak Bapak.”
Pengelana itu hanya tertawa. “Aku berharap jodoh bagi anakku lelaki yang santun dan bertanggung jawab.”
Pangeran dan Pengelana Tua akhirnya jadi akrab. Tanpa tahu siapa diri mereka masing-masing. Pengelana Tua tak tahu bahwa lelaki muda yang sedang berbincang hangat dengannya adalah Pangeran Sombong calon menantunya. Coba tebak siapa pengelana Tua itu? Tepat sekali, beliau Baginda Raja Diraja yang sedang menyamar untuk memantau keadaan negeri calon besannya. Ya, kedua orang itu sama-sama belum pernah bertemu langsung.***
Loji, 22 April 2012


Minggu, 24 Desember 2017

Alis dan Topi Pink Ajaib



Oleh Rohyati Sofjan


PADA hari ulang tahunnya yang ke sembilan, Alis beroleh kado dari Paman Tom Yam. Paman Tom Yam yang gemar masakan Thailand itu adalah seorang pesulap terkenal. Bibi Cubi-cubi istri Paman Tom Yam membuka restoran khusus masakan Thailand yang halal, terutama tom yam yang pedas segar agar Paman Tom Yam tak usah repot makan di luar sehabis melakukan pertunjukan.
Lucu, ya, nama Paman. Itu bukan nama aslinya, melainkan nama panggungnya. Paman dan Bibi tidak punya anak. Jadi Alis disayang mereka. Alis bahagia beroleh perhatian sedemikian besar selain dari orang tua. Kado itu adalah topi sulap, kata Paman Tom Yam topi ajaib. Warnanya pink. Alis suka sekali. Sayangnya topi itu terlalu besar baginya. Jadi Alis tidak tahu harus diapakan.
“Coba dulu, ah,” pikir Alis di kamarnya yang serba pink. Dan ketika topi itu dikenakannya, Alis heran karena bisa pas di kepalanya. Ia becermin untuk memastikan ukuran kepalanya tidak membesar gara-gara memakai topi sulap. Ternyata tak ada yang berubah.
“Aneh,” gumamnya. Namun Alis tak peduli. Barangkali benar topinya topi ajaib. Alis segera menyimpan topi itu di atas meja dan bersiap-siap untuk tidur. Tanpa disadarinya, topi itu sudah kembali ke ukuran semula.
Ketika Alis sudah berbaring dan siap membaca doa sebelum tidur, tahu-tahu topi itu bergerak. Alis ketakutan. Ia menarik selimutnya sampai ke atas kepala. Namun rasa penasaran membuat Alis mengintip dari ujung selimut. Topi itu masih bergerak-gerak.
 Lalu, whoa, seekor kelinci besar pink berdiri di atas keempat kakinya dengan topi itu yang bertengger di kepalanya. Lucu sekali. Namun Alis masih ketakutan, jadi tak berani bergerak, tetap bersembunyi di balik selimut.    
“Selamat malam Alis, jangan takut namaku Bun-bun.” Kelinci itu tiba-tiba sudah melompat ke atas ranjang. Alis refleks tersentak kaget dan duduk dengan mata membelalak.
Bun-bun tersenyum lucu. Ia sudah lucu dengan topi itu, agak kebesaran di kepalanya. Apalagi ketika Bun-bun berdiri dengan kedua kakinya lalu mengulurkan kaki depannya ke Alis, mengajak salaman.
Alis ragu, namun ia coba memberanikan diri menyambut uluran tangan, eh kaki Bun-bun. “Kamu bisa ngomong?” Alis takjub. Bun-bun mengangguk, kedua telinganya ikut bergoyang. “Bagaimana kamu bisa tahu namaku?”
“Sebab aku penghuni topi ajaib, hadiah dari pamanmu yang baik untuk anak baik.”
“Kenapa kamu bilang topi ajaib?”
Bun-bun membuka topinya, lalu, “Simsalabim, katakan apa keinginanmu, Alis?”
“Aku ingin bintang-bintang,” Alis terkikik geli. Lalu, whoa, bintang-bintang cerlang bewarna pink mengambang keluar dari topi itu. Jumlahnya banyak sekali, merubung Alis, lalu pop lenyap. Alis takjub. Ia bengong memandang Bun-bun yang cengengesan. Lucu lihat kelinci cengengesan. Apalagi kelincinya memegang topi dengan tangan, eh kaki.
Alis mendongak ke arah topi itu, tangannya meraba permukaan, tapi tidak ada apa-apa. “Bagaimana bisa?” protesnya.
“Sebab ini topi ajaib, kamu bisa belajar sulap denganku. Tinggal berkonsentrasi memikirkan apa yang kamu inginkan, maka keinginan itu akan terkabul. Tapi ingat baik-baik, anak manis, topi ini hanya akan bekerja selama kamu menjadi anak baik, topi ini khusus untukmu, dan tak ada faedahnya jika digunakan oleh orang lain. Jaga baik-baik topi ini, akan kuajarkan sulap. Mau?”
“Seperti Paman Tom Yam?” Mata Alis berbinar.
“Seperti Paman Tom Yam yang tahu faedah topi ini!” Bun-bun menegaskan.
“Aku mau belajar sulap,” kata Alis riang.
Maka begitulah, mulai malam itu Alis belajar sulap dari Bun-bun dengan menggunakan topi ajaib. Sampai malam merayap naik. Lalu Bun-bun berkata, “Sudah jam sembilan, Alis. Besok kapan saja kamu bisa belajar bersamaku.”
Alis setuju, ia memang tidak biasa tidur larut. Menarik selimut. “Selamat malam, Bun-bun.”
“Selamat tidur, Alis manis.” Bun-bun melompat ke meja semula. Lalu, sosoknya lenyap ditelan topi yang kembali ke ukuran tadi.
Alis bermimpi tengah bermain sulap di panggung, mengeluarkan aneka benda pink banyak sekali dari topi itu, disertai atraksi lucu agar tak membosankan hingga penonton yang anak-anak semua bertepuk tangan. Ada kupu-kupu, burung, sapu tangan panjang, tali temali, permen kapas, boneka lucu, aneka makanan dan mainan, sampai panggung sarat barang kayak toko. Lalu Alis dengan senang hati akan membagikannya pada anak-anak panti asuhan yang jadi penonton spesial.
Ya, Alis bermimpi dengan bahagia.***
Cipeujeuh, 21 April 2012

Rabu, 13 Desember 2017

Kura-kura yang Malang dan Monyet Setia Kawan

Dongeng Rohyati Sofjan


ALKISAH, seekor kura-kura besar jatuh menggelinding dari bukit ke bawahnya. Dan terhenti dalam posisi telentang, punggungnya berada di bawah badan, kaki dan kepalanya menghadap ke atas.
Kura-kura yang malang itu menggerak-gerakkan kakinya agar bisa mengembalikan posisi, namun itu pekerjaan sia-sia. Tempurungnya menghalangi. Tidak mungkin baginya agar bisa kembali telungkup dengan kaki di bawah.
Kura-kura merasa sangat lelah. Matahari bersinar garang menyengat hutan, kebetulan ia tidak berada dalam naungan pepohonan. Namun kura-kura enggan minta pertolongan pada binatang lain. Ia terus saja menggerak-gerakkan kakinya, dan sesekali berhenti jika kelelahan.
Ada seekor monyet hutan yang kebetulan menyaksikan peristiwa itu dari atas pohon. Monyet itu tertawa. Setelah beberapa saat mulai iba pada kura-kura. Monyet melompat turun dari pohon dan berlari ke arah kura-kura.
“Apa yang terjadi, Kawanku yang malang?” sapa monyet.
Kura-kura kesal. “Aku jatuh menggelinding, dan berada dalam posisi yang kamu lihat untuk dianggap lucu. Tidakkah itu menjelaskan sesuatu?”
Monyet tersenyum sabar. “Biar kubantu agar kamu bisa kembali pada posisi normal.”
Karena merasa tidak ada pilihan dan tak mau dianggap keras kepala seperti tempurung di punggungnya, kura-kura menyetujui tawaran monyet. “Baiklah,” katanya.
Dengan kedua tangannya monyet lalu membalik kura-kura. Monyet berhati-hati agar kura-kura tak terluka.
“Nah,” kata monyet begitu selesai membalikkan kura-kura dalam posisi normal, kaki dan kepala berada di bawah, punggung di atas. “Senang bisa menolongmu.”
“Terima kasih, Monyet yang baik,” kata kura-kura dengan suara lemah karena lelah. “Jika tidak ada kamu barangkali aku akan terus terbalik dalam posisi konyol, sampai mati kelelahan dan kelaparan, dan jadi bahan lelucon penghuni hutan.”
“Tidak masalah,” kata monyet. “Maaf tadi aku sempat menertawakanmu dan tidak lekas memberi pertolongan.”
Kura-kura tersenyum dan tidak marah. “Tidak apa-apa, Kawanku. Semoga kelak aku bisa membalas budi baikmu nanti.” Kura-kura lalu pamit meneruskan perjalanan menuju barat, dengan langkah yang lambat namun mantap. Monyet hanya bisa melambai. Dan menyaksikan kura-kura kian jauh dari pandangan.
“Selamat tinggal!” Seru monyet, suaranya dikaburkan angin siang yang kini berembus kencang. Rupanya akan ada badai. Monyet segera berlari mencari tempat perlindungan. Cuaca berubah mendung dan guntur menggelegar. Hujan deras mewarnai siang yang tadinya panas.

DI hari lain, kala sedang mencari makan, monyet terperangkap banjir bandang yang menerjang hutan.
Berjuang dalam genangan air agar tak tenggelam, monyet berteriak minta tolong. Namun teman-teman sesama monyetnya tak bisa apa-apa, mereka kebingungan. Meracau panik melihat temannya hilang timbul dari permukaan air, nyaris tenggelam.
Pada saat genting itulah, tiba-tiba muncul kura-kura dari arah daratan yang tak tergenang banjir. Tanpa banyak kata langsung meluncur ke dalam air dan berenang menghampiri monyet. Di dalam air, gerakan kura-kura lebih cepat daripada di darat.
“Naiklah ke atas punggungku dan berpegangan pada tepian tempurungku,” kata-kura-kura.
Monyet menurut. Lalu bersama mereka meluncur berenang ke arah daratan, menghampiri sekawanan monyet yang dengan gembira menyambut mereka. Monyet selamat berkat-kura-kura.
“Terima kasih, Kawanku yang baik,” kata monyet terharu. Memeluk kura-kura.
“Tidak masalah,” kata-kura-kura merendah. “Kamu pernah menolongku kala aku berada dalam kemalangan. Dan aku bersyukur bisa menepati janji untuk bisa membalas budi.”
Monyet dan kura-kura lalu berkawan baik sepanjang hayat mereka.***
#Cipeujeuh, 1 Maret 2012

~Gambar hasil paint sendiri~
#Dongeng #Kura-kura


 

Sabtu, 18 November 2017

Pemuda Dungu dan Keledai



Dongeng Rohyati Sofjan


ADA seorang pemuda yang dikenal dungu di desanya. Ia berniat membeli kuda ke pasar ternak di kota. Pemuda itu merasa yakin akan bisa membeli kuda terbaik yang kuat dan cepat. Ia ingin bisa bepergian ke mana saja dengan kudanya. Pemuda itu telah mengumpulkan uang yang susah payah ditabung dari pekerjaannya  sebagai petani.
“Dengan kuda,” gumam pemuda dungu, “aku bisa langsung menjual hasil pertanianku ke kota. Tak perlu lagi menjual murah pada tengkulak karena tak ada pilihan. Aku tak mau selamanya dianggap dungu oleh orang-orang!”
Dengan langkah mantap pemuda itu menyusuri jalan ke kota saat fajar baru saja merekah. Jadi perjalanan panjang yang ditempuhya selama berkilo-kilo meter menuruni bukit menuju kota tak dirasa melelahkan. Pemuda dungu membawa cukup perbekalan untuk perjalanan panjangnya yang kali ini dilakoni dengan riang.
Setiba di kota, hari jelang siang, dengan uang yang ada pemuda dungu berhasil membeli seekor kuda jantan yang sehat dan kuat. Si penjual bilang kuda ini kuda yang terbaik. Perlakukan dengan baik sebagai hewan peliharaan agar patuh dan setia, pesannya. Pemuda dungu mengiyakan. Si penjual lalu memberi cap nama pemuda dungu pada bahu kanan kuda. Cap itu dari besi panas yang ditempelkan agar meninggalkan tonjolan nama pada kulit kuda. Kata si penjual untuk jaga-jaga agar tidak dicuri orang dan bisa sebagai bukti sah kepemilikan.
Karena belum bisa berkuda, si pemuda menuntun kudanya berjalan pulang kembali ke desa. Sebelumnya, ia menyempatkan diri membeli perbekalan di pasar kota. Bahan makanan dan bibit tanaman, berikut pupuk dan obat-obatan untuk pertanian. Semuanya disampirkan di punggung kuda dengan tas khusus untuk mengangkut perbekalan yang juga dibelinya. Pemuda dungu pulang dengan riang. Ia menuntun kudanya dengan hati-hati karena belum terbiasa. Kuda itu menurut dengan jinak. Sesekali pemuda dungu menepuk lembut badan kuda dan mengajaknya bicara.
“Kamu akan kuperlakukan dengan baik di desa. Kamu akan beroleh cukup makan dan minum, juga perawatan.”
Si kuda cuma meringkik saja.
Setelah berjalan cukup lama, si pemuda kelelahan dan mengajak kudanya istirahat di dekat mata air. Si kuda merumput setelah minum air. Pemuda dungu makan perbekalannya. Angin sepoi-sepoi membuat pemuda dungu mengantuk, ia tidur di bawah rindang pohonan. Kuda ditambatkan di cabang pohon yang menjorok.
Saat pulas tidur itulah, ada seorang peternak sedang menyeret keledainya dengan kasar. “Dasar binatang lamban!” umpatnya sambil terus mencambuki badan keledai agar jalan cepat. Namun si keledai tidak terima dicambuki terus, sesekali mogok karena ngambek dengan perlakuan kasar tuannya. Namun si peternak seperti tidak peka pada perasaan binatang. Hanya menganggap binatang tak lebih hewan peliharaan yang bisa diperlakukan sesukanya.
Ketika si peternak hendak beristirahat di tempat pemuda dungu. Ia iri pada kuda yang dimiliki si pemuda. “Bagus sekali kuda itu,” pikirnya. “Berbeda dengan keledaiku yang bodoh.” Ia mengaso sambil terus memerhatikan kuda yang merumput dengan tenang. Ketika disadarinya siapa pemilik kuda itu, seorang pemuda yang terkenal dungu di desanya! Niat jahat muncul di hati peternak.
“Akan kutukar keledaiku dengan kudamya.” Pikirnya. Lalu dengan hati-hati menurunkan tas perbekalan yang bertengger di punggung kuda. Menurunkan beban di punggung keledainya dengan tas perbekalan si pemuda. Menaikkan tas perbekalan peternak di punggung kuda. Tentu saja si keledai kaget karena bebannya lebih berat dari tadi. Masih dengan gerakan hati-hati agar tak menimbulkan kegaduhan, Si peternak menuntun keledainya ke tempat kuda tadi ditambatkan. Lalu mengendap-endap menuntun kuda si pemuda ke tempat yang agak jauh. Setelah itu si peternak menaikinya dan menghela kuda agar segera melesat meninggalkan tempat semula.
Ketika si pemuda bangun dari tidur siangnya yang nyaman. Matahari tak seterik tadi. Ia beranjak menuju kudanya. Namun alangkah terkejutnya si pemuda karena kudanya telah berubah bentuk lebih kecil dari semula. Pemuda dungu mencubit pipinya sekadar memastikan tidak sedang bermimpi. Namun hewan yang baru dibelinya tetap berubah jauh lebih kecil daripada semula.
Dengan bingung si pemuda berjalan mengelilingi “kudanya”, mengusap-usapnya sekadar memastikan nyata. Lalu tibalah si pemuda pada kesimpulan sembarangan, barangkali kudanya berubah kecil karena kelelahan menempuh beban berat dalam jarak yang sangat jauh.
Pemuda dungu mengusap-usap bahu keledai. “Akan kurawat kamu dengan baik, cukup makan dan minum agar badanmu pulih seperti semula,” katanya lembut. Si keledai hanya meringkik.
Begitulah, pemuda dungu menuntun “kuda”-nya pulang tanpa menyadari bahwa binatang yang dituntunnya adalah keledai. Dan menepati janji untuk merawat hewan peliharaannya dengan baik. Tidak mempermasalahkan bahwa “kuda”-nya tak sebesar semula, berpikir barangkali ia telah membuatnya sakit dan kelelahan sehingga berubah wujud.
Perlakuan semacam itulah yang membuat keledai setia dan tetap sehat sampai sekarang. Membantu pemuda dungu membawa hasil pertaniannya untuk dijual ke kota. Tidak rewel sebagaimana pada majikannya semula yang kasar dalam memperlakukan binatang.
Dengan bantuan keledai itulah, hidup pemuda dungu jadi lebih makmur. Ketika ia telah memiliki cukup uang untuk membeli kuda lagi agar bisa meringankan beban keledai, bersama keledainya pemuda dungu pergi ke pasar ternak di kota. Kali ini pemuda dungu bisa tiba lebih pagi karena menaiki punggung keledai. Ia berangkat sebelum fajar merekah seperti bertahun-tahun lalu.
Pemuda dungu menemui penjual kuda yang dulu. Membeli seekor kuda betina yang kuat dan sehat. Setelah usai jual beli dan si penjual melakukan apa yang biasa dilakukan pada pembeli; wanti-wanti agar memperlakukan kuda dengan baik, lalu memberi cap pada badan kuda.
“Bagaimana kabar kudamu yang dulu?”  tanya si penjual ramah.
“Kudaku baik-baik saja,” kata si pemuda dungu sambil menunjuk “kuda”-nya yang ditambatkan tak jauh dari mereka.
Demi melihat bentuk yang ditunjuk, si penjual garuk-garuk kepala kebingungan. Ia yakin telinganya tak salah dengar, tadi pembeli setianya bilang ‘kudaku’.
“Yakin itu kuda yang dulu kamu beli di sini?” si penjual memastikan. Pemuda dungu mengangguk mantap.
“Lihatlah, sampai sekarang tetap sehat dan kuat.” Katanya bangga. Ia baik-baik saja memperlakukan hewan sampai hidupnya jauh lebih makmur daripada dulu, dan bisa membeli kuda lagi.
“Boleh kulihat?” Tanpa menunggu persetujuan, si penjual gegas menghampiri makhluk yang diyakininya adalah keledai. Si pemuda mengekorinya sambil menuntun kuda. Si penjual memeriksa keledai, jelas ini memang keledai dan tak ada cap nama pemuda dungu yang pernah ia terakan di atas kulitnya.
“Ini keledai!” Seru si penjual prihatin.
“Keledai?” pemuda dungu kebigungan, seumur hidupnya baru kali ini ia mendengar kata itu. “Apakah itu?”
Bukannya menjawab, si penjual memandang pemuda dungu sambil menilai bahwa pembeli setianya barangkali telah ditipu. “Bagaimana bisa berubah seperti ini?” tanya si penjual iba.
“Aku tidak tahu,” pemuda dungu kini kebingungan memandang keledainya. Apa beda kuda dengan keledai? Jika ini memang keledai yang lebih kecil daripada kuda, bagaimana caranya hingga bisa berubah?
“Bagaimana bisa tidak tahu?” Si penjual mencoba sabar. “Tidakkah seseorang menipumu?”
“Menipuku?!” Pemuda dungu tersentak. Kali ini wajahnya berubah muram. Ia seseorang yang terkenal dungu di desanya, sudah seberapa sering dirinya ditipu?
“Coba ingat,” kata si penjual masih dengan sabar. “Barangkali kamu bertemu seseorang yang menukar kudamu diam-diam atau terang-terangan?”
“Sama sekali tidak,” geleng pemuda dungu. “Ah, aku tidak yakin betul.” Ia mulai berpikir. “Dalam perjalanan pulang usai membeli kuda, aku tertidur di bawah pohon tepi jalan. Lalu saat bangun kulihat kudaku telah berubah wujud. Aku tidak tahu mengapa.” Ia menunduk sedih sambil mengelus-elus punggung binatang yang kini diketahuinya adalah keledai. Namun si pemuda dungu telanjur sayang pada keledainya.
“Pasti seseorang telah menukar kudamu dengan keledai itu!” kesal si penjual, ia tidak tahu haruskah kesal pada pemuda dungu atau pencuri kudanya.
“Biarlah,” kata si pemuda dungu. “Aku ikhlaskan saja. Toh, aku telah dapat ganti lagi berkat keledai ini.”
“Biar kusuruh orang untuk ikut mengawal kudamu sampai tiba dengan selamat di desa!” Kata si penjual tegas. Memanggil pekerjanya untuk mengawal pemuda dungu berikut kuda dan keledainya ke desa agar kejadian yang dulu tak terulang lagi.
“Berhati-hatilah,” kata si penjual sambil menyalami pemuda dungu yang mengangguk mantap.

Syahdan, setelah lima tahun lewat. Pemuda dungu kian makmur saja dalam usahanya. Ia telah menikah dan baru punya anak. Tanah pertaniannya kian luas, pemuda dungu selain bertani juga mengelola peternakan kecil-kecilan. Ia telah mampu menggaji orang untuk membantu pekerjaannya agar berkembang lebih baik.
Pemuda dungu belajar dari kehidupan agar tidak lagi dungu. Perempuan yang dinikahinya selain cantik dan baik budi, juga terpelajar. Jadi pemuda dungu bisa belajar banyak dari istrinya. Namun pemuda dungu tetap memperlakukan dengan baik hewan-hewan peliharaannya. Termasuk keledai yang telah banyak membantunya sampai sekarang. Pemuda dungu tak menyesal punya keledai.
Sedang peternak licik yang serakah telah menukar keledai miliknya dengan kuda pemuda dungu itu, malah beroleh kesialan. Tangan dan kakinya patah hingga ia pincang selamanya gara-gara jatuh dari punggung kuda. Kuda pemuda dungu sudah bosan dengan perlakuan semena-mena si peternak yang kasar dan kejam. Jadi kuda sengaja menjatuhkan si peternak yang mencambukinya. Saking marahnya si peternak mengusir kuda itu dari peternakannya. Sekarang kuda pemuda dungu adalah kuda liar yang bebas.
Suatu hari kuda pemuda dungu berjalan mendekati tanah pertanian pemuda dungu. Ia tertarik pada kuda betina yang ada di sana. Dan pada saat itu pemuda dungu keluar untuk menuntun kembali kudanya masuk kandang, terheran-heran melihat ada kuda lain di dekat kudanya.
Pemuda dungu menghampiri mereka. Kuda liar itu tampak jinak. Pemuda dungu mengelus punggungnya, dan pada saat itulah tampak cap namanya tertera pada bahu kanan kuda. Pemuda dungu gembira kala menyadari kudanya yang telah lama hilang kembali. Ia menuntun mereka berdua masuk kandang dengan bahagia.***
Cipeujeuh, 3 Maret 2012