Tampilkan postingan dengan label LITERA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LITERA. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Agustus 2018

Puisi Medium Refleksi dan Terapi



Oleh Rohyati Sofjan


REFLEKSI bermakna gerakan atau pantulan di luar kesadaran sebagai jawaban suatu hal atau kegiatan yang datang dari luar (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Puisi pada hakikatnya refleksi penyair terhadap hal-ihwal dari sekitar yang diserap masuk ke dalam diri. Puisi adalah medium (alat) bagi penyair untuk mengungkapkan tumpah-ruahnya rasa dan pikir dalam balutan bahasa yang cenderung sastra agar menggugah.
Dan selain sebagai refleksi (cerminan diri), puisi pun berfungsi sebagai alat untuk menerapi. Angga Wijaya, penyair kelahiran Negara, Bali, 14 Februari 1984; mendedahkan semua tumpah-ruah yang menghantamnya ke dalam antologi puisi Catatan Pulang (Pustaka Ekspresi, 2018). Sebagai refleksi sekaligus terapi!
Angga berani membuka diri perihal dirinya sebagai ODS (orang dengan skizofrenia),

Kamis, 18 Januari 2018

Tiga Siklus Kehidupan




Setiap orang membawa garis nasib untuk melalui beragam siklus kehidupan dengan masing-masing penafsiran. Dan Dian Hartati menafsirkan takdir demikian sebagai bagian dari upacara kehidupan yang harus ia lakoni, lalu memuisikannya dalam antologi puisi Upacara Bakar Rambut.

Oleh Rohyati Sofjan


ADA tiga siklus kehidupan yang ia lakoni dalam usia jelang 30 tahun: kelahiran, pernikahan, dan kepergian. Maka 30 puisi berupaya merangkum semua yang telah ia alami agar rasa itu bisa mengabadi sebagai pondasi bagi langkah berikutnya.
Bukan sekadar mengumpulkan remah kenangan semata, puisi adalah cerminan refleksi diri dalam menyikapi kehidupan. Pun kelahiran atau kematian. Pertemuan dan perpisahan. Kebahagiaan dan cabikan luka.
Dian menulis dalam kata pengantarnya, “Puisi bagi saya merupakan media kebahagiaan diri, apa pun tema yang saya tulis, apa pun apresiasi yang hadir dari pembaca. Tiga puluh puisi dalam Upacara Bakar Rambut merupakan simbol waktu bagi saya yang memasuki usia berkepala tiga. Tiga tahap kehidupan yang pernah saya lalui: kelahiran, pernikahan, dan kepergian. Tiga waktu yang membawa saya ke ruang-ruang tunggu berikutnya.”
Tiga bagian dalam simbol waktu Dian terdiri dari: Rumah Tuna, Laki-laki Bermata Merah, dan Kelahiran Ketiga. Masing-masing 10 puisi. Meski Dian memuisikannnya dengan bahasa yang biasa tanpa bermain dengan rima atau metafora rumit, namun bukan berarti tiada makna.
Justru Dian kukuh pada kesederhanaannya dalam membahasakan puisi. Lebih terpaku pada saripati kehidupan daripada bermain majas atau gaya bahasa. Setiap penyair memang membawa cetakan diri dari alam bawah sadarnya.
Dian mengangkat keseharian dalam puisi, tentang apa yang ia rasa dan pikirkan, tentang diri sendiri, almarhum suaminya, orang lain, alam sekitar, balutan sejarah, aneka upacara, sampai aroma mistik yang kental.
Dalam “Tembang Sri Tanjung”, Dian mengangkat legenda dari cerita rakyat tentang asal mula Banyuwangi. Sesuatu yang panjang bisa diurai secara singkat dalam puisi.
Sri Tanjung sebagai perempuan berupaya keras mempertahankan kesucian dan kesetiaan diri kala ditinggal suaminya bertugas, selalu berbekal pisau untuk berjaga dari gangguan raja yang merupakan atasan suaminya. Segala bujuk rayu raja tidak mempan, sampai difitnahlah ia sehingga suaminya malah mengabaikan.
Aku merintih rindu/ bertanya/ wahai semesta, kapan suamiku dipulangkan/ kandungan semakin besar/ air mata terbatas jumlahnya/ semesta, lindungi suamiku dari segala keliaran/ di tanah ini/ hutan-hutan begitu menakutkan/ laut menggelorakan auman/ dan langit/ tempat yang tak mungkin kudatangi// kau dengar, sidopekso/ aku bersenandung/ melagukan waktu dengan penuh keriangan/ doa adalah nyanyianku/ pijakan paling rawan//
Kerinduan Putri Sri Tanjung begitu membuncah namun prasangka buruk dari suaminya akibat hasutan raja yang dengki telah membuatnya lantak dan terusir. sidopekso, aku mengandung anakmu/ berdoa untuk segala kebaikan/ lihatlah/ kau akan menyesal// bunga-bunga akan bertumbuhan di sepanjang sungai/ mengalir hingga ke laut/ aromanya akan membuatmu/ gila!//
Begitulah Dian, dari beberapa buku kumpulan puisi lainnya, sejarah atau babad selalu dipuisikan secara memikat. Seakan ia bicara bahwa tiga siklus kehidupan yang dipuisikan bukan hanya mengenai dirinya semata.
Meski telah terpisah jarak dan jasad dengan suami tercinta, Dian lebur dalam kesadaran tentang kehilangan, setiap waktu kau mengikuti/ menjagaku melalui bahasa cinta yang lain/ melebihi dahulu// (“Wangi Bunga yang Mengikuti”)
Atau bagaimana ia memandang bumbu masakan merupakan saripati bumbu kehidupan sendiri, tempat kita belajar perumpamaan. Sesuatu yang biasa ada dalam keseharian ternyata merupakan simbol untuk kita baca dan cermati. Dari bawang putih, bawang merah, ketumbar, kemiri, merica, kunyit, jahe, lengkuas, daun jeruk, serai, dan garam. (“Rasa Bumbu Kuning”)
Jika hidup serupa rangkaian upacara, maka Dian berusaha merangkai semua dalam Upacara Bakar Rambut.  Dalam puisi berjudul demikian, kita akan tahu ada tradisi upacara bakar rambut untuk memulai kehidupan baru.
Bandung adalah tempat kelahirannya, dan Banyuwangi adalah kota persinggahan yang sarat upacara bagi sejarah hidupnya. Untuk mengantarkan menuju kekinian, setelah alami prosesi kehilangan karena kepergian.***
Cipeujeuh, 4 Mei 2014

Tiga Tahun yang Hilang




Apa yang dirasakan seorang anak ketika harus berhenti sekolah dengan alasan cacat fisik? Dan bagaimana peran orang tua sendiri agar anak bisa tumbuh kembang dengan baik; secara psikologis dan kognitif?

Oleh Rohyati Sofjan 


SETAMAT SD (1988) saya dengan sangat terpaksa tidak bisa melanjutkan sekolah. Bukan tidak ingin atau tidak mampu, tetapi ketulian saya sudah pasti akan sangat menghalangi untuk bisa belajar di sekolah umum yang diperuntukkan bagi “anak-anak normal”.
Ya, kala SD saya terpaksa menjalani hari di sekolah umum karena keadaan (SDN 1 di Warung Jambu, Kiaracondong, Bandung). Saya sudah telanjur masuk kala orang tua tidak menyadari adanya kelainan pada telinga saya.
Seingat saya, awal mula kehilangan pendengaran terjadi sejak usia 6 tahun, dengan sebab misterius. Saya tak ingat apakah karena infeksi telinga, pemukulan, atau apa. Yang jelas saya sangat tersiksa menjalani hari di sekolah umum, banyak tidak mengertinya. Untuk pelajaran yang didiktekan saja harus “mencontek” catatan teman sebangku.
Para guru sudah mengeluhkan keadaan saya pada orang tua, bukannya memindahkan saya ke SLB agar bisa beroleh suasana belajar yang nyaman dan kondusif, orang tua malah bolak-balik memaksa saya mengikuti beragam pengobatan. Dari yang medis sampai non-medis, dari yang masuk akal sampai kebangetan, dan tak satu pun akhirnya berhasil. Barangkali telinga saya sudah rusak parah. Error dalam saraf yang memengaruhi kinerja panca indra.
Barangkali berat bagi orang tua untuk punya anak yang masuk kategori cacat. Ayah saya yang berpendidikan tinggi harus mengalah pada ibu yang cuma sekolah sampai kelas 2 SR dan berasal dari kampung dengan pola pikir sempit. Kendali akan pengelolaan uang yang buruk oleh ibu membuat ayah yang belum setahun pensiun sebagai PNS sepertinya tak mampu memasukkan saya ke SLB yang jauh dari rumah. Jangankan saya, abang saya pun tidak diizinkan melanjutkan ke STM dengan alasan tidak serius belajar.  
Harus saya akui, ada ketidakseimbangan dalam harmoni keluarga. Peran orang tua sebagai pembina keluarga agar anak-anak nyaman dan terlindungi, juga tercukupi kebutuhannya; harus dikalahkan ego ibu. Ibu saya bukan jenis orang yang suka menabung demi masa depan atau berinvestasi dengan bijak. Dan ayah saya yang memercayakan gajinya untuk dikelola ibu bukanlah orang pelit. 
Dan akibatnya, ketika pensiun, dengan berat ayah bilang tidak bisa lagi berlangganan majalah Bobo. Bagi saya Bobo bukan sekadar kawan belajar dan bermain selama 6 tahun kurang lebih. Dari Bobo saya bisa memahami bahasa dan nama benda-benda. Bobo adalah “telinga” saya. 
Saya harus menerima kenyataan tidak sekolah, dan kemampuan saya dalam hal memahami gerakan mulut (reading lip/oral sign) mulai berkurang banyak. Ketiadaan interaksi sosial dengan teman sebaya menjadikan saya tumbuh sebagai anak yang minderan.
Hiburan saya adalah bacaan. Saya lahap apa saja asal ada hurufnya. Buku loakan atau pinjaman. Beli komik, majalah, atau buku bekas di Pasar Kiaracondong dengan uang jajan yang disisihkan. Sayangnya ibu tetap bukan jenis insan yang menghargai aksara. Jangankan koleksi majalah Bobo bekas langganan, majalah loakan pun harus alami nasib serupa, dijual lagi.
Amit-amit banget masa itu!
Alhamdulillah, setelah tiga tahun menjalani masa yang paling amit-amit, akhirnya saya bisa melanjutkan sekolah. Dan dari SMP sampai SMU kembali umum. Bukan hal yang mudah. Namun tiga tahun yang hilang mengajarkan saya suatu tekad kuat untuk menghargai pendidikan.
Dalam keterbatasan saya berusaha keras memacu diri bahwa saya mampu (melawan perasaan tidak berada di tempat yang semestinya). Meski tidak optimal benar sebab ada hal-hal di luar kapasitas kemampuan saya. Otak saya kuat dalam hal hafalan dan pemahaman huruf, namun lemah dalam abstraksi angka-angka.
Matematika dan sebagainya memakai bahasa juga, namun saya kurang memahami bahasanya. Saya baru memahami rumusan matematika dan sebagainya setelah dewasa, membantu mengerjakan PR keponakan untuk kategori SD dan SMP, itu pun setelah memelototi buku ajarnya. Merasa harus bisa agar kelak tidak jadi ibu yang buruk dan payah di mata anak saya.
Sekarang saya ibu dari seorang balita yang hiperaktif. Istri dari seorang buruh tani di kampung. Masih mencintai literatur (dengan koleksi yang bertambah dan tak harus dijual ke loakan). Mencoba mensyukuri apa yang telah terjadi sebab hidup tak bisa diputar ulang ke belakang dalam perandaian. Dan ada banyak orang  yang mendukung, suami dan kawan-kawan!***
(Untuk kawan-kawan di Yayasan Jendela Seni Bandung, Mnemonic Geng Mnuliz, dan milis guyubbahasa Forum Bahasa Media Massa)
#Cipeujeuh, 13 Agustus 2013
                                          

Minggu, 07 Januari 2018

Kenyataan Itu Puisi yang Tersembunyi





PENYAIR adalah pemain tafsir, pembaca bebas menikmati atau tidak sama sekali tafsir penyair sesuai peta interpretasi dalam kepalanya. Ada banyak penyair yang patut diperhitungkan keahlian permainan tafsirnya. Kurniawan Junaedhie adalah salah satu sampel dari populasi demikian. Senior sebagai penggiat seni sekaligus jurnalis.

Oleh Rohyati Sofjan


Perempuan dalam Secangkir Kopi (Kosa Kata Kita, Jakarta 2010) adalah buku puisi Kurniawan Junaedhie (KJ) setelah Cinta Seekor Singa (Bisnis 2030). Sesuai judulnya,  kita bisa merasakan ada tafsir tersembunyi, mengapa KJ mengambil judul aneh seperti itu? Itulah puisi, penyair bebas menafsirkan rasa menjadi kata yang terkadang sulit dipahami pembacanya. Toh, rasa juga kadang mengaduk-aduk kata hingga sulit dijabarkan. Rasa dan kata sejalan dengan tarikan napas kita.
Bagi KJ, perempuan adalah elemen terpenting yang memberi napas bagi hidupnya, menjelma puisi dari serpihan macam-macam peristiwa, penting maupun tidak penting. Dan sebagai penyair, KJ piawai menyeduh kopinya hingga menghasilkan beragam cita rasa sesuai suasana hatinya. Apakah sedang muram dan dirundung melankoli, bahagia yang membuncah, sekadar peduli atau masa bodoh.
Puisi, bagi KJ adalah JIWA. Jalan, Insting, Warna, dan Alami.
Ia membiarkan puisi ambil bagian dalam keseharian sebagai jalan hidupnya, mengikuti naluri dasarnya sebagai penyair, ia diwarnai dan mewarnai puisinya, lalu segalanya mengalir begitu saja secara alami buah dari “mengalami”.
Puisi adalah pengalaman batin penyair. Pun perempuan ibarat puisi menghadirkan peristiwa senantiasa bergema di kedalaman jiwa-raga sang penyair. Cinta, barangkali ruang yang senantiasa menggelisahkan KJ, sekaligus menggairahkan dalam petualangan imaji liar. Perempuan dalam Secangkir Kopi rata-rata menyeduh peristiwa yang berkaitan dengan hakikat cinta menubuhi jiwa.
Apakah itu cinta dalam bentuk perselingkuhan dengan beragam perempuan, cinta pada istri dan keluarga, sampai perselisihan yang terjadi ketika cinta telah melukai.
KJ berusaha jujur memaparkan lakon hidupnya dalam puisi, tidak bermaksud mencari simpati atau anti hipokrisi atau menguar sensasi. Ia hanya ingin berpuisi. Mendedahnya sebagai kenyataan yang tersembunyi. Dalam jiwa penyair, ada semacam ruang yang senantiasa memanggil-manggil, mendesak untuk dibahasakan, mengajak bermain tafsir.
Lihatlah bahasa, ia bisa menjadi sesuatu yang sublim. Seperti dalam “Perempuan dalam Secangkir Kopi (2), ada permainan imaji yang liar, bagaimana seorang perempuan masuk dan berenangan dalam cangkir kopi. Di tengah hidup yang pahit, aku senang menyelam ke/ dalam kopi bersama seorang perempuan yang hangat. Tak ada yang/ bisa cemburu. Juga sendok dan piring kecil dekat cangkirmu.//
Mari kita renungkan hidup, adakah kenyataan yang membosankan dan membuat kita tersesat? Lalu untuk apa segala jalan lurus jika cinta membawa sang penyair pada tikungan demi tikungan yang menelikung? Seperti hidup, kadang kita bosan pada sesuatu, namun anehnya tetap melakoni hal membosankan tersebut seakan ritual alami.
Pun puisi, memiliki wujud tersendiri. Kurniawan Junaedhie terus berpuisi, mendedah hasrat dan gelisah, tentang kenyataan tersembunyi.***
Loji, 23 Juni 2012

Jumat, 05 Januari 2018

[Djenar, Sudut Gelap Hidup Anak, dan “Menyusu Ayah”




 

Oleh Rohyati Sofjan


ADA hal menarik dari tema yang diusung Djenar Maesa Ayu, kecenderungannya untuk memaparkan masalah seksual, semacam kompleks kejiwaan dan selalu dialami seorang [anak] perempuan.
Itulah yang akan saya bahas di “Menyusu Ayah”, salah satu Cerpen Terbaik versi Jurnal Perempuan 2002 yang masuk antologi cerpen Jangan Main-main (dengan Kelaminmu). Antologi cerpen terbitan Gramedia yang provokatif dengan sampul merah menyala dan seolah menantang pembaca untuk menyelaminya.
Saya cenderung memandang karya Djenar sebagai semacam letupan-letupan yang mengasyikkan. Bahwa ia dengan tokoh-tokohnya seolah mengobrak-abrik tatanan moral yang penuh hipokrisi. Dan efek repetisi (perulangan) adalah semacam “bius” agar pembacanya bisa trance ke alam lain.
Blak-blakan, memang. Namun bukankah dalam realitas sekitar pun hal itu bukanlah sesuatu yang asing?
“Menyusu Ayah” terasa absurd alurnya. Namun absurditas itu tidaklah kental nuansanya. Rada mild. Kalau dibidik dari sudut pandang psikologis, tokoh aku-anak terasa “dewasa” dalam kenaifannya. Matang secara seksual sejak usia dini bukanlah hal ajaib lagi. Orang boleh saja merekanya sebagai fiksi, namun bukan mustahil apa yang dipaparkan Djenar sebenarnya merupakan sudut gelap dari kehidupan anak.
Kita jadi ikut berandai-andai sebab pengandaian Djenar terasa menabrak pakem “tabu” namun mengena. Kalaupun tokoh utamanya terasa eksistensialis dan sibuk bergulat dengan pemikiran tentang dirinya di antara orang lain, itu merupakan pemikiran “asli” Djenar yang subjektif dan khas. Sesuatu yang disebut “warna jiwa” dalam bahasanya.
Makanya saya tak keberaan dengan seksualitas yang diusung Djenar karena waktu kecil dulu pernah nyaris jadi korban pedofilia. Memang tidak parah karena waktu itu cuma dipangku kawan kakak perempuan saya, orang dewasa sekira 25-an.
Waktu itu kami di kamar yang sepi, siang hari, dan kakak saya ada di kamar mandi. Tak tahu mengapa ia demikian, bersikap akrab atau apa, namun tindakannya terasa tidak wajar. Main pangku dan elus kepala segala, lalu pelukan dan elusannya terasa aneh, jadi saya buru-buru cabut darinya sebelum sesuatu yang buruk terjadi. Alhamdulillah, selamat.
Ini hanyalah salah satu contoh nyata, banyak contoh lain yang saya persaksikan. Antara fiksi dan fakta memang tipis selubungnya. Namun imajinasi pengarang menentukan peran: bagaimana popularitas sampai esensi cerita itu akan dicerna pembaca. Di sanalah Djenar memainkan psikologi tokoh-tokohnya dengan gaya tutur “saya” agar pembaca pun turut serta berperan sebagai tokoh utama atau memahami ada saya-lain yang tak terkira.
Begitulah Djenar, memainkan karakter tokoh-tokohnya secara naif, lugas, keras kepala dengan prinsip hidupnya. “Menghardik” masyarakat yang punya pakem gelap-gelapan dalam hal moral dengan menyodorkan moral-lain versi dirinya. Terlepas dari tidak setujunya saya dengan prinsip demikian, namun yang menarik adalah hal tersebut bisa jadi merupakan fakta. Lalu, haruskah Djenar dikecam karena memilih angle macam itu dalam versinya?
Bagian mana yang menarik dari cerpen itu?
Kekuatan perempuan!
Perempuan yang selama ini diposisikan sebagai “korban” bisa mengambil alih permainan selaku “pemeran”, terutama menghadapi lelaki berikut sesama kaumnya sendiri, baik secara personal maupun kelompok.
Ketika direpresi, ia punya imajinasi akan kendali yang diyakininya untuk memutarbalikkan keadaaan atau setidaknya melunakkan tekanan dengan prinsip keras kepalanya bahwa ia bukanlah makhluk lemah. Orang lain boleh menganggap apa tubuhnya, ia sebagai pemilik tubuh punya hak akan memberi “jiwa” macam apa pada tubuh tersebut.
Lalu Nayla pun dengan keras kepala meyakini prinsip dasar yang dianutnya:
Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah dari laki-laki. Karena, saya tidak mengisap puting payudara Ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Saya menyedot air mani Ayah.
Saya mengenakan celana pendek atau celana panjang. Saya bermain kelereng dan mobil-mobilan. Saya memanjat pohon dan berkelahi. Saya kencing berdiri. Saya melakukan segala hal yang dilakukan anak laki-laki.
Potongan rambut saya pendek. Kulit saya hitam. Wajah saya tidak cantik. Tubuh saya kurus kering tak menarik. Payudara saya rata. Namun saya tidak terlalu peduli dengan payudara. Tidak ada pentingnya bagi saya. Payudara tidak untuk menyusui tapi hanya untuk dinikmati lelaki, begitu kata Ayah. Saya tidak ingin dinikmati lelaki. Saya ingin menikmati lelaki, seperti ketika menyusu penis Ayah waktu bayi. (Hlm. 36-37)
Dahsyat! Konsepsi pemikiran Djenar lewat tokoh Nayla dan struktur bahasanya yang penuh repetisi seakan hendak menegaskan keyakinan Sang Tokoh yang lugas dan tegas di balik citra “lemah”.
Di sanalah Djenar bermain dengan tanda penis, air mani, susu, payudara, kencing berdiri, rambut, kulit, wajah, tubuh, dan sekian penanda lainnya; untuk mengingatkan bahwa hal tersebut eksploratif sekaligus eksploitatif.
Lalu karakter Nayla, secara psikologis ia telah bicara banyak dengan prinsip-prinsipnya. Di balik keluguan, ia tengah mencerna hidangan pelajaran kehidupan. Dan perspektifnya mengenyakkan kita. Betapa Nayla pun bisa “dewasa”.
Tapi tidak ada pesta yang tidak usai. Kebahagiaan adalah saudara kembar kepahitan. Ternyata orang dewasa lebih mampu berkhianat. Ternyata tidak semua orang dewasa hanya mau menyusu. (Hlm. 40)
Siapakah pengkhianat itu?
Pelan-pelan kita dibawa dalam setiap fragmentasi adegan dari halaman 41 s.d. 43. Ketika “menyusui” berubah jadi perkosaan. Sosok teman-teman Ayah ternyata berubah wujud jadi Ayah sendiri. Kita tak mengira bahwa pemerkosa itu ternyata harus orang yang dekat dengan Sang Nayla; figur pengayom pun ternyata melakukan lebih daripada apa yang dilakukan kawan-kawannya dalam hal “menyusui”. Di sana ada efek ketidaksadaran, pada mulanya Nayla merasa asing lalu kemudian ia mengenal baik siapa pelakunya: ayahnya sendiri!
Sosok tersebut seolah ditampilkan dalam citraan “mimpi”, mula-mula samar lalu jelas setelah ada efek kesadaran. Serba mengawang.
Di sana umpama tersebut saya paparkan untuk memberi kebebasan; pilihan rasa apa yang di benak Nayla -- juga kita, pembacanya?
Yang menarik adalah Nayla masih bisa melakukan perlawanan di akhir adegan perkosaan tersebut:
Tangan saya meraih patung kepala kuda di atas meja dan menghantamkan ke kepalanya. Tubuhnya mengejang sesaat sebelum ambruk ke tanah. Matanya masih membelalak ketika terakhir kali saya menatapnya sebelum dunia menggelap. Pancaran mata itu, tidak seperti pancaran mata teman-teman Ayah yang lain. Pancaran mata itu, sama seperti pancaran mata Ayah. (Hlm. 43)
Ia telah kehilangan kenikmatan menyusui. Dari “bayi”, ia berubah jadi gadis kecil yang didewasakan keadaan. Pada usia berapakah peristiwa tersebut terjadi? Yang jelas barangkali semasa akil balig, setelah masa menstruasinya, sebab pada akhirnya Nayla bisa hamil. Itu absurd. Mengandung anak dari ayahnya. Inses dalam pandangan seorang anak.
Bukankah absurditas hidup itu kompleks? Sering kita temui dan baca hal macam itu. Namun Djenar memaparkannya dengan struktur cerita dan bahasa yang lekas. Eksistensialisme yang mandiri.
Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lemah dari laki-laki. Karena, saya tidak mengisap puting payudara Ibu. Saya mengisap penis Ayah. Dan saya tidak menyedot air susu Ibu. Saya menyedot air mani Ayah.
Kini, saya adalah juga calon ibu dari janin yang kelak akan berubah menjadi seorang anak yang kuat, dengan atau tanpa figur ayah. (Hlm. 43)
Getir namun optimis!
Demikianlah membaca Djenar Maesa Ayu. Tema seksual tak bisa begitu saja dikategorikan amoral. Ia justru memaparkan hal-hal yang berkaitan dengan moral. Tatanan moral yang jungkir balik dalam sisi gelap kehidupan. Sesuatu yang kita tolak dan sangsikan, namun sebenarnya senantiasa mengintai.***
Cipeujeuh, 3 Januari 2013