Tampilkan postingan dengan label SERIAL KELOMPOK DELAPAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SERIAL KELOMPOK DELAPAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Desember 2017

Armand dan Pengkhianatan pada Delapan (3)



Serial Rohyati Sofjan


JIKA aku ingin tahu bagaimana kelanjutan hubunganku, sampai hubungan kelompokku dengan Armand pasca ciao-nya ia dari hidup kami, Inilah yang terjadi! Ia menganggap kami semua orang asing! Atau ia menjelmakan dirinya sebagai the stranger.
Aku sakit hati!
Aku tidak tahu apakah Armand masih menganggapku sebagai pacarnya, ia tampak tak peduli. Kupaksakan diriku memberi senyum manis yang dulu selalu membuatnya luluh begitu aku menghampirinya, namun matanya seakan tak melihatku. Aku menggeram!
“Armand!” Aku tak ingin merusak pagi yang damai pada hari Jumat. Sangat buruk memancing perselisihan pada hari sakral bagi umat Islam. Aku tak ingin berselisih, sungguh, namun aku butuh jawab untuk Rabu kelabu ketika Armand memutuskan ciao dari kelompok kami di parkiran sudut jalan Paskal yang rindang.
Hari Kamis aku sungguh tersiksa dengan pemikiran tentang mengapa Armand bisa demikian. Aku bahkan tak bisa menikmati acara piknik dengan kelompokku di Loji, Bogor. Membaur dalam keramaian situasi pencarian dan spekulasi tentang pesawat superjet Sukhoi yang kebetulan jatuh di Gunung Salak. Apalagi merasakan keindahan alami di sekitar Suaka Elang dan Curug Cibadak. Aku hanya merasa hampa dan berduka di sana saat kawan-kawanku, kecuali Sami mungkin, bergembira.
“Armand!” suaraku naik sekian oktaf, reaksi pada aksinya yang seakan tuli atau tak peduli pada suara dan hadirku. Ia duduk di bangkunya dan asyik bermain BB, BB-nya baru! “Armand!” Aku mengguncang bahunya.
Kali ini ia bereaksi atas aksiku, mendongak menatapku, namun tatapannya itu membuatku lunglai. Tatapan tak senang dari seseorang yang pernah kukenal namun menganggapku seakan orang asing tak dikenal lagi, dan mungkin tak dianggap penting untuk hadir.
“Bisa kita bicara?” cicitku lemah. Aku seperti burung elang kecil yang terluka. Jatuh dihantam kenyataan. Aku duduk di bangku kosong di depannya, berharap tak ambruk.
“Maka bicaralah!” Tuhan, dingin sekali nadanya. Aku sampai terpaku, lidahku kelu, otakku buntu. Apa yang ingin kubicarakan kini? Aku tidak tahu. Aku ingin memastikan hubungan kami, namun aku takut pada kenyataan bahwa ia tak peduli lagi. Memutuskanku dengan cara kejam demi Prita gebetan barunya yang pernah diincar Sami. Apa yang kuharapkan? Aku takut putus dan diputuskan Armand, aku mencintainya! Aku tidak ingin kehilangan!
“Waktu habis!” Armand tiba-tiba bangkit dan berlalu dariku, langkahnya cepat sekali. Aku tergeragap.
“Ar!”
Namun ia tak peduli, bergegas ke pintu kelas, bahunya bertubrukan dengan Uji yang berjalan masuk sambil mengobrol dengan Zara.
“Hei, lihat matamu!” Uji kesal. “Eh, Armand?!” seru Uji begitu menyadari siapa yang menubruknya. Namun Armand telah menghilang di tikungan kelas. Aku menangis, segala rasa kecewa dan luka bercampur aduk. Aku merasa tidak punya harga diri lagi di depan Armand, untuk kesalahan yang bahkan tak kutahu apa hingga ia berpaling pada Prita dan meninggalkan Kelompok Delapan kami.
Zara melihatku menangis. Ia bergegas menghampiri dan duduk di sebelahku. “Ada apa, Ris?”
Dan tangisku yang kian hebatlah sebagai jawaban bagi tanya Zara. Kutelungkupkan mukaku ke meja.
“Aduh, Risa, pagi-pagi sudah nangis gini. Armand, ya?”
Aku mengangguk di sela sedu sedanku. Zara mengusap-usap bahuku lembut.
“Armand perlu kuhajar, Ris?” Uji nimbrung bicara. Nada suaranya kentara geram.
“Jangan!” Aku sontak bangkit. Kupandang Uji yang merah padam.
“Apa yang dilakukannya padamu, Ris?”
“Ia, ia... mengabaikanku, huhu....” Aku memeluk Zara, aku butuh bahu untuk bersandar.
“Abaikan, abaikan!” seru Uji ketus. “Abaikan Armandmu yang lupa daratan!”
“Ji, tolong,” aku memohon agar ia tak memancingku dengan emosinya yang eksplosif. Aku capai.
“Sudah, sayang, Uji benar, abaikan Armand untuk saat ini. Jangan siksa dirimu, Risa.”
“Aku tak bisa!”
“Keras kepala!” Uji berlalu meninggalkan kami. Ia keluar kelas.
“Hei, Ji, ke mana?” Aku kaget pada reaksinya. Kuatir ia akan berantem dengan Armand karena aku.
“Ke luar, aku tidak tahan lihat cewek mewek karena urusan gombal!”
Argh! Kasar sekali Uji. Namun aku lega jika ia tidak berantem dengan Armand.
Sami muncul diiringi Keanan dan Lian. Terheran-heran melihatku seperti habis menangis. Mereka bertiga merubung bangkuku.
“Armand?” tanyanya. Aku hanya mengangguk lemah.
“Kalian bertengkar?” Sami tampak geram. Aku menggeleng.

SAVED by the bell. Hidup Armand seperti diselamatkan (atau berlindung pada) dentang bel. Ia masuk kelas lagi kala bel berdentang dan kami harus bersiap mengikuti pelajaran. Saat bel istirahat berdentang, ia bergegas keluar, dan menghilang entah ke mana. Aku ingin menyusul untuk mencarinya, namun Sami mencegahku.
“Biarkan saja!” Sami mengabaikan protesku.
“Aku harus bicara dengannya, Sami!” Aku berontak dari cengkeramannya.
“Cooling down, Sis!” Sami bersikeras. “Jika saat ini sikapnya begitu berarti ia tak siap bicara, denganmu atau dengan kami yang lainnya.”
“Sami....” Aku merasa lelah dan putus asa.
“Apa yang harus kita lakukan?” Zara memelukku.
“Biarkan Armand dulu. Ada sesuatu yang tak kita pahami. Kalau kita langsung bertanya, aku khawatir malah memicu emosi dan menyulut pertengkaran....”
“Sekaligus perkelahian,” sela Uji sebal. Kedua lengannya terkepal dalam posisi siap tinju.
Zani protes, “Hormon cowok cuma mikir berantem mulu!” Ia ngeri kalau skizofrenik Uji kumat lagi. Tak habis pikir mengapa Zara, kembarannya, mau pacaran dengan Uji. Zani sendiri ogah punya pacar. Pacar cuma bikin ribet, katanya. Tak habis pikir dengan sikap Armand juga.
Lian mengajak kami melupakan dengan cara makan-makan. Katanya, ia yang traktir. Duit hadiah dari lomba kontes kucing yang dulu diikutinya belum habis, dapat jutaan. Jadi ia berbaik hati mentraktir kami makan apa saja di kantin. Lian ingin menghiburku juga. Sami mengomandoi ke kantin. Bersenang-senang dan sejenak melupa duka cita atas apa yang tak kami pahami tentang Armand.
Aku tak suka ide itu. Namun terpaksa kuikuti saran Sami. Kami sekarang bertujuh ke kantin. Armand tak tampak di sana. Entah di mana.
Ketika bel jam istirahat usai berdentang dan kami telah duduk manis di bangku masing-masing, Armand muncul bareng Pak Sadikin. Ia duduk di bangkunya bareng Salman alias Ical di baris belakang. Tekun menyimak pelajaran. Mengabaikan kami semua.
Begitu terus. Aku tak bisa menghampiri Armand kala pergantian jam pelajaran. Malu jika memancing keributan. Namun bel seolah memihak Armand, atau ia mulai menggunakannya pada saat yang tepat, untuk menghindar.
Jam pelajaran usai, Armand bergegas keluar. Langkahnya sangat cepat. Oh, aku lupa, ia masih atlet sekolah. Selain basket yang diikutinya bareng Sami dan Uji, ia pelari maraton yang andal. Sejak kecil selalu ikut lomba lari. Uang adalah alasan utamanya jika ikut lomba. Dan Armand sering jadi juara. Sampai sekarang saja masih ikut lomba maraton yang ada K-nya.
Aku hanya bisa terpaku di parkiran sekolah. Kehilangan jejak Armand yang sudah mengegas Terriosnya dan meninggalkan gerbang. Meninggalkanku dalam kesunyian di antara keramaian hiruk-pikuk anak-anak yang bubaran.
Bahuku ditepuk. Tanpa menoleh pun aku tahu yang melakukannya adalah Sami. Ia punya sentuhan khas yang kukenal. “ Mari kita pulang!” Kubiarkan Sami menuntunku pada Daihatsu Espass-nya. Langkahku terayun gontai. Dan air mata yang sejak tadi mengambang kini berjatuhan.
Di mobil, aku menangis lagi. Sami tak berkata apa-apa. Hanya merengkuhku, membisikkan kata-kata penghiburan. Namun yang kubutuhkan saat ini adalah kehadiran Armand!

AKU telah berupaya. Dan ini upaya kesekian kaliku agar bisa mendekati Armand hanya untuk BICARA! Aku sungguh lelah dan tersiksa memendam tanya tak berjawab. Dan aku sungguh sangat butuh JAWAB!
Armand menunduk, menghindar tatapku. Tatap yang kurasa sangat memelas. Aku sungguh nelangsa beroleh perlakuan demikian. Dihindari seolah hama tanpa tahu di mana letak salahnya.
“Kamu tak salah apa-apa,” kata Armand akhirnya.
“So?”
“Aku hanya harus keluar saja dari Kelompok Delapan.”
“Karena apa? Karena aku atau demi Prita?” Sungguh pahit menyebut nama itu. Ia bidadari, penjelmaan Vanessa Paradis muda, pacar Johny Depp itu. Sanggup membuat Armand berpaling, dariku, dari kelompok kami.
“Secara tidak langsung.” Armand mengucapkannya dengan kaliamat bias. Aku bingung.  
“Apa maksudmu?”
Armand menatapku. Mata itu, aku melihat ada pijar hangat yang menenteramkan. Ia menggenggam kedua tanganku. Menyatukannya dalam kedua genggaman tangannya. Lalu mengecupnya. Aku merasa melayang. Itu masih kecupan terhangat, tidak sedingin sikapnya dulu. Tapi, Armand lalu mengucapkan kalimat yang menghempaskan, “Maafkan aku, Marisa, tapi alur hidup kita sekarang beda.”
“Apa maksudmu? Kamu memutuskanku?!” Tanganku masih berada dalam hangat genggaman Armand. Armand menggeleng.
“Aku tidak tahu. Terserah kamu. Tapi suatu saat mungkin kamu akan tahu dan mengerti.”
“Jangan berteka-teki!”
“Semua yang terjadi di luar kuasaku.”
“Kamu tak kuasa terpikat Prita?”
Armand menggeleng, kali ini wajah tampannya berubah sedih. Tangan kanannya memegang pipiku, mengusapnya. Tiba-tiba ia mendekapku. Begitu erat sampai aku merasa sesak. Armand!
“Aku harus pergi,” bisiknya. “Maafkan aku, dan biarkan aku memilih alurku.”
“Alur mana?” Protesku. “Kamu tak bisa pergi begitu saja dari hidupku, hidup kawan-kawan kita, tanpa kami tahu di mana letak salahnya. Jika kami salah, setidaknya tunjukkan agar bisa diperbaiki.”
“Tak ada yang salah denganmu atau kawan-kawan kita. Aku hanya harus pergi.”
“Kamu mengkhianati kami?” Aku menangis. Armand mengusap punggungku.
“Jika itu sebutan yang tepat untukku, aku ikhlas. Tapi semua kulakukan demi kamu, Marisa. Kuharap suatu saat kelak kamu akan mengerti.”
“Kamu sakit?” Aku sungguh terkesiap dan melepaskan diri dari pelukan Armand hanya untuk melihat reaksinya atas tanyaku. Namun sekali lagi Armand hanya menggeleng. Ada senyum tipis sekaligus pahit tergurat di bibirnya.
“Selamat tinggal, Marisa....” Armand mengecup keningku lembut.
“Jangan pergi,” pintaku. “Aku tak mengerti, sungguh!”
“Kamu akan selalu melihatku, untuk saat ini, namun maaf aku tak bisa menyertaimu dan kawan-kawan kita. Aku ada di antara kalian, tapi sebagai orang luar.”
“Armand!” Kugenggam lengannya yang hendak beranjak. Erat. “Aku tak bisa kehilangan. Apalagi dalam ketidakpastian.”
“Jika kamu menginginkan Sami atau lelaki lain yang terbaik untuk hidupmu, aku ikhlas. Tapi jika kita memang jodoh, semoga suatu saat kita bisa bersatu lagi. Aku hanya harus temui takdirku.” Armand mengecup kepalaku, lalu melepaskan genggamanku. Aku ternganga. Bukan karena kecupan di kepalaku yang dalam terasa, kalimat Armand barusan tentang Sami dan lelaki lain.  Apa maksudnya?
“Apa maksudmu tentang Sami?!” seruku. Namun Armand hanya menoleh untuk tersenyum dan melambai, lalu ia menghilang di tikungan Taman Cilaki tempatnya biasa joging pagi.
Aku hanya bisa terpaku di samping kursi beton tempat kami duduk tadi. Berdiri dalam kesunyian pagi. Merasa tambah tak mengerti. Ada apa dengan Sami, tetangga sebelah rumahku yang sudah akrab sejak batita dan kuanggap abang sendiri?
Ada apa dengan Sami?! Aku ingin meneriakkan itu agar gemanya terdengar Armand. Namun gema itu hanya memantul di bilik jiwaku. Aku tak kuasa berteriak. Pagi hanya menjawab dengan angin dan helaian daun gugur. Di luar taman, suara-suara kendaraan menderum.***
Loji, 14 Juni 2012



Minggu, 24 Desember 2017

Pretty Prita (2)



 

Serial Rohyati Sofjan


PRITA tak ingin menjadi model. Padahal ia memiliki segala tampilan yang disyaratkan dunia model. Cantik, tinggi semampai, langsing, seksi, anggun, dan jangan lupa camera face.
Prita, kata mamanya, sudah cantik sejak lahir, karena itu diberi nama Prita. Dan Armand hanya tersenyum mendengarkan penuturan beliau yang sedang menunjukkan koleksi album foto keluarga di ruang tamu rumah besar sekaligus asri dan rindang.
Ya, Prita memang cantik, lucu dan menggemaskan. Foto bayi itu montok dan imut. Prita kecil sudah memiliki mata yang indah dan hidung bangir. Belum lagi lekukan di dagunya. Dan Prita tahu bagaimana caranya agar tampil menarik. Namun tanpa dandan dan dalam penampilan seadanya ia tetap cantik. Barang bagus tetap kelihatan bagusnya meski tak dipoles berlebih.
“Sudah siap?” Prita muncul diiringi harum mawar menguar, keharuman yang lembut dan menyegarkan. Apalagi senyumnya yang menawan selalu menghiasi parasnya hingga tambah rupawan. Prita terlihat riang dan ceria. Ia pantas jadi model sampul majalah, pikir Armand muram. Namun dipaksakannya seulas senyum terkembang. Berdiri menyambut Prita, dan berpamitan pada mamanya.

“KITA akan ke mana?” Daihatsu Terrios hitam milik Armand baru saja meninggalkan pintu gerbang rumah Prita di kawasan Antapani.
“Ke mana saja.” Prita tertawa. “Kamu mengajakku pergi tanpa rencana. Jadi terserah kamulah, Mand!”
Armand menyeringai. Prita punya panggilan lain, biasanya ia dipanggil ‘Ar’ atau ‘Armand’. ‘Mand’ mungkin terdengar janggal, namun lidah Prita fasih melafalkannya dengan aksen yang terdengar kentara sangat Prancis. Harap maklum, Prita lahir dan besar di kota pusat mode dunia, Paris. Ayahnya bekerja di kedubes RI. Sekarang ayahnya sudah pensiun. Prita adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Dua kakak lelaki dan perempuan sudah berkeluarga. Kakak lelaki tinggal di Jakarta dan kakak perempuan di Paris.
Armand berpikir, Prita cantiknya mirip siapa? Seperti pacar Johny Depp? Tapi sial, ia lupa namanya. Bersama Prita, rasanya ia menjadi lelaki paling beruntung sedunia. Tiap jalan bersama Prita, semua mata akan terarah pada mereka. Sensasi yang tak pernah ia rasakan dengan Marisa. Namun ia tidak tahu apakah benar-benar beruntung.
“Kamu memandangku seakan sedang melakukan penilaian, ya, Mand?” Prita tersenyum.
“Demi Tuhan, kamu cantik sekali, tahu!”
“Oh!” Mata bulat besar Prita yang lentik membelalak lucu. “Terima kasih. Tapi apa ada yang salah?”
“Tadi mamamu bilang Prita tak ingin jadi model. Benar?”
“Mama benar. Males saja.”
“Napa males?”
“Jadi model di sini cuma buang-buang waktu.”
“Buang waktu bagaimana, Sayang?”
“Aku tak mau dieksploitasi.”
Deg! Ada rasa tak enak merubung benak Armand. Prita memang mengucapkannya dengan nada lembut, namun sangat mengena.
“Dulu, di Paris aku pernah coba-coba jadi model iklan, aku mengerti bagaimana. Namun yang tak aku pahami, mengapa untuk cantik dan indah itu harus dibikin sengsara?  Aku tak boleh berjerawat, tak boleh kelebihan berat badan, tak boleh kusam, dan seabreg aturan lainnya yang membuatku kesal. Aku tak mau terbelenggu dalam mitos kecantikan yang diharuskan demi pemenuhan citra ideal dunia fesyen. Lucu saja. Aku berhenti. Dan aku bahagia menjadi diriku yang bebas merdeka.”
“Kamu menyindirku?”
Prita tertawa. “Jangan mengajuk, Sayang. Aku tak bermaksud menyindir profesimu.” Prita menjawil dagu Armand.
“Kamu ‘kan tahu motifku jadi model?” Armand berdalih.
“Ya, alasan pragmatis. Demi duit dan eksis. Aku hargai itu. Sungguh. Jangan tersinggung. Tapi aku kapok jadi model. Cukup jadi pacar seorang model saja.” Prita tergelak. Armand hanya bisa tersenyum kecut. Prita benar. Dengan jadi model, Armand yang dulunya bukan apa-apa kini telah sanggup mencicil mobil meski bekas.
Ia butuh mobil bukan untuk gengsi atau gaya-gayaan. Mobil adalah bagian dari mobilitasnya, selain BB dan iPad. Dan dengan mobil pula, ia bisa gantian dengan Sami dan Lian mengangkut Kelompok Delapan mereka ke mana saja suka-suka. Ah, sial. Mengapa ia masih ingat gengnya?
“Omong-omong, mengapa mantanmu ngotot jadi model?” Prita seakan mengingatkan lagi pada kenangan Armand akan teman-temannya. Sedang apa mereka sekarang? Jadikah ke lereng Gunung Salak? Bersenang-senang dan mengutuknya sebagai pengkhianat yang membelot dari “kiblat”. Dan Marisa, benarkah sudah putus? Kata itu belum terucapkan. Ia bahkan belum menjadi mantan pacar. Armand merasa tak nyaman.
“Risa?
“Aku tak begitu ingat namanya,” Prita angkat bahu.
“Mungkin karena ia kompetitif.” Sial, bayang-bayang Marisa kembali mengguncang benaknya. Mata basah Marisa kemarin ketika ribut-ribut bersama gengnya di sudut Jalan Paskal yang rindang. Seharusnya ia tak diingatkan pada gadis itu. Gadis yang sungguh tak ingin ia lukai. Aduh, Prita!
“Ia mengekormu untuk jadi model?”
Armand menggeleng. “Sejak kecil ia sudah terobsesi jadi model. Lucu, sejak kelas 1 SMP ia selalu mendaftar kontes cover-coveran. Tapi tak pernah menang.”
“Di mana letak salahnya?” Prita entah mengapa antusias.
“Mungkin belum beruntung saja. Tapi aku bersyukur ia tak kesampaian jadi model.”
“Kenapa?”
“Karena aku khawatir.”
“Khawatir?” Prita terheran-heran. “Kamu mengkhawatirkan ia jadi model. Apa ada artinya bagimu?” Nada suara Prita kentara sangat cemburu. Armand tersentak. Fokus mengemudinya buyar. Untung mereka berada di depan traffic light perempatan Jalan Jakarta-Kiaracondong.
 “Kamu tahu sendirilah seperti apa dunia model itu, Prita. Aku lebih suka ia kesampaian jadi sutradara asal jangan jadi model atau artis.”
“Kamu berkata seolah itu hal negatif baginya. Berarti kamu masih mencintainya?”
“Aduh, Prita, jangan menyudutkanku, dong!”
“Enggak!” Kata Prita enteng. Armand entah mengapa jadi kesal.
“Oke, harap dicatat. Risa sebenarnya layak jadi model, ia menguasai ilmu gesture, membuatnya luwes bergaya. Ia cantik meski tak secantikmu, Prita.”
Prita tersenyum, namun senyumnya hilang waktu Armand melanjutkan, “Aku selalu berdoa pada Tuhan agar ia jangan sampai jadi model jika hal itu tak baik untuk Risa.” Kalimat Armand panjang, tanpa tanda baca dan seolah dalam satu tarikan napas.
“Artinya kamu cinta Risa!”
Armand angkat bahu. Kok susah banget bicara dengan Prita, cantik tapi seakan mengajak berdebat mulu, membuatnya cenderung defensif. Diam-diam Armand berpikir apakah keputusannya untuk menjadikan Prita sebagai dalih agar ia bisa cabut dari Kelompok Delapan, merupakan keputusan tepat? Ia ingin cabut untuk suatu alasan. Sami!
Ya, ia lelah hidup berada di bawah bayang-bayang pengaruh Sami yang dominan. Sang Kepala Suku yang cerdas dan kharismatik. Armand selalu merasa dirinya aneh dan sendirian. Karena warna kulit dan latar belakangnya. Karena itulah ia bergabung dengan Kelompok Delapan sejak kelas 1 SMP, anak-anak aneh yang unik dan heboh, kadang jadi biang kerok. Namun Armand yang kalem hanya merasa sekadar cameo di antara 7 anggota lain seperti Uji, Keanan, Lian, dan si kembar Zara dan Zani.
Ia tahu dirinya rupawan, namun ia minder dengan asal-usulnya sebagai anak korban keluarga berantakan. Melihat latar belakang Sami, dan Marisa, yang lurus-lurus saja kadang membuatnya merasa tak berharga. Marisalah alasan utama ia bergabung dalam kelompok itu. Marisa adalah cinta pertamanya, bahkan sampai sekarang. Namun ia tidak tahan menyadari sesuatu. Perhatian Sami pada Marisa lebih dari sekadar kawan atau abang. Sami diam-diam mencintai Marisa. Dan itu rumit, jauh lebih rumit karena Marisa tidak menyadari dan lebih memilih dirinya sebagai pacar.
Armand tahu Sami kecewa namun tak menunjukkan. Tetap berlaku sebagai kawan dan sahabat yang baik. Namun diam-diam ia menyadari bahwa tekanan itu ada, tekanan yang muncul sejak awal masuk SMA, sesuatu yang disebut ego lelaki di masa pubernya.
Armand tidak tahan lagi. Pada suatu kesempatan ketika Sami mengajak kencan ganda dengan Prita, dan diiyakan Marisa yang antusias, Armand menyadari bahwa Sami tak sungguh-sungguh tertarik pada makhluk elok itu. Pun Prita seperti hanya sekadar having a fun dengan menerima ajakan Sami. Di saat ia menyadari bahwa perhatian Sami lebih pada Marisa, dan Prita seperti lebih tertarik pada dirinya. Armand merasa bisa memanfaatkan gadis itu!
Maka di sinilah sekarang, semobil dengan Prita yang tak ia tahu seperti apakah kepribadian aslinya. Merayakan kemerdekaan dari rasa sesaknya. Cemburu bahwa pacarnya diam-diam dicintai sang sahabat sudah di ambang batas, suatu saat bisa keluar dan meruyak.
Armand takut pada dampak perpecahan kelak. Jadi ia lebih memilih mundur sebagai pengkhianat. Ia tak mau membuat Marisa kebingungan dan hubungan kekeluargaan dengan Sami retak! Marisa dan Sami bertetangga dekat; rumah yang bersebelahan dan tumbuh besar bersama sejak batita hingga antarkeluarga sudah akrab.
Ia mencintai Marisa, namun tak pernah berpikir bahwa dengan sahabatnya akan mencintai gadis yang sama. Tidak, ia lebih memilih tidak melanjutkan peran itu. Mengalah demi Marisa. Mungkin saat ini Sami sedang melakukan pendekatan pada Marisa, tapi peduli setan, ia sudah lelah! Terserah Sami mau apa. Dan pula, ia ingin menguji kadar cinta Marisa. Tidakkah Marisa tahu, kala ia berbalik meninggalkan mereka di keramaian siang Bandung, matanya perih, ia ingin urung, namun egonya mengharuskan. Jadi ia pergi tanpa memalingkan kepala meski suara Marisa yang lirih menggetarkan udara tempatnya bernapas.
Apa yang diharapkannya kini? Armand bermain dalam alur pikirannya sendiri. Dilihatnya Prita seperti tak peduli, memasang earphone ipod dan memandang ke luar jendela dengan pandangan mengawang. Apakah gadis itu sedang melakukan penilaian terhadap hubungan kami? Armand hanya bisa menerka. Dalam kebisuan mobil meluncur membelah kemacetan jalanan Bandung di sore yang cerah. Namun Armand merasa hari begitu mendung.
Pun kehadiran seorang gadis cantik di sisinya adakah artinya jika kau tak sungguh-sungguh mencintai, apalagi menginginkannya? Armand tidak tahu apa yang akan terjadi di masa mendatang. Sendirian tanpa Kelompok Delapan. Ia tiba-tiba merasa kehilangan sesuatu yang bernama “kebiasaan” dalam pengembaraannya menemukan “kebebasan”.
Mobil merayap di jalanan padat. Armand merasa pepat. Bahkan seorang Prita yang pretty ternyata tak bisa memupus bayang Marisa barang sekejap!***
Loji, 8 Juni 2012

Rabu, 13 Desember 2017

Delapan yang Retak (1)



Serial Rohyati Sofjan


INI kami semua, kolompok orang aneh beragam latar belakang yang doyan ketawa-ketawa, menikmati hidup sebagai sesuatu yang harus disyukuri. Lima lelaki dan tiga perempuan, selalu sekelas berdelapan sejak pertama kali masuk SMP, dan sekarang kami kelas X SMA Negeri di Jalan Belitung. Selalu bersama, kompak dan tak terpisahkan.
Sami adalah pemimpin kami, kulitnya legam, tubuhnya tinggi tegap, rambutnya keriting kecil, khas keturunan Papua. Ia doyan makan kue atau makanan berbahan dasar sagu dan jagung. Ia tetangga sebelah rumahku, kawan main sejak sama-sama masih batita.
Lian agak gendut dan doyan makan, agak gemulai kayak perempuan namun menolak mati-matian dibilang banci, “Gue lelaki normal yang ngerti fesyen!” semburnya pedas kalau diledek. Lian mewarnai kuku jari tangan sampai kakinya dengan henna hitam. Seperti katanya, ia memang selalu tampil paling gaya di antara kami semua. Pelopor mode yang tak bercita-cita jadi desainer fesyen. Lian suka kucing dan dengan kucingnya sering ikut kontes bagus-bagusan skala nasional, beberapa kali jadi juara. Ia bercita-cita jadi dokter hewan.
Uji mengaku seorang skizofrenik sejak kecil, sering melihat dan mendengar sesuatu yang tak nyata bagi kami. Otaknya agak berbeda, namun ia jenius dan tak berbahaya. Musik adalah hidupnya. Sangat jago matematika, penyuka sastra kelas kakap dan jago berdebat. Pernah membuat Pak Sadikin, guru pendidikan kewarganegaraan kami, kalap dan minum aspirin setelah Uji mendebatnya soal konsep persatuan yang abstrak hingga disetrap.
“Masih mending minum aspirin,” kata Uji bengal begitu tahu pusing Pak Sadikin kumat lagi. “Coba kalau endrin, hahahah!”
Keanan paling bengal di antara kami, urakan sekaligus bohemian. Ia jago melukis sekaligus menulis puisi. Namun tak PD untuk PDKT pada cewek yang ditaksirnya. Ia selalu bikin ulah, membuat cewek yang disukainya berteriak marah-marah atau menangis senewen dijahilinya.
Armand yang paling tampan di antara kelompok kami. Ia berdarah blasteran. Wajahnya unik, perpaduan yang pas dari berbagai ras. Tionghoa, Portugis, dan tentu saja Indonesia. Garis rahangnya kokoh, dan matanya cokelat gelap agak sipit. Jika jalan bareng kami, cewek-cewek akan langsung mengerling.
Ia pacarku dan aku tak boleh cemburu. Armand punya profesi baru, jadi model iklan. Profesi yang kubenci karena aku gagal mulu ikut kontes covergirl dan semacamnya. Aku kalah indah dengan Armand! Lucunya Armand merasa terpaksa jadi model karena butuh uang. Kedua orang tuanya telah bercerai meninggalkan Armand seorang diri bak yatim piatu bersama adik sepupu neneknya yang sudah tua.
Zara dan Zani adalah kembar. Dulu mereka kembar siam yang, alhamdulillah, bisa dipisahkan. Dan sebagai kembar mereka berusaha agar tak mirip satu sama lain. Sebab pernah ada suatu kasus cowok yang naksir Zara menyangka Zani adalah Zara dan menembaknya.  Zara feminin, Zani malah berusaha agar terlihat tomboi. Di saat  gadis-gadis lain tergila-gila pada rebonding, Zani malah mengubah rambut lurus alaminya agar keriting. Zara sering tak mengerti mengapa Zani bersikeras berusaha berbeda secara fisikal dengan dirinya, namun Zani tak peduli.
Dan aku sendiri? Seorang perempuan yang bercita-cita jadi supermodel, saingan Lian dalam hal fesyen. Suka main teater. Namun lebih suka jadi sutradara, dan berharap kelak bisa kuliah sinematografi. Mengoleksi ribuan CD dan DVD beragam genre film yang tersimpan di kamar khusus. Dan Armand meledekku bahwa kamar itu bak toko saking lengkapnya.
Sekarang kami berdelapan sedang asyik menyantap gehu hot jeletot. Gehu superpedas yang membuat lidah kepanasan, plus nasi uduk hangat agar kenyang. Menu makan siang kami sepulang sekolah. Kau tahu, demi gehu panas, kami rela berkendara jauh-jauh sampai Jalan Paskal sini. Ngabotram rame-rame alias makan bareng istilah Sundanya.
“Ke mana tanggal 10 besok?” Zara melihat tablet 7 inci yang tak pernah lepas dari tangannya. Kami telah selesai makan. Zara adalah seorang struktulis, alias sangat menyukai segala sesuatu yang terstruktur untuk ditulis, hehe. Segala kegiatan kami akan ia catat ke mana saja, untuk apa, dan kapan. Dan Zara selalu rajin meng-upload foto kegiatan kami di FB.
“Bagaimana jika ke Gunung Salak?” usul Uji sambil merogoh harmonikanya. Keanan tergelak senang.
“Aku tak suka Gunung Salak,” keluh Zara. “Mendaki gunung tak ada waktu bagi kita yang cuma libur sehari karena rapat guru.”
“Bukan mendaki, Honey, cuma jalan-jalan. Di sana ada Curug Cibadak dan Suaka Elang, kau ‘kan suka fotografi?” rayu Uji. Mereka memang berpacaran.
“Semoga saja di sana tak hujan,” harap Lian. “Aku dengar di Bogor ada yang jual combro setan. Yuk, kita jajal.”
“Halah! Makanan saja yang perutmu pikirkan!” Zani ngakak.
“Kapan kita berangkat?” Lian tak menanggapi Zani.
“Segera, sore ini jika semua sepakat.” Sami sang kepala kelompok memutuskan.
“Nginap di mana?” kening Zara mengernyit.
“Di vila kepunyaan Bu Yanie di Loji.” Aku yang menjawab, begitu melihat Sami diam melirikku.
“Loji itu di mana, seh?” Zara bertanya sambil mencatat di tablet.
“Di lereng Gunung Salak. Tenang, All, vila itu kosong, aku dan Sami dah minta izin pada Bu Yanie untuk menempati kapan-kapan jika kita akan bertandang.” Bu Yanie adalah teman baik Mama, beliau kerja di Jakarta. Aku sudah pernah bahas itu pada Sami, Uji dan Armand. Semua mata memandangku dengan senang. Kecuali Armand yang sedari tadi diam saja. Aku memandangnya bingung.
“Cihui!” Zani dan Keanan saling menepuk tangan.
“Oke, kita berkemas. Kumpul sebelum magrib ini di rumahku.” Sami melirik arlojinya. Sudah jam dua. “Bawa bekal makanan dan apa yang kalian butuhkan. Di vila dah lengkap.”
“Gak bawa sleeping bag?” Lian memastikan.
“Bos bilang dah lengkap, Bego! Asal jangan bawa pusimu!” Zani menyembur galak. Ia alergi kucing dan Lian pernah membawa kucingnya kala berlibur di vila Lian di Punclut. Alhasil, Zani bersin-bersin. Zara sih tak masalah dengan kucing.
“Di Gunung Salak pernah ada pesawat yang jatuh, ya?” Keanan mengajak Uji dan Zara ngobrol, mengabaikan kebisingan yang ditimbulkan Lian yang kini mulai mendebat Zani dengan sewot. Sami sedang mengecek mesin.
“Pernah, sih, konon gunung itu juga kuburan bagi pendaki yang tersesat.” Uji berhenti meniup harmonikanya.
“Aku tak mau ke sana!” Zara bergidik ngeri.
“Tenang¸ Honey, tak akan ada pesawat yang jatuh menghantam saat kita di sana.” Uji menatap Zara mesra.
“Bukan soal pesawat, soal kuburan bagi pendaki yang tersesat itu membuatku ngeri!” Bantah Zara.
“Armand, kamu kenapa sih kok diam saja?” kataku akhirnya di antara riuh rendah percakapan dan perdebatan teman-temanku. Sikap Armand tidak seperti biasanya, tadi saja ia seperti enggan ikut kami sepulang sekolah.
Armand tiba-tiba berdiri. Wajah tampannya keruh. “Kalian semua orang aneh!” teriaknya menuding kami semua. Aku tersentak. Semua kepala sontak menoleh ke arah Armand. Debat kusir antara Lian dan Zani pun ter-cut.
“Aku tidak ikut. Kalian pergi saja!” Armand beranjak ke mobil, membuka pintu dan mengambil tasnya. Aku memburunya.
“Armand, kenapa?” Aku menyentuh pundaknya, dan dengan kasar Armand menepis. Aku kaget.
“Apa perlu kujelaskan bahwa aku sudah bosan berada dalam kelompok ini?!” Suara Armand naik beberapa oktaf di depan mukaku. Aku mengerjap. Armand membanting pintu.
“Hei, jangan kasar pada Risa!” Sami menghampiri.
“Oke, Tuan Kepala, aku cabut dari kelompok ini. Kelompok biang ribut yang membosankan!”
Sami naik pitam, semua teman merubung kami dengan bingung. Tidak seperti biasanya sikap Armand menyebalkan. “Kalau kau memang pengen cabut, cabut saja. Tapi jangan ngomong jelek!”
Armand mendengus. Aku pias sekaligus ingin menangis.
“Kenapa cabut?” Uji mencengkeram bahu kanan Armand.
“Aku muak terus menjadi bagian dari sesuatu yang memudar!”
“Jaga mulutmu, Armand!” Sami seperti ingin menghajar Armand kalau tidak segera ditahan Keanan. “Jika kami orang aneh, setidaknya tidak pernah mabuk, ngeseks, dan melakukan hal negatif yang mengecewakan orang tua kami!”
Bibir Armand menyeringai sinis. “Aku sudah boleh pergi?” Lebih seperti pernyataan daripada pertanyaan. Lengannya menepis lengan Uji. Kasar.
“Pergilah!” Usir Sami, kedua tangannya menggebah. “Sana!”
“Sami?!” tegurku. Terlambat Armand pergi dengan tergesa dan tak menoleh lagi.

RASANYA dunia kelam bagiku. Kami semua berkendara ke Bogor dengan muram. Sikap Armand telah melukai kami. Delapan yang kami banggakan jadi retak. Aku duduk di depan dengan Sami yang menyetir Daihatsu Espass metaliknya. Menembus kegelapan malam.
“Kenapa Armand kayak kesurupan?” Omel Lian. “Kuharap bukan karena pengaruh gehu pedas jadi kayak angot.”
“Kesurupan setan hot jeletot, ‘kali!” Keanan ngakak.
“Yuk kita cari combro setan!” Lian merajuk.
Sami hanya mengangguk. “Kita istirahat makan malam dulu.” Begitu keluar dari jalan tol, mobil dibelokkan ke arah pusat kota.

“SAMI, kau punya jawaban?” Vila Bu Yanie dingin sekali. Tadi Kang Jawak, pengurus rumah telah membukakan pintu gerbang. Teman-teman memilih istirahat dengan kegiatan masing-masing. Perjalanan tadi sangat melelahkan. Lian bahkan lelap paling duluan di kamar cowok, disusul Zani di kamar cewek. Di saung depan Keanan asyik menulis, barangkali puisi. Uji dan Zara goleran di bale-bale samping sambil mengobrol, membahas pesawat Sukhoi yang tadi sore jatuh di sekitar Gunung Salak. Aneh banget.
Aku tidak tertarik membahas soal pesawat yang jatuh entah di mana dari bagian gunung di atas kami, memilih mengobrol di beranda depan. Duduk di kursi goyang berdua dengan Sami. Kasus Armand lebih memusingkan. Aku tak bisa tidur. Bagaimana bisa, mata dan kepalaku sakit luar biasa. Armand tidak menjawab telefon atau SMS-ku. BB-nya bahkan tak aktif. Ia seakan raib begitu saja dengan menolak bicara.
“Salahku,” gumam Sami muram. Matanya memandang ke Timur, kabut menghalangi pendar lelampuan di bawahnya.
 “Salahmu?” Aku tidak paham.
“Seandainya kencan ganda dengan Prita tak terjadi, barangkali....” Sami menggantungkan ucapan, kepalanya kini menunduk.
“Barangkali apa?!” Aku tegang menunggu kalimat tambahan.
“Armand tak akan selingkuh dengan Prita.”
“Armand selingkuh?!” Aku kaget. “Bagaimana bisa, Sami? Kamu tak ngawur ‘kan?” kucengkeram kerah jaketnya. Menolak fakta.
“Aku melihatnya sendiri, berulang kali. Maaf baru kukatakan sekarang, Ris, aku takut melukaimu, aku sudah terluka dengan pengkhianatan mereka.” Armand adalah sahabat baik Sami.
Dan aku menangis. Untuk fakta yang menyakitkan, aku telah kehilangan seorang kekasih sekaligus kawan baik dalam kelompok kami. Aku benci menangis, sungguh. Aku bukan perempuan yang suka menangis. Namun malam ini kubiarkan tangisku pecah di pelukan Sami.
“Sudahlah, Ris. Untuk apa menangisi sesuatu yang tak layak lagi dianggap berarti.” Sami mengusap punggungku.
“Ia pacarku. Dan aku mencintainya,” sendatku.

AKU tahu duniaku sekarang berbeda tanpa Armand. Tapi masih ada Sami di sisi yang selalu menguatkan. Dan teman-temanku tak berubah. Menganggap peristiwa ciaonya Armand sebagai breaking news yang basi lagi. Mereka tak mau ambil pusing mengurus atau mengingat sesuatu yang berakhir buruk seperti yang dilakukan Armand kemarin. Apalagi setelah tahu musababnya. Jadi siang ini kami menikmati panorama di Suaka Elang.
“Wow, lihatlah elang itu!” Pekik Uji senang.
“Mana?” Zara merajuk tak sabar. Uji segera memberikan teropongnya dan mengarahkan Zara pada objek nun di atas pohon sana. Mereka tampak berbahagia. Aku merasa iri. Rasa sakit ini tak semudah itu pupus. Sami tahu. Dan ia lebih protektif padaku dengan sikapnya yang entah mengapa terlalu melindungi.
“Kita ke curug?” tanya Lian tidak sabar.
“Tempatnya lumayan angker, jadi jangan macam-macam!” Seruku. Di atas kami helikopter meraung-raung. Mungkin tim SAR. Kami merasa aman.
Curug Cibadak bukanlah objek wisata yang terkenal dan ramai disambangi orang. 1,7 km dari mulut jalan masuk di sebelah gardu pos perkebunan Kapol. Namun tempatnya masih alami.
Dan sepertinya siang ini kian gaduh, selain raungan helikopter, kami melihat beberapa tentara sampai tim SAR bermunculan diiringi pasukan pers dan masyarakat yang ingin tahu. Acara hura-hura kami terhenti. Foto-foto bareng, main air, dan musik harmonika Uji serasa tidak konstan dengan peristiwa yang terjadi. Sepertinya kami “pesta” di tempat dan waktu yang salah. Di tengah musibah.
“Yuk kita ikut meliput,” Uji menarik lengan Zara, “Kita wawancarai mereka.” Huh, mereka wartawan majalah sekolah. Seakan menemukan keasyikan tambahan. Piknik, pacaran, sekaligus peliputan.
“Aku pengen diliput kamera TV!” pekik Lian norak. Ia menyusul Uji dan Zara.
“Narsis!” sembur Zani, namun ia ikut juga ketika Keanan menarik lengannya. Mereka berlima tertawa-tawa. Tinggallah aku sendirian duduk di batu besar, menekuri hidup yang absurd. Kemarin Uji bilang tak akan ada pesawat yang jatuh menghantam kita, nyatanya ada pesawat jatuh sore kemarin itu.
“Aku tak mengerti.” Gumamku cuma ditujukan pada diri sendiri, namun Sami mendengar dan duduk di sebelahku. Merapat dekat.
“Aku juga. Entah mengapa pesawat itu bisa jatuh. Mungkin cuaca buruk di sekitar gunung ketika pesawat lewat atau apa.”
“Ini soal Armand, Sam!” kataku tajam.
Wajah Sami yang riang karena pengaruh suasana kehebohan teman-teman berubah keruh. “Risa, apa belum cukup kau bahas Armand lagi?”
“Mengapa semudah itu lelaki beralih pada lain hati? Kau lelaki, punya jawaban, Sam?”
“Aku tidak tahu. Selain fakta bahwa Prita lebih cantik dan seksi, mungkin Armand bosan pada kita. Atau ia mulai lupa diri sebagai model yang sedang naik daun.” Ucap Sami pahit.
“Atau ia bosan padaku, Sam?”
“Jangan salahkan dirimu.”
Ya, aku menyalahkan diriku. Aku tak secantik dan seseksi Prita yang she’s so damn cute. Prita seperti boneka Barbie. Dan ia lebih layak jadi model daripadaku. Meski ia bukan model. Segala yang ada dalam diri Prita akan membuat banyak lelaki normal mengerling, dan perempuan jadi mupeng pada penampilan fisiknya. Dadaku sesak.
Sami tergila-gila pada Prita, mengajaknya makan dan nonton bareng di Bandung Super Mal berempat dengan aku dan Armand. Kencan ganda itu siapa nyana malah berakhir memilukan. Prita tak jatuh cinta pada Sami, sebaliknya ia dan Armand saling jatuh cinta di belakang punggung kami. Rasanya menyakitkan sekali dikhianati.
“Ikhlaskan mereka, Ris.” Sami mengusap bahuku lembut. Membiarkan aku membisu dengan pikiranku sendiri.
Sungguh aku tak memahami jalan pikiran lelaki, pada yang lebih kinclong bisa lupa diri. Seakan akal dan tubuh mereka dikendalikan hormon. Sesuatu yang sangat menyebalkan! Aku tak menjawab Sami. Aku melihat ke atas, ke arah gunung yang lebih tinggi, mereka-reka di bagian mana Sukhoi jatuh. Barangkali hatiku seperti tebing gunung yang hancur ditabrak pesawat superjet dengan kecepatan supercepat. Vegetasi hutan ikut rusak dan butuh waktu lama agar bisa pulih.
Langit siang cerah. Sami menarik lenganku, mengajak bergabung dengan teman-teman yang melambai dalam keramaian. Dengan langkah gontai aku mengekor. Sungguh aku tidak tahu apa yang harus kulakukan pada Armand jika kami bertemu lagi.
Delapan telah retak!***
Loji, 24 Mei 2012