Tampilkan postingan dengan label ULAS FILM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ULAS FILM. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juni 2018

Paling Dicari: Bandar Film Gratisan!






BAGI maniak film, menonton adalah hal yang paling membahagiakan. Bukan semata hiburan yang dibutuhkan, sensasi bahwa dunia terbentang luas dalam bentuk audio-visual tak tergantikan hal lain.
Dan jika sudah maniak, maka butuh lebih banyak film untuk ditonton, apa pun bentuknya. Asal bukan bokep alias blue film, ya?
Hal lazim yang dilakukan maniak film untuk beroleh tontonan baru biasanya dengan cara mengunduh sendiri filmnya di situs penyedia film gratis atau

Sabtu, 02 Juni 2018

[Ulas Drakor: Go Back Couple] Berdiri di Bawah Hujan



ADEGAN hujan bisa menjadi sangat romantis. Jika seorang lelaki muda yang tegap dan tampan mendadak menyorongkan payungnya agar kamu tak basah kehujanan Membuat jantungmu berdebar karena itu perbuatan yang dikategorikan jantan.
Saya sangat suka pada adegan demikian di drakor (drama Korea) “Go Back Couple”.  Pengadegannya difokuskan pada latar yang romantis dan jatuhan hujan berikut sinar matahari, serasa mengempaskan kita untuk ikut baper karena, jujur saja, itu lebay.

Jumat, 23 Februari 2018

Nonton Dorama Bikin Baper




Dorama dalam bahasa Jepang artinya drama. Pelafalan kata dengan dua huruf konsonan dari bahasa lain seperti [d][r]ama akan ditaruh vokal (o) di sela konsonan tersebut sehingga menjadi dorama.
Mungkin sebelumnya ada yang tidak tahu mengenai kebiasaan pelafalan bagi orang Jepang, semisal mengucap drama jadi dorama, lantas sempat tak ngeh dengan istilah dorama tersebut.

Kamis, 18 Januari 2018

Film dan Buku dalam Perspektif Penonton




Oleh Rohyati Sofjan


KETIKA salah satu stasiun TV swasta akan menayangkan novel yang telah difilmkan, saya menyambutnya dengan antusias. Dalam benak saya, film yang dibintangi Tom Hanks dan meraih Oscar itu pasti sama dahsyatnya dengan novel Forrest Gump tersebut.
Nyatanya saya kecewa berat. Dari awal sampai selesai tak ada kedahsyatan yang sudah saya bayangkan. Bahkan, saya tak bisa tertawa sama sekali. Mungkin bagi orang lain film tersebut menggelitik saraf tawa, namun yang saya rasakan parodinya menghilang, sangat berbeda dengan novelnya. Satirenya lebih satiris, hanya saja membuat miris.
Yang saya rasakan kesepian semata. Akting Tom Hanks yang berperan sebagai Forrest Gump memang bagus dan hidup. Tak ada gambaran orang idiot savant biasa, boleh dikata Gump memang luar biasa. Termasuk sangat polos, lugu dan lucu, sekaligus mengharukan. Apakah memang demikian gambaran orang terbelakang seharusnya? Berbeda dengan idiot mongol atau moron atau imbesil; yang bahasa kasarnya orang cacat mental.
Saya seolah diseret sebagai Gump. Betapa dunianya terasing dari sekitar. Dikejar-kejar orang berengsek untuk diganggu sehingga terpaksa lari, tanpa henti, sekencang-kencangnya melintasi pagar, lapangan rumput, jalan, sampai lapangan football, hingga ke rumahnya tempat yang dianggap aman. Menuruti apa kata Jenny Curran, “Lari, Forrest!”
Apakah itu lucu?
Yang jelas sebagai orang yang merasa senasib dengan Gump, sulit bagi saya untuk tertawa, sama halnya ketika membaca novel Aki (Balai Pustaka, 1950) dan semua cerpen dalam Dari Ave Maria sampai Jalan Lain ke Roma (Balai Pustaka, 1948) keduanya terbitan lawas. Idrus menggambarkan satirenya dengan satir. Realistis-humoristis, menurut Jassin. Kisah Aki yang bergulat melawan malaikat maut, sampai orang-orang kalah di antologi cerpen Dari Ave Maria sampai Jalan Lain ke Roma.
Mungkin dalam humor terdapat kepahitan, atau dalam kepahitan terdapat humor tersembunyi maupun terang-terangan. Namun inilah hidup: kehidupan yang sesungguhnya senantiasa menyajikan serbaneka peristiwa paradoksal.
Kontraskah isi cerita film Forrest Gump dengan novel aslinya karya Winston Groom? Dialihbahasakan secara ringan dan segar oleh Hendarto Setiadi.
Membaca buku dan menonton filmnya tentu sangat berbeda. Dalam film saya bisa melihat secara hidup daripada imajinasi, sebab adakalanya kita kesulitan membayangkan sesuatu yang tak pernah diketahui bentuknya. Seperti The Secret Garden (Taman Rahasia) karya Frances Hodgson Burnett yang saya baca waktu SMP, berikut filmnya beberapa bulan kemudian.
Penyuasanaan (setting) bisa membantu imajinasi yang terasa mandek. Maklum sebagai bukan orang Inggris saya tak tahu cara hidup mereka. Meski, terus terang, jalan cerita dalam novel dan filmnya berbeda. Ada 2 atau 3 versi film yang saya tonton, salah satunya dibintangi Gary Oldman dan itu lebih menyerupai pakem novel aslinya.
Atau dalam The Jungle Book, Rudyard Kipling; inikah hutan India yang sebenarnya? Namun Kipling yang masa kecilnya tidak bahagia, membagi kebahagiaan bagi orang lain dengan karyanya. Dan tentunya Kipling yang begitu Inggris mencintai India -- tempat di mana ia lahir dan besar -- hingga membuahkan karya monumental sepanjang zaman dan menarik untuk difilmkan (dalam berbagai versi). Meski dulunya, sepanjang hidupnya Kipling dan keluarga dikecam habis-habisan, dianggap terlalu mengagungkan (kolonialisme) Inggris Raya.
Akan tetapi, tak setiap film sama dengan karya aslinya. Bisa saja yang di film lebih baik daripada novel aslinya, namun tak selalu demikian. Bagi pembaca fanatik yang lebih dulu membaca novel aslinya, bisa jadi akan kecewa berat jika disodorkan realita sangat berbeda daripada yang diketahui sebelumnya.
Saya tidak tahu apakah pembaca novel Forrest Gump yang membaca karyanya lebih dulu kecewa begitu menonton filmnya, atau penonton film tersebut heran begitu membaca karya aslinya. Sebab, terdapat perbedaan-perbedaan yang entah mengapa harus dibedakan.
Yang jelas dalam film yang disutradarai Robert Zemeckis, sama sekali tak ada tokoh Miss French, Profesor Quackenbush, Sue sang orang utan, Mayor Janet Fritch, Big Sam dengan suku Cargo Cult-nya berikut suku pigmi yang jadi musuh bebuyutan mereka, Mister Tribble, sampai Raquel Welch.
Tak ada adegan jadi astronaut NASA, syuting film di Hollywood, gulat, sampai permainan catur segala. Singkatnya, film tersebut tidak seheboh novelnya. Apa boleh buat, Robert Zemeckis dkk. telah menentukan hal lain untuk filmnya. Terasa membumi dan sederhana, memang, namun sama sekali tak parodi. Boleh dikata sepi. Kasarnya sentimental.
Waktu film itu sedang ramai-ramainya dibicarakan, saya masih duduk di bangku kelas 1 SMU dan tinggal di suatu kota kecil yang tidak ada bioskopnya (Limbangan, Garut), untuk menonton ke kota besar (Bandung) pun pasti diveto orang tua. Namun hasrat untuk mengenal siapa Gump tetap terpendam sampai akhirnya 5 hari sebelum acara perpisahan SMU saya bisa membeli novel tersebut.
Untuk itu butuh perjuangan tersendiri. Dari menabung, sampai kesasar gara-gara salah naik kendaraan dan salah turun. Boleh dikata, untuk mendapatkan Gump, saya merasa mirip Gump. Dan itu akan tersimpan rapi dalam ingatan sebab konyol sekali.
Beberapa tahun kemudian, ada Gump lain dalam film yang sangat berbeda dari novelnya, dan saya kecewa berat!
Meskipun demikian, di lain saat, saya bisa menikmati adegan pergulatan seorang nelayan tua dengan seekor ikan besar hasil tangkapannya. Adegan tersebut begitu dramatis dan menegaskan ini soal perjuangan hidup dan mati. Meski saya belum baca karya aslinya (The Old Man and the Sea’s) karya Ernest Hemingway. Film tersebut terasa sangat menarik dan manusiawi, jauh dari kegemerlapan. Boleh dikata sangat sederhana, sesederhana kehidupan nelayan tadisional benua mana.
Alhasil, sebagai pencinta film dan buku (sastra maupun pop), saya mencoba menikmati hidup dan berusaha memandang dari segi yang berbeda. Hidup ini selalu menyajikan kemungkinan-kemungkinan tak terduga.
Akan tetapi, hidup lebih dari sekadar fiksi semata. Yang fiksi bisa hidup, atau hidup memang cuma fiksi?***
~ Dimuat di www.titikoma.com ~ 

Rabu, 13 Desember 2017

The Next Three Day: Perjuangan Seorang Suami Demi Membebaskan Istri




Ketika istri dipenjara dengan tuduhan membunuh bos di kantornya, padahal ia tidak melakukan pembunuhan itu, sedang bukti yang ada mengarah padanya, apa yang akan dilakukan sang suami? Tetap mendampingi atau meninggalkannya? Keadaan yang sangat dilematis itu menimpa pasutri (pasangan suami istri) John dan Lara Brennan.

Credit title dimulai dengan adegan John Brennan (diperankan dengan apik oleh Russell Crowe) mengendarai mobilnya dengan rusuh dan seseorang dalam mobil mengaduh kesakitan, memohon agar membawanya ke rumah sakit. Sampai suara itu lenyap, meninggalkan kesunyian. Tinggallah John yang kebingungan.
Lalu adegan berpindah pada tiga tahun lampau kala Lara Brennan (diperankan dengan penghayatan total oleh Elizabeth Banks) keluar dari tempat parkir melintasi jalan yang basah sehabis hujan, memasuki restoran. Makan malam dengan John dan sepasang rekan suaminya malah berakhir ricuh karena Lara terlibat perdebatan emosional dengan bawahan suaminya.
Keesokan paginya, beberapa orang polisi menyerbu rumah, mengusik kedamaian pagi pasutri Brennan yang sedang bercengkerama dengan anak mereka, Luke Brennan yang masih kecil. Lara ditangkap dengan tuduhan membunuh Elizabeth Gesas, bosnya yang tiran.
Efeknya sangat dramatis, Luke menangis dan berulang kali berteriak memanggil ibunya, sedang Lara tengah digelandang keluar rumah dan John dalam ledakan emosinya berusaha menenangkan Luke yang masih duduk dengan bingung di kursi makannya.
Oke, waktu bergulir, Luke sudah besar, John terlibat kunjungan rutin ke penjara yang menyekap istrinya. Lara kian frustrasi karena tidak ada perkembangan kasus karena bukti yang ada memberatkan dirinya. Pengajuan banding ditolak.
Bagaimana bisa, polisi menangkapnya dengan tuduhan membunuh padahal pembunuh yang sebenarnya masih bebas berkeliaran di luar sana. Di sinilah pemaparan mengenai hukum Amerika pun bisa cedera, bukti yang mengarah padanya hanya karena sidik jari Lara ada pada benda yang membunuh korban, padahal benda itu menghalangi mobilnya dan oleh Lara dipindahkan ke tempat lain. Lara tidak menyadari ada pembunuhan, sebelum memasuki tempat parkir ia bertubrukan dengan seorang perempuan. Lara bersikeras bahwa kancing mantel perempuan itu tersangkut pada tasnya, dan ia mendengar bunyi benda jatuh. Sayangnya bukti mengenai keberadaan kancing mantel pembunuh tersebut tak ditemukan polisi.
John yang percaya bahwa istrinya tak bersalah, berjuang dengan caranya untuk membebaskan sang istri. Dengan cara-cara yang menjurus tindakan kriminal sebab ia merasa tiada pilihan.
Duh, kala menonton adegan demi adegan upaya John, terasa menegangkan sekaligus mengharukan. Cinta seorang suami yang sedemikian besar demi membebaskan istri dari kesewenangan hukum, penuh pengorbanan. Berjuang sendiri dengan caranya. Apa yang bisa dilakukan seorang guru di sebuah universitas selain menggunakan akal dan kesabaran. Penasaran dengan upaya John kayak apa? Tonton saja, deh, filmnya, bagus banget!
Biasanya kalau nonton aksi Russell Crowe selalu ada adegan laga, kali ini meski filmnya bergenre drama, ada unsur suspens dan laganya. Dari dipukuli kriminal pengedar obat terlarang yang merampok dan menipunya kala ia butuh paspor dan ID palsu. John yang tidak kapok, berurusan lagi dengan kriminal lain pembuat narkoba kala hendak mengambil haknya. Ada adegan dar-der-dor. berdarah-darah, gitu.
Cipeujeuh, 17 November 2014


Sabtu, 18 November 2017

“Scarlet Heart: Ryeo”, Dikelilingi Para Cogan dalam Wujud Pangeran




Bagaimana rasanya?
Ketika Go Ha Jin yang tenggelam di danau peristirahatan, tepat saat gerhana matahari, raga dan jiwanya mendadak terlempar ke masa silam. Muncul lagi tepat di kolam pemandian air panas  para pangeran di istana Kerajaan Goryeo, Songak. Mundur ke masa lebih dari seribu tahun lampau dalam wujud Hae Soo yang serupa dengannya. Pada masa pemerintahan raja pertama pendiri dinasti Goryeo, Taejo Wang Geon.
Dia membuat 6 dari 8 orang pangeran menyukainya dan berteman baik dengan mereka. 4 orang di antaranya jatuh cinta pada Hae Soo. Kepribadiannya yang menawan malah membuatnya terlibat dalam intrik politik yang rumit membelit di istana, berkaitan dengan perebutan takhta di antara para pangeran sendiri yang ingin menjadi raja.
Itu drakor (drama Korea) yang bagus menurut saya, meski sempat sebal karena Hae Soo yang periang lambat laun jadi lemah tak berdaya dan jantungan menghadapi aneka tekanan sampai fitnah kejam yang harus dialaminya. Tekanan dalam perebutan takhta itu rumit dan nyelekit. Penuh pertumpahan darah.
Ehm, banyak adegan yang bikin saya haru berat sampai ikut mewek bersimbah air mata. Itu drakor paling tragis daripada “Moonlight Drawn by Clouds” yang nuansa riangnya lebih kentara. Suka banget, deh, menonton drama sejarah dalam balutan silat. Ada yang suka juga?
Sebagai catatan, bagi yang belum tahu, istilah cogan artinya cowok ganteng. Baru tahu istilah itu setelah awal bulan Januari 2017, gara-gara galau tak bisa mengakses internet karena modem Telkomsel Flash dengan kartu Simpati sulit menangkap sinyal akibat posisi rumah, jadi malah nonton film Jepang bergenre dorama romantis “Ookami Shoujo to Kuro Ouji”. Kentaro Sakaguchi emang ganteng, hehe, tapi Yamazaki Kento yang juga main dalam film “L.D.K.”, “Orange”, “Another”, dan “Heroine Shikaku”, ”Death Note 1-2-3” (hanya itu yang baru saya tonton!) juga gak kalah gantengnya. Yup, ganteng-imut!.
Hahaha, sudah jadi emak-emak yang di mata anak muda tak lebih dari seorang tante-tante terancam menopause beberapa tahun mendatang, masih baper (terbawa perasaan) nonton film drama romantis padahal suami sendiri mengaplikasikan makna tersebut dengan caranya yang beda dari adegan film.
Berbahagialah para istri yang bersuamikan tipikal tanggung jawab, perhatian, kasih-sayang, dan hal-hal positif lainnya meski beda dengan karakter dalam film. Kita harus bersyukur untuk itu karena anugerah tersebut belum tentu orang lain dapatkan. Masih banyak yang harus bergulat dalam KDRT atau pengabaian tak berujung.
Saya suka karakter Wang So, ia jantan sebagai lelaki dengan caranya. Rela mempertaruhkan nyawanya berkali-kali demi menyelamatkan Hae Soo dari beragam fitnah, percobaan pembunuhan, sampai patah hati. Sayang, sad ending.
Bagaimana pendapat Anda tentang Wang So, pangeran ke-4, yang pada akhirnya menjadi Raja Goryeo ke-4 dengan sebutan Gwangjong? Ada yang baper juga? Atau jadi kepo, apa bagi orang Korea angka 4 membawa makna tersendiri?
Pada mulanya saya suka Wang Wook, pangeran ke-8 yang tampan dan cerdas, sayang ia malah jadi pengecut. Dan pada akhirnya, hidupnya serupa ungkapan Shakespeare, “Cowards die anytime before their death!”
Positif dari drakor adalah bisa nobar alias nonton bareng dengan suami saat senggang, biasanya di malam hari karena ia sibuk kerja tiap hari jadi laden alias pembantu tukang bangunan demi anak dan istri, Senin sampai Minggu setiap harinya jika dapat tawaran kerja -- dengan upah 60 ribu per hari. Ada semacam bonding (ikatan) karena nobar drakor atau dorama. Mungkin bisa lebih menggugahnya agar lebih tahu ada banyak, lho, lelaki tipikal romantis yang bisa melelehkan hati perempuan karena sikap tanggung jawab dan melindungi.
Asal tahu saja, bagi saya nilai plus film atau drama serial bukan cuma tampang cogan melainkan pengarakteran mereka dalam menyampaikan pesan cerita bermutu. Kita butuh film yang bukan cuma hiburan semata, ‘kan?***
Cipeujeuh, 22 Januari 2017     
PS.
Terima kasih untuk sahabat baikku, Ipah, karena putri tersayangnya mengizinkan saya selalu sedot koleksi film dari netbook lalu laptopnya. Bagi movie lover, bandar film adalah penyelamat kegalauan, tinggal sedot kala tak bisa unduh sendiri karena jaringan internet super-duper lelet tak terpakai.