Kamis, 09 Agustus 2018

Bahasa Indonesia dalam Pembacaan Seorang Tunarungu


Oleh Rohyati Sofjan


*Narablog di https://.rohyatisofjan.blogspot.co.id



Adalah hal yang melegakan jika saya bisa memahami apa yang dibaca dalam pembacaan tulisan berbahasa Indonesia. Memahami bahasa bagi seseorang yang telah kehilangan fungsi pendengaran sejak usia ± 6 tahun ternyata tidak mudah.
Saat masih kecil, ketika membaca suatu kata atau istilah yang tak dimengerti (entah dalam buku, majalah, atau koran), saya merasa terasing dalam planet sunya ketika dunia begitu ingar.

Selasa, 07 Agustus 2018

Puisi Medium Refleksi dan Terapi



Oleh Rohyati Sofjan


REFLEKSI bermakna gerakan atau pantulan di luar kesadaran sebagai jawaban suatu hal atau kegiatan yang datang dari luar (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Puisi pada hakikatnya refleksi penyair terhadap hal-ihwal dari sekitar yang diserap masuk ke dalam diri. Puisi adalah medium (alat) bagi penyair untuk mengungkapkan tumpah-ruahnya rasa dan pikir dalam balutan bahasa yang cenderung sastra agar menggugah.
Dan selain sebagai refleksi (cerminan diri), puisi pun berfungsi sebagai alat untuk menerapi. Angga Wijaya, penyair kelahiran Negara, Bali, 14 Februari 1984; mendedahkan semua tumpah-ruah yang menghantamnya ke dalam antologi puisi Catatan Pulang (Pustaka Ekspresi, 2018). Sebagai refleksi sekaligus terapi!
Angga berani membuka diri perihal dirinya sebagai ODS (orang dengan skizofrenia),

Jumat, 20 Juli 2018

Forrest Gump, Sisi Satir dari Lari



KETIKA buku kategori best seller difilmkan, pembaca fanatik buku tersebut harus siap menerima kenyataan bahwa filmnya akan menyorot hal lain yang berbeda dari isi buku. Dan itulah yang terjadi dengan Forrest Gump!

Minggu, 01 Juli 2018

Mengapa Saya Bisa Typo atau (Mestinya) Salah Ketik?




TYPO bukanlah kata dari tipografi alias ilmu cetak atau seni percetakan, melainkan terjemahan dari bahasa Inggris untuk kesalahan cetak. Namun entah mengapa, banyak yang menggunakan istilah typo meski yang dimaksud bahwa penulisnya salah ketik.
Kalau sudah dalam buku terbit atau digital, bisa saja bukunya dikatain ada atau banyak yang typo karena penulisnya ceroboh salah ketik dan editornya tak teliti memeriksa proses penyuntingan.
Jika tulisan yang ada atau banyak salah ketik tersebut tayang di blog atau media daring, apakah masih layak disebut typo?

Barudak Ngarujak, Permainan Orang Kampung yang Tak Digerus Kekinian



HARI Minggu kemarin teman-teman Palung, para anak tetangga, pada main ke rumah kami. Yah, rumah Palung dan mamah plus bapaknya, he he. Ngapain saja? Ngegim di komputer punya mamah yang lagi sibuk urus rumah sekalian bantu Ayu anak kelas 4 SD ngerjain PR-nya.
Urusan PR Ayu kelar, mamah lagi masak untuk makan siang, mendadak Palung bilang ingin ngerujak. Mamah yang lagi ngulek bumbu untuk masakan bilang cobeknya dipakai dulu, dan nyuruh ngerujak pepaya. Ada banyak buah pepaya

Sabtu, 30 Juni 2018

Paku Nyai Kunti



Carita: Ani Suhartini


PEUTING bulan moncorong sawareh katutupan mega hideung. Kuring indit ka lembur niat rek sungkem ka indung. Kajadian anu matak sieun jeung keueung. Bulu punduk tingsariak. Kasieun beuki gede pas motor pareum di sasak wahangan Cicupu deukeut tangkal waru doyong. Kuring ngomong na jero hate, duh naha bet mogok palebah dieu, dalah dikumaha motor teu hurung-hurung. Kuring negerkeun hate supaya gede wawanen, kuring neuteu bulan nu endah tapi siga neundeun kasedih.
Keur anteng kitu kasampak digigireun aya

Kamis, 28 Juni 2018

Naik Sado dan Makan-makan Asyik di Alun-alun Limbangan




PALUNG paling senang jika naik sado. Kala bayi saja dan masih enen, doi sudah pintar menunjuki setiap sado yang lewat di jalan raya kecamatan dengan takjub. Menepuk muka mamah yang menggendongnya pakai aisan, lantas bilang sambil tangannya menunjuk segenap semangat khas bayi yang baru belajar bicara, “Sado! Sado!” Dan segera menggerakkan bokongnya atas-bawah di aisan, seakan ingin menandak-nandak.
Mamah cuma bisa mengiyakan saja, dunia bayi Palung adalah

Senin, 25 Juni 2018

Arti LIKE atau SUKA bagi Warganet



SELAMAT mitnait.
Mestinya malam ini saya langsung tidur saja karena sudah lelah dan mengantuk, namun suatu soal dari dua hari kemarin mengusik saya. Membuat saya merasa harus menulis ini sebelum lupa atau hangus di kepala karena mood lagi ngadat.
Seorang teman FB bikin status ajaib yang nyadarin saya, ia tak akan konfirmasi pertemanan karena

Senin, 11 Juni 2018

Ini yang Saya Lakukan jika Bete



BETE adalah bahasa gaul yang tetap hits dari zaman saya masih SMU (1994-1997), merupakan adaptasi singkatan dari kalimat bad temper alias temperamen buruk a.k.a perangai tidak baik.
Bad temper merujuk pada kata sifat berupa suasana hati yang tak nyaman dengan keadaan (diri sendiri atau sekitar). Ia uring-uringan, marah-marah, mencak-mencak, atau

Eksternal Keyboard sebagai Jalan Keluar Kala Papan Pengetik Rusak



KETIKA Palung menyiram netbook Acer Aspire One Pro yang tengah menyala dengan segeas air minum; tidak hanya komputer yang rusak sehingga makan biaya perbaikan mahal akibat korslet, beberapa tombol pengetik pun tak berfungsi. Kala itu usianya baru 3 tahun dan belum mengerti.
Karena servis papan pengetik mahal, makan 300 ribuan, maka beli eksternal keyboard sebagai jalan keluar. Harganya murah, merek Votre cuma

Sabtu, 09 Juni 2018

Hujan Februari di Cipeujeuh





SELAMAT siang jelang zuhur. Panas-panas begini ingin berpuisi. Puisi lama yang sudah basi karena tak laik muat di media mana pun. Jadi malas kirim lagi setelah terakhir dilabuhkan ke suatu kotan dan telah lewat tenggat waktu. Maka, selamat tinggal media massa cetak. Saya lebih suka berbagi puisi di sini, berharap ada yang pembaca yang

[ULAS FILM: ME BEFORE YOU] Pada Akhirnya, Aku dan Kamu




KECELAKAAN tidak hanya mengubah hidup seseorang, orang di sekitar korban pun merasakan dampaknya. Demikianlah hidup William Traynor (Sam Claflin), seorang lelaki muda tampan yang sangat dinamis berubah, hanya karena kecerobohannya kala menyeberang jalan sambil bicara di telefon genggam tanpa melihat kiri-kanan membuatnya ditabrak sepeda motor di pagi berhujan.
Lalu dua tahun kemudian, seorang perempuan muda datang dalam hidupnya, mengubah hari-harinya yang muram

Tentang Cinta Platonis



PADA hakikatnya saya bukan seorang pemuja Khalil Gibran sehingga mempraktikkan platonis sebagai konsep cinta bawah sadar. Saya hanya merasa harus tahu diri dengan keadaan. Di kala remaja sampai dewasa tentu saya merasakan apa itu yang namanya rasa suka pada lawan jenis; dan suka itu saya artikan sebagai cinta karena ada rasa peduli, kasih, sayang, rindu, sekaligus cemburu.
Hal yang ironis dari cinta platonis saya semasa remaja adalah senantiasa

Kamis, 07 Juni 2018

Hari Terakhir Sebelum Saum dan Tradisi Mengutamakan Urusan Dapur






JUDUL  di atas adalah fakta yang kerap saya temui di lapangan. Eh, ini bukan bahas soal olahraga melainkan olah dapur, jadi mestinya di pasar atau warung atau setiap rumah berpenghuni yang hendak menunaikan ibadah saum. Mereka rata-rata menyerbu tempat yang menyediakan bahan pangan untuk sahur pertama di bulan ramadan ini, sekaligus bahan untuk berbuka keesokan harinya. Demi menjaga ketahanan fisik dengan ketersediaan pangan.
Tidak salah, sih. Karena setiap orang berhak mengapresiasi suatu peristiwa penting dengan caranya masing-masing. Yang penting harap

2018 Tahun Nostalgiaan?





BAGAIMANA tidak, dari sejak awal tahun saja saya merasakan semacam aura orang-orang cenderung terkenang-kenang pada masa silam. Tengoklah beranda Facebook, kebanyakan yang jadi teman Facebook saya pada bahas novel dan film “Dilan”.
Pidi Baiq yang menulis dengan gaya nostalgiaan benar-benar sukses menularkan semangat nostalgianya, hingga kebanyakan yang segenerasi dengan Kang Pidi, generasi X, ikut mengenang bagaimana kehidupan mereka yang telah lampau. Nostalgia masa SMA atau SMU.

Rabu, 06 Juni 2018

Kita Telah Bahagia dengan Kemasing-masingan





HALO, saya pernah juga jomlo kala muda dan lajang. Kala usia di atas 20-an. Catat, ya, jomlo tanpa huruf b karena yang tepat, kata Pak Uksu Suhardi dalam status pelajaran bahasa singkatnya yang numpang lewat di beranda saya; adalah jomlo sebagaimana comro (oncom di jero).
Sebentar, saya kerap mengucap-tulis jomlo dan paham apa artinya namun tak paham sejarah linguistiknya.

Selasa, 05 Juni 2018

Menu Buka Puasa Haruskah Mahal?



SEADANYA saja seperti hari biasa, ini prinsip saya tentang buka puasa. Belanja apa yang ada di warung dekat rumah. Dan warung Bi Ai hanya menyajikan hal sederhana sekaligus terjangkau bagi tetangga sekitar yang jadi pelanggannya. Para tetangga dengan penghasilan pas-pasan macam keluarga saya.

Minggu, 03 Juni 2018

Paling Dicari: Bandar Film Gratisan!






BAGI maniak film, menonton adalah hal yang paling membahagiakan. Bukan semata hiburan yang dibutuhkan, sensasi bahwa dunia terbentang luas dalam bentuk audio-visual tak tergantikan hal lain.
Dan jika sudah maniak, maka butuh lebih banyak film untuk ditonton, apa pun bentuknya. Asal bukan bokep alias blue film, ya?
Hal lazim yang dilakukan maniak film untuk beroleh tontonan baru biasanya dengan cara mengunduh sendiri filmnya di situs penyedia film gratis atau

Fungsi Algoritma dalam Interaksi Sosial



ALGORITMA atau bakunya algoritme menurut KBBI 3 semacam kata benda,  prosedur sistematis untuk memecahkan masalah matematis dalam langkah-langkah terbatas; sedang dalam istilah manajemen  adalah urutan logis pengambilan keputusan untuk pemecahan masalah.
Prosedur sistematis atau urutan logis bagi pemecahan masalah tersebut masuk dalam ranah interaksi sosial. Menyangkut prinsip

Kepada Suami




Sungguh aku mencemaskanmu, suamiku.

Malam gelap, lembap dan dingin.
Lalu bagaimana dengan paru-parumu
yang disayat-sayat angin?

Tidakkah kau gigil?

Sabtu, 02 Juni 2018

[Ulas Drakor: Go Back Couple] Berdiri di Bawah Hujan



ADEGAN hujan bisa menjadi sangat romantis. Jika seorang lelaki muda yang tegap dan tampan mendadak menyorongkan payungnya agar kamu tak basah kehujanan Membuat jantungmu berdebar karena itu perbuatan yang dikategorikan jantan.
Saya sangat suka pada adegan demikian di drakor (drama Korea) “Go Back Couple”.  Pengadegannya difokuskan pada latar yang romantis dan jatuhan hujan berikut sinar matahari, serasa mengempaskan kita untuk ikut baper karena, jujur saja, itu lebay.

Yuk Belajar EYD bareng Cikgu Anna Farida





EYD (ejaan yang disempurnakan) telah beroleh perubahan istilah baru menjadi EBI (ejaan bahasa Indonesia) pada tanggal 30 November 2015. Meskipun demikian, apa pun penamaaanya, tabik untuk Cikgu Anna Farida, pengasuh ruang belajar bahasa Indonesia di group IIDN (Ibu-ibu Doyan Nulis) dengan hastag #IngatEYD (dan juga kini #IngatEBI) yang isinya tetap relevan sampai sekarang.
Buku digital (ebook) Bercanda dengan EYD yang dipajang di situsnya

Jumat, 01 Juni 2018

Palung dan Pukau Dunia Fabel



BAGI Palung (8 tahun), fabel adalah dunia menakjubkan karena ia akan mengenal hal luar-biasa dari yang biasa dikenal dalam keseharian. Bagaimana binatang bisa bicara dan berlaku sebagaimana halnya manusia, membentuk narasi yang menyenangkannya.
Karena itulah ia lebih suka menonton film “Kungfu Panda”, “Zootopia”,  Ice Age”, dan yang sejenisnya. Fiksi bagi anak kecil lebih mudah diserap dan bersahabat jika dilakonkan oleh para binatang.

Mom War di Era Digital


 

  DALAM media Mojok (online), Maya Lestari menulis pengalaman tak mengenakkan berkaitan dengan pilihan hidup yang telah dialaminya secara sadar atau terpaksa. Bagaimana ia harus berurusan dengan “serangan” opini (langsung maupun tidak langsung) dari para ibu lain tentang konsep ideal karena ia berseberangan, melenceng dari citra ideal peribuan. Serangan kiri-kanan di media dan jejaring  sosial tempat berinteraksi dengan sesama warganet lainnya membuat ia tak nyaman.

Kamis, 31 Mei 2018

Ucapkan



 ”MARI ucapkan suatu kata atau rangkaian kalimat, lalu rasakan bagaimana gemanya!”
Saya ingin sekali katakan itu pada siapa saja yang berpendengaran normal, setidaknya mereka yang merasa bersyukur telah diberi kesempurnaan panca indra. Sebab mengucapkan suatu kata apalagi rangkaian kalimat bagi yang memiliki keterbatasan fungsi pendengaran ternyata tidaklah mudah.

Pinjam, Ya?






ALISHA mendesah kesal begitu tangan Abimanyu terulur dari belakang ke mejanya.
“Pinjam, ya?”
Maka penghapus berbentuk pisang warna kuning itu pun beralih ke tangan Abimanyu tanpa bisa Alisha cegah.

Membedah Dada Puisi Ratna Ayu Budhiarti


PEREMPUAN memiliki beragam cara untuk membahasakan puisi sesuai warna jiwa dari pengalaman hidupnya. Bahasa kaum perempuan dalam puisi mereka terkadang memiliki ciri pembeda dengan bahasa pemuisi lelaki.
Marilah kita membedah dada puisi Ratna Ayu Budhiarti, niscaya kita akan dihadapkan dengan daya ucap dan ungkap yang begitu sangat personal kediriannya sebagai seorang Ratna.

Kamis, 22 Maret 2018

Ada Banyak di DAMN! I LOVE INDONESIA



FASHION bukan lagi sekadar pelengkap melainkan kebutuhan masyarakat untuk menunjang identitas diri mereka. Fashion atau bahasa serapannya ‘fesyen’ berubah-ubah seiring laju dinamika masyarakat dalam menghadapi perubahan masa.
Tren boleh berganti, dan Daniel Mananta dengan brand DAMN! I LOVE INDONESIA, menawarkan beragam fesyen produknya yang berupaya up to date,

Rabu, 21 Maret 2018

Usia 42 Tahun, Maka Saya …


ADA pepatah populer yang layak kita kritisi, “Life begins at 40.”. Benarkah hidup kita [akan/telah] bermula pada usia 40-an? Baiklah, karena penulis telah menginjak usia demikian dan ingin berbagi sedikit asam-garam kehidupan kala menjalani usia yang dimitoskan sebagai beginning alias permulaan. Permulaan yang dilakoni bergantung bagaimana sudut pandang.

Jumat, 23 Februari 2018

Maju-Mundur Memulai Bisnis Daring (Online)



YAH, saya bimbang makanya mengambil judul di atas. Sudah lama sekali saya ingin mulai berbisnis jualan secara daring (online) sejak beberapa tahun lalu dan mendiskusikannya dengan sahabat baik saya, Mutiara Aryani, di Batusangkar yang punya niat serupa namun belum terwujud karena masalah modal.
Masalah saya, dengan modal terbatas kayak beberapa ratus ribu rupiah atau kurang, sih, rasanya bisa jalan. Namun kendala utama adalah

Bahasa Awur-awuran




KATAKAN saya kuper dan ketinggalan zaman, atau apa saja. Karena banyak bahasa yang tidak saya pahami maksudnya; bahasa percakapan maupun tulisan di kalangan masyarakat Indonesia yang kebanyakan ajaib punya. Terutama kawula muda, namun tak menisbikan yang tua juga.
Katakan bagaimana rasanya berada di dunia sunyi yang steril dan hanya mengenal bahasa dari apa yang dibaca, bukan didengar? Entah, ya. Yang jelas saya sering bingung dan merasa tak gaul ketika harus berhadapan dengan kata atau kalimat ajaib. Barangkali saya kaku, terbawa bacaan yang kebanyakan nyastra sampai bergabung di milis guyubbahasa Forum Bahasa Media Massa (FBMM) yang anggotanya kebanyakan pencinta bahasa Indonesia (yang barangkali fanatik) sejak tahun 2003.
Pengalaman belajar di milis guyubbahasa membuat wawasan saya terbuka. Kagum, heran, sadar, sampai ngeri dengan kemampuan rekan-rekan yang kebanyakan pakar dalam membahas suatu topik sampai berargumen. Namun saya menikmatinya. Sekaligus khawatir karena sepertinya kami merupakan komunitas minoritas jika dibanding masyarakat pengguna bahasa Indonesia sebangsa dan setanah air.
Saya mencintai bahasa Indonesia, sebab hanya dengan bahasa itulah saya merasa hidup dalam wewenang yang dikuasai. Namun pengalaman mengajarkan bahwa dunia luar saya yang ingar ternyata ruwet, banyak banget bahasa awur-awuran yang bikin saya terkaget-kaget.
Mungkin yang sangat sering dan susah diubah kebiasaannya dalam masyarakat adalah penggunaan kata kami dan kita yang bertukar tempat mulu. Akibatnya, saya sering merasa terganggu.
Saya pernah membahas itu dalam surat untuk seorang kawan ketika mengomentari cerpennya yang secara gramatika masih awur-awuran. Surat itu saya pajang di blog pribadi, http://rohyatisofjan.blogspot.co.id, ya mudah-mudahan bermanfaat bagi yang mengunjunginya.
Dan saya heran karena kejadian awur-awurannya merambah sampai sudut kampung di lereng gunung. Ah, seorang gadis Madrasah Aliyah (setara SMA) kelas XII yang masih belia dan tentu saja ceria, berbakat menulis sejak 6 SD, sudah menerbitkan novelnya dan beredar di lingkungan terbatas, sekolahnya; membuat kejutan. Cara bertuturnya mengagumkan dan tak membosankan (katanya ia suka karya Rachmania Arunita), namun yang mengkhawatirkan adalah banyak sekali penggunaan bahasa yang tak sesuai kaidah kebahasaan. Seperti virus menyebar ke mana-mana, bahasa awur-awuran itu, ternyata.
Saya bingung dengan penggunaan “secara”, karena ada paragraf di awal novel itu yang dirasa janggal: “Bukan gitu Miss Mirrel, gue juga bisa pake Bahasa Inggris, pake Bahasa Jerman pun gue bisa. Tapi secara gue tinggal di Indonesia gitu loh, nimba ilmu di Indonesia juga, cari duit juga di Indonesia jadi gue musti pake bahasa sini. Ya kalo lo udah mampu dan bisa pake Bahasa Indonesia meskipun dikit, kenapa gak digunain buat bahasa ngobrol lo....? Biar lo gampang bisanya.” Mirrel menatap gue dengan sinisnya, tatapannya tatapan permusuhan, mungkinkah dia dendam sama gue? 
Itu karya Rafi Alawiyah Rais. Remaja berbakat yang sebenarnya kritis. Dan saya terangsang untuk membimbing dan mengkritisinya. Ya, semacam pelengkap setelah guru-guru dan orang terdekatnya yang telah mengajarkan banyak hal.
Ayahnya ternyata kepala sekolah dan guru di MTs. YPI Ciwangi, Limbangan, Garut yang pernah memberi kesempatan bagi saya untuk bersekolah di sana, bercampur dengan anak lain yang berpendengaran normal. Itu baru saya tahu ketika kami pertama kali bertemu dan kenalan untuk membahas karyanya,
Saya mengerti kalau Rafi hanya terbawa virus bahasa pergaulan dari medium mana saja. Yang saya khawatirkan virus tersebut tiada obat penawarnya. Telanjur menyebar dan berurat akar. Itukah cermin kehidupan bahasa kita yang sungguh sangat mengejutkan bagi seorang tunarungu macam saya yang telah kehilangan fungsi pendengaran sejak usia 6 tahun?
Dan petualangan bahasa awurnya ternyata seperti sedang tracking di karang terjal. Saya sering merasa sesak disodok kejutan yang melemotkan. Ya, saya merasa lemot atau tulalit. Mengernyitkan kening dan bertanya dalam hati, ini maksudnya apa? Frase “utas” di KBBI kok berbeda dengan apa yang dimaksud Rafi. Bagi saya yang terbiasa dengan maksud: kata, cetus, dan yang bersinonim dengan itu; kebingungan!
Rafi dapat kesimpulan tentang “utas” dari mana? Utas di buku Babi Ngesot Raditya Dika saja merupakan kebalikan dari “satu”. Sayang saya tak tahu jawabannya karena kala membahas itu secara langsung sambil menunjuk KBBI pada Rafi, ia tak menjelaskan penemuan diksi ajaibnya selain mengangguk malu dan agak bingung.
Sekarang saya bingung, andai bukan penyandang tunarungu apakah saya akan peduli pada betapa awurnya dunia bahasa di negeri Indonesia tercinta. Atau malah jangan-jangan termasuk kategori orang yang sama awurnya juga dan tak ambil pusing karena sudah terbiasa. Ah.
Banyak sekali contoh bahasa awur yang membuat saya serasa jungkir balik coba memahaminya. Dan itu seolah berada di dunia hiperbolik. Dunia surealis tulisan karya Seno Gumira Ajidarma dan Agus Noor masih asyik, namun apakah saya berada di dunia surealis juga ketika orang-orang menulis sampai bicara dalam bahasa Indonesia yang membingungkan?
Namun saya tak ingin menyerah. Biarlah berbahagia dalam dunia sunyinya, karena sunyi mengajarkan saya untuk merenung dan mengambil jarak. Betapa logika berbahasa sudah kehilangan wibawa. Barangkali hanya segelintir kecil saja yang peduli dan ingin melakukan reformasi kebahasaan dalam artian positif. Mungkin seorang Rafi bisa saya bimbing untuk masuk komunitas kecil saya, dan siapa tahu kelak ia akan bisa membimbing yang lainnya juga untuk paham dan peduli.***
Cipeujeuh, 21 September 2010

Nonton Dorama Bikin Baper




Dorama dalam bahasa Jepang artinya drama. Pelafalan kata dengan dua huruf konsonan dari bahasa lain seperti [d][r]ama akan ditaruh vokal (o) di sela konsonan tersebut sehingga menjadi dorama.
Mungkin sebelumnya ada yang tidak tahu mengenai kebiasaan pelafalan bagi orang Jepang, semisal mengucap drama jadi dorama, lantas sempat tak ngeh dengan istilah dorama tersebut.

Minggu, 04 Februari 2018

Panas-Dingin Bareng Drink beng-beng



Cokelat adalah produk makanan olahan yang lezat disantap. Rasa cokelat yang rada pahit kerap tak terdefinisikan jika dicampur dengan bahan lain seperti gula atau krimer untuk minuman. Slurp….

BENG-BENG selama ini terkenal sebagai pelopor makanan cokelat batang dengan perpaduan lapisan bahan wafer, karamel, rice crispy,  dan cokelat. Dengan kemasan warna merah mengilat yang cerah, beng-beng sukses menjadi jajanan populer dari saya masih ABG di tahun ’90-an.

Merah





Ia mencintai warna merah!
Dan kini warna itu membalutnya dengan cinta pula. Tubuh yang bersimbah darah. Merah. Merembesi tanah tempat ia terkapar tanpa daya di antara rimbun belukar tepi jalan entah. Ia meringkuk dengan punggung melingkar ke samping kanan dan kedua tangan memegangi perutnya yang robek dihunjam senjata tajam; darah mengucur deras tanpa bisa ia hentikan. Matanya yang panas dan menyisakan tangis, terpejam. Erangnya tak lagi keluar. Meski nyeri itu amat memedihkan, ditambah rajaman deras hujan di malam gelap tanpa panduan jam. Dengan sesekali kilat dan guntur menggelegar.

Rente




Penduduk kampungku terjerat utang. Ada banyak. Dan ibuku salah satunya. Utang tak perlu yang membuatku meradang. Ibu akan tetap berutang, dengan atau tanpa sepengetahuanku. Percuma aku melarang, ibu akan selalu beralasan, alasan bodoh yang membuatku tak berdaya. Marah pun percuma. Barangkali utang adalah hobi lama ibu, semacam penyakit lebih tepatnya, dari sejak aku kecil dan bapak masih hidup. Keinginan beroleh uang cukup besar dalam waktu seketika untuk gaya hidupnya yang sia-sia,  mendorong ibu mengorbankan ketenangan dan kesejahteraan kami dalam jangka panjang.

Cerpen Rohyati Sofjan


UANG tunjangan pensiun ibu yang tak seberapa dipotong pihak bank tempat ia meminjam uang, gara-gara abangku butuh pinjaman dan ibu terpaksa mengagunkan surat pensiunnya lagi dengan cara menombok. Ada banyak hal yang membuat ibu selalu demikian, berulang memperpanjang agunan tanpa lunas benar, dan itu tanpa sepengetahuan anak-anaknya. Namun jika ditambah meminjam pada rentenir jelas itu sudah keterlaluan, apalagi untuk hal tak produktif.
“Ibu karep sorangan!” kata abangku satu hari sebelum pernikahanku. Masalahnya ibu tak mau mendengar omonganku demi kebaikan. Aku ingin pernikahanku dengan cara sederhana dan hemat biaya. Namun ibu jenis orang yang tak bersyukur, begitu keras kepala memaksa belanja. Merasa gengsi jika tak bisa menyajikan sesuatu yang biasa dilakukan orang hajat, dari acara uleman atau ritual memberi amplop dan balas memberi bingkisan pada para pemberi sebelum hari pernikahan, sampai menyajikan masakan pada undangan di hari pernikahan.   
Aku tak paham istilah karep sorangan, banyak sekali kosakata bahasa Sumda yang sering tak kumengerti karena keterbatasanku; kehilangan fungsi pendengaran sejak kecil dan bahasa yang sangat kupahami hanyalah Indonesia -- dari aneka bacaan yang kubaca.
Sorangan artinya sendiri atau sendirian. Namun aku tak berani bertanya apa arti karep pada abangku, ia sudah pusing dan dongkol. Jauh-jauh datamg dari Ciamis ke Limbangan Garut hanya demi tugas mulianya, menjadi wali pada hari pernikahanku, pengganti almarhum bapak yang sudah belasan tahun tiada.
Abang hanya pedagang arloji keliling, menawarkan dagangannya secara kreditan pada siapa saja, kebanyakan ia menawarkan ke kantor polisi di beberapa kota karena punya banyak relasi. Anaknya dua, lelaki semua dan masih kecil. Lelaki jelang empat puluh tahun yang merasa gagal sebagai kepala keluarga karena belum bisa memakmurkan hidup anak istrinya, rumah saja masih mengontrak.
Waktu aku hendak menikah dan mengutarakan niatku soal perayaan sederhana seperti abangku dulu, aku tak ingin membebani siapa pun, tidak juga calon suamiku yang hanya bisa memberi sejuta rupiah untuk keperluan pernikahan pada ibuku.
Aku tak pernah berpikir bahwa ibu ingin abang membantu juga dari segi finansial. Aku tak tahu bahwa uang sejuta ternyata tak cukup di mata ibu, ditambah beberapa ratus ribu dari sisa gadai sawah. Aku sedih begitu tahu bahwa abang ikhlas menyumbang 500 ribu yang bagiku tak perlu. Bukankah Sahal dan Rama lebih membutuhkannya?
Apalagi teteh iparku hanya ibu rumah tangga biasa. Apalagi mereka sebenarnya terlilit utang juga. Penghasilan ada tetapi sering macet di luar karena sulit ditagih, dan untuk modal sampai kebutuhan sehari-hari bisa jadi harus berutang entah pada siapa. Ditambah bekas kecelakaan yang menimpa abangku ketika tabrakan, motornya ditabrak pengendara motor mabuk di siang bolong yang membuat jari kelingking kaki kirinya harus diamputasi.
 Begitu banyak beban tergurat di garis wajahnya yang lelah. Ia tidak seperti ibu yang janda pensiunan, tinggal enaknya dapat uang tiap bulan tanpa usaha berkat almarhum bapak yang mengabdi selama 30 tahun sebagai pegawai negeri di Balai Besar Perusahaan Kereta Api, Bandung.
Ibu barangkali jenis orang yang kurang bersyukur, cenderung boros untuk hal mubazir. Anaknya harus pontang-panting cari nafkah demi menghidupi keluarga, mengapa ibu harus membebani demi alasan gengsi agar tampak hebat dan mampu di mata orang lain. Padahal apa yang dilakukannya masuk pepatah Sunda, ginding pakampis: berlebihan tapi kempes.
Untuk keperluan bingkisan pada para tetangga saja, yang aku tak tahu akan begitu banyak berdatangan, Kang Asep pemasok warung kami yang menalangi; mengirim barang kebutuhan dan dibayar belakangan begitu hajat beres.
Ibu pikir banyak tamu yang datang karena ia dikenal banyak orang sekampung sebagai orang baik dan istri Pak Aden. Ibu, ironisnya, jarang mendatangi tetangga yang hajat. Dan orang kampung seolah bersimpati padaku yang memiliki keterbatasan namun berusaha utuh sebagai perempuan dalam hal jodoh. Begitu banyak amplop sampai beras dan padi yang kami terima, ditambah kelapa, bihun, dan lainnya.
Semestinya uang sumbangan dari para tetangga itu bisa mencukupi keperluan kami. Namun ibu membuat kejutan tolol: belanja bahan makanan seolah memasak untuk ratusan orang, padahal yang hadir pada hari H nikahanku hanya beberapa puluh orang pengiring pengantin dari pihak keluarga calon suamiku.
Aku memandang nanar bibiku yang sedang mencuci entah berapa kilo daging sapi di kamar mandi. Lalu bungkusan plastik besar berisi beberapa ekor ikan mas yang banyak. Dan daging ayam. Karung jala berisi aneka sayuran berupa kol, kentang, brokoli, wortel, tomat, kecipir, jagung muda, mentimun, sampai bumbu-bumbu. Lalu buah-buahan buat rujak. Lalu dua kantung besar kerupuk ikan. Dan entah apa lagi. Yang jelas aku dan abang sampai stres melihatnya. Para kerabat sibuk membantu di dapur, barangkali sambil menggunjingkan ibu yang punya sifat riya dan senang dipuji. Ibu ke Bandung untuk urusan jual kalungnya sebagai tambahan hajat. Aku ingin kabur saja dari kesintingan ini, melupakan rencana pernikahanku dengan lelaki yang kucintai.
Aku terlambat mengetahui bahwa untuk urusan bahan masakan itu, ibu dengan bantuan Mang Ano adiknya, berutang 2 juta pada kawan Mang Ano. Dan bahwa ibu akan membuat kekacauan dengan merusak kepercayaan pada Kang Asep dengan telat membayar, lalu utang 2 juta itu pun sulit dibayar ibu dan harus ditebus dengan cara menjual sawahnya kelak karena abangku minta digadaikan ulang. Lalu rentetan utang itu membuat hidup ibu harus tetap gali lubang tutup lubang, sayang lubang yang digalinya terlalu dalam.
Pada hari pernikahanku, aku murung, tidak bahagia betapa hidupku dikendalikan sesuatu yang tak terpahami. Aku membenci kendali ibu akan uang, ia tak bisa mengendalikan diri dan malah dikendalikan materi.
Aku gagal menginginkan ketenangan finansial. Aku menyesal ibu yang menangani hajatan ini. Seandainya saja aku yang pegang kendali barangkali semua kekacauan ini tak akan terjadi. Aku tak perlu jadi kambing hitam dengan alasan apa yang dilakukan ibu adalah bentuk sayang anak. Abang bilang jika benar ia menyayangi kita, segala ketololan itu tak perlu terjadi. Rusaknya nama baik di mata orang dan berhadiah tambahan utang yang menggunung tak terbayar.
Aku tak ingin seperti Bi Empuy, 3 rumah di belakang rumah kami. Ia kehilangan rumah dan kebunnya karena utang. Pinjamlah uang pada rentenir dan harus bayar 2 kali lipat.
Bi Empuy berutang untuk modal warungnya. Sayang utang yang dibuat ada banyak pada beberapa pihak. Terlalu mengerikan jika tiap minggu harus bayar ratusan ribu padahal penghasilan tak menentu, suaminya buruh tani sekaligus dagang es krim keliling di Bandung.
Ia menggali lubang dan lubang itu menelan rumah dan hartanya. Keluarga mereka terpaksa kabur ke Kubang, sebuah kampung terpencil melewati Desa Pangeureunan setelah desa kami. Kampung yang berbatasan dengan hutan, tempat bekas pertempuran TNI dan gerombolan apa gitu. Yang jelas di sana menjadi kuburan bagi mayat gerombolan. Ongkos ojek ke sana dari kecamatan kami 20 ribu rupiah, ke kampungku hanya 4 ribu rupiah.
Bi Empuy tak cuma kabur, masih menyisakan jejak utang pada koperasi kelompok dan harus ditanggung kelompoknya untuk dibayar. Ia dan keluarganya menjadi gunjingan sekaligus kemarahan. Betapa utang bisa merusak banyak hal, dan semua bermula dari nafsu dan kesombongan.
Dan pada akhirnya, dari suamiku aku baru tahu apa arti karep sorangan, mau menangnya sendiri! Aku sedih mengingat usia ibu yang begitu senja mestinya ia mendapat kesenangan dan ketenangan. Ia tak pernah dapatkan itu karena satu hal yang dianggap sebagai kehormatan baginya adalah kekayaan dan kesuksesan dalam materi, karena itu ia terus memburu materi dengan cara berdagang tak peduli selalu merugi dari sejak anak-anaknya kecil pula. Karena cara berniaganya tak masuk akal.
Ia bukan jenis orang yang menghargai proses, baginya hasil adalah hal paling pasti untuk diagungkan. Betapa ia bisa merendahkan diri jika berhadapan dengan si kaya, lupa bahwa segala pemberian semata dari-Nya, bahkan napas ini pun titipan.
Ia tak segan mengumumkan apa-apa yang telah dilakukan, jasa atau pemberian untuk siapa saja. Meratapi masa jayanya waktu masih kaya karena bapak dan sering dirubung kerabat sampai tetangga yang membutuhkan bantuannya, saat miskin mereka seolah tak peduli dan menghinakan. Bahkan dua anaknya yang payah secara materi pun jadi sumber keluhan pada orang-orang. Terasa begitu pamrih dan riya jika harus mengumumkan kebaikan diri sendiri seperti itu.
 Aku hanya ingin bisa terbebas dari utang dan riba. Di belakang rumahku, rumah mama Sus kosong dan hendak dijual, konon ia sendiri kerja di kota sebagai pembantu karena utang-utang yang dibuat pada berbagai pihak tanpa sepengetahuan suaminya, seorang pekerja bengkel di kota.
Di sekelilingku kehidupan petani bukanlah hal menjanjikan secara materi sekarang ini. Kau akan membutuhkan modal besar untuk mengolah tanah kebun atau sawahmu, sedang harga pupuk dan hal-hal lainnya kian tak masuk akal.
Suamiku hanya petani. Memburuh pada siapa saja yang membutuhkan tenaganya. Bertahan dalam pekerjaan yang jarang dan penghasilan kecil demi bayi kami yang baru 8 bulan, bayi lucu yang cerdas dan tampan seperti ayahnya.
Barangkali aku pemimpi, seperti kata suamiku, ingin mengentaskan hidup kami dari kemiskinan karena utang yang menjerat keluarga. Namun siapa tahu dengan itu rasa frustrasiku selaku anak akan berkurang, setidaknya ayahku tak merana di alam kubur karena namanya masih dibawa-bawa dalam surat pensiun yang diagunkan ke bank -- yang dilakukan ibu dari sejak beberapa bulan setelah kematian bapak.***
Cipeujeuh,  15 Juli 2010