HOME/RUMAH

Senin, 11 Juni 2018

Ini yang Saya Lakukan jika Bete



BETE adalah bahasa gaul yang tetap hits dari zaman saya masih SMU (1994-1997), merupakan adaptasi singkatan dari kalimat bad temper alias temperamen buruk a.k.a perangai tidak baik.
Bad temper merujuk pada kata sifat berupa suasana hati yang tak nyaman dengan keadaan (diri sendiri atau sekitar). Ia uring-uringan, marah-marah, mencak-mencak, atau apalah pokoknya yang menggambarkan perangainya sedang dalam mode susah.
Jika perangai sedang on bête-nya, bisa jadi orang sekitar di dekat insan demikian kena getahnya. Bukan getah nangka yang lengket melainkan getah tumpahan amarah atau gundah (kecuali insan bête habis makan nangka dan kumat uring-uringannya karena tangan belepotan getah, lantas cari sembarang sasaran untuk dijadikan lap tangan).
Lalu apa yang harus kita lakukan kala mendadak harus berurusan atau berdekatan dengan insan bête?
Ada banyak cara, sih, dan lihat-lihat dulu bagaimana level bête-nya. Bete level ringan paling kita akan dicurhatin agar jadi tong sampah keluh-kesah. Bete demikian butuh pendengar agar sang pelakon lega karena bisa menumpahkan ganjalan hatinya yang nyesek. Mungkin insan bête tahap ringan bisa dibantu dengan kata-kata hiburan dan pembangkit semangat agar tak down mulu. Sebab, jika dibiarkan, bisa jadi insan bête tersebut depresi dan pengen ngunyah meja rasa cokelat. Eh, kebalik, ngunyah cokelat semeja.
Bete tahap sedang akan membuat pelakon jutek pada sekitar. Insan bertampang jutek pada dasarnya tak nyaman dilihat. Perasaan gimana, gitu, seakan kita lagi dimusuhi padahal bisa jadi doi lagi memusuhi seseorang yang bukan kita atau tak ada sangkut pautnya dengan kita namun tampak hiperbola seperti sedang musuhan dengan dunia.
Menghadapi insan bête demikian, mungkin yang dibutuhkan adalah kesendirian agar bisa cooling down. Tak bisa kita ajukan pertanyaan bernada menuduh bahwa dia bermasalah dengan kita. Duh, bisa pecah perang lokal atau kitanya ketimpuk benda terdekat.
Mungkin yang harus kita lakukan adalah menghiburnya, ajak jalan atau makan, atau cukup dengarin musik riang. Jangan ajak doi dengarin musik mellow, tingkat bête-nya bisa naik drastis.
Bagaimana kalau doi jutek karena PMS alias pra mens syndrome? Hem, cari-cari tips di Mbah Google, rumusan masalah demikian butuh pemecahan khusus demi terciptanya perdamaian; bahwa insan PMS pun seperti Sudoku, kita tinggal utak-atik angka agar beroleh hasil yang tepat dan bertautan sekaligus prima.
Bete tingkat parah adalah ledakan amarah tak terkendali. Kita bisa menyebutnya sebagai bête tingkat dewa. Apa kaitannya dengan dewa? Yah, tahulah kayak gimana dewa itu dalam dongeng mitologi sedunia.
Ada sebab mengapa seseorang alami tingkatan bête ini, bête yang jika menduduki piramid berada di posisi puncaknya alias di ujung kerucut. Bete ini akan membuat orang lain di sekitarnya tidak nyaman juga dan kecut atau malah ciut.
Kita takut berurusan dengan insan yang alami bête tingkat parah karena reaksi yang diperoleh adalah ketakterdugaan, tak bisa diramal oleh acara ramalan cuaca di televisi apalagi kartu tarot dan rajah tangan.
Kita bisa bingung ngadepin insan bête tingkat dewa karena semburan kepedasannya melebihi level kripik Maicih. Menghadapi insan bête demikian ibarat membutuhkan ketersediaan payung sebelum hujan. Kita akan dihujani air mata, keluhan, amarah, atau bahkan bogem mentah. Entahlah.
Jangan coba-coba upaya PDKT atau jurus rayuan pulau kelapa, tensi bête yang tinggi membutuhkan pemahaman ilmu psikologi. Terserah mau dekat-dekat atau jauh-jauh.
Kita bisa bantu secara langsung maupun tidak langsung agar bisa calm down, tensi bête-nya hanya butuh waktu untuk turun suhu. Biarkan dulu dia sampai bisa atasi masalahnya sendiri. Atau diam-diam cari tahu mengapa bisa demikian lantas terserah apakah akan turun tangan atau angkat tangan.
Apakah bête sama dengan bad mood, mood atau suasana hati yang buruk?
Kalau bête diartikan sebagai bad mood kayaknya tidak sinkron dengan akronim bête sendiri. Lalu yang pas apa? Bemo?
Itu bisa disalahartikan sebagai kendaraan buatan India pada zaman saya masih kecil di Bandung. Iya, mobil lucu untuk angkut banyak penumpang dengan satu roda depan tepat di tengah-tengahnya, dan dua roda di belakang sebagai penyeimbang agar bisa menggelinding di jalan. Dan suaranya jangan tanya, entah napa bunyi knalpotnya harus berisik dan asap buangannya mengepul tebal ibarat lokomotif uap.
Bemo secara kaidah akronim pembentukan kata mungkin tepat dan berterima dalam ilmu bahasa, namun dalam ilmu sosial kemasyarakatan jelas dirasa tak mewakili. Maka bête kerap juga diartikan sebagai bad mood. Seakan tiada batasan arti antara temper (watak) dengan mood (suasana hati). Seakan kedua hal tersebut SAMA SAJA.
Apakah memang demikian alias sama saja? Entahlah.
Saya tidak akan bahas masalah stilistika (ilmu tentang penggunaan bahasa dan gaya bahasa di dalam karya sastra) dalam tulisan ini. Setelah paparan dengan aroma sahibul hikayat di atas, yang akan saya bahas adalah ketika saya bête dan cara mengatasinya.
Meski belum bisa dianggap sebagai jalan keluar final untuk mengatasi masalah bête, namun bête biasanya berkaitan dengan hal-hal yang membuat saya tidak nyaman, sesuatu dari luar diri saya.
Ambil contoh kasus. Ketika upah suami dari bulan puasa lalu tidak dibayar Pak X yang menyuruh suami jadi laden pembangunan rumah anaknya di samping rumah Pak X sendiri. Saya jelas kesal sekali. Pada Pak X karena semena-mena tidak membayar upah sampai berbulan-bulan hingga sekarang saat menulis ini. Entah uang dari anaknya dipakai Pak X atau anaknya ogah bayar. Wallahu a’lam. Yang jelas saya kesal pada suami karena tidak mau menagihnya lebih gencar lagi. Uang 200 ribu itu besar bagi kami. Itu hasil dari cucuran keringat suami sendiri.
Suami keukeuh ogah nagih lagi karena muak berurusan dengan insan demikian yang plin-plan dan tak amanah. Ditagih baik-baik malah diperlakukan tak santun. Padahal saat itu kami kesulitan uang juga sampai untuk dapur harus nganjuk ke warung dekat rumah.
Suami berupaya giat bekerja, kali ini telah menemukan bos yang baik sebagai asisten tukang alias laden pada paman saya. Dan, alhamdulillah, rezeki kami lancar saja berkat prinsip suami mengenai harga dirinya untuk tak mengemis pada tipikal Tuan Tukang Suruh macam Pak X.
Itu bukan hal yang mudah bagi saya untuk mengatasi bête yang melanda. Saya melarikan diri pada permainan Solitaire. Itu permainan menyusun kartu melawan komputer. Meski lebih banyak kalahnya dan membuat saya lelah, setidaknya saya butuh waktu yang cukup lama sampai rasa bête itu bisa diatasi.
Mungkin saya butuh mesin untuk menumpahkan amarah atau kejengkelan. Dan komputer adalah lawan main yang seimbang. Selama berbulan-bulan.
#Cipeujeuh, 22 April 2018

1 komentar:

  1. Setuju Bun dengan saran-saran untuk solusi kalau kita lagi bete. Kalau saya bete, biasanya menghibur diri dengan makan bakso atau nonton drama korea hahaha. Karena saya seorang ibu, jadi kalau bete jangan lama-lama. soalnya secara tidak langsung anak suka kena getahnya dari kebetean ibunya Hihihi

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D