Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Minggu, 03 Juni 2018

Kepada Suami




Sungguh aku mencemaskanmu, suamiku.

Malam gelap, lembap dan dingin.
Lalu bagaimana dengan paru-parumu
yang disayat-sayat angin?

Tidakkah kau gigil?

Kamis, 11 Januari 2018

Bakmi Jogja 2005



Hujan membingkai atmosfer tradisional restoran.
Hanya beberapa kepala selain kita di lengang malam.
Di luar, derum kendaraan terkadang mengalun.
Hawa dingin mengembun, belum pukul delapan,
di Jalan Bengawan. Apakah ini kencan terselubung,
meski kita menanti mereka demi silaturahmi
atau sekadar upaya belajar memahami serakan tanda.

Dari gerai masak harum mie jawa menguar,
tubuhku lapar kehangatan, wajahmu bersinar
seperti teh poci yang kau tuang ke dalam cawan.
Aku mengeja partitur lagu malam dengan senyum gemetar,
kau begitu dekat sekaligus samar dari jangkauan.

Di seberang meja, sosokmukah yang duduk dengan tenang,
menghirup teh manis dan mengunyah kacang.
Mengisap A-Mild, diinterupsi telefon genggam.
Betapa ajaib perasaan yang bersemayam.
Kau masih saja terlalu indah untuk dikenang,
atau kau memang membiarkannya sebagai kelindan.

Hujan satu April tak henti mengguyur Bandung
selepas Zuhur sampai malam, dan kau membagi kehangatan
di antara kelebat percakapan, denting lima piring,
pukul delapan. Aku lebih suka diam, menelusuri
gurat senyummu dan kerut di matamu yang menyipit
dibingkai frame kacamata persegi klasik.
Rambut ikalmu tak setebal dulu; betapa kita menuju
masa yang tak bisa diingkari. Namun waktu,
ingin rasanya bergerak lamban, kali ini,
agar bisa kuresapi lebih dalam makna perkenalan.
Barangkali jamuan ini semacam perayaan diam-diam
untuk lima tahun pertemuan, pada Februari silam
yang digenapkan.

Dari dalam restoran, di antara kelembutan redup lelampuan,
terkadang kupikir semua tak lebih dari mimpi yang mustahil.
Namun kau adalah lingkaran keajaiban,
bagi hidupku yang diam-diam siap mengabur dari ingatan
yang kau kenal. Kelak nyawaku akan mengapung di udara malam,
seperti malam-malam yang kau lewatkan dengan pengertian,
 bahwa hidup adalah pemahaman bagi ketidakpastian.

#Cipeujeuh, 10 April 2006

Senin, 08 Januari 2018

Pukul Dua Dini Hari




Demikianlah pukul dua dini hari ini, Kau kirim
aku gigil demi gigil, pada dua rakat kali tiga tahajudku
Wahai Maha Penggenggam kehidupan, wahai Cintaku
yang sering kutampik, adakah gigil demi gigil itu
hawa yang juga Rabiah rasa.

Aku sibuk dengan dunia, padahal dunia kerap menampik
Cintaku, mengapa Engkau begitu sabar seolah kesabaranku
hanyalah noktah kecil dari rahmanMu, dan aku tetap
bukan apa-apa di antara sekian kebesaran
yang Engkau hamparkan.

Sudah lama aku jarang menangis, namun mengapa
pukul dua lebih dini hari ini aku begitu mudahnya
memintal air mata, adakah sesal itu bermuara
dari jiwa yang kehilangan cahaya. Cintaku, dosa
apa lagi yang telah kuperbuat. Kini aku mengerti
mengapa Rabiah senantiasa bermunajat
sepenuh jiwa, sepenuh jiwa, sepenuh jiwa
Sebab Engkaulah Pemilik jiwa semesta
Namun mengapa aku, sebagaimana manusia lainnya,
terkadang melupa atau sengaja melupa.

Maka dunia barangkali Kau hamparkan
agar kami paham bagaimana jalan berpulang
yang kekal pada kemenangan atau kekalahan
Meski Enright menyangsikan dalam Dan dan Dan Lagi
karena ia tidak paham hakikat bermain dalam jalan lain.

Maka, Cintaku, izinkan aku tetap punya kekuatan
untuk ikut bermain sesuai peran yang Engkau kehendaki
sebagai pencintaMu.
Bandung, 26 Mei 2003

Minggu, 07 Januari 2018

Surga




“Aku mencari surga,
barangkali engkau tahu di mana?”
Cegatku pada pejalan.

“Tak tahu. Cari sendiri.
Kalau menemu, jangan lupa hubungi.”
Lengosnya bergegas pergi.

“Bagaimana engkau bisa kuhubungi?”
Cegatku lagi mencecari.
“Kalau tak tahu di mana adamu,
aku tak bisa mengajakmu menjumpa surga.”

“Persetan dengan surgamu!” erangnya.
“Pergilah ke neraka, itu jalan termudah.
Kau tak perlu pedoman:
Quran, Hadis, kamus, ensiklopedia, dan aneka wacana;
kalkulator, neraca, kompas, dan peta.
Otak dan hatimu cukup kau jejali
dengan paradigma berkarat.
Hunjamkan saja pada sel-sel nalarmu;
biar busuk, biar bebal.
Menginfeksi dan bernanah!”

Bandung, 14 Juli 1999

Jumat, 05 Januari 2018

Di Tanah Harapan



/Muhammad Zainal Fanani


Hanya angin dan aroma kemboja menguar
demikianlah kesepian demi kesepian itu menikam.
Di seberang, Gunung Batara Guru menjulang
diapit Gunung Nangkod yang seolah enggan melepas dekapan;
apakah kesepian itu memang demikian?
                                        
Hanya langit berawan dan bentang pegunungan
tempat burung-burung liar berhamburan.
Kesepian itu tetap tak terpahamkan.
Apa yang kuharap sebagai hiburan?
Seorang kawan, lelaki yang menjelma qowwam.
Namun kau seolah enggan diharapkan.
Maka bagaimana aku mengucap selamat tinggal
pada segala pantulan warna silam
jika kau bersikeras menolak perpisahan.

Hanya sawah dan lembah luas menghampar.
Di latar depan Gunung Batara Guru bagian kanan
Kampung Sempil terpencil dalam diam,
berbatasan dengan Kampung Babakan yang dipisah ladang.
Nun di Barat Daya, Kampung Poronggol sayup menyembul.
Apa yang mencuat dari kesunyian punggung gunung.
Kita hanya jauh sebab rindu kehilangan sauh.

Hanya sungai dan ricik air mengalir
dari hulu ke hilir dengan perjalanan panjangnya.
Apakah kisah kita akan berakhir demikian,
menuju muara asali entah sampai kapan.
                            
Cipeujeuh, 6 November 2005