HOME/RUMAH

Kamis, 11 Januari 2018

Bakmi Jogja 2005



Hujan membingkai atmosfer tradisional restoran.
Hanya beberapa kepala selain kita di lengang malam.
Di luar, derum kendaraan terkadang mengalun.
Hawa dingin mengembun, belum pukul delapan,
di Jalan Bengawan. Apakah ini kencan terselubung,
meski kita menanti mereka demi silaturahmi
atau sekadar upaya belajar memahami serakan tanda.

Dari gerai masak harum mie jawa menguar,
tubuhku lapar kehangatan, wajahmu bersinar
seperti teh poci yang kau tuang ke dalam cawan.
Aku mengeja partitur lagu malam dengan senyum gemetar,
kau begitu dekat sekaligus samar dari jangkauan.

Di seberang meja, sosokmukah yang duduk dengan tenang,
menghirup teh manis dan mengunyah kacang.
Mengisap A-Mild, diinterupsi telefon genggam.
Betapa ajaib perasaan yang bersemayam.
Kau masih saja terlalu indah untuk dikenang,
atau kau memang membiarkannya sebagai kelindan.

Hujan satu April tak henti mengguyur Bandung
selepas Zuhur sampai malam, dan kau membagi kehangatan
di antara kelebat percakapan, denting lima piring,
pukul delapan. Aku lebih suka diam, menelusuri
gurat senyummu dan kerut di matamu yang menyipit
dibingkai frame kacamata persegi klasik.
Rambut ikalmu tak setebal dulu; betapa kita menuju
masa yang tak bisa diingkari. Namun waktu,
ingin rasanya bergerak lamban, kali ini,
agar bisa kuresapi lebih dalam makna perkenalan.
Barangkali jamuan ini semacam perayaan diam-diam
untuk lima tahun pertemuan, pada Februari silam
yang digenapkan.

Dari dalam restoran, di antara kelembutan redup lelampuan,
terkadang kupikir semua tak lebih dari mimpi yang mustahil.
Namun kau adalah lingkaran keajaiban,
bagi hidupku yang diam-diam siap mengabur dari ingatan
yang kau kenal. Kelak nyawaku akan mengapung di udara malam,
seperti malam-malam yang kau lewatkan dengan pengertian,
 bahwa hidup adalah pemahaman bagi ketidakpastian.

#Cipeujeuh, 10 April 2006

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D