HOME/RUMAH

Jumat, 05 Januari 2018

[Because This is My First Life--Episode 1-3





Di dalam restoran yang penuh sesak dengan pengunjung, aku melangkah melewati setiap barisan meja dengan bingung, sampai akhirnya tiba di ambang ruang terpisah yang penghuninya pada lesehan sambil menghadap meja rendah panjang.
“Penulis Ji Ho!” Seseorang berteriak sambil melambaikan tangan.
Aku menoleh ke arah sumber suara dan merasa lega. Seorang lelaki tampan yang masih muda tersenyum riang. Ia asisten sutradara. Aku balas melambai.
“Cepat sini.” Undangnya. Aku mengangguk dan langsung menghampiri mejanya yang juga ditempati Bu Penulis dan Pak Sutradara.
“Sini,” sapa Pak Sutradara yang tengah duduk lesehan.
Bu Penulis melambai, “Kenapa kau baru datang?”
“Duduklah,” Pak Sutradara menyambutku.
Aku segera duduk di samping Asisten Sutradara. Di seberang meja Bu Penulis dan Pak Sutradara duduk berdampingan.
“Bajumu bagus sekali,” pujian Pak Sutradara membuatku malu. Namun aku tahu beliau orang ramah yang suka basa-basi.
“Pikirmu kau sudah lama bekerja sampai bisa datang setelat ini?” kata Asisten Sutradara, seorang lelaki muda yang tampan dan usianya pertengahan 30-an. Lanjutnya, “Apa boleh asisten penulis terlambat menghadiri pesta perpisahan drama?”
“Dia kumat lagi,” Pak Sutradara menuding asistennya. “Kau selalu menghentikan semua orang bilang begitu buat Ji Ho.”
“Serius?” Asisten Sutradara tampak canggung. Begitu pun aku.
“Kau pasti rindu aku, ya?” kusenggol bahunya dengan lenganku.
“Kapan aku begitu.” Elaknya, “Itu karena aku merasa cepat kepanasan. Makanya aku begitu.”
“Hei, aku benci bertemu kalian sekarang,” komentar Bu Penulis, “Kalian bisa saling berkencan atau tidur. Aku tidak peduli.”  Pungkasnya, “Lakukan saja, terserah kalian.”
Aku dan Asisten Sutradara tertawa malu.
“Kalian itu sudah main mata selama tiga tahun.” Repet Bu Penulis geregetan. “Siapa coba zaman sekarang, yang masih sok jual mahal?”
Pertanyaan berbahaya itu cuma bisa kutanggapi dengan “Bukan begitu.”
“Menurutmu siapa lagi?” sambar Asisten Sutradara. “Bukan aku,” katanya sambil menatapku. Aku agak kaget dengan pernyataannya.
“Kau ini kenapa?” Pak Sutradara mengangkat alis pada asistennya, menggoda. “Apa artinya Penulis Yoon tidak tertarik padanya?” 
Kami hanya bisa tertawa menanggapi gurauannya.
Rupanya Pak Sutradara belum puas menggoda, katanya padaku, “Kenapa? Kau tidak suka Yong Suk?”
“Apa maksudmu, Pak Sutradara?” Aku mendesah. “Dia bukan pria bagiku.” Kurangkul bahu Asisten Sutradara, akrab. “Kami ini brother.” Lenganku mengunci lehernya. Menikmati reaksi spontan dari orang-orang di mejaku. “Aku sudah merawat bayi polos ini selama tiga tahun.” Kugaruk dagunya sambil tertawa, lenganku ditepis Asisten Sutradara.
“Kurasa dia serius. Dia sungguh tidak tertarik padamu.” Simpul Pak Sutradara pada asistennya.
“Aku jadi sakit hati.” Asisten Sutradara memandangku, “Aku selalu bisa membuatmu jatuh cinta padaku.”
“Oh, ya?” Kututupi salting­-ku dengan pernyataan, “Maka sebaiknya kau tidak boleh tumbang sebelum aku hari ini.” Kugaruk lagi dagunya seperti menggaruk kucing.
“Serius?” Pak Sutradara tertawa.
“Ya, lakukan saja.” Dengan tangannya ke arah gelas minuman di depan, Bu Penulis mempersilakan Asisten Sutradara untuk minum duluan. “Ayo minum.”
Aku sudah meneguk bir duluan.
“Bersulang,” Asisten Sutradara ikut minum.
“Terima kasih atas kerja kerasnya,” Pak Sutradara memulai ucapan pembuka setelah bersulang.

Malam ini di kantor start up, semua karyawan pada lembur, sibuk menyelesaikan tugas terakhir bagi pengembangan situs mereka. Diburu tenggat deadline yang kian mendekat.
Flash-nya bagaimana?” CEO Ma bertanya pada yang bertugas mengurus bagian flash.
“Sudah berhasil.”
“Baik. Bagaimana dengan masalah penutupan saat log in?”
“Aku sudah memperbaiki masalahnya,” seorang lelaki berkacamata gaya menyahut mantap.
“Apa ada masalah saat mengunggah profil dan video?” CEO Ma berkeliling ruangan.
“Ya, sudah teratasi.” Yang menyahut adalah lelaki dengan jaket training biru, seperti tidak pernah ganti baju..
Good job.”
Lantas sembilan awak kantor serempak berkumpul di depan meja kerja Nam Se Hee, sang pengeksekusi tugas akhir. Menunggu dengan berdebar.
“Pembaruan Gyeol Mal Ae, ver 2.0.” Se Hee tampak percaya diri. Menekan enter.
Layar komputer memampangkan pesan: Tengah memperbaharui. Mohon tunggu. Lantas muncul tanda centang. Pembaharuan berhasil!
“Sudah selesai.” Se Hee mengangguk lega.
“Kita berhasil!” sorak yang lain senang.
Maka di sinilah sekarang. Mereka makan malam untuk merayakan keberhasilan atas pekerjaan sulit yang telah dilakukan. Di restoran yang sama tempatku makan.
CEO Ma berdiri di kepala meja. Berkhotbah dengan suka cita. “Selama tiga tahun terakhir, kalian bekerja siang dan malam… untuk pembaruan Gyeol Mal Ae. Untuk menyampaikan rasa terima kasih… aku takkan ragu menggaji kalian dengan bonus akhir tahun!” Ia mengepalkan tinjunya. Dibalas kepalan tinju lain.
CEO Ma masih berdiri di tempatnya, kali ini berkacak pinggang, masih betah bicara. “Awalnya, Gyeol Mal Ae hanya bisa menghasilkan 50 ribu per bulan. Rasa terima kasihku tak terkira bagi kalian… yang telah membuat perusahaan ini berkembang 200% setiap tahunnya.” Ia menyilangkan lengan ke matanya, mulai hampir menangis disergap rasa haru karena kerja keras dan upaya mereka akhirnya berbuah hasil. Beberapa awaknya ikut menundukkan kepala, masing-masing terbawa suasana haru sekaligus bahagia karena tempat mencari nafkah akhirnya berkembang juga.
“Aku bahkan tidak bisa…,” ia kehilangan kata untuk melanjutkan. Kembali berkacak pinggang, “Aku tahu ini agak memalukan, tapi ayo kita nyanyikan slogan kita.” Ia mulai aba-aba dengan mengepalkan tangannya ke atas, yang diikuti para awaknya. “Kita.”
“Bukan keluarga!” ucap yang lainnya kompak.
“Bukan keluarga!” CEO Ma menegaskan. “Kita harus digaji!”
“Harus digaji!”
“Bersulang!” CEO Ma mengangkat gelasnya, diikuti yang lain. Segera saja gelas bir ukuran besar beradu nyaring. “Minum!” Aba-aba CEO Ma.
“Panas sekali. Kenapa seperti ini?” Komentar seseorang.
Mendengar itu Se Hee seakan teringat sesuatu. Katanya pada Bo Mi yang duduk di sebelah, “Kurasa kau sudah bisa ganti baju sekarang.”
“Sudah.”
So Hee tampak bingung, jadi Bo Mi terpaksa menjelaskan dengan canggung. “Baju yang kemarin warnanya lebih gelap dari kemarin.” Ia menunjuk dengan dagunya ke bawah, “Yang sekarang warnanya lebih cerah.”
Se Hee mendesah malu. “Begitu, ya.”
Dan rasa malunya seakan mendapat penyelamat dengan kedatangan dua rekan mereka yang berlari ke meja, “Tebak siapa yang baru kami lihat? Yoon Se Hee!” ucap salah seorang dengan gembira, yang satunya sibuk mengatur napas.
“Serius?” rekan yang lain menanggapi.
Se Hee lagi-lagi bingung, “Yoon See He? Siapa itu?”
Pertanyaan bodoh! Satu per satu rekannya pada menoleh ke arah Se Hee. CEO Ma malah terpana.
“Apa?” Se Hee benar-benar tak ngeh dengan nama itu, yang nama depannya senama. “Apa dia salah satu investor kita?”
Beberapa orang tertawa mendengarnya. Tak merasa perlu menjawab. Melanjutkan acara makan dan minumnya.  Membiarkan Se Hee bingung sendiri.

Sementara itu, orang yang mereka bicarakan tengah berbincang dengan Asisten Sutradara. Dua orang kekasih yang lewat di koridor tempat mereka berdiri ikut memerhatikan. Sepintas. Saling berbisik begitu melihat artis drama yang terkenal berada di sana.
“Benar.” Ujar Yoon Se Hee pada lawan bicaranya. Tepat saat itu aku melintasi koridor, barusan keluar dari toilet.
“Penulis Yoon.” Panggilan Asisten Sutradara membuatku berpaling.
Aku mendekati mereka, dan kubungkukkan punggungku sebagai tanda hormat pada artis yang membintangi dramaku. “Halo,” sapaku.
“Halo,” balasnya, turut membungkuk.
 “Penulis. Terima kasih atas kerja kerasmu.” Yoon Se Hee lebih cantik daripada di layar televisi. Ia yang mengiklankan produk sponsor dengan mengoleskan lipstik mahal. Dan adegan produk sponsor itulah yang aku tulis.
“Bukan apa-apa. Kaulah yang menyukseskan dramanya.” Aku merendah.
“Tidak juga.” Yoon Se Hee, turut merendah. “Kalau begitu, aku permisi dulu.” Pamitnya. Lantas ia berlalu. Meninggalkanku dengan Asisten Sutradara.
Kali ini aku menggantikan posisi berdirinya di depan Asisten Sutradara. Agak canggung.
“Oh,” Asisten Sutradara seakan teringat sesuatu. Memberikan saputangannya padaku. Aku mengelap tanganku yang basah dengan itu.
Heol, tadi lancar juga.” Kukembalikan saputangan itu pada pemiliknya. Asisten Sutradara cuma mengangguk.
“Maaf, Penulis Ji Ho. Kau harus bekerja lebih keras untuk menutupi kesalahanku.”
“Kau kenapa?” canggungku. “Selama tiga tahun terakhir, kau biasanya tak seperti ini.”
“Iya, ya.” Lengannya dimasukkan ke saku. Tampak canggung juga. “Kita sudah saling kenal selama tiga tahun.”
Aku terpana, dan cuma bisa mengangguk saja.
“Maaf…, ada yang ingin kukatakan kepadamu.” Dia tampak ragu sambil jarinya memegang dagu. Aku menunggu lanjutannya dengan perasaan tak karuan.
Namun sebuah suara menghentikan kami. “Maaf.” Seorang lelaki jangkung dengan penampilan pekerja kantoran yang rapi berdiri di dekat kami. Kami serempak menoleh.
“Aku mau lewat.” Sapanya sopan.
Kami spontan mundur ke belakang, memberi jalan. Rupanya kami menghalangi jalan di koridor gedung. “Ya,” kataku dan Asisten Sutradara hampir bersamaan.
Ketika lelaki itu berlalu. Aku dan Asisten Sutradara tambah canggung dan malu. Aku jadi gugup. “Aku mau keliing dulu,” pamitku.
“Oh.” Hanya itu katanya. Lalu ia menambahkan ketika aku sudah berlalu, “Nanti ke sini lagi, ya.”
Aku cuma berbalik dan tak menjawab.
Aku keluar gedung, di bagian belakang restoran. Suasana lengang. Hanya ada seorang lelaki duduk di bangku, menyimak ponsel pintarnya. Lelaki yang tadi lewat!
Dan aku tidak menyadarinya. Tertawa sendiri. Merasa sangat GR. Sampai mataku tertumbuk pada layar ponsel pintar yang tengah menayangkan pertandingan sepakbola. Mataku membulat. Aku menghampiri pemilik ponsel untuk intip-tonton. Dan mengeluh kecewa. “Sanchez!” Lalu kusadari pemilik ponsel itu memandangku dengan heran.
“Maaf.” Kataku rikuh, merasa telah lancang ikut nebeng tonton pertandingan di ponselnya. “Aku sangat ingin menonton pertandingan bola itu.”
Lelaki itu cuma diam. Dan mataku tertumbuk lagi pada layar ponselnya. “Ouh!” Sanchez tengah menggiring bola ke gawang lawan. Aku dan lelaki itu fokus menyaksikan. Aku berseru, shoot begitu bola tengah digiring. Dan gol! Gawang lawan sukses dijebol!
Aku dan lelaki itu bersorak gembira.
Daebak!” Kebiasaan burukku kumat, terbiasa menggebuk bahu adik membuatku spontan malah menggebuk bahu lelaki asing itu dengan kuat.. Dan begitu sadar, aku jadi malu sekali.
Lelaki itu tengah memandangku dengan tatapan super-aneh. Seperti syok dengan aksiku barusan.
Kulepaskan tangan kananku yang masih berada di bahu lelaki itu dan minta maaf. “Kau tak apa? Maaf.”
Lelaki itu mencabut kabel earphone dari telinganya. Ia menoleh begitu aku melanjutkan, “Itu karena… aku….” Aku gugup, “”Maksudku, waktu pertandingan sebelumnya…, saat Sanchez mencetak gol, wasitnya bilang itu offside,” nada suaraku malah kesal. “Tapi ternyata tidak. Aku sudah menonton pertandingan itu lebih dari tiga kali.” Dan aku malah bersemangat, bicara soal bola selalu membuatku bersemangat, tak peduli pada orang asing. Apalagi lelaki itu tak menyela. “Jika itu tidak offside, Arsenal pasti menang.” Lalu aku malah berlaku seperti penganalisis, “Bukannya strategi Wenger jelek-jelek amat, tapi…,” sembari bicara itu mataku terpaku pada pandangan terpana dari lelaki asing itu. Aku jadi sadar. “Maaf.” Kubungkukkan punggungku, kembali masuk ke dalam.
Dan beberapa langkah kemudian, lelaki itu malah bilang, “Arsenal….”
Aku berbalik. Lanjut lelaki itu, “Apa kau penggemarnya?”

Di lorong gedung restoran, Bo Mi melangkah tergesa. Ia hendak ke toilet perempuan. Dan dari ujung pintu masuk toilet lelaki, CEO Ma nongol. “Yoon Bo Mi, Nam Se Hee mana?” panggilnya sambil melihat sekitar.
Bo Mi hanya berpaling sekilas lalu gegas masuk toilet perempuan.
Begitu disadarinya Bo Mi sudah tak ada lagi, CEO Ma kesal. “Hei, CEO-mu lagi bicara sama kau.” Ia hendak menyusul Bo Mi. Namun di ambang pintu toilet hampir bertabrakan dengan seorang perempuan berkacamata. Dengan mantel hijau. Dan taksiran usia 40-an. Perempuan itu memekik kaget.
CEO Ma malu dan berlalu. Kali ini marah. Meski tak tahu pada siapa harus marah.
Dari arah kepergian CEO Ma, Sutradara Park lewat dan dicegat perempuan yang rupanya Bu Penulis. “Sutradara Park, kau lihat Penulis Yoon?”
“Tidak,” ucap Sutradara Park seperti orang teler. Jalannya limbung. Masuk toilet lelaki.
Bu Penulis mengibas-ngibaskan tangannya, Sutradara Park yang mabuk berbau alkohol menyengat. Ia berlalu untuk masuk ke ruang semula di restoran sambil menggerutu, “Dia ke mana?”




Pada saat yang bersamaan, dua orang yang tengah dicari CEO Ma dan Bu Penulis asyik mojok di pintu belakang restoran. Mengobrol soal sepakbola. Rupanya punya minat serupa dan penggemar Arsenal juga.
“Jika kau ingat lagi, Arsenal menempati posisi ke-4 selama 7 kali setelah debutnya di Premier League.” Lelaki asing itu ternyata kawan diskusi yang asyik dan tahu banyak soal sepakbola. “Sama dengan Liverpool.”
Aku yang berjongkok di sampingnya dan semula cuma menyimak, jadi ingin tahu, “Apa kau menghitungnya?”
“Aku mengumpulkan statistik arsip mereka sendiri.”
Jawaban itu membuatku hilang kata.
“Di mana kau? Aku di luar?” Suara Asisten Sutradara mengejutkanku, dan aku menoleh ke arah sumber suara yang sedang menelefon.
Aku berdiri untuk melihat lebih jelas. Ia berdiri tak jauh dari tempat kami, di area parkir.
“Aku di tempat parkir,” lanjutnya.
Melihat itu aku tersenyum.
“Pergilah. Dia pasti pacarmu.” Rupanya lelaki asing itu sempat melihat polahku. Ia masih asyik mengamati pertandingan bola di layar ponsel pintarnya.
Aku mendesah dan menyanggah, “Tidak, dia bukan pacarku.”
Lelaki itu diam saja.
“Belum,” lanjutku GR. “Kami cuma saling mengenal.” Entah mengapa aku merasa nyaman bicara dengannya. Aku berbalik ke arah lelaki itu dan melanjutkan, “Dia juga sebenarnya tadi mau menyatakan perasaannya. Tapi aku gugup sekali…, jadi aku ke sini. Aku tadinya kalau Arsenal menang hari ini, mau menyatakan perasaanku duluan ke dia.”
Tak ada tanggapan. Lelaki itu masih mengamati layar.
“Tapi,” aku seolah sadar, “Kenapa aku menceritakan semua ini, padahal kita baru pertama bertemu?”
“Dia tampan dan tinggi.” Hanya itu tanggapannya, berarti lelaki itu sempat mengamati. Aku tersenyum dan menoleh ke arah Asisten Sutradara berdiri.
“Ya, ‘kan? Dia tampan, bukan?” Aku antusias.
“Ya, kalau kubilang nilainya…,” matanya sekilas melihat lagi ke arah Asisten Sutradara, sampai aku ikut-ikutan melihat, “7 dari 10.”
“Kau pelit sekali,” komentarku tak terima. “Harusnya nilainya 9.” Habis itu aku melihat lagi ke arah Asisten Sutradara yang sedang bicara di telefon genggamnya sambil tertawa. Aku membuat penilaian sendiri. Dia tinggi. Alis matanya tebal. “Bahu lebar. Punya pekerjaan juga.” Tanpa sadar aku mengucapkan apa yang ada di pikiran.
Dan tiba-tiba seorang perempuan cantik mengejutkan Asisten Sutradara dari arah belakangnya. Artis Yoon Se Hee!
Asisten Sutradara segera memeluknya sambil bilang, “Aku merindukanmu.”
Adegan itu seakan membuatku berada di dimensi déjà vu, aku terkejut sekali. Sesuatu yang tak kuduga telah terjadi. “Dan pacar juga, dia punya,” gumamku lemah.
Rupanya gumam lemahku terdengar lelaki asing itu. Ikut melihat ke arah yang kulihat. Kami menyaksikan Asisten Sutradara tengah memeluk pacarnya yang bilang aigoo, mengulang ucapan semula, “Aku merindukanmu.”
Adegan itu membuatku dan lelaki asing seolah tersihir dalam keterpanaan, sampai teriakan gol membahana dari layar ponselnya.
Namun kami seakan sama tidak peduli pada teriakan itu. Entah siapa yang menang. Gol untuk Arsenal atau bukan? Waktu seakan berada di dimensi lain yang lambat. Membuatku tercekat.
Kalau dipikir-pikir, aku tidak pernah menjadi striker (penyerang) dalam hidupku!
Aku memasuki ruang makan dengan gontai. Pak Sutradara yang mabuk tidur sambil duduk bersandar.
Bu Penulis tengah bersulang dengan Asisten Sutradara dan pacarnya, artis Yoon Se Hee tadi. “Terima kasih,” ujar Yoon Se Hee kala Bu Penulis menuang minuman ke gelasnya.
“Kerja bagus.”
“Bukan apa-apa.”
“Terima kasih.” Bu Penulis merasa harus berterima kasih pada artis tenar itu.
“Penulis Yoon!” Asisten Sutradara kembali melambai begitu aku masuk ruangan.
“Penulis Yoon, duduk sini.“ Artis Yoon Se Hee dengan ramah mempersilakanku duduk di sebelahnya. Tidak menyadari bahwa aku barusan patah hati karenanya.
“Apa?” Aku mendekati mereka dan duduk di mejaku.
“Kau mau ke mana? Aku merindukanmu.” Asisten Sutradara merajuk.
Dan dengan santai seolah tanpa beban aku bilang sambil kedua tanganku bergaya seolah menembak, “Aku juga.”
Kami semua tertawa riang.
“Minumlah,” ajak Bu Penulis. “Mari kita bekerja sama lagi.” Ia bersulang ke arah artis Yoon Se Hee.
“Terima kasih.”
Kami semua bersulang.
“Minumlah.” Bu Penulis menyilakan.
Kuteguk gelasku dengan pikiran yang seolah disetel berulang. Aku selalu membela diri, dan melangkah mundur pada waktu yang tepat.
Di halte bus, aku menunggu bus yang akan mengantarku pulang. Hari sudah larut malam. Aku merasakan kekecewaan yang teramat dalam. Karena peristiwa tadi. Dan lebih-lebih lagi karena pengakuan lewat SMS yang disampaikan Asisten Sutradara barusan. SMS ini kuterima kala aku sedang di halte bus.
“Aku lagi pacaran dengan seseorang, tadi aku ingin mengatakannya padamu.”
Usai membacanya, aku menyadari sesuatu. Aku tidak punya keberanian menggiring bola, atau pengalaman untuk menghindarinya. Aku hanyalah seorang bek amatir.
Jadi, kuberanikan diri dengan membalas SMS itu. Kuketikkan kalimat basi yang sama sekali tidak mewakili perasaanku. “Serius? Baguslah! Selamat!”
Hanya itu.
Dari arah lain, lelaki asing tadi tengah jalan ke halte tempatku menunggu sambil menelefon. “CEO Ma. Kau sadar ‘kan, ini penyalahgunaan kekuasaan? Kita setuju kalau aku hanya ikut ronde pertama makan malam tim.”
Di seberang, CEO Ma menjawab, “Nanti kuantar kau pulang. Nanti aku pesan sopir sewaan.”
“Tak usah. Aku naik bus saja.” Katanya tegas. “Naik bus jauh lebih cepat daripada naik mobilmu.”
Sepertinya CEO Ma menyanggah, jadi lelaki itu menegaskan lagi. “Sudah kubilang aku naik bus saja.” Ia hampir sampai di bangku halte sampai menyadari kehadiranku yang sedang duduk menunggu.
Kami saling berpandangan. Aku menunduk. Ia berbalik, “Oh ya, ada juga kereta bawah tanah.”
“Naik bus saja!” seruku sebelum lelaki itu jalan lebih jauh dari halte.
Lelaki itu terpaku beberapa meter dariku. Ia berbalik memandangku.
“Tak bisakah kau pulang naik bus?”
Karena lelaki itu diam saja, jadi aku melanjutkan, “Jadi setidaknya rasa maluku agak berkurang.” Lalu aku kembali menunduk.
Sebuah bus melintas pergi. Meninggalkan aku dan lelaki asing di restoran tadi. Kami duduk berjauhan. Merasa canggung dan tidak nyaman.
Lelaki itu memulai percakapan, seakan ingin mengusir diam, agar kami sama nyamannya seperti tadi kala di luar restoran terlibat obrolan ringan sebelum kenyataan menghantam. Lebih tepatnya menghantamku, berkaitan dengan Asisten Sutradara yang ternyata sudah punya pacar.
“Yakin rasa malumu akan berkurang?”
“Tidak.”
“Ini kali pertama aku berada di lingkungan ini.” Ia bicara sambil melihat ponselnya, seakan mencoba menghindari kontak mata yang siapa tahu akan membuatku tambah tak nyaman. “Aku jarang pergi keluar, dan aku benci pergi keluar malam-malam.”
Aku diam saja, namun ekor mataku mengamati. Terus menyimak lelaki asing itu yang seakan ingin menghiburku.
“Aku biasa di rumah atau di kantor. Jadi kita tidak akan pernah bertemu lagi. Aku harus menunggu setidaknya 10 menit lagi sampai bus datang.” Sebuah taksi melintas di depan kami. Lelaki itu berpaling padaku dan melanjutkan, “Tidak perlu merasa tak nyaman seperti ini.” Ia menegaskan karena aku tetap diam, “Kau tidak perlu merasa malu lagi.”
Aku mendesah, ingin membuang resah. “Aku malu… dengan diriku sendiri.” Ada jeda. “Bukan padamu, tapi diriku sendiri.” Ya, aku merasa menyedihkan, “Aku tidak bisa membedakan mana cinta dan sikap baik di usia setua ini. Aku menyukai dia selama tiga tahun. Aku memendam perasaanku sampai aku berusia 30 tahun. Aku malu dengan betapa bodohnya aku. Padahal umurku bukan 20 lagi tapi 30.”
Entah mengapa aku bisa berterus-terang seperti ini, pada seorang lelaki asing yang sekiranya membuatku nyaman mencurahkan perasaan. “Aku tidak tahu apa yang kulakukan di usia 30 tahun ini. Maka dari itu, jangan dihiraukan.”
“Kau bilang usiamiu 30 tahun.” Tanggapan itu begitu tiba-tiba menghangatkan karena ia melanjutkan dengan bahasan yang tak pernah kukenal, “Itulah batas neokorteks-mu.”
Aku berpaling dan bertanya, “Apa?”
Neokorteks terletak di bagian luar otak, dan tugasnya bertanggung jawab atas konsep waktu seperti usia 20 atau 30. Kucing tidak memiliki neokorteks, tak seperti manusia. Jadi kucing tidak bosan atau depresi, walau kucing selalu makan makanan yang sama dan melakukan kegiatan sama... di rumah mereka yang sama selama hidup mereka. Kucing tidak memiliki masa depan maupun masa lalu.”
Lelaki itu bicara tentang sesuatu yang tak kupahami, namun entah mengapa uraiannya yang bernas membuatku paham. Dia bicara tentang kucing, neokorteks, usia dan konsep waktu, hal-hal yang semacam itu intinya seakan hendak menghiburku. Jadi aku diam menyimak.
Lanjutnya, “Usiaku 20 tahun. Usiaku 30 tahun. Sebentar lagi usiaku 40 tahun. Hanya satu jenis spesies di Bumi yang mengunci diri pada waktunya. Yaitu manusia. Hanya manusia yang menggunakan usia untuk membuat orang lain menghabiskan uang dan menutup emosi mereka. Itulah yang didapat manusia karena evolusi.”
Paparannya begitu panjang, dengan muram aku melihat lelaki asing itu. Kali ini dalam perspektif dan perasaan yang berbeda. Aku merasa mulai menyukainya. Ia kawan bicara yang akan membuatmu merasa nyaman berbincang tentang hal apa saja. Ia juga sopan dan simpatik. Kukira ia lelaki yang baik. Sekaligus cerdas dan kharismatik.
Ia berpaling padaku dan melanjutkan, “Entah kucing berumur 30 atau 40, itu sama saja bagi si kucing.”
Aku tercenung, mencoba mencerna apa yang dikatakannya barusan. Aneh, pikirku. Anehnya omong kosongnya lebih menghiburku dari apa pun hari itu.
“Maaf. Namamu siapa?” Kuhimpun keberanian untuk bertanya. Aku hanya ingin berkenalan karena sedari tadi kami bicara tanpa memulai dengan perkenalan lebih dulu.
Namun dia hanya memandangku. Aku jadi salah tingkah.
“Apa lebih baik aku tidak tahu namamu?”
“Ya.” Angguknya sopan. Sepertinya ia bukan jenis orang yang suka basa-basi.
“Ya.” Jadi kuanggukkan kepala sepertinya. Dengan sopan pula. Lalu kami saling diam sejenak. Lelaki itu kembali mengamati ponselnya. Namun aku tidak tahan untuk terus bicara, “Kau orang asing, tapi aku merasa nyaman denganmu.”
“Kau pasti merasa nyaman karena aku orang asing.” Lalu dia berdiri.
Sebuah “pencerahan” seketika muncul di benakku. Memikirkan bahwa aku tidak akan pernah melihatnya lagi, perasaanku sedikit sedih. Aku ikut berdiri.
“Terima kasih untuk cerita neokorteks-mu.” Kataku sopan. Kubungkukkan punggungku sebentar. Suatu kebiasaan ala orang Korea ketika kau berterima kasih pada seseorang untuk suatu hal. “Kurasa aku sudah gagal dalam hidup ini, tapi aku akan berusaha yang terbaik.” Kuulurkan lenganku, mengajak berjabat tangan.
Lelaki itu tampak ragu sebentar sebelum menerima uluran tanganku. “Semoga berhasil. Lagi pula, melewati hidup ini adalah pertama kalinya bagi kita semua.”
Ada sesuatu dari ucapannya yang membuatku seakan berada dalam arus kekaguman sekaligus ketidaksadaran. Kupandangi bibirnya. Untuk sesaat, aku melupakannya. Hidup ini. Saat ini. Dan bibir lelaki itu menyunggingkan senyum. Seakan mengundangku untuk melakukan sesuatu. Kau hanya punya satu kesempatan.



Jadi, aku berjalan mendekatinya, merangkul lehernya dengan kedua lenganku, dan kucium bibirnya. Waktu serasa melambat, sekaligus bergerak cepat begitu bus yang kutunggu datang.
Untuk sesaat aku tidak sadar. Lalu bergegas meninggalkan lelaki itu, menaiki bus tujuanku pulang ke apartemen baru.
Lelaki itu masih berdiri terpana di halte. Begitu bus berlalu. Ia seakan membutuhkan waktu cukup lama dari arus ketidaksadaran karena seorang perempuan cantik mendadak memberikan ciuman perpisahan.
Di dalam bus aku tertawa sendiri. Merasa amat bahagia. Karena telah mencium lelaki yang kusuka, dengan cara nekat pula. Hari itu sangat panjang.
Di kamar mandi, aku sikat gigi, memandang cermin dan berpikir. Aku pindah dari rumah yang kutempati selama lima tahun. Aku berkumur. Aku rupanya dianggap teman oleh orang yang kukira menyukaiku selama tiga tahun. Aku becermin. Aku mencium orang asing.
Daebak sekali kau, Yoon Ji Ho.” Aku bicara sambil becermin, seakan bicara pada diriku yang lain. Lalu aku tersenyum. Meninggalkan kamar mandi. Memasuki ruang tempat si kucing pup di wadah kotorannya. Kuserok kotorannya untuk kubuang. Kumasukkan ke dalam lipatan tisu kertas sebelum kubuang ke tempat sampah yang dipisah untuk daur ulang. Aku melakukannya dengan riang.

Malam sudah begitu larut, ketika pemilik apartemen membuka pintu. lampu foyer menyala otomatis kalau ada yang memasuki ruangan. Namun beberapa ruang lain dalam apartemen gelap dan sepi.
Rupanya penyewa kamar telah mematikan beberapa lampu utama ruangan. Hanya sedikit cahaya dari ruang lain yang tak dimatikan lampunya. Sebelum memasuki kamarnya, ia berpaling dan memandangi pintu pemilik apartemen. Sepi.
Sebelum memasuki kamarnya, pemilik apartemen memandang pintu kamar penyewa. Ada poster fim “The Graduate” ditempel di pintu.
Dan sebelum itu, kala habis mematikan lampu, aku memandang pintu pemilik apartemen yang tertutup rapat. Penghuninya belum pulang. Bukan bayanganku kalau aku menjalani hidup di usia 30 tahunku seperti ini, tapi karena ini pertama kalinya, kurasa lumayan juga.
Kututup pintu kamarku.
Sementara itu, pada jam yang sudah larut, pemilik apartemen hanya memandang pintu penyewanya yang tertutup rapat tanpa pretensi apa-apa. Lalu masuk kamarnya.
Di kamarku, aku tidur nyenyak dengan perspektif baru. Seperti perkataannya, kita semua melewati hidup ini, untuk pertama kalinya.
***

       







 











Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D