Tampilkan postingan dengan label CERITA ANAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA ANAK. Tampilkan semua postingan

Jumat, 05 Januari 2018

Puasa Sidik



Cernak Rohyati Sofjan


SEBENTAR lagi ramadan. Sidik bingung apa nanti bisa pol puasanya. Ia sudah besar, kelas 2 SD, dan mestinya bisa berpuasa sehari penuh bukan setengah hari seperti Ramadan tahun lalu.
Sidik ingin seperti Kak Sita, kakaknya yang kelas 6. Kak Sita kuat berpuasa sampai sebulan tanpa bolong. Kak Sita juga sering puasa sunat. Kak Sita memang kakak yang salehah. Rajin salat wajib 5 waktu, plus sunat. 
Sedang Sidik. Untuk salat 5 waktu saja malas, apalagi yang sunat kayak dhuha. Padahal Ibu selalu mengajaknya sebelum berangkat ke sekolah dekat rumah yang masuknya jam 7.30, “Dhuha dulu, yuk, Dik. Biar rezeki lancar dan ilmu tambah anteng dicerap.” Rayu Ibu manis.
Namun Sidik selalu menolak. Ibu tidak memaksa. Kecuali pada hari Minggu atau libur karena tanggal merah. Biasanya Sidik terpaksa ikut karena Bapak yang jadi imam bagi keluarga kecil mereka, itu pun diimbuhi dengan ogah-ogahan. Sidik akan berada di baris belakang Bapak, di belakangnya lagi diikuti Ibu dan Sita.
“Salat dhuha kok ogah-ogahan,” ledek Sita. “Padahal cuma dua rakat. Itung-itung olahraga, Dik!”
Sidik cuek. Mengabaikan omongan Sita. Namun sekarang untuk puasa?
Sidik malu pada Siti tetangga barunya. Kata mama Siti, Siti sudah kuat puasa ramadan tanpa bolong sejak usianya 6 tahun. Sekarang Siti 7 tahun dan kelas 1. Masa anak cowok kalah?!
“Puasa kok kayak lomba?” Sita meledek lagi begitu Sidik curhat. “Jangan pol puasa agar tak kalah dengan anak yang lebih muda. Puasa ‘kan demi Allah, Dik.” Tegur Sita lembut.
“Kok gitu, sih, Kak? Sidik ‘kan lebih tua daripada Siti, seperti Kakak lebih tua daripada Sidik. Jadi yang tua mesti bisa ngasi contoh pada yang lebih muda, ‘kan?” Sidik ngotot. “Sidik tak ingin kalah dari Siti. Sidik malu, masa lebih tua dan gede gini gak kuat puasa. Siti sering dapat hadiah dari keluarga besarnya karena kuat puasa. Sedang Sidik?”
Sita terkekeh. Adik semata wayangnya lucu juga. Malu pada anak lain kalau tak kuat puasa, bukan malu pada Allah. Padahal urusan puasa ‘kan merupakan hablum minallah, menyangkut manusia dengan Tuhannya.
“Ya, sudah,” Sita mengalah. Sidik sangat kompetitif.
Tahu kompetitif? Itu bukan kembarannya lokomotif, hehe. Kompetitif artinya sangat suka berkompetisi alias berlomba. Ya gitulah dengan Sidik. Selalu ingin jadi nomor satu dalam segala hal. Menyangkut prestasi di sekolah dalam belajar, olah raga, sampai seni lukis yang diikutinya.
Mungkin di lain waktu Sita bisa memberi pemahaman lebih baik pada Sidik. Untuk saat ini Sita merasa ilmunya belum cukup. Sidik keras kepala dan selalu merasa paling benar. Gak tahu apa semua anak cowok nyebelin gitu kayak adiknya?
“Sudah apanya?” Sidik tidak puas. Ia teringat Siti yang pemberani, tak mempan dijahilinya. Siti tidak cengeng, kalau Sidik mengajak berantem dengan mengancam mengacungkan tinjunya atau apa saja, Siti akan balas meleletkan lidah. Sidik kesal karena Siti tak mempan diganggu.
Sita sampai malu pada keluarga Siti karena ulah adiknya itu. Tapi Sita juga bingung, mengapa Sidik getol sekali menganggu Siti padahal selama ini Sidik dikenal bukan anak yang jahil, apalagi pada perempuan. Zahra, tetangga sebelah kanan yang seumur Siti saja tak pernah dijahili Sidik.
“Jangan-jangan Sidik suka Siti,” kata Fatma kakak Siti yang juga merupakan teman main Sita, ketika suatu hari yang lalu Sita curhat.
“Ah, Sidik masih kecil!” bantah Sita.
“Ya biarin saja, sejauh tak mencederai fisik tak apa-apa. Toh, mungkin Sidik tak punya teman sebaya, dan Siti tak suka main dengan anak cowok jadi mereka berteman dengan cara kurang akur.” Fatma angkat bahu. Anak-anak Pak Burhan, ayah Siti dan Fatma, cewek semua.
Dulu yang menempati rumah ini adalah keluarga Pak Danu, dan Sidik biasa main dengan Bowo. Tapi Bowo lalu ikut ayahnya yang pindah tugas ke luar kota. Bisa jadi Sidik sangat kehilangan. Tak ada teman yang bisa melakukan banyak kegiatan.
Melihat Siti, Sidik kesal karena berbeda dengan Bowo. Siti tak suka berkegiatan alam. Siti anak manis yang pasif. Sidik pernah mengajaknya bersepeda, tapi ditolak Siti. Apa pun kegiatan yang biasa ia lakukan dengan Bowo pasti ditolaknya. Makanya hanya mengajak berantem itu yang Sidik bisa.
Habis mau apa lagi? Main layangan atau sepak bola ‘kan tak mungkin. Di lingkungan sekitar kompleks perumahan ini tak ada anak kecil sebaya, kebanyakan sudah besar-besar semua. Zahra yang manis tak selalu bisa diajak main juga. Zahra selalu sibuk mengasuh adik batitanya.
Sekarang kita kembali pada kekesalan Sidik yang tak mau kalah soal puasa dengan Siti. Sita yang pusing harus sabar menjelaskan pada Sidik.
“Kita latihan lagi puasanya. Gak apa-apa puasa dibiasakan, Senin-Kamis cara keluarga kita ini. Insya Allah, Sidik akan bisa karena terbiasa.”
“Puasa Senin-Kamis?” Sidik tertegun. Ia tak pernah mau ikut serta.
“Ya, yang lebih utama puasa mengganggu Siti juga. Apa bisa?” Sita menantang.
Sidik hanya bisa diam. Apa memang bisa? Ia ragu. Namun bukan Sidik namanya jika tak bisa melakukan sesuatu. Dilihatnya Sita tersenyum, kali ini bukan senyum meledek.
“Insya Allah, Sidik akan mencoba, Kak.” Bagaimanapun, Sidik merasa tak punya pilihan. Mungkin ia harus belajar sedikit demi sedikit agar lebih baik. Sebentar lagi ramadan. Untuk apa Sidik berpuasa? Dan untuk apa pula selama ini ia mengganggu Siti?
“Jangan melamun,” tegur Sita lembut. Sana mandi dulu. Nanti kita sahur bareng jika Sidik ingin puasa Senin besok.” Sita menepuk bahu adiknya lembut. “Jangan lupa salat asar.”
Sidik hanya mengangguk. Ia ngeloyor mengambil handuk. Pergi mandi seperti yang disuruh kakaknya. Mungkin ia harus minta maaf juga pada Siti karena sering mengusilinya. Mungkin ia bisa berteman dengan Siti dan akur.
Yang harus dilakukannya adalah belajar mengendalikan diri. Mengendalikan keinginan. Karena kita tak boleh memaksa. Barangkali itulah arti puasa. Bukan cuma urusan pantang makan dan minum semata.***
Loji, 8 Juni 2012


Negara Limun




Oleh Rohyati Sofjan


AKU mengenal Pak Joko sebagai tetangga yang baik. Ia jualan mie tek-tek di halaman rumahnya dari sore sampai malam. Ibu bilang Pak Joko tidak jualan keliling karena cape. Kadang-kadang aku beli mie tek-teknya, entah rebus atau goreng, rasanya enak. Selain mie biasa, Pak Joko juga melayani pembeli yang ingin mie tek-tek goreng campur nasi yang dibawanya sendiri. Tapi biasanya aku lebih suka mie tek-tek yang direbus, kuahnya berasa nikmat dengan taburan ayam, bawang goreng, dan merica bubuk.
Pak Joko gendut, perutnya buncit seperti ibu-ibu hamil. Sosoknya juga besar. Mungkin karena obesitasnya itu ia tak kuat jualan keliling, padahal aku yakin ia bisa lebih makmur jika jualan mienya ngider, soalnya meski ada yang beli tapi tak sampai laris manis. Paling tetangga sekitar sampai RW lain di gang kami.
Suatu pagi, aku lewat depan rumah Pak Joko, sekalian hendak main dengan Mia anaknya yang sebayaku. Ini Minggu pagi yang menyenangkan, dan aku heran melihat teman-temanku sedang merubung di depan rumah Pak Joko. O, ternyata Pak Joko ngewarung kecil-kecilan di atas meja yang biasa digunakan sebagai tempat memotong kol untuk mie tek-teknya.
Mia tak kulihat. Teman-temanku asyik jajan. Ada banyak jajanan. Pisang goreng, bala-bala, gehu pedas, cireng, cilok, basreng, kerupuk, makaroni goreng, juga sirop selain minuman dingin. Dan jenis jajanan lainnya yang tak kuperhatikan, yang jelas tak sebanyak warung Ceu Asih. Tapi sepertinya Pak Joko ingin meningkatkan taraf hidupnya agar lebih baik.
Pak Joko menyambutku hangat. “Ayo, mau jajan apa, Ika?”
Aku bengong. “Mia ada?” Aku sungguh tak berpikir untuk jajan, sebelumnya.
“Mia lagi keluar, nanti akan kembali. Mau jajan? Ayo, jangan sungkan!” kata Pak Joko ramah.
Aku mendekati meja Pak Joko dan tersenyum. Kulihat Heri sedang asyik menyedot limun dari stick-nya, itu buat es yang belum dibekukan. Pak Joko tak punya kulkas seperti warung Ceu Asih yang lebih lengkap.
“Mau?” tawar Heri. Aku menggeleng. Ia lebih kecil daripadaku tapi kukenal sebagai anak yang tak pelit berbagi hingga Heri disukai kami.
“Ini limun Jepang,” kata Heri sambil menunjuk limunnya yang berwarna kuning dan masih terisi separuh. Aku tertawa. Pagi-pagi aku tak ingin minum limun seperti Heri dan anak lelaki lainnya, aku memilih gehu pedas gopean satu dan membayarnya. Aku duduk di samping Heri sambil mengunyah gehuku setelah sebelumnya menawarkan pada yang lain.
“Kenapa kamu tadi bilang limun Jepang segala, Ri?” tanyaku iseng.
“Tanya Pak Joko, tuh.” Heri malah menunjuk Pak Joko yang menoleh ke arah kami. Pak Joko mengacungkan jempol, lalu mengambil bungkusan isi limun yang berwarna-warni.
“Yang kuning negara Cina, hijau Amerika, oranye Belanda, ungu Jerman, putih Jepang, merah Indonesia.” Kata Pak Joko lucu. Kami semua tertawa.
Diam-diam aku kagum pada Pak Joko, ia kaya imajinasi, mengibaratkan limun sebagai “negaranya”. Sebagai pedagang ia rupanya kreatif, mencoba melengkapi kekurangan dengan keramahan dan obrolan menyenangkan agar kami betah jajan di sana.
Omong-omong, mengapa merah harus Indonesia?***

    

Rabu, 27 Desember 2017

Pajak Radio



Cernak Rohyati Sofjan


PETUGAS itu duduk di kursi ruang tamu, menjelaskan sesuatu pada ibuku yang mangut-mangut mencoba mengerti, mematuhi aturan baru tentang membayar pajak radio tape yang baru kami miliki. Aku berdiri di samping Ibu. Beberapa temanku dan tetangga merubung di halaman sekadar ingin tahu.
Aku merasa malu meski tak tahu untuk apa malu. Kami tak salah apa-apa, cuma sedang berurusan dengan petugas yang sedang mendata radio warga agar melaksanakan aturan wajib pajak. Pajak, makhluk apakah itu? Aku merasa malu karena kupikir ibuku didenda sebab memiliki radio.
Ibuku membayar sekian rupiah, jumlah yang tidak terlalu besar, namun aku tetap bingung dan menyesal. Mengapa tak kuberi tahu Ibu sebelumnya agar ia menyembunyikan saja radionya seperti yang dilakukan Wiwi temanku dan mamanya waktu tadi aku main di rumahnya.
“Cepat sembunyikan radio, ada orang pajak!” perintah mama Wiwi tergesa-gesa masuk kamar, dan Wiwi pun patuh menyembunyikan radio transistor kecilnya ke kolong ranjang. Aku heran, kenapa harus disembunyikan? Wiwi yang lebih tua dua atau tiga tahun daripadaku dan sudah bersekolah hanya tersenyum mendengar tanyaku.
“Biar tak usah bayar!” Mama Wiwi yang menjawab dengan menggesekkan jempol dan telunjuknya, isyarat akan uang.
“Oh,” aku hanya mengangguk polos. Aku belum bersekolah, tahu apa soal uang. Apakah kalau punya radio harus keluar uang? Aku pulang. Tak ada lagi permainan menarik di rumah Wiwi. Sepertinya aku pun diharapkan pulang agar penghuni rumah bisa bersembunyi di luar. Barangkali agar orang pajak yang belum kutahu seperti apa wujudnya tak bertandang. Sebab rumah dikunci dan tak berpenghuni.
Sepertinya rumah dan radio Wiwi aman dari satronan orang pajak. Aku pulang ke rumah. Ibuku sedang menyetel radio keras-keras, ia senang sekali. “Sini, ada musik asyik!” serunya riang.
Aku hanya bisa diam. Tak tahu haruskah kuberi tahu Ibu agar menyembunyikan radio itu seperti yang dilakukan Wiwi dan mamanya, mungkin di lemari yang terkunci. Justru mulutku terkunci untuk mengatakan itu, aku tak tega merusak kesenangan Ibu. Dan lagi, aku bingung dengan wujud orang pajak. Kalau semua rumah didatangi, berarti kami juga harus sama.
Jadi aku diam saja. Dan tak berapa lama kemudian pintu rumah diketuk. Ibuku yang membukakan pintu. Ternyata tamunya bapak-bapak berseragam. Ia ramah. Memperkenalkan diri sebagai petugas pajak, dan setiap pemilik radio wajib membayar pajak yang telah ditentukan jumlahnya.
Begitulah ibuku melakukan apa yang harus dilakukannya. Dan petugas ramah itu mencatat. Lalu pamit untuk melanjutkan pekerjaannya di rumah lain. Begitu petugas itu pergi, mama Wiwi menghambur masuk dan menegur ibuku, katanya harusnya dari tadi radio itu disembunyikan saja. Dan matanya memandang tajam ke arahku, seakan aku anak bodoh karena tak memberi tahu ibuku untuk melakukan apa yang dicontohkannya tadi. Aku jadi malu. Ibuku yang tak mengerti jadi heran. Ia tak tahu apa-apa, dan itu aturan baru. Hanya mencoba patuh pada kewajiban sebagai warga negara yang baik.
Ah, mama Wiwi memang aneh! Perempuan itu melenggang setelah nyinyir berkomentar. Ibuku dan aku pasti terlihat dungu di matanya. Syukurlah, Bu Ilim, tetangga di sebelah depan rumahku ternyata membayar pajak radio juga. Ibuku lega. Kata Ibu, mama Wiwi lucu. Ada-ada saja, sekadar menghiburku karena merasa bersalah tak memberi tahu Ibu.
“Ngapain ngumpetin radio, di kolong ranjang segala, lalu rumah dikunci dan penghuninya ngungsi ke luar, hahaha...!” Ibuku tertawa ngakak.
***
“Demikianlah, Palung, waktu itu tahun ’80-an dan Mamah masih kecil, belum bersekolah, telinga juga masih berfungsi baik.”
“Apa yang terjadi dengan telinga Mamah?” tanya Palung serius. Wajahnya sedih, mengapa ibunya harus berbeda. Palung kadang malu diolok-olok anak lain bahwa ibunya tuli.
Mamah menghela napas, mencoba tersenyum meski matanya berkaca-kaca. “Mamah juga tak sepenuhnya paham. Kecelakaan yang tak Mamah ingat persis telah mengubah segalanya. Ingatan kolektif tak merekamnya dengan baik. Barangkali itu bukan bagian yang ingin Mamah ingat. Yang Mamah ingat hanya hal-hal lain, ketika dunia masih ingar dengan bunyi. Meski sekarang Mamah sudah lama lupa irama musik.”
“Musik itu indah, Mah.” Mata palung berbinar.
“Maka syukurilah hidup bahwa kamu masih bisa mendengarnya. Dan belajarlah dari hidup, banyak yang tak beruntung. Tak ada yang sempurna.” Mamah mengusap kepala anak lelaki semata wayangnya sepenuh sayang.
“Jadi Palung tak boleh takabur?” Palung merasa sedih, mengapa anak-anak itu nakal mengejeknya, apakah tidak dididik dengan baik oleh orangtuanya?
“Anakku sayang, cerita tentang pajak radio itu merupakan gambaran diri Mamah. Ketika melihat Nenek senang dengan radionya, haruskah Mamah merusak kebahagiaan dengan kecemasan karena pengaruh orang lain. Untuk apa kita berbohong? Menyembunyikan apa yang kita miliki agar bisa mangkir dari kewajiban, akankah membuat kita tenang? Salah-salah kalau itu terjadi, mungkin nenekmu akan seperti mama Wiwi, was-was setiap menyalakan radio saat terang karena takut didatangi petugas pajak.” Mamah tertawa. Palung nyengir. Sekarang memang bukan zamannya lagi bayar pajak radio. Dipandanginya radio transistor hitam kecil, hadiah dari Eyang Yanie teman baik Mamah.
Dunia bagi Palung indah dan baik-baik saja. Ada musik yang menghiburnya. Kata Mamah sejak Palung masih dalam kandungan, Mamah suka memperdengarkan musik klasik sampai senandung ayat Quran sambil bekerja di netbook hadiah Pak Dana dari Bandung.
Dipejamkannya mata, Palung mencoba tidur siang ditemani radio kesayangan. “Ambilkan Bulan” ciptaan Pak A.T. Mahmud yang disenandungkan Five Minutes mengalun lembut.***
Loji, 23 Juni 2012

Sabtu, 18 November 2017

Kandang Sapi Pak Atep



Cernak Rohyati Sofjan


DI depan rumah kami ada kandang sapi kepunyaan Pak Atep. Pintu kandangnya menghadap samping timur sedang pintu rumah kami menghadap selatan. Jarak antara pintu rumah dengan kandang sapi hanya sekira dua meter. Bisa dibayangkan pada saat tertentu udara beraroma kotoran sapi yang pup bergunduk-gunduk soalnya ada enam ekor sapi besar.
Aku kaget waktu pertama kali melihat dari luar kandang,  sapi-sapinya besar sekali seperti bison. Kata Mamah itu sapi khusus buat dipotong bukan diperah. Warnanya kecokelatan, tidak mirip sapi dalam gambar susu kalengku; putih dengan bercak belang-belang hitam.
Aku terganggu dengan bau sapi yang kerap menerobos masuk rumah, sangat tidak nyaman. Mamah minta aku bersabar soalnya kami tinggal di rumah ini sebagai penumpang. Ya, kami menempati rumah kosong sekeluarga berempat, hanya ada satu kamar dan sangat tidak memadai. Jika malam, aku dan palung tidur di kamar, mamah dan bapak di ruang tengah dengan kasur lipat digelar.
Untuk bikin rumah kata mamah sangatlah mahal. Mamah dan Bapak sedang mengupayakan itu. Bapak bekerja sebagai buruh tani serabutan di mana-mana. Sejak menempati rumah ini Bapak selalu dapat kerjaan dan kami bisa tenang. Sebelumnya kami tinggal di rumah nenek, beberapa ratus meter dari sini, namun di sana tidak nyaman.
Sejujurnya aku terganggu dengan kandang sapi, kandang yang sudah sejak lama ada dan sempat kosong karena sapinya dijual dulu. Sebelum terisi sapi semuanya oke-oke saja. Aku malu rumahku berdekatan dengan kandang. Teman-teman jadi malas main. Kecuali Palung adikku yang baru berusia dua tahun lebih, ia senang saja karena setiap hari bisa melihat sapi. Palung yang lucu akan meniru suara sapi dengan mooo... panjang, mulutnya dimanyunkan. Celotehan riangnya selalu tentang sapi. Mamah dan Bapak akan menanggapi Palung dengan senang, sebaliknya aku cemberut.
“Aduh!” seruku gusar ketika aku sedang membaca komik Asterix koleksi Mamah,   Palung menerobos masuk kamar dan langsung menubrukkan tubuhnya ke tubuhku yang sedang duduk di kasur, menggangguku dengan mooo-nya yang konyol.
“Sapi!” kata Palung dengan polos. Anak itu tak kenal rasa bersalah sama sekali.
“Iya sapi. Di luar saja, Pal. Teteh mau baca.”
“Sapi!” ulang Palung sambil berdiri, menarik-narik lenganku, “Hayu!”
Aku bergeming. Palung kesal. Ia mengentakkan kakinya dan mulai memukulku berulang-ulang sambil mengerang. Waduh. Aku kewalahan. Tenaganya tak kira-kira. Mamah membuka tirai dan masuk kamar.
“Temani Palung main di luar, Najm.”
“Mah!” protesku.
“Hanya sebentar, Sayang. Mamah sedang masak.” Mamah berkata dengan lembut sambil mengusap kepalaku dan Palung, tersenyum padaku dan Palung yang masih berceloteh sapi sambil menunjuk ke luar. Lalu menandak-nandak senang.
Aku menggerutu. Menggendong Palung ke luar. Main bersama Palung aku oke, tapi anak ini ingin nonton sapi, dan aku alergi berdekatan dengan sapi. Susu sapi aku doyan, bertetangga baik dengan sapi sama sekali tak pernah kubayangkan.
Kini kami berdiri beberapa meter dari pintu kandang yang terbuka dan hanya menampakkan bagian samping tubuh sapi, mereka semua sedang berdiri. Aku hanya bisa bengong, ini pemandangan yang membosankan, kecuali bagi Palung tentunya yang sedang asyik menonton sapi. Masing-masing tiap sapi dipisahkan sekat tembok sepanjang separuh badan. Berada di bagian lebih tinggi dan ada parit kecil tempat saluran air kotor kalau sapi atau kandangnya habis dibersihkan.
Dari arah bawah jalan setapak bagian selatan, Bapak tahu-tahu muncul. Baru pulang kerja dari kebun punya Pak Ipit nun di bukit timur, kasihan pulang pergi selalu jalan kaki, namun wajah lelahnya sumringah. Syukurlah. Bapak menyapa kami. Palung menyambut Bapak dengan antusias dan merentangkan kedua lengannya minta digendong.
“Sapi.” Palung berceloteh sambil menganggukkan kepalanya, lalu menunjuk ke dalam kandang.
“Dari tadi pengen nonton sapi, Pak.” Aku agak cemburu karena Bapak asyik menciumi pipi Palung. Bapak hanya tertawa. Aku bersiap kabur, mengabari Mamah bahwa Bapak sudah pulang. Lalu aku akan melanjutkan membaca petualangan Asterix dan Obelix yang sedang membak-bik-buk pasukan serdadu Romawi  hingga kocar-kacir. Namun Pak Atep muncul dari arah belakang kami dan menyapa Bapak. Mereka berbincang sebentar, lalu Bapak mengikuti Pak Atep masuk kandang.
“Ayo Najm,” ajak Bapak.
Coba bayangkan, baru kali ini aku terpaksa mengikuti Bapak masuk ke dalam kandang. Terus terang aku penasaran juga untuk tahu ada apa di dalam, anak-anak suka mengintip melalui celah dinding kandang yang terbuat dari pagar bambu menjulang. Kami melewati ambang pintu lalu berbelok ke samping kiri sekat tembok. Melihat sapi dari depan. Mereka sedang mengunyah jerami padi yang habis dipanen.
Aku bengong. Duduk-duduk di bangku panjang. Melihat sekitar. Di belakang kami ada tumpukan pup sapi yang ditutupi abu bekas bakaran kayu. Bapak asyik mengobrol dengan Pak Atep. Bujang pengurus sapi sibuk bekerja. Bujang itu tidur di  loteng, tepat di atas jalan masuk. Aku kasihan padanya. Apa tahan berkutat dengan bau-bauan? Banyak nyamuk lagi kalau malam.
Harus kuakui kandang ini tak parah. Setiap ada sapi yang pup, kotorannya langsung diseruk dengan sekop lalu dikumpulkan ke gundukan belakang kami. Aneh memang, tak ada banyak lalat. Sepertinya Pak Atep apik mengurus kandangnya agar tak terlalu bau sebab berada tepat di tengah permukiman penduduk kampung. Hanya pada waktu tertentu bau meruak, itu jika sapi sedang pup.
Dan rumahkulah yang sering menerima aroma macam itu karena merupakan bangunan terdekat. Selebihnya bagian timur dan selatan merupakan sebidang tanah kosong yang memisahkan dengan rumah lain. Bagian barat adalah kebun Pak Atep dan membentang luas sampai perbatasan permakaman.
Aku bertanya pada Bapak untuk apa kotoran sapi itu dan akan dibuang ke mana. Pak Atep yang mendengarnya hanya tertawa, ia menangkap nada kekhawatiranku.
“Diolah dulu untuk dijadikan gemuk lalu dijual,” ujar Pak Atep sambil menunjuk tumpukan pup di belakang kami.
Gemuk adalah bahasa Sunda untuk semacam pupuk kandang. Bapak mengusap kepalaku dan berkata agar jangan khawatir.
Aku pernah baca artikel di koran atau majalah apa, gitu. Mamah yang berprofesi sebagai penulis lepas punya banyak bahan bacaan di rumah. Fetus alias kotoran sapi bisa diolah jadi bahan bakar biogas sampai campuran pembuat bata dan gerabah yang kuat. Sepertinya Pak Atep belum berpikir ke sana karena masih merupakan peternakan kecil. Baru dimulai pula setelah sempat vakum lama.
Kalau saja kami punya peternakan sapi mungkin bisa mengolah limbah kotorannya jadi sesuatu yang bermanfaat. Sebagai sumber bahan bakar alternatif agar kami tak perlu masak di tungku kayu bakar. Kata Mamah gas mahal dan takaran isinya  meragukan karena sering kurang dari timbangan.
Aku berharap suatu saat kelak kami punya rumah sendiri dan peternakan yang canggih. Siapa tahu aku dan Palung bisa sukses sebagai pengusaha dari hasil pup sapi, hehe.
Semoga saja bibit pohon jati, jabon, alba, dan sengon yang ditanam Bapak di kebunnya bisa menghasilkan. Kata Bapak butuh waktu 5 tahun lebih untuk tumbuh besar sebelum dijual. Itu bisa jadi modal bagi kami. Karena itu Bapak minta agar kami bersabar tinggal berdekatan dengan kandang. Belajar dari apa yang dikaruniakan alam.***
Cipeujeuh, 30 Januari 2012