Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 27 Desember 2017

Aku Telah Membunuh Orang, Hari Itu

Cerpen Rohyati Sofjan


AKU mabuk. Seperti biasa aku memilih mabuk. Seperti malam-malam sepi lain dan hampa dalam hidupku yang kehilangan tuju. Karena kamu, Garth!
Layar LCD TV plasma home theatre menyilaukanku, berita tengah malam basi tentang rekonstruksi penabrakan yang dilakukan Afriyani dan kawan-kawan. Tragedi Tugu Tani, hah! Aku muak dan mual namun tetap memaksakan diri untuk memelototkan mata agar kesadaran masih bisa mencerap apa yang disajikan berita.
Afriyani mabuk karena alkohol dan narkoba. Shabu? Yang jelas itu bukan semacam menu makanan yang kusuka, dan sangat kamu suka, Garth! Itu lebih memabukkan. Kamu dan aku tahu namun tak pernah mencoba shabu. Paling shabu-shabu makanan Jepang itu, di Hanamasa pula. Atau di restoran punya Olga Lidya yang artis terkenal, tempat terakhir yang pernah kita sambangi sebelum kamu meninggalkanku begitu saja. Merana dalam duka dan sepi berlarat-larat sampai sekarang. Aku membencimu karena itu, Garth!
Kulihat Afriyani bersimbah air mata, begitu pula keluarganya. Namun akankah tangis dan sesal mudah dimaafkan? Bagaimana dengan korban dan keluarganya? Sembilan nyawa terenggut seketika dalam satu serudukan. Pasti mengerikan atau menyenangkan? Itu ibarat animasi video game yang sering kaumainkan, Garth! Game bodoh yang membuat anak kecil sampai orang dewasa kecanduan, apa itu namanya? Play Station? Permainan yang kubenci karena aku tak pernah bisa memainkannya dengan benar dan kamu selalu senang sebab pada akhirnya jadi pemenang. Untuk apa aku terus-menerus memuaskan egomu, Garth?
Berita Afriyani digantikan berita lain, tentang korupsi, suap Deputi Gubernur BI. Kulihat seorang lady dalam balutan busana elegan jadi tersangka. Seleranya bagus sekali, seperti seleraku juga. Aku suka Prada untuk baju pesta. Donna Karan untuk busana kerja.
Shophaholic adalah ideologiku, ideologi yang kamu cela karena katamu terlalu kapitalisme. Hah, apa itu kapitalisme, Garth? Kita bagian dari masyarakat kapital. Aku masih muda, cantik dan sukses sebagai pebisnis. Apa salahnya menikmati hidup? Bukankah kita selalu bersenang-senang dengan perkerjaan? Aku menemukan gairah besar sebagai analis keuangan, dan kamu wakil CEO perusahaan besar, rekanan bisnis perusahaan tempatku bekerja.
Jangan munafik, kamu mau tak mau sejak jadi wakil CEO terpaksa berpenampilan layaknya lelaki metroseksual, dan seleraku tak memalukan untuk memilihkan apa yang terbaik untukmu. Aku tak suka kamu terlalu standar, itu tak sesuai untuk asal-usulmu sebagai perantauan, eh, ekspatriat asal pedalaman Australia mana.
Kamu bukan lagi penggembala domba di peternakan maha luas keluargamu. Kamu adalah penggembala bagi perusahaan multinasional. Dari seorang karyawan biasa melejit cemerlang jadi sekarang. Dan kita telah lama berhubungan sebelum kamu menapaki posisi itu. Posisi yang kamu kira karena upayamu sendiri, haha.
Asal tahu saja, sebelumnya aku tidur dengan atasanmu agar kamu beroleh promosi itu. Namun kamu tidak tahu, Garth. Tak ada yang buka mulut karena memang tidak tahu. Setelah kamu beroleh posisi itu, aku bosan jadi simpanan si tua bangka, belum tua benar namun aku muak dengan timbunan lemak di tubuhnya yang menggelambir. Selera bercintaku selalu kandas, berbeda jika denganmu, Garth.
Maka kuracun saja ia dengan sesuatu yang tak terlalu menyakitkan namun sangat mematikan. Orang-orang hanya tahu bosmu terkena serangan jantung. Dan aku melenggang tenang tanpa khawatir ketahuan punya selingkuhan sekaligus jadi selingkuhan.
Aku mencintaimu, Garth. Kutenggak gelas wine yang entah ke berapa. Memandang nanar pada layar plasma. Mencoba mencari adakah sosokmu di sana, meskipun berupa hantu. Tentunya berharap bukan hantu mengerikan. Hantu yang lembut dan tampan kembali untuk memohon maaf dan penyesalan. Namun itu tak terjadi.
Mengapa kamu mencampakkanku seperti ini? Jadi wakil CEO membuatmu lupa diri dan tak tahu balas budi. Aku berteriak memaki tak terima perempuan pilihanmu yang akan kamu nikahi. Padahal kita telah samen leven bertahun-tahun, dan tak kamu nikahi aku dengan alasan belum siap akan ikatan macam demikian. Nyatanya kamu malah lebih memilih perempuan bule pula, yang katamu teman masa kuliah di USYD, untuk jadi pengantinmu.
Kamu pindah ke apartemen lain di Kuningan, meninggalkan Kemang yang nyaman. Dan aku tambah membencimu, Garth. Aku sampai pada tahap kegilaan ingin membunuhmu sebelum kamu melangkah ke ambang pintu dengan koper-kopermu, namun aku terlalu lemah. Dengan apa  aku membunuhmu? Pisau atau racun atau peluru? Lalu bagaimana dengan rencana-rencana kita dulu?
Semuanya omong kosong. Bahkan kamu tak memberiku kesempatan untuk punya anak darimu, kamu menyuruhku di-KB susuk sebab kondom tak nyaman bagimu, spiral mengganggu aktivitas seksual, pil bikin gemuk, dan suntik membuatku alergi.
Aku tak lebih dari boneka poppy hidup yang kamu jadikan zombi. Nelangsa sekali aku, Garth. Perempuan bumiputera yang tergila-gila pada lelaki lain ras agar punya keturunan indo yang sangat rupawan. Untuk apa aku bisa sebodoh itu? Padahal aku berpendidikan tinggi, seorang master lulusan luar negeri. Aku terpuruk dalam derajat rendah melebihi cecurut.
Aku betina yang tergila-gila pada seorang lelaki berjiwa brondong. Usiaku belum kepala tiga namun kamu sudah membuatku merasa tua. Sekaligus pemabuk! Aku sangat butuh lari. Namun pub dan dugem tak memberiku arti selain pertemuan dengan hal-hal yang tak kuinginkan. Kamu tak tergantikan, Garth.
Tidakkah kamu tahu betapa merananya aku mencintai seseorang yang tak pernah sungguh-sungguh mencintaiku? Hidup jadi terasa palsu. Aku palsu karena kamu palsu. Dan pekerjaanku ternyata tak bisa menganalisis jiwamu. Kamu bukan uang, bukan benda, bukan statistik angka-angka. Kamu adalah jiwa yang tak terjangkau sebagai cinta.
Langit Februari menyajikan mendung dan hujan. Terkadang cerah dan panas. Aku merasa dirajam sekaligus terbakar. Jendela besar yang belum kututup dengan tirai memampangkan panorama kegelapan, juga suar lelampuan dari gedung-gedung di kejauhan. Aku limbung.
Aku merasa jiwaku terbang, layar plasma besar berpendar buram ganti menyilaukan, segala yang kulihat hanya bayang-bayang abstrak. Suara-suara serupa dengungan, mungkin tawon atau helikopter? Dan kudengar sesuatu berdenting nyaring menerpa lantai pualam. Aku tak peduli apakah gelas wine yang kupegang jatuh tergelincir.
Kesadaranku tak lagi mengisi rongga kepala atau jiwa. Aku ingin mati seketika. Namun aku tak punya cukup nyali untuk bunuh diri atau menyewa pembunuh bayaran saja. Aku pembunuh cantik sekaligus keji yang ternyata takut mati.    
Apa bedanya aku dengan Afriyani. Ia berkendara saat mabuk. Aku sering berkendara meski mabuk. Ia menabrak pejalan kaki di pagi hari. Dan aku menabrakmu, sengaja menabrakmu setelah menenggak berkaleng-kaleng bir, pada malam hari, di tempat parkir yang temaram kala kamu melenggang hendak mendekati Terrios merah metalikmu.
Aku menabrakmu dengan laju speedometer maksimal, membuatmu terlempar ke udara lalu jatuh menghantam aspal. Darah berceceran. Tak ada CCTV di tempat kejadian. Tak ada saksi mata. Bahkan kamu barangkali tak tahu siapa yang telah menabrakmu. Aku kabur. Melajukan jip ranger sewaaan ke pantai. Hujan deras memudahkan sisa-sisamu terkikis dari badan mobil. Dan di pantai aku menangis sambil meraung, membiarkan sesal dan kesumat baur.
Esoknya kudengar kabar kamu terlambat beroleh pertolongan. Kepalamu remuk, tulangmu hancur. Kalaupun kamu hidup mungkin akan sangat menyedihkan, otakmu tak berfungsi lagi. Dan calon pengantinmu akan sangat merana jika jadi hidup bersamamu, Garth!
Sekarang aku alkoholik yang tak kalah merana, tak bebas dan tak tertangkap, sekaligus merasa pengap. Berbagai macam miras sama sekali tak mampu menyelamatkanku dari lubang hitam kehampaan yang kamu ciptakan, yang aku juga ciptakan!***
Cipeujeuh, 18 Februari 2012

Rohyati Sofjan lahir di Bandung, 3 November 1975. Adalah ibu rumah tangga cum penulis lepas pencinta prosa dan puisi. namun memiliki obsesi aneh tentang bahasa Indonesia dan ingin bisa menulis banyak kolom bahasa. Tinggal di Limbangan, Garut.

Rabu, 13 Desember 2017

Ibu Mawa Karep Sorangan



Kalau boleh memilih, selepas magrib ini, aku ingin ditusuk akupuntur saja seperti Po dalam film “Kung Fu” Panda. Film favorit anakku di netbook yang suka dimonopolinya. Namun aku tak punya pilihan selain menerima kala diurut Wa Odir. Bu Bidan desa sedang keluar, dan  Sabtu ini Pak Mantri yang rumahnya di kampung sebelah barangkali sedang libur. Terlalu merepotkan jadi orang sakit itu!

Cerpen Rohyati Sofjan

TENTU saja aku kesakitan kala Wa Odir langsung mengurutku, jarinya yang kuat menekan bagian punggungku di beberapa titik tertentu, menembus baju yang tak kuganti sedari mandi pagi. Sangat berbeda kala diurut Ma Isah paraji desa yang sudah renta. Namun aku tak punya pilihan selain menerima. Disaksikan suamiku dan keluarga Bi Dede kerabat kami yang rumahnya di depan.
Diagnosisnya maag akut! Kata Wa Odir. Jangan terlalu banyak pikiran, kata Bi Dede. Jangan telat makan, imbuh Mang Ateng suaminya. Dan kedua anak mereka, termasuk anakku, cuma bengong menonton.
Aneh memang, setelah diurutnya, rasa sakit dan perih di bagian perut kananku hilang begitu saja. Rasa mual berkepanjangan yang menyiksaku kala Zuhur tadi tak terasa lagi. Aku cuma masih pusing dan lelah. Efek muntah-muntah. Yang tersisa adalah rasa muak dan kecewa akan ibuku!
Pada akhirnya selepas Isya mereka pergi. Dengan wanti-wanti dan harapan agar lekas sembuh lagi. Rumah berantakan bekas tadi aku tak mengurusnya, berikut tempat tidur yang jadi korban muntahan. Suamiku yang baik dan sabar malah membereskannya dan langsung membawa ke jamban.
“Nanti akan dicuci, sekarang istirahat dulu,” katanya lembut. Memenuhi keinginanku yang masih ingin diurut dengan Tarason. Aku butuh sentuhan tangannya yang hangat agar nyaman dan lelap.
“Kamu jangan sakit,” katanya. “Kasihan Si Ujang anak kita.” Dan Palung yang usianya baru 3 tahun berada di dekat kami. Bingung dan khawatir. Namun tertawa-tawa kembali, mencari perhatian kami. Kasihan anak itu, tadi ia menangis terus kala aku kesakitan dan suamiku sedang tidak ada.
Bisakah bayangkan anak seusia itu harus “mengurus” ibunya yang berkali-kali ambruk dan muntah-muntah dan nyaris pingsan?
Tadi suami menemukanku telungkup di ambang pintu jamban, kaget, namun aku menolak bangkit, rasa mual dan pusing berkepanjangan membuatku muntah untuk kali pertama, dan rasanya masih ada lagi yang ingin keluar. Duniaku menggasing, aku seolah berada di pusaran gempa dalam pusat sarafku.
Tadi Palung bilang begini pada ayahnya begitu pulang, “Mamah geubis...,” sambil menangis, lalu kembali fokus menonton film di netbook, mengenyot jempolnya.
Untuk sampai ke ambang jamban saja aku harus merangsek ibarat bayi, dan tadi limbung lagi hingga Palung melihatku jatuh. Apa yang bisa dilakukan anak itu? Tak bisa keluar karena pintu dikunci. Tak bisa mengangkatku karena bobotnya cuma 12 kilogram. Lucu.
Suami begitu pulang dari kebun langsung pergi lagi, ke warung Mang Haji untuk beli pupuk dan bibit jagung. Musim tanam telah dimulai seiring musim hujan yang kian deras di bulan Desember ini.
Aku merasa kekuatan air yang indah itu menyakitkan untuk mengiring kenangan. Kenangan akan ibuku yang masih hidup namun jiwanya lapuk dimakan kedengkian dan perilaku buruk.
SMS dari A Tedi, yang diaku ibuku anak angkatnya sejak bayi tapi almarhum Bapak tak setuju mengurusnya. Barangali ia lakukan itu, angkat anak tanpa bahas dulu. Seperti biasa, ibu selalu berbuat sekehendak hati. Dan hasil dari SMS-an dengan A Tedi di Bandung malah membuatku pusing. Tidak, ia tidak berbuat buruk dalam kata-kata, jika kau kira. Ayah tiga anak dan kakek satu cucu itu justru berlaku seolah kakakku, keluarga yang hilang.
Fakta mengejutkan tentang kebusukan ibuku terungkap. Ia anak kandungnya dari suami ibu terdahulu. Ayah A Tedi tentara. Dan sebagai TNI sudah pasti sering ditinggal tugas. Namun sebagai istri ibu tak terima. Ia kawin muda, namun jiwa kekanakannya, yang seperti anak kecil, tak lekang dimakan usia, bahkan sampai menginjak di atas kepala enam. Jika di kampung ini ada yang kawin muda, seiring waktu bisa bersikap matang dan dewasa meski pendidikannya tidak tinggi, ibuku tidak.
Semua orang mengatainya berpikir dengan dengkul. Hanya menurutkan hasrat sesat akan kemegahan dan apa-apa yang melekat. Namun aku tak pernah mengira masa lalu ibu bisa seburuk itu. Pada anak kandung sendiri yang masih bayi tega memberikannya kepada orang lain, seolah membuang anak kucing.
Padahal masih ada suami yang sedang bertugas keluar. Padahal ada aki ayahnya dan Mang Kosim adik bungsunya yang bisa ikut mengurus. Entah apa yang ada di benak ibu sehingga bisa sekalap itu?
Almarhum Bapak bisa jadi tak tahu menahu. Ia berasal dari keluarga orang kaya lama yang terpelajar. Masih keturunan priayi Jawa. Entah dengan cara bagaimana ibu bisa memikatnya. Mengaku sebagai gadiskah? Atau janda tanpa anak? Atau istri yang disia-siakan suami? Padahal Bapak sudah beranak-istri -- yang lalu cerai kala Bapak menikahi ibu.
A Tedi membeberkan aib ibu lagi kala aku tanya muasalnya. Waktu itu ia habis dimandikan aki dan Mang Kosim di kampung. katanya (entah benar atau tidak). Ibu datang dari Bandung. Membawanya pergi ke kota tempat mengadu nasib. Padahal ia bisa saja tinggal dan hidup di kampung dengan cara bersahaja, namun ibu terlalu silau akan kehidupan kota.
Ketika ibu kembali lagi, tanpa bayi, tentu saja membuat kaget Aki dan Mang Kosim. Ibu mengaku anak itu telah diberikannya pada orang lain. Keluarganya murka. Ibu diusir. Suaminya kala kembali menemukan anak semata wayangnya telah “dilenyapkan” langsung menceraikan ibu.
Kenapa ibu bisa setega itu? Jika dirunut perilakunya sampai sekarang, aku tak tahu apakah ia jenis pengidap skizofrenia atau kurang iman. Apa bedanya? Terlalu menyakitkan bagiku sebagai anak. Sikap-sikapnya yang kasar dan tak bisa menjaga omongan, orang Sunda bilang poksang. Ditambah prasangka buruk dan kedengkian, berikut kegemarannya menghasut siapa saja yang mendengarkan meski omongannya tak lebih dusta dan fitnah belaka; membuatku tertekan.
Ia tidak mengikuti pengajian seperti kaum ibu sini. Kala aku menegurnya, ia bilang tidak suka pada mereka yang ikut pengajian sebab pamer baju bagus. Padahal tak semua ibu yang menghadiri majlis tersebut berpakaian bagus. Ada yang bersahaja.
Apakah ibuku iri atau kecewa pada kemiskinan yang dirasakannya, atau tak suka pada khtobah ustaz yang bisa jadi sangat menusuknya. Menusuk seorang pemuja kemegahan, terlilit utang pada sekian bank dan rentenir padahal riba itu haram. Dan masih memiliki kepercayaan syirik dengan mendatangi dukun sampai makam yang dianggap keramat. Belum lagi ia sering ditipu pemangsa yang memahami wataknya.
Ibuku cuma pintar berdalih, alasan picik yang menggambarkan bagaimana dirinya. Berdusta agar orang lain simpati atau murka. Menghamburkan rezeki dari almarhum Bapak yang PNS dengan cara mubazir. Memegangnya seolah untuk dirinya saja. Tak berpikir waktu Bapak baru meninggal aku masih kelas 3 SMU dan butuh banyak tabungan untuk bekal melanjutkan sekolah lagi.
Waktu itu ibuku malah bikin skandal memalukan dengan lelaki yang sudah punya anak-istri di desa tetangga. Mang Kosim dan Bi Wati istrinya murka. Aku tak berdaya. Aku tak butuh ayah baru jika cuma bawa masalah. Namun haruskah aku terus mengikuti keinginan ibu yang egois tanpa berpikir akibat ke depan, tunjangan dari Taspen bisa dicabut padahal aku masih butuh biaya? Apa yang bisa dilakukan ibu untuk menghidupi keluarga? Melupakan amanat Bapak tentang mengurus anak dengan benar?
Dan rasa sakit menahun yang akut itu terakumulasi lewat muntah-muntah. Aku berpikir mungkin keracunan atau salah makan. Aku sempat makan petai dari kebun dan sambal, lalu rujak karena pusing rumah ini lagi-lagi diagunkan surat tanahnya ke bank oleh ibu yang suka memegang uang banyak untuk entah apa.
Ketika suami mengangkatku dari ambang jamban itu, pusingku menghebat. Ia pikir lebih baik aku berbaring di kasur. Namun saat berdiri, aku limbung. Aku ambruk mengikuti gravitasi jagat antara ada dan ketiadaan. Aku merasa sangat ringan. Seringan kapas. Disedot pusaran menyakitkan agar meninggalkan kefanaan. Namun aku coba melawan, melawan pingsan yang menghebat itu. Ingin kembali pada dimensi kesadaran. Demi anak dan suami! Aku belum siap meninggalkan mereka. Tak ingin sekarat begini.
Suami duduk sambil memangkuku. Tangisnya meraung diikuti Palung. Aku mencoba bangkit lagi. Masih separuh pingsan yang berusaha keras kulawan. Kini aku mengerti bagaimana rasanya dunia pingsan yang bukan dibius itu. Namun aku tak berdaya. Mengikuti suami yang mengangkatku ke kasur. Begitu tiba di kasur, rasanya isi perutku ingin keluar. Dan aku muntah lebih hebat daripada tadi.
Isi perutku menyembur dari mulut, seakan mulutku keran air deras. Dan aku terempas lemas. Cemas pada muntahan yang telah berhamburan mengotori seprai, selimut, dan pakaian.
Kupikir setelah muntah dan minum obat keadaannya akan membaik. Aku merasa masih ada muntah yang tertahan lagi. Kejang-kejang. Beruntung Wa Odir punya keahlian hingga aku tersembuhkan. Namun luka karena ibu tetap tak terobati. Kekecewaan bahwa ia mengkhianati kami, anak-menantu-cucu-cicit-dan para suaminya, membuatku tak mengerti.
Ia bisa saja mengambil jalan tenang dan senang, namun yang diambilnya adalah lubang kesengsaraan yang menyeret kami semua. Aib dan timbunan utang yang melilit. Ditambah perlakuannya pada abang sulung sebapak pada orang-orang; bahwa ia bukan anak kandungnya, bayi yang tertukar di rumah sakit, dan ia bawa-bawa nama Bapak bahwa Bapak yang mengatakannya sebagai anak tertukar. Mengapa harus bawa-bawa nama orang mati untuk mendukung ambisi sekaligus dustanya?
Rasa sakit itu menekanku. Ia ibuku yang rambutnya sudah beruban, keriput, dan semua giginya yang habis disangga gigi palsu. Selalu berselisih dengan anak-anak, dan pada siapa saja. Sampai abangku kalap. Lewat SMS yang masuk ke ponsel suami, ia mengumpati ibu akan suatu soal pelik di antara mereka, berkaitan dengan uang. Mengancam akan melaporkan ke Taspen agar tunjangannya dicabut sebab sudah dua kali kawin (tapi cerai lagi karena ibu seolah kena karma), mencoreng nama baik suami dan memberatkannya di alam kubur dengan perilaku tak semestinya sebagai seorang ibu dan istri.
Jika itu terjadi, aku tak peduli, tak ingin ikut campur dalam masalah mereka. Kebenaran di mata ibu selalu dibiaskan. Abangku di hari pernikahanku pernah bilang, “Ibu mawa karep sorangan!” Kami sama-sama kecewa pada tingkah ibu yang belanja banyak bahan untuk hajat nikahan aku yang rencananya akan sederhana malah dibuat berlebihan. Uang dari mana? Dari hasil berutang ke orang, bukan bank, dan itu menyakitkan.
Jika ibu selalu mengatai kami semua sebagai anak durhaka tak berguna, sekaligus sering main usir, bagaimana sebenarnya dirinya di mata orang lain? Tidak takutkah ia pada azab Allah sebagai istri dan ibu yang durhaka tak bisa mengemban amanat? Hanya bisa menyalahkan? Dan arti mawa karep sorangan itu mau menang sendiri padahal salah.
Ibu sekarang di Bandung, berjualan daging ayam keliling, mengontrak kamar di lingkungan kumuh, dan modal untuk dagang sekaligus kontrak kamar didapatnya dari berutang! Begitu menyedihkan. Tak bisa dicegah karena ia akan beralasan dan marah-marah.
Aku, suami, A Tedi dan keluarganya tidak memendam dendam. Hanya rasa iba kronis menjurus muak dan kehilangan hormat.  Apalagi ibu masih ingin kaya dan jaya seperti dulu kala Bapak masih ada, ingin punya rumah di Bandung lagi, ingin kawin lagi!***
Cipeujeuh, 19 Desember 2012      

Sabtu, 18 November 2017

Rahim



Cerpen Rohyati Sofjan


“Aku tidak menyesal terlahir sebagai perempuan, Ibrahim, sebab aku berharap dari rahimku kelak, aku akan melahirkan generasi yang lebih baik daripada yang dilahirkan ibuku berupa diriku.”

IBRAHIM tertegun, jadi inilah Run yang sebenarnya, perempuan yang pernah tergila-gila padanya, namun cuma dalam batas kekaguman berupa cinta yang bersifat platonik. Ya, perempuan itu mencintainya, diam-diam, meski tidak cukup yakin dan dalam. Ibrahim tidak keberatan, toh Run tak bermaksud mengganggunya.
Namun kini, cinta Run begitu menggelisahkannya. Padahal ia begitu jauh dan Run tak mendekatinya. Lalu mengapa Ibrahim bisa gelisah; sebab Run pun gelisah dalam cintanya. Dia mencintai Ibrahim, namun dia menyadari tak mendapat tempat dalam tatanan hidup Ibrahim yang ternyata tak lengkap. Dan menyadari itu, Run merasa dunia cinta yang Tuhan berikan padanya mengoyaknya meski bukan hal yang salah alamat.
Mencintai pria seperti Ibrahim, orang lain pasti akan mengecamnya tidak tahu diri. Namun Run tak merasa demikian, dia percaya pada takdir yang menggerakkannya untuk itu. Dia harus menunggu selama tiga tahun. Tiap pria cuma lewat di depan matanya tanpa kesan apa-apa; namun pada Ibrahim, Run menemukan ironisme tak terduga. Dia ingin tertawa. Betapa Tuhan penuh selera humor. Betapa cinta Tuhan yang besar dan tak bisa dia imbangi malah membuatnya bertemu dengan makhluk yang kelak akan mengajarinya bagaimana fragmen cinta itu.
 “Cinta itu apa, Ibrahim?”
Kali ini Run bertanya, dan bisakah Ibrahim menjawabnya.
 “Bukankah telah kau temukan jawabannya pada puisi “Kasidah Cinta” yang kau tulis,” Ibrahim mengelak. Namun Run menjawab dengan ekspresi murung, tegakah Ibrahim melihatnya. Dia terlalu baik, Ibrahim tahu itu. Bibir itu, bibir yang menggoda, inginkah Ibrahim melumatnya?
Run pasti kaget jika demikian. Dia akan menganggap cinta bisa pudar karena sebuah ciuman, sebab dibarengi unsur nafsu hubbussyahwat. Ibrahim tersenyum. Namun sayangnya, mampukah ia melakukan itu? Padahal Run bisa amat menggemaskan di balik keluguan dan kesederhanaan yang dia pancarkan sebagai perempuan yang berusaha meniti kedewasaan.
 “Cinta itu,” Ibrahim masih tersenyum, “ia bisa muncul dalam berbagai bentuk sebagai wujud dari adanya Sang Khalik.” Ibrahim mencoba menjawab. Namun Run tampak tak puas.
 “Sudahkah kau temukan makna cinta yang sesungguhnya, atau telahkah kau dapatkan itu di Jabal Rahmah, juga saat kau mengunjungi Padang Arafah?”
Ibrahim tersentak. Run menatapnya tajam. Ah, perempuan itu bagaimana bisa tahu, cenayang macam apa pula?
 “Aku hanya menduga,” Run seolah bisa membaca jalan pikirannya. “Aku berharap engkau ke sana untuk menemukan kekuatan agar bisa mendapat pencerahan bagi jalan hidupmu yang penuh persimpangan.” Run tersenyum, namun bibir itu tampak pucat.
Mata Ibrahim menerawang ke depan, angannya menengok ke belakang, ke masa di mana ia hidup dalam tatanan yang tak terpahamkan. Dan Run menunggu jawaban. Bisakah Ibrahim memuaskan keingintahuan yang penuh cabang. Kapan bisa Run hentikan, sebab hanya dia sendiri yang menciptakan?
 “Dalam benakmu,” Ibrahim bergumam, “adakah kehidupan lain yang engkau ciptakan bagi kehidupanku?”
 “Hanya ilusi liar, seperti halnya aku berfantasi seksual, kala jenuh dan terangsang oleh suatu pikiran kotor yang mengajak beronani.”
 “Kau berfantasi liar tentangku juga?” Ibrahim tertawa. Kali ini Run ikut tertawa dalam sinar matanya. 
 “Aku tidak tahu bagaimana rasanya persanggamaan itu, namun aku menginginkan seorang lelaki menyetubuhiku bukan cuma untuk birahi semata, melainkan dia bermaksud membuahi dengan kejernihan cinta dari nutfah yang dina, agar kami bisa menciptakan generasi cahaya untuk kami didik mengenal Maha Cahaya; dalam ikatan keluarga sakinah yang mawaddah war rahmah.”
 “Suatu saat kelak, kuharap kau bertemu dengan orang yang menjadi takdirmu untuk itu.” Ibrahim mencoba simpatik, meski perutnya mual dikocok kelugasan Run. Apakah harga kejujuran terkadang memabukkan?
 “Ya,” Run separuh bergumam. “Namun aku tak tahu apakah rahimku bisa melahirkan cahaya harapan itu. Rahimku, rahim seorang perempuan 26 tahun yang gamang dalam meniti kehidupan, masihkah rahimku tetap segar sementara usia mengejarku dalam irama genta perkawinan1 yang entah bagaimana bunyinya?”
 “Belum terlambat, selalu ada suatu saat di mana akan kau temukan jawaban untuk memupus kegelisahan.” Ibrahim mencoba meyakinkan, meski ia sendiri tidak yakin, karena Run perempuan keras kepala yang sulit diyakinkan oleh suatu pendirian yang tak diyakininya.
Keyakinan? Ah, apakah keyakinan itu? Ibrahim disodok oleh suatu pertanyaan mendasar yang tiba-tiba menghantam dari ruang bawah sadar.
 “Keyakinan adalah keniscayaan yang absurd, Ibrahim.” Run membaca apa yang seolah bisa dia baca begitu saja, padahal dia hanya mencoba dengan intuisi khasnya sebagai perempuan yang dibekali kepekaan rasa yang tak dimiliki lawan jenisnya.
 “Kalau saat ini aku tidak yakin akan suatu saat kelak itu, hanya karena aku tak bisa meraba rencana apa lagi yang akan Tuhan perankan untukku.”
 “Akan tetapi, bagaimana denganku?” Ibrahim seolah menemu umpan untuk memancing pertanyaan yang menggelisahkan, tentang bagaimana Run merasa harus jatuh cinta padanya padahal ia sama sekali tak menghendaki hal itu terjadi.
 “Kau adalah bagian dari takdir yang kutemui dengan bergerak, Ibrahim. Kali pertama saat kau masuk ruangan di mana aku tengah menunggu sesuatu, dua tahun lalu, aku sempat pucat sebab takut pada bayangan akan psikopat yang pernah hampir memerkosa sahabat perempuanku dan ikut mengusikku. Tamatlah riwayatku jika ia ada di sana. Kucoba perhatikan mata dan wajahmu, aku lega, untuk kelegaan yang menenteramkan. Namun kau sempat tersenyum kecil, barangkali kau merasa juga diperhatikan seperti itu. Dan tahukah kau, senyummu itu, aku suka senyum macam itu, seulas senyum yang ditujukan bukan untuk menggoda atau sebangsanya.
Dan selanjutnya, ah, sulit menguraikannya. Yang jelas entah mengapa aku harus jatuh cinta padamu. Seolah ada kekuatan yang menghendaki aku untuk itu, padahal aku tidak tahu siapa kau apalagi namamu. Lalu kutemukan berbagai ironisme dalam fragmentasi lainnya tentang kau. Betapa hidup penuh ketakterdugaan yang mengandung perumpamaan akan hakikat keberadaan kita di muka bumi ini. Aku tak pernah menyesal pernah mencintaimu, Ibrahim, meski aku cuma mengenalmu sekelebatan saja. Aku hanya akan menyesal jika kau menyesal aku mencintaimu. Padahal aku tak ingin hidup dalam penyesalan yang tak perlu kita sesali.
Katakan apakah jatuh cinta itu dosa, sebab cinta itu milik-Nya, meski terkadang kita tak tahu bagaimana cara menempatkannya?”
Hening mengambang. Jiwa Run dan Ibrahim seolah melebur dalam spektrum cahaya warna-warni yang berpendaran.
Ibrahim tak mendapat jawaban.
Run masih mencari jawaban.
Ibrahim merasa harus berakhir.
Run bilang dia bukan Salma Kharamy.
Ibrahim bilang, “Bukankah kau tak terlalu suka Gibran yang menurutmu bahasanya terlalu berbunga-bunga.”
Run bilang dia  ingin membaca Sayap-sayap Patah-nya Kahlil Gibran, sebab dia sudah bosan mengembara dalam dunia maya dan menghabiskan entah berapa puluh ribu tiap bulannya untuk itu sehingga lupa beli buku.
Ibrahim bilang, “Karena kawan masa kecilmu yang membuatmu betah demikian.”
Run bilang dia malah ingin chatting dengan Ibrahim, namun itu akan menyalahi komitmennya tentang cinta platonis.
Ibrahim bilang, “Kau pemimpi.”
“Aku membangun mimpi sebagai pondasi hidupku, kelak akan menjadi istana bagi kediaman ruhaniku yang telah mengembara selama sekian lama.”
 “Namun kau akan lelah juga pada akhirnya,” tukas Ibrahim.
 “Kita sudah sama-sama lelah, Ibrahim. Namun selalu akan ada oase bagi jiwa kita yang kadang nestapa.”
 “Oase itu berupa puisi yang hendak kau tawarkan padaku,” Ibrahim mengejek.
 “Aku bukan penyair bagi hidupmu, kaulah yang penyair bagi hidupmu sendiri!”2 Run tegang.
Ibrahim diam. Ia cuma tak ingin menambah ketegangan. Ia harus mengalah, membiarkan Run mencintainya seperti itu. Sampai Run bosan dan menemu cinta lain, atau dipertemukan pada cinta selanjutnya oleh Yang Memberi Cinta. Meski entah kapan?
Apa salahnya membiarkan Run mencintai seseorang, toh orang tersebut membuat hidupnya lebih hidup. Barangkali takdir itu rumit dan berkelindan.
Ibrahim ada agar Run merasa ada dan hidupnya lebih berirama dan berwarna. Meski Ibrahim merasa kehidupan cintanya penuh tanda tanya.
Ia pun merasa memburu bayangan. Dan cinta adalah bayangan itu.
Ibrahim gelisah dalam cinta yang tetap menyisakan rahasia besar untuk diungkapkan.
“Seseorang pernah bilang padaku tanpa diminta, apalah arti cinta. Hanya manusia sok perfek saja yang mengaku tahu segalanya tentang cinta dan Tuhan tidak gombal. Tuhan memang tidak gombal, Ibrahim. Namun untuk apa Dia ciptakan Adam dan Hawa? Telah kulemparkan kitab-kitab sufi peninggalan almarhum ayahku karena aku tidak paham kehidupan sufi macam apa yang sengaja mengasingkan diri dari kehidupan duniawi sedemikian rupa dan terlalu asyik dengan hal rohani. Seperti yang pernah kubaca dalam Kemarau-nya A.A. Navis saat usiaku sekira 14 tahun.3
Untuk Rabiah Al Adawiyah, aku masih bisa memahami intisari dari buku yang  kubaca tentangnya. Namun ayahku tak terlalu paham soal tarekat kesufian sehingga ia salah memilih buku, kecuali Al Ihya ‘Ulumuddin karya Imam Al Ghazali yang kini berada di tangan sepupuku.
Iqbal saja membahas soal sufi dalam Dinamika Islam karya Syed Habibul Haq Nadvi.4 Ia pun minum dari cangkir Rumi. Namun sebagaimana halnya dengan  Rumi, ia pun tidak taklid. Maka, Ibrahim, aku mencintaimu bukan sesuatu yang taklid.
Kelak sayapku akan mengepak pada jiwa yang kuharap telah Tuhan kehendaki bagi rahimku. Aku hanyalah pemain dalam panggung sandiwara dunia ini. Dan lakon yang kita perankan sepenuhnya bergantung bagaimana kita masing-masing. Kita tetap punya pilihan, Ibrahim. Namun aku merasa bahwa engkau tidak menginginkan aku berperan sebagai seorang pencinta mabuk kepayang dalam anggapan sesiapa yang merasa demikian. Maka selamat tinggal. Aku harus melesat ke lain cakrawala, mudah-mudahan kutemukan mahabbah-Nya.”
Ada kilat di langit kelam.
Ibrahim dan Run merasa kilat itu memisahkan mereka. Dalam getar-getar doa.***
Bandung, 21 April  2002, 23.45 WIB
Revisi: Bandung, 16 Desember 2003
Dimuat di BEN! #20 - Januari 2005

Catatan:
1 Diambil dari judul cerpen Abidah El Khalieqy dalam Menari di Atas Gunting, Jendela, 2001: 145.
2 Pada dasarnya ia bukan penyair, kata itu merupakan kiasan bagi hidup seseorang atau siapa saja yang menyadari bahwa hidup adalah semacam puisi tak bertepi untuk diisi.
3 Terima kasihku bagi mendiang Navis yang lewat karyanya itu sempat memengaruhi aspek kejiwaanku sehingga membekas sampai aku berada di dunia menulis ini.
4 Penerbit Risalah, Bandung, 1984
# Kupersembahkan fiksi ini bagi seorang “guru” dari sekian guru yang kukenal sepanjang sejarah hidupku; salam takzim sepenuh cinta dan semoga memaafkan kesalahpahaman (berikut keliaran imajinasi) yang berbuah karya ini. Anda adalah inspirator dalam duniaku. Wallahu a’lam.