Tampilkan postingan dengan label Jelajah Pustaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jelajah Pustaka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 20 Maret 2014

Dan Alam pun Bertasbih



Jelajah Pustaka

Dan Alam pun Bertasbih

Oleh Rohyati Sofjan

*Penulis Lepas


S
aya iri pada anak zaman sekarang, mereka beroleh akses informasi dengan mudah, bagus pula. Syukur-syukur jika mereka bisa menggunakannya untuk mengoptimalkan potensi diri ke arah yang lebih baik secara positif. Apalagi dunia penerbitan sekarang lebih maju dibanding dengan zaman saya masih bersekolah dulu. Itulah sebabnya mengapa saya iri ketika membaca buku ajar biologi anak tetangga yang pelajar kelas XII Madrasah Aliyah. Judul di atas merupakan judul buku ajarnya, diterbitkan Balai Pustaka (cetakan pertama, Mei 2008), dengan stiker “Milik Departemen Agama RI Tidak Diperjualbelikan”, itu milik sekolah.
Dan Alam pun Bertasbih, begitu puitis. Andai saja semua buku ajar menggunakan metafora sastra baik sebagai judul maupun isi pasti itu akan sangat menggugah minat siswa agar mereka mencintai ilmu dengan kesungguhan hati. Pelajaran biologi bisa disampaikan secara menarik dengan ilustrasi berupa tabel, bagan, grafik, dan beragam foto berwarna yang bisa mempermudah siswa untuk mengenali bentuk sekaligus keagungan ciptaan illahi. Yang lebih penting lagi adalah bahasa! Bagaimana menyampaikan sesuatu yang dianggap berat secara ringan, jelas, bernas, dan meresap. Bahwa tidak zamannya lagi siswa harus hafal tanpa paham substansinya. Mereka bisa belajar dengan rasa cinta pada ilmu. Belajar dengan rasa syukur dan tawadu pada Allah Sang Maha Mencipta, sebab relung kesadaran mereka digugah untuk merenungkan makna kehidupan. Manusia tak lebih dari partikel kecil dari penciptaan jagat raya ini. Ilmu semestinya disampaikan secara bersahabat dengan bahasa yang komunikatif dan mengena. Bahasa kering dan bertele-tele hanya akan membuat anak didik merasa berjarak dengan ilmu sendiri. Ini pengalaman yang pernah saya rasakan selama 12 tahun bersekolah di sekolah umum. Apa yang pernah disampaikan menguap begitu saja. Buku ajar tak lebih dari materi yang membosankan, sekumpulan teks miskin imajinasi. Itulah sebabnya saya iri pada anak zaman sekarang, mereka beroleh kemudahan yang mestinya dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Jika pelajaran sastra dianggap terpinggirkan, tidakkah sastra sendiri bisa diaplikasikan dalam beragam buku ajar? Setidaknya keindahan dan fleksibilitas bahasa Indonesia menyentuh masyarakat banyak, secara dini pula. Dan dengan itu, siapa tahu masalah kekacauan berbahasa bisa diatasi. Tentunya sastra yang tak mengabaikan gramatika.
Dan Alam pun Bertasbih sesungguhnya bisa membantu siapa saja untuk memahami biologi secara keseluruhan, dengan kajian islami. Buku yang terasa istimewa karena terdapat beberapa kolom seperti Tahukah Kamu agar kita bisa tahu berbagai macam keterkaitannya dengan materi yang dibahas; Aplikasi Nyata yang memuat artikel penting tentang materi terkini; Ayat-ayat Qauliyah berisi kutipan arti ayat-ayat Al Qur’an yang berhubungan dengan materi; Mutiara Hikmah; Hadist yang mencantumkan hukum Islam; Tafakur yang memuat kontemplasi mendalam terhadap fenomena alam yang didasari atas keseimbangan daya pikir dan zikir; Tokoh Muslim yang menampilkan sosok-sosok pahlawan muslim biologi yang berjasa; dan Fakta yang Menakjubkan.
Ilmu sesungguhnya sangat bermanfaat jika disampaikan dengan bahasa yang jelas sekaligus mengena, bukan saatnya lagi siswa dicekoki buku ajar yang abai soal itu. Alangkah indahnya jika bahasa Indonesia tidak melulu mencakup sastra semata peruntukannya.
Limbangan, Garut, 17 April 2011

Rabu, 26 Februari 2014

Puisi yang Dimabuk Senja



RESENSI

( Pustaka Nusantara)

Puisi yang Dimabuk Senja

 

DATA BUKU            : KUUKIR SENJA DARI BALIK JENDELA
PENULIS                  : NOVY NOORHAYATI  SYAHFIDA
PENERBIT               : PUSTAKA NUSANTARA
CETAKAN                : PERTAMA, DESEMBER 2013
TEBAL                      : 109 HALAMAN
ISBN                          : 978-602-7645-18-9
HARGA                     : RP35.000,-  

ADALAH senja, panorama yang senantiasa mengilhami penyair untuk memuisikannya, menggoda orang turut menafsirkan dalam beragam persepsi sesuai ranah pengalaman. Dan Novy Noorhayati Syahfida mengumpulkan kepingan senja yang sarat cerita dalam antologi puisi tunggalnya, Kuukir Senja dari Balik Jendela.

Seperti Seno Gumira Ajidarma yang bercerita dalam cerpen “Senja di Balik Jendela”,  Novy mengukir senja dalam puisinya, senja yang sarat cerita. Sukacita dan duka berbaur menjadi satu dalam irama kehidupan, dan yang menyatukan kepingan manik kenangan adalah cinta.

Berceritalah tentang cinta dalam balutan senja, maka dapatkan panorama rasa yang menghanyutkan. Sebagai penyair, Novy cenderung liris sekaligus lembut memuisikan senja; meski marah, sedih, bahagia, atau terluka.

Bisa saja baginya, senja telah mati/ dalam pekik sunyi nelayan pantai/ terkurung bersama ribuan camar tua/ yang terluka// dalam “Kematian Senja”. Atau juga mengumpamakan dirinya sebagai, aku ini senja/ yang kadang berwarna jingga/ namun pernah pula merah menyala/ …aku ini senja/ jangan panggil yang lain/ karena senja tak meninggalkan sisa// (hal 24).

Senja, dalam tafsiran KBBI, bermakna waktu (hari) setengah gelap,  sesudah matahari terbenam. Apa yang tersisa dari senja sendiri selain kegelapan malam. Apakah Novy, sebagai senja, merasa dirinya tak menyisakan apa-apa setelah pudarnya pesona yang dipancarkan jika “gelap” menjelang, hanya meninggalkan kehampaan dan ruang misteri terbesar?

Akan tetapi, jika dirinya adalah senja, setiap saat selalu memampangkan pesona meskipun pada akhirnya karam ditelan malam. Pun sebagai penyair, Novy seakan dimabuk senja, lalu mengajak kita ikut berpesta dalam  “Aku Senja dan Kau adalah Ombak”: Aku senja dan kau adalah ombak/ bertemu dalam satu titik yang sama/ kerinduan…/ pada batu karang serta pepasiran/ pada nyiur yang melambai enggan// Aku senja dan kau adalah ombak/ yang letih mengharap/ pada cinta…/ di luasnya samudera/ di langit nan jingga// Aku senja dan kau adalah ombak/ aku yang dimabuk cahaya/ dan kau yang bersetia/ mari kita tuang lagi satu puisi/ di sini, di pantai ini…//

Ada 100 puisi dalam antologi ini, Proses kreatif yang panjang dan produktif, dengan titi mangsa tahun 1997 sampai 2013. Betapa Novy rajin berkreasi mengolah alur pikir dan rasa menjelma puisi. Dan dengan judul  Kuukir Senja dari Balik Jendela, sebenarnya seakan menunjukkan betapa Novy merasa dirinya sebagai pengamat. Dari balik jendela ia menyaksikan berbingkai-bingkai panorama senja yang sarat cerita.

Puisi yang ditulisnya cenderung  pendek, liris, dan mudah dipahami. Bermain dengan imaji. Ada yang kuat ada pula yang lemah. Bergantung selera penafsiran pembaca. Penyair kelahiran Jakarta, 12 November 1976 ini menulis puisi sejak usia 11 tahun. Jika dirunut dari jejak panjang kepenyairannya berarti Novy telah 26 tahun berpuisi. Rekor yang mengagumkan.

Setiap puisi mengajak kita menapaktilasi peristiwa yang dipaparkan penyair, setiap puisi adalah kelindan peristiwa itu sendiri. Dan setiap puisi merekam takdir. Meskipun sepi.

Puisi membawa kita pada keheningan atau hiruk-pikuk peristiwa. Ditujukan pada seseorang atau sesuatu, ada juga untuk pencipta langit dan bumi. Puisi adalah kabaran jiwa, upaya manusia agar karsa terpelihara.

Begitu pun dengan Novy, bersikeras menjaga elan vital karyanya bukanlah hal mudah. Sebagaimana pasang-surut laut, hidup pun adakalanya membuat kita terpuruk. 100 karya yang ditawarkannya adalah upaya mengajak pembaca menafsirkan sekaligus menikmati senja. Senja bisa mengajak kita memahami rahasia usia, sekaligus sesuatu yang fana.

Sebuah catatan bagaimanapun harus ditorehkan sebagai apresiasi sekaligus kritik konstruktif. Sebagai penyair Novy telah memiliki ciri khas dalam puisinya, pilihan diksi yang sederhana dan mudah dipahami. Seakan ia ingin leluasa berkomunikasi, mendedah pikir dan rasa tanpa kendala. Dan rima pun terjaga. Akan tetapi, masih ada yang perlu dikoreksi. Kekinian dalam berbahasa!

Puisi bisa berlindung di balik licentia poetica, namun sebagai penyair yang baik janganlah mengabaikan gramatika. Ilmu tata bahasa bagaimanapun untuk melengkapi karya penyair agar lebih bernas. Samudera yang dipilih Novy kiranya bisa “dibakukan” menjadi samudra. Janganlah bunyi dijadikan dalih sebagai pemberi kekuatan dan pengaruh bagi puisi, bagaimanapun bahasa jangan dikebiri.

Sebaiknya penyair khatam EYD dan panduan berbahasa agar karyanya tetap elok dinikmati sepanjang masa. Dan semoga kelemahan Novy dalam beberapa bagian kelak bisa dikoreksi. Tabik! (*)

ROHYATI SOFJAN, Penulis lepas, tinggal di Garut    

Limbangan, Garut, 12 Februari 2014
> Dimuat harian Jawa Pos, Minggu, 16 Februari 2014 


(Foto Untung Wahyudi)


Meresapi 30 Riwayat Napas



Resensi

(Foto Sampul oleh Ferina Meliasanti)

Meresapi 30 Riwayat Napas


DATA BUKU            : UPACARA BAKAR RAMBUT

PENULIS                   : DIAN HARTATI

PENERBIT                : MEDIUM DAN RUMAH SENI LUNAR

CETAKAN                 : PERTAMA, DESEMBER 2013

TEBAL                       : 98 HALAMAN

ISBN                           : 978-602-8144-20-9

HARGA                      : RP38.000


M
emasuki belantara kata terkadang membuat kita sesat dalam ketakjuban atau kebingungan. Lalu hanyut dialun rasa asing. Sebuah dunia tak dikenal telah kita masuki, tempat belajar mengenal perasaan dan pengalaman orang lain. Dan memasuki wilayah puisi adalah pengalaman turut serta berbagi dengan penyair.
Mengenal Dian Hartati secara pribadi membuat saya subjektif menilai puisinya. Ia pernah berbagi hari, hari-hari sulit dan rungsing sampai hari-hari tenang penuh kedamaian. Begitu pun saya terhadapnya. Yang membedakan di antara kami adalah ketekunannya  berladang kata. Mendedah setiap peristiwa yang terjadi dengan puisi.
Dunia kami yang berbeda terkadang membuat saya iri pada kemampuan dan kemajuannya mengolah alur rasa dan pikir sedemikian subtil. Saya tercengang membaca CV-nya sebagai penyair. Begitu banyak karya yang diterbitkan. Dan jelang usia kepala tiga, sadar atau tidak, ia seakan telah menerapkan prinsip penting dalam hidup: jangan mubazir!
Membaca Upacara Bakar Rambut, saya menyesali diri karena tak berbuat banyak untuk melipur lara karib yang berduka. Saya adalah pembaca yang “turut-serta” sekaligus in absentia. Dan sekarang, saya sedang berhadapan dengan autobiografinya. Nuansa muram begitu pekat, sepekat dukacita. Namun saya harap Dian tak berlarat-larat dalam duka semacam itu. Marilah, masih banyak tangan untuk digenggam, atau bahu untuk bersandar; sekadar menguatkan.
Jika Putu Arya Tirtawirya berpendapat bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit, samar dengan makna yang tersirat di mana kata-katanya condong pada makna konotatif. Saya merasa Dian berjiwa bebas dalam menulis puisi. Mengikuti alur yang diteorikan oleh Putu Arya Tirtawirya, namun bisa juga sebaliknya bermain dalam ranah eksplisit sekaligus denotatif. Kentara baginya bahwa puisi adalah bagian dari keseharian, tempat mendedah perasaan, sebagai perempuan yang terkadang dipaksa tegar oleh keadaan.
Dan membaca 30 puisi dalam Upacara Bakar Rambut bukanlah perkara mudah bagi saya untuk memahaminya. Terkadang Dian membawa saya ke dalam dunianya yang seolah surealis, ngungun dialun mimpi. Kata-kata boleh diungkapkan secara sederhana, namun makna seringkali tersembunyi dalam relung gelap yang sulit dijelajahi pembaca awam macam saya. Puisi semacam itu bukanlah ditujukan untuk menyesatkan pembaca; tak lebih dari semacam kabut kesadaran yang sedang menyelubungi penyair kala ia dihinggapi stimung hingga trance mendedah rasa, membelah jiwa, agar menjelma makna.
di dalam semadi,/ aku merasakan kematian yang dingin/ tangan maut terus menarik akar rambut/ aku melihat si pemilik mata merah/ wajah bengisnya merontokkan segala usaha// hangat tubuh mengelilingi ruang semadi/ ternyata angin tak dapat meredam semua/ tangis tak memiliki arti/ dan warna kehidupan mengacaukan isi kepala// aku membuka mata/ melihat cahaya berkedipan/ mencari pintu, jalan keluar yang tak juga terbuka// SudutBumi, 2013 (“Upacara Bakar Rambut”)
                   
Dian seolah menjadikan puisi sebagai napas kesehariannya. Hidup dengan bernapaskan puisi membutuhkan kepekaan yang harus senantiasa diasah, terus-menerus. Mencermati peristiwa, bahwa hal remeh ternyata berharga. Dan cinta bukanlah perkara remeh-temeh semata. Kalaupun dianggap remeh bagi orang lain, Dian mengolahnya agar kita mengenal dimensi kehidupan bahwa empati dan simpati janganlah mati.
aku sedih/ begitu aku berbisik di telingamu/ kau masih saja bertahan di pembaringan/ berteman dengan hangat tubuh dan batuk/ padahal tadi pagi kita telah/ melakukan perjalanan panjang/ bercerita pada laut yang sedang bergelora/ berkisah tentang sakitmu/ pada ikan-ikan dan pasir pantai// sedang menulis puisi/ begitu aku berbisik di telingamu/ sedikit berbohong karena sepanjang/ siang aku banyak melamun/ memikirkan kamu, rumah,/ dan tabungan yang hampir habis/ segalanya telah kuupayakan/ bahkan aku telah lupa cara/ berkeluh di hadapanmu/ cara menangis yang sebelumnya/ kukemas manis// duduk di hadapanmu/ aku diam/ meraba seluruh wajah dan tubuh/ aku ingin waktu cepat berlalu/ dan kau sehat seperti waktu-waktu lampau/ berjalan pongah dengan lelucon yang siap/ ditembakkan// aku mencintaimu/ begitu aku berbisik di telingamu// Bumiwangi, 2012 (“Begitu Aku Berbisik di Telingamu”)
Baiklah, membaca 30 puisi Dian Hartati dalam antologi ini seakan meresapi 30 riwayat napas hidup sang penyair. Sangat kentara warna kelabunya. Seperti langit pada akhir tahun yang lebih sering mendung. Anggap saja Dian telah membukukan sebagian dari bab kehidupannya, bahwa kenangan adalah jejak langkah di masa silam demi langkah lain ke masa depan. Semoga kelak Dian tetap berkarya, mencipta, dan tidak melulu tentang duka.
Ada hal penting yang lagi-lagi harus diperhatikan agar tak cepat berpuas diri, kritik tetap harus mengiringi karya. Kalaupun ada yang harus saya kritisi adalah soal terlalu cairnya Dian membahasakan puisi. Butuh kehati-hatian ekstra agar irama tak dikebiri. Ya, rima dalam persajakan bagaimanapun memberi ruh bagi puisi agar tak cuma enak dan indah diresapi, juga menguatkan makna. Jadi, janganlah demi mengejar momen puitik lantas mengabaikan bangunan estetik.
Jika Ralph Waldo Emerson bilang, “Puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata-kata sesedikit mungkin.”  Berbahagialah penyair. Mencipta puisi di tengah gebalau dan bising peristiwa adalah hal istimewa, sebab kita telah menjadikannya ada, mengabadi dalam kata.(*)
Limbangan, Garut, 26 November 2013
*Rohyati Sofjan, Penulis Lepas Tinggal di Limbangan, Garut
Ø  Dimuat di harian Jawa Pos, Minggu, 5 Januari 2014

 
(Foto Koran oleh Anang Muaddin)


Minggu, 23 Februari 2014

Senja yang Bercerita

Sebuah Pertanyaan untuk Cinta 
(Foto diambil dari )




Esai Sastra


Senja yang Bercerita

(Renungan dari Sebuah Pertanyaan untuk Cinta,

Seno Gumira Ajidarma)


Oleh Rohyati Sofjan


Senja. Mengapa lelaki suka sekali menyebut senja, terutama para pengarang  (termasuk penyair!), mereka pasti menulis senja. Lalu apa istimewanya senja? Adakah daya magis dari kata yang seolah tak sederhana apalagi biasa? Mungkin senja itu luar biasa, ya seluar-biasa keajaiban alam ciptaan Tuhan. Senja adalah proses metamorfosis, antara terang dengan kegelapan, antara ruang yang melebar dan menyempit, berikut aktivitas penghuni bumi; termasuk angin, air, dan gelombang lautan.
          Senja ada karena bumi berputar pada porosnya mengelilingi matahari, rotasi semacam itu menampilkan senja-senja  yang selalu hadir di belahan dunia mana. Namun Seno, mengapa sih ia senantiasa bersenja ria? Kadang senja-nya memikat, kadang membosankan.
Semua suasana senja pasti masuk dalam cerpennya. Entah “Nocturno”, “Dua Lelaki”, “Gelang untuk Kaki Seorang Wanita”, “Senja di Balik jendela”, dan “Je t’aime” di antologi cerpen Sebuah Pertanyaan untuk Cinta; sampai “Peselancar Agung”   di Republika (Ahad, 21 Mei 2000).
Apakah Seno begitu tergila-gila pada senja, atau senja memang menghanyutkan? Kalau sudah demikian, siapa yang lebih melankolis, lelaki atau perempuan? Atau memang kedua-duanya saling memengaruhi?
Senja Seno di “Peselancar Agung” lebih banyak berdeskripsi, dan terus terang itu agak membosankan meski iramanya konstan. Ada apa sih dengan pemandangan alam yang tiba-tiba saja bisa menjadi absurd? Atau memang dunia ini sudah begitu absurdnya, memaksa pembaca memasuki ruang absurditas; meraba-raba mencari makna yang mungkin tak pernah dikenalnya.
Seno mungkin hebat dalam mendeskripsikan apa pun, menyeret pembaca untuk hanyut mengarungi jeram imajinasinya. Seorang lelaki yang begitu matang dan berani, imajinya penuh kejutan yang menyentak. Ia begitu liar sekaligus melankolis. Semua diksi yang ia ungkapkan selalu punya kekuatan, ada roh yang menghidupkan.
Senja Seno dalam cerpennya tak selalu sama. Suasananya memang senja, namun adegannya berbeda-beda. Bisa di beranda menghadap pantai, di jantung Kota Jakarta, di sudut taman Kota Singapura, di balik jendela, sampai di dalam mobil yang meluncur di atas jalan raya. Bahkan di suatu kota di mana pelangi tak pernah memudar warnanya.
Namun semua senja yang Seno paparkan tak sembarangan. Semua “senja”-nya selalu bercerita. Begitu puitis, mistis, melankolis, romantis, ironis, sampai tragis.
Begitulah hidup. Ada tangis dan tawa, seolah mereka kawan lama yang tak terpisahkan sampai kapan pun, meski bisa saja mereka membosankan. Mungkin hidup harus demikian, harus ada kata bosan. Bukankah jika kita bosan pada  sesuatu, bisa beralih pada hal lain yang dianggap baru dan tak membosankan. Ganti suasana. Bosan lagi. Kalau sudah demikian, apa arti hidup?
Namun hidup selalu penuh kejutan. Sebagaimana paparan di atas, Seno akan selalu mengejutkan. Elegan dan jantan, sekaligus jahanam. Ia memotret senja dari berbagai angle. Memprosesnya. Lalu membingkainya  dalam berbagai frame. Menghasilkan cerita yang bergambar atau gambar yang bercerita; bercerita banyak tentunya. Untuk kau rasakan, untuk kau bayangkan, sampai tersimpan dalam alam bawah sadar. Lalu keluar dari memori otak sekian mega byte­-mu, kala kau ingin mengenangnya kembali atau terkenang begitu saja tanpa disadari.
Senja adalah tamu tak diundang  yang senantiasa ditunggu kehadirannya, saat manusia lelah memburu hari dan senja mengisyaratkan untuk berhenti. Ia bisa datang tiba-tiba pada waktu yang sebenarnya bisa diduga, namun lebih banyak manusia lupa.
Apakah seorang wanita menunggui senja untuk memutuskan sesuatu dalam hidupnya? Menikmatinya. Lalu disadarkan pada malam bahwa ia harus pergi dan kembali jadi petualang. Namun untuk apa ia pergi? Bertualang dari satu cinta ke cinta lain, mencari cinta dari setiap lelaki yang ia jumpai, sampai lupa dan asing akan maknanya. Untuk mimpi atau cinta yang tak pernah puas ia cari, di dunia yang memang tak abadi? (“Nocturno”)
Kalau sudah demikian, Seno seolah menggambarkan,  bahwa bukan hanya lelaki saja yang bertualang, wanita pun bisa demikian. Akan tetapi, manusia memang musafir, mencari-cari tujuan sampai tidak tahu tujuan apa yang ia cari dan kapan berhenti.

Begitulah, dua lelaki yang mungkin berkawan baik berjalan pulang sembari mencoba menikmati panorama senja dengan ragam penghuninya di jantung Kota Jakarta. Kau melemparkan problem yang menyesakkan. Sesuatu dalam hidup yang tiba-tiba berubah, seperti senja, mungkin. Bagaimana rasanya jika kau punya seorang istri yang bagimu adalah segalanya, lalu semuanya berakhir. Kalian bercerai ketika perkawinan sudah terasa seperti neraka dan tak bisa dipertahankan keutuhannya. Kau menumpahkan kekesalan pada kawanmu yang tetap berperan sebagai pendengar yang baik. Sampai senja berakhir, di kelokan jalan kalian berpisah. Kau pergi tanpa menoleh lagi. Kawanmu diam-diam memperhatikan. Sampai kau menghilang dari pandangan. Lalu ia bergegas pergi. Senja benar-benar berakhir. Malam digelar. Ia akan menemui mantan istrimu. Mereka sudah janjian: ada kencan! (“Dua Lelaki”)
Barangkali inilah dramaturgi perkawinan yang berakhir dengan perceraian. Seperti senja. Sekelebatan. Indah dipandang  lalu hilang. Dalam hidup memang ada “senja” lain;  senja absurd. Semuanya berganti dengan cepat, menjadi malam yang metaforis: gelap. Akan tetapi, pasti esoknya ada pagi, siang, sore, lalu senja lagi. Hidup ini memang berirama dan berwarna, serta serba tak terduga.

Ada apa dengan kaki seorang wanita? Barangkali di mata lelaki, kaki wanita punya daya tarik tersendiri. Seksi, menggairahkan, dan sudah tentu merangsang ketika dipandang. Dan di mata Seno sendiri, kaki seorang wanita adalah sumber inspirasi. Suatu keindahan dalam makna yang sebenarnya, bukan suatu bayangan vulgar untuk dibawa dalam mimpi yang jorok dan murahan..
Memasangkan gelang di kaki seorang wanita, di suatu sudut dalam taman Kota Singapura, pada suatu senja. Hingga membentuk suatu siluet yang begitu indahnya. Memasangkannya sih mudah, namun bagaimana jika kau meminta seorang wanita yang (mungkin) tak kau kenal apalagi mengenalimu; agar bersedia menyandarkan sebelah kakinya di pangkuanmu, untuk kau pasangkan gelang, lalu mengelusnya perlahan-lahan. Pada suatu senja tentunya. Dan yang jelas gelang itu bukan sembarang gelang, sebuah gelang yang didapat kala mengunjungi negeri Atap Dunia dan butuh perjuangan untuk ke sana: Nepal, di mana eksotisme tak memudar! Lalu kau memberikannya begitu saja kepada seorang wanita yang di matamu memiliki kaki terindah. (“Gelang untuk Kaki Seorang Wanita”)
Apakah dengan itu Seno seolah ingin mengungkapkan, bahwa semua hasil perjuangan lelaki di dunia tidak berarti jika tak membaginya dengan wanita?   

Apakah senja begitu romantis dan melankolisnya di mata seorang lelaki, hingga membuatnya terkenang-kenang pada suatu senja lain, di masa yang lain. Mengenang seorang wanita dalam hidupnya, yang datang lalu pergi begitu saja. Sekelebatan. Dan kau tak menduga ia akan pergi dengan cara yang begitu manisnya: menciumi kelopak mawar di rumpunnya, mengelus bunga di tepi jalan, melangkah lincah dengan kaki telanjang dan gaun putih berkibaran, lalu lenyap seolah ditelan kabut yang mengendap, sampai kau tak bisa melihatnya lagi. Dan kau bertanya, ada di mana ia gerangan? Namun wanita memang senantiasa meninggalkan tanda tanya bagi lelaki dengan jutaan misteri tak terungkapkan. Apakah bagi lelaki, wanita itu misteri tak terpahamkan? (“Senja di Balik jendela”)
Ada sesuatu dalam senja itu, senja di balik jendela yang Seno ungkapkan. Jika kita melihat jendela yang terpentang lebar, ibarat melongok ruang yang dalam, ruang yang pernah kita isi tetapi tak bisa kembali ke sana untuk mengulanginya lagi. Hidup senantiasa berubah. Seperti “senja” dan “cinta”. Dan cinta biasanya tak pandang usia, bisa saja seorang lelaki tertarik pada wanita yang 12 tahun lebih tua darinya. Dan cinta selalu serba mungkin, meski wanita sendiri bisa gamang akan cinta karena takut tua atau hal lainnya.
Bagi wanita, tua memang proses, namun prosesnya tak sesederhana itu. Anggapan bahwa wanita harus indah atau wanita adalah sumber keindahan, kadang menjadi bumerang bagi wanita sendiri. Mereka bisa meragukan cinta, dari seorang lelaki yang paling tulus sekalipun. Ketika muda, wanita bisa dianggap segalanya. Namun ketika waktu bergulir, dari senja ke senja lain; mereka menyadari, betapa keriput sampai menopause bisa menjatuhkannya.
Akan tetapi, Seno berpikir lain. Kecantikan memang akan lumer, namun tidak keindahan dalam diri wanita. Lantas, keindahan macam apa lagi yang seno jabarkan -- selain senyum dan mata yang bercahaya? Akankah wanita penasaran karenanya? Keindahan memang ada dalam diri wanita, keindahan yang bisa bukan bentuk fisik sekalipun.
Kalau sudah demikian, mungkin wanita harus keluar dari lingkaran hedonismenya dan memercayai keindahan dalam (inner beauty), keindahan yang memancar tanpa pulasan. Dan definisi keindahan bisa apa saja. Termasuk hati dan isi kepala, sesuatu yang bisa membuat lelaki jatuh cinta. Namun apakah wanita hanya hidup untuk cinta? Wanita pun bisa gamang. Kadang mereka tak tahu untuk apa dan siapa berdandan, sampai segala keindahan yang dimilikinya. Untuk dirinya, untuk orang lain, atau memang sudah seharusnya? 

Kadang senja bisa merupakan pergantian suasana. Ikut ambil bagian dalam hidup seorang lelaki. Dari tiga wanita yang masuk dalam hidupnya, sekaligus, ia pun membagi cinta dan hidupnya untuk wanita-wanita yang memang tak bisa ia lepaskan. (“Je t’aime”)
Mungkinkah bagi lelaki, seorang wanita di dunia tak pernah cukup baginya? Mengapa lelaki selalu bisa membagi cintanya? Adakah cinta lelaki yang utuh untuk seorang wanita? Hanya untuk seorang wanita?!
Ah, Seno memang gila! Wanita bisa belajar dari tulisannya.

Membaca cerpen Geno Gumira Ajidarma sebenarnya tak selalu bisa “asal baca”, ada muatan nilai filosofis di dalamnya. Bisa ringan, bisa pula berat. Interpretasi Seno tentang senja -- berikut sejuta cerita -- awalnya membosankan. Mungkin tak mudah memahami Seno, sama halnya tak mudah memahami lelaki. Kita harus membacanya berulang kali sampai paham bagaimana substansinya. Mungkin inilah kompleksitas tentang hidup manusia yang ditawarkan Seno, adakalanya penuh kontemplasi.
Seperti hidup yang penuh ironi, manusia bisa terpesona begitu saja pada sesuatu dan menjadi dungu tanpa tahu telah  didungui, seolah memang harus ada yang membuatnya demikian. Entah itu pada suatu kota yang senantiasa ada pelanginya, pada ombak dan lautan, berikut pada yang bisa menguasainya; berselancar dengan tenang di atas ombak yang bergulung khusus untuknya, seolah dewa, pada suatu senja yang sempurna. Apakah memang manusia mudah terkesima pada suatu bentuk yang bernama “pengultusan”, lantas berbondong-bondong ingin ikut ambil bagian, meski mereka bisa merana karenanya. Lupa pada “kekuasaan” lain yang menciptakan panorama senja dengan sebenarnya. (“Peselancar Agung”)
Itulah Seno, ada lambang metafora di dalamnya. Ia seolah mengejek pengultusan individu, berikut orang-orang yang rela jadi kroco ngaco ambisius. Namun sebagai Seno, ia menyusupkan metafora-metafora itu dengan cara khasnya. Bahasa yang penuh bunga-bunga dan berima mengalir begitu saja, dan tanpa sadar kita selesai. Mungkin membosankan. Namun Seno cerdik. Jika kita jeli, ia bicara tentang “sesuatu”, sesuatu yang sesungguhnya terjadi di negeri kita ini. Dan ia mengemasnya dengan gaya dunia absurd yang surealis-metaforis. Kota di mana pelangi tak pernah memudar sebetulnya ada di mana-mana, di belahan bumi Indonesia bukan hanya Pantai Kuta yang menginspirasinya saja.
Atau memang itu dunia imajinasi Seno belaka -- yang absurd? Namun siapa yang peduli. Seno tetap Seno. Seseorang yang begitu memuja senja dan membingkainya dalam ribuan cerita, cerita yang senantiasa bercerita dengan sepenuh cahaya.
Bahkan dalam perjalanannya ke Vietnam sampai Kathmandu, Nepal. Lelaki kelahiran Boston, 19 Juni 1958 ini bisa bercerita begitu menyentuh, dan seperti biasanya hidup, berirama dan berwarna. Hingga bukan suatu feature perjalanan wisata (travelling) biasa. Itu feature perjalanan pencarian jiwa Seno. Ia mencari sesuatu namun tak tahu apa yang dicari, sampai sadar bahwa yang ia cari tak jauh dari dirinya sendiri: hati! (Intisari No. 390, Januari 1996; Intisari No. 395, Juni 1996; Jakarta Jakarta  No. 500, 3-9 Februari 1996.)
Barangkali hidup ini untuk mencari sesuatu. Bahkan selalu ada senja untuk kita pelajari, senja yang menyimpan cerita sekaligus rahasia. *** 
Ditulis tahun 2000-an ke atas, belum pernah dimuat media mana pun. :)