Tampilkan postingan dengan label Fragmenku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmenku. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Januari 2014

Ketakterdugaan Sedekah



Kenanganku


Ketakterdugaan Sedekah

Oleh ROHYATI SOFJAN


T
Inggal di tempat yang jauh dari pusat kota menghambat mobilitas juga. Saya tinggal di sudut kampung suatu lereng gunung (jika dari kejauhan). Untuk ke kota kecamatan makan waktu sekira 45 menit jalan kaki cepat turun-naik bukit, berkelak-kelok melingkar. Atau minimal 15 menit berkendara ojek dan harus tabah dengan kondisi jalan yang amburadul sehingga bikin badan pegal “dangdutan”, hehe.
“Pekerjaan” saya sebagai penulis atau boleh disebut penganggur terselubung yang sesekali dapat rezeki jika ikhtiarnya beruntung, terasa tersendat-sendat sebab untuk ke warnet demi memasarkan karya agar beroleh penghasilan saja harus turun gunung cukup jauh ke kota lain. Entah itu Garut Kota (saya tinggal di Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut bagian Utara), atau paling sering ke Bandung saja karena dari segi ongkos transportasi lebih murah, bisa naik KA. Pulang-perginya cuma butuh 20 ribu rupiah jika mematuhi jadwal KA. Selain itu, akses internet lebih cepat dan murah. Garut Kota adalah wilayah asing bagi saya yang lahir dan besar di Bandung.
Maka pada suatu siang kala dikejar deadline lomba menulis cerpen yang diadakan suatu penerbit (sayang malah kalah, hehe), saya terpaksa turun gunung ke Bandung. Berangkat tengah hari, angkotnya sempat ngetem lama lagi. Karena suatu hal, saya terpaksa keliling Cicalengka mencari warnet lain yang ternyata sudah lama tutup. Kala di Stasiun Cicalengka, saya cemas melihat jadwal keberangkatan KRD Ekonomi Bandung Raya sudah berangkat sejak sejam lalu, kereta selanjutnya adalah KRD Patas yang cuma berhenti di Stasiun Cicalengka-Rancaekek-dan Bandung saja.
Apa boleh buat, saya terpaksa naik KA patas sebab sudah pukul setengah tiga. Saya nggak tahu apakah harus nginap di rumah kerabat. Dalam keadaan gamang, di stasiun sembari mencatat jadwal keberangkatan, seorang ibu pengemis mengesot ke arah saya dan menadahkan tangan. Membuat saya teringat Ibu. Mereka sebaya. Namun yang harus saya syukuri adalah Ibu masih beroleh tunjangan pensiun dari almarhum Bapak. Apa jadinya jika Ibu harus mengemis seperti itu? Saya terenyuh, meski lelah dan tegang karena tadi nyaris ditabrak motor kala menyeberang ditambah kecapaian menyusuri sebagian kecil wilayah Cicalengka, saya sadar harus mensyukuri hidup. Undur ila kaifa. Ya, melihat ke bawah. Maka saya sedekahkan 1000 rupiah meskipun uangnya pas-pasan karena karcis patas 4000 dan nanti harus disambung naik angkot lagi.
Yang terjadi selanjutnya adalah ketakterdugaan, doa saya agar KA berhenti sebentar di Stasiun Kiaracondong terkabul. Saya bisa turun dan mengehemat ongkos. Lebih penting lagi, saya tiba di rumah dengan selamat meski harus kemalaman.
Belajar dari itu, saya berusaha menyedekahkan sedikit rezeki kala menjadi musafir. Termasuk ketika harus turun gunung ke Bandung, mengambil honor tulisan, ada error di bagian administrasi; honor belum dikirim ke rekening saya sebab alamat dan nomornya terhapus bagian editing (17/9/2007)
Dalam keadaan lelah sebab ada tambahan 4X ganti angkot di Bandung, saya kembali pulang kemalaman. Naik KRD yang pukul 18.05. Itu bulan Ramadan. Sehari sebelumnya saya habis memanen padi dan harus memanggul setengah karung gabah basah dalam keadaan puasa. Tak apa, setidaknya saya bisa merasakan suasana berbuka di gerbong Kereta Rakjat Djelata. Meski cuma minum air gelas saja sebab harus berdiri desak-desakan, ditambah pengap asap para smoker.
Di luar gelap. Saya masih bisa membaca Annida baru edisi Ayat-ayat Cinta sambil berdiri. Di Stasiun Rancaekek, saya bisa duduk dan meneruskan bacaan selain menyedekahkan sedikit rezeki pada pengemis sampai pengamen seperti tadi saat berangkat.
Mungkin karena keasyikan baca, saya nggak sadar telah naik KA yang bukan jenis Bandung Raya. KA-nya nggak berhenti total di Stasiun Cicalengka seperti biasa, di mana seluruh penumpang akan berhamburan turun. KA itu ternyata menuju Cibatu.
Sadarnya saat menengok ke jendela, dan astagfirullah, LELES! Tempat yang nggak pernah disambangi. Nyasar itu sering, namun lebih bermasalah lagi jika nyasarnya malam meski cukup bekal, sebab saya mengalami kesulitan orientasi arah jika dah gelap, nggak peduli di tempat yang pernah dikenali.
Pukul 7 di gerbong itu saya alami ketegangan kala bertanya pada penumpang lain tentang Stasiun Cibatu-nya kapan. Saya tunarungu dan nggak bisa mendengar ucapan mereka, ditambah terbawa suasana asing menyangkut kepercayaan. Masa ada yang panik gitu kala tahu saya nyasar, hingga sayanya ikut panik, hehe.
Saya betul-betul pusing, juga ketakutan. Di kereta tadi sempat berpikir apalah harus naik angkot ke Limbangan atau elf saja, eh malah nyasar ke Cibatu. Nggak ada orang yang bisa saya percayai dalam kondisi demikian. Bagaimanapun, saya harus melindungi diri.
Maka setelah mengalami saat rumit, saya terpaksa melapor ke kantor polisi Cibatu, berharap bisa dibantu cara pulang meski ragu. Alhamdulillah, Bapak Polisi yang sedang berbincang bareng beberapa orang di luar ternyata sangat membantu. Saya cuma tanya arah dan cara ke Limbangan serta berapa ongkos ojeknya, mendapat lebih. Tukang ojek  nggak cuma diminta mengantar saya, mereka mengongkosi okeknya. Malu dan haru rasanya. Apalah arti 10 ribu rupiah? Saya masih mampu. Saya hanya ingin pulang dengan selamat sebab sudah jam 8.
Tiba di rumah pukul setengah 9, saya masih memikirkan kejadian tadi. Mengapa harus nyasar di Cibatu? Apa yang akan terjadi jika turun di Cicalengka dan harus memilih angkot atau elf, akankah aman? Jalur Cicalengka-Limbangan jika malam memang tidak selalu aman, siang saja suka kecelakaan. Mana Ibu pernah dirampok di atas elf. Apa maksud Tuhan membuat saya harus menjelajahi suasana dan wilayah asing? Semata salah saya sebab terlalu lelah sekaligus ceroboh keasyikan baca karena nggak tahu salah naik KA. Jika nggak nyasar, akankah saya selamat?
Apakah sedekah saya membawa berkah atau musibah? Saya akui terlalu asyik ngasi meski diliputi rasa nggak enak karena takut riya. Orang terakhir yang saya sedekahi adalah seorang anak lelaki penyapu yang matanya sangat meminta dan saya nggak bisa bilang tidak.[]
Limbangan, Garut, 2 Hijriyah 1429 H

Jumat, 27 Desember 2013

Pada Kekinian



Pada Kekinian


S
etiap melihat Palung, ada buncah rasa yang membuatku harus bertahan sekaligus berjuang. Ya, setelah begitu banyak hal yang kami alami bersama, sejak ia masih dalam kandungan. Palung bagiku keajaiban. Kelindan takdir dari Yang Maha Adil.
Ia begitu lucu. Mungil dan lembut sebagai bayi yang belum genap dua bulan. Sekaligus kurus. Membuatku pedih saat menyusuinya, Palung selalu harus berusaha kuat untuk menyedot ASI hingga kepalanya terangguk-angguk ke depan sebagai upaya penyedotan. Dan dibanding bayi lain yang seusianya, ukuran tubuh Palung lebih kecil. ASI-ku kurang subur dengan payudara kecil dan tubuh kurus mungil seolah kurang gizi. Berat badanku tak bertambah juga, malah berkurang; dan memengaruhi pertumbuhan Palung.
Aku cemas. Begitu banyak hal yang membuatku kehilangan fokus, hantaman masalah dalam keluarga sampai finansial jujur saja membuatku kurang makan meski aku ingin makan lebih banyak dan lebih bergizi. Suamiku hanya buruh harian lepas yang kadang kerja kadang menganggur. Lebih sering menganggur karena ia telah melepas pekerjaannya di Tangerang sebagai buruh bangunan agar bisa bersama keluarga dan menjaga anak istri. Uang adalah masalah bagi kami berdua; menyangkut kelangsungan hidup. Palung terpaksa mendapat tambahan susu dot. Dan sepertinya ia jadi kecanduan dot. Itu bukan hal yang baik bagi kami dan baginya. Aku selalu menguatirkan pencernaannya, kalau-kalau susu yang Palung minum berdampak tak baik, entah alergi atau autis. Belum lagi kami kewalahan untuk menyediakan susu jika tiap minggu paling sedikit habis 2 kotak, uangnya dari mana? Rezeki kadang ada secara tak terduga dalam bentuk uang atau makanan, namun lebih sering harus diperjuangkan. Kadang suami dapat kerja memburuh cangkul di sawah atau kebun, kadang meng-gacong dan upahnya berupa sekarung padi dari sawah orang yang ikut dipanen, atau mengangkut berkarung-karung padi yang barusan dipanen dan diupah dengan beberapa kilo beras saja.
Suami adalah hal terbaik dalam hidupku. Ia lelaki yang baik dan sabar meski sering ceroboh dan sembarangan. Begitu bersahaja cara pandangnya, sesahaja caranya mencintai anak dan istri. Merawatku yang masih lemah dan sakit, sekaligus merawat bayi. Tanpa suami di sisi, entah akan bagaimana aku jadinya. Aku selalu membutuhkan suami. Bagaimanapun perbedaan kami. Kehadiran Palung kian menyatukan ikatan cinta dengan suami. Buah hati kami memberi sapuan warna yang sebelumnya tak pernah dikenal. Ia mendewasakan kami sebagai orang tua yang sedang bermetamorfosis. Sekaligus pengingat bahwa menjadi orang tua bukanlah hal yang mudah. Palung adalah amanah dari Allah.
Palung mengajar sabar sejak masih dalam kandungan. Bahkan sampai sekarang pun ia masih menguji kesabaran kami. Begitu melelahkan namun semua terasa pudar jika melihat senyum Palung dan segala polahnya yang ekspresif menggemaskan.
Suami adalah insan yang paling berbahagia dalam keluarga. Wajahnya selalu berubah, dari lelah atau kesal menjadi sumringah tiap melihat Palung atau sekadar mengingatnya saja. Tentu aku senang dengan perubahan itu. Dulu waktu aku masih hamil ia selalu risau meski bahagia dengan kehamilanku.
Setiap malam kupandangi wajah suami dan Palung yang terlelap. Begitu tenang dunia kami, dunia di dalam kelambu. Palung bobo dengan ekspresinya yang kadang mulutnya masih suka mut-mut seolah sedang enen, kadang pulas dan hanya menyisakan tarikan nafasnya yang lembut dan teratur. Dan suami, duhai wajah itu begitu damai dan bahagia. Segala persoalan dunia yang ruwet seolah jeda dalam lelapnya. Ia sangat menikmati dan menghayati perannya sebagai ayah. Suami tipikal ayah rumah tangga yang tak keberatan berbagi tugas dengan istri, termasuk mengurus Palung.
Cucian yang menumpuk bisa dua ember penuh setiap harinya merupakan tugas rutin suami, membawanya ke pancuran dan menjemurnya di belakang. Begitu terus setiap pagi. Tentu melelahkan, namun dilarang jemu karena merupakan risiko sebagai orang tua. Hanya saja kami tak mengira akan seperti ini. Sebelumnya banyak orang bilang kami akan repot dengan cucian, namun membayangkannya seperti apa tak pernah tebersit di benak kami.

Hari-hari Tanpa Suami



Hari Pertama


Senin, 10 Januari 2011


T
ernyata aku merindukannya.
Aku bangun pagi dengan lesu. Suami malah bersemangat. Mandi pagi dan membangunkan Palung yang masih mengantuk, sepertiku. Ini hari pembebasan bagi Tama. Ia akan pulang kampubg ke Lampung. Mau ke Bandung dulu soalnya berangkat bareng Bi Dadah dan anaknya, selasa besok. Aku kesal karena ia berangkat pagi dan menolak sarapan padahal tidak baik, bisa masuk angin. Namun Tama tak peduli, “Sudah ditunggu Keroy,” katanya, enteng dan seperti baiasa selalu sok buru-buru. Memakai helm hitam dan menciumi Palung yang senang sekalugus heran melihat ayahnya memakai benda aneh di kepala. Tama berpesan banyak pada Palung, apakah bayi 14 bulan itu mengerti akan ditinggal ayahnya pergi selama sebulan?
Aku berencana menggoreng nasi campur sosis dan kecewa karena Tama menolak sarapan. Kubiarkan dulu tungku yang apinya gagal menyala besar karena harus diberi barambang, namun kami kehabisan barambang dan terpaksa pakai kertas untuk memudahkan pembakaran kayu. Ake memerhatikan Tama dengan lesu, ia terlihat keren dengan kemeja dan celana krem. Jujur, aku enggan melepasnya pergi, aku lebih suka ia di sini. Namun Tama harus menyerahkan uang penjualan rumah neneknya untuk bikin rumah yang baru di Lampung. Aku hanya berpesan agar ia bisa menjaga diri dan tidak macam-macam, kerja yang benar dan bawa banyak uang.
Tama menjulurkan tangan pada jagoan kecilnya yang belum mengerti apa-apa untuk dicium, kemudian aku balas menyambut uluran tangan Tama dan kami berpelukan. Ini hari yang menyedihkan bagiku, aku kasihan pada Palung karena kami harus berpisah untuk sementara waktu.
Aku menggendong Palung untuk mengantar ayahnya ke jalan, dan di depan warung Mang Ahri (yang merupaan adik neneknya) Keroy asyik ngopi. Ia belum siap, aku kesal dengan sifat buru-buru Tama karena kopi yang Keroy beli masih penuh, sambil makan lalu merokok pula.
Keroy menawarkan kopi, aku menawarkan Tama untuk beli bala-bala dulu, namun Tama malah memilih menyalakan Jarum Cokelatnya. Aku dan Palung menunggu. Aku terpikir mestinya kufoto Tama dan Palung dulu pakai netbook. Tama mengajak Palung jalan-jalan sebentar sampai Keroy bersiap.
Sekali lagi Tama menjulurkan tangannya pada Palung untuk dicium, kemudian padaku. Lalu ia melangkah menuju motor Keroy dan duduk di belakangnya. Palung dan aku diam. Motor melaju, Tama melambai. Palung menyadari sesuatu, ia ingin ikut ayahnya dan mulai merengek. Aku bangkit dan menuju jalan untuk memerhatikan laju motor sampai hilang di kejauhan, Palung ingin turun seolah hendak mengejar ayahnya. Bukankah itu menyedihkan, ia sedih dan mulai mewek. Aku terpaksa membawa Palung pulang ke rumah, dan tangis sedihnya masih saja terbawa.
“Mana Bapak?” tanyaku, dan Palung menjawabnya dengan tangis sedih lagi. Ibu menegur agar aku tidak begitu, yang penting didoakan agar selamat, katanya. Aku diam. Palung masih mewek dan terbawa rewelnya saat kumandikan.
Hari ini ibu harus ke Bandung juga, untuk ambil uang pensiun. Dan hari ini kami mengantar dua kepergian. Palung mewek lagi seolah ingin ikut, namun aku tak punya uang dan menyesal telah membelanjakannya untuk keperluan warung (yang kini sepi). Begitu ibu menghilang dengan motor ojeknya, Palung tidak seheboh saat ditinggal ayahnya. Aku harus menghibur diri dengan mengajak Palung jalan-jalan, ke Cigintung untuk mengembalikan buku Rafi. Dengan itu kuharap Palung pun merasa terhibur juga.
Malam ini aku lelah. Tidur siangku dengan Palung begitu nyenyak sampai Asar. Dan aku masih ingin meneruskan tidurku. Sesiangan jalan-jalan capai juga. Apalagi Palung kian berat, pundakku sakit.
Aku merindukan suami, beberapa jam berpisah saja sudah membuatku merasa kehilangan, apalagi Palung yang tidak sedih lagi namun masih suka mengoceh ‘bapa, bapa’.   
















Hari Keempat


Kamis, 13 Januari 2011


Keuanganku mulai memburuk. Uang modal dari Tama sebesar 200 ribu lebih ternyata tak cukup. Warung sepi dan pemasukan malah sering dipakai untuk hal tak efektif seperti masak yang tak perlu macam ibu tadi. Lagi-lagi ibu boros untuk hal mubazir, bikin kue donat namun baking sodanya banyak hingga pahit. Dan kue gagal itu tak enak, tak ada yang beli.
Aku coba memakannya tadi, dan perutku terasa terbakar. Baking sodanya sudah kedaluwarsa, mestinya kubuang saja, sialnya ibu sering tak ngerti dan bisa ngomel. Aku harus memberi penjelasan ekstrim. Palung saja tak mau memakannya.
Palung suka makan apa saja. Tadi siang aku membuat kesalahan fatal, membubuhkan MSG terlalu banyak ke dalam sayur sop (terdiri dari campuran wortel, brokoli putih, kol, buncis, sosis ayam, dan makaroni) untuk kami. Padahal biasanya takaranku cuma dikit, malah sebungkus kecil! Paling sejumput saja, lebih banyakan garam daripada MSG sebab taut terkena kanker. Aku masak sambil melamun jadi ceroboh gitu, sebungkus kecil MSG 100 mg. Sopnya enak dan gurih tetapi tak sehat. Maafkan Bunda, ya, Palung....
Alhamdulillah kami masih  bisa makan, namun entah hari-hari mendatang akan gimana. Aku takut sebab uangnya tinggal beberapa ribu, warung benar-benar sepi. Dagang basreng dan rujak tak laku. Semestinyaa aku menuruti suami soal tak dagang saja, namun aku khawatir tentang pengeluaran tanpa pemasukan. Kini aku harus menanggung risiko berupa kerugian. Akankah tulisanku ada yang dimuat dan honornya telah masuk rekening? Aku merasa sedih dan menyesal. Menjadi orang tua tunggal ternyata tak mudah, apalagi pekerjaanku tak jelas akan menghasilkan uang.
Tuhan, tolonglah kami. Aku berharap bisa menebus kesalahanku. Ada uang untuk makan, bayar setoran ke koperasi, listrik bulan depan, dan yang utama untuk keperluan Palung. Aku ingin bisa membelikannya baju baru, gendongan ransel, sandal, dan sepeda. Aku kasihan pada suamiku yang payah dari segi maisyah. Untuk makan saja sulit, bagaimana bisa beli macam-macam? Bahkan buku kini merupakan kemewahan. Aku butuh keajaiban! Malam ini begitu melelahkan. Aku tak bisa menulis secara jernih!
Palung harus tetap dapat makanan bergizi. Ia sulit makan jika tak berkuah, sayur sop lebih murah dan bergizi daripada bakso yang mengandung pengawet bahkan boraks. Besok aku akan beli sop di warung Ceu Mala lagi, pakai brokoli. Akan kucampur makaroni, sosis habis, apa perlu beli lagi?
Palung sedang tidur, begitu damai. Ia lucu dan tampan, bahkan dalam tidurnya. Sangat menggemaskan. Tentu ia kecapaian setelah sepanjang hari beraktivitas. Jalan-jalan sore. Palung suka jalan kaki, akan melangkah ke mana saja sesukanya. Tadi ia memanggil Ike yang sedang mendorong sepeda Dila. Seolah Palung protes karena ingin ikut dan mengejar mereka. Anakku sayang, semoga Bunda beroleh rezeki tak terduga agar sepeda idamanmu bisa terbeli.
Palung begitu bahagia jika diizinkan meminjam sepeda Candra atau Dila, dan sedih jika harus turun seolah tidak rela  kesenangannya diusik. Aku sangat ingin bisa membelikan sepeda untuk Palung agar binar bahagia di matanya kembali bersinar. Aku sangat menyayanginya. Amin.

Hari Keenam


Sabtu, 15 Januari 2011


Jumat tadi, sekarang lewat tengah malam, begitu banyak kejadian yang menyesakkan dan mengecewakan. Pagi, ibu sedih karena telur ayam Palung dicuri kucing semuanya. Ayamnya sampai down, meringkuk dan murung, barangkali bertanya pada ibu, “Ke mana telur-telurku?!”
Palung sayang, belum mengerti bahwa ayamnya kena musibah. Innalillahi wa innailaihi roji’un. Mestinya ia melihat ayamnya beranak-pinak. Ditambah sorenya baru ketahuan kalau Pompa asi yang pernah kupinjamkan ke Nyai dan Jamilah ternyata rusak bagian pijatannya. Aku kapok!
Sehabis mandiin Palung jelang Zuhur, ia tersandung aisan yang diseretnya. Palung jatuh membentur pagar pintu. Ya Tuhan, mata kanannya terluka. Aku pedih sekaligus ngeri melihatnya. Menyesali kelalaianku membiarkan Palung menyeret aisan itu yang hendak dilemparkannya ke bawah dapur. Bagian putih mata Palung seperti robek. Itu luka serius dan aku harus membawanya ke dokter, namun tak ada uang!