Jumat, 23 Februari 2018

Maju-Mundur Memulai Bisnis Daring (Online)



YAH, saya bimbang makanya mengambil judul di atas. Sudah lama sekali saya ingin mulai berbisnis jualan secara daring (online) sejak beberapa tahun lalu dan mendiskusikannya dengan sahabat baik saya, Mutiara Aryani, di Batusangkar yang punya niat serupa namun belum terwujud karena masalah modal.
Masalah saya, dengan modal terbatas kayak beberapa ratus ribu rupiah atau kurang, sih, rasanya bisa jalan. Namun kendala utama adalah

Bahasa Awur-awuran




KATAKAN saya kuper dan ketinggalan zaman, atau apa saja. Karena banyak bahasa yang tidak saya pahami maksudnya; bahasa percakapan maupun tulisan di kalangan masyarakat Indonesia yang kebanyakan ajaib punya. Terutama kawula muda, namun tak menisbikan yang tua juga.
Katakan bagaimana rasanya berada di dunia sunyi yang steril dan hanya mengenal bahasa dari apa yang dibaca, bukan didengar? Entah, ya. Yang jelas saya sering bingung dan merasa tak gaul ketika harus berhadapan dengan kata atau kalimat ajaib. Barangkali saya kaku, terbawa bacaan yang kebanyakan nyastra sampai bergabung di milis guyubbahasa Forum Bahasa Media Massa (FBMM) yang anggotanya kebanyakan pencinta bahasa Indonesia (yang barangkali fanatik) sejak tahun 2003.
Pengalaman belajar di milis guyubbahasa membuat wawasan saya terbuka. Kagum, heran, sadar, sampai ngeri dengan kemampuan rekan-rekan yang kebanyakan pakar dalam membahas suatu topik sampai berargumen. Namun saya menikmatinya. Sekaligus khawatir karena sepertinya kami merupakan komunitas minoritas jika dibanding masyarakat pengguna bahasa Indonesia sebangsa dan setanah air.
Saya mencintai bahasa Indonesia, sebab hanya dengan bahasa itulah saya merasa hidup dalam wewenang yang dikuasai. Namun pengalaman mengajarkan bahwa dunia luar saya yang ingar ternyata ruwet, banyak banget bahasa awur-awuran yang bikin saya terkaget-kaget.
Mungkin yang sangat sering dan susah diubah kebiasaannya dalam masyarakat adalah penggunaan kata kami dan kita yang bertukar tempat mulu. Akibatnya, saya sering merasa terganggu.
Saya pernah membahas itu dalam surat untuk seorang kawan ketika mengomentari cerpennya yang secara gramatika masih awur-awuran. Surat itu saya pajang di blog pribadi, http://rohyatisofjan.blogspot.co.id, ya mudah-mudahan bermanfaat bagi yang mengunjunginya.
Dan saya heran karena kejadian awur-awurannya merambah sampai sudut kampung di lereng gunung. Ah, seorang gadis Madrasah Aliyah (setara SMA) kelas XII yang masih belia dan tentu saja ceria, berbakat menulis sejak 6 SD, sudah menerbitkan novelnya dan beredar di lingkungan terbatas, sekolahnya; membuat kejutan. Cara bertuturnya mengagumkan dan tak membosankan (katanya ia suka karya Rachmania Arunita), namun yang mengkhawatirkan adalah banyak sekali penggunaan bahasa yang tak sesuai kaidah kebahasaan. Seperti virus menyebar ke mana-mana, bahasa awur-awuran itu, ternyata.
Saya bingung dengan penggunaan “secara”, karena ada paragraf di awal novel itu yang dirasa janggal: “Bukan gitu Miss Mirrel, gue juga bisa pake Bahasa Inggris, pake Bahasa Jerman pun gue bisa. Tapi secara gue tinggal di Indonesia gitu loh, nimba ilmu di Indonesia juga, cari duit juga di Indonesia jadi gue musti pake bahasa sini. Ya kalo lo udah mampu dan bisa pake Bahasa Indonesia meskipun dikit, kenapa gak digunain buat bahasa ngobrol lo....? Biar lo gampang bisanya.” Mirrel menatap gue dengan sinisnya, tatapannya tatapan permusuhan, mungkinkah dia dendam sama gue? 
Itu karya Rafi Alawiyah Rais. Remaja berbakat yang sebenarnya kritis. Dan saya terangsang untuk membimbing dan mengkritisinya. Ya, semacam pelengkap setelah guru-guru dan orang terdekatnya yang telah mengajarkan banyak hal.
Ayahnya ternyata kepala sekolah dan guru di MTs. YPI Ciwangi, Limbangan, Garut yang pernah memberi kesempatan bagi saya untuk bersekolah di sana, bercampur dengan anak lain yang berpendengaran normal. Itu baru saya tahu ketika kami pertama kali bertemu dan kenalan untuk membahas karyanya,
Saya mengerti kalau Rafi hanya terbawa virus bahasa pergaulan dari medium mana saja. Yang saya khawatirkan virus tersebut tiada obat penawarnya. Telanjur menyebar dan berurat akar. Itukah cermin kehidupan bahasa kita yang sungguh sangat mengejutkan bagi seorang tunarungu macam saya yang telah kehilangan fungsi pendengaran sejak usia 6 tahun?
Dan petualangan bahasa awurnya ternyata seperti sedang tracking di karang terjal. Saya sering merasa sesak disodok kejutan yang melemotkan. Ya, saya merasa lemot atau tulalit. Mengernyitkan kening dan bertanya dalam hati, ini maksudnya apa? Frase “utas” di KBBI kok berbeda dengan apa yang dimaksud Rafi. Bagi saya yang terbiasa dengan maksud: kata, cetus, dan yang bersinonim dengan itu; kebingungan!
Rafi dapat kesimpulan tentang “utas” dari mana? Utas di buku Babi Ngesot Raditya Dika saja merupakan kebalikan dari “satu”. Sayang saya tak tahu jawabannya karena kala membahas itu secara langsung sambil menunjuk KBBI pada Rafi, ia tak menjelaskan penemuan diksi ajaibnya selain mengangguk malu dan agak bingung.
Sekarang saya bingung, andai bukan penyandang tunarungu apakah saya akan peduli pada betapa awurnya dunia bahasa di negeri Indonesia tercinta. Atau malah jangan-jangan termasuk kategori orang yang sama awurnya juga dan tak ambil pusing karena sudah terbiasa. Ah.
Banyak sekali contoh bahasa awur yang membuat saya serasa jungkir balik coba memahaminya. Dan itu seolah berada di dunia hiperbolik. Dunia surealis tulisan karya Seno Gumira Ajidarma dan Agus Noor masih asyik, namun apakah saya berada di dunia surealis juga ketika orang-orang menulis sampai bicara dalam bahasa Indonesia yang membingungkan?
Namun saya tak ingin menyerah. Biarlah berbahagia dalam dunia sunyinya, karena sunyi mengajarkan saya untuk merenung dan mengambil jarak. Betapa logika berbahasa sudah kehilangan wibawa. Barangkali hanya segelintir kecil saja yang peduli dan ingin melakukan reformasi kebahasaan dalam artian positif. Mungkin seorang Rafi bisa saya bimbing untuk masuk komunitas kecil saya, dan siapa tahu kelak ia akan bisa membimbing yang lainnya juga untuk paham dan peduli.***
Cipeujeuh, 21 September 2010

Nonton Dorama Bikin Baper




Dorama dalam bahasa Jepang artinya drama. Pelafalan kata dengan dua huruf konsonan dari bahasa lain seperti [d][r]ama akan ditaruh vokal (o) di sela konsonan tersebut sehingga menjadi dorama.
Mungkin sebelumnya ada yang tidak tahu mengenai kebiasaan pelafalan bagi orang Jepang, semisal mengucap drama jadi dorama, lantas sempat tak ngeh dengan istilah dorama tersebut.

Minggu, 04 Februari 2018

Panas-Dingin Bareng Drink beng-beng



Cokelat adalah produk makanan olahan yang lezat disantap. Rasa cokelat yang rada pahit kerap tak terdefinisikan jika dicampur dengan bahan lain seperti gula atau krimer untuk minuman. Slurp….

BENG-BENG selama ini terkenal sebagai pelopor makanan cokelat batang dengan perpaduan lapisan bahan wafer, karamel, rice crispy,  dan cokelat. Dengan kemasan warna merah mengilat yang cerah, beng-beng sukses menjadi jajanan populer dari saya masih ABG di tahun ’90-an.

Merah





Ia mencintai warna merah!
Dan kini warna itu membalutnya dengan cinta pula. Tubuh yang bersimbah darah. Merah. Merembesi tanah tempat ia terkapar tanpa daya di antara rimbun belukar tepi jalan entah. Ia meringkuk dengan punggung melingkar ke samping kanan dan kedua tangan memegangi perutnya yang robek dihunjam senjata tajam; darah mengucur deras tanpa bisa ia hentikan. Matanya yang panas dan menyisakan tangis, terpejam. Erangnya tak lagi keluar. Meski nyeri itu amat memedihkan, ditambah rajaman deras hujan di malam gelap tanpa panduan jam. Dengan sesekali kilat dan guntur menggelegar.

Rente




Penduduk kampungku terjerat utang. Ada banyak. Dan ibuku salah satunya. Utang tak perlu yang membuatku meradang. Ibu akan tetap berutang, dengan atau tanpa sepengetahuanku. Percuma aku melarang, ibu akan selalu beralasan, alasan bodoh yang membuatku tak berdaya. Marah pun percuma. Barangkali utang adalah hobi lama ibu, semacam penyakit lebih tepatnya, dari sejak aku kecil dan bapak masih hidup. Keinginan beroleh uang cukup besar dalam waktu seketika untuk gaya hidupnya yang sia-sia,  mendorong ibu mengorbankan ketenangan dan kesejahteraan kami dalam jangka panjang.

Cerpen Rohyati Sofjan


UANG tunjangan pensiun ibu yang tak seberapa dipotong pihak bank tempat ia meminjam uang, gara-gara abangku butuh pinjaman dan ibu terpaksa mengagunkan surat pensiunnya lagi dengan cara menombok. Ada banyak hal yang membuat ibu selalu demikian, berulang memperpanjang agunan tanpa lunas benar, dan itu tanpa sepengetahuan anak-anaknya. Namun jika ditambah meminjam pada rentenir jelas itu sudah keterlaluan, apalagi untuk hal tak produktif.
“Ibu karep sorangan!” kata abangku satu hari sebelum pernikahanku. Masalahnya ibu tak mau mendengar omonganku demi kebaikan. Aku ingin pernikahanku dengan cara sederhana dan hemat biaya. Namun ibu jenis orang yang tak bersyukur, begitu keras kepala memaksa belanja. Merasa gengsi jika tak bisa menyajikan sesuatu yang biasa dilakukan orang hajat, dari acara uleman atau ritual memberi amplop dan balas memberi bingkisan pada para pemberi sebelum hari pernikahan, sampai menyajikan masakan pada undangan di hari pernikahan.   
Aku tak paham istilah karep sorangan, banyak sekali kosakata bahasa Sumda yang sering tak kumengerti karena keterbatasanku; kehilangan fungsi pendengaran sejak kecil dan bahasa yang sangat kupahami hanyalah Indonesia -- dari aneka bacaan yang kubaca.
Sorangan artinya sendiri atau sendirian. Namun aku tak berani bertanya apa arti karep pada abangku, ia sudah pusing dan dongkol. Jauh-jauh datamg dari Ciamis ke Limbangan Garut hanya demi tugas mulianya, menjadi wali pada hari pernikahanku, pengganti almarhum bapak yang sudah belasan tahun tiada.
Abang hanya pedagang arloji keliling, menawarkan dagangannya secara kreditan pada siapa saja, kebanyakan ia menawarkan ke kantor polisi di beberapa kota karena punya banyak relasi. Anaknya dua, lelaki semua dan masih kecil. Lelaki jelang empat puluh tahun yang merasa gagal sebagai kepala keluarga karena belum bisa memakmurkan hidup anak istrinya, rumah saja masih mengontrak.
Waktu aku hendak menikah dan mengutarakan niatku soal perayaan sederhana seperti abangku dulu, aku tak ingin membebani siapa pun, tidak juga calon suamiku yang hanya bisa memberi sejuta rupiah untuk keperluan pernikahan pada ibuku.
Aku tak pernah berpikir bahwa ibu ingin abang membantu juga dari segi finansial. Aku tak tahu bahwa uang sejuta ternyata tak cukup di mata ibu, ditambah beberapa ratus ribu dari sisa gadai sawah. Aku sedih begitu tahu bahwa abang ikhlas menyumbang 500 ribu yang bagiku tak perlu. Bukankah Sahal dan Rama lebih membutuhkannya?
Apalagi teteh iparku hanya ibu rumah tangga biasa. Apalagi mereka sebenarnya terlilit utang juga. Penghasilan ada tetapi sering macet di luar karena sulit ditagih, dan untuk modal sampai kebutuhan sehari-hari bisa jadi harus berutang entah pada siapa. Ditambah bekas kecelakaan yang menimpa abangku ketika tabrakan, motornya ditabrak pengendara motor mabuk di siang bolong yang membuat jari kelingking kaki kirinya harus diamputasi.
 Begitu banyak beban tergurat di garis wajahnya yang lelah. Ia tidak seperti ibu yang janda pensiunan, tinggal enaknya dapat uang tiap bulan tanpa usaha berkat almarhum bapak yang mengabdi selama 30 tahun sebagai pegawai negeri di Balai Besar Perusahaan Kereta Api, Bandung.
Ibu barangkali jenis orang yang kurang bersyukur, cenderung boros untuk hal mubazir. Anaknya harus pontang-panting cari nafkah demi menghidupi keluarga, mengapa ibu harus membebani demi alasan gengsi agar tampak hebat dan mampu di mata orang lain. Padahal apa yang dilakukannya masuk pepatah Sunda, ginding pakampis: berlebihan tapi kempes.
Untuk keperluan bingkisan pada para tetangga saja, yang aku tak tahu akan begitu banyak berdatangan, Kang Asep pemasok warung kami yang menalangi; mengirim barang kebutuhan dan dibayar belakangan begitu hajat beres.
Ibu pikir banyak tamu yang datang karena ia dikenal banyak orang sekampung sebagai orang baik dan istri Pak Aden. Ibu, ironisnya, jarang mendatangi tetangga yang hajat. Dan orang kampung seolah bersimpati padaku yang memiliki keterbatasan namun berusaha utuh sebagai perempuan dalam hal jodoh. Begitu banyak amplop sampai beras dan padi yang kami terima, ditambah kelapa, bihun, dan lainnya.
Semestinya uang sumbangan dari para tetangga itu bisa mencukupi keperluan kami. Namun ibu membuat kejutan tolol: belanja bahan makanan seolah memasak untuk ratusan orang, padahal yang hadir pada hari H nikahanku hanya beberapa puluh orang pengiring pengantin dari pihak keluarga calon suamiku.
Aku memandang nanar bibiku yang sedang mencuci entah berapa kilo daging sapi di kamar mandi. Lalu bungkusan plastik besar berisi beberapa ekor ikan mas yang banyak. Dan daging ayam. Karung jala berisi aneka sayuran berupa kol, kentang, brokoli, wortel, tomat, kecipir, jagung muda, mentimun, sampai bumbu-bumbu. Lalu buah-buahan buat rujak. Lalu dua kantung besar kerupuk ikan. Dan entah apa lagi. Yang jelas aku dan abang sampai stres melihatnya. Para kerabat sibuk membantu di dapur, barangkali sambil menggunjingkan ibu yang punya sifat riya dan senang dipuji. Ibu ke Bandung untuk urusan jual kalungnya sebagai tambahan hajat. Aku ingin kabur saja dari kesintingan ini, melupakan rencana pernikahanku dengan lelaki yang kucintai.
Aku terlambat mengetahui bahwa untuk urusan bahan masakan itu, ibu dengan bantuan Mang Ano adiknya, berutang 2 juta pada kawan Mang Ano. Dan bahwa ibu akan membuat kekacauan dengan merusak kepercayaan pada Kang Asep dengan telat membayar, lalu utang 2 juta itu pun sulit dibayar ibu dan harus ditebus dengan cara menjual sawahnya kelak karena abangku minta digadaikan ulang. Lalu rentetan utang itu membuat hidup ibu harus tetap gali lubang tutup lubang, sayang lubang yang digalinya terlalu dalam.
Pada hari pernikahanku, aku murung, tidak bahagia betapa hidupku dikendalikan sesuatu yang tak terpahami. Aku membenci kendali ibu akan uang, ia tak bisa mengendalikan diri dan malah dikendalikan materi.
Aku gagal menginginkan ketenangan finansial. Aku menyesal ibu yang menangani hajatan ini. Seandainya saja aku yang pegang kendali barangkali semua kekacauan ini tak akan terjadi. Aku tak perlu jadi kambing hitam dengan alasan apa yang dilakukan ibu adalah bentuk sayang anak. Abang bilang jika benar ia menyayangi kita, segala ketololan itu tak perlu terjadi. Rusaknya nama baik di mata orang dan berhadiah tambahan utang yang menggunung tak terbayar.
Aku tak ingin seperti Bi Empuy, 3 rumah di belakang rumah kami. Ia kehilangan rumah dan kebunnya karena utang. Pinjamlah uang pada rentenir dan harus bayar 2 kali lipat.
Bi Empuy berutang untuk modal warungnya. Sayang utang yang dibuat ada banyak pada beberapa pihak. Terlalu mengerikan jika tiap minggu harus bayar ratusan ribu padahal penghasilan tak menentu, suaminya buruh tani sekaligus dagang es krim keliling di Bandung.
Ia menggali lubang dan lubang itu menelan rumah dan hartanya. Keluarga mereka terpaksa kabur ke Kubang, sebuah kampung terpencil melewati Desa Pangeureunan setelah desa kami. Kampung yang berbatasan dengan hutan, tempat bekas pertempuran TNI dan gerombolan apa gitu. Yang jelas di sana menjadi kuburan bagi mayat gerombolan. Ongkos ojek ke sana dari kecamatan kami 20 ribu rupiah, ke kampungku hanya 4 ribu rupiah.
Bi Empuy tak cuma kabur, masih menyisakan jejak utang pada koperasi kelompok dan harus ditanggung kelompoknya untuk dibayar. Ia dan keluarganya menjadi gunjingan sekaligus kemarahan. Betapa utang bisa merusak banyak hal, dan semua bermula dari nafsu dan kesombongan.
Dan pada akhirnya, dari suamiku aku baru tahu apa arti karep sorangan, mau menangnya sendiri! Aku sedih mengingat usia ibu yang begitu senja mestinya ia mendapat kesenangan dan ketenangan. Ia tak pernah dapatkan itu karena satu hal yang dianggap sebagai kehormatan baginya adalah kekayaan dan kesuksesan dalam materi, karena itu ia terus memburu materi dengan cara berdagang tak peduli selalu merugi dari sejak anak-anaknya kecil pula. Karena cara berniaganya tak masuk akal.
Ia bukan jenis orang yang menghargai proses, baginya hasil adalah hal paling pasti untuk diagungkan. Betapa ia bisa merendahkan diri jika berhadapan dengan si kaya, lupa bahwa segala pemberian semata dari-Nya, bahkan napas ini pun titipan.
Ia tak segan mengumumkan apa-apa yang telah dilakukan, jasa atau pemberian untuk siapa saja. Meratapi masa jayanya waktu masih kaya karena bapak dan sering dirubung kerabat sampai tetangga yang membutuhkan bantuannya, saat miskin mereka seolah tak peduli dan menghinakan. Bahkan dua anaknya yang payah secara materi pun jadi sumber keluhan pada orang-orang. Terasa begitu pamrih dan riya jika harus mengumumkan kebaikan diri sendiri seperti itu.
 Aku hanya ingin bisa terbebas dari utang dan riba. Di belakang rumahku, rumah mama Sus kosong dan hendak dijual, konon ia sendiri kerja di kota sebagai pembantu karena utang-utang yang dibuat pada berbagai pihak tanpa sepengetahuan suaminya, seorang pekerja bengkel di kota.
Di sekelilingku kehidupan petani bukanlah hal menjanjikan secara materi sekarang ini. Kau akan membutuhkan modal besar untuk mengolah tanah kebun atau sawahmu, sedang harga pupuk dan hal-hal lainnya kian tak masuk akal.
Suamiku hanya petani. Memburuh pada siapa saja yang membutuhkan tenaganya. Bertahan dalam pekerjaan yang jarang dan penghasilan kecil demi bayi kami yang baru 8 bulan, bayi lucu yang cerdas dan tampan seperti ayahnya.
Barangkali aku pemimpi, seperti kata suamiku, ingin mengentaskan hidup kami dari kemiskinan karena utang yang menjerat keluarga. Namun siapa tahu dengan itu rasa frustrasiku selaku anak akan berkurang, setidaknya ayahku tak merana di alam kubur karena namanya masih dibawa-bawa dalam surat pensiun yang diagunkan ke bank -- yang dilakukan ibu dari sejak beberapa bulan setelah kematian bapak.***
Cipeujeuh,  15 Juli 2010


Modem Telkomsel FLASH: Pintu Gerbang Menuju Dunia Luas


Di zaman sekarang masih gunain modem? Padahal orang-orang pada gunain ponsel pintar mereka yang canggih. Masih layakkah modem eksis di zaman android now? Masih, kok, terutama bagi yang tak sanggup beli ponsel pintar karena lemah daya beli. Lha, saya contohnya. Hidup pas-pasan namun berupaya eksis memasarkan tulisan ke beragam media sekaligus terhubung dengan dunia luar dan pertemanan berkat modem yang tak bisa dianggap barang cemen!

Oleh Rohyati Sofjan

Saya beli modemnya tahun 2017 kala Palung kelas 1 MI. Harganya cuma 199 ribu di konter R2, Balubur Limbangan, Garut. Bisa dipakai untuk aneka kartu GSM seperti M3, XL, Axis, selain AS dan Simpati. Mulanya bisa dipakai di rumah pakai kartu Simpati khusus untuk internetan yang berisi kuota data 2 GB lebih seharga 55 ribu rupiah, namun entah mengapa mendadak hilang sinyal sehingga tak terpakai lagi, bahkan sisa kuota data yang 2 GB mubazir tak terpakai.
Sudah coba di rumah Ipah di kampung sebelah, namun sama hasilnya, tiada sinyal. Sempat berpikir modem rusak atau bagian chip kartu yang rusak tergores. Saya kapok gunain modem itu dan cuma pakai kartu untuk SMS-an karena ponsel saya tak bisa dipakai ngenet.
Saya pikir lokasi rumahlah yang jadi masalah. Yah, saya bersama anak dan suami kini berumah di tengah ladang, di lembah yang melandai ke bawah, jauh dari jalan desa, menumpang di tanah milik desa. Jadi korban dan terusir akibat tanah tempat rumah di lokasi lama dijual insan yang menyalahgunakan posisinya sehingga binasa ditelan riba. Itu tanah jelas-jelas untuk saya malah diambil paksa lagi karena beliau terlalu serakah dan rusak moral.
Oke, kita lewati saja bagian itu. Bisa dibahas dalam topik tulisan lain. Soal bahayanya riba, mungkin.
Balik ke soal modem dan kartu Simpati, kala baca pesan promo operator tentang penggunaan internet murah. Iseng saya tekan *363# untuk tahu. Dan ada pilihan paket data harian, mingguan, sampai bulanan.
Mendadak saya gelisah pengin coba. Mengetes apakah modem dan kartu saya benar bermasalah setelah nyaris setahun tak digunakan hingga membuat saya tambah desperate karena tak bisa kerja nulis di rumah lagi.
Kala Desember 2017 turun gunung ke kecamatan untuk ambil transfer titipan saudara suami pada istrinya pakai rekening saya, sekalian beli pulsa 20 ribu di konter R2. Lalu kala WIFI-an di WIFI Corner Telkom Limbangan, usai ngenet pakai nomor khusus WIFI, daftar paket sehari 9 ribu rupiah sampai tengah malam. Ternyata modem dan kartunya berfungsi. Di bagian koneksi terbaca selain terhubung dengan WIFI, sekaligus dengan nomor dari modem Telkomsel. 
Saya coba di rumah Ipah, tersambung dan ada sinyal dari Telkomsel, sampai Palung senang bisa main gim di www.friv.com. Sempat ragu apa di rumah sendiri bisa, dan, alhamdulillah, ternyata bisa. Sampai sekarang ini. Mungkin tahun lalu kala lagi coba modem dan kartu perdana, ada masalah dengan jaringan Telkomsel. Entah gangguan atau perbaikan, dan itu lama karena kartu saya jadi mubazir selama sebulan masa aktif kuota data.
Saya senang bisa kerja lagi di rumah. secara leluasa. Tak harus turun gunung ke kota kecamatan lagi. Untuk ngenet di warnet atau gotong netbook dan perangkat pendukung ke WIFI Corner.
Saya lelah dan rada ngeri dengan perjalanan naik ojek motor karena jalan desa rusak parah, di beberapa bagian ada titik berbahaya bagi yang tak paham medan jalan.
Selain itu, ongkos transportasi cukup mahal bagi istri seorang suami yang kerja jadi buruh tani dan laden bangunan, dengan upah 35 ribu untuk setengah hari kerja di sawah atau kebun dan 60 ribu untuk jadi laden sampai jam setengah 5 sore. Ojek 10 ribu sekali jalan ke kecamatan. Bisa 20 ribu pergi-pulangnya. Lain lagi kalau ajak Palung, ada tambahan 2 atau 5 ribu sekali jalan untuk ojek.
Padahal suami tak selalu rutin kerjanya. Bergantung musim tanam sampai proyek usai. Harus ada simpanan di saat sepi kerjaan, dan saya kerap tak tega gunain uang suami demi memasarkan tulisan ke media karena merupakan hal tak pasti jika tak rutin terhubung dengan dunia luar (internet).
Sekarang, meski pakai paket hemat sehari atau 3 hari, saya harap tetap produktif berkarya demi kerja. Pernah pakai sebulan 50 ribu Januari ini tapi cuma awet beberapa hari, Palung ngabisin kuota data untuk main gim. Yah, lagian cuma dapat 1 GB untuk data, yang 2 GB untuk Videomaxx tak terpakai.
Menulis adalah dunia dan profesi pilihan saya. Saya cuma bisa menulis sebagai keahlian utama. Saya ingin bisa bantu suami dengan menulis. Saya harap taraf hidup kami bisa meningkat lebih baik daripada sekarang.
Dan saya senang bisa terbantu berkat modem Telkomsel FLASH plus kartu Simpati, penghubung saya dengan dunia luar. Meski kedua produk tersebut masih ada kekurangannya. Kurang optimal dalam menangkap sinyal jika cuaca mendung dan berhujan di lereng gunung ini.
Kelebihan modem adalah tahan dipakai berjam-jam daripada ponsel yang harus dicas jika habis batrenya. Modem juga aman dari incaran hacker karena tak menyiarkan hotspot alias WIFI jadi tak terdeteksi perangkat lain jika sedang dipakai. Justru komputer sayalah jika sedang terhubung dengan internet bisa melihat perangkat ponsel yang berada di lokasi dekat pengguna tersebut.
Modem membutuhkan kesepakatan dari kedua belah pihak jika hendak disambungkan secara nirkabel ala hotspot.
Tak jelas apakah modem bisa sebagai hotspot bagi perangkat ponsel pintar, karena saya dan Apip anak Ipah pernah bingung untuk mencobanya sebab tiada keterangan mengenai penangkapan tampilan perangkat komputer saya di ponsel Apip secara otomatis.
Kalau menyambungkan komputer ke ponsel untuk hotspot, sih, bisa. Yah, ponsel berlaku sebagai pengganti modem.
Adakah yang tahu caranya? Menjadikan modem sebagai hotspot bagi ponsel pintar? Tolong bantu jika ada. Terima kasih.(*)
Cipeujeuh, 22 Januari 2018