HOME/RUMAH

Jumat, 23 Februari 2018

Nonton Dorama Bikin Baper




Dorama dalam bahasa Jepang artinya drama. Pelafalan kata dengan dua huruf konsonan dari bahasa lain seperti [d][r]ama akan ditaruh vokal (o) di sela konsonan tersebut sehingga menjadi dorama.
Mungkin sebelumnya ada yang tidak tahu mengenai kebiasaan pelafalan bagi orang Jepang, semisal mengucap drama jadi dorama, lantas sempat tak ngeh dengan istilah dorama tersebut.
Sekarang sudah tahu karena paparan singkat saya, ‘kan?
Kalau belum, yah, mungkin Anda harus cari referensi kebahasaan lain, soalnya saya cuma hendak membahas drama atau film Jepang, doang.
Dari kecil, minat saya pada film Jepang sebatas yang bergenre laga, semacam film ninja atau samurai. Ada juga tambahan tak penting lainnya, film pahlawan konyol macam “Gaban” -- karena cuma tampilan kostum dan perangkat tambahan lain yang terlihat hebat bagi anak kecil padahal untuk zaman sekarang terasa kacangan.
Saya suka teknik sinematografi film Jepang tentang ninja atau samurai, itu terasa alami dan tak berlebihan pengadegan laganya. Film kungfu China pada tahun ’90-an pakai teknik artifisial yang terasa lebay saking super saktinya. Efek khusus boleh saja ditambahkan, asal jangan terlihat seperti tak masuk akal. Dan mata saya kewalahan mengikuti adegan laga supercepat antara lakon pahlawan dan penjahat.
Sebagai contoh, baku hantam tangan dan kaki atau adu senjata macam pedang, membuat saya bertanya apakah seni (silat) seakan tempelan semata dibanding kecanggihan teknologi? Dan saya merasa sedang dibodohi secara sukarela atau paksa.
Ada yang berbeda kala menonton film ninja atau samurai, teknik perkelahiannya memang cepat namun itu terasa nyata. Ninjanya menguasai ilmu ninjutsu, sih. Senjata utama mereka selain bom asap untuk menghilangkan jejak diri, pedang shinobigatana atau senjata bintang segiempat shurisen benar-benar keren. Kostum ninja dalam balutan warna serba hitam atau serba putih berkesaan misterius.
Sedang film samurai, pengadegan laganya memakai pedang panjang dari logam yang disebut katana atau pedang kayu panjang, memukau. Satu gerakan cepat dapat langsung melibas lawan! Kostum mereka yang memakai yukata atau kimono, pakaian tradisional Jepang yang berlapis-lapis, membuat kita seakan terbawa ke abad silam.
Saya tak pernah bisa melupakan film favorit yang ditonton kala SMP, tentang dara samurai buta yang cantik namun sebatang kara dalam “Watchout Crimson Bat”, 1 dan 2. Meski buta, gerakan pedangnya memukau, hasil berlatih keras pada seorang samurai yang mengasuhnya.
Dan menonton dorama bagi saya adalah pengalaman baru. Kebanyakan, sih, mengenai cinta di kalangan anak muda. Itu juga dapat dari hasil sedot dari laptop Ai Ghina, anak kuliahan yang sukarela berbagi koleksi filmnya.
Zaman awal SMU doi tergila-gila pada film Thailand dan anime, pertengahannya drakor alias drama Korea, lantas saat kuliah kini koleksi filmnya merambah pada dorama. Dan bagi movielover macam saya, apa pun itu oke saja. yang penting dapat tontonan gratis tanpa harus unduh sendiri, soalnya modem saya tak bisa menangkap sinyal karena lokasi rumah. 
Menonton dorama bagi saya serasa menikmati jejak manga. Sampai saya tak tahu, apakah teknik manga yang membentuk dorama sekarang? Atau dorama memang penggambaran dari gaya keseharian secara natural ala orang Jepang? Jadi, teknik sinematografi mereka yang berkesan lamban dan close up atau wide out, merupakan filosofi orang Jepang sendiri dalam menyikapi persona dan lingkungannya?
“Ookami Shouzo”, “Orange”, “Heroine Shikkaku”, “LDK”, “Another”, “Death Note”, dan beberapa judul lainnya yang saya lupa; tak bisa saya lupakan teknik pengadegannya.
Apa pun itu, saya bisa merasakan teknik sinematografi mereka mengungkapkan kehalusan perasaan. Sungguh-sungguh dalam membuat film dan pengadegan, peran pemain bukan sekadar tempelan melainkan untuk menghidupkan film dengan karakter yang dibawakan.
Tidak heran, saya selalu merasa baper kala menonton film bergenre drama atau dorama seri. Shoot mereka berbeda dengan drakor. Berbicara dengan gaya lambat atau sedang mendengarkan lawan bicara secara sabar dan perhatian namun responsif dalam menanggapi, membuat saya terempas pada dunia nyata yang didiami.
 Orang sini di kampung saya, terutama kaum perempuan, ternyata kerap bicara dengan nada cepat dan kegiatan sabar mendengarkan dengan terkonsentrasi sekaligus responsif positif seakan barang langka, yang ada hanya upaya untuk segera menyela atau kualitas percakapan tak berujung pangkal untuk mencapai makna.
Kita bisa berpikir bahwa shoot dorama dengan tampilan close up  atau wide out yang menyasar pada persona pelakon atau latar pengadegan, merupakan upaya sadar agar penonton benar-benar merasa terlibat dalam peran tersebut sehingga terbawa perasaan alias baper untuk bahasa gaulnya sekarang.
Silakan menonton untuk membandingkan. ***
 ~ Rohyati Sofjan adalah pencinta film dari zaman TV hitam putih dengan serial “Hunter” dan “Friday the 13 Th.”, TV swasta dengan serial “Mac Gyver”, sampai aneka film unduhan hasil sedot sana-sini dari komputer siapa saja yang mau jadi bandar film gratisan pada zaman sekarang
#Dorama #Samurai

11 komentar:

  1. Saya juga pecinta film mba, cuma film kartun atau action, hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga suka kartun dan eksen namun butuh dorama atau drama untuk memuaskan hasrat baper, haha.

      Hapus
  2. Saya setuju kalau sinematrogafi dorama jepang itu lebih kelihatan alami, apalagi kalau udah menyangkut pemandangan alamnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayaknya sineas sana punya sense yang tak dimiliki bangsa lain. Entah apa. Ada kaitannya dengan akr budaya mereka 'kali jadi bisa ambil pemandangan alam yang berasa beda. Salam kenal, Mas. Makasih dah berkunjung.

      Hapus
  3. Kalau drama jepang aku suka yang sedih-sedih. Kayak "i meet yesterday you". Itu serius bikin baper banget habis nonton

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, belum nonton itu. Jadi penasaran, haha. Iya, ternyata ada banyak dorama yang baperin kita.

      Hapus
  4. yes! membahas tentang Jepang, salah satu negara kesukaanku :)
    Kalo Dorama Jepang aku sendiri kurang suka, aku lebih suka aneme kartunya.
    Ga tau kenapa orang jepang kalo akting kayak kurang menjiwai, jadi berasa ada yang kurang.
    Tapi kalo boleh memilih antara film jepang dan Thailand aku lebih suka Thailand, hehe ribet ya :v

    BalasHapus
  5. Kalo saya sih biasanya nonton dorama itu jadinya bukan baper, tapi laper. Maklum, di dorama yang saya tonton itu biasanya ada banyak makanan-makanan Jepang yang bikin ngiler. Sebut aja Kekkon Dekinai Otoko atau Shinzanmono. Hehehe, ketauan nih saya seleranya masih selera jadul. Makin sini makin sibuk soalnya sampai gak ada waktu buat nonton.

    BalasHapus
  6. Wadawwww Mac Gyver, ketauan tuanya kak. heuheu..
    Dorama ya namanya, drama jepang emang sedikit berbeda dengan kdrama, kalo jepang gak cuma drama tapi kadang bikin bingung. Eh belum pernah nonton dorama sih, kalo anime sering hahah. Pengen coba nonton tapi belum tertarik sama genrenya, jadi lebih sering nonton serial tv amerika.

    BalasHapus
  7. baru tau, ternyata ada lingkungan yang lebih seneng ngomong cepet'' ketimbang dengerin aja gitu ya? padahal lebih enak denger deh. kayaknya sih.

    sampai sekarang belom pernah nonton dorama ini. paling adek yang suka nonton ginian. akibat kesukaannya nonton anime, kemudian berlanjut dengan dorama. gue cukup dengan drakor aja. iya, badan gede gini malah doyan drakor. yah, selama jalan ceritanya seru dan tersedia di laptop, ya tonton aja. hahaha
    tapi kayaknya sesekali harus nyoba nonton dorama yang bergenre action/laga. soalnya cuman pernah nnton samurai x sama yang tentang ninja itu, film apa ya namanya? pokoknya banyak adegan berdarah-darahnya gitu

    dan kenapa ya, di indonesia enggak bikin film kayak gitu. yg 12/30an episode?

    BalasHapus
  8. ampuunnn dah -, makroh suka drama ugaaak
    jangan sering sering yaa makrohhh nanti baperan kebawa muluk wkwkwkw
    mangat lagi ya makroh ngeblognya biar bisa bewek lagiiii :)

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D