Tampilkan postingan dengan label CERITA PENDEK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA PENDEK. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Februari 2018

Merah





Ia mencintai warna merah!
Dan kini warna itu membalutnya dengan cinta pula. Tubuh yang bersimbah darah. Merah. Merembesi tanah tempat ia terkapar tanpa daya di antara rimbun belukar tepi jalan entah. Ia meringkuk dengan punggung melingkar ke samping kanan dan kedua tangan memegangi perutnya yang robek dihunjam senjata tajam; darah mengucur deras tanpa bisa ia hentikan. Matanya yang panas dan menyisakan tangis, terpejam. Erangnya tak lagi keluar. Meski nyeri itu amat memedihkan, ditambah rajaman deras hujan di malam gelap tanpa panduan jam. Dengan sesekali kilat dan guntur menggelegar.

Jumat, 05 Januari 2018

Pelayaran Tristan






Senja itu seperti biasa Tristan Jones duduk di atas kursi rodanya. Mengamati panorama senja di balik jendela kaca kamarnya yang terpentang lebar ke arah lautan, dengan debur ombak tak henti bergulung disapu angin kencang. Kapal-kapal beragam ukuran berlayar dengan latar bola merah raksasa di arah barat memberkaskan cahaya aneka warna yang menyapu isi dunia.

Cerpen Rohyati Sofjan

 

BEGITULAH  jarak yang ditempuh cahaya melalui atmosfer menentukan warna matahari. Pada saat matahari terbenam seperti itu, cahayanya menempuh jalur lebar di atmosfer dengan sudut tajam dan melewati daerah padat partikel. Kemudian partikel-partikel itu menghamburkan warna cahaya yang mempunyai riak gelombang panjang sehingga matahari berubah warna dari kuning, jingga, sampai merah tua seperti sekarang.
Ia selalu terpesona pada panorama demikian. Betapa tak bosan-bosannya memandang saat-saat menjelang matahari terbenam ke arah ufuk seharusnya sesuai rotasi bumi. Seolah ada Tangan Raksasa yang telah mengatur semua itu dengan cermat dan konstan. Namun ia menanti sesuatu setiap senja tiba, sesuatu yang membuat matanya berkaca-kaca: kumandang azan magrib dari suatu masjid nun mengalun, menembus relung-relung cahaya senja sebelum lenyap ditenggelamkan malam. Ia selalu takjub pada harmonisasi panorama senja yang perlahan memudar diiringi lengking nyaring azan magrib membelah langit Kota Phuket yang sudah lama ia diami. Begitu damai. Maka jiwanya bergetar dalam remang-remang perpaduan panorama senja dan azan. Betapa tenteram.
Tristan, lelaki dalam usia senjanya itu seolah disadarkan akan makna pencarian yang telah lama ia lakukan. Telah tibakah ia di batas temu bahwa hidupnya bukanlah sesuatu yang semu? Puluhan tahun ia mencari sesuatu yang bernama “temu” dengan mengarungi lautan, terkadang sendirian, agar dahaganya akan temu itu terpuaskan. Sebab ia seorang petualang, lebih tepatnya musafir yang memilih jalur pelayaran sejak usianya 14 tahun sampai 68 tahun lalu, tak lelah menuntaskan hasrat dan kecintaannya akan lautan dengan semangat berkobar-kobar, mengenal selubung tipis keberanian dan ketakutan; sebagai sesuatu yang tak terpuaskan!
Akan tetapi, sekarang ia lelah. Lelah berlayar. Ia merasa kian lemah dalam ketuaan. Waktu, siapa yang bisa menghentikan siklus kehidupan seseorang atau sesuatu makhluk selain kematian. Dan Tristan merasa maut itu bukan lagi sesuatu yang samar. Maka pada setiap kumandang azan -- dari subuh, siang, sore, magrib, dan malam -- jiwanya selalu tergetar. Betapa harum untaian maut dalam hantaran azan. Dan tiba-tiba ia berada di puncak ekstase kerinduan tak terpahamkan. Kerinduan pada sesuatu yang abadi: TUHAN!
Sepanjang hidupnya ia pernah berlayar sejauh 450.000 mil laut, 18 kali menyeberangi Lautan Atlantik, 9 kali di antaranya seorang diri. Rekor yang luar biasa bagi seorang lelaki pemberani sepertinya. Yang berlayar tanpa mengenal banyak jeda demi kecintaannya akan lautan. Dari Samudra Arktik atau Kutub Utara yang menggigilkan (meski ada petualang lain yang lebih “gila” mengarungi Kutub Utara tersebut tanpa bantuan peralatan yang memadai seperti duet Ranulph Fiennes dan Mike Stroud pada tahun 1988 yang sesama orang Inggris dan kalangan militer); lalu laut yang paling rendah macam Laut Hitam, seolah Tuhan hendak menunjukkan variasinya dalam mencipta lautan; sampai melayari danau yang paling tinggi di Peru: Danau Titicaca. Semua itu telah ia arungi dengan gejolak pengalaman yang beragam. Tujuh puluh negara telah ia kunjungi. Belasan judul buku yang ia tulis sebagai monumen petualangannya, telah diterbitkan dalam 7 bahasa. Dari Wayward Sailor, Incredible Voyage, Somewhere of East Suez, Ice, dan lain-lain.
Namun sudah cukupkah semua petualangannya jika titik temu itu masih belum ia rengkuh?
Ia gelisah. Menanti detik-detik azan yang seolah berabad-abad lamanya. Langit masih terang menyulam warna senja. Magrib selalu mengingatkannya akan metamorfosis kematian. Masa mudanya yang segar dan gemilang, sampai usia senjanya yang renta dan suram. Kapankah seseorang datang dari seberang lautan, sesama pelayar yang mengerti makna gelombang, membawa cahaya dan kabar gembira mengenai agama penuh salam?
Ia merindukan seseorang yang bisa menuntunnya memasuki relung azan dalam peribadatan. Terlalu lama ia berada di luaran tanpa seseorang pun yang mengajaknya memasuki pintu yang sudah lama ingin ia masuki: ISLAM!
Tristan terisak. Dadanya serasa mampat.
Ia mengingat masa-masanya yang telah lewat. Sisi kelam yang sempat menyinggahinya. Sampai batas kesadaran akan soul searching, ‘pencarian jiwa’. Belum terlambatkah ia? Ia berdoa dengan cara yang diyakininya, agar Tuhan tak membiarkan sisa usianya dalam kesia-siaan. Ia menanti seorang tamu, tamu yang bisa menuntunnya; bukan tamu-tamu yang biasa menemuinya, mengajak bercakap akan hal-ihwal yang dulu membuatnya bersemangat namun kini dirasa kering dan menjemukan.
Entah mengapa ia menginginkan orang Indonesia. Ada memori tersendiri di hatinya. Negeri itu bukanlah tempat asing baginya, begitu pun orang-orangnya. Ia pernah tinggal cukup lama dan bergaul dengan mereka. Menyaksikan tata cara peribadatan mereka yang beragama Islam. Sampai ucapan salam yang serupa doa. ‘Assalammualaikum’ dan ‘Waalaikummussalam’, begitu dalam perjumpaan di antara sesama muslim, sesuatu yang membuatnya heran sebab adakalanya mereka tak saling kenal. Ia terkesan pada keramahan dan silaturahim orang-orang Indonesia yang pernah dikenalnya, juga pertolongan yang ikhlas diberikan kala ia diterjang berbagai kesulitan dalam pelayarannya.
Akan tetapi, ia menetap di Phuket, Thailand. Kota pantai yang indah dan dipenuhsesaki oleh turisme sampai prostitusi. Menyepi di sebuah rumah berpemandangan ke arah lautan; kiblat yang ia cintai. Dengan penjaga, dan anjing galak yang siap menyalak demi keamanan dan privasi dari sekian gangguan tak diinginkan. Adakah “kawan” Indonesia yang akan datang?
Sepi itu kian menggumpal.
Matahari perlahan karam seolah ditelan lautan.
Tiba-tiba azan berkumandang.
***
HIDUP adalah semacam pencarian. Itu yang diyakininya. Masa-masa muda telah lewat, kelebat ingatan sesekali membawanya pada penyesalan. Ia bukan orang lurus, tak sepenuhnya lurus. Namun ia ingin mencoba lurus.
Tristan kini tak lebih dari seonggok daging tanpa kaki meluncur di atas kursi rodanya. Bukan lagi lelaki pemberani yang bebas bergerak ke sana kemari dengan lincah dan mandiri. Menantang maut di lautan berbagai benua mahaluas telah lama dilakoninya. Akan tetapi, ia melakukannya bukan sebagai kesombongan lagi. Setiap detik dalam pelayarannya kala diterjang badai, kesulitan, dan musibah membuatnya begitu dekat dengan malaikat kematian. Dan ia mengenal gentar sekaligus syukur kala semua usai, bahwa nyawa masih lekat dengan raga. Sekaligus tanda tanya.
Namun bukan berarti ia tak pernah mengenal masa-masa gelap dalam hidupnya. Lelaki Inggris itu pernah tiga kali bertugas di Angkatan Laut negaranya demi pengabdian. Tiga kali kapalnya ditembak dan ditenggelamkan torpedo kapal selam Jerman. Ia terpaksa pensiun pada tahun 1952 karena luka yang dideritanya. Luka itulah yang membuat pembuluh darahnya di kakinya tersumbat sehingga harus diamputasi satu demi satu agar nyawanya tetap selamat.
Dan ia tenggelam dalam kepedihan. Juga kemarahan. Butuh waktu lama agar bisa menerima kenyataan dengan tegar. Berusaha melanjutkan kecintaannya pada lautan dengan kembali berlayar. Cacat kakinya tak dirasa menghalangi meski ada keterbatasan yang membuatnya harus tahu dan sadar kapasitas diri. Namun ia tidak kurang akal untuk meyiasati. Ia telah menerima semua itu dengan keikhlasan total. Bahwa semua digerakkan oleh Rencana Besar. Maka pelan-pelan ia bermetamorfosis untuk mengenal siapa pengatur alam ini. Terlalu banyak kebesaran yang ia saksikan dalam pelayaran.
Tidakkah Tristan sadar dan haqqul yaqin akan kekuasaan Tuhan, juga dinul yang ingin ia kenal lebih dalam. Dinul dari Tuhan dengan perantaraan seorang lelaki dari tanah Arab bernama Nabi Muhammad. Agama yang berbeda dari agama-agama lain yang dikenalnya sebab hanya menyembah Yang Satu.
Selama ini ia berusaha mengenal Islam lewat bacaan. Beberapa di antaranya bernada memojokkan. Namun itu tak berpengaruh, malah kian besar keinginannya untuk memasuki agama tersebut. Karena itu ia menunggu seseorang dari seberang lautan. Seseorang yang bisa memahami gejolak perasaannya agar ragu itu hilang.
Betapa ironis, Thailand (atau Siam, mestinya) negeri yang mayoritas penduduknya beragama Budha dihuni seseorang seperti Tristan Jones, orang asing yang ingin jadi muslim.
***
LALU saat itu tiba. Dua bulan sudah ia sengaja mengasingkan diri dari dunia luar dan tak menerima tamu. Sepasang suami istri paruh baya mencoba mengunjunginya. Namun di pintu gerbang terpampang pengumuman: “Tidak menerima tamu, kecuali dengan perjanjian, telefon, atau teleks.”
Mereka tidak menyerah. Kepada penjaga, lelaki paruh baya berambut perak dan berkulit gelap terbakar matahari namun masih tegap itu memperkenalkan diri dan sang istri sebagai Tuan dan Nyonya Ahadiat dari Indonesia. Mereka telah berlayar sejauh 4.000 mil khusus untuk menemui Tuan Tristan Jones, serta memberi tahu di mana kapalnya berlabuh. Menyerahkan kartu nama dan pesan akan kembali pukul 13.00. Lalu mereka pergi untuk suatu urusan.
Pada hari kedatangan sepasang tamu itu, entah mengapa Tristan dihantam firasat yang menggelisahkan. Ia sedang di ruangannya, menulis buku ketika kartu nama itu segera diserahkan penjaga berikut pesan lisan sang tamu. Gemetar ia membaca kartu itu dengan haru. Ia harus berbuat sesuatu.
“Tolong segera sampaikan bungkusan ini kepada mereka.” Pesannya pada penjaga tersebut.
Dan ia menunggu.
***
TERPANA Ahadiat ketika menerima bungkusan itu di kapalnya. Sebuah buku The Venture Further karya Tristan Jones berikut pesan di sampulnya: “Anda datang tepat waktunya. Silakan datang.”
“Alhamdulillah, kita diundang, Bu…,” ucapnya sarat perasaan, pada sang istri yang setia menemani selama pelayaran dari pelabuhan Cirebon sampai Thailand, berdua saja dengan kapal mereka yang diberi nama TRISTAN!
***
MAKA pertemuan itu berlangsung juga. Penuh keharuan. Padahal sebelumnya mereka tidak ada ikatan batin, semacam komunikasi lewat surat, misalnya. Namun mengapa seolah bertemu saudara yang lama berpisah?
Bagi Ahadiat, Tristan adalah guru dan inspirator, untuk ikut berlayar mengarungi lautan. Terkadang ditemani istri saja, atau orang lain, atau cukup seorang diri. Pelayaran panjang melelahkan dan mendebarkan itu terinspirasi dari kisah petualangan Tristan yang ia anggap sebagai guru “jarak jauh”. Kapal mereka cuma yacht mungil sederhana bermesin 12 PK dan sering rusak selama pelayaran panjang penuh gelombang tak terduga.
Betapa pertemuan dengan sang guru sudah lama Ahadiat nantikan.
“Terima kasih telah datang,” Tristan dicekat keharuan sambil memeluk bahu Ahadiat. Erat.
“Kamilah yang berterima kasih bahwa Anda bersedia menerima kami.” Ahadiat tak kalah haru, sementara sang istri hanya termangu.
Kemudian mereka berbincang sambil duduk dan menikmati hidangan ringan. Tristan mempersilakan kedua tamunya bercerita mengenai pengalaman pelayaran mereka. Maka panjang lebarlah Ahadiat menceritakan romantika pelayarannya dari Cirebon, Pulau Rakit di Ujung Indramayu, Toboali di Pulau Bangka, Kualatungkal, Tanjung Balaikarimun, Kolong; memasuki wilayah Malaysia di Kukup, Muar, Malaka, Port Dickson, Port Kelang, Lumut, Penang, Langkawi; lalu wilayah Thailand di Terutao, Pakbara, Ko Liang, Ko Lanta Hyai, Krabi, dan berakhir di Phuket.
“Itu pelayaran yang sangat jauh,” gumam Tristan kagum.
“Tidak sebanding dengan apa yang telah Anda lakukan,” Ahadiat merendah. Bagaimanapun, Tristan Jones adalah legenda di kalangan petualang laut. “Kami berencana untuk membelah Terusan Suez kelak, jika pelayaran ini berjalan lancar.”
“Semoga lancar.” Harap Tristan hangat dan simpatik. “Akan tetapi, adakah hal lain dan khusus dari pelayaran Anda dari Cirebon ke sini? Ia masih haus akan cerita, cerita yang lebih spiritual.
Sejenak Ahadiat berpikir, matanya menerawang mengingat kilas balik pelayarannya. “Rasanya banyak sekali, Tuan Tristan. Dari kerusakan mesin; kehilangan jangkar karena diembus angin kencang; menabrak perahu motor ikan yang membuat kami harus membayar ganti rugi sebesar 50 ringgit; tidak mudahnya menyusuri Pantai Port Dickson karena banyak lumpur, sero, bagan, dan jaring penangkap ikan; sampai diperlakukan sedikit keras oleh polisi Malaysia berkaitan dengan para penyelundup asal Indonesia yang membawa rokok kretek ke wilayah mereka….” Ahadiat berhenti sejenak. Ia capai dan haus bicara panjang lebar. Tristan mempersilakannya mengambil minuman.
“Selain kesulitan, adakah bantuan dan hal-hal baik yang Anda temui?” ia mendesak, entah mengapa ia harus mendesak. Untung kedua tamunya tak menangkap nada desakannya.
“Oh, di Pakbara kami sempat bertemu sepasang suami-istri nelayan yang beragama Islam. Mereka sangat baik. Sempat menginap dan makan bersama di sana. Yang paling mengesankan dari kehidupan nelayan mereka adalah suami-istri sama-sama melaut untuk menjaring ikan. Jadi, tak ada istilah berantem karena hasilnya kecil, beda dengan nelayan di Cirebon.” Nyonya Ahadiat ikut nimbrung. Tristan dan Ahadiat sama tersenyum.
“Di Krabi, saya sempat jadi imam waktu salat Isya.” Gumam Ahadiat dengan pandangan mengawang. Betapa dalam kesempitan Allah masih melapangkan jalan, bahkan mengenal silaturahim dengan sesama muslim di Thailand.
Sementara itu Tristan terpaku di atas kursi rodanya. Keramahan orang-orang muslim di Pakbara dan Krabi bukanlah hal asing baginya, namun ketika Ahadiat bercerita bahwa ia menjadi imam salat, ada sesuatu yang menyejukkan masuk dalam relung jiwanya. Tidak salah lagi, merekalah tamu yang ditunggunya. Namun ia harus menegaskan sesuatu.
“Anda muslim?” tanyanya ragu.
Ahadiat dan istri saling berpandangan, tak mengerti arah pertanyaan Tristan.
“Ya, kami muslim.” Ahadiat berusaha berbaik sangka. Bagaimanapun, ia dan istri adalah tamu dari seorang guru yang dikaguminya. Dilihatnya Tristan memejamkan mata dan menarik napas lega.
Tristan merasa sekaranglah saatnya. Kepada kedua tamu itu ia mencetuskan keinginan yang lama terpendam. Juga bahwa ia bertahun-tahun menunggu seseorang yang datang dari seberang lautan. Bukan orang kulit putih atau Thailand, melainkan Indonesia negeri yang pernah dicintainya, seseorang yang bisa diajak bicara dan memahami perasaannya.
“Saya bukan orang religius. Namun, andaikata saya beragama, saya akan masuk Islam. Maukah Anda menolong saya?” Suara itu penuh pengharapan. Harapan terpendam yang sarat getar.
Kembali terpana Ahadiat dan istri mendengar pengakuan Sang Guru yang dikaguminya. Lalu pecahlah tangis haru campur bahagia di antara mereka bertiga. Betapa panjang jalan hidayah itu, dan betapa pertemuan mereka tak dinyana diatur-Nya untuk membukakan pintu hidayah seorang calon muallaf yang hendak hijrah. Subhanallah….
Ya, Tristan telah menanti mereka demi saat itu. Penantian tak sia-sia dalam detik-detik sisa hidupnya agar tak berkubang penyesalan. Maka syahadat pun bergetar di dalam Masjid Ban Kung Ti, di hadapan imam masjid dengan Ahadiat dan istri sebagai saksi. Dua kalimat syahadat itu sebelumnya telah diajarkan Ahadiat sang murid sebagai syarat utama masuk Islam. Begitulah sang guru dan murid berbagi pemahaman dengan cara mereka masing-masing, ketika alur hidup pilihan mempertemukan mereka dalam makna silaturahim. Selalu ada kehendak bebas yang harus siap dipertanggungjawabkan ke hadirat sang khalik.
Langit Phuket pun bergetar. Angin laut bertasbih lirih. Menjadi saksi bukti cinta seorang hamba yang sekian lama mencari temu bagi rindu. Rindu pelaut akan pelabuhan akhir dari pelayarannya mengarungi samudra kehidupan.
Dan Tristan sadar sewaktu-waktu harus bersua dengan Yang Dirindukan, ingin mewakafkan harta dan royalti menulisnya kepada Masjid Ban Kung Ti untuk menyantuni anak cacat, yatim piatu, dan pendidikan agama.
Ahadiat membantu menyampaikan maksud tersebut pada sang imam yang sama bersyukur. Pada akhirnya ada yang ikut memakmurkan masjid ketika umat muslim menjadi minoritas di suatu tempat yang sarat maksiat.
Maka setiap senja menjelang Magrib, Tristan menanti azan dengan serbuk-serbuk kebahagiaan. Pada akhirnya ia bisa memasuki relung azan dalam peribadatan. Perahu sajadah pun terbentang dalam sembahyang. Jiwa Tristan tersungkur dalam sujud penuh syukur. Bahwa ia telah diberi sapuan kehidupan yang kaya warna dan tak karam dalam palung kesia-siaan.
***
NUN di Bandung, sebuah buku One Hand for Yourself tanda mata Tristan yang dipilih Ahadiat dan istri dari lemarinya, tersimpan rapi di rak buku mereka.
Tangan Siapa lagi yang menggerakkan?***
Cipeujeuh, 7 Juli 2006
#Sumber pustaka:
- Paragraf kedua yang miring dikutip dari kolom "Adakah yang Ingin Anda Ketahui", Majalah Intisari.
-                                “Si Kakek Gila Kembali Berulah” karya Ahadiat sebagai pengalamannya kala berlayar dari Cirebon menuju Malaysia dan Thailand. Intisari, No. 355/XXX/Februari 1993.
-                                Ada beberapa kalimat yang dikutip dari artikel tersebut sesuai aslinya demi pertimbangan bahwa cerpen ini merupakan pengembangan dari satu peristiwa, percampuran antara fiksi dan fakta. Semacam epik.

Pertemuan Senja



Cerpen Rohyati Sofjan


SENJA itu, sepulang kerja di atas pukul lima, kutemui sosokmu yang menepati janji di lapangan parkir Stasiun Kiaracondong, menyaksikan ibu-ibu bermain voli. Tampaknya seru sekali.
“Hai!” sapaku begitu kamu menoleh ke belakang, seolah hafal dengan irama detak sepatuku, atau nalurimu saja yang mengabarkan kehadiranku. Aku duduk di sampingmu, di pembatas lapangan parkir yang disemen. Langsung kubuka bungkusan majalah yang sedianya akan kupinjamkan padamu sebagai janji atas penawaranku di senja kemarin pertemuan kita.
Namun kamu malah ingin bercerita tentang gadis berkerudung cokelat di seberang yang sejak pukul tiga kamu perhatikan. Mataku langsung menyapu sosoknya. Anggun benar ia dengan tunik dan rok panjang serta jilbab lebar, sayangnya aku juga tidak tahu siapa ia dan di mana tinggal.
Kamu ingin kenal. Aku tertawa begitu kamu bilang langsung jatuh hati pada pandangan pertama. Betapa mudahnya kamu demikian. Dan betapa beruntungnya kamu punya kekasih yang pengertian, nun di Madura sana, yang mengizinkanmu punya pacar lagi tanpa diminta dengan syarat pada akhirnya hanya ia yang kamu nikahi saja.
Lantas kita tinggalkan lapangan voli, mencari sudut yang tenang untuk kita cengkeramai. Begitulah, aku tak pernah menghitung pertemuan kita ke berapa dalam setiap senja. Pada mulanya aku tak mengerti mengapa kamu betah nongkrong di lapangan tersebut, sementara aku hanya akan melewatinya saja; langsung pulang, kadang mampir dulu ke wartel yang ditongkrongi temanku untuk mengobrol atau pinjam koran.
Aku sibuk dan lelah. Namun kupikir tak ada salahnya bercengkerama denganmu, meski akibatnya jadwalku berantakan. Sebab kamu seolah bisa lupa waktu. Magrib lewat. Kita bolos salat atau salat magribmu telat. Dan sehabis itu aku buru-buru memeriksa apa keran air PDAM dekat rumah Pak RT masih ngocor.
Aku jadi malu pada Iqbal karena dalam surelku, aku berkoar-koar soal kesibukanku berikut mengaji Quran sebagai jadwal harian setiap malam, sehingga ia bergeleng kepala membaca surelku dan bertanya di jajaran Kartini modern manakah aku diletakkan. Namun aku lebih malu pada Tuhan, kurasa jadwal tadarusku sebaiknya diubah menjadi sehabis salat subuh -- itu jika subuhku tak bolong.
Kadang kunikmati percakapan kita dengan pendar cahaya senja sebab sebelumnya aku tak pernah demikian. Bukankah hal gila bagiku jika duduk sendirian di bawah tangki air raksasa hanya untuk mengagumi panorama senja, seolah tak ada hal lain yang perlu kulakukan.
Sebab aku berpikir betapa gilanya kaum lelaki, meromantisasi senja sedemikian rupa dengan dramatisasi berlebihan. Barangkali kamu termasuk jenis lelaki yang demikian, dan butuh kawan untuk menghayati senja tidak hanya seorang diri semata. Lalu aku jadi korbannya hanya karena kita sekecamatan atau mungkin malah sekelurahan.
 Kamu seorang lelaki penyair. Pembaca Gibran sekaligus pemujanya. Sementara aku perempuan yang masih malu-malu untuk menjadi penyair, malah enggan mengenal lebih jauh siapa dan bagaimana Gibran hanya karena seorang lelaki yang pernah kukenal menganggapnya sastrawan pop dan lebih suka Muhammad Iqbal -- penyair-pemikir/pemikir-penyair asal India yang lewatnyalah gagasan negara Pakistan terbentuk.
Dalam setiap intermezo, atau kamu malah menafsirkannya lebih jauh sebagai kencan (?), aku sadar betapa bertolak-belakangnya kita. Kamu kadang membuatku kesal karena malah curhat melulu soal cinta seolah tak ada hal lain di dunia yang lebih menarik dari itu. Tidak diskusi dan perdebatan.
Kupikir Gibran telah menertawakanku dengan membentuk sosok sepertimu. Cinta, bagi kamu adalah sesuatu yang sangat memabukkan; sementara aku sebagai seorang mantan pecinta mabuk kepayang pada seseorang yang tak lekang, menganggap cinta adalah sesuatu yang tak terjangkau dan kadang tak masuk akal.
Seperti menghadirkan kegilaan, sesaat!
Begitulah kamu dan aku. Senja demi senja digelar. Kata-kata berhamburan. Dan sesekali orang-orang memerhatikan seolah kita laiknya sedang pacaran. Hatiku riang, membayangkan seandainya aku tidak sedang dengan kamu, aku dengan seseorang yang nun di seberang kenangan.
Akan tetapi, apa boleh buat kita malah sering bertemu, maka otomatis perkawanan kita pun tidak sekadar kenal sekelebatan.
Dan saking bersemangatnya akan cinta, kamu sering geerin aku dengan menyebut sekian nama lelaki yang kamu kira istimewa dalam hidupku secara berulangkali, seperti Keanan. Padahal kamu tidak tahu dengan siapa sebenarnya aku merasa. Bagiku Keanan hanya sekadar kawan.
Gila! Kuanggap kamu makhluk melankolis dan sok romantis yang berbahaya untuk bercengkerama. Aku sempat berpikir tak ingin punya kekasih yang penyair, sebab mengenalmu seolah melihat “jendela rumah penyair yang sebenarnya,
Aku perempuan realis. Malah imajinasiku menjurus kalkulatif dalam tatanan matematis. Segala sesuatu harus kuperhitungkan, dan aku lupa bagaimana caranya agar imajinasiku kembali liar tanpa beban.
                                      
SENJA tadi kamu mengajak seorang kawanmu yang dulu pernah bertemu denganku di acara Pameran Buku Bandung, dua tahun lalu, Fauzi namanya. Aku pangling melihatnya. Ia berubah seperti seniman muda lainnya dengan penampilan agak bohemian. Ia cakep, tentu saja. Lebih cakep dengan potongan rambut yang melewati batas telinga.
Kuanggap ia sama seperti kawan lelaki lainnya. Namun kamu benar-benar gila. Kukira nama depanmu yang berinisial A itu adalah Asmarawan. Sebab kamu malah menggoda kami yang sama-sama sorangan seolah layak membentuk unikum, sampai ia menyebutmu Germo”tanpa kuveto, dan kamu pasang tampang ditekuk karena tak terima adakah tampang germo dalam dirimu.
Kamu lucu. Jahil. Usil. Sayangnya kamu terlalu asmarawan. Dan apakah karena itu kekasihmu tergila-gila padamu. Ah, beruntungnya kamu.
Dan seperti biasanya magrib itu lewat tanpa terasa. Senja menghilang. Malam digelar. Nyamuk-nyamuk di atas kepala merubung dengan dengung panjang. Pembicaraan mesti usai, asmara sampai sastra barangkali bisa kita sambung lagi kapan-kapan.
Kalian hendak ke rumah Kang Erwan Juhara di Sukapura untuk suatu pertemuan mengenai acara Pameran Buku Bandung yang akan datang. Namun entah kapan kamu berubah, tak usah mendongeng soal cinta yang bagiku antah-berantah. Adakah hidup hanya fokus pada cinta melulu?
Sementara itu Fauzi pengagum Rumi dan sedang berproses mencintai-Nya serta mengenal hakikat-Nya dengan jalan terus menulis, meski aku bilang sangat tidak mudah mencintai Tuhan dengan sepenuh penyerahan total; sebab beginilah hidup, penuh godaan dan cobaan sebagai batu ujian.
Ah, apakah di senja lain kamu akan mengajak sekian lelaki lain untuk diperkenalkan padaku sembari menikmati perbincangan dan “kencan” dalam panorama senja? Dan kamu memang pecinta yang berbahaya. Germo yang gila. Barangkali Fauzi merasa dikerjai juga.
Namun aku tidak sedang ingin pacaran. Aku benar-benar ingin memaknai arti hijrah, seperti dalam cerpen Fauzi yang pernah kubaca di koran Galamedia, yang kini menumpuk di rumahku nun di Balubur Limbangan.
Jangan katakan berjilbab adalah hal mudah. Selalu saja ada aral untuk istiqamah sebagai muslimah yang kaffah. 27 tahun adalah fase di mana aku ingin berubah lebih baik daripada yang sudah-sudah. Bagiku hidup adalah anugerah. Dan takdir adalah pilihan yang kutemui dengan jalan bergerak.
Sebagaimana rotasi bumi yang senantiasa menghadirkan panorama senja di belahan dunia ini, sampai gelap berlayar dan malam digelar. Lalu kita berpisah dengan salam dan sobahul lail di tanah lapang, tempat di mana masa kanak-kanakku pernah riang berkejaran; bermain kasti, voli, layang-layang, atau menjelajahi gerbong kereta-barang kosong.
Sementara itu siapa tahu maut diam-diam tengah mengintai, seolah mengisyaratkan bahwa senja tak sepenuhnya lagi milik kita yang abadi, tidak juga puisi. Meski panorama senja bisa memasuki bingkai jiwa penyair mana saja yang tergugah akannya.
Adakah yang abadi di muka bumi? Kenangan yang kita goreskan siapa tahu kelak hanya tinggal sejarah usang, di sudut ruang dan waktu yang kelak mungkin terlupakan.
Aku hanya kawanmu. Selalu ingin jadi kawanmu. Tak peduli aku sedang taaruf dengan lelaki lain, kamu akan tetap kawanku, seseorang yang mengajak berjemur dan berbincang dalam hamparan matahari senja. Meski kadang aku enggan dan mengangankan lelaki itu adalah seseorang dalam kenangan yang telah usai***
Kamar, 29 Juli 2003, 00.30 WIB

Baru Menikah




Murung adalah kata sifat yang kembali menyergap, kemudian memancar melalui paras wajah dan sorot matanya. Ia seolah kembali pada masa sebelum menikah: kesepian. Kana, istrinya mulai tak betah. Dan ia serba salah.

Cerpen Rohyati Sofjan


SEANDAINYA ia punya  rumah sendiri, rumah yang cukup memadai untuk membina keluarga dari hasil pernikahannya, barangkali segala kekacauan itu tak perlu terjadi. Namun ia seolah dihempaskan pada keterbatasan pilihan; tetap tinggal bersama ibunya, lebih tepat nenek dari pihak ibu, yang telah membesarkannya selama 28 tahun. Dalam rumah panggung berdinding gedek sederhana yang digerogoti hama kayu sehingga setiap hari selalu saja debu-debu kayu mengotori beberapa bagian. Merusak penampilan sekaligus mencemaskan.
Dan ia sadar hidupnya seolah kayu yang digerogoti hama kecemasan. Hantaman masalah yang membuatnya risau. Mengapa sih orang lain harus usil dan ikut campur dalam kehidupan perkawinan mereka yang belum seumur jagung?!
Belum genap sebulan pernikahan mereka, Nini, adik neneknya, meminjam uang. Katanya untuk membayar utang ke bank. Ia bingung sebab tak punya uang sama sekali. Modal warung kecil-kecilan yang dikelola bareng istrinya berasal dari uang Kana sendiri. Uang dari sisa sumbangan pernikahan di rumah Kana. Itu pun tidak cukup, hanya 350 ribu rupiah. Dan Kana telah menambahkan 100 ribu lagi uang simpanan pribadi untuk ke dokter gigi.
Ia pikir tak akan ada masalah sama sekali ketika bilang sejujurnya tidak punya uang. Namun ternyata bermasalah karena Nini ingin pinjam cincin mahar, padahal cincin itu telah dijual atas ide Kana agar mereka tak berutang: untuk menambah modal warung dan makan.
Nini bilang cincin itu akan dikembalikan dalam waktu sebulan. Nini minta agar ia menyampaikan permintaannya pada Kana.
Itulah fatalnya. Malamnya ketika ia membicarakan itu pada Kana dan jalan keluarnya tentang cincin yang telah dijual.
“Kita bilang saja pada Nini bukan tak mau membantu tapi bagaimana bisa membantu jika barangnya tidak  ada, Sayang.” Ia sungguh tak tahu kalimat apa yang harus disampaikan pada adik neneknya yang masih merupakan istri uwak sepupu Kana.
“Aku jadi menyesal, Tama. Mestinya kita tak jual itu, tapi kita ‘kan tak ingin berutang.” Suara Kana ikut muram. Namun Kana menyanggupi untuk menyampaikan hal itu esok harinya sepulang dari rutinitas belanja meski menolak adalah pekerjaan berat.
Namun esok hari adalah petaka. Nini kembali mendatangi Tama untuk bertanya, dan tak ada pilihan bagi lelaki itu selain menjelaskan perihal cincin yang telah lama dijual. Nini malah tersinggung dan tak percaya. Dan beban itu menghimpitnya. Sikap Nini sekeluarga jadi berubah sinis.
Kana tidak menyadari perubahan itu karena terlalu sibuk dengan urusan belanja dan pekerjaan rumah tangga, tetapi Tama tidak tahan untuk curhat pada istrinya.
“Haruskah kita berutang agar cincin itu tidak dijual? Bukankah kita tak ingin berutang apalagi membebani orang lain?” Kana bersandar di punggung suaminya, mengusap rambut Tama, mencoba menyerap kesedihan itu agar tak membebani suaminya. Dan ia tahu, usapan dan penghiburan dari sang istri adalah sesuatu yang paling dibutuhkan para suami agar bisa melabuhkan kegelisahan menuju muara tenteram.
“Kita harus segera kumpulkan uang agar bisa menebus kembali cincin yang telah dijual.” Ia menghela napas. Begitu berat.
Akan tetapi, Kana adalah Kana, sepertinya tidak peduli pada perhiasan, uang sisihan diambil untuk tambahan modal warung mereka yang mulai menipis. Keuntungan warung tidak seberapa. Ia tahu itu, belum lagi ongkos ojek pulang-pergi ke pasar yang 10 ribu sudah memberatkan. Mereka berdagang cuma untuk bertahan. Ya, sampai ia beroleh pekerjaan.
Namun rupanya Ibu tidak mau tahu. Wanita tua yang selalu tampak kasar terhadapnya dan berwajah masam pada siapa saja, malah mencela mereka. Ia dimarahinya. “Teganya kamu tidak mau bantu Nini!” Kata-kata itu seolah diucapkan orang asing pada orang asing lain. Memberi rasa nyeri pada jiwanya.
Ia coba menjelaskan, namun Ibu tidak mau tahu. Begitu keras mencela dan begitu keras kepala merasa benar. Sehingga kebenarannya adalah harus memusuhi cucu dan menantunya. Ia gerah, Ibu selalu marah-marah. Barang pemberian dan sikap baik Kana pun tak digubrisnya. Kana tidak tahu soal kemarahan Ibu. Ia tentu tak mengira mertuanya akan sepicik itu ikut campur dalam urusan keuangan mereka, lebih tepatnya uang Kana pribadi.
Kana terganggu dengan sikap uwaknya ketika suatu siang ia bilang soal bubur peuyeum yang tadi pagi diberikan pada Sepupu Dana, anak uwaknya. Uwak malah menjawab ketus dan dingin, “Duka!”
Kaget Kana menjelaskan bahwa bubur buatan ibunya itu merupakan peuyeum gagal yang terpaksa dimasak menjadi bubur manis. Namun uwak tetap menjawab singkat, “duka” yang berarti tidak tahu dengan tambahan seru plus ketus.
Ia tahu istrinya kecewa dan heran ketika Kana mengadu, ia mendengar dialog itu dari dalam rumahnya yang berdampingan dengan rumah Nini. Ia sendiri memendam kerisauan sehingga berlaku seolah tak menanggapi. Dan itu membuat Kana marah karena mengira tak peduli. Memilih tidur di rumah ibunya yang beda dua RT.
“Kamu tidur di rumah ibumu, aku akan ke sana jam delapan. Ada yang harus dibicarakan dan tidak di sini sekarang!” Putusnya tegas, sebab selalu ada yang belanja sampai malam.
“Gak boleh! Kamu di sini saja, aku di sana.”
Ia tahu Kana hanya ingin menggoda. Dan malamnya ketika ia datang, Kana menyambutnya dengan dandanan seksi, membuat hasrat kelelakiannya (yang kata Kana masih menganut asas pandangan hidup: memandang baru “hidup”) berkobar, lupa sedang dilanda masalah yang meruwetkan.
Di kamar atas barulah ia berterus terang pada istrinya tentang perubahan yang harus mereka atasi. Segala gumpal kekecewaan ia muntahkan, dan disimak Kana dengan sesal sekaligus sabar.
“Maafkan aku, Sayang.”
Ia tahu istrinya berduka. Ia seolah berhadapan dengan seorang perempuan yang sedang mengupas bawang. Ialah bawang itu. Segala duka hidupnya dikupas sampai istrinya, yang jarang dan benci menangis, mencucurkan air mata.
Ia jelaskan sikap ibunya, sikap keluarga Nini, dan soal cincin mahar yang menjadi petaka bagi mereka. Yang mengejutkan adalah, “Kalau begitu kita kumpulkan semua uang kita untuk dipinjamkan pada mereka agar ibumu tidak marah-marah lagi. Dan tolong jelaskan pada ibumu soal berapa penghasilan kita ini. Ibumu harus tahu kenyataan yang sebenarnya.”
Ia seolah melihat kebesaran jiwa istrinya, istri yang coba mengalah agar bisa menyadarkan kekeraskepalaan ibunya. Ia jadi malu ketika Kana bilang malu karena mereka tidak tahu malu memusuhi yang tak bisa meminjamkan uang.
Uang mereka, lebih tepatnya uang modal untuk belanja hanya 263 ribu. Masih kurang dengan cincin seberat 1,5 gram seharga 300 ribu dipotong 7.500 rupiah kala dijual.
“Apakah kamu ikhlas, Sayang?”
“Aku ikhlas, Tama. Perkawinan kita lebih berharga daripada harta.”
Ia tidak tahan melihat istrinya tambah bersimbah air mata, ia ikut menangis meski sedikit saja keluar air mata. Toh, kesedihan coba dihapus pasangan suami istri yang baru belajar pengalaman berumah tangga itu ternyata tak mudah, dengan seks. Seks adalah penyatuan bagi mereka, jiwa dan raga. Dan terutama bagi Kana yang selalu suka bersetubuh dengan suaminya untuk alasan “aneh”: bukan orgasme semata, dia begitu bahagia jika tubuh mereka menyatu. Baginya Tuhan adalah pencipta detail Paling Sempurna!
Masalah itu telah beres. Esok paginya ia pulang dan menjelaskan soal uang pada neneknya. Wanita itu terpaksa sadar dan bilang tak akan mengusik uang mereka lagi. Ia lega. Pun ketika ia hendak serahkan uang itu pada Nini berikut penjelasan istrinya semalam, Nini kaget dan malu. Terpaksa bilang telah dapat pinjaman.
Ia membatin gusar, jika telah dapat pinjaman mengapa harus diributkan? Dasar perempuan! Serba membingungkan!
Namun benar kata Kana, perempuan adalah makhluk paling membingungkan. Lidah mereka setajam pedang. Dan lidah itu kembali melukainya setelah sebulan pernikahan. Entah siapa yang mulai, ada gosip menyebar, ibu Kana dikabarkan suka membicarakan orang. Dan kali ini ialah yang jadi “korban” sang menantu yang dianggap mengecewakan karena pengangguran. Harga dirinya kembali dilukai! Ia tak mengira mertua yang dikenalnya baik dan suka memberi itu jadi penyebar keburukan dan bersikap riya.
Itu bermula dari kebiasaan istrinya yang mondar-mandir antara rumah mereka dan rumah ibu Kana. Ia tak keberatan, ibunya juga, apalagi ibu Kana. Namun entah mengapa harus ada tetangga yang keberatan padahal Kana hanya mencuci pakaian mereka sebagai bagian tugas rumah tangga (rumah mereka tak dilengkapi sumur dan kamar mandi pribadi), istirahat, menonton TV, makan dan minum, baca-baca, mandi, memenuhi panggilan alam, kadang juga tidur siang.
Perempuan itu tidak pernah macam-macam apalagi berkumpul dengan tetangga untuk bergunjing. Justru digunjingkan. Kebiasaan membawa makanan dari rumah ibunya pun jadi perkara. Banyak tetangga yang melihat, dan kebetulan saat keluar ibunya ikut keluar, lalu ditanya tetangga. Ibunya tanpa maksud apa-apa hanya bilang memberi makanan buat putrinya.
Ucapan itu diputarbalikkan, oleh entah siapa, bahwa ia dianggap riya kala memberi pada anaknya dan hal itu terdengar oleh mertua Kana kala hendak ke rumah Bi Dede keponakannya. Dari teras rumah Sepupu Annisa, terdengar gunjingan ibu-ibu yang seolah sengaja dimulai agar didengar ibu Tama bahwa besannya bla-bla-bla. Itu membuat murka sang mertua, tidak mau lagi mencicipi pemberian besannya. Membuka perkara bab dua.
Ia tahu komunikasi adalah hal penting dan mendasar dalam perkawinan. Kana selalu bilang agar mereka saling terbuka. Dan ia pernah dipetuahi abang Kana agar menjalin komunikasi dalam pernikahan dengan baik. Ia telah terbuka. Kana coba mengklarifikasi. Menanyai ibunya soal kebenaran gosip. Ibunya membantah karena tak merasa. Untuk apa menyebarkan soal pemberian pada anak sendiri jika pada orang lain saja tidak? Demikianlah argumen sang ibu.
Soal menganggur saja bukankah ibunya tak pernah mengungkit pekerjaan Tama sebab tahu menantunya juga bekerja mengelola warung bersama anaknya. Demikianlah sang ibu membela diri. Bukankah dulu sebelum menikah ia pernah menghibur Tama, jangankan yang baru, yang lama saja masih menganggur.
Ia tahu kebenaran adalah hal membingungkan. Istrinya sendiri sudah bingung dan ada pekerjaan yang harus ditanganinya: menjadi narasumber untuk mengisi mata kuliah imajinative writing, berbagi pengalaman proses kreatifnya dalam menulis di Kampus Unpas, Bandung, atas undangan sahabat yang juga menjadi dosen sana.
Ia bangga pada istrinya, sekaligus risau dan kasihan. Kana kehilangan fokus dan geram pada penyebar gosip sebab ikut kena getahnya: seolah tambah dijauhi mertua. Bahwa ada bagian dari bab satu yang belum usai benar.
Dan sekarang, di malam yang dingin berhujan ini, ia kangen pada istrinya. Kana sengaja tidur di rumah ibunya. Ia tak bisa melarang, istrinya punya alasan; harus belajar dan membaca banyak literatur demi persiapan presentasi nanti agar tak mengecewakan. Rumah itu toh masih rumah Kana, si bungsu yang seolah anak tunggal, Abang Kana sudah punya rumah sendiri di Ciamis. Bisa jadi kelak akan jadi milik Kana sebab pernah ikut andil dalam membeli tanah dan merenovasi rumah.
Sedang ia, apakah ia? Yatim piatu yang kadang sadar dirinya seolah insan buangan. Terikat utang budi sepanjang hayat pada sang nenek. Itulah perbedaan antara anak yang dibesarkan orang tua kandung: berdasarkan kewajiban. Ia dibesarkan atas dasar, barangkali, kasihan. Dan itu membebaninya.
Kana adalah segalanya. Perempuan itu memahaminya. Namun tak bisa menjangkau lebih dalam bagian paling intim jiwanya. Ia tak bisa sepenuhnya berbagi pada Kana, kadang ia bingung sendiri, dan kadang itu membuat Kana uring-uringan karena menganggapnya tak berpendirian dan lekas berubah pikiran.
Ia menyadari istrinya memiliki lompatan pemikiran tak terjangkau. Bahasanya pun berada di tingkatan yang cuma dipahami orang-orang seprofesi. Dan kadang ia minder, seolah tak mampu menjangkau dunia istrinya. Namun Kana membutuhkannya, ia tahu itu. Perempuan itu mencintai dan mengasihinya tanpa syarat. Kana berbeda dengan Laela pacar masa lalu yang telah menorehkan luka perih. Laela dengan cinta palsunya adalah kenangan usang. Namun bagaimana jika perkawinan mereka harus berakhir berantakan?
Dan di kamar berkelambu dengan beberapa bagian dari dinding gedek yang bolong-bolong kapurnya, ia melihat dunia sebagai kenyataan yang apa adanya bukan seharusnya. Mereka baru menikah sudah dihantam masalah, dan orang lainlah yang bikin ulah. Ia merasa istrinya kian hari kian lelah. Wajah itu telah berubah: seperti dipaksa menyerah namun bersikeras tak ingin menyerah.
Dan ia merasa bersalah. Seandainya ibu berubah lebih ramah mungkin Kana akan betah. Namun jangankan Kana, ia sendiri tidak betah. Selalu ada keinginan meninggalkan rumah. Rumah yang telah dibangun dari awal dengan tangannya, bahkan dari segi pembiayaan. Ibunya keluar 6 juta, dan ia 4 juta. Itu pun masih kurang. Mereka pernah terpaksa berutang demi membangun rumah sederhana di tanah harapan. Kana dan ibunya banyak membantu di saat sulit selama masa pacaran mereka yang cuma lima bulan saja.
Ia tahu terlalu banyak hal dipertaruhkan. Ia telah meninggalkan tanah kelahiran di Lampung demi masa depan yang diharapkan lebih baik di tanah leluhur. Apakah salah jika ia butuh kedamaian dari pernikahan?
Ia merindukan sentuhan istrinya. Terlalu menyakitkan ketika seseorang yang kau yakin kau cintai tiba-tiba ingin menjauh dengan alasan masuk akal. Ia sungguh kedinginan. Tak ada tambahan selimut hidup di sampingnya yang bisa memeluk dan dipeluk. Atau mengelus-elus kumis di atas bibirnya yang ia tumbuhkan demi menyenangkan istri, tidak tebal tetapi cukup jantan. Bahkan ia sengaja membiarkan dagunya tak dicukur.
Ia merindukan sapaan istrinya seperti tadi siang sepulang dari salat Jumat, “Hai, Tampan!” Ia mendadak ingin bercinta dengan gaya seperti malam kemarin. Ia begitu bahagia ketika berhasil membuat  istrinya orgasme sungguhan untuk pertama kalinya. Kana nikmat sekaligus kesakitan di bagian bawah dari perutnya, beberapa senti dari pusar, meremas bantal dan tidak tahan. Ia tidak tega untuk melanjutkan. Kana kaget dengan gaya baru mereka. Biasanya mereka hanya main gaya konvensional: ia di atas, Kana di bawah, dan saling berhadapan. Kana biasa menganggap orgasme itu kenikmatan yang bisa membuatnya tersenyum jika Tama main cepat.
Dan tiba-tiba ia ingin marah pada Kana, tidak semestinya mereka tidur terpisah. Ah, andai mereka punya rumah. Namun kapan? Ia belum punya pekerjaan yang bisa menghasilkan banyak uang. Hanya seorang petani yang tak memiliki tanah pertanian.
Di Lampung ia punya tanah perkebunan yang dibeli atas hasil keringatnya sendiri. Tidak seluas tanah milik ibunya namun lumayan memandirikan. Tanah itu telah dijual bersama tanah ibunya demi pindah ke kampung ini, namun ia belum beroleh uang hasil penjualan tanah miliknya secara utuh. Ibunya malah memercayakan agar tanahnya pun ikut dijualkan oleh abang tirinya. Dan sampai sekarang belum dibayar lunas juga. Ia baru beroleh 3,5 juta dari 10 juta uangnya. Dan uang itu digunakan untuk biaya pernikahan. Ia geram, menganggap ibunya bodoh, memercayakan sesuatu yang bahkan bukan miliknya pada orang tak tepercaya atas dasar pilih kasih.
Ia merasa dunia kejam dan tidak adil. Namun Kana bilang bukan dunia yang kejam melainkan hidup yang kadang tidak adil untuk lebih mendewasakan dan mematangkan kita. Dan ia coba memercayai nasihat istrinya.
Ia pernah mengeluh pada Kana, kurang apa aku dalam memperjuangkan hidup jika ibuku lebih menyayangi abangku. Ya, abang beda ayah yang sama sekali tak peduli bahkan membencinya. Pernah pula nyaris membunuhnya. Ah, begitu pahit kenangan itu. Hidup tanpa orang tua kandung. Terikat utang budi sepanjang hayat. Sekeras apa pun ia coba menyenangkan hati ibunya, bahkan dalam hal uang, tetap saja dianggap kurang. Suatu waktu, pada Kana, ia pernah dengan kesal bilang, “Bukan aku yang menumpang pada ibu tapi ibu yang menumpang padaku!”
Itulah faktanya. Ia bosan berada dalam situasi serba salah. Tak membantah ibunya yang digerogoti penyakit darah tinggi. Ia sudah terbiasa dengan suasana hati ibunya yang mudah berubah-ubah, tetapi Kana tidak dan selalu khawatir ada yang salah hingga tak betah.
Ia khawatir pada Kana yang makin kurus. Tadi istrinya cuma makan sedikit nasi sisa kemarin yang agak basi sebab enggan menyentuh yang baru ditanak Ibu. Alasannya sayang jika memubazirkan beras. Mereka kehabisan beras, kebanyakan dipinjam Nini. Kana tadi masak sayur sebab tidak suka masakan terlalu asin yang biasa dimasak mertuanya. Lidah Sunda-Jawanya tidak menyukai citarasa terlalu pangsit. Namun kemudian tidak makan siang, malah jelang sore minta izin untuk menginap di rumah ibunya. Ia tak bisa melarang meski enggan dan kehilangan. Kana mulai tidak nyaman dan harus fokus belajar.
Ia memikirkan pekerjaan. Musim panen jagung tinggal 1-2 bulan lagi, barangkali ia bisa dapat uang dari bekerja memanen dan menjadi buruh pikul jagung orang lain. Ia kurus karena kurang makan dan banyak kerja. Kana pernah tanya apakah ia dan ibunya biasa makan enak. Heran dengan jawaban bahwa ibunya tak pernah masak daging dan sejenisnya yang enak-enak. Entah jika ia tidak ada. Justru dari Kanalah ia bisa makan ikan dan daging. Ia kasihan pada Kana yang tampaknya harus menemani berperan sebagai pihak yang berusaha menyenangkan orang lain sampai mengorbankan diri sendiri.
Akan tetapi, Kana adalah Kana. Tak menuntut banyak. Perempuan mandiri yang tak peduli ucapannya agar bisa mengambil hati sang ibu sebab siapa tahu mereka membutuhkan uangnya. Bagi Kana berbuat baik itu penting, tetapi ia butuh keramahan bukan uang. Ia tidak peduli uang mertua apalagi uang ibunya. Masa depan adalah sesuatu yang harus diperjuangkan secara mandiri. Itu membuat ia iri pada istrinya. Tak peduli perhiasan, materi, uang berkelebihan yang semestinya menjadi impian tiap perempuan.
Ia tidak memahami ibunya. Baik pada orang lain tetapi tidak pada dirinya, sang cucu. Apakah kebaikan itu harus pilih-pilih dan dibedakan? Ibunya punya sawah yang baru dibeli seharga 25 juta di kampung ini, dibeli dari adik lelakinya yang tinggal di Bandung, tetapi sawah itu sebelumnya telah digadaikan anak lelaki dari adik perempuan ibunya sebesar 2 juta pada pihak lain tanpa sepengetahuan adik lelaki ibunya. Sawah itu mestinya dicabut saja sebab hasilnya tidak jelas dan sampai sekarang tidak dikembalikan keponakan ibunya, sudah berbulan-bulan. Namun ibunya membiarkan dengan alasan kasihan.
Ia heran ibunya lebih kasihan pada orang lain daripada diri sendiri dan cucunya. Ia heran ibunya lebih ribut untuk menolong orang lain saat ia dan istrinya yang berusaha mandiri mencoba tak berutang malah dirongrong agar meminjamkan uang. Ia heran ibunya begitu keras kepala seolah merasa paling benar dan tidak memaafkan besan yang merasa tidak menyebarkan hal-hal tidak benar, sampai istrinya bilang, “Ibumu seperti pendendam.”
Ia tahu Kana tidak nyaman. Ia sama tidak nyamannya namun tidak tahu harus ke mana lagi tinggal. Ia mendiskusikan peluang kerja di Tangerang sebagai buruh bangunan. Kana setuju meski keberatan soal 1 bulan tidak pulang. Kana bersikeras agar diperbolehkan menjenguk dan menginap sebentar di mana saja. Tak ada perdebatan.
Namun sekarang, dalam kesunyian dan kemarahan, ia sungguh takut perkawinan mereka akan bubar. Istrinya pernah ajukan pertanyaan tentang perceraian. “Bagaimana seandainya jika kita bercerai?” Ia bantah dengan tidak ada perceraian. “Bagaimana jika ibumu atau siapa saja menyuruhmu menceraikan aku?” Tidak akan! Ia bilang, keras dan tegas,  tetapi ada rasa ragu diam-diam menelusup jiwanya.
Dan keraguan itu seolah menguar di  udara kamar yang lembap dan dingin sampai sekarang.
“Allah benci perceraian!” Ia coba gemakan ulang pernyataan itu sebagai jawaban kenapanya Kana, dalam jiwanya yang basah oleh luka. Teringat janjinya pada malam pertama pernikahan mereka. Ia ingin seperti kedua orang tuanya, saling mencintai sampai ajal memisahkan!***
Cipeujeuh, 29 Januari 2009