Tampilkan postingan dengan label JEJAK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JEJAK. Tampilkan semua postingan

Selasa, 09 Januari 2018

Ketakterdugaan Sedekah



Oleh ROHYATI SOFJAN


TINGGAL di tempat yang jauh dari pusat kota menghambat mobilitas juga. Saya berumah di sudut kampung suatu lereng gunung (jika dari kejauhan). Untuk ke kota kecamatan makan waktu sekira 45 menit jalan kaki cepat bagi yang terbiasa, atau 60 menit jika santai karena tak terbiasa; turun-naik bukit, berkelak-kelok melingkar. Atau minimal 15 menit berkendara ojek dan harus tabah dengan kondisi jalan yang amburadul sehingga bikin badan pegal “dangdutan”, hehe.
“Pekerjaan” saya sebagai penulis atau boleh disebut penganggur terselubung yang sesekali dapat rezeki jika ikhtiarnya beruntung, terasa tersendat-sendat sebab untuk ke warnet demi memasarkan karya agar beroleh penghasilan saja harus turun gunung cukup jauh ke kota lain.
Entah itu Garut Kota (saya tinggal di Kecamatan Balubur Limbangan, Kabupaten Garut bagian Utara), atau paling sering ke Bandung saja karena dari segi ongkos transportasi lebih murah, bisa naik KA. Pulang-perginya cuma butuh 20 ribu rupiah jika mematuhi jadwal KA. Selain itu, akses internet lebih cepat dan murah. Garut Kota adalah wilayah asing bagi saya yang lahir dan besar di Bandung.
Maka pada suatu siang kala dikejar deadline lomba menulis cerpen yang diadakan suatu penerbit (sayang malah kalah, hehe), saya terpaksa turun gunung ke Bandung. Berangkat tengah hari, angkotnya sempat ngetem lama lagi. Karena suatu hal, saya terpaksa keliling Cicalengka mencari warnet lain yang ternyata sudah lama tutup. Kala di Stasiun Cicalengka, saya cemas melihat jadwal keberangkatan KRD Ekonomi Bandung Raya sudah berangkat sejak sejam lalu, kereta selanjutnya adalah KRD Patas yang cuma berhenti di Stasiun Cicalengka-Rancaekek-dan Bandung saja.
Apa boleh buat, saya terpaksa naik KA patas sebab sudah pukul setengah tiga. Saya nggak tahu apakah harus nginap di rumah kerabat. Dalam keadaan gamang, di stasiun sembari mencatat jadwal keberangkatan, seorang ibu pengemis mengesot ke arah saya dan menadahkan tangan. Membuat saya teringat Ibu. Mereka sebaya. Namun yang harus saya syukuri adalah Ibu masih beroleh tunjangan pensiun dari almarhum Bapak. Apa jadinya jika Ibu harus mengemis seperti itu?
Saya terenyuh, meski lelah dan tegang karena tadi nyaris ditabrak motor kala menyeberang ditambah kecapaian menyusuri sebagian kecil wilayah Cicalengka, saya sadar harus mensyukuri hidup. Undur ila kaifa. Ya, melihat ke bawah. Maka saya sedekahkan 1.000 rupiah meskipun uangnya pas-pasan karena karcis patas 4.000 dan nanti harus disambung naik angkot lagi.
Yang terjadi selanjutnya adalah ketakterdugaan, doa saya agar KA berhenti sebentar di Stasiun Kiaracondong terkabul. Saya bisa turun dan mengehemat ongkos. Lebih penting lagi, saya tiba di rumah dengan selamat meski harus kemalaman.
Belajar dari itu, saya berusaha menyedekahkan sedikit rezeki kala menjadi musafir. Termasuk ketika harus turun gunung ke Bandung, mengambil honor tulisan yang dimuat “Pikiran Rakyat”, ada error di bagian administrasi; honor belum dikirim ke rekening saya sebab alamat dan nomornya terhapus bagian editing (17/9/2007).
Dalam keadaan lelah sebab ada tambahan 4X ganti angkot di Bandung, saya kembali pulang kemalaman. Naik KRD yang pukul 18.05. Itu bulan Ramadan. Sehari sebelumnya saya habis memanen padi dan harus memanggul setengah karung gabah basah dalam keadaan puasa. Tak apa, setidaknya saya bisa merasakan suasana berbuka di gerbong Kereta Rakjat Djelata. Meski cuma minum air gelas saja sebab harus berdiri desak-desakan, ditambah pengap asap para smoker.
Di luar gelap. Saya masih bisa membaca Annida baru edisi Ayat-ayat Cinta sambil berdiri. Di Stasiun Rancaekek, saya bisa duduk dan meneruskan bacaan selain menyedekahkan sedikit rezeki pada pengemis sampai pengamen seperti tadi saat berangkat.
Mungkin karena keasyikan baca, saya nggak sadar telah naik KA yang bukan jenis Bandung Raya. KA-nya nggak berhenti total di Stasiun Cicalengka seperti biasa, di mana seluruh penumpang akan berhamburan turun. KA itu ternyata menuju Cibatu.
Sadarnya saat menengok ke jendela, dan astagfirullah, LELES! Tempat yang nggak pernah disambangi. Nyasar itu sering, namun lebih bermasalah lagi jika nyasarnya malam meski cukup bekal, sebab saya mengalami kesulitan orientasi arah jika dah gelap, nggak peduli di tempat yang pernah dikenali.
Pukul 7 di gerbong itu saya alami ketegangan kala bertanya pada penumpang lain tentang Stasiun Cibatu-nya kapan. Saya tunarungu dan nggak bisa mendengar ucapan mereka, ditambah terbawa suasana asing menyangkut kepercayaan. Masa ada yang panik gitu kala tahu saya nyasar, hingga sayanya ikut panik, hehe.
Saya betul-betul pusing, juga ketakutan. Di kereta tadi sempat berpikir apalah harus naik angkot ke Limbangan atau elf saja, eh malah nyasar ke Cibatu. Nggak ada orang yang bisa saya percayai dalam kondisi demikian. Bagaimanapun, saya harus melindungi diri.
Maka setelah mengalami saat rumit, saya terpaksa melapor ke kantor polisi Cibatu, berharap bisa dibantu cara pulang meski ragu. Alhamdulillah, Bapak Polisi yang sedang berbincang bareng beberapa orang di luar ternyata sangat membantu. Saya cuma tanya arah dan cara ke Limbangan serta berapa ongkos ojeknya, mendapat lebih. Tukang ojek  nggak cuma diminta mengantar saya, mereka mengongkosi okeknya. Malu dan haru rasanya. Apalah arti 10 ribu rupiah? Saya masih mampu. Saya hanya ingin pulang dengan selamat sebab sudah jam 8.
Tiba di rumah pukul setengah 9, saya masih memikirkan kejadian tadi. Mengapa harus nyasar di Cibatu? Apa yang akan terjadi jika turun di Cicalengka dan harus memilih angkot atau elf, akankah aman? Jalur Cicalengka-Limbangan jika malam memang tidak selalu aman, siang saja suka kecelakaan. Mana Ibu pernah dirampok di atas elf (katanya!). Apa maksud Tuhan membuat saya harus menjelajahi suasana dan wilayah asing? Semata salah saya sebab terlalu lelah sekaligus ceroboh keasyikan baca karena nggak tahu salah naik KA. Jika nggak nyasar, akankah saya selamat?
Apakah sedekah saya membawa berkah atau musibah? Saya akui terlalu asyik ngasi meski diliputi rasa nggak enak karena takut riya. Orang terakhir yang saya sedekahi adalah seorang anak lelaki penyapu yang matanya sangat meminta dan saya nggak bisa bilang tidak.[]
Cipeujeuh, 2 Hijriyah 1429 H

Rabu, 13 Desember 2017

Nin dan Dut



 

Jejak Rohyati Sofjan



Setiap melihat Palung, ada buncah rasa yang membuatku harus bertahan sekaligus berjuang. Ya, setelah begitu banyak hal yang kami alami bersama, sejak ia masih dalam kandungan. Palung bagiku keajaiban. Kelindan takdir dari Yang Maha Adil. Aku seorang tunarungu akhirnya bisa menjadi ibu, dan alhamdulillah panca indra putraku baiki-baik saja.

IA begitu lucu. Mungil dan lembut sebagai bayi yang belum genap dua bulan. Sekaligus kurus. Membuatku pedih saat menyusuinya, Palung selalu harus berusaha kuat untuk menyedot ASI hingga kepalanya terangguk-angguk ke depan sebagai upaya penyedotan.
Dan dibanding bayi lain yang seusianya, ukuran tubuh Palung lebih kecil. ASI-ku kurang subur dengan payudara kecil dan tubuh kurus mungil seolah kurang gizi. Berat badanku tak bertambah juga, malah berkurang; dan memengaruhi pertumbuhan Palung.
Aku cemas, hantaman masalah dalam keluarga sampai finansial jujur saja membuatku kurang makan meski aku ingin makan lebih banyak dan lebih bergizi. Suamiku hanya buruh harian lepas yang kadang kerja kadang menganggur. Lebih sering menganggur karena ia telah melepas pekerjaannya di Tangerang sebagai buruh bangunan agar bisa bersama keluarga dan menjaga anak istri. Uang adalah masalah bagi kami berdua; menyangkut kelangsungan hidup. Palung terpaksa mendapat tambahan susu dot.
Suami adalah hal terbaik dalam hidupku. Ia lelaki yang baik dan sabar meski sering ceroboh dan sembarangan. Begitu bersahaja cara pandangnya, sesahaja caranya mencintai anak dan istri. Merawatku yang masih lemah dan sakit sehabis melahirkan Palung dengan cara caesar karena aku tidak punya tenaga kala persalinan, sekaligus merawat bayi.
Tanpa suami di sisi, entah akan bagaimana aku jadinya. Aku selalu membutuhkan suami. Bagaimanapun perbedaan kami. Kehadiran Palung kian menyatukan ikatan cinta dengan suami. Buah hati kami memberi sapuan warna yang sebelumnya tak pernah dikenal. Ia mendewasakan kami sebagai orangtua yang sedang bermetamorfosis. Sekaligus pengingat bahwa menjadi orangtua bukanlah hal yang mudah. Palung adalah amanah dari Allah.
Palung mengajar sabar sejak masih dalam kandungan. Bahkan sampai sekarang pun ia masih menguji kesabaran kami. Begitu melelahkan namun semua terasa pudar jika melihat senyum Palung dan segala polahnya yang ekspresif menggemaskan.
Suami adalah insan yang paling berbahagia dalam keluarga. Wajahnya selalu berubah, dari lelah atau kesal menjadi sumringah tiap melihat Palung atau sekadar mengingatnya saja. Tentu aku senang dengan perubahan itu. Dulu waktu aku masih hamil ia selalu risau meski bahagia dengan kehamilanku.
Setiap malam kupandangi wajah suami dan Palung yang terlelap. Begitu tenang dunia kami, dunia di dalam kelambu. Palung bobo dengan ekspresinya yang kadang mulutnya masih suka mut-mut seolah sedang enen, kadang pulas dan hanya menyisakan tarikan nafasnya yang lembut dan teratur.
Dan suami, duhai, wajah itu begitu damai dan bahagia. Segala persoalan dunia yang ruwet seolah jeda dalam lelapnya. Ia sangat menikmati dan menghayati perannya sebagai ayah. Suami tipikal ayah rumah tangga yang tak keberatan berbagi tugas dengan istri, termasuk mengurus Palung.
Cucian yang menumpuk bisa dua ember penuh setiap harinya merupakan tugas rutin suami, membawanya ke pancuran dan menjemurnya di belakang. Begitu terus setiap pagi. Tentu melelahkan, namun dilarang jemu karena merupakan risiko sebagai orang tua. Sebelumnya banyak orang bilang kami akan repot dengan cucian, namun membayangkannya seperti apa tak pernah tebersit di benak kami.
Kekhawatiran utamaku adalah telingaku yang tak berfungsi, namun subhanallah, Palung ternyata cerdas, bisa mengomunikasikan apa yang diinginkannya saat usianya baru dua bulan. Aku mengajarinya dengan kata enen atau dot jika ia ingin menyusui atau mimi susu formula. Palung ternyata mengingatnya dengan baik. Ia tak perlu menangis, tinggal bilang “nin” atau “dut” dengan cara lucu.
Namun pernah ada satu kejadian yang membuatku menyesal sampai sekarang, aku memarahi Palung yang minta dot, kukatakan enen saja karena masih pagi dan nanti siangan. Aku kuatir ia sakit perut karena efek ngedot suka gitu. Palung hanya diam, namun ekspresinya seakan menyiratkan ia tahu habis dimarahi. Padahal keinginan Palung tak berlebihan, pagi itu kualitas ASI-ku turun karena aku belum sarapan. Dan biasanya jika tak puas Palung akan mewek minta dot, namun kali ini ia hanya diam. Anakku sayang, maafkan ibumu yang masih harus banyak belajar. Terutama dalam kesabaran!***
Cipeujeuh, 14 Juli 2013


Kalimat dalam Cerpen yang Saya Sukai




Cuma ingin semangat menulis saja, maka saya kumpulkan petikan kalimat dari beberapa cerpen saya yang tak seberapa. Belum bisa jadi semacam quote, cuma sekadar menikmati keajaiban rangkaian kata.  
Gayanya berbeda-beda, ada yang ngepop sampai sastra. Bergantung pada media mana ditujukan.
Selamat menyimak, semoga Anda menikmatinya.
Salam,
~ Rohyati Sofjan/Gurun ~

Tentu setiap orang punya rahasia. Dan biarkan itu menjadi misteri jika pada akhirnya hanya akan melukai. Namun kebenaran, sepahit apa pun, lebih baik diungkapkan. Meski kebenaran itu sendiri nisbi. (“Lingkaran”)
Dan di kamar berkelambu dengan beberapa bagian dari dinding gedek yang bolong-bolong kapurnya, ia melihat dunia sebagai kenyataan yang apa adanya bukan seharusnya. Mereka baru menikah sudah dihantam masalah, dan orang lainlah yang bikin ulah. Ia merasa istrinya kian hari kian lelah. Wajah itu telah berubah: seperti dipaksa menyerah namun bersikeras tak ingin menyerah. Dan ia merasa bersalah. (“Baru Menikah”)
Jadi begitulah kita saling memainkan peran. Bersahabat dan belajar, namun tetap dalam batasan formal. Dan aku menghargai caramu yang lebih suka demikian. (“Delirium”)
“Ah, Kawanku. Jika kita membahas soal binatang mana yang terlamban atau tercepat, bagiku itu pekerjaan sia-sia. Alam menganugerahi kita kelebihan dan kekurangan masing-masing. Amat merugilah mereka yang tak mensyukurinya dengan pongah atau menyesali diri.” (“Binatang Tercepat”)
Ia terengah. Tubuh dan kakinya begitu lelah. Dengan waspada ia memerhatikan sekitar, adakah hal mencurigakan. Namun kesunyian menguar sebagai jawaban.Tak ada suara-suara selain deru napasnya sendiri, tak ada langkah kaki yang mengikuti. Hanya desir angin dan orkestra binatang di kejauhan. (“Ramadan di Hati Neng”)
Aku memiliki harapan, pijar yang semoga tak padam, setidaknya ada kamu yang melihat dari kejauhan dengan tatapan menguatkan. Namun diam-diam aku takut gagal dan kamu mengecamku pecundang. (“Enigma”)
Aku merasa kekuatan air yang indah itu menyakitkan untuk mengiring kenangan. Kenangan akan ibuku yang masih hidup namun jiwanya lapuk dimakan kedengkian dan perilaku buruk. (“Ibu Mawa Karep Sorangan”)
Di luar sana, adakah lelaki idaman? Tempat berbagi hidup sampai ajal memisahkan? Seseorang yang tak perlu ia jadikan korban? Terlalu menyakitkan jika kau harus membunuh orang yang kau cintai karena telah membuat kesalahan. (“Kamu Harus Mati, Zan!”)
Tanpa kata ia keluar. Mengisap tembakau dan melihat bintang-bintang. Malam begitu tenang. Sedang apa istrinya sekarang? Ia merindukannya. Tubuh dan jiwanya. (“Kemarau Tama”)
Dengan gontai ia menuju pintu depan. Betapa ia tidak ingin sampai. Kalau bisa, ia ingin melangkah mundur dan tak memasukinya sebab tak pernah menghuni rumah itu. (“Menuju Titik Nadir”)
Aku merasa jiwaku terbang, layar plasma besar berpendar buram ganti menyilaukan, segala yang kulihat hanya bayang-bayang abstrak. Suara-suara serupa dengungan, mungkin tawon atau helikopter? Dan kudengar sesuatu berdenting nyaring menerpa lantai pualam. Aku tak peduli apakah gelas wine yang kupegang jatuh tergelincir. (“Aku Telah Membunuh Orang, Hari Itu”)
Jadi saya putuskan berhenti cemas dan tak percaya peramal. Tidak juga ramalan nasib macam shio atau zodiak di bacaan mana saja. Semuanya gombal. Saya mati-matian menyangkal. Lalu sampai usia separuh baya ini saya bisa anteng menjalani kehidupan. Lupa pernah diramal. (“Baby Hunkwe”)
“Namanya Edmund,” Edna mengucapkan nama itu seolah semacam puisi, begitu melodius. Menyentakkanku kembali pada dunia real. Rupanya kami seolah mengembara dalam alur pikiran kemasing-masingan. (“Edmund Edna”)
Seperti biasa, pikirku, setelah tiga tahun perpisahan tanpa sekali pun pertemuan, ia seolah tak ingin waktu berubah! Padahal hidupku telah berubah, sedangkan hidupnya entah. (“Jannah”)
Penduduk kampungku terjerat utang. Ada banyak. Dan ibuku salah satunya. Utang tak perlu yang membuatku meradang. Ibu akan tetap berutang, dengan atau tanpa sepengetahuanku. Percuma aku melarang, ibu akan selalu beralasan, alasan bodoh yang membuatku tak berdaya. Marah pun percuma. (“Rente”)
Apa arti lebaran? Ia tidak tahu. Namun rindu itu kian menderu. Ia hanya ingin pulang untuk berkumpul dengan orang tercinta. Sama sekali tak pernah terpikir bahwa lebaran harus jadi ajang pamer dan riya. Ia justru lebih memikirkan kehidupan dan masa depan mereka. (“Seseorang Harus Pulang Sebelum Lebaran”)
Di luar kulihat matahari senja yang bundar oranye menaungi langit kotaku, seolah tepat di atas Alfamart, dan dilatarbelakangi gunung menjulang berwarna hijau kebiruan. Langit masih terang berbaur warna merah keemasan. Subhanallah! (“Suatu Senja Bersamamu”)
Aku hanya terpesona pada prosesi penumbangan pohonnya. Pelan namun pasti, bagaimana pohon besar yang barangkali usianya ratusan tahun bisa begitu saja tumbang dihajar petir, lalu ikut menumbangkan barisan pohon lain. Bagaimana kekokohannya tak abadi. (“Tumbangnya Beringin Kami”)
Ada apa dengan Sami?! Aku ingin meneriakkan itu agar gemanya terdengar Armand. Namun gema itu hanya memantul di bilik jiwaku. Aku tak kuasa berteriak. Pagi hanya menjawab dengan angin dan helaian daun gugur. Di luar taman, suara-suara kendaraan menderum. (“Armand dan Pengkhianatan pada Delapan”-Serial Kelompok Delapan #3)
Dhuha bagi Armand merupakan saat jeda agar ia beroleh ketenteraman dari galau yang selama ini meraja. Menyangkut tanya tentang masa depan dan keluarga. Di manakah kedua orangtuanya? Mereka boleh berpisah namun haruskah menelantarkannya seperti ini? Tak ada kabar apakah mereka masih hidup atau mati. (“Delapan Berkurang Jadi Tujuh-Serial Kelompok Delapan #4”)
Acara hura-hura kami terhenti. Foto-foto bareng, main air, dan musik harmonika Uji serasa tidak konstan dengan peristiwa yang terjadi. Sepertinya kami “pesta” di tempat dan waktu yang salah. Di tengah musibah. (“Delapan yang Retak”-Serial Kelompok Delapan #1)
Maka di sinilah sekarang, semobil dengan Prita yang tak ia tahu seperti apakah kepribadian aslinya. Merayakan kemerdekaan dari rasa sesaknya. Cemburu bahwa pacarnya diam-diam dicintai sang sahabat sudah di ambang batas, suatu saat bisa keluar dan meruyak. Armand takut pada dampak perpecahan kelak. Jadi ia lebih memilih mundur sebagai pengkhianat. (“Pretty Prita”-Serial Kelompok Delapan #2)
Ia datang pada pagiku yang muram, dengan senyum ramah yang tak pernah kukenal. Ya, aku tak mengenalnya. Dan terpana ketika ia mengulurkan lengannya, mengajak salaman. Seperti orang dungu aku menyalaminya juga. (“Pukau Wana”-Serial Kelompok Delapan #5)
Nir adalah dunia yang paling masuk akal, setidaknya ia telah melebur dalam spektrum kehampaan. (“Abu”)
Ia bangkit, kepalanya sakit. Juga tubuh dan jiwanya. Telinganya berdenging, ada Chopin sekonyong-konyong memainkan partitur murung, begitu menyayatkan. Kali ini ia benci musik demikian, jiwanya telah berkubang dalam kemuraman. Langkahnya terhuyung menuju sumber bunyi. Membuka pintu kaca. Tempias deras hujan dan dingin menerpa wajah dan tubuhnya. Ia melangkah ke tengah balkon. Berdiri di antara kepungan pot-pot tanaman hias dan herba yang kini ditelantarkan. Membiarkan jarum-jarum hujan menghunjam. (“Abu”)
Ia memandang sekeliling, menyadari dirinya seakan turis kesasar. Meski ia telah membekali diri dengan peta dan buku panduan, berikut googling tentang Nepal, rasanya ada yang berbeda. Perjalanan seorang diri ini seakan menapaktilasi luka. (“Abu: Napak Tilas Luka”)
Dan sekarang, pada kenyataan asin laut, Gabriel menghirup udara dengan perasaan asing. Ia mencium sesuatu yang samar, mengambang. Seperti tubuhnya diayun lautan. Aroma mautkah yang diam-diam mengintai?
Ia ingat Aceh. Ingat Nias. Ingat Yogya. Ingat sekian tempat lainnya yang diguncang gempa dan meninggalkan gelimpangan mayat-mayat binatang sampai manusia. Akankah Pangandaran digulung tsunami, ketika badai Laut Selatan membuat perhitungan tersendiri? (“Apa Makna Maut, Gabriel?”)
Dari jendela kaca di depannya, ia melihat keluar dengan perasaan mengambang. Langit begitu bersih tiada berawan, dan di luar kehijauan menghampar dari  taman yang setia dirawat istrinya. Ia tersenyum getir. Ada kupu-kupu biru hinggap di rumpun mawar. Seperti itukah kehidupan? Keindahan berjalan selaras dengan kesedihan. (“Lelaki di Persimpangan”)
Mengapa merah? Seperti genangan darah. Ingatan lain menyerbu dari berbagai arah. Minta diurai, minta diberi makna. Akan ingatan yang pada akhirnya lekang karena pemilik kenang meregang ajal. (“Merah”)
Barangkali di Stasiun Tugu ada loket dengan tiket menuju Negeri Senja yang didongengkan Seno Gumira Ajidarma. Akan ia naiki kereta itu jika memang ada; sebagai bagian kembara. Namun ia di sini dan tak bisa ke mana-mana. Menanti kereta khusus yang akan mengantarkannya menuju Negeri Barzah. Dan ia menunggu dengan gelisah. (“Merah”)
Tristan, lelaki dalam usia senjanya itu seolah disadarkan akan makna pencarian yang telah lama ia lakukan. Telah tibakah ia di batas temu bahwa hidupnya bukanlah sesuatu yang semu? Puluhan tahun ia mencari sesuatu yang bernama “temu” dengan mengarungi lautan, terkadang sendirian, agar dahaganya akan temu itu terpuaskan. (“Pelayaran Tristan”)
Ia gelisah. Menanti detik-detik azan yang seolah berabad-abad lamanya. Langit masih terang menyulam warna senja. Magrib selalu mengingatkannya akan metamorfosis kematian. Masa mudanya yang segar dan gemilang, sampai usia senjanya yang renta dan suram. Kapankah seseorang datang dari seberang lautan, sesama pelayar yang mengerti makna gelombang, membawa cahaya dan kabar gembira mengenai agama penuh salam? (“Pelayaran Tristan”)
Ia merasa terhina. Begitu cepat Run beralih setelah hampir dua tahun mampu menyamarkan ketidakberesan yang menghantam mereka. Namun haruskah ia menyalahkan Run? Perempuan mana yang rela berbagi suami dengan perempuan lain? Namun apakah ia akan rela berbagi istri dengan lelaki lain? (“Poli”)
Mata Ibrahim menerawang ke depan, angannya menengok ke belakang, ke masa di mana ia hidup dalam tatanan yang tak terpahamkan. Dan Run menunggu jawaban. Bisakah Ibrahim memuaskan keingintahuan yang penuh cabang. Kapan bisa Run hentikan, sebab hanya dia sendiri yang menciptakan? (“Rahim”)”
Tempias hujan tidak deras lagi, namun kesedihan itu masih menghantam ruang terdalam. Aku butuh kawan. Kamukah orangnya? (“Surat dalam Hujan”)
Suami akan berusaha lagi dan lagi sampai saya orgasme. Ia bahkan rela memenuhi keinginan saya jika tak puas dan ingin lagi, bukan karena tak memuaskan melainkan saya menyukai persetubuhan kami. Saya hanya suka jika tubuh kami sudah menyatu, seperti ada ikatan agar tak terpisahkan. Apakah semua perempuan menikah demikian? (“Menanti Suami”)
Tristan muncul seperti dari ketiadaan. Sekonyong-konyong yang diam. Dan aku hanya bisa terpaku di ruang tamu ini menyaksikan sosok yang masuk begitu saja tanpa salam. Wajahnya beku, ia bahkan tidak melihat ke arahku, sang tamu. (“Tristan”)
Apakah kedekatan dan rasa cinta harus selalu diungkapkan dengan kata-kata verbal macam I love you atau aku cinta padamu? Abu tidak tahu. Andai ia mudah ucapkan kata itu mungkin Rana bisa mengerti perasaannya. Namun Abu kesulitan dengan kalimat verbal, ia lebih suka perbuatan. Dan sialnya Rana tak mampu menangkap sinyal. (“Cinta Rana Mengepak Bebas”