HOME/RUMAH

Minggu, 14 Oktober 2018

Mau Beli Mobil dengan Harga 50 Juta di Seva Flash Sale?



BAGI yang ingin beli mobil secara serius, penawaran yang dilakukan Seva Flash Mob Sale itu sangat wow, cuma 50 juta saja untuk mobil baru? Tentunya ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Namun jangan khawatir, syarat dan ketentuannya tak menyulitkan. Ada payung hukum yang menaungi penjual dan pembeli.
Mari kita kunjungi situsnya dulu di Seva.idhttps://www.seva.id, di sana kita akan beroleh banyak ragam penawaran dari produk yang dijual. Selain otomotif dan properti, Seva juga menyajikan beragam artikel sampai tips yang berkaitan dengan kendaraan atau cara berkendara, plus info aktual lainnya.
Dengan kata lain, dalam satu tempat itu tidak hanya niaga mobil baru dan bekas atau properti semata, ada ragam penawaran yang menguntungkan pengunjung, menambah info sampai menghibur.
Persaingan dagang membuat perusahaan harus melakukan semacam inovasi agar dapat dikenal luas sehingga merek dagangnya dipercaya masyarakat. Hal itu dilakukan Seva.id dengan promosi Beli Mobil 50 Juta Aja? BUKAN UANG MUKA. #BENERAN50JUTA.
Jika penasaran, silakan daftar agar tahu mekanismenya seperti apa. Dalam halaman muka atas kita akan langsung melihat banner seperti di bawah ini, maka klik tombol REGISTER SEKARANG. Lalu kita akan masuk halaman https://flashsale.seva.id.
Mantap! Kita akan langsung melihat flash news pembeli yang beruntung berhasil membeli mobil baru seharga 50 juta saja, tunai! Ucapan selamat untuk Natasha Kairupan yang membeli Toyota New Yaris dan Faris Zul Hilmi yang membeli Toyota New Fortuner, masing-masing mobilnya seharga 50 juta saja!
Di bagian bawah kita akan melihar daftar mobil lain yang sedang menungggu pembeli beruntung untuk flash sale. Pekan ini saya lihat BMW X1 Xline. Kira-kira akan dibeli siapa, ya? Yang jelas bukan saya, he he.



Itu hanya promosi terbatas dengan jangka waktu dari bulan September hingga Desember 2018, namun setidaknya Seva.id mengabarkan eksistensinya pada khalayak luas sebagai toko daring khusus yang menyasar konsumen dari beragam lapisan untuk otomotif dan properti.
Jika ingin tahu lebih lanjut mengenai flash sale silakan klik SYARAT DAN KETENTUAN, di sana konsumen akan beroleh penjelasan panjang lebar mengenai bagaimana flash sale itu. flash sale diselenggarakan oleh PT Astra International Tbk melalui anak perusahaannya PT Astra Digital Internasional. Jadi, jangan khawatir, nama Astra menjamin.
Setelah mempelajarinya dan mantap untuk mencoba siapa tahu bisa lolos sebagai pembeli beruntung, silakan klik CARA IKUTAN, di sini kita akan dipandu untuk registrasi dengan langkah demi langkah dalam gambar ilustrasi yang runtut dan mudah.


Beres, ‘kan?
Sebenarnya yang utama dalam transaksi jual beli itu adalah kesungguhan konsumen sendiri untuk membelinya. Jika beruntung sebagai pembeli mobil baru seharga 50 juta tiap periode, maka sebaiknya segera siapkan uangnya karena itu harus dibayar tunai dan dalam jangka waktu tertentu. Jika lewat dari itu maka akan dianggap hangus. Sayang, dong, jika hangus, maka perhatikan ketentuannya baik-baik seperti dalam poin nomor 4, 5, dan 6 dalam syarat dan ketentuan flash sale:
1.    Konsumen menyelesaikan pemesanan kendaraan yang dijual melalui Flash Sale tersebut terlebih dahulu dan mendapatkan konfirmasi pemesanan berhasil melalui email yang terdaftar adalah konsumen yang berhak mendapatkan benefit Flash Sale. Konsumen tersebut juga akan diumumkan di website dan kanal media sosial Seva.id.
2.           Konsumen yang berhasil mendapatkan Benefit Flash Sale setiap periodenya harus bersedia di-interview dan/atau difoto dan divideokan oleh tim redaksional Seva.id, lalu dipublikasikan ceritanya melalui website dan kanal media sosial Seva.id.
3.           Benefit Flash Sale bagi konsumen yang berhasil membeli hanya dapat digunakan apabila konsumen tersebut: (i) menandatangani Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) paling lambat 14 hari kalender sejak pemesanan, (ii) membayar harga jual mobil Flash Sale senilai Rp 50.000.000 (lima puluh juta rupiah) dengan lunas secara tunai (cash) paling lambat 7 hari kalender sejak SPK ditandatangani. Benefit Flash Sale akan dianggap hangus apabila konsumen tidak memenuhi ketentuan ini.

Harga asli mobilnya ‘kan bisa ratusan juta, jadi mari dicoba 7 langkah mudahnya seperti gambar di atas. Siapa tahu beruntung jadi pembeli BMW X1. Itu mobil idaman saya!



Sebenarnya belanja mobil bisa di mana saja, namun Seva.id memudahkan calon pembeli untuk memilih dan menimbang dengan ragam produk pilihan yang murah dan berkualitas. Mobil baru maupun bekas.
Merek mobil yang ditawarkan Seva.id adalah BMW, Daihatsu, Toyota, Peugeot, dan Isuzu. calon pembeli bebas memilih tipe kendaraan sesuai kebutuhan dan warna yang diinginkan. Dengan Seva.id kita tak perlu repot jauh-jauh datang ke showroom atau dealer mobil, cukup dengan bantuan ponsel pintar atau komputer bisa leluasa memilih, konsultasi, dan melakukan transaksi.
Bagi yang belum terbiasa belanja daring (online) atau ragu, Seva.id memiliki penjenamaan (branding) sebagai perusahaan digital tepercaya. Kita diberi kemudahan pula dalam hal pembayaran secara kredit (untuk produk di luar promosi flash sale). Seva.id berafiliasi dengan perusahaan jasa keuangan seperti Astra CreditCompany (ACC) yang sudah dikenal luas.
Jika kita sudah menentukan jenis kendaraan dan cara pembayaran (entah itu kredit atau tukar tambah), Seva.id akan segera menghubungkan kita dengan rekanan showroom atau dealer terdekat. Intinya, kita juga akan dimudahkan dalam mengakses info proses terbaru dan pengiriman mobil pesanan secara daring.
Jangan khawatir, harga yang ditawarkan Seva.id murah dan terbaik di pasaran. Ada banyak jenis mobil yang ditawarkan. Dari MPV, SUV, sedan, hatchback, commercial, hingga hybrid. Dan calon pembeli bisa santai memilih secara jelas dan leluasa dengan adanya keberadaan Seva.id dengan nomor Seva Call: 1-500-607. Sesuai jargon Seva.id, karena melayani Anda adalah komitmen kami.
Kembali pada flash sale mobil 50 juta saja, itu merupakan langkah yang wow. Berbagi hal tak terduga dengan pembeli mobil di Seva.id. Siapa tahu barangkali giliran Anda yang beruntung. Tabik!***
#Cipeujeuh, 14 Oktober 2018

~Foto-foto dan data tulisan berasal dari situs Seva.id
#SevaId #FlashSale #MobilMurah #BelanjaOnline #AstraInternational



Kamis, 09 Agustus 2018

Bahasa Indonesia dalam Pembacaan Seorang Tunarungu


Oleh Rohyati Sofjan

*Narablog di https://.rohyatisofjan.blogspot.co.id



Adalah hal yang melegakan jika saya bisa memahami apa yang dibaca dalam pembacaan tulisan berbahasa Indonesia. Memahami bahasa bagi seseorang yang telah kehilangan fungsi pendengaran sejak usia ± 6 tahun ternyata tidak mudah.
Saat masih kecil, ketika membaca suatu kata atau istilah yang tak dimengerti (entah dalam buku, majalah, atau koran), saya merasa terasing dalam planet sunya ketika dunia begitu ingar. Mengempaskan saya pada kesadaran akan keterbatasan. Tertatih dalam upaya untuk memahami arti dalam rangkaian kalimat. Semakin sering membaca, semakin mengertilah saya akan kata atau istilah yang semula asing. Terkadang butuh waktu lama untuk memahaminya dan mendapat arti dari bacaan lain di lain kesempatan. Terkadang pula saya hanya bisa menebak makna dari rangkaian kalimat yang ada.
Begitulah saya belajar bahasa, dan bahasa Indonesialah yang dirasa mudah untuk dipahami karena pembiasaan dari apa yang dibaca. Ketika anak lain tidak mengerti makna suatu kata sedang saya memahaminya dari apa yang telah dibaca, rasanya lebih mendingan daripada mereka yang berpendengaran normal.
Akan tetapi, sampai dewasa dan menjadi ibu satu anak, tidak selalu saya paham, kadang ada kata atau istilah tertentu yang sulit dieja, terlewat begitu saja dari memori otak saya untuk diolah, seolah kata itu kehilangan makna. Terkadang pula saya frustrasi dan merasa kebelet ketika kata atau rangkaian kalimat itu ternyata sangat sulit dipahami karena susunannya njelimet.
Hal terakhir yang sering terjadi ada dalam buku ajar sekolah. Merasa ngeri dengan kemampuan penulis buku tersebut yang kapasitas berbahasanya seolah mencerminkan kerumitan cara pikir. Teringat masa sekolah ketika wajib membaca buku ajar yang tebal atau tipis namun susunan bahasanya  sangat tak ramah, bertele-tele dan panjang. Seolah kesederhanaan dalam berbahasa sama sekali tak mencerminkan intelektualitas. Dan ternyata, ketika membantu anak tetangga bikin PR dengan membaca buku ajar mereka (SMP dan SMA), masih saja hal tersebut saya jumpai. Tak heran anak itu bingung memahaminya, apalagi saya. Tidak semua buku ajar demikian,  memang.
Saya tidak tahu apakah intelektualitas berbahasa yang menghinggapi masyarakat ilmiah itu penting bagi kaum tunarungu, sebab memahami bahasa sehari-hari yang sederhana saja sudah sulit. Seperti bagaimana cara pengucapan suatu kata, apakah ‘k’ di akhiran kata diucapkan dengan sentak atau semacam pemanis bagi suatu kata yang mestinya diberi tanda baca petik satu (‘), namun karena aturan dalam berbahasa Indonesia meniadakan itu maka kesulitanlah yang dialami saya ketika melafalkannya.
Seperti bagaimana mengucapkan kata “bentak” yang baru saya tahu ketika seorang teman malah menulis kata apa adanya dari yang biasa diucapkan. Melihat KBBI dan sadar kesulitan pelafalan saya ternyata sangat banyak karena tak bisa membedakan cara pengucapan, melafal begitu saja dari apa yang dibaca bukan didengar. Belum lagi ketidakjelasan intonasi saya. Dan bicara seolah menjadikan saya seorang alien dari planet sunya yang tidak semestinya berada dalam dunia ingar kata dan makna.
Jika bicara saja sudah susah, bagaimana dengan membaca? Bahasa Indonesia yang menurut Tendy K. Somantri dalam “Bahasa (Masihkah) Menunjukkan Bangsa?” (http://somantri.multiply.com, almarhum), mudah dipelajari orang asing karena sederhana dan apa adanya.
Namun menurut saya kemudahan tersebut tidak berlaku bagi yang memiliki keterbatasan fungsi pendengaran, apalagi mereka yang sudah sejak bayi dan tidak diajari cara berbahasa (Indonesia atau daerah) karena masalah ketiadaan fasilitas atau biaya atau pengetahuan dan kesadaran orang tuanya. Begitu miris karena hal tersebut dialami beberapa tetangga di kampung saya.
Pada hakikatnya jika bahasa Indonesia memang mudah dipelajari orang asing sekalipun, tidakkah cara pelafalannya memerhatikan pengguna yang memiliki keterbatasan panca indra? Atau dibuat semacam sistem baru yang lebih memudahkan siapa saja untuk mengucapkannya. Sebab, membedakan suatu kata dari apa yang dibaca lalu diucapkan tidaklah mudah. Lebih sering kesulitan membedakan pelafalan [e], seperti apel yang buah dengan apel yang merupakan bahasa slank anak muda untuk wakuncar (waktu [atau wajib?] kunjung pacar), dan hal-hal lainnya.
Namun, syukur, alhamdulillah, kesulitan tersebut tak menjadikan saya berkecil hati untuk berusaha mempelajarinya, meski kadang senewen juga. Dan dunia maya memberi kemudahan bagi saya untuk mengakses pembelajaran bahasa Indonesia, meski kadang bingung juga dengan cara berbahasa (gramatika sampai susunan kalimat lainnya) yang terdapat dalam suatu situs.
Tidak hanya situs saja, buku atau artikel dari suatu koran atau majalah yang sedang dibaca kadang menyulitkan saya karena susunan bahasanya ternyata amburadul. Lalu, masih pentingkah posisi editor bahasa bagi suatu media atau penerbitan? Sangat penting bagi saya secara pribadi agar logika berbahasanya tak dikacaukan amburadulisme pengguna bahasa yang seolah tak bertanggung jawab.***
708 Kata
Cipeujeuh, 19 Maret 2011
Foto SS dari  Pak Irul S. Budiarto di group FB Sastra Koran dan Majalah plus Mutiara Aryani
Dimuat di Harian Riau Pos, 15 Juli 2018


 
 

Selasa, 07 Agustus 2018

Ada Alasan Mengapa Mamah-mamah 40 Tahunan Tak Kuat Begadang



USIA adalah batasan kita dalam melakukan sesuatu. Entah apakah akan memulai awal yang baik atau awal yang bisa jadi semacam petualangan baru. Semakin bertambah usia, semakin terbuka kemungkinan untuk melakukan banyak hal, namun bisa juga merupakan batasan untuk melakukan banyak hal. 
Batasan demikian disebut limit dalam bahasa Inggrisnya. Yah, saya malah ingat iklan produk dengan jargon “No limit!”
Kita mampu melakukan banyak hal namun hal tersebut akan membentur dinding batas. Dinding itu bisa jadi berupa tembok batu tebal, tinggi pula untuk kita lompati atau terlalu berat untuk didobrak pakai pemalu batu sekalipun.
Pun usia. Ia mengenal batas sebagai penanda masa siklus waktu. Apakah kala kau dalam rahim ibumu, lalu lahir sebagai bayi, tumbuh menjelma kanak-kanak, berkembang sebagai remaja, mencapai masa dewasa, lalu menua sesuai bergulirnya hari yang ditentukan rotasi bumi terhadap matahari. Lantas kau kembali pada ketiadaan berupa kematian.
Saya ingin bahas mengenal batasan kapasitas kala usia bertambah. Kita mengenal falsafah bahwa kehidupan dimulai pada usia 40 tahun. Pada usia demikian semestinya menjadi batas bagi kita untuk mengenal dan mendalami hal-hal yang berkaitan dengan norma dan agama. Batas untuk berhenti berbuat maksiat dalam beragam bentuknya: lisan, tulisan, niatan. dan tindakan!
Bahkan batasan itu tidak mencakup hal besar semata, hal-hal kecil pun akan kita alami. Semisal kekuatan atau daya tahan tubuh yang berkurang, selain elastisitas kulit yang tak lagi mengencang.
Tubuh akan mengenal siklus untuk lebih sering beristirahat kala fisik terasa rapuh dan mudah lelah. Karena itu tak bijak memforsir diri dalam bekerja; kala usia diibaratkan bukit yang menanjak maka akan menurun pula prima kita mendakinya.
Pada usia 20 dan 30-an, saya masih mampu begadang, kerja sampai malam; menuliskan banyak hal atau malah sekadar menonton anime One Piece maupun drakor untuk menuntaskan rasa penasaran.
Namun pada usia 40-an, pelan namun pasti saya merasakan perubahan berkaitan dengan daya tahan, bahkan massa tulang.
Sekarang tubuh mengenal batasan. Limit untuk berhenti dan jangan memforsir diri.
Kau akan mudah lelah dan mengantuk kala jam tidur menuntut istirahat dari segala aktivitas yang membuat badanmu remuk. Maka, beristirahatlah. Pulihkan dirimu agar kembali segar dalam segi fisik dan psikis. Tidur bisa sebagai pilihan. Asal jam tidurnya jangan terlalu lama. Bangunlah kala jam biologis atau kumandang azan memanggilmu agar lepas dari buaian mimpi dan segera kembali pada dunia nyata.
Mewujudkan kerja nyata!
Saya sadar dengan bertambahnya usia seperti sekarang ini, 42 tahun, berarti jatah hidup di dunia kian berkurang. Sekaligus akan alami menopause alias masa berhentinya siklus haid sebagai penanda tidak subur lagi dan tak bisa hamil.
Yah, saat ini saya masih alami menstruasi namun terpaksa di-KB usai melahirkan Palung dengan bedah caesar 8 tahun silam demi alasan medis dan finansial. 5 tahun IUD, 3 bulan suntik, lalu sampai sekarang memilih pil KB sebagai alat kontrasepsi yang aman dan nyaman. Soalnya IUD tak nyaman dan suntik sekali saja membuat saya kapok, mengingatkan pada masa-masa di rumah sakit.
Kala masih lajang di Bandung, saya sampai heran dengan teman chatting di mIRc di Yogya karena doi kuat begadang. Kerja di warnet membuatnya kerap kebagian tugas malam sampai pagi. Jelas saya yang kerja dari pagi sampai malam setiap hari tanpa libur kala tanggal merah di toko kecil tak akan kuat menjalani siklus kerja demikian.Saya masih gadis muda yang butuh bobo cantik agar esok paginya bisa kembali segar kala bekerja.
Dan teman-teman di komunitas Mnemonic Geng Mnuliz, yang bermarkas di toko buku Wabule (Warung Buku Lesehan), Bandung, kerap kumpul-kumpul dengan sesama teman penulis lain, sampai subuh mengobrolnya.  Kuat, ya, begadangnya. Maklum anak muda pencinta baca dan tulis kalau kumpul-kumpul pasti banyak hal yang ingin dibahas.
Saya mah tak pernah ikutan acara begadang demikian.Mana tahan!
Dan sekarang, saya lebih nyaman menulis sampai di bawah jam tengah malam. Kalau sampai lewat tengah malam tetap begadang rasanya tak nyaman. Kadang saya terjaga pada jam sekian dini hari lalu kembali bekerja.
Kondisi fisik dan psikis akan memengaruhi hasil tulisan kita.
Jika suasana hati suntuk dan lelah, maka tulisan kita seakan tak bertenaga.
Kala menulis, ada banyak hal yang tanpa sadar kita salurkan ke dalam tulisan sehingga pembaca ikut merasakan. Kalau tulisannya loyo bisa jadi yang menulis lagi suntuk dan kelelahan.
Saya akan memilih berhenti kala kantuk menyerang; untuk menghindarkan pembaca dari rasa bosan yang tak sengaja saya salurkan ke dalam tulisan.
Tulisan adalah wakil dari perasaan dan pemikiran seseorang.
#Cipeujeuh, 13 Mei 2018
~Gambar hasil dari Paint sendiri~
#Usia #Ageof40Year'sOld #Perempuan #Menopause