HOME/RUMAH

Minggu, 01 Juli 2018

Mengapa Saya Bisa Typo atau (Mestinya) Salah Ketik?




TYPO bukanlah kata dari tipografi alias ilmu cetak atau seni percetakan, melainkan terjemahan dari bahasa Inggris untuk kesalahan cetak. Namun entah mengapa, banyak yang menggunakan istilah typo meski yang dimaksud bahwa penulisnya salah ketik.
Kalau sudah dalam buku terbit atau digital, bisa saja bukunya dikatain ada atau banyak yang typo karena penulisnya ceroboh salah ketik dan editornya tak teliti memeriksa proses penyuntingan.
Jika tulisan yang ada atau banyak salah ketik tersebut tayang di blog atau media daring, apakah masih layak disebut typo? Mengapa tidak cukup sebut dengan salah ketik atau ada juga yang menyingkatnya dengan saltik. Meski dari kaidah pembentukan akronim (gabungan kata), saltik agak membingungkan karena diambil dari penggabungan dua kata depan dan kata akhir, salah ketik.
Saya jadi ingat istilah gaul salting yang bermakna salah tingkah.
Waktu pertama kali (tahun 2014) saya disodori istilah typo di group Facebook Be a Writer (BaW) asuhan Mbak Leyla Hana, saya sempat bingung untuk mengartikannya sampai akhirnya jadi terbiasa. Namun rupanya karena terbiasalah saya ikut tergelincir untuk salah mengartikannya karena tidak tahu.
Kesalahan ketik dalam tulisan yang tayang di blog atau media daring disamakan dengan typo padahal dari segi pemaknaan berbeda. Karena belum dicetak maka apakah pas dibilang typo alias kesalahan cetak?
Soal itu, mungkin harus ditanyakan pada para pakar bahasa. Atau yang sudah berpengalaman sebagai editor bahasa?
Baiklah, sekarang saya akan bahas mengapa bisa salah ketik.
Saya mengetik dengan sistem dua jari tangan bukan sepuluh jari, maka kala mengetik saya cuma memerhatikan papan ketik dan sesekali layar komputer. Jika papan ketiknya ngadat maka akan ada huruf yang tak akan tampil di layar, dan itu tidak saya sadari jika tak memeriksa ulang.
Kalaupun saya periksa ulang dan luput dari perhatian, mata sayalah yang bermasalah karena faktor usia dan pekerjaan; mulai lamur dalam proses editing akhir sebelum dikirim ke media atau ditayangkan di blog maupun media daring. Itu terjadi jika saya lelah atau tergesa-gesa maka akan ceroboh.
Sakit juga memberi andil kesalahan ketik yang lebih parah. Bukan huruf semata melainkan pilihan kata yang tepat (tahun, tempat, atau nama penerbit).
Sebagai penulis, kita harus menjaga kesehatan. Sehat adalah aset utama kita. Maka, mungkin sebaiknya hindari begadang karena itu akan membuat tubuh tak nyaman.
Mamah-mamah seusia saya sudah tak kuat begadang lagi. Kalau terjaga pada pukul sekian dini hari, setelah tahajud lalu menulis biasanya saya mengantuk. Saya paksakan menulis karena tanggung namun pada akhirnya akan masuk angin karena meja komputer berada di ruang depan bukan kamar, mana hawa dingin mudah masuk lewat celah dinding bilik alias gedek rumah panggung saya.
Menulis pada saat demikian sangat rentan salah ketiknya. Dan sebaiknya periksa ulang jika sudah segar lagi sebelum dikirim ke media atau ditayangkan di blog maupun media daring. Tunda dulu pengiriman atau penayangannya sebelum lebih jeli di-self editing. Jangan mengedit di jam-jam mengantuk, salah ketiknya bisa lolos lihat.
Jangan remehkan salah ketik, orang akan membuat penilaian pada karya kita. Jika isinya bagus dan cara penulisannya rapi tanpa kesalahan ketik atau salah EBI (ejaan bahasa Indonesia), maka pembaca akan merasa nyaman.
Kemarin-kemarin banyak tulisan saya dalam bentuk artikel maupun status di media sosial dinodai salah ketik. Saya jadi malu sendiri. Semoga ada rezeki untuk beli papan ketik (eksternal keyboard) baru. Saya tidak nyaman dengan entakannya. Jadi berat gitu karena macet akibat debu atau salah guna.
Biarlah papan ketik ini dipakai Palung, dan yang baru (jika saya ada rezeki) khusus dipakai untuk menulis.
Ketika kita menulis, saking asyiknya bisa saja abai memeriksa ulang dan terlalu bersemangat untuk segera menayangkannya. Itulah saya sebagai contoh.
Dan ke depannya saya harap semoga tidak lagi lakukan kesalahan ketik. Saya malu soalnya dulu anggota milis guyubbahasa Forum Bahasa Media Massa (FBMM) yang ketat dalam gramatika.
Semoga tulisan ini bisa menginspirasi pembaca juga.
Mari menulis dengan jeli, dari segi susunan huruf, tanda baca sampai tata bahasa dan pemilihan ejaan yang sesuai EBI.
#Cipeujeuh, 25 April 2018
~Gambar hasil paint sendiri~

Barudak Ngarujak, Permainan Orang Kampung yang Tak Digerus Kekinian




HARI Minggu kemarin teman-teman Palung, para anak tetangga, pada main ke rumah kami. Yah, rumah Palung dan mamah plus bapaknya, he he. Ngapain saja? Ngegim di komputer punya mamah yang lagi sibuk urus rumah sekalian bantu Ayu anak kelas 4 SD ngerjain PR-nya.
Urusan PR Ayu kelar, mamah lagi masak untuk makan siang, mendadak Palung bilang ingin ngerujak. Mamah yang lagi ngulek bumbu untuk masakan bilang cobeknya dipakai dulu, dan nyuruh ngerujak pepaya. Ada banyak buah pepaya yang gelendotan manja di empat batang pohon pekarangan.
Ayu yang semula berniat memanjat malah batal. Pohonnya terlalu jangkung. Jadi ambil pepaya separuh matang yang kemarin dipetik bapak dan ditaruh dekat pintu. Ayu mengupas. Mamah masak. Palung lanjutin ngegim bareng Izal, Deden, dan Abang. Adik Abang yang masih batita jadi cuma jadi penonton Ayu yang memainkan pisau.
Ternyata pepaya separuh matang yang berwarna kemerahan itu asyik dirujak. Keras namun berasa manisnya. Mamah yang sudah selesai gunain cobek, mencuci dan mengeringkannya; menyiapkan bahan bumbu: garam, asam, kencur, bawang putih, gula aren, dan terasi. Menyuruh Deden yang bertugas mengulek agar petik saja cabai rawit.
Lalu apa yang terjadi dengan anak-anak yang menjadikan permainan barudak ngarujak di bale-bale depan rumah? Mamah tidak mengawasinya. Yang jelas pada akhirnya mereka sukses membuat rujak, sampai Palung tiba-tiba menyerbu dapur mengambil gelas dan air minum.
Olala, Deden mengulek bumbunya kepedasan karena entah berapa banyak cabai rawit yang dipetik lalu digerus. Ada-ada saja.
Bermain bagi anak-anak adalah kegiatan yang menyenangkan. Barudak kampung tak pernah kehilangan hal asyik untuk jadi bahan permainan secara murah meriah dan sederhana. Merujak ramai-ramai adalah sarana untuk bersosialisasi sekaligus menjalin solidaritas satu sama lain.
Bahannya murah dan gampang didapat. Bumbu dari dapur dan buah pepaya dari pekarangan. Pohon yang empat tahun silam mamah tanam kala pertama kali menempati rumah di tanah milik desa ini.




Dunia bermain anak kekinian tak melulu berupa gawai, dan beruntunglah barudak kampung yang masih dekat dengan alam, mereka kurang mengenal sikap individualis. Palung yang tergila-gila pada gim tetap main bareng teman-teman sebayanya, para anak tetangga di tebing atas.
Main apa? Ikuti musim. Sekarang ini yang tak kenal musim-musiman alias ada sepanjang masa adalah adu kelereng. Palung kerap kalah main kelereng jika melawan ibu-ibu yang iseng pingin ikut main. Dan mamah jelas tak bisa bantu  Palung karena kala kecil kalah melulu juga.
Sampai pada akhirnya Palung mahir seiring waktu, meski masih kalah jika melawan para ibu. Duh, ibu-ibu.
Dan acara ngerujak bareng itu tetap menjadi favorit di kalangan para tetangga dekat rumah. Lebih asyik ramai-ramai daripada sendirian ngerujaknya. Mantap rasanya jika berpedas-pedas bareng. Dan tak banyak modal yang dibutuhkan untuk menjalin keakraban sekaligus rasa kesetiakawanan sosial secara positif. Hanya perangkat untuk merujak, bumbu, dan buahnya.
Saya bersyukur tinggal di kampung. Kala di Bandung juga kerap merujak dengan teman-teman sepermainan. Bahannya beli. Dan di kampung bahannya kadang dari apa yang disediakan alam pada hasil yang kita tanam.
Saya bersyukur Palung tumbuh di kampung, beroleh keahlian dalam bergaul secara sederhana. Bisa menikmati momen manis berupa merujak ramai-ramai dengan teman sepermainannya, di kala anak seusianya ada yang lebih tenggelam dalam gawai dan lupa hakikat bersosialisasi secara sehat dan menyenangkan.
Ketika saya kecil di kampung, ada hal manis dalam ngerujak, bisa merasakan bagaimana serunya ngerujak di tabung bambu apus kecil. Isinya cuma garam, cabai rawit, gula, terasi, mangga muda, jambu batu, atau bahkan cukup buah asam muda dengan daunnya yang juga muda.
Saya lupa apa namanya, namun rupanya Kang Gol A Gong dalam novel Pasukan Matahari, menyegarkan ingatan karena beliau pun punya kenangan hampir serupa. Namanya bambu locok. Tabung kecil itu ibarat tempat ngerujak portabel, dengan buah berikut bumbu yang ditumbuk dengan kayu kecil dari bambu pula, atau bahkan kayu pohon (di kampung saya). Lalu kayunya dijilati.
Cara mainnya seru, kumpul bareng teman-teman lalu ngelocok bareng. Bahan didapat dari hasil berbagi. Inilah cara ngerujak portabel yang unik. Sekarang hal itu tidak terdapat lagi. Saya pernah menyuruh bapak Palung untuk bikin jika ada waktu senggang, agar Palung bisa merasakan bagaimana sensasinya.
Siang panas gini bahas ngerujak bikin saya jadi kabita sendiri. Kabita? Itu bahasa Sunda untuk ngiler pada makanan atau sesuatu. Tapi tak seru jika ngerujak sendirian. Ha ha.
Hasil rujak yang kemarin dibikin anak-anak, semoga saja akan membekas dalam ingatan menjadi kenangan kala mereka telah meninggalkan masa kanaknya. Ada momen tertentu yang sangat sayang jika kita lewatkan: kebersamaan dengan teman sebaya.
Palung juga kerap diajak pesta rujak oleh tetangga bersama anak-anak lainnya, dan masing-masing udunan alias patungan bawa bahannya sendiri.
Jangan lupa ngerujak, ya, kapan saja jika kumpul bareng teman atau saudara. Kombinasi bumbu pedas dengan aneka rupa buah berikut pelahapnya adalah hal menakjubkan. Betapa pedas bisa menjaga perdamaian dan kesatuan.
Bagi orang tua yang anaknya terlalu asyik dengan gawai, mungkin sekali-kali perlu ajak anak tetangga atau teman-teman anak untuk ngerujak ramai-ramai. Ini bisa jadi sarana bermain sekaligus edukasi tanpa paksaan.
Selamat ngerujak. Selamat siang.
Panas-panas gini ngerujak, yuk.
Salam rujak.
#Cipeujeuh, 8 Mei 2018
~Foto hasil jepret asal-asalan pakai kamera ponsel Andromax Prime

50 Meter di Bawah Rumah






BIASANYA saya senang memberi semacam pengantar bagi puisi. Semacam penyemangat bahwa setiap puisi yang saya tulis ada sejarah di balik penciptaannya. Semisal latar.
Ya, kali ini saya ingin bahas mengenai latar, tempat ilham menjelma puisi. Alam di sekitar saya adalah latar paling menakjubkan. Sebuah kehidupan bermula; bagi hewan, manusia, dan tumbuhan. Ketiganya bersatu-padu, mencipta harmoni yang serasi.
Jadi, jangan heran, di kampung yang sederhana ini, panorama alam bisa menjadi latar yang menggugah kesadaran untuk berpuisi. Bagi siapa pun yang ingin merasakan semacam kesadaran untuk meresapi: bahwa diri senantiasa kecil di bentang penciptaan Allah Yang Maharahman.



Saya menulis sungai sebagai tema utama bagi puisi. Bagi saya sungai adalah titik nadi kehidupan para penghuninya. Sungai bukan sekadar pelengkap alam melainkan bagian utama dari alam. Sungai bukan sekadar saluran bagi alir air dari gunung. Sungai adalah urat nadi bagi kehidupan yang dilintasinya. Dan sungai bukan sekadar benda mati.
Ia punya misi sebagai pembawa visi. Hanya manusia beballah yang tak paham arti sungai, dengan ikut mencemari.
Saya punya banyak kenangan dengan sungai. Ketika kanak hanya melihat sungai sebagai sungai. Dan kala jelang remaja menikmati masa-masa seru bersama teman-teman sepermainan di kampung untuk cebur-cebur riang gembira berkat sungai. Kemudian kala remaja, sungai adalah tempat piknik yang asyik meski sederhana.
Ya, saya anak kota yang bahagia jika berada di kampung kala mudik lalu menetap semi permanen karena rumah ada dua: desa dan kota. Sampai kemudian menetap secara permanen kala remaja karena rumah yang di Bandung dijual ibu saya.

 

Lalu saat dewasa kini, saya hanya memiliki sungai sebagai bagian nostalgia yang tak akan lekang meski manusia telah mengubah alam. Sungai adalah alur kenangan yang melintas bersama kebahagiaan dan kesedihan.
Jarak sungai dari rumah saya hanya beberapa puluh meter. Tipografi alam telah terbentuk secara ideal. Setelah dataran, lalu lembah, kemudian bagian tebing pemisah yang berundak-undak menuju sungai. Dan bukan manusia yang menyusunnya melainkan hasil bentukan alam berkat campur tangan Sang Pencipta.
Sekarang sungai telah berubah, puluhan tahun telah lewat dari masa kanak. Apakah wajah sungai menjelma asing?
Airnya masih kecokelatan, untuk masa sekarang, entah puluhan tahun ke depan.
Dan jika kemarau, alangkah bedanya dengan masa puluhan tahun lampau, debit air alir sungai mengecil.
Hidup tidak sama. Alam telah berubah karena peran manusia juga.
Maaf, saya memotret bagian bawah sungai dari atas tebing saat minggu kemarin turun ke bawah untuk mengambil air dari cinyusu (mata air) karena air keran desa tak ngocor berhari-hari. Jadi tidak menggambarkan bagaimana wajah utama sungai secara keseluruhan. Hanya sebagian kala hujan enggan datang.






Dan kemarin hujan. Seperti apakah wajah sungai?
Salam puisi.
#Cipeujeuh, 25 Mei 2018



50 Meter di Bawah Rumah


Alir sungai mengalir deras pada setiap musim penghujan,
anakku mendengar gemuruhnya seolah rutinitas irama alam,
sedang padaku tak sampai.

Gemuruh itu hanya datang ketika langit menumpahkan
muatan kubik rindu pada bumi setelah semusim bertahan
dalam kering terik matahari;
membuat tanah rengkah dan tanaman ranggas.

Di sungai itu, kenangan masa kanakku hilang-timbul,
menolak dihanyutkan arus waktu, sebab sungai pernah
karib bagi anak-anak kampung yang pada akhirnya raib
ditelan gulir nasib.

Serakan batu cadas kecil-besar, adalah tempat kami
pernah melangkah, lantas tertawa, ribut menceburkan diri
pada kuyup sungai yang membelah lembah. Tak peduli
badan akan gatal sehabis berenang, karena riang adalah
harga tak ternilai.

Dan sekarang, sungai masih mengalirkan air
dari hulu gunung menuju hilir laut yang menyambut.

Berabad-abad telah lewat, penghuni kampung lahir
lalu mati sesuai garis takdir, sungai masih riang mengalir,
sekaligus melarutkan kecemasan karena cemar
limbah pabrik olahan tapioka di kampung tetangga
berikut zat-zat kimia lainnya telah mengubah warna dan rasa.

Setiap hujan, sungai hanya mengirim debar pada dadaku
dengan gelegak arusnya, sederas basahan hujan yang ditampung.
Sungai adalah batas paling bawah lembah, sebagai penghubung
sekaligus pemisah antara lembah dari setiap wilayah kampung.

50 meter di bawah rumah, ada monumen kenangan
meliuk panjang seperti naga barongsai.
Cipeujeuh, 26 Februari 2018

~Tambahan foto kala hari Rabu kemarin (27 Juni 2018) melewati sungai bersama anak dan suami~

~Foto koleksi pribadi~


Sabtu, 30 Juni 2018

Paku Nyai Kunti



Carita: Ani Suhartini


PEUTING bulan moncorong sawareh katutupan mega hideung. Kuring indit ka lembur niat rek sungkem ka indung. Kajadian anu matak sieun jeung keueung. Bulu punduk tingsariak. Kasieun beuki gede pas motor pareum di sasak wahangan Cicupu deukeut tangkal waru doyong. Kuring ngomong na jero hate, duh naha bet mogok palebah dieu, dalah dikumaha motor teu hurung-hurung. Kuring negerkeun hate supaya gede wawanen, kuring neuteu bulan nu endah tapi siga neundeun kasedih.
Keur anteng kitu kasampak digigireun aya awewe geulis pisan, naha bajuna koneng buukna panjang tapi geulis pisan. Kuring teu sieun da ngarasa eta jalma nu rek nulungan kuring ngabantuan motor beh teu mogok.
Obrolan eta awewe geuning lain rek nulungan tapi ambek-ambekan, kuring soak kacida. Manehna keukeuh nuding kuring anu nyokot paku anu nanceb dina sirahna. Kuring olohok, da teu rumasa. Manehna nyebutkeun yen paku anu dipake nyoblos Bupati jeung Gubernur teh ceunah paku anu manehna. Kuring teu kuat da ayeuna apal nu ngobrol jeung kuring teh geuning Nyai Kunti jeung nincak peuting teh malem Jumat Kliwon. Manehna keukeuh tatanya hal anu rahasia keur diri kuring, nanyakeun kuring nyolok saha???
Tidinya kuring teu inget di bumi alam.
Kacaritakeun kuring nyampak di imah dirariung. Diarusapan, bari menta ngadongengkeun kajadianana.
Cag!
Dongeng Pemilu
28 Juni 2018.
Deudeuh Art

Paku Nyai Kunti

Terjemahan Bebas Rohyati Sofjan


MALAM bulan bersinar separuh tertutup mega hitam. Aku pergi ke kampung dengan niat akan sungkem kepada orangtua. Kejadian yang teramat menakutkan dan seram. Bulu kuduk merinding. Rasa takut kian besar pas motor mati di jembatan Sungai Cicupu dekat pohon waru doyong.
Aku bicara dalam hati, “Duh mengapa harus mogok di sebelah sini, harus bagaimana motor tidak nyala-nyala?”
Aku menegarkan hati supaya lebih berani, aku memandang bulan yang indah tapi seperti memendam kesedihan.
Saat sedang anteng begitu terlihat di pinggiran ada perempuan cantik sekali. Mengapa bajunya kuning, rambutnya panjang tapi cantik sekali?
Aku tidak takut karena merasa orang itu yang akan menolongku membantu mengatasi motor ini supaya tidak mogok lagi.
Obrolan perempuan itu malah bukan hendak menolong tapi marah-marah, aku kaget teramat sangat. Dirinya kukuh menuduhku yang mencabut paku yang menancap di atas kepalanya. Aku melongo karena tidak merasa melakukan itu. Dirinya menyebutkan bahwa paku yang dipakai mencoblos Bupati dan Gubernur itu katanya paku miliknya.
Aku tidak kuat karena sekarang tahu yang mengobrol denganku ternyata gerangan Nyai Kunti dan menginjak malam Jumat Kliwon.
Dirinya kukuh bertanya hal yang rahasia bagi diriku, menanyakan aku colok siapa???
Dari sana aku tak ingat bumi alam lagi.
Singkat cerita aku sudah berada di rumah dirubungi banyak orang. Diusap-usap, sambil diminta menceritakan kejadiannya.
Cag!
Dongeng Pemilu
28 Juni 2018
Deudeuh Art

~Gambar hasil paint sendiri~