HOME/RUMAH

Minggu, 03 Juni 2018

Kepada Suami




Sungguh aku mencemaskanmu, suamiku.
Malam gelap, lembap dan dingin.
Lalu bagaimana dengan paru-parumu
yang disayat-sayat angin?

Tidakkah kau gigil?

Aku di sini menanti dalam hangat rumah
yang aman, mengkhawatirkanmu di luar.
Sudah lebih dari jam sepuluh malam.

Tidakkah kau lelah dan mengantuk
atau malah lapar?

Kerja keras tanpa mengenal batas
seakan lembur untuk menghibur
anak dan istri yang hanya bisa mengandalkan
sosokmu sebagai penopang tiang.

Apakah engkau menyesal
melakoni kerja keras yang seakan
tiada akhir, dari masa-masa kemarin
tanpa mengenal usai.

Suara berdebam di luar mengagetkan
aku yang menanti kau segera pulang.
Pikulan telah ditaruh di bale-bale depan
lantas kau menutup pagar.

Kau masuk dan menyerahkan bungkusan
oleh-oleh dari tempat kerjamu.
Selalu kau begitu, seakan tak mengutamakan
diri sendiri demi anak-istri.

Yang pertama kautanyakan
hanya anak kita mana.
Padahal ia sudah lama lelap di kamar.
Dan kalimat pertamamu adalah cerminan
perasaan tanggung jawab.
Seorang ayah yang tak pernah
merasakan kasih sayang ayah
karena ayahmu keburu cepat berpulang
kala kau baru mengenal aroma kehidupan.

Pada akhirnya yang kuinginkan
kita tetap bersama membesarkan
anak semata wayang agar kakinya
kuat berpijak dan berani melangkah
dengan tanggung jawab
tanpa keluh kesah
.
Sebagaimana yang kaucontohkan
tanpa pamrih terumbar.

#Cipeujeuh, 18 Mei 2018

~Foto koleksi pribadi, hasil capture ACER Chrystal Eye Webcam pada panorama pagi di kampung dan tempat lainnya yang sarat kenangan.
#Puisi #TentangSuami #SuamiYangBaik
 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D