Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 April 2014

Menjadi "Editor"




Tulisan ini pernah dimuat "Jawa Pos" (12/6/2005).

Semoga bermanfaat. Meski ada bagian yang diedit. Ini versi aslinya, yang diedit adalah tentang paparan karate karena kepanjangan atau agar tak sok. 

Menjadi "Editor" (Esai)


            Beberapa kali saya dipercaya sekian kawan untuk mengedit tulisan mereka, dari skripsi sampai fiksi. Atau sekadar komentar sampai bantaian. Beberapa kali saya nikmati tugas tersebut dengan rasa takjub dan geleng-geleng kepala. Saya takjub pada hasil pengembaraan imajiner yang mereka bagi, sekaligus geleng-geleng kepala jika bangunan imajiner tersebut tak terstruktur. Entah dari narasi, ide, cara penyampaian, sampai gramatika.



            Berhubung kebanyakan yang meminta tolong masih pemula, saya coba memaklumi kelemahan mendasar mereka. Meskipun demikian, bukan berarti saya bisa lunak, ada saat tertentu terpaksa galak. Bukan apa-apa, saya cuma peduli saja. Sebagai seseorang yang telah 6 tahun berkecimpung dalam dunia menulis (sejak Mei 1999),  saya merasa bertanggung jawab untuk mengenalkan proses. Proses menjadi” yang tak bisa seketika.



            Bertahun-tahun saya belajar secara natural, jatuh bangun dalam meniti jenjang kepenulisan tanpa ada yang membimbing atau sekadar memberi sentuhan secara langsung. Memahami penerimaan dan penolakan sebagai semacam keharusan untuk dipasrahi atau diberontaki. Namun yang lebih utama lagi, saya menyadari ada kenikmatan tersendiri yang bersifat sangat personal kala menghayati proses. Barangkali hasil merupakan tujuan, namun ukuran tersebut bukan merupakan acuan utama. Kegagalan adalah peluang yang masih menuntut kesungguhan untuk diperjuangkan. Keberhasilan merupakan jenjang menuju perjalanan selanjutnya yang masih membentang. Dan untuk itu dibutuhkan kesabaran sebagai penyeimbang kegigihan. Percuma gigih jika tidak sabar, namun percuma pula sabar jika tidak gigih.



            Bertahun-tahun, saya mencoba mencari jalan tersendiri untuk mengembangkan diri. Pelan namun pasti, perjalanan saya telah sampai di pertengahan untuk menuju etape selanjutnya. Tak percuma menempa diri dengan berbagai cara,  selama sekian lama. Sebab pada akhirnya “hasil” tersebut bisa saya bagi pada sekian kawan yang butuh bantuan untuk memahami proses dalam dunia kepenulisan.



            Saya belum sepenuhnya berhasil, belum mencapai taraf terkenal apalagi produktif; yang saya punya adalah pemahaman dan empati untuk dibagi, sebab dari situlah saya bisa merasakan nikmatnya proses.



            Seperti di arena dojo, untuk menguasai gerakan kata (perpaduan kihon dan gohon), Anda harus punya dasar berupa gerakan kihon (pukulan) dan gohon (tendangan). Untuk pemula (sabuk putih) awalnya cuma satu kali kihon dan gohon (contoh: kihon/gohon kanan lalu kiri sesuai aba-aba). Lalu tingkat sabuk selanjutnya (kuning), dua kali kihon dan gohon (contoh: kihon/gohon kanan dan kiri secara serempak dalam satu aba-aba). Lalu tingkat sabuk selanjutnya lagi (hijau), bisa beberapa kali kihon dan gohon yang masuk dalam kata. Tingkat kesulitan tersebut memiliki dasar untuk memudahkan. Semacam latihan berjenjang. Itu pun berlaku untuk tingkat sabuk selanjutnya (biru, cokelat, dan hitam), yang memiliki kesulitan tersendiri namun butuh latihan dan konsentrasi selain disiplin dan kerendahhatian menuju kumite (adu tanding/pertempuran).



            Demikianlah saya umpamakan dunia menulis dengan olah raga karate yang pernah diikuti semasa SMU di kota kecil Limbangan, Garut. Olah raga yang menempa jiwa saya untuk memahami proses dalam hasil, lalu saya ambil intisarinya bagi dunia menulis.



            Mengapa demikian?



        Kebanyakan mental penulis pemula masih perlu diasah, namun yang lebih penting lagi, mereka harus punya dasar dalam menyusun kerangka cerita berupa struktur bahasa dan gramatika; selain jeli melihat peluang untuk mengembangkan diri.



            Kedua hal tersebut sering saya dapatkan telah diabaikan kala mengedit, geleng-geleng kepalalah hasilnya. Entah karena struktur kalimat yang kacau atau ide yang tak bernalar atau gramatika yang acak-acakan. Kalau sudah demikian, teguranlah yang harus saya sampaikan, dengan contoh begini-begitu, lalu bla-bla-bla....



            Syukur-syukur jika ada yang “ngeh, namun ada juga yang mengabaikan dan terus membuat kesalahan berulang terutama dalam gramatika karena merasa“ dilindungi” licentia poetica.



            Licentia poetica bagi saya ada acuannya. Yang lebih penting adalah bagaimana  pendobrakan” atas dalih licentia poetica itu bisa berterima, sebab esensi utama dari tulisan adalah mengundang hasrat pembaca untuk memasukinya. Tanpa itu, onanilah.



            Saya tidak tahu mengapa hanya segelintir penulis yang benar-benar peduli pada gramatika. Ada beberapa penulis muda berbakat yang saya acungi jempol karena punya dasar cukup kuat dalam menyusun kerangka cerita sampai struktur bahasa. Beberapa di antaranya adalah Agus Hernawan (yang ternyata sesama guyuber), Linda Christanty, Raudal Tanjung Banua, Gus Tf Sakai, Ryana Mustamin, Stefany Hid, dan Stefany Irawan. Saya tidak tahu apakah ada campur tangan editor bahasa di media tersebut, namun sebagai seorang pembelajar gramatika bahasa Indonesia di milis guyubbahasa Forum Bahasa Media Massa (FBMM), saya mengagumi keapikan mereka dalam mengikuti dinamika berbahasa dan taat asas EYD. Di situ terasa bahwa mereka bertanggung jawab, baik pada masyarakat pembacanya sampai diri sendiri. Semacam menjaga reputasi bahwa mereka peduli, menghargai proses, dan mau belajar.



            Benarkah demikian?



            Citra itu sangat mahal, bahwa mereka bersungguh-sungguh bekerja dengan rasa dan karsa yang diiringi tanggung jawab. Sebab gramatika bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan. Di sana terkandung kepribadian penulis yang bersangkutan dalam mengolah alur pikiran secara apik dan terstruktur. Maksud saya, ide boleh liar, namun jangan lupa bahan bangunannya: pondasi utuh berupa bahasa dan gramatika. Sebab bagaimana seseorang bisa menyampaikan pokok pikiran jika tak mampu menyusunnya secara mengena?



            Demikianlah pengalaman saya selama menjadi “”editor”. Tugas yang saya terima dengan senang hati sebagai semacam “pencerahan” dan “rangsangan” bagi alur kehidupan.***



Bandung, 7 Mei 2005


Rabu, 19 Maret 2014

Semangat Menulis



Esai

Semangat Menulis

Oleh Rohyati Sofjan

*Penulis Lepas Cum Ibu Rumah Tangga, Tinggal di Limbangan Garut


S
iapa bilang menulis itu gampang? Bagi yang berkecimpung dalam dunia literatur sebagai profesi, boleh jadi selalu dan selalu alami kekecewaan.  Apalagi jika berkaitan dengan penolakan, sampai yang paling ekstrim tiada kabar.
Kawan saya,  lajang 27 tahun, di Batusangkar yang baru meniti karier sebagai penulis sering merasa patah arang kalau kedua hal itu mendera, belum lagi jika buntu karena writing block. Sudah sering ponsel saya dijadikan dermaga bagi kegundahannya yang selalu berlayar. Saya berusaha menanggapinya dengan hangat agar ia kembali termotivasi dan bersemangat.
Padahal, kerap pula saya alami nasib serupa dengannya, tiga hal yang sangat berpengaruh bagi kinerja saya. Belum lagi kesibukan sebagai ibu RT yang harus mengurus rumah, anak, dan suami. Saya bisa sangat bersemangat menulis dan menulis meski ditolak atau tiada kabar. Atau sebaliknya:  masa bodoh karena capai dengan urusan harian, atau butuh lebih banyak referensi dan menunggu saat yang tepat untuk ke warnet -- download atau copas sebanyak-banyaknya.
Saya menyadari untuk menjadi penulis yang berhasil, atau setidaknya sanggup bertahan di tengah arus deras persaingan, mesti punya perbekalan memadai: selain kecakapan yang berdasar bakat atau minat, itikad dan nekat, semangat dan niat,  jangan bosan atau malas untuk terus meng-update dan upgrade diri. Pun manajemen waktu! 
Menulis berkaitan dengan disiplin jika memang ingin menjadikannya sebagai mata pencaharian. Kawan saya yang lajang itu sebenarnya sangat potensial, namun ia butuh dukungan nonstop agar tetap sabar dan gigih berjuang. Saya menyadari peran lingkungan terdekat sangat menunjang agar pejuang teks tersebut tidak patah arang total dengan menggantungkan “pedang”.
Kemampuan dan kemauan untuk update diri dengan mengikuti perkembangan kekinian, mutlak penting. Kita tentu tidak mau dianggap sudah kedaluwarsa. Pun upgrade, jika tak ingin alami titik stagnan jangan bosan atau malas belajar, menambah kapasitas memori penyimpanan agar jiwa semakin kaya dengan pengalaman. Kelak cadangan itu bisa kita tuangkan sebagai bekal kepenulisan untuk dibagi pada banyak orang,  mudah-mudahan pula bisa menginspirasi dan memotivasi. Berdayagunalah hidup kita yang fana.***
Limbangan, Garut, 19 Oktober 2013

Sabtu, 15 Februari 2014

Sebab Tubuh adalah Kompleksitas



Tuesday, June 28, 2005

“Sebab tubuh adalah kompleksitas.”
Esay Rohyati Sofjan

03 Desember 2004 - 05:41 AM -------------------------------------------------------------------------------

Kalimat di atas merupakan kutipan prolog dari surel (surat elektronik) untuk seorang kawan sesama peminat sastra kelahiran Riau yang kini bermukim di Batam; kala saya dipancing terus untuk membahas seksualitas dalam karya sastra sampai kehidupan.

16 halaman, arial, 10 pint, 1,5 spasi berbentuk semi-esai dengan subject V untuk beberapa tajuk Virgin, Vagina, Vulgar, dan Voila!; ternyata telah "mengaparkannya". Adu debat yang panas mengenai wilayah selangkangan tampaknya merupakan topik aktual sepanjang masa untuk memikat siapa saja.


Lalu topik tersebut diangkat Aguk Irawan Mn. lagi dengan "Sastra Seksual dan Pembusukan Budaya"(Republika, 10 Oktober 2004). Sebuah pandangan yang terasa male bias dan penuh prasangka ketika menyorot seksualitas yang diusung perempuan penulis di Indonesia.

"Menghasilkan karya sastra seks liar, berarti menyaksikan diri kita bermain di dalamnya. Inilah teori kebudayaan. Sebab sastra merupakan tanggapan evaluatif terhadap kehidupan; sebagai semacam cermin yang memantulkan kehidupan kita sehari-hari. Dan seks adalah bagian yang sangat indah dari manusia karena menyangkut penyatuan jiwa."

Demikianlah paragraf ketiga menyiratkan paparan Aguk yang cenderung idealis dalam menilai seks sementara realitas sekitar menyuratkan hal yang terkadang bertolak belakang akan posisi seks secara ideal. Tak ada yang salah dari idealisasi seks ala Aguk, masalahnya setiap orang lahir dan dibentuk oleh persepsi yang mereka lakoni sepanjang usianya sehingga idealisme tersebut boleh jadi bertabrakan dengan paradigma seks yang jungkir balik.


Jika Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, sampai Dinar Rahayu (yang ayu-ayu) berikut sederet nama perempuan penulis lainnya (yang ayu maupun tidak) mengusung seksualitas dalam karyanya, boleh jadi merupakan cermin kehidupan mereka dalam memandang dunia yang jungkir baik tatanannya.

Lantas mengapa mereka pada umumnya memulai dengan wacana tubuh? Bagi Melani Budianta dalam wawancaranya dengan Jurnal Perempuan (No.30. 2003), berpendapat: "Karena tubuh bagian yang paling dekat denganperempuan. Dalam wacana-wacana lama, fungsi seksualitas perempuan dekat dengan melahirkan anak atau mereproduksi dan kemudian hidupnya diabadikan untuk membesarkan anak. Jadi perempuan cenderung tidak memiliki hak atas dirinya sendiri. Gerakan perempuan sudah menunjukkan bahwa semua orang berhak atas tubuhnya. Perempuan juga berhak atas kesehatan dan kenikmatan tubuhnya sendiri. Mungkin ini menjadi baru ketika biasanya begitu sopan santun terjaga, sehingga sedikit mengejutkan, barangkali. Tapi buat negara-negara tertentu hal ini sudah lama terjadi."

Demikianlah Melani Budianta berusaha objektif menilai dalam sudut pandangnya selaku kritikus sastra perempuan dan staf pengajar FIB UI. Sayangnya objektivitas tersebut tidak saya peroleh dari tulisan Aguk yang menyandingkan betapa kecilnya posisi perempuan penulis (seksualitas) di Indonesia dibanding nama-nama besar semacam Dante, Shakespeare, Cervantes, Goethe, Schiller, Balzac, Dostoyevski, Tolstoi, Neruda, Allende, Marquez, Coelho, Iqbal, Mutanabi, sampai Gibran dan sebagainya (yang barangkali nama lelaki pula).


Mengapa Aguk tidak menyandingkannya dengan nama perempuan penulis yang telah mendunia pula? Apakah keberadaan mereka memang dianggap in absentia untuk dilawanpadankan dengan perempuan penulis Indonesia yang "bukan apa-apa"?

Bagaimana dengan Simone de Beauvoir, tokoh eksistensialis dan feminis Prancis yang dalam trilogi novel Perempuan yang Dihancurkan (Bentang, 2003) takmengupas seksualitas secara vulgar melainkan tajam dan personal namun sangat menikam karena berkaitan dengan psikologi jiwa perempuan yangterperangkap dalam tubuhnya?

Atau Amy Tan dalam novel The Kitchen God’s Wife (Gramedia, 1994), memaparkan penderitaan Jiang Weili kala bersuamikan seorang lelaki tipikal "Dewa Dapur" yang buruk perangai. Di sana adegan seks bagi Amy cukuplah sebagai seks, bukan sesuatu yang harus “diperbuas” demi erotisme. Sebab Amy lebih fokus pada perjalanan hidup seorang perempuan yang melakoni kehidupan di Shanghai pada tahun 1920-an, lalu terjebak dalam Perang Dunia ke II sampai terdampar di Amerika, dan memiliki kehidupan sebagai ibu yang bermasalah dengan anak perempuannya.

Namun tentunya ini merupakan semacam perkecualian, sebab di negara lain, seks pun bisa saja dipaparkan secara erotis sesuai selera pengarangnya. Baik lelaki maupun perempuan. Dan hal itu dianggap wajar atau malah bagian dari “keindahan”.

Ambil contoh, Albert Wendt dengan Codot di Pohon Kebebasan (YOI, 1995), sastrawan Samoa itu begitu enteng dan penuh prasangka dalam memandang seksualitas perempuan dengan cara penulisan yang male bias -- dan erotis meski parodis.

Lain lagi dengan Lina Espina Moore, dalam cerpen “Lelaki di Simpang Jalan” (antologi cerpen Lelaki di Simpang Jalan, YOI, 1988). Perempuan cerpenis Filipina ini terasa berani mendeskripsikan rincian perselingkuhan antara Dok Bahay dengan sekretarisnya dalam repetisi kalimat yang tak terbayangkan.
Di sana seks bermain dalam wilayah imajiner masing-masing penulis untuk turut diimajinasikan pembacanya pula dengan interpretasi makna yang berbeda.

Persoalannya, kembali pada seksualitas perempuan penulis di Indonesia yang menurut Aguk karya mereka menjurus rendah nilai estetikanya, jumud, elitis dan eksklusif; apakah semudah itu menggeneralisasi karya demikian? Bagaimana dengan pencarian bentuk tak bertepi yang barangkali sedang mereka lakukan? Bisa saja mereka terjebak dalam nilai komersial sehingga asyik bermain dalam wilayah selangkangan karena tuntutan “pasar”.

Pertanyaannya, bagaimana “pasar” itu bisa terbentuk? Apakah sengaja dibentuk sesuai pesanan atau keinginan masyarakat sendiri? Atau malah produsen (baca: penerbit) yang mendesakkan ideologi macam itu pada perempuan penulis untuk dilempar ke masyarakat luas? Atau memang merupakan kesadaran total perempuan penulis sendiri untuk bebas berekspresi dengan mengusung seksualitas dalam karya sastra? Toh, hal itu cukup laris pula.

Ada yang membingungkan mengapa Aguk mesti membandingkan fase kesusastraan saat ini dengan penulisan sastra masa jahiliyah yang ribuan tahun lalu usianya, sebab saya mengalami kesulitan untuk melakukan perbandingan karena tak berkompeten dalam bidang itu. Lalu mengapa pula nama Taha Husain kembali diungkit-ungkit? Bukankah di masanya Taha sendiri sempat dikecam oleh sebagian kalangan yang ingin memurnikan ajaran agama Islam karena ide-idenya dianggap liberal dan menyimpang dengan buku Fish Shirul Jahili (1926).

“Taha Husain yang pernah menjadi Menteri Pendidikan ini melakukan upaya sadar untuk menebar tanah Mesir dengan benih-benih budaya dan pendidikan Eropa. Imbauannya untuk membangunkan kembali budaya Firauni atau Yunani di Mesir dengan mengorbankan budaya Islam, mengguncangkan kaum fundamentalis. Kontradiksi Taha Husain cukup jelas. Budaya-budaya Firauni atau Yunani kuno tidakklah sama dengan budaya Eropa modern. Ia bekerja saam dengan rekannya Muhammad Husain Haikal untuk membangkitkan kembali budaya-budaya Firauni, Babilonia dan Assiria di Mesir. Karena semangat Firauni merupakan bagian dari Jiwa Mesir dan tidak dapat dihapuskan dari diri dan identitasnya, maka semangat ini harus dilestarikan dengan prioritas pertama adalah orang-orang Mesir kemudian yang lainnya. Klaim Taha Husain mencapai puncaknya ketika ia menyatakan bahwa Islam gagal untuk mengislamkan diri Mesir.” (Syed Habibul Haq Nadvi, Dinamika Islam, Risalah, 1984: 152)

Saya ingin menyandingkan pernyataan di atas tersebut dengan pernyataan Aguk di paragraf terakhir yang patut direnungkan:

“Dengan demikian, maka jangan berharap seksualitas fiksi perempuan memiliki peluang untuk hadir sebagai karya sastra besar (magnum ovus) yang tak lekang dimakan zaman. Tren ini hanyalah sastra populer yang menggebrak jagat sastra kita yang sejenak memang membeku. Maka untuk apa diapresiasi lebih lanjut lagi? Apalagi untuk dibanggakan.”

Begitu kritis Aguk mempertanyakan, seolah-olah penulisan seksualitas lebih membahayakan daripada ranah pemikiran politik. Padahal seksualitas sendiri tidak sesederhana itu. Ada kompleksitas yang menyertainya, namun kompleksitas itu pun penuh jebakan. Baik bagi perempuan penulisnya sendiri sampai pembaca.


Dalam wawancaranya dengan majalah Syir’ah No. 31 (Juni, 2004), Abidah El Khalieqy berujar, “Di semua ilmu pengetahuan: filsafat, sosiologi, dan lain sebagainya, kita akan menemukan perempuan diposisikan tidak pada posisi yang sebenarnya.” Begitulah Abidah berusaha menggugat agama lewat sastra.

Dalam Analisis Gender dan Transformasi Sosial (Pustaka Pelajar, 2003), Mansour Fakih menulis: Dewasa ini agama mendapat ujian baru karena agama sering dianggap biang masalah, bahkan dijadikan kambing hitam atas terjadinya ketidakadilan gender. …Sejauh manakah pandangan tersebut dipengaruhi oleh atau memengaruhi kultur yang dikenal dengan patriarki? Lebih lanjut, apakah pelanggengan ketidakadilan gender secara luas dalam agama bersumber dari watak agama itu sendiri ataukah justru dari pemahaman, penafsiran, dan pemikiran keagamaan yang tidak mustahil dipengaruhi oleh tradisi dan kultur patriarki, ideologi kapitalisme maupun pandangan-pandangan lainnya? (Hlm. 128)


Jadi, dalam dunia yang bobrok, seks pun penuh interpretasi makna.***

Biodata Penulis

Rohyati Sofjan lahir di Bandung, 3 November 1975. Anggota milis guyubbahasa, mnemonic, penulislepas, bengkel-cerpen-nida, dan kunci-l. Sebagian karya proses kreatifnya yang berupa puisi, cerpen dan esai bertebaran di Pikiran Rakyat, Galamedia, Annida, buletin Jendela Newsletter, antologi puisi bersama Bandung dalam Puisi, Republika, Cybersastra, PETA NEWS, Syir’ah, Jawa Pos, dan beberapa pemikiran subjektif yang mempribadi tentang sastra dan hal ikhwal kehidupan dalam surel-surel panjang secara berantai ala milis yang ia kirim untuk beberapa kawan penulis dan peminat sastra. Masih bekerja di toko elektro. Alamat korespondensi: gurun_vanbandung@yahoo.com.


Bandung, 15 Oktober 2004, dini hari 01.35 WIB

Jumat, 10 Januari 2014

Hidup Terbakar Kutuk



Wacana

 
Hidup Terbakar Kutuk
Oleh Rohyati Sofjan

Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar  dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah. (An Nahl: 58) 

Saya menemukannya di gerai toko buku diskon Ultimus Jalan Jakarta, Bandung. Tempat menginap saya (ditemani Wida Waridah/Widzar Al Ghifary), sehabis menjadi narasumber di Kampus Unpas Jalan Setiabudhi, Bandung, 4 Maret 2009, atas undangan Bu Senny Susan Alwasilah dosen Unpas, dan Pak Tendy K. Somantri pewarta senior H.U. Pikiran Rakyat yang mengajar di sana dan merupakan sahabat terbaik; untuk mengisi mata kuliah imajinative writing, penulisan imajinatif dan berbagi pengalaman proses kreatif dalam menulis.
Demikianlah, dalam keadaan hamil muda (7 mingguan), saya beroleh pengalaman baru: mengoptimalkan keterbatasan sebagai tunarungu agar berdaya guna dengan memotivasi anak-anak yang jumlahnya sekira 35-an. Meski itu bukan undangan pertama, sebelumnya pernah diundang Pak Tendy untuk jadi narasumber di Klub Kepenulisan HARDIM Bandung pada 4 September 2004.
Berbicara dan menuturkan pengalaman proses kreatif ibarat bumi dengan langit dibanding berbicara mengenai kekejaman hukum patriarkal kaum lelaki seperti yang dituturkan Souad dalam Burned Alive (Alvabet, 2006). Buku itu pernah saya baca resensinya beberapa tahun lalu, tetapi berhubung tinggal di sudut kampung suatu kecamatan kecil, saya kesulitan mengakses bacaan baru sebab tidak ada toko buku.
Souad betul-betul mengajak saya, sebagai pembaca subjektif, untuk menjelajahi pengalaman hidupnya sebagai perempuan yang tak lebih berharga dibanding binatang, sesuatu yang bahkan tak pernah terbayangkan oleh saya sebagai perempuan yang dibesarkan dalam kebebasan dan kesetaraan.
Beberapa waktu lalu saya risau menonton berita di televisi tentang kian maraknya praktik aborsi. Pedih sebagai calon ibu begitu mengetahui bahwa klinik itu telah memendam ribuan janin tak dikehendaki, seolah tak ada hak bagi janin itu untuk mengenal kehidupan selain dimatikan. Janin salah karena tak diinginkan, dan Souad salah karena ditakdirkan terlahir sebagai perempuan: sama-sama kutukan!
Dalam Al Quran, terdapat beberapa ayat (ada banyak!) yang melarang bahkan mencela praktik keji berupa membunuh anak-anak perempuan dan membiarkan yang lelaki hidup. Itu adat istiadat jahiliyah Arab sebelum Islam masuk. Dan memoar Souad menghenyakkan saya, betapa praktik keji pra-Islam itu masih berlangsung bahkan dalam keluarga yang konon muslim di berbagai belahan dunia, tetapi yang ini di Tepi Barat Palestina, Tanah yang diberkati dan sedang diamuk perang tak berkesudahan sampai sekarang.
   Di negeri itu, tutur Souad, jika seorang perempuan melahirkan bayi laki-laki dan bayi itu hidup, maka itu berarti kemuliaan besar bagi si ibu dan seluruh keluarga. Jika anak laki-laki meninggal, semua orang akan meratapinya dan itu dianggap sebagai kemalangan keluarga. Laki-laki sangat diperhitungkan, tetapi tidak perempuan.
Maka, sebagai perempuan, ia hidup dalam hukum yang menistakan harkat dan martabatnya. Menjadi budak kaum lelaki, dipaksa bekerja keras sampai dipukuli dengan keji jika dianggap telah melakukan kesalahan. Dan semua perlakuan buruk itu ironisnya dianggap sudah merupakan kewajaran karena terindoktrinasi adat istiadat jahiliyah Arab yang kuat mengakar. Maka, akses pendidikan pun sengaja ditiadakan bagi kaum perempuan; agar mereka tetap berkubang dalam kebodohan, agar tetap menjadi budak lelaki paling abadi. Hanya segelintir kecil yang beruntung beroleh pendidikan. Itu pun diiringi olok-olok kaum perempuan lain yang bebal: bahwa anak gadis yang bersekolah akan sulit dapat jodoh.
Bagi kaum perempuan sana, perkawinan adalah jalan keluar agar beroleh “kebebasan dan derajat”, meski itu berarti dipukuli dan dinistakan suami, tak ada bedanya dengan di rumah sendiri.
Ayah, abang, paman, sampai suami adalah pembuat hukum yang harus ditaati. Maka pembunuhan atas nama kehormatan keluarga pun dianggap sebagai kewajaran, bahkan kewajiban! Jika seorang perempuan di sebuah keluarga telah melakukan atau dianggap melakukan perbuatan charmuta (pelacur) maka, pihak lelaki dalam keluarga itu wajib membunuhnya, dengan cara setimpal. Seperti seorang ibu yang dianggap telah berzina hanya berdasarkan dugaan dan desas-desus antar kaum perempuan sana sehingga saudara-saudara lelakinya memenggal kepala ibu malang itu dan memamerkannya pada seluruh penduduk desa, sedang suaminya menyambut dengan gembira. Padahal belum tentu istrinya bersalah, namun nyawa harus melayang demi alasan fitnah sampai kepicikan kaum lelaki sana. Jika tidak, sendi-sendi kekuasaan kaum lelaki akan guncang!
Dan Souad, dengan kebodohannya menjadi korban pembakaran yang dilakukan oleh abang iparnya karena telah hamil akibat perzinaan. Sesuatu yang tak diinginkan, tetapi ia menyerah karena menginginkan perkawinan dan menyerahkan keperawanannya pada seorang lelaki yang pernah melamarnya namun ditolak ayah Souad yang kejam dan tak pedulian pada kaum perempuan dengan alasan Kainat, kakak perempuan, belum dinikahkan karena tak kunjung jua dilamar.
Akan halnya lelaki itu, Faiez, yang masih bertetangga begitu diberi tahu Souad bahwa ia hamil, malah bertindak pengecut: kabur tanpa jejak!
Maka, demi kehormatan keluarga agar tak dikucilkan penduduk desa dan diusir mereka, si pembuat aib diputuskan oleh ayah-ibunya untuk dibunuh dengan cara dibakar abang ipar. Akan tetapi, pembunuhan itu tak berlangsung mulus. Souad selamat meski harus sekarat.
Bisakah dibayangkan, seorang gadis muda dalam keadaan hamil dibakar layaknya obor? Dan gadis itu harus mati agar pihak keluarga terbebas dari aib. Ajaibnya, Souad seolah ditakdirkan untuk tetap hidup, tinggal di negeri baru atas bantuan Jacqueline sang pekerja sosial asal Eropa yang telah menyelamatkan dan menolongnya agar memiliki kehidupan kedua di negeri baru. Menikah, meski penuh liku karena harus meninggalkan bayinya untuk diadopsi keluarga lain, memiliki pekerjaan yang baik, membesarkan anak-anaknya, dan menjadi pembeber kekejian yang pernah dialaminya. Dan segala kepedihannya tak cuma dipaparkan lewat wawancara atau konvensi, tetapi dibukukan agar menjadi saksi abadi. Meski untuk itu harus mengupas nyeri jiwaninya,  mega dukkha terdalam: menguak ingatan kolektif yang telah coba dipendam; ingatan acak campur-balau yang hilang timbul.
Dibutuhkan simpati dan empati dari sesama perempuan, bahkan dari lelaki, agar korban bisa bangkit dan membangun kehidupan baru. Tidak banyak yang seberuntung Souad, kebanyakan mereka tetap tertindas dan berkubang dalam ketiadaan pilihan, menjadi korban dari kebrutalan pemeran. Apakah tradisi macam itu memang dilegalkan agama, bahkan dalam Islam? Atau si pembuat tradisi sendiri sangat tidak memahami agama dan memutarbalikkannya sesuai selera demi kepentingan kelompok (kaum lelaki). Bahkan di belahan bumi Indonesia pun hal tersebut kerap dijumpai, terselubung atau terang-terangan. Lalu bagaimanakah perempuan memosisikan dirinya di antara ketertindasan?***