Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Februari 2014

Akva, Ketika Hidup Sama dengan Pusaran Ketakterdugaan



Akva, Ketika Hidup Sama dengan

Pusaran Ketakterdugaan


Mungkin telah kuputuskan pada hari di mana engkau
tak ingin aku lagi untuk berbagi sebagai kawan
Maka kita sepakat menjelma rival
Mengembuskan puisi sebagai angin
bagi hidup kita yang badai
Meski terkadang kita jalani hari-hari panjang
yang stagnan dan tak bertujuan.
2001

Dan Kau pun Mengisi Jam Serigala



Dan Kau pun Mengisi Jam Serigala

:US


Dan apakah aku datang dari negeri mimpi
Ketika malam itu mata kita saling bersitatap
Namun sama-sama menyiratkan keasingan
Agar punya alasan untuk memalingkan kenyataan.

Dan belum cukupkah belati yang kau hunjam
ke dalam rahim lukaku, sebab darah itu
telah kusuling sebagai anggur bagi dukkha
yang memabukkan jiwa.

Dan gilanya mengapa kehilangan yang mengasam
menjelma kerinduan yang mengobsesi
Bahwa terkadang aku ingin mengenalmu
tidak sebagai bayangan yang dibentuk ceruk
masa silam; kala kau kupilih sebagai bagian
dari takdir yang berakhir dengan
kalkulasi pertanyaan.
Bandung, 21 Oktober 2002. 03.43 WIB

Dukkha



Dukkha

:US


Sesuatu yang pahit telah kau sodorkan sebagai
perjamuan, bagi hidup kita di bumi yang kuyup
oleh luka dan suka cita. Dan ketika kepahitan itu telah
kureguk tanpa sulang pembuka, adakah matamu
mengerjap saja, lantas meninggalkan perjamuan itu
Karena telah kau dapatkan apa yang ingin kau
ledakkan, di saat kau tidak tahu siapa dan bagaimana
sasarannya, atau telah kau yakinkan bahwa akulah
sasaran seharusnya?

Kini setelah kutelan kepahitan itu, mestikah aku
menyimpannya dalam lambung jiwaku, sebagai
empedu bagi tiap tarianku yang melimbung
Namun akan kucoba agar luka yang kau tawarkan
bagi jiwaku dapat kutawarkan bisanya.
Bandung, 30 Agustus 2002

21.25 WIB



21.25 WIB


Matikan saja televisi, dan lanjutkan membaca koran
atau menulis puisi – meski yang ini berakhir
dengan rasa frustrasi. Di luar malam masih menyabit
kota di antara kegelapan yang tak kau pahami.

Siapa yang kau rindukan di luar sana? Seseorang
atau kenangan yang enggan melepas jangkar
Di laut imajinasimu yang tak berbatas;
juga kontemplasi dalam diri
Lantas kerinduan itu diam-diam mengaramkan
sosok-sosok yang bergerak di sekitarmu
Sampai kau lupa siapa dirimu di antara siapa mereka.

Lelaki dan kenangan adalah jiwa bagi perempuan,
biar ia menyadari apa arti kesepian.
Bandung, 9 Oktober 2002

26 Tahun



26 Tahun


Pada akhirnya aku harus cemas akan musim
dari kalender di dinding. Ketika usia merenggut
masa remaja, dan kusaksikan sosok dalam cermin
tak bisa menyangkal apalagi berpura-pura
Keanggunan dan kedewasaan adalah harga
yang telah kutebus sepanjang masa
Ketika waktu tersenyum dan mengajak bercengkerama
Adakah aku kuasa menolaknya, sebab hidup
begitu menggoda dan aku lupa saat di mana saja
aku berada.

Ah, aku masih terjebak dalam kamar pengap
Memimpikan sayap seperti malaikat
Yang akan menerbangkanku ke dimensi tak beruang
dan tak berwaktu, agar aku tak perlu cemas
akan kerut atau uban atau kematian
-- atau perkawinan yang sayup-sayup.
Bandung, 12 Desember 2001

Jumat, 31 Januari 2014

Khudi

   

Khudi


Kau apa aku api
Kubakar kau nanti!

Kau ada aku tiada
Tak usah mencari!

Kau menyublim aku menguap
Kutinggal kau ke ruang hampa
Menjelajahi jagat antigravitasi!

Kau nyata aku maya
Kau bisa diraba aku aura
kau siapa aku jiwa
Kuajak kau melintas dinding rohani!

Bandung, 14 Juli 1999