Selasa, 23 Januari 2018

Pasar Limbangan




TERPANA kala tiba di halaman Terminal Limbangan. Ke manakah gerangan pasar? Bangunan telah kehilangan atap. Ada cemas meruyak. Saya, anak, dan suami seperti musafir tersesat menyaksikan pemandangan tak terbayangkan. Pasar kehilangan wujud, hanya rangka bangunan yang tersisa. Akan dibongkar? Karena apa? Lalu ke mana semua penghuninya?

Masih Juga “Menyuci”





PENGGUNAAN kata yang tidak tepat atau salah akan mengaburkan makna sebenarnya. Seperti contoh status yang ada dalam ruang status Facebook seorang kawan, sesama ibu rumah tangga dan bergiat di komunitas menulis, “Sembari menyuci di halaman belakang rumah,  saya suka duduk-duduk di sini. Di bawah pohon salam, berlatar belakang pohon pisang, dan tanaman bumbu lainnya. Melamun, mencari inspirasi, atau sekadar melepas lelah, selepas berkebun yang dilakukan di sela-sela aktivitas menyuci pakaian.”

Enigma




Tanah harapan,  seusai Zuhur menanti Asar. Jumat, 11 November 2005. Seorang perempuan duduk di kebun sendirian dalam naungan pohon-pohon pisang, dengan hamparan tikar koran dan makanan sisa lebaran. Ia menganggapnya semacam piknik yang unik.
KAMU akan mengatakan aku pecundang? Aku berpikir mestinya sejak Mei lalu  memutuskan pindah ke sini, sekeluar dari toko peralatan listrik dan komponen elektronik yang selama tiga tahun kulakoni sebagai buruh kecil. Namun sesuatu yang bernama optimisme bodoh menahanku untuk tetap tinggal di kota kita, Bandung. Dan pada akhirnya aku harus terpuruk di kota ini, Limbangan Garut. Tempat yang statis dan tak cocok bagi jiwa dinamis pencinta mobilitas.

Juring

Oleh Rohyati Sofjan


DALAM matematika  juring adalah luas daerah dalam lingkaran yang dibatasi oleh dua buah jari-jari lingkaran dan sebuah busur yang diapit oleh kedua jari-jari lingkaran tersebut. Seperti busur dan tembereng, juring juga dibagi menjadi 2, yaitu juring kecil dan juring besar. Pada umumnya, istilah dalam buku hanya juring saja. Ini berarti yang dimaksud adalah juring kecil. (https://dunia-matematika.blogspot.com/2010/03/pengertian-dan-unsur-unsur-lingkaran.html)
KBBI menyederhanakan menjadi [nomina/kata benda] ulas; pangsa. Ulas adalah bagian buah-buahan (jeruk, durian, dsb) yang berbentuk ruang atau petak-petak (mudah dilepas atau dibuka dari bulatan buahnya).

Cerita Renyah yang Bernas



Cerita renyah adalah cerita ringan yang mudah dicerna pembaca, dan disampaikan dalam pilihan bahasa yang segar pula. Dengan demikian pembaca mudah memahami isi cerita tanpa perlu berkerut-kening memikirkannya. Tinggal dinikmati secara mengalir sesuai dengan jalan cerita yang bergulir.

Oleh Rohyati Sofjan

DATA BUKU         : Bukan Pangeran Kodok
PENULIS            : Shabrina Ws, Riawani Elyta, Sari Yulianti, dkk.
PENERBIT           : Sheila (Imprint Penerbit ANDI)
CETAKAN             : I, 2013
TEBAL                    : vi + 226 Halaman
ISBN                        : 978-979-29-2136-6
HARGA                   : Hadiah Kuis Buku di Facebook
BUKAN PANGERAN KODOK masuk ranah cerita yang dipaparkan di atas. Renyah namun memiliki kelebihan karena disampaikan secara bernas pula. Be a Writer (BAW) benar-benar serius menggarap isi sehingga dari kurasi Shabrina Ws terpilihlah 15 cerpen kategori teenlit yang menghibur sekaligus mendidik dari anggota group kepenulisan asuhan Leyla Hana tersebut.
Mereka benar-benar paham bagaimana menulis cerita, memperlakukan bahasa, dan membuat tegangan aneka twist ending yang beragam. Balutan Islami menyertai kumcer yang ditujukan untuk remaja. Ada nuansa riang khas dunia remaja, sekaligus muram karena mereka melakoni hal yang tidak sama di Nusantara ini.
15 cerpenis yang terpilih berikut karyanya benar-benar pilihan yang disaring secara ketat, dan memiliki jam terbang cukup tinggi sehingga pembaca akan benar-benar diajak melanglangi dunia imajinasi mereka seakan nyata. Tanpa melupakan nilai-nilai kehidupan pula.
“Jejaring Romansa” karya Keenan Naura memaparkan adonan dunia remaja, pacaran, antipacaran karena berupaya mengusung nilai Islami, sampai hacker yang membajak akun jejaring sosial tokoh utama sebagai upaya balas dendam salah tempat.
Keenan tahu bagaimana menyusun dialog khas remaja yang segar namun ia membingkainya dalam narasi yang berbobot sehingga pengadegannya menyadarkan kita akan nuansa twist. Ada kejutan yang manis di akhir cerita.
Namun kejutan di akhir cerita tak selalu manis, Nila Kaltia membuat twist ending yang tragis. Tokoh akuan, sang stalker yang membayang tokoh diaan ternyata virus maut HIV yang telah menginfeksi Celeste, remaja Papua 17 tahun yang menjadi korban perkosaan dari penyebar virus HIV. Gadis bermasa depan cemerlang itu seakan harus menyongsong kesuraman hidupnya sendirian sebagai ”Cenderawasih Patah Sayap”, namun  ia berupaya tetap tegar.
Nila meramu cerita dengan balutan bahasa yang indah berikut lokalitas budaya Papua. Mitos mengenai Raja Ampat bukan sekadar pelengkap melainkan penguat.
Konon, dahulu kala, hiduplah seorang wanita yang menemukan tujuh butir telur. Empat butir di antaranya menetas menjadi empat orang pangeran yang kemudian berpisah dan memerintah sebagai raja di empat tempat yang berbeda: Waigeo, Salawati, Misool Timur, dan Misool Barat. Itulah konon daerah tersebut dinamakan Raja Ampat. Tiga telur yang lain menjelma seorang putri, sebuah batu, dan hantu.
Rupa hantu ditafsirkan Nila sebagai penyakit masa kini yang senantiasa mengintai: virus HIV yang akan bermetamorfosis sebagai AIDS!
Remaja pun bisa mengalami peristiwa konyol karena mereka labil dalam menafsirkan perasaan dan hubungan berbeda jenis kelamin. Dilambungkan asa karena kebaikan seseorang yang dikagumi, dan semua tak lebih dari “Cinta Salah Tempat”.
Linda Satibi menggambarkan dunia Fe yang riang harus jungkir-balik akibat cinta bertepuk sebelah tangan alias cinta sepihak. Optimismenya bahwa ia akan bisa menggebet sang gebetan mendadak blaaar buyar karena subjek cinta sepihaknya akan menikahi perempuan lain.
Klise? Tidak juga. Itu memang kisah klise yang bisa dialami siapa saja, termasuk saya juga kala remaja, kok, hehe. Yang terpenting, Linda sebagai pencerita mengemas ceritanya dengan renyah namun tak klise. Ada twist Chekov’s gun yang ditembakkan pada saat tak terduga, namun tokoh utama tak terus menggalau. Melampiaskan patah hatinya pada hal positif. Apa itu? Baca saja kumcer Bukan Pangeran Kodok agar tahu bagaimana beragamnya pilihan hidup yang gadis remaja masa sekarang ambil.
Namun Bukan Pangeran Kodok tidak melulu mengajak pembaca melihat dunia remaja dalam satu kacamata, ada banyak ragam kehidupan lain yang dialami remaja. Termasuk salah pilih jalan sehingga nyawa direnggut anorexia nervosa, Riawani Elyta memaparkan tragedi itu dalam “Dia yang Kembali Tersenyum”, sebagai pengingat bagi remaja agar tak dibutakan cinta dan tampilan luar semata sehingga menzalimi tubuh dan jiwa.
Ada banyak remaja yang tidak tahu mengenai bahayanya cara hidup demikian, ambisi mereka mengalahkan rasionalitas. Pengarang tak berpretensi mengubah manusia dengan cara menggurui, tugas pengarang cuma memaparkan cerita yang menggugah relung kesadaran manusia.
Permasalahan utama remaja memang kebanyakan soal cinta, dan rata-rata penulis kumcer ini mengemas tema cinta dengan beragam lakuan. Arul Chandrana memaparkan tumpah-ruahnya kemarahan seorang remaja cowok karena sahabat cewek pacaran dengan cowok lain (“Kita dan Rasa yang Diam-diam”). Lucu sekali cara Arul menarasikannya, berikut twist tak terduga.
Twist ending adalah senjata utama pengarang agar pembaca penasaran sekaligus tak bosan. Elemen kejutan penunjang psikologi cerita untuk menggiring pembaca menyelesaikan bacaannya. Itu dilakukan Vita Sophia Dhini dengan tokoh Abe yang bisa karate dalam mengharap cinta tak mesti terwujud sekarang (“Just Friend”). Binta Almamba mengharuskan “Bukan Arjuna” pergi demi menggapai cita yang lebih baik, meninggalkan seorang gadis angkuh menyesali diri. “Lima Ratus Kilometer” rela ditempuh seorang gadis demi menemui pacar mayanya, dan ternyata, lagi-lagi Chekov’s gun dimainkan Dhewi Bayu Larasati. Sebaliknya Sari Yulianti bermain dengan twist jenis discovery dalam “Little Heartbeat for Little Friend”. Telanjur GR yang berbuah penyesalan karena rambut harus jadi korban.
Teenlit adalah bacaan yang dikhususkan untuk remaja belasan tahun, dan sifat menghibur sekaligus mendidik bisa menuntun remaja untuk mengenal ada banyak ragam kehidupan di luar sana. Membantu remaja untuk menemukan arah dalam pengenalan jati dirinya, sekaligus tak salah langkah.
Terlalu banyak gadis remaja yang alami hamil di luar nikah akibat kebablasan dalam pacaran. “Metamorfosis Cinta” menokohkan pelaku tersebut layak mendapat empati ketimbang hujatan. Nda Syahdu memaparkan itu dengan muram.
Karena itu, banyak ayah yang bertipe over protected terhadap anak gadisnya dengan pertimbangan lebih baik mencegah daripada telanjur berbuat salah. Santi Artanti dalam “Kutunggu Kau di Sini” menjelaskan mengapa Pak Rustam ayah aku-tokoh berprinsip demikian.
“Memiliki anak perempuan itu bagaikan memegang telur di ujung tanduk. Kalau terlalu kuat dipegang, ia bisa tertusuk tanduk. Kalau dilepaskan, ia bisa jatuh, pyaaar… pecah!”
Bagi seorang anak, figur ayah tetap pahlawan tak tergantikan meski telah tiada. Tragisme semacam itu dipaparkan Nyi Penengah Dewanti dalam “Tongkat Bambu Kuning Ayah” dengan getir. Seorang ayah yang ditinggal kabur istrinya tetap bekerja keras demi tiga orang anak-anaknya. Dan anak-anak tetap mencintai kenangan akan ayah, menolak serumah dengan ibu mereka yang mendadak datang dari kota membawa segala kemewahan asing.
Orangtua adalah penopang utama hidup anak, bukan sekadar aksentuasi semata. Bukan Pangeran Kodok selalu menyertakan figur orangtua dalam ceritanya. Entah tunggal atau utuh. Sebagai pengingat bagaimana pentingnya peran orangtua dalam hidup remaja pula. Karena pentingnya, seorang gadis remaja dengan akalnya berupaya membantu ayahnya untuk menemukan siapa pencuri cabai di ladang mereka.
Syila Fatar dengan “Gadis Simpul” secara orisinal bertutur bahwa ikut kepanduan (Pramuka) ternyata banyak gunanya. Selain beroleh pengalaman juga keahlian yang kelak bisa membantunya untuk menangkap maling. Namun, karena teenlit, ada juga romansanya yang dirasa pahit setelah sang maling terungkap.
Potensi diri sebagai gadis remaja harus terus diasah dengan beragam cara. Ade Anita dengan “My Name is Dewi” berupaya mengasah pembaca untuk percaya diri dalam menggali potensi. Meski dalam melakukan hal sederhana yang dianggap mudah -- yang tak semudah perkiraan. Moto Ade layak diterapkan: Never give up. We have choose our dream until it becomes reality.
Ada yang suka dongeng? “Bukan Pangeran Kodok” bukanlah dongeng mengenai sang pangeran yang diubahwujud jadi kodok oleh penyihir jahat entah mana. Shabrina Ws cuma terinspirasi oleh kodok yang masuk ke dapur lantas gila-gilaan mengimajinasikannya secara rada absurd dengan tokoh rekaannya.
Bagaimana seekor kodok yang kesasar bisa mengubah seorang gadis perisau karena tak punya pacar untuk lebih berprestasi dan cinta lingkungan. Jadi pencinta kodok, gitu.
Itu menjadi cerita penutup bagi kumcer Bukan Pangeran Kodok. Sebuah kumcer yang layak dikoleksi karena menyajikan cerita secara renyah sekaligus bernas. Kelebihan kumcer dalam bentuk antologi bersama adalah beragamnya kisahan dan gaya bertutur pengarang yang membawa cetakan dasar masing-masing.(*)
Cipeujeuh, 22 Januari 2018 





Kamis, 18 Januari 2018

Tiga Siklus Kehidupan




Setiap orang membawa garis nasib untuk melalui beragam siklus kehidupan dengan masing-masing penafsiran. Dan Dian Hartati menafsirkan takdir demikian sebagai bagian dari upacara kehidupan yang harus ia lakoni, lalu memuisikannya dalam antologi puisi Upacara Bakar Rambut.

Oleh Rohyati Sofjan


ADA tiga siklus kehidupan yang ia lakoni dalam usia jelang 30 tahun: kelahiran, pernikahan, dan kepergian. Maka 30 puisi berupaya merangkum semua yang telah ia alami agar rasa itu bisa mengabadi sebagai pondasi bagi langkah berikutnya.
Bukan sekadar mengumpulkan remah kenangan semata, puisi adalah cerminan refleksi diri dalam menyikapi kehidupan. Pun kelahiran atau kematian. Pertemuan dan perpisahan. Kebahagiaan dan cabikan luka.
Dian menulis dalam kata pengantarnya, “Puisi bagi saya merupakan media kebahagiaan diri, apa pun tema yang saya tulis, apa pun apresiasi yang hadir dari pembaca. Tiga puluh puisi dalam Upacara Bakar Rambut merupakan simbol waktu bagi saya yang memasuki usia berkepala tiga. Tiga tahap kehidupan yang pernah saya lalui: kelahiran, pernikahan, dan kepergian. Tiga waktu yang membawa saya ke ruang-ruang tunggu berikutnya.”
Tiga bagian dalam simbol waktu Dian terdiri dari: Rumah Tuna, Laki-laki Bermata Merah, dan Kelahiran Ketiga. Masing-masing 10 puisi. Meski Dian memuisikannnya dengan bahasa yang biasa tanpa bermain dengan rima atau metafora rumit, namun bukan berarti tiada makna.
Justru Dian kukuh pada kesederhanaannya dalam membahasakan puisi. Lebih terpaku pada saripati kehidupan daripada bermain majas atau gaya bahasa. Setiap penyair memang membawa cetakan diri dari alam bawah sadarnya.
Dian mengangkat keseharian dalam puisi, tentang apa yang ia rasa dan pikirkan, tentang diri sendiri, almarhum suaminya, orang lain, alam sekitar, balutan sejarah, aneka upacara, sampai aroma mistik yang kental.
Dalam “Tembang Sri Tanjung”, Dian mengangkat legenda dari cerita rakyat tentang asal mula Banyuwangi. Sesuatu yang panjang bisa diurai secara singkat dalam puisi.
Sri Tanjung sebagai perempuan berupaya keras mempertahankan kesucian dan kesetiaan diri kala ditinggal suaminya bertugas, selalu berbekal pisau untuk berjaga dari gangguan raja yang merupakan atasan suaminya. Segala bujuk rayu raja tidak mempan, sampai difitnahlah ia sehingga suaminya malah mengabaikan.
Aku merintih rindu/ bertanya/ wahai semesta, kapan suamiku dipulangkan/ kandungan semakin besar/ air mata terbatas jumlahnya/ semesta, lindungi suamiku dari segala keliaran/ di tanah ini/ hutan-hutan begitu menakutkan/ laut menggelorakan auman/ dan langit/ tempat yang tak mungkin kudatangi// kau dengar, sidopekso/ aku bersenandung/ melagukan waktu dengan penuh keriangan/ doa adalah nyanyianku/ pijakan paling rawan//
Kerinduan Putri Sri Tanjung begitu membuncah namun prasangka buruk dari suaminya akibat hasutan raja yang dengki telah membuatnya lantak dan terusir. sidopekso, aku mengandung anakmu/ berdoa untuk segala kebaikan/ lihatlah/ kau akan menyesal// bunga-bunga akan bertumbuhan di sepanjang sungai/ mengalir hingga ke laut/ aromanya akan membuatmu/ gila!//
Begitulah Dian, dari beberapa buku kumpulan puisi lainnya, sejarah atau babad selalu dipuisikan secara memikat. Seakan ia bicara bahwa tiga siklus kehidupan yang dipuisikan bukan hanya mengenai dirinya semata.
Meski telah terpisah jarak dan jasad dengan suami tercinta, Dian lebur dalam kesadaran tentang kehilangan, setiap waktu kau mengikuti/ menjagaku melalui bahasa cinta yang lain/ melebihi dahulu// (“Wangi Bunga yang Mengikuti”)
Atau bagaimana ia memandang bumbu masakan merupakan saripati bumbu kehidupan sendiri, tempat kita belajar perumpamaan. Sesuatu yang biasa ada dalam keseharian ternyata merupakan simbol untuk kita baca dan cermati. Dari bawang putih, bawang merah, ketumbar, kemiri, merica, kunyit, jahe, lengkuas, daun jeruk, serai, dan garam. (“Rasa Bumbu Kuning”)
Jika hidup serupa rangkaian upacara, maka Dian berusaha merangkai semua dalam Upacara Bakar Rambut.  Dalam puisi berjudul demikian, kita akan tahu ada tradisi upacara bakar rambut untuk memulai kehidupan baru.
Bandung adalah tempat kelahirannya, dan Banyuwangi adalah kota persinggahan yang sarat upacara bagi sejarah hidupnya. Untuk mengantarkan menuju kekinian, setelah alami prosesi kehilangan karena kepergian.***
Cipeujeuh, 4 Mei 2014

Berniaga Jujurlah



Oleh Rohyati Sofjan


APA yang paling merisaukan ibu rumah tangga yang suaminya berpenghasilan pas-pasan? Ketiadaan jaminan bahwa produk yang dibelinya aman. Misalnya minyak goreng curah yang lebih murah daripada minyak goreng kemasan.
Minyak semacam ini dari segi tampilan fisik sama sekali tidak menarik, mudah beku atau menggumpal dalam suhu ruang, kerap dipalsukan dengan cara dicampur solar atau oli bekas. Bahkan ada yang dicampur dengan minyak jelantah alias minyak goreng bekas pakai yang disaring dengan proses kimia. Minyak goreng oplosan itu sulit dibedakan bagi mata awam yang kurang waspada dan tidak menyadari bahaya atau halal-haramnya.
Tidak semua masyarakat paham akan “mutu” produk yang dibelinya. Pemberitahuan media sangat penting. Sungguh menyedihkan di tengah keterpurukan bangsa ini masih saja banyak oknum bermain kotor dalam perniagaan sampai perbuatan. Lalu untuk apa melimpahnya produksi sawit di Indonesia jika tak bisa dinikmati rakyatnya sendiri?
Dampak negatif dari permainan kotor segelintir oknum distributor sebenarnya bisa melemahkan sekaligus mencemarkan nama baik produsen minyak goreng curah dari kelapa sawit yang jujur dalam perniagaan. Pangsa pasar minyak goreng di Indonesia sangat besar. Merupakan kebutuhan utama bagi masyarakat.
Namun sekarang, seiring waktu, pelan namun pasti lalu melesat cepat bermunculan dan semakin kuatlah produsen minyak goreng kemasan, dari yang mahal sampai sedang (namun toh harga sedang-sedang saja ini dirasa cukup mahal bagi kantung masyarakat rata-rata berpenghasilan menengah ke bawah).
Sistem pasar Indonesia mau tak mau cenderung menumbuhkan konglomerasi yang mencendawan dalam kapitalisme global. Kita mulai bergantung pada keberadaan minyak goreng aman. Mulai termakan iklan sebagai semacam ketiadaan pilihan. Sebab di mana-mana bahaya mengintai. Alangkah menyedihkannya jika pemerintah abai soal perlindungan dan hak-hak konsumen. Maka dari itu selalu dibutuhkan kerja keras dan investigasi dari pihak berwenang untuk mengamankan jalur perniagaan agar rakyat Indonesia merasa nyaman. Menumpas penjahat niaga sampai ke akar-akarnya.
Terlalu banyak kecurangan yang dilakukan segelintir insan korup. Terjebak dalam perspektif picik akan arti niaga dan mencari rezeki. Adakah manfaat untuk sang pelaku? Harta atau materialisme yang diberhalainya akan musnah tak terkira. Dan yang menungguinya kelak adalah azab pedih dari Allah Sang Hakim Adil. Sebab ia tak mampu memberi manfaat bagi diri sendiri apalagi orang lain. Sebuah bentuk penzaliman diri yang malah dianggap lumrah.
Ada hal yang harus kita renungkan tentang perniagaan jujur. Janganlah sampai pelaku merasa tidak berdosa dengan perbuatannya yang telah merusak dan meracuni massal.
Solar, minyak tanah, oli bekas, sampai minyak jelantah  sangatlah berbahaya bagi tubuh manusia. Kita ingin memakan makanan baik dengan jalan halal bukan dicemari insan-insan tak bertanggung jawab yang dibutakan nuraninya.
Sebagai penutup, mari renungkanlah sabda Rasulullah Muhammad S.A.W., “Sesungguhnya Allah itu penetap harga, yang menahan, yang melepas dan memberi rezeki. Dan sesungguhnya aku harap bertemu Allah dalam keadaan tidak seorang pun dari kamu menuntut aku lantaran menzalimi jiwa atau harga.” (Diriwayatkan oleh lima imam kecuali Imam Nasa’i)***
#Cipeujeuh, 12 Desember 2013