HOME/RUMAH

Jumat, 05 Januari 2018

Dagang Kok Ngajak Ribut




Hari sudah hampir magrib waktu suami pulang kerja jadi buruh bangunan, Pal pengen jajan baso dan dikasih uang sama bapaknya yang baru gajian. Karena warung baso Ceu Tini terlalu jauh dan mungkin magrib akan tutup, terpaksa beli baso di Ceu ‘Ndul. Rumah kami di tengah kepungan ladang jagung, dan tak bisa keluar malam karena belum punya senter.
Sebenarnya saya tidak nyaman karena kala kami tiba, magrib sudah jatuh benar, dan ada sesuatu dalam dirinya yang membuat saya tak lagi dekat setelah mengenal sedikit wataknya, kecenderungannya dalam berlidah tajam yang mampu mengiris-iris; yah, terang-terangan mudah marah, sarkas, dan sinis.
Saya pesan baso 3 bungkus, jenis otak-otak kering. Ternyata cuma ada 6 biji. 2 ribu berisi 3 biji, jadi setuju sisanya pakai tahu kering 3 biji yang oleh Ceu ‘Ndul langsung dicemplungkan ke dalam wajan bekas masak seblak berisi air.
Saya tanya mengapa tidak pakai panci karena akan ada bekas pedasnya. Tadi ada yang beli seblak dan oleh Ceu ‘Ndul sambal cabenya langsung dituang ke dalam wajan. Nanti Pal kepedasan, dong, karena bekas seblaknya masih lengket menempel di wajan.
Entah apa yang ada dalam logika berpikirnya sebagai pedagang, dia malah bilang tidak akan pedas. Maaf saja, ya, sebaiknya layani pembeli dengan cara sopan bukan ngasal gitu. Wajan untuk masak seblak sebaiknya tidak dipakai untuk rebus baso tahu, endapan pedas dari sambal cabe akan meresap ke dalam airnya, itu akan jadi masalah bagi Pal yang tak kuat pedas. Panci yang biasa mana?  Tau terlalu malas untuk ambil  panci? Atau pancinya rusak? Napa tak bilang kalau pancinya tidak ada saja? Apa susahnya pakai alat masak lain yang bersih?
Sebelumnya, Ceu ‘Ndul nyuruh saya memotong sendiri otak-otak keringnya. Dia ambil tiga, saya terpaksa memotongnya karena dia sibuk melayani anak yang tadi beli seblak. Setelah selesai mengiris semua otak-otak itu, saya hendak ambil sisanya di bungkus plastik, eh, sama Ceu ‘Ndul malah dicegah. Tentu saja saya bingung apa maksudnya. Beli tiga dan masing-masing dapat tiga jadi baru enam. Saya protes dengan bilang beli tiga bungkus. Ceu ‘Ndul mengoreksi saya dengan cara tidak sabar dan menggebrak meja. Wah!
Dia yang salah mengerti atau sengaja ngajak ribut? Saya jelaskan sekali lagi dengan pertanyaan apakah dua ribu itu tiga? Dia malah berkilah dengan apakah dicampur? Saya kian heran dengannya. Kalau dicampur tentu dia akan langsung celupkan somay keringnya yang keras atau menyisihkannya dekat irisan otak-otak tadi. Tapi itu tidak dilakukannya dan saya tidak bilang minta dicampur.
Suka-suka banget, sih, dia. Apa lebih mudah menyalahkan “kebegoan” saya karena saya tuli? Logikanya tadi dia telah mencelupkan baso tahu kering ke dalam wajan. Sudah. Dan saya cuma memaksudkan baso tahu tersebut untuk mengisi kekurangan satu porsi.
Saya tidak memahaminya. apakah dia merasa telah melakukan pembenaran dengan cara bertanya ulang, “Dicampur?” yang saya jawab tidak. Tanpa minta maaaf segala atas kekasaran sikapnya. Atau dia memang sengaja ingin mempermainkan saya? Kalau sudah demikian, apakah cara tersebut lebih memudahkan jalan rezekinya atau malah akan membuat orang lain antipati dan kabur?!
Seharusnya saya lebih tegas dalam berkata, menjelaskan, “Oke, 6 biji otak-otak itu untuk dua porsi, sisanya pakai baso tahu 3 biji,” agar dia tak punya celah untuk “bermain” dan gebrak meja dengan kasar. Akan tetapi, saya pikir dia cukup mengerti dan tidak ada indikasi dia akan mencampur dengan bahan lain. Error banget!
Sudahlah, seharusnya saya tahu dia jenis insan ngasal dalam berdagang. Memberi kesan jorok pada tata caranya. Ironisnya merasa benar. Puza, keponakan saya, bilang tak suka seblaknya karena pernah heubeul  alias mual.
Saya bilang pernah dapat porsi kerupuk kuning doang tanpa campuran padahal ada kwetiau. Kayak pilih kasih. Dan rasanya juga tak mantap dalam kepedasan. Padahal di warung lain selalu berasa pas pedasnya. Warung lain cukup royal memberi sambal tanpa mengukur apakah itu memberi kerugian. Yang penting pembeli suka dan datang lagi.
Selain itu, saya bingung mengapa dia tak mencuci dulu bawang merah sebelum diiris. Itu bawang untuk taburan buburnya. Cukup dikupas saja lapisan kulit luarnya, sudah dianggap akan bersih, ‘kali. Tak peduli asal muasal bawang dari mana. Dari perkebunan, lalu pasar, dan tercemar debu dan kotoran, plus kuman dan bakteri. Dan saya kerap menyaksikan caranya. Apa susahnya ambil sebaskom air untuk mencucinya lebih dulu?! Seolah kebiasaan mencuci bahan untuk bumbu dianggap tidak perlu.
Oke, saya kapok berurusan lagi dengannya. Cukup sekali sudah saya “dihadiahi” gebrakan meja, tanpa minta maaf segala. Mana kala saya menolak air rebusan untuk jatah Pal dan bilang di rumah saja, dia ngotot berupaya meyakinkan dengan menyodorkan sendok sayur berisi airnya yang langsung mengenai kaki saya. Panas, tuh, tepercik air didihan. Malah tidak minta maaf telah demikian. Atau tidak mau tahu. Di mana rasa malu?
Ehm, caranya memperlakukan orang lain seperti itu atas dasar apa, sih? Saat mengambil uang kembalian saja pakai acara merengut segala. Apa tampang masam merupakan bagian dari cara berdagang yang baik dan benar?!
Saya kasihan padanya. Dia jenis insan kebanyakan yang terbiasa kasar, sinis, berlidah tajam, tetapi tidak punya kepekaan diri. Sepupu saya, mamah Puza, bilang dari dulu dia kasar dan galak. Dari sejak muda. Dan sekarang pun, kata sepupu, kalau menumpahkan amarah masih memaki pakai anjing, bagong, goblok. Di usia 40 tahunan kayak gitu masih demikian? Mengherankan.
Dia masih kerabat saya. Masih sepupu dari sepupu saya. Artinya kami masih satu buyut dari pihak nenek. Nenek dia kakak nenek saya. Namun ikatan persaudaraan kerap menjauhkan karena kekasaran watak dan cara memperlakukan lidah. Dia jenis orang yang mudah marah bukannya sabar.
Dan ternyata bukan saya saja yang jadi korban ketajamannya. Ada banyak insan yang merasakan, termasuk anak-anak dan menantunya! Selain para tetangga. Sampai ia mendapat stigma.
Ketika cucu lelaki satu-satunya yang masih balita mewek ingin beli mainan tapi dilarang olehnya, pada saya dia bilang dengan marah bahwa pedagangnya pakai acara menyodor-nyodorkan.
Saya tidak tahu apakah akan bereaksi sangat reaktif seperti itu kalau Pal demikian, mewek ingin sesuatu. Menyalahkan pedagang yang memang sengaja main sodor. Marah pada pedagang tersebut. Yang jelas saya tidak pernah berbuat demikian. Agresif hanya dibutuhkan kala merasa dalam ancaman bukan untuk mencela orang.
Saat mengenal orang lain, kita akan berhadapan dengan watak asli yang tak mengenakkan. Reaksi dalam relasi antarsesama tersebut bisa bersifat positif atau negatif. Bergantung karakter yang sedang berinteraksi.
Kalau seseorang terbiasa berperilaku kasar, sinis, nyinyir, terang-terangan atau diam-diam mencela dan menggunjingkan orang,  maka habbit tersebut sulit diubah. Ironisnya, hal tersebut kerap dijumpai dalam kaum perempuan, entah di perdesaan atau perkotaan.
Bergunjing dianggap sekadar menggosip biasa, membicarakan orang lain tanpa tahu kejelasannya seakan hal lumrah. Tak heran, sifat poksang, alias bicara seenaknya tanpa mengendalikan lidah, ibarat penyakit menular dalam komunitas pergunjingan. Kecenderungan untuk meremehkan atau menjatuhkan orang dianggap hal wajar. Lucunya, mereka mungkin akan murka dan merasa terhina kalau balik diperlakukan demikian.
Saya cuma bisa menulis ini, menyuarakan hal-hal tak berkenan sebagai bagian dari protes, sekaligus cara merefleksi diri. Sistem pranata sosial dalam masyarakat di kampung penuh hal absurd.
Ada orang yang tidak suka bergunjing dan tetap berupaya berperilaku baik karena tidak menjadikan acuan kaum penggunjing sebagai habbit.
Ada juga yang tetap tengggelam dalam kubangan demikian dan tak merasa berdosa telah memakan “sebagian” daging saudaranya. tak peduli apakah ucapan (ghibah) mereka termasuk kategori fitnah atau tidak. Yang penting mereka merasa senang dan ramai jika berkumpul. Tidakkah mereka takut kelak akan jadi bahan bakar neraka karena mizan telah menimbang dengan adil hisab mereka?[]
Cipeujeuh, 15 Mei 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D