Tampilkan postingan dengan label Ikut GIVEAWAY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ikut GIVEAWAY. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Agustus 2014

Seru-seruan Bareng TwiRies





TERNYATA seru juga jadi anak kembar!
Baca TwiRies, The Freaky Twins Diaries karya Eva Sri Rahayu dan Evi Sri Rezeki bikin saya yang kepo jadi tambah ilmu. Ilmu perkembaran, hihi….
Emang, pada dasarnya sebagai orang awam yang gemes pada insan kembar, ternyata saya pernah juga melakukan hal-hal tabu seperti yang banyak dikupas dalam buku TwiRies. Soalnya, kembar bagi saya merupakan insan langka dari milyaran umat manusia sedunia. Di Kampung Cipeujeuh, Desa Ciwangi, Kecamatan Limbangan, Garut ini saja dari ribuan jiwa penghuninya, cuma ada empat pasangan anak kembar yang saya kenal!
Pasangan pertama yang saya kenal adalah keponakan teteh ipar. Waktu itu mereka masih 5 tahunan, Winda dan Windi. Imut, lucu, dan gemesin tentunya. Dan sebagai adik, entah mengapa Windi lebih galak. Kayak Evi, ya. *Disambit dodol*
Jujur saja, pada mulanya saya sulit membedakan mereka, butuh waktu lama untuk terbiasa dan bisa mendeteksi perbedaan agar gak salah sebut nama. Bangganya, wuih, kala bisa menyebut nama mereka dengan tepat sampai orang lain di luar keluarga kami heran. Kayak disodori permainan cocok gambar, gitu. *Digetok panakol bedug*
Namun sekarang, setelah mereka tumbuh besar dan saya sangat-sangat-sangat jarang atau boleh dikata tidak berinteraksi lagi dengan pasangan kembar itu, saya nyerah untuk membedakan mereka. Ilmu cocok gambar zaman dulu sudah lama menguap ditelan masa. Dan kalau mereka pas berdiri tepat di depan saya, paling juga saya cuma bisa bengong. *Kian error!*
Inilah sahibul pembuka ala saya mengenai keunikan anak kembar. Dan sebelumnya saya pengen uyek-uyek Evi sampai lecek saking gemasnya gak bilang-bilang bagian dari dunia perkembaran. Iya, sudah lama kenal Evi berkat komunitas Mnemonic Genk Mnuliz, Bandung, yang domotori Ralian Bahar, Afnaldi Syaiful, dkk. Saya dan Evi pernah kopi darat di Wabule (Warung Buku Lesehan) Jalan Imam Bonjol yang teduh dengan rimbun pepohonan.
Evi cantik, deh. Imut, modis, dan gemesin. Matanya sipit dan kayak kucing. Rambutnya panjang sebahu. Lalu di pertemuan kedua malah potong rambut seleher. Saya pikir doi lagi patah hati dan pengen move on dengan jalan ngebabat rambut sendiri (daripada rambut orang, hehe). Namun Evi ternyata menyimpan rahasia terbesar. Entah mengapa identitasnya sebagai anak kembar tidak dibahas di milis Mnemonic, dan saya tahunya Evi cuma punya seorang kakak perempuan bernama Yuniska doang. *Kasihan Eva diumpetin :p*

Teh Eva dan Evi ini pada cantik, ya?

Okelah, sejak punya modem Smartfren dan bisa leluasa menjelajah dunia maya, saya baru tahu Evi punya saudara kembar! Saya pengen protes karena: meski sudah dianggap dekat kok tidak diberi tahu. Dan baru-baru ini sempat interogasi Evi via Twitter, apakah pernah dikerjain Evi dan Eva? Ih, parno banget. Syukurnya kata Evi enggak. Entah enggak tega ngerjain atau enggak sempat karena kami cuma dua kali ketemuan, hehe.



Foto hasil jepretan Ai Gheena

Bagian itu saya peroleh jawaban dari halaman yang bahas soal pergaulan Evi dan Eva yang beda dari cerita teman-teman mereka di bagian BUY ONE GET ONE FREE.
Baca deh, TwiRies, kamu akan tahu bagaimana gokilnya mereka dalam hal ngerjain orang. Saya yang khatamin buku setebal 304 halaman itu banyak geleng-geleng kepala, gemas plus heran dengan aneka polah mereka yang ngejubileh ajaibnya. Sudah kembar, unik, suka aneh tapi nyata pula.
Gimana enggak ngakak kala baca kisah mereka yang pernah nekat tukaran sekolah dan alami kejadian konyol bin lucu plus deg-deg plas apakah akan ketahuan para siswa dan guru! Nekat banget si kembar itu!
Tapi asyik juga, ya. Asyik bisa bertukar peran, meski pada akhirnya akan gimana gitu kalau ketahuan, hehe. Baca deh, kutipan di bawah ini mengenai aksi tukaran sekolah meski cuma sehari saja, ini kisah Eva si lembut anggun:
Mulailah petualangan saya di sekolah Evi yang dibuka dengan adegan klise, terlambat masuk dan ditahan guru BP ala cerpen zaman dulu. Saat masuk kelas, saya ditatap dengan pandangan penuh tanda tanya, tanda seru, dan tanda baca lainnya oleh teman-teman Evi. Sepertinya, mereka curiga kalau saya murid yang menyamar. Atau perasaan saya saja, sih. Biasalah, yang punya dosa. Adrenalin saya maksimal. Takut ketahuan, terus diusir. Ketika sedang dilema antara terus berdiri di depan pintu kelas dengan ekspresi tolol tetralogi atau asal duduk di bangku kosong mana pun, mata saya bertatapan dengan seorang cewek. *Selanjutnya baca deh, TwiRies biar bisa nuntasin kepo :p*
Kisah Evi, si tomboi badung itu tak kalah ngenes:
Ada satu kendala berat dalam perjalanan ini. Di sekolah Eva, banyak banget teman SMP saya. Beberapa malah teman akrab. Susah juga ternyata berakting di depan mereka. Mau bagaimana lagi. Mereka pasti tahu kalau itu adalah saya.
Teman: *menepuk bahu* Hai, E…va. Eh, Evi!
Evi: *berkedap-kedip* Eva.
Teman: Evi, ah! Eva ‘kan suka pake anting!
Deng! Saya lupa pakai anting. Dasarnya saya emang lebih tomboi dari Eva. Kami sama-sama nggak suka perhiasan, tapi Eva lebih tahan pakai anting ketimbang saya.
Sesampainya di kelas, beberapa teman yang disinyalir sahabat Eva mulai mengerubuti saya. Beberapa menampakkan ekspresi super kaget. Ada yang sampai menganga, ada yang sampai ngiler (langsung becermin, memang secantik itu saya, ya?), atau wajahnya langsung cengok parah gitu. *Selanjutnya, bisa cari tahu sendiri gimana ngenesnya Evi di buku TwiRies, hihi….*
Kayaknya jarang ada buku yang bahas kisah kembar secara pelit (personal literature), TwiRies dengan murah hati berbagi kisah-kisah klasik nan unik tentang kehidupan anak kembar itu gimana. Ternyata perbedaan membuat kebanyakan orang otomatis membedakan atau suka cari-cari perbedaan dalam diri mereka yang berbeda. Dan ternyata banyak pula tanya yang dilontarkan pada mereka. Sesuatu yang bikin Eva dan Evi bete. Ehm, siapa yang tidak bete kalau diajuin silly question yang itu-itu mulu dan kerap banget, coba.
Jadi ingin iseng betein Eva dan Evi dengan tambahan silly question yang tidak dibahas dalam TwiRies, hihi. “Napa gesture kalian di trailer film TwiRies di bawah ini bisa sama dan kompakan? Bikin gemas saja! Pakai latihan atau sudah bawaan?” Tuh, ‘kan, kira-kira Eva dan Evi akan mangkel enggak? Tadi kala nonton sempat ngakak dan heran. Amboi, gaya si kembar memang memesona, kelihatan ekspresif!





Bicara soal silly question yang seabrek mencekoki kehidupan Eva dan Evi. Jadi kagum pada upaya Eva yang bela-belain cari info di internet kala ditanya soal golongan darah anak kembar, meski Evi ngambek dan manyun-suranyun. Eva memang manis, namun kemanisannya bisa menguap jadi sadis bareng Evi kala dicekoki pertanyaan lanjutan, “Di antara kalian siapa kakaknya siapa adiknya?”
Bela-belain cari info demi fans kepo

Ah, untung saya tak pernah ajuin pertanyaan gitu. *Usap leher :v*
Seru banget baca kisah kembar, memang sih bukunya bukan untuk panduan bagaimana perangai si kembar atau psikologi menghadapi anak kembar. Bukan juga buku yang menjelaskan bagaimana dunia anak kembar. Bagi Evi, buku ini hanya menjelaskan dunia saya dan Eva. Dunia kecil kami. (Hal. 13)
Meskipun demikian, TwiRies memaparkan banyak hal unik dalam kehidupan anak kembar. Bagaimana Eva dan Evi pernah terjebak kisah cinta monyet yang malu-maluin pada cowok sebaya di SD mereka. Kadi Oktavianto, namanya. *Sekalian bantu cariin Kadi lewat tulisan ini*
Duh, bagaimana bisa gara-gara seorang Kadi, Eva dan Evi jadi saingan, hihi. Dan Kadi, yang mungkin bingung, malah memilih dekat dengan Eli teman mereka. Itu belum seberapa, lepas dari masa SD, kala remaja sampai dewasa juga kisah asmaraloka mereka layak ditetralogikan dalam kitab supertebal! 
Syukur alhamdulillah, pada akhirnya mereka beroleh jodoh. Semoga tetap harmonis bareng pasangan, ya, aamiin….
Baca TwiRies banyak asyiknya. Sudah tebal, gaya berceritanya juga ringan mengalir. Jadi bisa tahu bagaimana kemajuan Evi tersayang. Padahal dulu parah banget tulisannya secara gramatika, waktu telah mendewasakan seorang Evi hingga tulisannya pun ikut matang, dan sebagai teman lama turut bangga pada pencapaian Evi yang sudah menerbitkan novel solo. Padahal dulu Evi pernah bilang pada saya sukanya bikin puisi dan cerpen. Keren! Terima kasih karena Eva telah mendampingi Evi dalam peran besar kalian.

Asyik, ada komiknya!

Senang karena di bagian dalamnya banyak sisipan komik yang bisa membantu ilustrasi cerita, menambah warna. Sampai Astri anak temanku yang sobat kecil Palung pun penasaran. Rebutan TwiRies bareng Palung. Ehm, sebenarnya cuma untuk aksi, doang, hehe. Tapi Astri pengen baca juga. Komiknya dulu. Baru kelas 1 MI (Madrasah Ibtidaiyah). Palung malah belum sekolah, belum genap 5 tahun tidak akan diterima TK sini.

Aku duluan baca!

Olala, Eva dan Evi, baca TwiRies  membuat saya sadar akan kekayaan warna hidup ini. kalian kembar dan kalianlah yang membuat pilihan akan bagaimana mewarnai dunia dengan karya yang bermanfaat bagi sesama. Mencerahkan pula. Ya, semoga TwiRies bisa menjawab sekian silly question yang kerap diajuin orang atau bahkan kalian ajukan satu sama lain. Plus, bantu para kembar lainnya yang barangkali pernah alami nasib serupa.  
Banyak banget bagian yang saya suka dari TwiRies. Penyusunan tata letaknya pun apik. Ehm, Penerbit Diva Press benar-benar serius menggarap kisah kembar Eva dan Evi. Saya yang baru kali ini baca buku terbitan Diva Press jadi salut. Apik penyajian dan bahasanya. Sampai EYD pun diperhatikan betul. EYD merupakan patokan saya dalam memilih buku berkualitas, selain isi dan gramatika. Agar gak pusing bacanya, gitu.

Manyun bareng Twiries

Dalam bagian 1 SERUPA KITA, ada bagian yang langsung menendang! Mengenai perbedaan dalam kehidupan anak kembar. Pernah becermin dan menemukan wajahmu ada dua? Empat bola mata yang memandang sosokmu lekat-lekat, dengan gerakan dan ekspresi yang hampir serupa. Yang satu sosoknya terang dan yang lain agak gelap seperti bayangan. Mungkin bayangan itu menyeringai, mungkin terkikik, atau menangis sesenggukan? Tenang! Ini bukan cerita horor, tapi kisah nyata tentang anak kembar. (Hal. 19)
Bagian 2 TWIN LOVE membahas soal asmara yang ternyata bisa heboh juga. Bagaimana Evi dan Eva tak bisa terpisahkan. Ketika yang satu berpasangan, yang lainnya pun ikutan; ketika yang satunya putus, yang lainnya malah ikut ngejomblo atau dikomporin untuk ikut putus. Paling sering sih Evi yang angotan gonta-ganti pacar. *Ngacir naik sapu terbang Pipiyot, nenek sihir dalam komik "Ceritera dari Negeri Dongeng" di majalah Bobo*
Daaan… ada bagian akhir dari tiga bagian yang sukses membuat saya terharu-biru. DARI BELAHAN UNTUK BELAHAN menyadarkan saya bahwa sebagai anak kembar mereka ternyata tak terpisahkan. Bersyukur terlahir kembar meski kadang sebal juga.
Baca surat cinta masing-masing, dari Eva untuk Evi dan dari Evi untuk Eva, sukses membuat saya luluh pengen ngemil es krim cokelat campur stroberi plus kue lapis tepung beras. Legit dan manis banget. Melelehkan hati karena seakan ditulis dari kedalaman jiwa. Iya, saya kutipkan bagian favoritnya di sini, ternyata Evi puitis juga sekaligus filosofis:
Chaka Pumpkin Caterpillar,
Kita telah mengalami proses yang panjang dan berdarah untuk sampai pada sebuah penerimaan. Kita yang bertumbuh dan saling mendewasakan. Barangkali masih sesekali terasa memuakkan jika ada yang memperbandingkan, lebih seringnya kita abaikan. Kita yang kembar ini, acap kali membangkitkan keinginan superior banyak orang. itu yang pernah kau katakan yang kemudian kuaminkan. Mereka adalah yang merasa mengenal kita lebih dalam, merasa bisa mengakrabi kita, memperlihatkan pada dunia menjadi satu di antara kita. Biarkan sajalah, kita toh tidak pernah terpecah dan lebih sering menikmatinya sebagai hiburan.
Kau tahu,
Kadang kita ingin memiliki dunia yang berbeda, tak saling menjamah. Antara kita selalu ada dunia sunyi yang rapuh. Menyisipkan keheningan agar kita sedikit merasa tak utuh. Mungkin kau pikir karena kita ingin punya ruang sendiri. Jika kuresapi, jarak hanya membuat kita belajar untuk mandiri. Kita berjalan di bumi yang sama, menikmati langit yang sama, sampai nanti kita berpindah dunia. Jika sampai pada waktunya, aku tidak mau ditinggalkan. Ah, sudahlah, memikirkannya membuat ulu hatiku terasa nyeri.
Duh, Evi bikin saya pengen ambil tisu. Hiks. Betapa erat dan dekatnya kalian. Persaudaraan sekaligus persahabatan yang semoga abadi. Kalian telah saling berbagi ruang dalam rahim ibu. Lahir dan tumbuh untuk berbagi sekaligus dibagi dunia, bagaimanapun perbedaan di antara kalian tetaplah merupakan satu: sepasang kembar tak terpisahkan sebagai kesatuan! Ciptaan Allah Yang Maha Rahman!
Peluk hangat dari jauh. Tabik….
Limbangan, Garut, 8 Agustus 2014







#GIVEAWAY # TwiRies #EvaSriRahayu #EviSriRezeki

Jumat, 25 Juli 2014

Black is Geblek

JIKA ada yang bilang hitam itu warna yang sangat-sangat-sangat misterius, sama seperti halnya kucing hitam di malam kelam  yang sekonyong-konyong nongol mengedarkan pandang dengan mata setajam laser dan berkilat-kilat lalu menerkam tikus lewat untuk disantap. Ehm, itu sih kucing tetangga yang kelaparan dan rajin mengganyang hama bukan jejadian. 

Kamis, 24 Juli 2014

Yuk Travel Kuliner ke Wonosobo




giveaway
Giveaway Hari Jadi Wonosobo



APA yang menarik dari suatu daerah selain alam dan budayanya? Kuliner! Urusan lidah dan perut adalah fitrah dasar manusia yang tak bisa dikesampingkan. Dan setiap daerah memiliki keunikan tersendiri sesuai kondisi geografis dan topografinya. Alam Wonosobo yang sebagian besar  berupa pegunungan dan dengan hawa dingin memberi sapuan warna bagi ragam kulinernya.

Senin, 14 Juli 2014

Untuk Apa Saya Nge-blog?



AWAL mula nge-blog cuma untuk pajang karya sendiri, yang sudah atau tidak layak muat media cetak. Sekadar dokumentasi karya pribadi agar tak tercecer, dan say hello world saya punya karya, lho.
Saya rasa penting bagi penulis lepas mana pun untuk punya blog, selain alasan di atas, juga merupakan CV bahwa kita bisa menulis dan media yang dikirimi karya tahu bagaimana kita. Intinya, blog merupakan jembatan komunikasi pada orang banyak.
Dunia blog bukanlah hal baru bagi saya. Kala di Bandung sudah kenal itu dan punya Multiply, sayang Multiply menghilang entah ke mana. Lalu beralih ke Wordpress, sayang saya menelantarkannya karena tak tahu bagaimana cara membuat tampilan blog. Sampai beralih ke blogspot dengan pertimbangan lebih mudah dan satu paket dengan akun gmail saya yang telah lebih dulu dibuat.
Mulanya saya tak tahu harus ngapain dengan blog, pajang karya doang tanpa interaksi dengan blogger lain. Kalaupun bertandang ke blog yang menarik perhatian, lebih sering jadi silent reader atau membagikannya di Facebook (FB). Lalu di FB mata saya tertuju pada group blog. Tertarik masuk, tapi rupanya group yang saya masuki ada aturan penerimaan anggota. Harus menunggu dulu sampai akhirnya alhamdulillah bisa diterima di Warung Blogger (WB) dan Kumpulan Emak-emak Blogger (KEB).
Saya ikut masuk Warung Blogger gara-gara lihat blog Evi Sri Rejeki, teman lama sesama Geng Mnuliz Mnemonic, Bandung, pajang banner-nya. Saya pikir di sana bisa komunikasi dengan Evi lagi, sekalian belajar nge-blog. Soalnya Evi keren, deh, sudah menerbitkan karya solo. Sedang saya, huaaa… paling antologi bersama dan jarang ikutan lomba menulis lagi.
Sempat bingung harus ngapain di group. Mau cari info desain blog malah disodori aneka tulisan yang berisikan banyak info. Huah, mau pilih mana? Jalan-jalan, kuliner, curhat, tips, aneka info, dan bla-bla lainnya. Jadilah saya silent reader yang kalap plus kebingungan cari panduan nge-blog. Klik sana-sini untuk baca-baca dan ber-oh-uh saking kagum plus minder. Banyak blogger yang tulisan dan desain blog-nya bagus dan apik.
Saya lupa persis bagaimana mulanya, tapi perkenalan di group KEB malah memperkenalkan saya dengan seorang blogger asal Blora. Mbak Moocen Susan di http://moocensusan.blogspot.com. Ia orang pertama yang mengikuti blog saya. Haduh. Saya tak kenal tapi kala bertandang balik, bagus juga tampilan blog-nya. Ada banyak info asyik selain curhat.
Pada akhirnya, seiring waktu, saya beroleh banyak teman baru. Dari blog yang saya ikuti ada yang balik mengikuti. Istilahnya follow back. Makasih pada semua teman blogger saya yang meski jumlahnya baru puluhan namun sudah sangat berarti memberikan ruang untuk mengikuti.
Saya belum terpikir macam-macam dari blog, hanya fokus untuk pajang karya. Tidak tahu apa itu lomba blog apalagi giveaway (GA). Baca tulisan Mbak Susan yang ikutan GA Bebek Judes Resto bikin mupeng ikutan, tapi minder karena kurang bahan. Beralih ikut GA lain punya Mak Dwi Puspita Nurmalinda, alhamdulillah dapat rezeki pulsa 5 ribu sebagai pemenang hiburan.
Saya tetap tak punya konsep menulis blog sampai ikut lomba Mozaik Blog Competition dan alhamdulillah jadi pemenang kedua. Akan tetapi, saya tak selalu menang lomba blog atau GA, ditambah lagi dari kuis buku di FB, lebih sering kalahnya, hehe.
Dibawa senang saja. Ada bahan untuk isi blog. Selain itu bisa menulis dengan gaya curhat. Berasa bebas. Jadi, itulah alasan saya nge-blog, bisa mengaktualisasikan diri dalam relasi dan interaksi antarsesama. Jarak yang berjauhan seakan tiada sekat. Dan saya yang hanyalah orang kampung nun di lereng gunung merasa tak terpencil apalagi kesepian. Saya beroleh banyak dari blog. Perkawanan, hadiah-hadiah, pelajaran berharga dari banyak blogger tentang hakikat hidup dalam kemasing-masingan yang unik.
Ada seorang blogger yang sangat menginspirasi saya, Mak Rebellina Passy. Mulanya saya sedang ada masalah berat sehingga syok (berkaitan dengan rumah ini yang tanahnya telah dijual ibu), membagi peristiwa tersebut di status FB. Ada banyak teman yang menanggapi, hanya Mak Passy yang bertanya lewat inbox dan saya tanggapi. Darinya saya beroleh cerita dan nasihat agar kuat. Ternyata ia pun alami hal berat dan lebih berat daripada saya. Saya tergerak untuk menerapkan nasihatnya, lalu menjelajahi ulang blog-nya. Dulu sih pernah baca blog-nya tapi karena belum alami hal berat jadi belum mengena. Dan saya beroleh tambahan tulisan lain di blog satunya yang lebih menyayat seperti kisah ini. Semoga kuat, Mak.
Saya mencoba bangkit dari rasa yang sempat meremukkan itu. Mutiara Aryani, sahabat baik saya di Batusangkar, bilang barangkali Allah punya rencana terbaik hingga harus demikian. Mau tak mau, saya sedang berjuang agar bisa menerapkan makna ikhlas dan sabar.  
Ternyata menjadi blogger mendapat nilai tambah, semacam terapi pengalihan  agar pikiran negatif yang bersemayam bisa tersingkir dengan kegiatan lebih positif. Saya coba menyibukkan diri dengan BW dan ikut aneka lomba blog sampai GA.
Terus terang saya jenuh jika harus menunggu kepastian pemuatan tulisan di media cetak macam koran dan majalah. Saya memang butuh uang dari honor menulis untuk bantu suami, namun rupanya Allah punya jalan lain akan rezeki saya.
Kala kecewa karena cerpen dan resensi saya belum dimuat juga, ada pelipur lara berupa rezeki yang saya ikuti dari lomba blog dan giveaway. Pulsa, tas belanja serbaguna, kartu pos, sertifikat, pouch HP rajut, ciput, pashmina, hiasan jilbab, dan buku-buku. Alhamdulillah.
Saya sadar tak boleh kecewa kala rezeki yang diinginkan belum tergapai, masih ada rezeki dalam bentuk lain. Buku-buku itu bisa saya resensi dan kirim ke berbagai media. Kalaupun tak layak muat masih bisa dipajang di blog.
Dan saya senang jadi blogger, bangga jika bisa menjadikannya sebagai profesi utama untuk menghasilkan tambahan rezeki. Meski yang baru saya bisa hanya menulis berikut berburu lomba blog dan giveaway.
Trafik Alexa saya baru kisaran di atas 1 juta (pernah anjlok di atas 2 juta gegara 34 hari absen nge-net), masih nol page rank. Semoga suatu saat kelak bisa jadi reviewer produk, dan kemungkinan menghasilkan uang lewat blog bukan lagi hal mustahil.
Yang terpenting adalah jangan berhenti menulis dan mengisi blog. Termasuk kerja ekstra keras seperti banyak baca berikut BW ke mana-mana. Meski tidak mudah untuk konsisten dan mengatur waktu, mengingat saya seorang ibu rumah tangga biasa yang harus rebutan netbook dengan anak balita semata wayang.
Apa pun tujuan awal membuat blog, seorang blogger sebaiknya jangan berhenti belajar agar tidak stagnan!***
Limbangan, Garut, 14 Juli 2014

Tulisan Ini Diikutsertakan dalam [Giveaway] #1TahunBlogILHM


 Ilham

Rabu, 02 Juli 2014

#Honestly Gue Banget Jadi Emak Gaul dengan Nokia Lumia



JADI emak seorang balita dengan profesi mulia berupa ibu rumah tangga cum penulis lepas amatiran, sering merasa kudet juga. Yah, kurang apdet alias update, gitu. Gimana enggak kudet kalau hiburan satu-satunya di rumah cuma netbook yang sering dipakai rebutan dengan anak. Televisi sudah lama tewas dihajar petir lewat.
Cuma bisa pakai netbook kalau anak lagi asyik main, sedang pulas bobo siang-malam, tapi lebih seringnya anak merengek kalau emaknya lagi kalap bekerja. Ujung-ujungnya terpaksa mengalah daripada dihadiahi mewekan super nyaring yang menghebohkan tetangga. Alternatifnya sebagai emak yang pengen gaul terpaksa kerja malam atau dini hari, padahal sering gagal fokus karena mengantuk.
Jadi naksir Nokia Lumia yang #Honestly Gue Banget sejak iklannya kepergok di televisi teman kala bertamu ke rumahnya. Belum lagi promo ramai-ramai dari teman sesama blogger tentang kelebihan  Live Tiles. Keren banget. Kebetulan punya Nokia tapi model zadul yang tak berkamera, tak bisa ngenet pula.
Baiklah, ini impian saya kalau punya Nokia Lumia, akan balas dendam pasang berbagai aplikasi Live Tiles penunjang kerja.
1.      Microsoft Office. Asyik jika bisa bebas menulis  sambil mengawasi anak main atau jelang bobo di ranjang, atau kala NB dibajak anak; pokoknya kapan dan di mana saja. Momen bengong kurang kerjaan bisa dijadikan hal produktif. Ehm, jadi berasa #Honestly Gue Banget!
2.      Internet. Yap, karena profesi sayalah, maka butuh banget untuk mengakses e-mail dari Google atau Yahoo. Belum lagi mengisi blog dan blogwalking. Atau sekadar cari info untuk bahan tulisan.
3.      Nokia Smart Cam. Penting untuk melengkapi tulisan jika butuh foto penunjang hasil jepretan sendiri tanpa main comot. Kamera juga bisa mengabadikan momen-momen manis dalam keluarga dan teman-teman.
4.      Rich Recording. Biar bisa merekam momen untuk dikenang di masa mendatang. Seperti pertumbuhan anak atau bikin candid camera.
5.      Sosmed seperti Facebook  dan Twitter. Notifikasi yang masuk jadi tak terlewat. Dan bagi Giveaway Hunter macam saya, asyik jika bisa segera dapat info lomba atau sekadar pemberitahuan siapa pemenangnya.
6.      Here Map. Praktis bisa jalan-jalan tanpa takut kesasar karena ada petunjuk jalan spesial yang privat. Sering banget saya alami hal silly karena salah arah meski di kota kelahiran sendiri (Bandung). Berharap bisa jadi traveler bareng anak dan suami dengan menyambangi kota-kota asing tanpa khawatir.
7.      Game. Aduh, jangan lihat umur dong,  sebagai emak-emak saya termasuk lumayan jago mainin koleksi game di komputer. Heran? Asyik jika bisa nge-game bareng Lumia di mana saja kala sedang antre atau dalam perjalanan.


 (Foto dari sini)
Semoga kesampaian, ya, Mak @Gesgeesges.***
#Giveaway #HonestlyGueBanget #NokiaLumia #GraceMelia








#Honestly Gue Banget Giveaway

Senin, 30 Juni 2014

Kasak-kusuk Ramadhan Akan Ngapain?



Kasak-kusuk Ramadan Akan Ngapain?


ALHAMDULILLAH, masih diberi usia demi menjejak bulan penuh berkah. Kemarin tidak sempat bikin persiapan apa pun demi menyambut Ramadhan, kayak masak-masak, gitu. Bukan tak ingin melainkan ada musibah berupa persiapan harus pindah rumah. Jadilah segalanya berada dalam keterbatasan. Bahkan suami terpaksa meninggalkan pekerjaan tanpa persiapan.

Namun semoga saja cobaan ini makin menguatkan kami, agar lebih sabar kala terzalimi; agar berbaik sangka pada Allah bahwa tempat baru kami barangkali sudah merupakan ketentuan-Nya untuk hijrah; agar bisa mengambil hikmah dari perbuatan orang lain sebagai pengingat jangan sampai berbuat maksiat; agar memperhitungkan langkah di dunia karena ada hisab; agar jangan bersedih terlalu larat karena tubuh sehat ditopang jiwa yang kuat; agar ingat bahwa rumah sebenar-benarnya yang kita butuhkan hanyalah sepetak tanah 1 X 2 meter persegi untuk perpindahan jasad.

Setiap Ramadhan, selalu meninggalkan kesan mendalam, selalu ada pertolongan di tengah cobaan. Itu pun terjadi pada tahun lalu. Semoga saja sekarang bisa kami atasi. Tentunya dengan kian mendekatkan diri pada Zat Pencipta. Melakukan beragam hal positif.

Tadi saya baca ajakan Kauleea dengan giveaway-nya, bikin planning alias perencanaan untuk Ramadhan. Biasanya saya membiarkan segala sesuatu berjalan mengalir, seperti bagaimanalah besok, tapi Kauleea dengan pernak-pernik aksesoris cantiknya menyentil saya agar lebih terarah.

Karena suami sibuk dengan persiapan bikin rumah dengan mencari bahan mentah, maka saya harus lebih giat bekerja dengan cara menulis agar bisa bantu mempersiapkan pembangunan rumah yang tidak mudah di zaman sekarang, apalagi tanpa dana memadai. Alhamdulillah, pertolongan Allah datang dari berbagai arah tak terduga. Kami yang “orang usiran” sangat terbantu dengan berbagai uluran tangan.

Jadi, jika suami sedikit demi sedikit mempersiapkan bahan dan mengolahnya, saya bantu dengan ikhtiar seorang istri sekaligus anak yatim teraniaya.

1.     Kala suami sibuk di luar, saya berusaha berada di dalam, bekerja sambil mengurus anak dan rumah tangga, mencoba bangkit meski sulit.

2.     Berupaya keras agar ibadah tidak bolong-bolong meski pernah hidup dalam amarah, dan itu bukanlah perkara mudah karena saya sempat marah pada Allah gara-gara rumah.

3.     Berupaya lebih sabar pada anak balita semata wayang kala ia banyak merengek dengan beragam keinginan. Aduh, dengan kondisi kejiwaan yang super duper labil karena orang lain plus ekonomi megap-megap jangan sampai membuat saya nyap-nyap lalu jantung kumat. :p

4.     Saya tak ingin hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja kala saum Ramadhan, tiada berfaedah jika tak bisa menjaga lisan dan tindakan. Segalanya bermula dari niat awal.

5.     Kemarin sempat ragu untuk melanjutkan saum karena tubuh melemah padahal baru hari pertama, namun Alhamdulillah masih bisa lanjut sampai magrib. Alihkan tubuh yang sakit pada hal lain dengan sekian kesibukan sebagai ibu rumah tangga yang maksa eksis jadi penulis. Mengisi blog dan blogwalking bisa mengalihkan perhatian, asal BW jangan ke postingan kuliner plus masak-masak kala belum jam buka, bisa ngiler dan kalap jadi lupa nawaetu saumnya, hehe.

6.     Saya ini minim ilmu prakarya. Tapi bolehlah menjelajah blog berisi handmade seperti Kauleea untuk menikmati keindahan dan menghargai proses kerja yang tidak mudah. Bayangkan, aksesoris cantik buatan Kauleea yang istimewa itu ternyata bisa ekslusif juga itemnya. Ada yang bukan borongan. Haduh, berapa lama waktu yang dibutuhkan? Kesabaran dan akurasi kualitas dari bahan sampai daya tahan. Ah, pengennya punya pelengkap jilbab agar lebaran bisa lebih cantik karena bahagia telah melewati ujicoba sebelum dan kala Ramadan, sayang saya tak bisa bikin apalagi tak ada tutorialnya. Padahal lumayan kalau bisa bikin, untuk ngabuburit.



7.     Bentar lagi modem harus isi ulang, saya ragu apa akan ada rezeki. Tak bisa ngenet. Masih ada hadiah buku yang belum dibaca, belum lagi ratusan e-book yang teronggok di folder file, buku motivasi dan fiksi islami juga ada. Baca-baca sekaligus jangan malas tadarusan, ah. Buat booster.

8.     Ketika kita sedih karena suatu keinginan yang belum tercapai, yakinilah bahwa pertolongan Allah itu dekat. Saya hanya berharap tak ada lagi drama dan orang itu segera tobat.

9.     Hanya ingin bisa meneguhkan ke-qowwam-an suami agar musibah ini tak membuatnya goyah selaku kepala keluarga. Saya ingin Ramadhan berkesan, dan anak kami bisa belajar mengenal Ramadhan juga.

10.     Hidup ada pasang surut. Seharusnya kita bisa belajar dari gelombang laut. Ada badai, setelahnya damai. Ada sunrise, nanti akan sunset. Mendadak pengen ngabuburit ke pantai. Sayang jauh banget. :D

Saya pikir Ramadhan ini mestinya membuat kita lebih arif membaca tanda, bahagia menyambut tamu agung yang cuma setahun sekali berkunjung. Perkara masak-masak demi lebaran atau sandang biarlah jangan terlalu dipikirkan. Masih banyak saudara kita yang hidup dalam garis batas penderitaan tak tertahankan. Korban bencana alam, peperangan, atau penggusuran dan musibah lainnya. Inti utama Ramadhan bukankah agar kita bisa saum (as siyaamu’) dan menahan diri dari hal-hal yang membatalkan sekaligus membatilkan agar beroleh berkah ampunan Allah. Selamat beribadah, mohon maaf juga dari saya jika ada kata yang salah. 
Wassalam....****

Limbangan, Garut, 30 Juni 2014
#SpecialGAKauleeaHandmade  #Giveaway #Kauleea