TERNYATA seru juga jadi anak kembar!
Baca TwiRies, The Freaky Twins Diaries karya Eva Sri Rahayu dan Evi Sri Rezeki bikin saya yang kepo jadi tambah ilmu. Ilmu perkembaran, hihi….
Emang, pada dasarnya sebagai orang awam yang gemes pada insan kembar, ternyata saya pernah juga melakukan hal-hal tabu seperti yang banyak dikupas dalam buku TwiRies. Soalnya, kembar bagi saya merupakan insan langka dari milyaran umat manusia sedunia. Di Kampung Cipeujeuh, Desa Ciwangi, Kecamatan Limbangan, Garut ini saja dari ribuan jiwa penghuninya, cuma ada empat pasangan anak kembar yang saya kenal!
Pasangan pertama yang saya kenal adalah keponakan teteh ipar. Waktu itu mereka masih 5 tahunan, Winda dan Windi. Imut, lucu, dan gemesin tentunya. Dan sebagai adik, entah mengapa Windi lebih galak. Kayak Evi, ya. *Disambit dodol*
Jujur saja, pada mulanya saya sulit membedakan mereka, butuh waktu lama untuk terbiasa dan bisa mendeteksi perbedaan agar gak salah sebut nama. Bangganya, wuih, kala bisa menyebut nama mereka dengan tepat sampai orang lain di luar keluarga kami heran. Kayak disodori permainan cocok gambar, gitu. *Digetok panakol bedug*
Namun sekarang, setelah mereka tumbuh besar dan saya sangat-sangat-sangat jarang atau boleh dikata tidak berinteraksi lagi dengan pasangan kembar itu, saya nyerah untuk membedakan mereka. Ilmu cocok gambar zaman dulu sudah lama menguap ditelan masa. Dan kalau mereka pas berdiri tepat di depan saya, paling juga saya cuma bisa bengong. *Kian error!*
Inilah sahibul pembuka ala saya mengenai keunikan anak kembar. Dan sebelumnya saya pengen uyek-uyek Evi sampai lecek saking gemasnya gak bilang-bilang bagian dari dunia perkembaran. Iya, sudah lama kenal Evi berkat komunitas Mnemonic Genk Mnuliz, Bandung, yang domotori Ralian Bahar, Afnaldi Syaiful, dkk. Saya dan Evi pernah kopi darat di Wabule (Warung Buku Lesehan) Jalan Imam Bonjol yang teduh dengan rimbun pepohonan.
Evi cantik, deh. Imut, modis, dan gemesin. Matanya sipit dan kayak kucing. Rambutnya panjang sebahu. Lalu di pertemuan kedua malah potong rambut seleher. Saya pikir doi lagi patah hati dan pengen move on dengan jalan ngebabat rambut sendiri (daripada rambut orang, hehe). Namun Evi ternyata menyimpan rahasia terbesar. Entah mengapa identitasnya sebagai anak kembar tidak dibahas di milis Mnemonic, dan saya tahunya Evi cuma punya seorang kakak perempuan bernama Yuniska doang. *Kasihan Eva diumpetin :p*
Teh Eva dan Evi ini pada cantik, ya?
Okelah, sejak punya modem Smartfren dan bisa leluasa menjelajah dunia maya, saya baru tahu Evi punya saudara kembar! Saya pengen protes karena: meski sudah dianggap dekat kok tidak diberi tahu. Dan baru-baru ini sempat interogasi Evi via Twitter, apakah pernah dikerjain Evi dan Eva? Ih, parno banget. Syukurnya kata Evi enggak. Entah enggak tega ngerjain atau enggak sempat karena kami cuma dua kali ketemuan, hehe.
Foto hasil jepretan Ai Gheena
Bagian itu saya peroleh jawaban dari halaman yang bahas soal pergaulan Evi dan Eva yang beda dari cerita teman-teman mereka di bagian BUY ONE GET ONE FREE.
Baca deh, TwiRies, kamu akan tahu bagaimana gokilnya mereka dalam hal ngerjain orang. Saya yang khatamin buku setebal 304 halaman itu banyak geleng-geleng kepala, gemas plus heran dengan aneka polah mereka yang ngejubileh ajaibnya. Sudah kembar, unik, suka aneh tapi nyata pula.
Gimana enggak ngakak kala baca kisah mereka yang pernah nekat tukaran sekolah dan alami kejadian konyol bin lucu plus deg-deg plas apakah akan ketahuan para siswa dan guru! Nekat banget si kembar itu!
Tapi asyik juga, ya. Asyik bisa bertukar peran, meski pada akhirnya akan gimana gitu kalau ketahuan, hehe. Baca deh, kutipan di bawah ini mengenai aksi tukaran sekolah meski cuma sehari saja, ini kisah Eva si lembut anggun:
Mulailah petualangan saya di sekolah Evi yang dibuka dengan adegan klise, terlambat masuk dan ditahan guru BP ala cerpen zaman dulu. Saat masuk kelas, saya ditatap dengan pandangan penuh tanda tanya, tanda seru, dan tanda baca lainnya oleh teman-teman Evi. Sepertinya, mereka curiga kalau saya murid yang menyamar. Atau perasaan saya saja, sih. Biasalah, yang punya dosa. Adrenalin saya maksimal. Takut ketahuan, terus diusir. Ketika sedang dilema antara terus berdiri di depan pintu kelas dengan ekspresi tolol tetralogi atau asal duduk di bangku kosong mana pun, mata saya bertatapan dengan seorang cewek. *Selanjutnya baca deh, TwiRies biar bisa nuntasin kepo :p*
Kisah Evi, si tomboi badung itu tak kalah ngenes:
Ada satu kendala berat dalam perjalanan ini. Di sekolah Eva, banyak banget teman SMP saya. Beberapa malah teman akrab. Susah juga ternyata berakting di depan mereka. Mau bagaimana lagi. Mereka pasti tahu kalau itu adalah saya.
Teman: *menepuk bahu* Hai, E…va. Eh, Evi!
Evi: *berkedap-kedip* Eva.
Teman: Evi, ah! Eva ‘kan suka pake anting!
Deng! Saya lupa pakai anting. Dasarnya saya emang lebih tomboi dari Eva. Kami sama-sama nggak suka perhiasan, tapi Eva lebih tahan pakai anting ketimbang saya.
Sesampainya di kelas, beberapa teman yang disinyalir sahabat Eva mulai mengerubuti saya. Beberapa menampakkan ekspresi super kaget. Ada yang sampai menganga, ada yang sampai ngiler (langsung becermin, memang secantik itu saya, ya?), atau wajahnya langsung cengok parah gitu. *Selanjutnya, bisa cari tahu sendiri gimana ngenesnya Evi di buku TwiRies, hihi….*
Kayaknya jarang ada buku yang bahas kisah kembar secara pelit (personal literature), TwiRies dengan murah hati berbagi kisah-kisah klasik nan unik tentang kehidupan anak kembar itu gimana. Ternyata perbedaan membuat kebanyakan orang otomatis membedakan atau suka cari-cari perbedaan dalam diri mereka yang berbeda. Dan ternyata banyak pula tanya yang dilontarkan pada mereka. Sesuatu yang bikin Eva dan Evi bete. Ehm, siapa yang tidak bete kalau diajuin silly question yang itu-itu mulu dan kerap banget, coba.
Jadi ingin iseng betein Eva dan Evi dengan tambahan silly question yang tidak dibahas dalam TwiRies, hihi. “Napa gesture kalian di trailer film TwiRies di bawah ini bisa sama dan kompakan? Bikin gemas saja! Pakai latihan atau sudah bawaan?” Tuh, ‘kan, kira-kira Eva dan Evi akan mangkel enggak? Tadi kala nonton sempat ngakak dan heran. Amboi, gaya si kembar memang memesona, kelihatan ekspresif!
Bicara
soal silly question yang seabrek mencekoki
kehidupan Eva dan Evi. Jadi kagum pada upaya Eva yang bela-belain cari info di
internet kala ditanya soal golongan darah anak kembar, meski Evi ngambek dan
manyun-suranyun. Eva memang manis, namun kemanisannya bisa menguap jadi sadis
bareng Evi kala dicekoki pertanyaan lanjutan, “Di antara kalian siapa kakaknya
siapa adiknya?”
Bela-belain cari info demi fans kepo
Ah, untung saya tak pernah ajuin
pertanyaan gitu. *Usap leher :v*
Seru
banget baca kisah kembar, memang sih
bukunya bukan untuk panduan bagaimana perangai si kembar atau psikologi
menghadapi anak kembar. Bukan juga buku yang menjelaskan bagaimana dunia anak
kembar. Bagi Evi, buku ini hanya menjelaskan dunia saya dan Eva. Dunia kecil
kami. (Hal. 13)
Meskipun
demikian, TwiRies memaparkan banyak hal unik dalam kehidupan anak kembar.
Bagaimana Eva dan Evi pernah terjebak kisah cinta monyet yang malu-maluin pada cowok sebaya di SD mereka. Kadi Oktavianto, namanya. *Sekalian
bantu cariin Kadi lewat tulisan ini*
Duh,
bagaimana bisa gara-gara seorang Kadi, Eva dan Evi jadi saingan, hihi. Dan
Kadi, yang mungkin bingung, malah memilih dekat dengan Eli teman mereka. Itu
belum seberapa, lepas dari masa SD, kala remaja sampai dewasa juga kisah
asmaraloka mereka layak ditetralogikan dalam kitab supertebal!
Syukur alhamdulillah, pada akhirnya mereka beroleh jodoh. Semoga tetap harmonis bareng pasangan, ya, aamiin….
Syukur alhamdulillah, pada akhirnya mereka beroleh jodoh. Semoga tetap harmonis bareng pasangan, ya, aamiin….
Baca
TwiRies
banyak asyiknya. Sudah tebal, gaya berceritanya juga ringan mengalir. Jadi bisa
tahu bagaimana kemajuan Evi tersayang. Padahal dulu parah banget tulisannya
secara gramatika, waktu telah mendewasakan seorang Evi hingga tulisannya pun
ikut matang, dan sebagai teman lama turut bangga pada pencapaian Evi yang sudah
menerbitkan novel solo. Padahal dulu Evi pernah bilang pada saya sukanya bikin puisi dan cerpen. Keren! Terima kasih karena Eva telah mendampingi Evi dalam
peran besar kalian.
Asyik, ada komiknya!
Senang
karena di bagian dalamnya banyak sisipan komik yang bisa membantu ilustrasi cerita,
menambah warna. Sampai Astri anak temanku yang sobat kecil Palung pun
penasaran. Rebutan TwiRies bareng Palung. Ehm,
sebenarnya cuma untuk aksi, doang,
hehe. Tapi Astri pengen baca juga. Komiknya dulu. Baru kelas 1 MI (Madrasah
Ibtidaiyah). Palung malah belum sekolah, belum genap 5 tahun tidak akan
diterima TK sini.
Aku duluan baca!
Olala, Eva dan Evi, baca TwiRies membuat saya sadar akan kekayaan warna hidup
ini. kalian kembar dan kalianlah yang membuat pilihan akan bagaimana mewarnai
dunia dengan karya yang bermanfaat bagi sesama. Mencerahkan pula. Ya, semoga TwiRies bisa menjawab sekian silly question yang kerap diajuin orang
atau bahkan kalian ajukan satu sama lain. Plus, bantu para kembar lainnya yang barangkali pernah alami nasib serupa.
Banyak
banget bagian yang saya suka dari TwiRies. Penyusunan tata letaknya
pun apik. Ehm, Penerbit Diva Press benar-benar serius menggarap kisah kembar Eva
dan Evi. Saya yang baru kali ini baca buku terbitan Diva Press jadi salut. Apik
penyajian dan bahasanya. Sampai EYD pun diperhatikan betul. EYD merupakan
patokan saya dalam memilih buku berkualitas, selain isi dan gramatika. Agar gak
pusing bacanya, gitu.
Manyun bareng Twiries
Dalam
bagian 1 SERUPA KITA, ada bagian
yang langsung menendang! Mengenai perbedaan dalam kehidupan anak kembar. Pernah becermin dan menemukan wajahmu ada
dua? Empat bola mata yang memandang sosokmu lekat-lekat, dengan gerakan dan
ekspresi yang hampir serupa. Yang satu sosoknya terang dan yang lain agak gelap
seperti bayangan. Mungkin bayangan itu menyeringai, mungkin terkikik, atau
menangis sesenggukan? Tenang! Ini bukan cerita horor, tapi kisah nyata tentang
anak kembar. (Hal. 19)
Bagian
2 TWIN
LOVE membahas soal asmara yang ternyata bisa heboh juga. Bagaimana Evi
dan Eva tak bisa terpisahkan. Ketika yang satu berpasangan, yang lainnya pun
ikutan; ketika yang satunya putus, yang lainnya malah ikut ngejomblo atau
dikomporin untuk ikut putus. Paling sering sih
Evi yang angotan gonta-ganti pacar.
*Ngacir naik sapu terbang Pipiyot, nenek sihir dalam komik "Ceritera dari Negeri Dongeng" di majalah Bobo*
Daaan…
ada bagian akhir dari tiga bagian yang sukses membuat saya terharu-biru. DARI BELAHAN UNTUK BELAHAN menyadarkan
saya bahwa sebagai anak kembar mereka ternyata tak terpisahkan. Bersyukur
terlahir kembar meski kadang sebal juga.
Baca
surat cinta masing-masing, dari Eva untuk Evi dan dari Evi untuk Eva, sukses
membuat saya luluh pengen ngemil es krim cokelat campur stroberi plus kue lapis
tepung beras. Legit dan manis banget. Melelehkan hati karena seakan ditulis
dari kedalaman jiwa. Iya, saya kutipkan bagian favoritnya di sini, ternyata Evi
puitis juga sekaligus filosofis:
Chaka Pumpkin Caterpillar,
Kita telah mengalami proses yang panjang dan
berdarah untuk sampai pada sebuah penerimaan. Kita yang bertumbuh dan saling
mendewasakan. Barangkali masih sesekali terasa memuakkan jika ada yang
memperbandingkan, lebih seringnya kita abaikan. Kita yang kembar ini, acap kali
membangkitkan keinginan superior banyak orang. itu yang pernah kau katakan yang
kemudian kuaminkan. Mereka adalah yang merasa mengenal kita lebih dalam, merasa
bisa mengakrabi kita, memperlihatkan pada dunia menjadi satu di antara kita.
Biarkan sajalah, kita toh tidak pernah terpecah dan lebih sering menikmatinya
sebagai hiburan.
Kau tahu,
Kadang kita ingin memiliki dunia yang
berbeda, tak saling menjamah. Antara kita selalu ada dunia sunyi yang rapuh.
Menyisipkan keheningan agar kita sedikit merasa tak utuh. Mungkin kau pikir
karena kita ingin punya ruang sendiri. Jika kuresapi, jarak hanya membuat kita
belajar untuk mandiri. Kita berjalan di bumi yang sama, menikmati langit yang
sama, sampai nanti kita berpindah dunia. Jika sampai pada waktunya, aku tidak
mau ditinggalkan. Ah, sudahlah, memikirkannya membuat ulu hatiku terasa nyeri.
Duh,
Evi bikin saya pengen ambil tisu. Hiks. Betapa erat dan dekatnya kalian.
Persaudaraan sekaligus persahabatan yang semoga abadi. Kalian telah saling
berbagi ruang dalam rahim ibu. Lahir dan tumbuh untuk berbagi sekaligus dibagi
dunia, bagaimanapun perbedaan di antara kalian tetaplah merupakan satu:
sepasang kembar tak terpisahkan sebagai kesatuan! Ciptaan Allah Yang Maha
Rahman!
Peluk hangat dari jauh. Tabik….
Limbangan, Garut, 8 Agustus 2014
#GIVEAWAY # TwiRies #EvaSriRahayu #EviSriRezeki














