Tampilkan postingan dengan label JEDA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JEDA. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 Februari 2019

Pindah Blog

Berhubung karena suatu soal, saya terpaksa bikin blog baru. Kepada teman-teman lama yang biasa main ke blog ini, silakan mampir ke blog saya yang satunya lagi. Blog aktif dan ramai serta selalu diperbarui. Juga terima kerja sama review produk dari perusahaan atau agensi.
https://rohyatisofjan.com

Jumat, 05 Januari 2018

Parfum-parfum Aduhai



Oleh Rohyati Sofjan

SEORANG kawan, Mutiara Aryani, sambil tertawa, menceritakan acara TV yang pernah ditontonnya, tentang parfum teraneh di dunia. Dua yang menarik perhatiannya adalah yang beraroma bunga rampai dan seafood.
Saya ikut ngakak ketika ia bilang, “Dengan pikiran konyol coba bayangkan… apabila kita pakai parfum aroma kematian, jangan-jangan orang di sekeliling kita pada lari tunggang langgang, karena mengira kita jasad yang tidak diterima bumi dan ogah mati makanya gentayangan.... Atau parfum aroma seafood, jangan-jangan kalau pakai ini kita bakal disatroni kucing, haha….
Bunga rampai adalah bunga campur sari untuk taburan di makam atau kuburan. Kawan saya membayangkan alangkah lucunya jika esens dari campuran bebungaan itu dijadikan parfum. Itu akan membuat orang di sekitar pemakai parfum akan terganggu indra penciumannya lantas bisa jadi merinding.
Bicara soal bunga rampai, kala SMU, sepulang sekolah saya pernah sengaja beli sepincuk bunga rampai di pasar yang tak jauh dari sekolah. Aneka rupa kembang untuk taburan di makam almarhum bapak. Saya perhatikan ibu penjualnya menambahkan irisan daun pandan. Aneh juga, pikir saya, mengapa tidak mawar campur kenanga saja. Dan sebagai pembeli yang baik, saya diam saja. Cuma bisa bengong kala ibu itu menambahkan parfum minyak air mata duyung. Itu, loh, yang ada gambar putri duyungnya. Dan baunya minta ampun. Jadinya bunga yang sediakala hendak saya taburkan secara alami untuk makam bapak, kayak untuk sesajen saja, haha.
Dan saya tak mengira kalau peristiwa beli bunga rampai di pasar jadi topik gosip di sekolah. Rupanya ada yang memergoki saya belanja bunga rampai. Seorang teman dengan polos bertanya apakah saya suka mandi air kembang. Wah!
Hem, bicara soal aroma parfum. Anak sekolah zaman sekarang keren juga. Pagi-pagi kala berpapasan dengan mereka, merebaklah aroma bunga, buah-buahan, sampai esens lainnya yang tak saya tahu apa. Dari parfum sampai calir alias lotion. Alangkah indahnya aroma pagi kala mereka berlalu lalang.
Calir sampai parfumnya murah kok. Kadang lucu juga kalau aromanya ada yang membuat saya merasa ngiler, kayak aroma buah-buahan. Rasanya saya ingin memakan si pemakai. Terutama melon yang harumnya menguar. Bagi saya itu aroma yang aduhai.
Namun ada kekhawatiran dengan aroma parfum tertentu yang amat fruity atau juicy, bisa jadi bukan cuma bikin orang lain geregetan melainkan benar-benar ingin memakan secara konotatif. Indra penciuman bisa mengantarkan pada kejahatan.   
Jika anggapan saya itu berlebihan, sebenarnya kembali pada hakikat parfum sendiri. Ditujukan untuk apa? Sekadar pengharum badan agar segar dan lebih percaya diri juga meningkatkan relaksasi, mungkin tak apa-apa. Namun jika malah menimbulkan hal rawan, yah jangan sampai pemakainya memang lebay.
Bicara soal lebay, ada pemakai yang membuat orang di sekitarnya tak betah berdekatan dengan yang bersangkutan, soalnya semerbak banget namun dosisnya malah bikin teler atau komposisinya berat banget sekaligus tak masuk akal.
Saya nyengir kala baca suatu komentar yang beraroma chauvinistis, ia penyuka parfum Prancis dan menurutnya parfum Amerika tak masuk akal. Hem, memang Prancis jago dalam meracik aroma esens bebungaan sampai rerempahan, namun saya suka aroma Calvin Klein asal pemakainya pria. Jantan, sih, jika bercampur dengan feromonnya. Rasanya membuat saya nyaman dan ingin beredekatan dengan sang parfumer.
Entah mengapa saya suka lelaki pemakai parfum yang tepat. Ada kesan maskulin menguar dari dalam dirinya. Dan itu bisa membuat saya berdebar. Apa pun merek parfumnya, lokal atau luar, murah atau mahal dari segi harga, sederhana atau mewah; jika memang dosis pemakaiannya tepat berpadu padan dengan tampilan rapi dan perilaku sopan, rasanya nyaman.
   Ah, saya tak bisa bayangkan kalau memang parfum beraroma seafood dipakai orang, bukan cuma restoran seafood yang memakainya untuk menarik minat pengunjung, bisa jadi gurauan kawan saya benar. Kaum kucing akan ngiler sekaligus berdebar-debar mengekor sang parfumer sambil mengeong. Siap menerkam?
Dan apakah memang ada toserba yang sengaja menciptakan suatu sistem keamanan untuk mengusir pembeli yang dianggap mencurigakan, misalnya dengan memasang alat penguar parfum di titik tertentu? Maka yang stinky bekerja, seolah toserba itu jorok karena bau kakus mendadak merebak.
Saya pernah memasuki ruang operasi kala hendak bersalin cara caesar, dicat dominan biru menenangkan. Dan aromanya malah kayak di mal. Ada sensasi nyaman. Bisa membuat orang betah di dalam padahal sedang mengalami saat-saat menegangkan.
Jadi, parfum tidak cuma untuk orang saja, bangunan pun perlu didandani agar harum atau berkebalikan.***
Cipeujeuh, 26 April 2013

duhai


Membabu di Saudi



Oleh Rohyati Sofjan


 SEPUPU saya, ibu dua anak perempuan dan satu lelaki, karena alasan ekonomi memilih bekerja sebagai TKI di Saudi. Tentu ia senang ditempatkan di sebuah kota yang masih termasuk wilayah Mekah. Yang tidak ia antisipasi adalah fakta dan budaya keluarga majikannya. Hari pertama kedatangannya disambut dengan baik. Namun selanjutnya ia harus berhadapan dengan benturan kenyataan sebagai khadimat yang barangkali kedudukannya setara sebagai budak.
Sebagai khadimat di mata majikannya yang berbeda kultur, pembantu barangkali tak lebih sebagai budak belaka. Harus bekerja nonstop dari subuh sampai tengah malam. Memakai baju tradisional khas Arab berupa abaya dan burqah, yang halal terlihat cuma mata dan telapak tangan. Dan sepupu saya merutuki nasibnya yang tak terbayangkan harus sengsara sebagai pengadu nasib di negeri orang..
Ia yang pernah membabu di kota kala gadis sampai berumah tangga, harus alami culture shock yang membuatnya gagap budaya. Mulai dari bahasa sampai kultur yang berbeda. Ia yang merasa yakin akan mudah menguasai bahasa Arab karena pernah belajar kitab kuning dasar di kampung, kaget karena bahasa Arab yang sebenarnya memang berbeda. Mulai dari pengucapan yang cepat sampai bahasa sehari-hari yang asing baginya. Tentu berakibat miskomunikasi. Dan hari-hari buruk pun harus dialaminya sampai ia mengutuk hidup.
Di karantina dan pelatihan PJTKI ia telah diajari tentang hal-hal yang semestinya. Yang tidak ia pahami adalah ketakterdugaan akan beroleh majikan seperti apa. Apalagi ia direkrut seorang anak dari majikannya yang telah menandatangani perjanjian kontrak kerja. Anaknya, yang berbeda rumah, sih baik, namun keluarga majikannya... ya begitulah.
Bekerja di rumah keluarga yang termasuk masih menganut asas Arab kolot membuatnya tertekan. Majikan perempuannya seorang nenek yang cerewet dan pelit. Barangkali orang kaya merasa bisa berbuat sekehendak hati pada si miskin dari negeri “berkembang” yang bahkan tidak ia tahu ada di mana letaknya.   
Namun sepupu saya memang pejuang gigih, dua tahun lebih ia harus berkutat dengan pekerjaan berat dan perlakuan tak layak demi keluarganya. Anak-anaknya masih kecil, usia SD dan SMP. Suaminya butuh modal demi merintis konveksi tas. Belum lagi utang yang ditinggalkannya karena untuk berangkat jadi TKI butuh bekal.
Seiring waktu majikannya mulai berubah baik, meski pekerjaan tetap berat. Seperti mengangkut berkarung-karung zaitun dari bawah untuk dijemur di lantai atas, atau bahkan mengangkat barang yang semestinya dikerjakan oleh tenaga lelaki, selain tugas-tugas rumah tangga yang dikerjakannya sendirian.
Ia yang kecil ringkih beroleh berkah berupa kesadaran akan makna hidayah. Tentang hal-hal buruk yang pernah dilakukan di tanah air, dari lisan sampai tindakan. Ia yang dulu bermulut tajam dan suka bergunjing melihat cermin. Mekah adalah kota suci. Jadi ia mohon ampun kepada Allah atas dosa-dosanya, bahwa ia pernah melukai pada anak, suami, tetangga, sampai orang lain. Ia menjadikan buku harian sebagai kawan.
Di rumah majikannya, ia tentu heran karena tak ada pengajian ala tadarus Quran. Hanya ialah satu-satunya penghuni rumah itu yang pada akhirnya menjadikan mengaji sebagai kekuatan. Acara TV yang ditonton keluarga majikannya hanya berisi ceramah agama berbahasa Arab melulu. Namun lucunya dari segi praktik keagamaan, ia amati, lebih baik di kampung sendiri kala ibu-ibu berbondong-bondong menghadiri majlis taklim.
Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Ia mencoba beradaptasi menjalani hari demi hari. Ada kekuatan yang menyelubunginya. Kedekatan dengan Allah Sang Maha Pendengar doa. Sampai ia diminta menunda kepulangannya agar bisa umrah. Lalu kala mudik diminta segera kembali untuk memperpanjang kontrak kerja agar bisa berhaji musim haji kemarin. Bersama keluarga besar majikannya tentu saja.
Apa rahasianya hingga bisa bertahan dan tetap direkrut kerja oleh majikannya? Seburuk-buruknya lisan yang kita terima dengarkan saja untuk keluar lewat kuping lainnya agar tidak makan ati. Dan jangan membantah atau menimpali karena itu dianggap tidak sopan. Namun jelaskan kalau tidak melakukan kesalahan kala ia pernah alami ketidakadilan akibat suudzhan. Tetap sopan secara adab sekaligus tegas dan tidak lemah. Setidaknya ia tak alami kekerasan fisik seperti nasib babu lain yang lebih malang daripadanya.***    
Cipeujeuh, 26 Maret 2013

Sabtu, 30 Desember 2017

Menentukan Alur Hidup dengan Warna Kulit




SEJARAH naksir dari zaman ABG sampai sebelum menikah, saya ternyata cenderung menyukai lelaki berkulit gelap daripada terang. 4 pendahulu dari 5 lelakinya rata-rata berkulit sawo matang yang cenderung agak sampai gelap. Tidak terlalu hitam namun menandakan sering terpapar sinar matahari karena aktivitas di luaran. Dan disadari atau tidak, bagi saya itu memberi kesan menarik karena terlihat jantan.
Harap maklum, karena kala itu sebagai anak sekolahan, saya pun penyuka aktivitas di luaran. Merelakan kulit wajah sampai rambut terbakar sinar matahari kala berjam-jam latihan karate yang biasanya di luar ruangan. Dan kala ujian kenaikan sabuk, malah terkagum-kagum pada cowok kurus berkulit gelap pengawas ujian, bersabuk cokelat yang bisa jadi sudah mahasiswa, daripada sensei (guru karate) sendiri yang tegap, ganteng, sekaligus putih kulitnya.
Saya kala itu tidak terpikir untuk naksir guru latihan karate sendiri karena tanpa disadari menganut prinsip pantang jatuh cinta pada guru mana pun. Tapi boleh kan flirting sama yang bukan guru saya? Lucu juga mengingatnya karena ia tahu saya terus memerhatikannya, nyaris lupa pada cowok lain yang sudah lama saya taksir sejak hari pertama bertemu di sekolah, teman lain kelas yang juga sedang ikut ujian. Sama berkulit gelap, namun untuk sementara waktu terkalahkan pamornya oleh yang ber-tone lebih menarik.
Saya tidak tahu apakah kala zaman sekolah saya termasuk perempuan yang menarik di mata kaum lelaki, karena kulit saya tidak putih mulus. Dari warna asal kuning langsat jadi cokelat macam sawo matang karena aktivitas luaran. Namun kala itu saya merasa nyaman dengan diri sendiri. Bahagia menikmati kegiatan yang saya suka dan tidak memikirkan definisi cantik maupun warna kulit.
Teman saya ternyata rata-rata penyuka lelaki berkulit gelap daripada terang, pun dengan alasan lebih jantan.
Reni, sahabat saya di Bandung, yang pacaran dengan teman sekaligus tetangga masa kecil saya, dengan jujur bilang lebih suka lelaki berkulit gelap, malah mantan pacarnya hitam manis. Berbeda dengan adik perempuannya, Reni kulitnya cenderung sawo matang dan ia tidak berpikir untuk pakai krim pemutih wajah.
Saya bengong mendengar pengakuannya, ia yang pacaran dengan Tito yang kulitnya putih karena faktor turunan, ternyata punya definisi berbeda tentang tone lelaki. Dan lucunya Tito menyukai tone kulit Reni yang agak gelap dengan alasan manis banget. Sedang saya sendiri  kala itu sedang jatuh cinta pada seorang lelaki yang kebetulan kali ini kulitnya lebih putih karena faktor turunan dan pekerjaan in door.
Apakah jadi putih seperti yang digembar-gemborkan iklan itu penting? Sehingga orang mengekor definisi cantik  produk pemutih yang cuma mewah di iklan saja? Sebab selera personal seakan diabaikan. Tidak semua orang melihat kulit luar. Apa pun tone-nya yang penting sehat dan terawat.
Memang menjadi putih terlihat lebih menarik, Jadi kinclong gitu. Namun jika alam telah memberi kita tone yang tak ideal, haruskah mati-matian mengubah diri? Bahkan dengan produk yang bisa jadi tak aman.
Seorang teman dengan bangga menunjukkan krim pemutih wajah yang katanya buatan Tiongkok, salep mahal yang membuat kulitnya lebih bersinar.
Saya diam, apakah ia tidak terpikir bisa mengikis kulit luarnya atau kulit yang sudah mati dengan jeruk nipis atau lemon misalnya, yang kadang-kadang saya pakai bukan untuk sekadar memutihkan saja melainkan untuk mengatasi kulit berminyak. Lebih murah dan aman. Tidak perlu kuatir iritasi atau harus alami proses sengsara karena kulit mengelupas tanda produk sedang bekerja seperti yang dialami teman saya itu. Tidak lucu jika bibir sampai harus bengkak atau mata jadi sembab gara-gara efek pengelupasan.
Kerabat saya justru kapok gunain salep demikian, wajahnya sampai terbakar dan kulitnya jadi gelap. Ia yang ingin lebih cantik dan putih beroleh hal lain, kecantikan alaminya menghilang plus jadi lebih sawo matang yang terlalu “matang”.
Kalau sudah demikian, kecantikan dengan asas putih adalah semacam “budaya baru” yang sulit kita abaikan. Selalu saja ada penganut asas demikian di belahan dunia ini. Kita boleh saja heran, namun barangkali penganut asas tersebut bisa jadi malah akan terheran-heran kalau dipertanyakan.
Jadi, berbahagialah yang tak merisaukan warna kulit, entah dengan alasan apa pun. Karena yang terpenting kita bisa hidup bebas dari rasa terintimidasi apalagi diskriminasi.***
Rohyati Sofjan, blogger yang kini berumah di lokasi susah sinyal sehingga sulit internetan dan statusnya sebagai blogger terancam kandas ditelan jaringan

Rabu, 27 Desember 2017

Gunakan Kantung Plastik Bekas Pakai



Oleh Rohyati Sofjan


DISADARI atau tidak kita sudah terlalu boros sekaligus mubazir berkantung plastik ria. Meskipun untuk pemakaian yang sepele seperti pembungkus satu atau dua barang saja.
Melihat tumpukan kantung plastik atau keresek bekas pakai dari warung, toko, sampai pasar; saya merasa telah menzalimi alam. Menjadi partisipan perusak lingkungan.
Bisakah kita berpikir ulang, bahwa pembungkus macam-macam barang yang terbuat dari plastik merupakan bahan yang sulit diurai? Kita tahu namun masa bodoh karena terpengaruh kebiasaan. Bad habbits yang merusak, termasuk merusak diri sendiri dan keturunan.
Sekadar pengingat, sifat plastik, kemasan apa pun itu, membutuhkan waktu puluhan sampai ratusan tahun agar bisa terurai. Namun pada saat ini kita rutin mengonsumsi plastik, boleh jadi ledakan populasi sampah plastik kian tak terbendung. Menjadi episode bersambung dari tahun ke tahun, dari generasi demi generasi. Bayangkanlah bumi yang tertimbun.
Setiap ke warung, saya merupakan konsumen plastik, meski hanya untuk beli sebungkus tahu. Tahu yang terbungkus kemasan plastik malah diberi keresek, padahal jarak rumah dari warung tidak jauh. Tindakan zalim plus ikut mengurangi keuntungan pemilik warung.
Maka saya putuskan kalau belanja sedikit barang lebih baik tak usah dibungkus keresek lagi. Memberikan keresek bekas pakai pada pemilik warung agar bisa dipakai ulang, setidaknya melakukan penghematan. Atau bawa sendiri keresek dari rumah kala belanja.
Rumah tangga merupakan produsen sampah terbesar. Aneka barang hasil konsumsi berkemasan sudah menjadi bagian keseharian. Jika kita masih sayang bumi sebagai tempat tinggal, alangkah bijaknya jika turut mengurangi pemakaian plastik. (*)