Sabtu, 02 Juni 2018

[Ulas Drakor: Go Back Couple] Berdiri di Bawah Hujan



ADEGAN hujan bisa menjadi sangat romantis. Jika seorang lelaki muda yang tegap dan tampan mendadak menyorongkan payungnya agar kamu tak basah kehujanan Membuat jantungmu berdebar karena itu perbuatan yang dikategorikan jantan.
Saya sangat suka pada adegan demikian di drakor (drama Korea) “Go Back Couple”.  Pengadegannya difokuskan pada latar yang romantis dan jatuhan hujan berikut sinar matahari, serasa mengempaskan kita untuk ikut baper karena, jujur saja, itu lebay.
Napa lebay?
Yah, apakah mungkin bisa terjadi hal demikian? Hujan deras dengan cuaca yang benderang. Hujan yang datang mendadak tidak membawa nuansa muram malah sebaliknya romantis abis. Dan orang-orang aneka rupa berseliweran, tanpa atau dengan payung ragam warna, dalam gerakan slow motion alias lamban; sedang pasutri itu dengan pasangan baru dikenal masing-masing dan naungan payung hanya bisa saling pandang dengan tatapan sarat perasaan bawah sadar.
Dua orang tokoh pasutri 38 tahun (Choi Ban Do dan  Ma Jin Joo) yang terlempar kembali ke masa silam, dalam usia muda, mencoba menakar sisa rasa cintanya kala mereka dekat dengan yang lain. Sosok di masa lalu yang kala di masa kini disesalinya dan jadi pembanding; mengapa tidak berpasangan saja dengan mereka?
Cinta butuh waktu untuk menyadarkan bahwa pilihan semula memang tidak salah, yang salah adalah bagaimana memosisikan diri dalam penyesalam tak berujung.
Bagaimana sang suami (Choi Ban Do) di masa kininya terpaksa menjadi penjilat yang merendahkan diri pada orang lain demi menjaga kelangsungan ekonomi keluarganya. Sebagai pedagang obat keliling alias sales ia harus melakukan segala cara agar barang jualannya tetap laku. Dan dokter adalah sasaran utamanya agar bisa memberi referensi pada pihak rumah sakit untuk ketersediaan obat.
Budaya Korea membuat sang suami harus turut serta dalam sistem kasta sunbae (senior) dan maknae (junior). Ia adalah maknae sampai kapan pun pada para dokter itu, tak peduli dari segi usia ia bisa jadi lebih tua daripada mereka.
Dan sang istri (Ma Jin Joo) yang frustrasi karena intensitas komunikasi sekaligus rutinitas itu-itu saja meledak dalam amarah dan salah paham yang berujung pada perceraian mereka.
Bahagiakah mereka setelah bercerai?
Pada mulanya iya, namun kemudian hampa karena rasanya ada yang salah, kebiasaan telah berubah. Pokoknya segala sesuatu tidak sama lagi, dan anak semata wayang yang masih bayi seakan jadi korban ego mereka.
Lalu keajaiban datang di puncak sesal, mereka terlempar ke masa silam kala masih kuliah, 18 tahun lalu. Mereka hidup dalam wujud sosok muda namun tetap dalam pemikiran merasa tua karena ingatan akan masa depan tidak ikut terhapus. Justru ingatan itu membantu mereka untuk menentukan sikap.
Saya diajak mewek pada adegan yang memang mengharukan, tertawa pada adegan lucu, dan penasaran pada setiap pergantian akhir episode ke episode lanjutan.
Go Back Couple” sangat bagus untuk ditonton lajang maupun sudah menikah. Mengajarkan bagaimana filosofi cinta dan pernikahan itu. Kesadaran boleh datang terlambat namun jangan menyerah untuk memperjuangkan perbaikan diri. Selalu ada harapan untuk itu.


 Ada kesetiaan, komitmen, pengorbanan, tanggung jawab, kesediaan untuk memafkan dan dimaafkan, persahabatan, rukun dengan saudara, juga bakti anak pada orang tua.
Selama menonton sampai tamat (12 episode), banyak hal yang bisa saya pelajari dari relasi antarinsan. Drakor mungkin cenderung membuat penonton pada ikut baper karena yang bikin cenderung baper pula.
Inilah keistimewaan sineas Korea, ahli memainkan emosi manusia karena perasaan adalah unsur paling halus dan mendasar dalam kehidupan utama. Mereka membidik hal-hal estetik dengan kecanggihan teknologi yang mengagumkan. Namun mereka tak melupakan esensi utama bahwa manusia adalah makhluk merasa.
Karena itulah, latar hujan yang bagi kita biasa saja, terasa luar biasa dengan warna sekitar dan pencahayaan, berikut bagaimana para tokohnya berperan.
Saya kagum pada akting para pemainnya. Mereka bermain secara natural dan betul-betul melebur dalam peran. Jalan ceritanya pun bagus meski di episode terakhir terasa seperti ada pemaksaan agar drakornya usai dengan jalan keluar yang enteng.
Mengakhiri cerita memang tidak mudah. Oke, anggap saja itu hal lemah dari drakor “Go Back Couple”, namun saya bisa belajar banyak tentang kehidupan suami-istri itu sebenarnya bagaimana. Komunikasi yang baik itu bagaimana. Mempertahankan cinta itu bagaimana. Menerima kebiasaan buruk karena ada kebiasaan baik dari pasangan juga itu bagaimana. Menghadapi insan perisak yang menyebalkan itu bagaimana. Cara bersikap sebagai sahabat itu bagaimana. Seorang anak-suami-istri-orang tua-saudara-teman itu bagaimana.
Masing-masing tokoh yang terlibat di dalamnya punya peran sentral dalam cerita, bukan penunjang semata. Mereka punya kehidupan dan masalah masing-masing. Punya kesalahan dan rahasia. Namun intinya adalah bagaimana sang pasutri yang terlempar ke masa silam mencoba memperbaiki diri dan memperbaiki orang-orang di sekitarnya. Seakan kesempatan kedua itu tak boleh disia-siakan demi perbaikan diri. Bahwa momen tersebut untuk menyatukan mereka kembali agar tidak menghabiskan sisa usia dalam penyesalan tak berujung.
Film ini sangat direkomendasikan pada pasangan yang bermasalah agar menimbang ulang hubungan sebelum final untuk bubar jalan. Selalu ada jalan keluar dan pemecahan masalah, yang dibutuhkan adalah upaya dan kesungguhan hati untuk kembali menyatukan diri.



Mari kita menonton drakor ini. Sempat hits pada akhir tahun 2017 kemarin dan tak basi ditonton tahun kapan saja karena isinya sangat relevan sepanjang masa. Bahwa hubungan manusia tak mengenal konsep kedaluwarsa!
Karena konsep pasangan pada dasarnya adalah:
Seseorang yang akan berani berdiri di sisiku selamanya tanpa ragu-ragu ketika aku harus menghadapi dunia. Kami bertahan di dunia yang keras ini dengan persahabatan. (Akhir episode 12)
#Cipeujeuh, 22 April 2018
~Foto hasil capture dari filmnya pakai GOM Player



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D