HOME/RUMAH

Jumat, 23 Februari 2018

Maju-Mundur Memulai Bisnis Daring (Online)




Oleh Rohyati Sofjan

YAH, saya bimbang makanya mengambil judul di atas. Sudah lama sekali saya ingin mulai berbisnis jualan secara daring (online) sejak beberapa tahun lalu dan mendiskusikannya dengan sahabat baik saya, Mutiara Aryani, di Batusangkar yang punya niat serupa namun belum terwujud karena masalah modal.
Masalah saya, dengan modal terbatas kayak beberapa ratus ribu rupiah atau kurang, sih, rasanya bisa jalan. Namun kendala utama adalah distribusi. Iya, karena saya tinggal di sudut kampung yang jauh jaraknya dari kota kecamatan, maka untuk kirim barang dengan cara dipaketkan butuh ongkos transportasi yang lumayan mahal pergi-pulangnya.
Berapa? Ongkos ojek ke bank, kantor pos, agen titipan kilat, dan pasar; pokoknya ke arah kecamatan butuh 10 ribu rupiah sekali jalan untuk seorang dewasa saja. Kalau bawa anak seusia Palung yang 8 tahun, ada tambahan 2 ribu rupiah. Jadi, untuk ongkos PP makan 20 ribuan. Padahal ongkos kirim barang ‘kan cuma mencakup biaya paket saja, tidak termasuk yang lainnya. Itulah bisnis.
Makanya saya merasa maju-mundur tak kena-kena, hehe.
Diskusi saya dengan Tiara waktu itu belum bahas soal biaya transportasi. Cuma bingung gimana cara mengemas produk agar menarik. Yah, saya ingin memasarkan opak cipati buatan kampung saya sehingga tersebar luas ke mana-mana, alias terkenal sebagai camilan kekinian, hehe.
Opak cipati ‘kan lumayan enak, namun cara bikinnya mahal dan susah alias ribet, dan sekarang ini di kampung saya cuma beberapa orang yang bikin. 10 orang saja, dung! Itu setahu saya, karena mereka punya keahlian dan kerap memproduksi itu.
Siapa saja? Bu Eem, Bu Enok, Bu Ate, Bu Romlah, dan Bu-ibu lainnya yang saya lupa nama.
Dulu kala saya kecil, ada banyak yang bikin. Sekarang, mah, berkurang karena ada yang meninggal dan tiada regenerasi, tidak ada yang berminat jadi produsen opak meski punya keahlian karena masalah modal atau pemasaran.
Makanyaaa... saya ingin bisa melestarikan opak cipati buatan Kampung Cipeujeuh ini agar tak musnah ditelan zaman. Kalau pemasaran luas dengan bantuan saya sebagai reseller plus memasarkan di blog, Facebook, dan Instagram, mungkin produksi opak bisa kian menggeliat tidak cuma jalan di tempat sebagai produk adaan cuma untuk oleh-oleh belaka dengan wilayah pemasaran terbatas, atau ada jika hajatan dan hari raya.
Poin yang ingin saya bahas adalah:
1.      Bagaimana cara mengemas opak agar menarik dan diberi label buatan saya sebagai reseller untuk menunjukkan kualitas barang? Opak memang bukan produk tahan lama karena tidak memakai pengawet, barang dikirim usai opak jadi (disangrai sampai mengembang dan garing alias renyah). Dengan kata lain, label menyertakan tanggal kapan opak mulai diolah dari sejak masih ketan campur bahan-bahan “ajaib” (jangan lebay, cuma campuran sederhana antara air kelapa muda, garam, dan lainnya sesuai resep rahasia turun-temurun yang aman karena memakai bahan alami). Jadi, silakan santap begitu diterima dan jangan diantep alias dibiarkan lama di wadah terbuka karena bisa lembek. Mungkin opak bisa tahan lama, namun jangan dibiarkan sampai berbulan-bulan. Saya rasa sebulan cukuplah agar aromanya yang enak masih terasa. Maafkan pengetahuan saya yang terbatas karena cuma tahu sebagai pemakan opak bukan yang bikin, hehe….
2.    Bagaimana cara memasarkan opak agar orang tahu dan percaya pada kualitas barang? Yah, saya rasa nama baik reseller plus media penunjang promonya (blog dan akun media sosial lain) sangat penting. Dagang alias bisnis itu menyangkut kepercayaan. Saya bertugas untuk memastikan bahwa opaknya diolah secara baik dan hieginis sebelum dikirim ke konsumen yang pesan. Artinya, bukan enak semata namun bagaimana barang sampai sesuai harapan pemesan. Kita tak mungkin kirim barang tak layak, bukan? Mengapa? Perhatikan etika bisnis yang merupakan partikel dari etika hidup. Dengan demikian promosi dari mulut ke mulut akan terjadi, dalam artian baik tentunya.
3.    Bagaimana cara membungkus paket agar aman? Opak ‘kan mudah remuk, jadi bungkusan paketnya tak boleh asal-asalan. Ada yang tahu ilmunya? Plis, bantu saya. Makasiiih….
4.    Ini dia, masalah distribusi. Rumah berjarak jauh dari tempat vital untuk mengirim barang adalah masalah yang belum saya temukan solusinya. Gimana kalau ada yang pesan cuma seorang saja dalam minggu ini dan barang harus segera dikirim? Saya tidak tahu. Saya sadar untuk memulai bisnis dari awal butuh pengorbanan sampai pada akhirnya banyak yang pesan secara kontinyu dan itu entah kapan waktunya.
5.     Dan apa lagi yang harus diperhatikan saya atau siapa saja yang hendak berkecimpung dalam bisnis jual-ulang barang? Jadi reseller mungkin mudah karena produk sudah ada dan tak perlu diproduksinya sendiri. Namun ada kelemahan karena tidak memproduksi sendiri jadi mengandalkan stok dari pembuat. Bagaimana jika perajin opak sibuk berat dan tak bisa memenuhi pemesanan barang untuk saya? Hem, ini bikin saya lagi-lagi maju-mundur sebelum melangkah. Saya sadar harus bekerjasama dulu dengan seorang perajin tepercaya yang konsisten, dengan kata lain bersedia memenuhi pesanan dari saya selain bikin untuk pesanan orang. Padahal, pesanan dari saya awal-awalnya bisa jadi hal yang tak pasti. Ah, saya tak ingin merugikan orang lain dalam bisnis atau hal apa pun. Ada seorang perajin yang saya incar karena suaminya memasarkan dengan cara jualan keliling kampung demi kampung dan memproduksi secara rutin. Namun apa beliau bersedia joinan dengan saya? Mulanya saya beli partai kecil dulu, hehe. Belum sanggup memborong. Lagian, di kampung, boleh kok beli opak atau kolontong (sejenis opak dengan bentuk lonjong dan rasa yang lebih manis bersalut gula pasir leleh) secara sedikit alias seratusan biji.
6.    Jadi, terima kasih sudah baca sampai bagian ini, ikut merasakan bagaimana maju-mundurnya kala hendak mulai usaha. Semoga bisa membantu dengan ngasi solusi sesuai pengalaman atau pemahaman entah sebagai produsen atau konsumen. Atau ada yang berminat mulai pesan? Silakan. Saya akan senang jika bisa merintis bisnis sebagai reseller alias jual-ulang opak dan kolontong agar eksistensinya tidak mandek di tempat. 
Cipeujeuh, 19 Februari 2018  

9 komentar:

  1. Dikasih foto opaknya mba mungkin jadi tambah menarik, hehe

    Kalo bisnis yang penting yakin dan jangan ragu mba, nanti pasti berjalan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insya Allah jika dah beli smartphone soalnya ponsel zadul saya aplikasi kameranya gak berfungsi, lagian harus ganti karena dah lawas.
      Makasih sarannya. Semoga saja segala aral bisa diatasi. Sekarang coba observasi dulu sebelum benar-benar siap. Karena harus bikin perencanaan matang, termasuk ajak join perajin.

      Hapus
  2. saran saya Mbak :

    - Tiru cara membungkus cemilan yang paling mudah dan awet yang ada di Indomaret/ Alfamaret
    - agar orang tahu Buat Blog Khusus Produk Opak dan share ke Medsos dan titip ke Indomaret/ Alfamaret, warung dll
    - Agar Orang Percaya Jaga Nama Baik dan Kualitas Produk
    - Bebankan Ongkos Pulang Pergi Ke Konsumen, cara ini kurang baik namun akan membuat usaha tidak merugi
    - Yang harus diperhatikan adalah Kompetitor Mbak, cek kualitas dan harganya, trik apa yang ia Pakai

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih sarannya, Kang. Kalau untuk kemasan dengan plastik langsung ada logo mah gak bisa. Di awal mungkin plastik kemasan makanan biasa. Terus dimasukkan ke wadah plastik untuk kue bolu karena bisa jadi pengaman. Lalu wadahnya dikemas pakai dus kue juga yang ukuran bisa muat. Itu bisa mengantisipasi agar barang tetap bertahan kala ditumpuk jasa pengiriman.
      Medsos dan blog adalah tujuan utama saya karena di wilayah Limbangan dan sekitarnya (jalan lintas Nagreg) banyak yang jual itu.
      Soal membebankan ongkos, rasanya bertentangan dengan hanura (eh, ini mirip nama partai, hihi). Jadi mungkin harus siap modal dulu dan ada alasan disekaliankan turun gunungnya, kayak mau nongkrong di WIFI Corner kecamatan, belanja di pasar, atau cek isi saldo tabungan di ATM. Pokoknya alasan dan ajak anak agar gak berasa berat berbisnis.
      Kompetitor belum saya tahu. Mungkin sudah ada yang bikin dan jualan itu secara daring. Nanti saya cari.

      Hapus
    2. Soal logo buat disecarik kertas dan masukkan kedalam plastik, agar orang tahu identitasnya, sekalian masukan nama blog, Hp, Fb dan lainnya.

      Maju terus Mbak,,,pantang pulang kalau belum dapat uang. :)

      Hapus
  3. wihhhhh udah lama ngilang atau vina nya yang menjauh *eh
    wkwkwkw
    hai makkk udah lama ga beweann yaa,
    ini ide banget ni, kebetulan ada rencana mau usaha ginian.
    idenya kreatif dan jujur "sebagai pemakan opak, bukan tukang bikin" kwkwwkw

    betewe kerupuk opak itu yang kaya gimana ya -,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayanya yang ngilang, hihi. Vinanya yang tetap BW-an jadi tahu siapa yang ngilang. :)
      Baguslah jika bisa ngasi ide, hihi, iya karena sebagai pemakan maka upayain agar yang makan pun puas sebagaimana saya.
      Opak cipati itu bukan jenis yang kerupuk. Karena terbuta dari ketan dan bumbunya yang air pati (dari kelapa) maka memberi rasa gurih manis dan mengembang tanpa zat kimia macam micin apalagi soda kue.
      Nanti jika dah punya ponsel kamera akan saya pajang fotonya di postingan ini.
      Ayo bikin usaha daring, Vin!

      Hapus
  4. Ngomongin opak jadi ingat sinetron keluarga cemara, hehe. Saran saya ongkos pulang perginya itu bisa di mark up di harga jual opaknya mba. Tentukan juga hari pengiriman biar nggak boros bolak balik. Atau bikin pre order saja. Jadi jelas yang dibuat adalah yang sudah membayar. Semoga sukses mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, kalau di-mark up takutnya kemahalan, Mbak. Namun ide tentang pre-order boleh juga. Baru tahu soal ini. Makasih sarannya. Ini patut diaplikasikan dalam rencana bisnis.
      Makasih doanya, aamiin.

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D