HOME/RUMAH

Kamis, 09 Agustus 2018

Bahasa Indonesia dalam Pembacaan Seorang Tunarungu


Oleh Rohyati Sofjan

*Narablog di https://.rohyatisofjan.blogspot.co.id



Adalah hal yang melegakan jika saya bisa memahami apa yang dibaca dalam pembacaan tulisan berbahasa Indonesia. Memahami bahasa bagi seseorang yang telah kehilangan fungsi pendengaran sejak usia ± 6 tahun ternyata tidak mudah.
Saat masih kecil, ketika membaca suatu kata atau istilah yang tak dimengerti (entah dalam buku, majalah, atau koran), saya merasa terasing dalam planet sunya ketika dunia begitu ingar. Mengempaskan saya pada kesadaran akan keterbatasan. Tertatih dalam upaya untuk memahami arti dalam rangkaian kalimat. Semakin sering membaca, semakin mengertilah saya akan kata atau istilah yang semula asing. Terkadang butuh waktu lama untuk memahaminya dan mendapat arti dari bacaan lain di lain kesempatan. Terkadang pula saya hanya bisa menebak makna dari rangkaian kalimat yang ada.
Begitulah saya belajar bahasa, dan bahasa Indonesialah yang dirasa mudah untuk dipahami karena pembiasaan dari apa yang dibaca. Ketika anak lain tidak mengerti makna suatu kata sedang saya memahaminya dari apa yang telah dibaca, rasanya lebih mendingan daripada mereka yang berpendengaran normal.
Akan tetapi, sampai dewasa dan menjadi ibu satu anak, tidak selalu saya paham, kadang ada kata atau istilah tertentu yang sulit dieja, terlewat begitu saja dari memori otak saya untuk diolah, seolah kata itu kehilangan makna. Terkadang pula saya frustrasi dan merasa kebelet ketika kata atau rangkaian kalimat itu ternyata sangat sulit dipahami karena susunannya njelimet.
Hal terakhir yang sering terjadi ada dalam buku ajar sekolah. Merasa ngeri dengan kemampuan penulis buku tersebut yang kapasitas berbahasanya seolah mencerminkan kerumitan cara pikir. Teringat masa sekolah ketika wajib membaca buku ajar yang tebal atau tipis namun susunan bahasanya  sangat tak ramah, bertele-tele dan panjang. Seolah kesederhanaan dalam berbahasa sama sekali tak mencerminkan intelektualitas. Dan ternyata, ketika membantu anak tetangga bikin PR dengan membaca buku ajar mereka (SMP dan SMA), masih saja hal tersebut saya jumpai. Tak heran anak itu bingung memahaminya, apalagi saya. Tidak semua buku ajar demikian,  memang.
Saya tidak tahu apakah intelektualitas berbahasa yang menghinggapi masyarakat ilmiah itu penting bagi kaum tunarungu, sebab memahami bahasa sehari-hari yang sederhana saja sudah sulit. Seperti bagaimana cara pengucapan suatu kata, apakah ‘k’ di akhiran kata diucapkan dengan sentak atau semacam pemanis bagi suatu kata yang mestinya diberi tanda baca petik satu (‘), namun karena aturan dalam berbahasa Indonesia meniadakan itu maka kesulitanlah yang dialami saya ketika melafalkannya.
Seperti bagaimana mengucapkan kata “bentak” yang baru saya tahu ketika seorang teman malah menulis kata apa adanya dari yang biasa diucapkan. Melihat KBBI dan sadar kesulitan pelafalan saya ternyata sangat banyak karena tak bisa membedakan cara pengucapan, melafal begitu saja dari apa yang dibaca bukan didengar. Belum lagi ketidakjelasan intonasi saya. Dan bicara seolah menjadikan saya seorang alien dari planet sunya yang tidak semestinya berada dalam dunia ingar kata dan makna.
Jika bicara saja sudah susah, bagaimana dengan membaca? Bahasa Indonesia yang menurut Tendy K. Somantri dalam “Bahasa (Masihkah) Menunjukkan Bangsa?” (http://somantri.multiply.com, almarhum), mudah dipelajari orang asing karena sederhana dan apa adanya.
Namun menurut saya kemudahan tersebut tidak berlaku bagi yang memiliki keterbatasan fungsi pendengaran, apalagi mereka yang sudah sejak bayi dan tidak diajari cara berbahasa (Indonesia atau daerah) karena masalah ketiadaan fasilitas atau biaya atau pengetahuan dan kesadaran orang tuanya. Begitu miris karena hal tersebut dialami beberapa tetangga di kampung saya.
Pada hakikatnya jika bahasa Indonesia memang mudah dipelajari orang asing sekalipun, tidakkah cara pelafalannya memerhatikan pengguna yang memiliki keterbatasan panca indra? Atau dibuat semacam sistem baru yang lebih memudahkan siapa saja untuk mengucapkannya. Sebab, membedakan suatu kata dari apa yang dibaca lalu diucapkan tidaklah mudah. Lebih sering kesulitan membedakan pelafalan [e], seperti apel yang buah dengan apel yang merupakan bahasa slank anak muda untuk wakuncar (waktu [atau wajib?] kunjung pacar), dan hal-hal lainnya.
Namun, syukur, alhamdulillah, kesulitan tersebut tak menjadikan saya berkecil hati untuk berusaha mempelajarinya, meski kadang senewen juga. Dan dunia maya memberi kemudahan bagi saya untuk mengakses pembelajaran bahasa Indonesia, meski kadang bingung juga dengan cara berbahasa (gramatika sampai susunan kalimat lainnya) yang terdapat dalam suatu situs.
Tidak hanya situs saja, buku atau artikel dari suatu koran atau majalah yang sedang dibaca kadang menyulitkan saya karena susunan bahasanya ternyata amburadul. Lalu, masih pentingkah posisi editor bahasa bagi suatu media atau penerbitan? Sangat penting bagi saya secara pribadi agar logika berbahasanya tak dikacaukan amburadulisme pengguna bahasa yang seolah tak bertanggung jawab.***
708 Kata
Cipeujeuh, 19 Maret 2011
Foto SS dari  Pak Irul S. Budiarto di group FB Sastra Koran dan Majalah plus Mutiara Aryani
Dimuat di Harian Riau Pos, 15 Juli 2018


 
 

1 komentar:

  1. sangat bermanfaat mba, mugi janten manfaat kanggo baraya bandung hehehehe

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D