HOME/RUMAH

Rabu, 13 Desember 2017

Kalimat dalam Cerpen yang Saya Sukai




Cuma ingin semangat menulis saja, maka saya kumpulkan petikan kalimat dari beberapa cerpen saya yang tak seberapa. Belum bisa jadi semacam quote, cuma sekadar menikmati keajaiban rangkaian kata.  
Gayanya berbeda-beda, ada yang ngepop sampai sastra. Bergantung pada media mana ditujukan.
Selamat menyimak, semoga Anda menikmatinya.
Salam,
~ Rohyati Sofjan/Gurun ~

Tentu setiap orang punya rahasia. Dan biarkan itu menjadi misteri jika pada akhirnya hanya akan melukai. Namun kebenaran, sepahit apa pun, lebih baik diungkapkan. Meski kebenaran itu sendiri nisbi. (“Lingkaran”)
Dan di kamar berkelambu dengan beberapa bagian dari dinding gedek yang bolong-bolong kapurnya, ia melihat dunia sebagai kenyataan yang apa adanya bukan seharusnya. Mereka baru menikah sudah dihantam masalah, dan orang lainlah yang bikin ulah. Ia merasa istrinya kian hari kian lelah. Wajah itu telah berubah: seperti dipaksa menyerah namun bersikeras tak ingin menyerah. Dan ia merasa bersalah. (“Baru Menikah”)
Jadi begitulah kita saling memainkan peran. Bersahabat dan belajar, namun tetap dalam batasan formal. Dan aku menghargai caramu yang lebih suka demikian. (“Delirium”)
Ah, Kawanku. Jika kita membahas soal binatang mana yang terlamban atau tercepat, bagiku itu pekerjaan sia-sia. Alam menganugerahi kita kelebihan dan kekurangan masing-masing. Amat merugilah mereka yang tak mensyukurinya dengan pongah atau menyesali diri.” (“Binatang Tercepat”)
Ia terengah. Tubuh dan kakinya begitu lelah. Dengan waspada ia memerhatikan sekitar, adakah hal mencurigakan. Namun kesunyian menguar sebagai jawaban.Tak ada suara-suara selain deru napasnya sendiri, tak ada langkah kaki yang mengikuti. Hanya desir angin dan orkestra binatang di kejauhan. (“Ramadan di Hati Neng”)
Aku memiliki harapan, pijar yang semoga tak padam, setidaknya ada kamu yang melihat dari kejauhan dengan tatapan menguatkan. Namun diam-diam aku takut gagal dan kamu mengecamku pecundang. (“Enigma”)
Aku merasa kekuatan air yang indah itu menyakitkan untuk mengiring kenangan. Kenangan akan ibuku yang masih hidup namun jiwanya lapuk dimakan kedengkian dan perilaku buruk. (“Ibu Mawa Karep Sorangan”)
Di luar sana, adakah lelaki idaman? Tempat berbagi hidup sampai ajal memisahkan? Seseorang yang tak perlu ia jadikan korban? Terlalu menyakitkan jika kau harus membunuh orang yang kau cintai karena telah membuat kesalahan. (“Kamu Harus Mati, Zan!”)
Tanpa kata ia keluar. Mengisap tembakau dan melihat bintang-bintang. Malam begitu tenang. Sedang apa istrinya sekarang? Ia merindukannya. Tubuh dan jiwanya. (“Kemarau Tama”)
Dengan gontai ia menuju pintu depan. Betapa ia tidak ingin sampai. Kalau bisa, ia ingin melangkah mundur dan tak memasukinya sebab tak pernah menghuni rumah itu. (“Menuju Titik Nadir”)
Aku merasa jiwaku terbang, layar plasma besar berpendar buram ganti menyilaukan, segala yang kulihat hanya bayang-bayang abstrak. Suara-suara serupa dengungan, mungkin tawon atau helikopter? Dan kudengar sesuatu berdenting nyaring menerpa lantai pualam. Aku tak peduli apakah gelas wine yang kupegang jatuh tergelincir. (“Aku Telah Membunuh Orang, Hari Itu”)
Jadi saya putuskan berhenti cemas dan tak percaya peramal. Tidak juga ramalan nasib macam shio atau zodiak di bacaan mana saja. Semuanya gombal. Saya mati-matian menyangkal. Lalu sampai usia separuh baya ini saya bisa anteng menjalani kehidupan. Lupa pernah diramal. (“Baby Hunkwe”)
“Namanya Edmund,” Edna mengucapkan nama itu seolah semacam puisi, begitu melodius. Menyentakkanku kembali pada dunia real. Rupanya kami seolah mengembara dalam alur pikiran kemasing-masingan. (“Edmund Edna”)
Seperti biasa, pikirku, setelah tiga tahun perpisahan tanpa sekali pun pertemuan, ia seolah tak ingin waktu berubah! Padahal hidupku telah berubah, sedangkan hidupnya entah. (“Jannah”)
Penduduk kampungku terjerat utang. Ada banyak. Dan ibuku salah satunya. Utang tak perlu yang membuatku meradang. Ibu akan tetap berutang, dengan atau tanpa sepengetahuanku. Percuma aku melarang, ibu akan selalu beralasan, alasan bodoh yang membuatku tak berdaya. Marah pun percuma. (“Rente”)
Apa arti lebaran? Ia tidak tahu. Namun rindu itu kian menderu. Ia hanya ingin pulang untuk berkumpul dengan orang tercinta. Sama sekali tak pernah terpikir bahwa lebaran harus jadi ajang pamer dan riya. Ia justru lebih memikirkan kehidupan dan masa depan mereka. (“Seseorang Harus Pulang Sebelum Lebaran”)
Di luar kulihat matahari senja yang bundar oranye menaungi langit kotaku, seolah tepat di atas Alfamart, dan dilatarbelakangi gunung menjulang berwarna hijau kebiruan. Langit masih terang berbaur warna merah keemasan. Subhanallah! (“Suatu Senja Bersamamu”)
Aku hanya terpesona pada prosesi penumbangan pohonnya. Pelan namun pasti, bagaimana pohon besar yang barangkali usianya ratusan tahun bisa begitu saja tumbang dihajar petir, lalu ikut menumbangkan barisan pohon lain. Bagaimana kekokohannya tak abadi. (“Tumbangnya Beringin Kami”)
Ada apa dengan Sami?! Aku ingin meneriakkan itu agar gemanya terdengar Armand. Namun gema itu hanya memantul di bilik jiwaku. Aku tak kuasa berteriak. Pagi hanya menjawab dengan angin dan helaian daun gugur. Di luar taman, suara-suara kendaraan menderum. (“Armand dan Pengkhianatan pada Delapan”-Serial Kelompok Delapan #3)
Dhuha bagi Armand merupakan saat jeda agar ia beroleh ketenteraman dari galau yang selama ini meraja. Menyangkut tanya tentang masa depan dan keluarga. Di manakah kedua orangtuanya? Mereka boleh berpisah namun haruskah menelantarkannya seperti ini? Tak ada kabar apakah mereka masih hidup atau mati. (“Delapan Berkurang Jadi Tujuh-Serial Kelompok Delapan #4”)
Acara hura-hura kami terhenti. Foto-foto bareng, main air, dan musik harmonika Uji serasa tidak konstan dengan peristiwa yang terjadi. Sepertinya kami “pesta” di tempat dan waktu yang salah. Di tengah musibah. (“Delapan yang Retak”-Serial Kelompok Delapan #1)
Maka di sinilah sekarang, semobil dengan Prita yang tak ia tahu seperti apakah kepribadian aslinya. Merayakan kemerdekaan dari rasa sesaknya. Cemburu bahwa pacarnya diam-diam dicintai sang sahabat sudah di ambang batas, suatu saat bisa keluar dan meruyak. Armand takut pada dampak perpecahan kelak. Jadi ia lebih memilih mundur sebagai pengkhianat. (“Pretty Prita”-Serial Kelompok Delapan #2)
Ia datang pada pagiku yang muram, dengan senyum ramah yang tak pernah kukenal. Ya, aku tak mengenalnya. Dan terpana ketika ia mengulurkan lengannya, mengajak salaman. Seperti orang dungu aku menyalaminya juga. (“Pukau Wana”-Serial Kelompok Delapan #5)
Nir adalah dunia yang paling masuk akal, setidaknya ia telah melebur dalam spektrum kehampaan. (“Abu”)
Ia bangkit, kepalanya sakit. Juga tubuh dan jiwanya. Telinganya berdenging, ada Chopin sekonyong-konyong memainkan partitur murung, begitu menyayatkan. Kali ini ia benci musik demikian, jiwanya telah berkubang dalam kemuraman. Langkahnya terhuyung menuju sumber bunyi. Membuka pintu kaca. Tempias deras hujan dan dingin menerpa wajah dan tubuhnya. Ia melangkah ke tengah balkon. Berdiri di antara kepungan pot-pot tanaman hias dan herba yang kini ditelantarkan. Membiarkan jarum-jarum hujan menghunjam. (“Abu”)
Ia memandang sekeliling, menyadari dirinya seakan turis kesasar. Meski ia telah membekali diri dengan peta dan buku panduan, berikut googling tentang Nepal, rasanya ada yang berbeda. Perjalanan seorang diri ini seakan menapaktilasi luka. (“Abu: Napak Tilas Luka”)
Dan sekarang, pada kenyataan asin laut, Gabriel menghirup udara dengan perasaan asing. Ia mencium sesuatu yang samar, mengambang. Seperti tubuhnya diayun lautan. Aroma mautkah yang diam-diam mengintai?
Ia ingat Aceh. Ingat Nias. Ingat Yogya. Ingat sekian tempat lainnya yang diguncang gempa dan meninggalkan gelimpangan mayat-mayat binatang sampai manusia. Akankah Pangandaran digulung tsunami, ketika badai Laut Selatan membuat perhitungan tersendiri? (“Apa Makna Maut, Gabriel?”)
Dari jendela kaca di depannya, ia melihat keluar dengan perasaan mengambang. Langit begitu bersih tiada berawan, dan di luar kehijauan menghampar dari  taman yang setia dirawat istrinya. Ia tersenyum getir. Ada kupu-kupu biru hinggap di rumpun mawar. Seperti itukah kehidupan? Keindahan berjalan selaras dengan kesedihan. (“Lelaki di Persimpangan”)
Mengapa merah? Seperti genangan darah. Ingatan lain menyerbu dari berbagai arah. Minta diurai, minta diberi makna. Akan ingatan yang pada akhirnya lekang karena pemilik kenang meregang ajal. (“Merah”)
Barangkali di Stasiun Tugu ada loket dengan tiket menuju Negeri Senja yang didongengkan Seno Gumira Ajidarma. Akan ia naiki kereta itu jika memang ada; sebagai bagian kembara. Namun ia di sini dan tak bisa ke mana-mana. Menanti kereta khusus yang akan mengantarkannya menuju Negeri Barzah. Dan ia menunggu dengan gelisah. (“Merah”)
Tristan, lelaki dalam usia senjanya itu seolah disadarkan akan makna pencarian yang telah lama ia lakukan. Telah tibakah ia di batas temu bahwa hidupnya bukanlah sesuatu yang semu? Puluhan tahun ia mencari sesuatu yang bernama “temu” dengan mengarungi lautan, terkadang sendirian, agar dahaganya akan temu itu terpuaskan. (“Pelayaran Tristan”)
Ia gelisah. Menanti detik-detik azan yang seolah berabad-abad lamanya. Langit masih terang menyulam warna senja. Magrib selalu mengingatkannya akan metamorfosis kematian. Masa mudanya yang segar dan gemilang, sampai usia senjanya yang renta dan suram. Kapankah seseorang datang dari seberang lautan, sesama pelayar yang mengerti makna gelombang, membawa cahaya dan kabar gembira mengenai agama penuh salam? (“Pelayaran Tristan”)
Ia merasa terhina. Begitu cepat Run beralih setelah hampir dua tahun mampu menyamarkan ketidakberesan yang menghantam mereka. Namun haruskah ia menyalahkan Run? Perempuan mana yang rela berbagi suami dengan perempuan lain? Namun apakah ia akan rela berbagi istri dengan lelaki lain? (“Poli”)
Mata Ibrahim menerawang ke depan, angannya menengok ke belakang, ke masa di mana ia hidup dalam tatanan yang tak terpahamkan. Dan Run menunggu jawaban. Bisakah Ibrahim memuaskan keingintahuan yang penuh cabang. Kapan bisa Run hentikan, sebab hanya dia sendiri yang menciptakan? (“Rahim”)”
Tempias hujan tidak deras lagi, namun kesedihan itu masih menghantam ruang terdalam. Aku butuh kawan. Kamukah orangnya? (“Surat dalam Hujan”)
Suami akan berusaha lagi dan lagi sampai saya orgasme. Ia bahkan rela memenuhi keinginan saya jika tak puas dan ingin lagi, bukan karena tak memuaskan melainkan saya menyukai persetubuhan kami. Saya hanya suka jika tubuh kami sudah menyatu, seperti ada ikatan agar tak terpisahkan. Apakah semua perempuan menikah demikian? (“Menanti Suami”)
Tristan muncul seperti dari ketiadaan. Sekonyong-konyong yang diam. Dan aku hanya bisa terpaku di ruang tamu ini menyaksikan sosok yang masuk begitu saja tanpa salam. Wajahnya beku, ia bahkan tidak melihat ke arahku, sang tamu. (“Tristan”)
Apakah kedekatan dan rasa cinta harus selalu diungkapkan dengan kata-kata verbal macam I love you atau aku cinta padamu? Abu tidak tahu. Andai ia mudah ucapkan kata itu mungkin Rana bisa mengerti perasaannya. Namun Abu kesulitan dengan kalimat verbal, ia lebih suka perbuatan. Dan sialnya Rana tak mampu menangkap sinyal. (“Cinta Rana Mengepak Bebas”

13 komentar:

  1. Ah jadi penasaran sama konflik cerita di cerpen "baru menikah".kira -kira apa yg terjadi di atas kelambu. Eh

    Hahaha

    Lanjutkan mbaaa... kutipannya bagus2.. pgn juga baca cerpennya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha, saya lupa rasanya sudah dipajang di blog apa belum. Gak ada adegan kelambu ala bokep, kok. Becanda.
      Makasih pom-pom semangatnya. Mari menulis cerpen yang puitis, hihi.

      Hapus
  2. Dari kutipan-kutipan di atas, bisa keliatan bahwa Mbak bacaannya berat-berat ya. Jujur, dari semua judul yang tertulis di atas, tidak ada satupun yang pernah saya baca hahaha. Jadi malu, keliatan nih jarang bacanya hehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu dari cerpen yang saya buat sendiri. Justru dengan menulis semua kutipan favorit dari cerpen saya bisa tahu gaya menulis saya seperti apa. Cenderung bagaimana. Semacam warna jiwa, gitu, hehe. Makasih apresiasinya.

      Hapus
  3. Kayaknya gak ada yang pernah saya baca kak. Hehe

    Entah seneng aja kutipan "Surat dalam Hujan" agaknya sih bagus. Btw, semangat terus untuk menulis kak. Terus berkarya. hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, gak masalah. Mungkin nanti akan saya bagikan sebagai promo di froup BE.
      Rifqi juga, semangat berkarya.
      Mari.

      Hapus
  4. Dari sekian banyak kutipan cerpen, tidak ada juga yang pernah saya baca, seperti teman-teman yang lain.

    Favorti dari semuanya sih 'binatang tercepat'. Lugas namun sarat makna.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nulis dongeng itu sulit banget, Dongeng yang ditujukan bagi anak harus mudah dipahami sesuai usia mereka.
      Makanya saya harus banyak baca dngeng agar bisa belajar lebih baik. Dongeng yang saya tulis murni dari hasil perenungan sendiri tanpa plagiasi. Terinspirasi ada banyaknya cerita tentang balapan lari antar binatang jadi mikir bagaimana dengan binatang yang lanpelan jalannya?

      Hapus
  5. Kata kata yang mendalam :D baru sebagian di baca saya bokmark dulu aja kali ya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ok. Terserah bacanya kapan saja jika Kang Maulana senggang dan lagi pengen baca. Cuma jangan lupa, ya. He he....

      Hapus
  6. Itu kan kutipan dari cerpen. berarti ada full cerpen dong yang di posting, kuy ah hunting. Dari kutipan aja udah penasaran, lebaran ah sebentar lagi.

    btw aku baru sekali kesini, hallo Mba :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, met datang, Cicajoli. Makasih dah bertandang. Met baca jika sempat mampir ke sini lagi. Hatur nuhun dah ninggalin jejak agar tak ngilang. Hi hi....

      Hapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D