HOME/RUMAH

Minggu, 24 Desember 2017

Dari Reruntuk Kenangan 17 Tahun

Dari  Reruntuk Kenangan 17 Tahun

(Semacam  Autobiografi)

Oleh Rohyati Sofjan


SESEORANG meminta aku memberi kontribusi akan makna 17 tahun dalam bentuk cerpen atau catatan harian.
Aku bimbang, tulisan macam apa yang bisa kusumbang? Belum lagi keadaan finansial yang sangat terbatas ditambah batas waktu yang singkat. Kesempatan itu terpaksa kulewatkan dengan sekian sesal dan  maaf.
Uangku tak cukup untuk lebih sering ke rental dan warnet, belum lagi ada banyak hal yang harus kuprioritaskan. Maka, proyek tersebut tak bisa kuikuti. Aku tak bisa bergerak cepat seperti yang kuingin atau diinginkan orang. Fokusku  masih dicacah-cacah oleh sekian soal sampai rasanya aku tak punya ruang untuk diri sendiri. Ruang di mana aku bisa bernapas lega tanpa memikirkan apakah cukup  adil bagi orang lain yang seolah masuk dan berebut peran begitu saja.
Dan sekarang, di ruang ini, tempat di mana aku bisa mengambil jeda dari kota[k] yang menyesakkan, proyek tersebut mengendap dari ruang ingatan, mendesak agar aku menulis sesuai kata hati bawah sadar yang  sudah lama terlupakan.
Perlukah kutulis?
Sebegitu istimewakah arti 17 tahun bagi sekian orang? Lalu bagaimana dengan deret angka usia lainnya?
Usiaku 29 tahun dan aku tak bisa membual tentang cerita manis bertajuk sweet seventeen sebab sesuatu dari kepalaku lebih teringat slide film Ally McBeal di  RCTI. Ally yang panik dalam jelang ulang tahunnya yang ke 29 sebab belum menikah. Lucu, perempuan dinamis dan mandiri itu ternyata tak butuh suami selain status mapan sebagai wanita kebanyakan yang standar: menikah. 
Namun ia tak menikah. Sibuk berkutat dengan status  lajangnya. Menyeleksi sekian cowok yang dirasa asyik sebagai pacar untuk  tahap serius sampai pada akhirnya harus gagal sesuai skenario penulis skenario, sutradara, produser, aktor dan aktrisnya, dan entah apa lagi. Itu yang terakhir kusimak dari episode tahun entah.
Aku bukan Ally meski sama paniknya  dengan usia yang mengejar dan pergunjingan tentang perkawinan yang samar-samar, atau rahim yang tak segar, serta kenyataan akan anak-anak yang entah apakah akan  pernah kulahirkan.
Tak ada cowok yang asyik untuk itu. Lebih tepatnya yang benar-benar serius sebagai qowwam seperti dalam ayat 34 surat “Annisa”: Arrijalu qowwamunna alannisaa.  Selain kegagalanku dalam hal taaruf dengan seseorang yang dimulai pada  malam milad ke-29, karena ybs. lebih suka mengambil jalan bersihdengan mendiamkanku sampai aku meledak.
Itu cara sopan dan halus untuk mendepak seorang perempuan impulsif dan naif macam aku yang belajar percaya akan cinta dan cukup layak untuk dicintai sekaligus mencintai tanpa keraguan.
Tentunya saat usiaku  17 tahun, aku tak pernah berpikir akan alami hal macam ini. Hal dungu yang tak kutahu apakah layak disesali, sebab keyakinanku akan hidup sebagai semacam pilihan membuatku belajar untuk tak peduli pada kegagalan ataupun kesialan.  Akulah yang menentukan peran akan langkah mana selanjutnya.
Hal-hal buruk  kadang mengajari lebih daripada hal baik. Akan kucamkan itu.
Lagi pula, untuk apa berurusan dengan perempuan rumit dan sulit macam aku jika di sekitarnya ada banyak perempuan baik dan mudah; sesuai standarnya sampai standar keluarga dan kawan-kawannya. Standar ideal yang membuatku memutuskan pulang ke kampung halaman ibuku untuk merenungkan kehidupan dusta macam apa yang kutelan.
Terlalu banyak dusta dan aku harus memuntahkannya. Terlalu banyak soal di kota dan aku tak bebal untuk bertahan dengan kondisi finansial pas-pasan.
Baiklah, kulupakan saat sekarang. Menengok ke belakang kala napasku masih berusia 17 tahun, sekadar mengingat  masih banyak hal besar yang layak kusyukuri.
***
ENTAH kapan mitos 17 tahun didengungkan sebagai hal penting dan besar, sebab saat itu aku sempat termakan propaganda sweet  seventeen dari apa yang kulihat di sekitar, lebih tepatnya informasi salah  kaprah dari bacaan, tontonan, sampai pergaulan.
Apakah dewasa mesti mutlak ditentukan oleh ukuran usia tertentu? Punya KTP, bisa mencoblos pemilu, mengendarakan mobil dan motor dengan surat-surat sah dari kepolisian, boleh pacaran dan menikah, atau apa saja sebenarnya?
Usiaku 17 tahun, dan aku masih  berseragam SMP kelas dua kala rekan sebayaku duduk di bangku SMA entah kelas  berapa saja. Tak ada yang istimewa dari hari milad itu. Tak ada pesta atau apa saja yang layak disebut kebahagiaan sebagai penanda kedewasaan.
Hariku berjalan biasa. Aku hanya sempat menyesal tak bisa seperti gadis muda kebanyakan yang ber-sweet seventeen dengan cara standar.
Hidupku terasa konstan. Bahkan aku tak punya pacar selain diam-diam naksir seorang kawan sekelas dari pertama kali kenal -- namun sayangnya bertepuk sebelah tangan dengan alasan sederhana: aku lebih tua 3 setengah tahun darinya dan telingaku tak berfungsi  sebagaimana mestinya, tak peduli wajahku (baginya) cukup menarik (itu katanya  pada temanku).
Ironisnya, salah seorang kawan sekelas lain yang usianya 3 tahun  di bawahku, Deni Irawan (yang cakep, sopan, pintar, rajin, dan smart sampai selalu masuk peringkat 3 besar di kelas kami) ketahuan pernah menulis namaku di buku hariannya -- yang diserobot baca oleh seorang kawan perempuan kami: ia diam-diam menyukaiku untuk beberapa alasan.  Itulah masa remaja yang lugu dan ranum.  
Apakah itu buruk atau konyol?
Tiga tahun sempat vakum sekolah karena suatu soal yang sulit dijelaskan. Setamat SD biasa, setelah tak diterima di SMP biasa, aku ingin masuk SLB, namun orangtuaku tak mengizinkan dengan alasan lebih mahal daripada sekolah umum. Atau memang sebenarnya ada stigma  negatif tentang anak cacat karena mereka malu memiliki anak sepertiku yang  lebih sering ditolak masyarakat normal?
Hebat, bukan? Hidupku nyaris terhenti karena kebebalan orangtuaku dan keluguanku dalam memandang hal-ihwal kehidupan. Ini  sisi suram hidupku. Layakkah kubagi?
Saat anak sebayaku bersekolah, aku hanya bisa memandang mereka dengan rasa iri dan rendah diri. Aku tak punya arah.  Hidup seolah dimiskinkan situasi. Apalagi ayahku baru pensiun sebagai pegawai  negeri di Bandung.
Hampir menyerah, menjalani hari seolah takdirku memang cuma berpendidikan rendah dan melihat dunia sebatas isi buku, komik, koran, majalah, dan televisi. Tidak realitas. Namun apa, sih, arti realitas?
Aku terlalu muda  dan sadar akan penolakan. Tak ada yang ingin ditolak. Lalu aku belajar menolak diri sendiri begitu beban itu tak tertanggungkan lagi. Menjadikanku makhluk invalid yang sifat asosialnya suka kumat-kumatan sampai sekarang.
Pada akhirnya episode penganggur cilik mesti usai. Annisa, saudara sepupuku di kampung, akan melanjutkan sekolah di MTs. YPI Ciwangi, Desa  kami. Aku merengek pada orangtuaku agar boleh sekolah lagi. Tentu saja mereka ragu namun toh dicoba juga dengan meminta pengertian pada pihak sekolah agar aku diizinkan belajar di sana meski aku tuli dan sempat tiga tahun berhenti.
Aku diterima, barangkali dengan terpaksa. Tak mengapa, sebab aku senang sekali bisa belajar lagi seperti anak lainnya meski satu-satunya yang paling tua di kelas kami; usiaku 15 tahun kala mendaftar. Kelas kecil di sekolah kecil yang baru berdiri dan menerima murid angkatan tiga.
Setidaknya itu merupakan awal sebab orang tuaku malah menjual rumah dekat jejeran empang di kampung kami berikut rumah di Babakan Sari untuk pindah ke daerah dekat Antapani, dan terpaksa aku ikut mereka setelah kenaikan kelas. Pindah sekolah dengan kecemasan luar biasa; apakah akan diterima sekolah pilihan tersebut, belum lagi diterima dalam ruang lingkup pergaulan?
Kuceritakan bagian tersebut sebagai kelindan, sebab di SMP Muhammadiyah 8, Antapani, Bandung-lah segala cerita bermula. Mata rantai  bagi rangkaian rantai lain.
Alhamdulillah, aku diterima di sana. Sekolah kota yang multistarata-sosial. Bisakah kau bayangkan bagaimana seorang berbeda  berusaha membaur dalam lingkungan normal? Jangan dikira pendidikan inklusif itu mudah. Hanya kegigihanlah yang membuatku bersikeras untuk mempertahankan keyakinan di antara cecaran sebagai pelajar bohong-bohongan.
Seperti yang dikecam nenek temanku bahwa keberadaanku untuk sekolah di sana sama saja bohong karena faktor komunikasi. Kurasa nenek temanku benar, sebab keberadaanku cukup menyusahkan orang lain karena keterbatasanku tak bisa memenuhi standar, dan aku sering frustrasi karenanya. Betapa buruknya tak bisa memenuhi harapan orang  lain, ataupun harapan diri sendiri agar bisa menjadi anak biasa sebagaimana yang lainnya tanpa terlalu disoroti.
Untuk pelajaan yang didiktekan saja, aku terpaksa ”mencontek” tulisan kawan sebangku agar bisa mengikuti karena  keterbatasanku dalam hal oral sign atau lip reading alias membaca gerakan mulut dan bibir.
Aku mencoba belajar, bergaul, berlaku sebagaimana remaja lainnya. Namun jangan harap sikapku akan sempurna. Aku benci itu. Aku hanya anak biasa yang kebetulan kedua telinganya tak berfungsi dan berhak membuat kesalahan juga.
Apakah ada bedanya? Hidup diukur dari standar nilai dan fisik dan materi. Dan harus kujalani itu karena memang demikianlah hidup. Toh, aku terlalu muda untuk paham terlalu banyak hal yang belum kukenal akan kebenaran dunia luar.
***
JIKA ada yang bertanya, apa yang patut kusyukuri dari momen 17 tahun hidupku? Inilah jawabannya.
Saat usiaku sekira 13-14 tahun, pernah kubaca artikel di koran yang kulupa namanya. Artikel yang menyeramkan bagi  keterbatasan nalarku: perihal evolusi manusia!
Dari kera-manusia-lalu berevolusi jadi kera lagi. Artikel dungu yang membuatku kebingungan dengan proses reproduksi praremaja. Tak ada tempat untuk bertanya. Tidak juga orangtuaku.
Di halaman sebelahnya ada kolom tanya-jawab mengenai  sistem reproduksi berupa menstruasi. Aku belum mens. Dadaku rata, cuma ada tahi lalat kecil di bagian kiri atas cikal bakal payudaraku. Bahkan aku belum tahu benda bernama miniset yang mestinya belajar kupakai. Namun yang kurisaukan dari dua artikel itu adalah masalah hormonal. Sudah ada bulu halus bermunculan di sekitar tubuhku. Aku takut  tubuhku akan dipenuhi bulu pula sampai berevolusi jadi kera, haha.
Ketakutan aneh yang wajar sebab kawan sebayaku selalu bertanya apakah aku sudah mens atau belum, dan kujawab saja dengan jujur  meski respons mereka akan menyebalkan. Membuatku tambah berbeda dari gadis muda kebanyakan. Meski kuhibur diriku bahwa aku belum 19 atau 21 tahun, batas tak  wajar untuk tak pernah mens sama sekali.
Namun tak urung, seiring waktu, aku sempat cemas juga sebab dampak ketidaknormalan hormonal berupa tak pernah menstruasi itu berbahaya bagi hidup seorang perempuan. Berkaitan dengan sistem  reproduksi.
Kubawa kecemasan itu dari tahun ke tahun. Berusaha  terbiasa dengan keheranan kawan-kawan perempuan yang usil bertanya. Aku tetap  kurus, tinggiku sedang, dadaku bertambah meski masuk kategori rata karena kecilnya. Aku tak peduli dadaku meski terkadang iri pada bentuk gadis lain yang lebih indah, namun sekaligus juga ngeri dengan ukuran besar karena aku tak ingin seksi. Aku sudah cukup repot dikejar-kejar lelaki iseng lalu mereka  mundur begitu tahu aku tuli. Dan aku tak mau lebih mengundang lagi dengan bentuk tubuh yang aduhai.
Aku hanya ingin bisa menstruasi. Lagi pula, aku sudah kurus sejak bayi, konon ibuku sempat depresi kala 2 bulan mengandungku sebab ayahku diam-diam kawin lagi; anehnya aku tetap bertahan sebagai janin keras kepala agar bisa  hidup sampai sekarang, padahal ibuku sering keguguran.
Kupikir selamanya aku akan tetap demikian. Aku sedih sekali. Tiba-tiba menstruasi jadi hal besar. Aku digunjingkan karena masalah  ketidakseimbangan hormonal. Begitu pun di kelasku yang baru. Usiaku 16 tahun, 2  SMP, dan tak pernah mens!
Itu hal besar bagi perempuan. Ibuku bahkan tak bisa  kuandalkan. Jadi aku cuma bisa berdoa saja agar peristiwa besar itu terjadi.
Aku tak ingat bagaimana persisnya. Namun kejadiannya kala usiaku 17 tahun lebih, masih 2 SMP, di sekolah. Perutku sempat terasa tak  beres, sedikit kram jenis baru. Tahu-tahu rok panjangku basah di bagian belakang. Aku kebingungan. Rasa syukur campur takjub yang beraduk-aduk. Aku tak  punya pembalut.
Kejadiannya di tengah pelajaran terakhir namun darah telah  mengucur deras dan rembesannya menodai rokku. Aku bahagia sekaligus tak nyaman. Pada akhirnya Tuhan mengabulkan doaku. Namun aku malu karena seorang kawan perempuan yang mengetahui peristiwa itu malah bertindak konyol di akhir jam pelajaran sekolah, kala anak-anak yang lain telah pulang kecuali yang piket.
Ia memintaku memperlihatkan rembesan darah yang kututupi dengan sweater pinjaman teman, dan sialnya waktu itu ada guru sejarah kami, Pak Didi Rosadi, yang ikut-ikutan melihat insiden rokku dengan pandangan heran sekaligus jijik. Terpaksa kukatakan bahwa itu mens pertamaku (menarche) dan aku tak punya pembalut. Dari beliau aku mendapat pelajaran reproduksi pertama: menyarankanku untuk beli Softex, haha.
Itu insiden mensku yang paling berkesan. Aku akan  mengingatnya baik-baik meski tak terlalu ingat detailnya. Setidaknya aku tak perlu cemas lagi, tak perlu melihat ekspresi menyebalkan dari kawan-kawan perempuanku soal menstruasi. Tak masalah aku terlambat memperolehnya sebagai hadiah miladku yang ke-17. Aku selalu terlambat dalam banyak hal, namun kurasa peristiwa itu mendekatkanku pada kuasa-Nya sebagai Sang Maha Iradat.
Aku masuk SD kala 6 tahun dan saat itu terjadi musibah akan berkurangnya pendengaranku oleh sebab misterius, namun toh lulus juga kala 12 tahun. Berhenti selama 3 tahun. Masuk MTs. kala 15 tahun, lalu pindah sekolah kala 16 tahun. Mendapat menstruasi pertama kala 17 tahun. Lulus SMP kala 18 tahun lalu melanjutkan di SMU Al Fatah, Limbangan, Garut. Lulus SMU kala 21 tahun. Pernah tentamen suicide kala 22 tahun. Memasuki dunia menulis kala 23 tahun. Jatuh cinta secara platonis untuk kali ke-5 secara naif dan pertama secara dewasa kala 24 tahun --  yang mengubah arah hidupku berikut kawan-kawan dekat.
Berkenalan dengan komunitas Yayasan Jendela Seni Bandung (YJSB) yang dipimpin Kang Erwan Juhara di acara Pameran Buku Bandung (Gedung Landmark, Braga) Agustus 2001, kala 25 tahun. Mulai bekerja di toko alat listrik dan komponen elektronik kala 26 tahun. Mencoba hijrah dengan kembali berjilbab kala 27 tahun dan menyantap bacaan Islami macam majalah Annida. Mengenal lebih banyak kawan erutama di komunitas dan milis Mnemonic kala 28 tahun. Diajak taaruf dengan seorang lelaki dewasa yang sesama penulis kala malam milad yang ke-29 lewat chat di Yahoo! Messenger (namun pada akhirnya berantakan dan cuma jalan sebulan).
Dan kini, usiaku 29 tahun 8 bulan 17 hari. Di sudut kampung yang jauh dari kota kelahiran. 23.55 WIB. Aku merasa harus menyudahi  paparan ini. Paparan bernada membosankan yang berusaha kuselesaikan sebagai upaya menghargai undangan seorang kawan, meski sudah sangat terlambat sekali.
Biarlah kubagi cerita ini sebagai warna 17 tahun. Tak selalu harus berupa sesuatu yang ceria apalagi semarak, atau cinta merah muda khas remaja.
Hari ini aku bertambah tua dari waktu ke waktu. Aku tetap kurus dan serupa jerangkong. Tinggiku 150 cm dan beratku selalu kurang dari 40 kg. Begitu banyak hal yang harus kukerjakan di antara sekian rencana lain. Aku hanya percaya hidupku untuk menulis dan menulis untuk hidup.
Tadi hujan. Ada aroma khas yang kukenal. Udara segar pegunungan. Sungguh aku selalu merindukan tempat ini kala di Bandung. Rumah panggung kecil dan sederhana dengan derak lantai papan yang membuatku bahagia kala melangkah di atasnya.
Barangkali aku butuh lebih banyak unsur kayu bagi hidupku yang cenderung mengalir deras ke berbagai arah. Aku butuh keseimbangan  spiritual.
Tanah merah. Rimbun pepohonan. Hijau pegunungan. Endapan kabut. Langit luas membentang. Miliaran gemintang. Terang bulan. Serangga, burung-burung, sampai kelelewar yang bebas beterbangan. Sungguh harmoni alam yang membuatku damai dan menyatu dengan kebesaran Sang Khalik.
Aku telah melewati usia 17 tahun, entah apakah kelak bisa kubagi kisah ini pada anak perempuanku. Aku ingin jadi ibu yang baik. Barangkali lebih baik daripada ibuku yang tak bisa apa-apa untuk mengajari soal sistem reproduksi sampai hal-hal lainnya.
Ya, kutunggu itu. Seorang qowwam bagi hidupku. Seorang lelaki tegas yang bisa menarik lenganku agar berani menghadapi dunia luar tak sendiri saja. Lelaki yang membentangkan sajadah cinta agar aku bersedia menjadi makmumnya demi mengarungi lautan makrifat-Nya.
Tentunya bukan seorang lelaki yang peragu, materialistis, pesimis, atau sarkastis sampai narsis. Aku hanya tak ingin dizalimi apalagi menzalimi.
Aku selalu percaya hal-hal baik akan menghampiri pada saat tak terduga karena cinta-Nya yang besar mengarungi semesta. Meski aku  sering gagap dan dungu membaca tanda.***
Cipeujeuh, 18 Juli 2005
# Untuk Eria Widiarti dari jurnal BEN! Media Luar Biasa
      ~ Kudedikasikan tulisan ini bagi Rusi Hartati, Sri “Chie” Mulyati, Pemina ”Lei” Lely, Eka Retnosari, Siti  Mutiaraningsih, Ivy Erly Desca, Vivyani W.D., Maharani Permatasari, Euis Damarwati, Arnette Harijanto, berikut kawan-kawan perempuan di  Mnemonic. Apa makna menjadi perempuan?


   

 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D