HOME/RUMAH

Rabu, 13 Desember 2017

Etika dalam Dunia Maya



Oleh Rohyati Sofjan


PELAKU jejaring sosial dalam dunia maya kerap seenaknya dalam menulis status sampai mengomentari suatu status, bahkan ada yang vulgar secara ucapan sampai gambar atau foto yang disebarkan. Dan itu sangat menyebalkan!
Ekspresi diri yang kebablasan sebenarnya tidak hanya merugikan orang lain tetapi mencitrakan diri sebagai insan tak stabil dalam relasi antarpersonal. Hal nyata dan maya adakalanya dibuat bias oleh Facebooker. Namun apa untungnya mencitrakan diri dalam kepalsuan atau kebanalan sikap yang terstigma negatif?
Menjadi diri sendiri adalah baik, namun kalau tidak memiliki kendali diri maka akan berakhir sebagai tukang gencet atau provokator dengan omongan kasar, jorok, dan jauh dari etika; norma sosial sampai agama.
Facebook memancing kita untuk melakukan hal yang mengasyikan, pemuasan hasrat interaksi sosial dengan beragam persona, tinggal mampukah kita menahan diri untuk tidak mengeluarkan komentar pedas atau tak berfaedah. Bertengkar di suatu lapak atau ruang obrolan/inbox hanya karena berbeda pendapat atau salah paham, seakan lumrah terjadi.
Sepertinya banyak Facebooker yang menyadari betapa beroleh teman di dunia maya bukan hal sederhana. Sama seperti halnya dunia nyata, jika ada gesekan ketidakcocokan maka akan berakhir dengan pemutusan pertemanan atau blokir. Ada yang berpendapat, cara gampang dalam menilai karakter seseorang lihatlah gambar atau komentarnya di ruang status bahkan lapak status tertentu.
Memang aneh ada yang merasa mentang-mentang sedang di dunia maya maka bebas curhat atau komen atau pajang gambar/foto yang tak sedap dibaca sekaligus dilihat. Insan macam ini nilai afeksi sosialnya boleh dikata minus dan seakan mengalami gangguan psikososial akut. Semacam neurosis ketidaksadaran yang disangkalnya. Penolakan terhadap diri dan lingkungan, menunjukkan kekuatan egonya yang picik.
Sudah bukan hal aneh lagi ada yang tanpa pikir panjang langsung mengomentari suatu status tanpa dibaca baik-baik atau dicerna maknanya. Ketergesaan semacam itu sebenarnya jika terlalu sering dilakukan maka akan mengiritasi kepribadian yang bersangkutan sebagai biang kerok, penggencet,  ngomong tanpa dicerna dulu, penyinyir, mulut ember, sampai pembunuh karakter.
Mulutmu adalah harimaumu, maka janganlah hanya karena tak punya kendali akan mulut maka “sang harimau” balik menerkam tuannya. Kata-kata ibarat pedang yang akan balik menebas diri. Jagalah lisan dan tindakan di dunia maya sebagaimana membawa dan tahu menempatkan diri dalam adab keseharian dunia nyata.
Antara nyata dan maya hanya dibatasi selubung tipis berupa intensitas pertemuan tatap muka. Namun pertemuan tersebut, apa pun bentuknya, akan meninggalkan catatan amal bagi kita untuk kelak dihisab.***
Cipeujeuh, 7 Februari 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D