Minggu, 29 Desember 2013

Monolog



Monolog


     Kau ingin menulis puisi, malam ini.
Tetapi kata-kata seolah mengabur dari hidupmu
yang sepi, dan kau tak pernah mengakui.
     Kau tertawa dan melompat-lompat seolah
bahagia, padahal kau tahu semua sandiwara.
     Kau simpan luka untuk ditertawakan, padahal
kau ingin merasakan luka sebenarnya yang paling
luka, luka yang tak bisa kau tawarkan dengan
cara apa pun dan harus kau telan diam-diam,
dalam-dalam, dan pelan-pelan.
     Kau simpan kemarahan untuk kau ledakkan
di saat tenang, padahal kapan sih saat itu
menjelang. Ia hanya pelarian dari kehampaan,
dan pada akhirnya tak bisa kau kendalikan.
Seliar kucing hutan besar di malam mencekam.
     Kau selalu bermimpi berputar-putar dalam labirin
tak dikenal, pertanda jiwamu gamang.
     Kau terobsesi pada kereta sebab selalu terbawa
dalam mimpi. Itu adalah penanda perjalananmu
yang memanjang dan melingkar, bagai bentangan
rel yang mengantarmu pada ketidakpastian
di setiap stasiun harapan.
     Kau lelah dan ingin meneriaki orang-orang
memaki dunia dan peristiwa, lalu menari telanjang,
memamerkan selangkangan yang basah oleh cairan.
Kala kau terangsang dan merindukan persetubuhan
sakral dari ranjang pengantin beraroma rumput segar,
buah pinus dan aneka kembang, serta tanah tempat
kau berasal dan bakal, juga daging hidup
dengan tongkat yang menyulut.
     Kau ingin kembali pada tanah dan berharap
bersedia menghangatkan jasadmu bagai selimut
di malam kuyup dan berkabut tanpa kecamuk.
     Kau butuh seseorang untuk berbagi jiwa
dan cinta agar semua tak sia-sia.
Jelang Tidur, 12 Agustus 2001

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D