HOME/RUMAH

Sabtu, 15 Februari 2014

Pasar Limbangan



Pasar Limbangan

Oleh Rohyati Sofjan

*Penulis Lepas Cum Ibu Rumah Tangga

T
erpana kala tiba di halaman terminal Limbangan. Ke manakah gerangan pasar? Bangunan telah kehilangan atap. Ada cemas meruyak. Saya, anak, dan suami seperti musafir tersesat menyaksikan pemandangan tak terbayangkan. Pasar kehilangan wujud, hanya rangka bangunan yang tersisa. Akan dibongkar? Karena apa? Lalu ke mana semua penghuninya?
Karena lelah, saya ajak anak dan suami untuk duduk berteduh di bangku terminal. Dicekam ekstase kebingungan pada Dhuha yang riang. Terakhir kami duduk-duduk di sini kala Idul Adha, menunggu elf untuk ke Cilengkrang, Bandung. Dan sekarang, Jumat 25 Oktober, hidup bergerak cepat dalam perubahan tak terkira, bagi orang kampung seperti kami yang jarang “turun gunung”.
Kami mengobrol dengan ibu-ibu yang sedang duduk di bangku depan tentang pasar. Beliau bilang pasar telah pindah ke belakang. Kami pikir di komplek pertokoan seberang jalan. Dan setelah berkeliling di tempat itu, bingung kembali menyergap. Alhamdulillah, bertemu Ceu Tini yang habis menggiling baso di kios sana. Tetangga sekampung yang buka usaha warung baso dan gorengan itu memberitahu arah pasar. Di Lapangan Pasopati. Suami saya kebingungan. Ceu Tini bilang pada suami kalau saya tahu arahnya. Tentu saja, karena dulu saya bersekolah di SMU Al Fatah, seberang lapangan. Ceu Tini bergegas mendahului kami yang berjalan santai, mencegat sado di depan mulut Jalan Pasopati. Gesit langkahnya, seakan tak terhalang beban keranjang isi berkilo-kilo bakso giling mentah yang nanti akan diolahnya di warung atau rumah.
Saya nikmati kesempatan perjalanan ke pasar sebagai semacam napak tilas nostalgia masa sekolah. Takjub pada begitu banyaknya perubahan yang terjadi pada Jalan Pasopati yang dulu lengang dan tenang. Sebaliknya, suami saya yang bukan orang asli Limbangan merasa seperti mengarungi dunia antah, dicekam cemas akan apa yang ada di depan. Ia asing pada pengalaman saya, bagaimana saya membaginya?  Sebaliknya Palung tak peduli, bocah jelang 4 tahun itu dari kemarin merengek ingin mainan robot-robotan.
Akhirnya tibalah kami di area pasar. Terpana sekaligus terpesona. Bertemu kawan sekelas di SMU yang menyapa. Ia sekarang jadi tukang ojek. Kami bertukar kesan tentang pasar. Ternyata ia pun bingung dengan begitu banyaknya perubahan. Lapangan tempat kami pernah lari-lari keliling sampai beberapa kali putaran menjelma arena transaksi jual beli yang ramai.
Di dalam pasar seluas lapangan sepakbola, saya menemukan wajah-wajah asing, kebingungan mencari di mana gerangan kios yang biasa kami sambangi. Namun di sana pula saya bisa melihat wajah lama yang sudah dikenal, seorang kawan seperlatihan karate kala zaman sekolah  (dari SMUN Limbangan), sibuk melayani pembeli. Kios pakaiannya lebih besar sekarang. Dulu ia hanya mendapat tempat di gang pasar. Dan di lorong lain, kawan seperlatihan karate asal Randukurung membuka kios kosmetik. Saya mengenalinya meski ia telah berubah banyak, sedang ia hanya melirik sekilas saja.
Saya mencintai Limbangan meski lahir dan besar di Bandung. Kala-kanak-kanak, interaksi pertama dengan Pasar Limbangan sama sekali tak mengesankan. Hanya bangunan dengan jongko-jongko sederhana. Saat itu zuhur, seorang pedagang sedang mengemasi barang-barangnya dalam karung besar. Saya heran dengan pemandangan semacam itu. Tak ada dinding dalam setiap jongko. Sungguh jauh berbeda dengan Pasar Kiaracondong Bandung, tempat keluarga kami biasa belanja. Kemudian waktu bergulir, mulai akrab dengan pemandangan pasar kala remaja. Biasanya kalau ke sekolah (dari tahun 1994-1997) naik sado dari pangkalan Cianten, turun di halaman pasar,  masuk ke dalam lorongnya, lalu menyeberangi jalan raya untuk ke Jalan Pasopati. Pulangnya naik sado yang mangkal di halaman pasar. Belum kenal arti kemacetan di depan pasar, kala itu tukang sado belum tersingkir dari tempat mangkalnya yang digantikan jongko-jongko tumpah ruah.
Setelah pasar hijrah. Tentu ada harapan, cuma untuk sementara sampai perbaikan pasar lama selesai tepat pada waktunya (sebelum ramadhan 2014?). Ada rasa kehilangan. Sekaligus cemas karena lingkungan pasar dekat sekolah. Juga agar perbaikan pasar lama menyediakan areal mangkal untuk sado-sado, selain tempat parkir, yang tak menimbulkan kemacetan. Bagaimanapun, sado di Limbangan memiliki nilai historis tersendiri. Janganlah tersingkir lagi!***
Limbangan, Garut, 25 Oktober 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D