HOME/RUMAH

Jumat, 14 Februari 2014

Menjawab Surel "Dunia Pengarang adalah Dunia yang Egois"

Sent: Thursday, July 17, 2008 7:55:59 AM
Subject: Menjawab Surel "Dunia Pengarang adalah Dunia yang Egois"


Rabu, 9 Juli 2008
 
Saya sedang menonton Smallville di Trans7 sambil membaca cetakan surel yang masuk inbox [hidden email]. Baiklah, jika aneka komik sampai film Superman telah mengawali kosakata baru saya tentang dunia jurnalistik kala masih kanak-kanak sebagai sesuatu yang terasa hebat kemudian melambungkan pada dimensi lain: seorang wartawan super bernama Clark Kent yang pahlawan sebagai idola dunia maya; lalu pada akhirnya tangan takdir malah memperkenalkan saya pada seorang “Clark Kent” lain yang nyata, bukan manusia super melainkan orang biasa yang manusiawi. Dan kala YM-an siang tadi, ia mengajarkan sisi lain kehidupan, sisi yang sebelumnya tak pernah saya peroleh dari orang/lelaki lain. Tidak ayah, abang, rival, kawan, mantan pacar, sampai psikopat saya.
Ketahuilah, jika tak ada Clark Kent/Kal-El/Superman, barangkali saya tak begitu peduli pada dunia menulis. Mungkin tak akan berada di jalur ini, apalagi mengenal kawan-kawan tak terbayangkan. Dan saya mensyukurinya.
Namun rasa syukur itu terusik kala membaca surel Sayyid Madany Syani --“Dunia Pengarang adalah Dunia yang Egois”. Ada kegetiran di sana . Ya, seegois apa kita? Orang biasa yang (mungkin) merasa luar biasa dengan menyandang gelar pengarang/sastrawan/penyair.
Saya tinggal di sudut kampung suatu lereng gunung (atau daerah berbukit-bukit), dan merasa jauh dari hiruk-pikuk dinamika sastra berikut konfliknya. Tak tahu menahu soal acara temu-temuan. Boleh dikata kuper. Di kota kecamatan sekira 3 km kurang-lebih, alhamdulillah, ada warnet (sejak pertengahan Januari 2008). Namun itu tak menjamin saya untuk tahu banyak hal. Bahkan ibu saya pernah menentang dunia menulis dengan alasan pragmatis yang picik (sekarang sedang berusaha menyakinkannya dengan beberapa honor pemuatan). Ia bukan bagian dari kalangan terdidik. Lalu bagaimana dengan yang terdidik? Sejujurnya kebanyakan mereka tak peduli!
Sayyid, jangankan anak SMA zaman sekarang, zaman SMU saya dulu pun parah (1994-1997). Berbeda dengan masa SMP, pelajaran bahasa Indonesia di Al Fatah begitu “menghancurkan”. Saya jatuh pada titik jenuh. Materinya barangkali tak jauh beda dengan sekarang. bahkan saat ujian Ebta/Ebtanas saya lemas membaca lembaran soalnya, banyak materi yang tak diajarkan guru. Itu melampaui apa yang pernah saya peroleh. Pertanyaan tentang sastra jauh lebih sulit daripada tata bahasa. Harus menjawab pertanyaan isi buku sastra yang tak pernah saya baca bahkan tahu judulnya, menaknai puisi pula! bagian pertanyaan esai saya jawab sekenanya. Malah ada bagian mengarang yang tak saya lanjutkan karena waktu mepet, cuma bisa menulis dikit dan dengan tambahan kurang ajar: MAAF TAK MOOD MELANJUTKAN CERITA INI!
Gila, ‘ kan ?! Untung saya lulus, nilai Sosiologi lebih bagus dan menyelamatkan NEM saya.
Entah bagaimana jika ada anak SMA yang ngasal kayak saya untuk UAN?
Sayyid, jika akar masalahnya ada di sekolah (dasar-menengah), mengapa tak menerjunkan kaum kita ke sana ? Saya pun bingung dengan konflik atau klik-klikan antarkubu penulis.
Yang baru bisa saya lakukan adalah menyumbangkan beberapa buku dan majalah sastra untuk perpus SMU Al Fatah sebagai pengganti ketidakhadiran acara reuni, Desember 2007. Berikut surat pengantar untuk Ipih kawan saya yang kini jadi bidan di Puskesmas Limbangan. Surat itu malah dibacakan di acara reuni.
Ya, saya berharap langkah kecil itu berarti. Agar adek-adek kelas tak mengalami nasib apes kayak angkatan saya: miskin wawasan karena ketiadaan bahan bacaan sebagai mesiu kehidupan agar siap tempur!
Sesungguhnya kita masih bisa berbuat banyak, ya, Sayyid? Masalahnya, seberapa gigih berupaya? Apakah acara sastra tak lebih dari upacara seremoni hampa makna, cepat bergema lalu hilang kemudian? Kayak musim-musiman. Lalu, mana yang lebih penting: HASIL atau APA YANG MASIH BISA DILAKUKAN? (Mengutip nasihat “Clark Kent ”saya tadi.)
Ini Indonesia ! Hahaha….
 
Salam hangat,
Rohyati Sofjan di Limbangan Garut
www.rohyatisofjan.multiply.com
NB.
        1. Lain kali kirim surel ke alamat japri di [hidden email].
        2. Di yahoo.com (gurun_vanbandung, sobahul_lail, dan rohsophia pada kacau- balau.
        3. Untuk milis [hidden email]
        4. YM [hidden email]
        5. Salam kenal untuk nama-nama di bagian to. Ada beberapa yang tak saya kenal secara langsung maupun tak langsung. Mohon maaf jika ada ucap yang tak berkenan dan terima kasih banyak.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D