HOME/RUMAH

Senin, 03 Februari 2014

Dan Selalu Ada Jeda



Dan Selalu Ada Jeda


    Mengapa film selalu dibuat berbeda dengan isi buku/novel/komiknya?
    Forrest Gump (FG) menampilkan simpati dan kesedihan sekaligus komedi dari kemuraman lakon manusia ketika mengisi wajah dunia.
    Saat melihat akting Tom Hanks, saya sama sekali tak bisa tertawa. Tersenyum pun tidak. Sungguh jauh berbeda dengan isi novelnya yang gila-gilaan. Saya disadarkan pada sesuatu, realitas yang sublim dan menyatu: ‘the other’.
    Memang sayang di sana tak ada tokoh dan penggalan cerita sebagaimana laiknya yang Winston Groom tuangkan. Tak ada Sue, tak ada detail penerbangan ke bulan yang konyol, tak ada suku Pigmi versus suku kanibal (sungguh aneh, betapa pemakan sesama kalah dengan orang cebol pengumpul kepala, tidakkah Groom sedang mengejek para kanibal --denotasi dan konotasi -- tak lebih dari ‘raksasa’ pengecut yang menyediakan kepala mereka untuk diciutkan?!), dan tak ada adegan gila-gilaan lainnya.
    Menonton FG jauh berbeda dibandingkan dengan membacanya. Apalagi saya lebih dulu membaca novelnya -- gara-gara tertarik pada resensi filmnya di sobekan koran bekas pembungkus makanan sampai iklan novel di majalah Intisari. Rasa kecewa seketika juga meruyak. Apakah Groom pun merasakan hal serupa?
    Itu bukan kali pertama saya dikecewakan soal kualitas film dengan sumber aslinya. Saat 3 SMP, ketika perpustakaan keliling masih ngetem di Mudal, saya pernah membaca novel The Secret Garden (karya siapa ya, saya lupa nama perempuan pengarangnya?). Beberapa hari kemudian filmnya diputar stasiun TV swasta. Namun jalan ceritanya melenceng. Dan pada versi lainnya, saya tak puas. Sampai saya tonton versi yang dibintangi Gary Oldman. Benar-benar menyentuh. Lebih baik daripada dua versi sebelumnya.
    Ada banyak film yang saya tonton, meski barangkali tidak sebanyak yang Abda tonton, bagi saya film adalah sarana belajar mengamati bagaimana suatu interaksi  [berikut konflik] terjalin.
    Film adalah bagian dari realitas, bukan sarana untuk lari dari realitas. A Man Without of The Face (Mel Gibson), Road Home (Donald Sutherland), Gandhi (yang bukan dibintangi Sigourney Weaver), The Clown, The Birds (karya spektakuler Alfred Hitchchok), The Old Man and The Sea (teringat Ernest Hemingway), Copy Cat (Sigourney Weaver), Leon, The Professional, Pulp Fiction, Scissor, Die Hard, Hamlet, dan sederet judul lainnya yang saya lupa namun saya anggap bagus dan mengesankan.
    Ya, Abda, kamu benar tentang pendapatmu:  “Bahwa kita sebenarnya pernah melihat banyak hal dalam hidup kita, tapi kita selalu terjebak hanya melihat sesuatu sebagai sesuatu, tidak pernah mencoba melihat sesuatu itu dengan mata lain dari diri kita terhadap sesuatu tersebut seperti para filmaker membuat film yang berbeda tentang kehidupan manusia.” (Abda terpengaruh gaya ucap para filsuf Prancis, ya? Bahasanya panjang dan saya kasih koma J.)
    Kamu mengingatkan sesuatu, Abda, hal yang sudah lama tak saya lakukan: menonton film sebagai semacam keasyikan -- selain membaca. Saya telah melewatkan banyak film bagus: The Hours, Harry Potter, Novel Tanpa Huruf R, Boy Don’t Cry, dan entah apa lagi. Saya selalu lupa ke bioskop! Tiap tertarik pada iklan atau resensi film tertentu dan berniat menontonnya, saya begitu mudah melupakan rencana itu. Bahkan saat ikut lokakarya sastra Jendela Seni di GK Rumentang Siang lalu, niat untuk nonton Asterix menguap gara-gara asyik dapat kawan baru dan nongkrong sampi jam 5 sore sehingga movie-nya baru teringat di rumah --  saat magrib.
    CCF? Hanya alasan strategis dan gratislah yang membuat saya menyambanginya. Ya, sekalian saat survei atau beli buku/majalah, bisa mampir dan kalau tak suka pada film atau suasananya (AC yang menggigilkan), bisa cabut tanpa merasa rugi.
    Kapan CCF memutar film Iran karya Abbas Kiarostami? Atau film Aljazair dan Maroko?
    Maaf,  The Pianist tak saya tonton habis. Tak ada teksnya! Padahal keberadaan teks itu sangat penting. Terserah mau Inggris atau Indonesia (aneh juga ada yang terjemahan melayu/Malaysia).
    Film Prancis realis banget dan seleranya halus, namun untuk hal tertentu membosankan juga. Seperti alur ceritanya yang lamban dan tata cahayanya yang bikin mata capek. Sampai di adegan gelapnya bikin saya ingin menyorotkan senter  atau menyalakan saklar lampu.
    Baca kabar di koran nih, acara seni di CCF bakal dilikuidasi karena tak ada dana lagi? Saya sangat menyesalkan hal itu, padahal selain lokasinya strategis, acara di CCF banyak memberi kontribusi pada saya untuk mengenal bagaimana seni itu secara langsung dari acara yang digelar dan saya saksikan, bukan dari artikel di koran -- yang saya baca dengan rasa asing.
    Namun bisakah saya merasakan tekanan yang Alain Zayan rasakan? Dan terutama kamu berikut kawan-kawan yang sudah membentuk komunitas tersendiri di CCF de Bandung. Bagaimana dengan Jakarta dan Yogya?
    Abda, saya senang bisa berinteraksi pemikiran denganmu, meski mungkin yang lain bakal bingung kala membaca imel saya (jika dibaca), “Eh Abda nulis apa saja, kok Rohyati ngebahas ini-itu?”
    Kesengajaan saya menulis imel secara keroyokan tak lebih dari keinginan berinteraksi dengan orang-orang yang ingin saya kenal bagaimana  pribadinya namun dalam batasan yang tak terlalu intim. So, saya pikir tak ingin ada pemikiran akan suatu affair (did you LOL because I said fool?)
    Saya tak keberatan akan personalitas, karena selain ini, saya pun menulis imel panjang secara personal pada Iqbal, atau juga surat panjang yang barangkali membosankan pada Uji.
    Kini saya ingin berhenti. Berhenti melakonkan trouble maker. Berhenti berharap bisa berbagi konsep pemikiran. Jika dalam pandangan Keanan, surat saya rumit dan ada hal tertentu yang tak bisa ia jawab  atau butuh waktu lama untuk menjawabnya sehingga ia lebih suka tak membalasnya. (Dan saya tak memaksa, malah menyarankan tak usah dijawab saja karena tak ingin merepotkan.)
    Rasanya bukan dia saja satu-satunya ‘korban’ saya. Barangkali Dom pun rasakan hal serupa. Begitu pun Uji (?). Atau juga Iqbal? Baiklah, saya akan berhenti. Termasuk berhenti membeli koran edisi Minggu terbitan lokal dan nasional cuma untuk membaca rubrik sastranya saja. Lebih baik saya memokuskan diri untuk beli dan baca buku ukuran radial saja. Saya harus lakukan hal baru dalam hidup ini. Sebab saya tak merasa maju dan cerdas dengan membaca esai selain cuma rasa ingin tahu akan isu aktual pekan ini. Atau cerpen yang cuma bikin cemburu, terutama pada Eka Kurniawan dengan Assurancetourix-nya (Koran Tempo), sebab  ia pelahap filsafat. Atau pada puisi yang berkibar sementara saya mulai gagap dan enggan ‘mengoyak’ bagian terdalam, atau saya beranggapan tak ada hal dahsyat bagi kehadiran momen puitik utusan sang Dewi Puisi.
    Barusan saya membaca Perempuan yang Dihancurkan, Simone de Beauvoir. Novelet dalam novel kalau boleh disebut demikian karena cerpennya panjang dan mendetail; subjektif pada sisi lain sekaligus menuntut objektivitas pembacanya untuk ‘melebur’; murung dan pesimis; eksistensialis di satu sisi dan seolah menolak periadaan Tuhan karena segi religi sama sekali tak ditampakkan, seolah ia hanya berkutat dengan homo sapiens  saja; tragik sekaligus empatik; dan harus saya akui itu karya cerdas yang rumit untuk memahaminya dibutuhkan lebih dari sekali baca.
    Padahal sebelumnya saya tak suka filsafat karena membosankan dan penuh kontradiksi-kontradiksi pemikiran yang gamang. Saya harus bersentuhan juga, karena sudah bosan dengan cerpen-cerpen di Annida yang kadang-kadang isinya hitam-putih. Sampai cerpen Islami di media lain yang berkesan lugu atau menggurui. Seperti bagaimana seseorang bisa hijrah begitu saja dengan ‘mudah’, padahal saya harus melalui tahapan yang kontradiktif dulu sampai bertemu akhwat macam Chie yang mengubah paradigma tentang jilbab tanpa ia tahu. Betapa saya merasa bodoh karena dulu pernah terbelenggu akan ‘pakaian takwa’ yang tak  diyakini karena pemahaman agama kurang mendalam.  
    Di  acara Malam SIH Award 2002, Daus sendiri heran mengapa saya berjilbab lantas mengaitkan dengan keliaran imajinasi yang bisa terhambat. Dan saya sanggah dengan Abidah El-Khalieqy. Sebenarnya ada Dinar Rahayu juga. Namun Ode untuk Leovold Von Sacher-Masoch terselamatkan dari anggapan semacam novel Wiro Sableng sampai karya Enny Arrow (yang, maaf, saya baca saat masih 12-14 tahun), karena segi ilmiahnya (meski terasa dipaksakan karena ada tokoh lain yang paham juga soal biokimia); selain bahasa yang cukup apik meski struktur ceritanya membuat saya terganggu untuk menyelam lebih dalam karena, seperti yang pernah dikupas Darpan Ariawinangun di Khazanah ‘PR’, dibutuhkan pemahaman tentang mitos Skandinavia. Selain itu, novel Dinar mengekor gaya tutur Ayu Utami. Fragmentaris.
    Ya, Dinar bisa menulis sesks, tanpa beban (?), meski ia jilbaber. Meski Helvy Tiana Rosa kecewa dan menyayangkan. Dalam hal ini diktum Tony Morison barangkali berlaku di sini, “Biarkan imajinasimu liar tanpa beban.”
    Ah, apa yang harus saya lakukan di antara ingar bingar tabrakan ideologi. Esai Medy Loekito di Republika dan Jurnal Perempuan (7/2003) menunjukkan perspektif lain dari perempuan penulis, seksualitas yang berlebihan, sampai ‘sastrawangi’.
    Maka, Abda, tak ada jalan lain bagi saya selain menghentikan semua kegamangan akan sesuatu dengan menelaah buku-buku yang sebelumnya enggan saya sentuh. Saya butuh variasi. Menjadi cerdas tetaplah suatu tanda tanya. Dan saya juga tak malu bilang tak tahu termasuk mengakui tak tahu apa-apa pada suatu pertanyaan yang diajukan (sebab saya juga tak ingin menutup kesempatan untuk belajar dan menyerap ilmu dari lawan bicara).
    Atau, ketika Monique yang impulsif penasaran bertanya pada Dr. Marquet apakah dirinya pintar. Lalu ia mendapat kesimpulan, “Ya, pasti: tetapi kepintaran bukan suatu kualitas dengan eksistensi independen: ketika aku terus-menerus meraih obsesiku, kepintaranku tidak lagi kumiliki.” (The Woman Destroyed, Simone de Beauvoir: 2003.)
    Demikianlah, Abda, apa yang saya tahu dengan menjadi ‘manusia cerdas’: kita bisa cerdas untuk suatu hal namun di lain hal bisa bodoh juga. Tidakkah kita berpikir di balik isi tempurung kepala kita, terkadang kita melakukan hal-hal yang tak termaafkan.
    Maka saya harus berhenti. ‘Milis’-nya sampai di sini.

Epilog
~   Terima kasih untuk semua. Untuk persahabatan dan waktu Anda, juga  untuk menyadari bahwa saya masih lugu akan suatu nilai interaksi sosial: ada rambu-rambu yang harus saya pahami.
~   Kutunggu novel otobiografimu, Abda. Undang saya ya, dan beritahu jauh hari agar siap [maaf, anggaran literalnya takut keburu habis sebelum waktunya].
     Selamat menjelajah juga, Kawan! (Dengan dua jari tangan ‘menembak’ ala Lucky Luke )
~    Halo Lasya, bagaimana rencana penerbitan antologi puisimu?
~    Uji, suratnya sudah dibaca ‘kan? Maaf terpaksa saya titip pada kawan Abda di CCF untuk disampaikan pada Abda. Saya berharap Kamis itu bisa jumpa kamu juga di pementasan teater Musuh Masyarakat, Hendrik Ibsen. Saya datang telat karena sebelumnya tak yakin akan nonton sebab sepulang kerja ibu lagi pergi dan pulang jelang isya. (Bagaimana ia mendapati rumah kosong dan anak perempuannya keluar malam tanpa permisi?)
      Kamu punya pilihan untuk tak menjawabnya. Don’t worry, Dear.
~    Dear Iqbal, I lost words and nothing to say.
~    Matdon, semoga Anda tak menyesal pernah mengenal saya. Saat seseorang ingin jujur, ia meluangkan waktunya meski malah berakhir dengan kekonyolan atau omong kosong murahan. Ada yang salah dengan esai itu.. Saya seolah menelanjangi Anda. Saya tak mengenal Anda seakrab Abda dan yang lainnya dengan Anda, jadi saya berusaha menjadi  ‘orang luar’  tanpa beban. Kalau pun saya telah menjatuhkan, bisakah insiden itu membuat Anda bangkit kembali. Berkarya dengan percaya diri sekaligus selektif. Ataukah opini saya tak lebih dari hal remeh belaka? Atau sesuatu yang tak termaafkan? Tiba-tiba saya ragu untuk jadi kritikus.
~  Kang Erwan, lebaran ini saya memilih di Bandung. Sikonnya tak memungkinkan untuk mudik. Capek dan boros, lebih asyik berlebaran bareng kawan-kawan lama.Barangkali bulan depan ziarah-nya.
      Entah apakah saya akan mengirim kartu lebaran seperti dulu pada Akang dan keluarga sebagai semacam silaturahmi. Saya senang jadi orang dewasa (meski tak bisa sepenuhnya mengubur ingatan kolektif tentang masa kanak-kanak yang pahit), namun saya sadar untuk jadi dewasa dalam artian yang sesungguhnya bukanlah hal yang mudah.
~   Saya tak bisa mengulas Saya Tahu, Saya akan Mati, di Laut. Atau akan berakhir dengan format esai Senja yang Bercerita, Seno Gumira Ajidarma yang masih payah sebagai esai. Saya masih harus belajar!
~    Penggunaan internet belum optimal benar selain untuk kirim tulisan, imel, cari info, kadang-kadang chatting (terakhir kali chat di #antituhan diskusi soal agama, filsafat, Heiddeger, Simone de Beauvoir, Sartre, eksistensialis yang dianggap paham orang minder, nasib TKW, Fatima Mernissi yang menanggalkan jilbabnya karena diskriminasi fikih, kaum fukaha  yang kebanyakan dikuasai lelaki; dengan PINK’ FLOYD dan Monyet Jelek -- sialan mereka, kaum Shakesperean!). Saya ingin selancar di www.ut..ac.id. Suatu saat kelak, jika sudah mapan dan waktunya memungkinkan, saya ingin kuliah di Universitas Terbuka, ambil Sastra Indonesia. Wallahu a’lam.
~  Maaf, selain untuk memberi napas pada Abda atau siapa saja yang barangkali kelimpungan dengan sekian imel yang masuk, September-Oktober kemarin saya ikut lomba menulis artikel yang diadakan PLN dan kirim opini lebaran untuk majalah Muslimah. Sayangnya saya kalah lomba, artikelnya terlalu simpel atau pragmatis. Begitu pun dengan LMCPI VI Annida, Sinta Yudisia memang mengagumkan.    
~   Majalah Annida formatnya tambah bagus, dari isi sampai perwajahan: bervariasi dan full coluor! Jadi ‘sejuk’ baca sajak Lasya yang dimuat Annida No. 1/XIII/2003. Latar hijau daunnya pas banget. Kapan Horison menyusul, ya? Monoton, tuh. (Punten, Kang!)
~   Di balik kegagalan dan kekecewaan, masih juga Tuhan berbaik hati mengirim perantara-Nya, lagi-lagi saya dapat kiriman buku (komik DAR! Mizan, Hati yang Berbinar)  dari majalah ‘alimah untuk kuis yang Oktober kemarin saya ikuti. Padahal saya belum baca majalahnya, suka telat terbitnya (kayak Horison juga). Alhamdulillah, saya anggap kado milad ke-28 bulan ini. Tuhan baik banget, ya, habis tiap November Dia selalu memberi saya kejutan tak terduga, sejak 2000 lalu; entah pemuatan puisi, antologi puisi bersama Jendela Seni, menang lomba menulis, sampai hadiah kuis. Saya bersyukur masih diberi kepercayaan untuk hidup selama ini. Dan bulan ini genap setahun saya hijrah, semoga saya, sebagaimana Anda semua, senantiasa dalam naungan Hidayah-Nya. Amin 3X.
~   Ternyata bikin komitmen tak baca koran Minggu susah juga, bagaimana saya bisa tahu karya kawan-kawan yang sedang berkibar, seperti sajak Uji tadi (16/11). Rugi rasanya kalau terlewatkan. Sajakmu murung, Ji, namun saya takut mengartikannya sebagai sesuatu yang khusus, ke-GR-an deh saya kalau ternyata itu bukan ditujukan sebagai ‘berbalas puisi’. Bukan karena ‘samar’ melainkan, sebagaimana saya, tentu ada banyak ‘orang’ dalam hidupmu?

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1424 H
Minal Aidin Wal Faizin
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Wassalam,
Rohyati Sofjan




tendy somantri Snippet unavailable
Nov 17, 2003
Iman Abdurrahman Snippet unavailable
Nov 18, 2003
Me
To Iman AbdurrahmanILesmana@kraftasia.com
Nov 25, 2003
Halo Penyair,
Meski milisnya dilikuidasi, bukan berarti kita tak akan kontak lagi. Silakan saja kalau Abda ingin kirim imel, baik yang personal atau 'keroyokan'; terang maupun gelap, akan kubaca dengan suka cita. Cuma aku terpaksa berhenti milis-milisannya, I think must.
Begitulah, Penyair, aku pun belajar mencintai puisi sebagai puisi bukan sebagai aku yang sepi; meski aku memang sepi.
Sekarang lebaran, barusan aku keliling menemui beragam kawan lama. Apa kabar lebaranmu, Bung?
Jangan lupa beritahu aku jauh hari untuk launching novelmu. Insya Allah aku akan coba hadir dan mengapresiasi.
Demikianlah hujan November, aku cinta hujan.
Sobahum magribi.
Gurun

Iman Abdurrahman <bogalakon_tea@yahoo.com> wrote:
'aku tidak cinta puisi, puisi cinta aku'
begitulah yg pertamakali ingin kukatakan padamu. Kata-kata itu mungkin tak terlalu penting bagimu tapi tidak bagiku. Menjadi penting karena selalu saja puisi hadir dan memaksaku untuk dibacanya, mereka begitu sangat mencintaiku. Mereka berbondong-bondong mendekatiku dan memberi salam padaku. Bila suatu ketika kau berjalan ke sebuah toko buku dan buku-buku itu mencintaimu, mereka akan ngantri padamu untuk dibaca. Entah kapan mungkin suatu ketika. he..3x
email yg panjang kadang lebih menggairahkan utk dibaca walaupun bisa jadi juga membosankan. 
rohyati sofjan yg baik dan gemar menulis serta membaca ingin aku bisikan padamu 'referensi (tentu, dalam sudut pandangku kini) bukan pilihan untuk menulis.' Menonton banyak film, membaca banyak buku, menjelajah banyak kota, menelusuri banyak gang sempit, mendaki banyak gunung, mendengarkan banyak musik, untukku bukan untuk referensi dalam menulis. Bukan, bukan untuk itu. Kulakukan banyak hal dalam hidupku karena aku mencintainya. Aku ingin jadi diriku yang Aku cintai, kamu cintai, teman-temanku dan sahabat-sahabatku cintai, orangtuaku cintai, dan Tuhan cintai. Apa yang lebih berharga yang bisa kita bagi selain cinta? Mungkin doa tapi itu pun karena cinta.

Salam + Sekarung Doa "Semoga kita diberi keselamatan dan kesehatan"

Iman Abda

NB: Tidak penting lagi likuidasi milis atau tidak bagiku yang penting bagiku dalam mengenal teman-teman adalah untuk belajar mencintai. Bukan kah begitu seharusnya hidup.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D