HOME/RUMAH

Sabtu, 15 Februari 2014

Karena Haris Tak Mau Tidur Siang



Cerpen Rohyati Sofjan



Bagi Haris, tidur siang itu sangat membosankan. Ia sungguh ingin meneruskan permainannya dengan teman-teman di luar dan tak diganggu lengkingan suara Ibu lalu menggelandangnya pulang agar tidur siang. Haris merasa sudah besar, tak perlu lagi rutin tidur siang.
Ibu akan marah jika Haris tak tidur siang, kata ibu tidur siang itu penting karena tubuh butuh istirahat. Dengan tidur siang, segala aktivitas untuk nantinya akan lebih segar. Harus Haris akui apa yang Ibu katakan benar, namun Haris malas tidur siang, lebih tepatnya malu digelandang pulang. Haris pernah protes tapi Ibu bilang kalau tidak diingatkan Haris akan lupa diri sebab tak disiplin. Ibu tak akan menggelandang Haris asal bisa pulang tepat waktu untuk tidur siang. Dan itu yang tak bisa Haris lakukan.
Seharusnya Haris sadar, kalau ia bosan digelandang apa Ibu juga tak bosan? Namun Ibu memang baik dan sabar, hanya memanggil Haris lalu mengajaknya pulang dengan lembut di depan teman-teman, tidak seperti ibunya Juan yang galak dan suka membentak-bentak, pakai acara jewer telinga segala kala menggelandang Juan pulang untuk tidur siang. Haris dan kawan-kawan sampai ngeri melihatnya. Ibu Juan tinggi besar, gemuk lagi, apalagi Juan yang paling bongsor di antara mereka.
Tidak semua teman haris tidur siang, kalau berkumpul dalam permainan mereka suka lupa diri. Ada Dito yang akan pulang dengan sukarela karena katanya mau tidur siang dulu, capek. Cuma Haris dan Juan yang sering abai sampai harus digelandang.
Mengapa Haris tidak meniru Dito? Anak itu rajin dan disiplin.
Sekarang Haris sengaja tak tidur siang, asyik main di empang bersama kawan-kawan, mencari ikan di empang yang sedang dikuras isinya. Ibu tidak terlihat, mungkin kebingungan karena Haris mainnya dengan anak-anak lain di luar kompleks, masih merupakan teman sekolah. Ibu pasti marah karena main tak bilang akan ke mana, Ibu tahunya Haris main dengan teman-teman sekompleks, kayak Dito cs. Ibu pasti tak mengira Haris akan keluyuran, lebih tepatnya sengaja keluyuran agar bisa menghindar dari kewajiban tidur siang yang menyebalkan.
Hari menjelang asar ketika Haris pulang dengan riang, membawa sekeresek ikan segar pemberian Diwan, hasil menguras empang engkongnya tadi. Sempat makan siang bareng keluarga besar Diwan, juga kawan-kawan. Haris pikir Ibu mungkin akan marah karena main tak bilang ke mana dan tak pulang untuk tidur siang. Namun Haris harap Ibu senang melihatnya membawa ikan.
Haris tiba di rumah dan heran melihat keramaian, ada apa gerangan? Para tetangga hanya memandang. Membiarkan Haris masuk ke dalam.
“Ibu!”
Ternyata Ibu tak apa-apa, yang apa-apa cuma Kak Salsa, kata Pak RT di ruang tamu ini, ia ternyata jatuh dari sepeda ketika hendak menjemput Haris di empang. Ada motor slebor menyerempet sepedanya dari arah belakang. Lutut dan sikut Kak Salsa cedera, untung ia memakai helm khusus bersepeda jadi kepalanya tak apa-apa. Namun kaki kiri Kak Salsa harus diperban karena patah. Syukur ada yang banyak menolong dan segera membawanya ke klinik terdekat. Haris hanya diam. Ia lesu memandang kakaknya yang berbaring di kursi Cellini yang biasa merangkap ranjang di depan televisi ruang keluarga, dirubung kawan-kawannya. Bungkusan plastik berisi ikan serasa tidak sebanding dengan apa yang dialami kakaknya. Kak Salsa yang baik pasti marah sekali, apalagi Ibu. Juga Bapak. Haris sangat menyesal. Hanya berdiri mematung, menunggu hukuman untuk apa yang telah ia lakukan. Main jauh tak bilang-bilang hanya agar bisa menghindar dari kewajiban tidur siang, tak sepadan dengan apa yang menimpa kakaknya hingga celaka. Haris merasa egois.
Sebuah tangan menyentuh bahunya. Haris menoleh. Rupanya Ibu. Haris segera memeluk pinggang Ibu, “Maafkan Haris, Bu.”
“Ibu sedih,” kata Ibu. “Lain kali kalau mau main mesti bilang-bilang dulu agar kakakmu tak ikut kelimpungan mencari. Kami menguatirkanmu, Haris. Untung ada yang melihatmu sedang di empang luar kompleks, jadi Ibu suruh Kak Salsa untuk menjemput, tapi malah celaka. ”
Haris cuma bisa menunduk lesu, tak berani membalas tatap Ibu.
“Mana ikannya?” Kak Salsa malah berteriak. Haris mengkeret ketakutan. Akan diapakan ikan atau dirinya? Kak Salsa hanya nyengir melihat ekspresi Haris. “Sudah, jangan takut, mana ikannya? Kakak ingin segera digoreng Bik Lina, lebih segar lebih enak.”
“Kakak tidak marah?” tanya Haris takut-takut.
“Siapa yang marah? Marah dikit iya, kamu itu kecil-kecil berani ngabur, pasti gara-gara ogah tidur siang. Marah dikit lagi iya, pada bocah SD sebayamu yang enak saja naik motor tanpa didampingi orang dewasa hingga nyeruduk Kakak. Untung Kakak tak apa-apa. Kalau apa-apa mungkin Kakak sudah koit, hehe....” Seperti biasa Kak Salsa yang kelas 1 SMU nyante menanggapi kejadian yang menimpanya. Seolah itu hal lumrah. Namun Haris merasa getir. Kakaknya yang perempuan itu memang tegar, mandiri, lucu, dan tak banyak cingcong hingga disukai orang-orang. Tidak seperti dirinya yang suka ngeyel. Haris merasa jauh, jauh sekali untuk bisa menjadi anak yang baik dan tak merepotkan.
Ibu mengelus kepalanya dan berkata, “Semoga kakakmu lekas sembuh, Haris.”
Haris hanya mengangguk. Menyerahkan bungkusan ikan pada Ibu dan menghampiri kakaknya untuk minta maaf, memeluknya dengan hangat. Haris berjanji dalam hati untuk tak mengulang lagi apa yang telah dilakukannya. Ia akan tidur siang dengan sukarela agar tak ada lagi anggota keluarganya yang celaka.***
Cipeujeuh, 20 Februari 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D