HOME/RUMAH

Sabtu, 01 Februari 2014

Menuju Titik Nadir



Menuju Titik Nadir

Wajah Iskandar semuram mendung di luar taksi tumpangannya. Perpaduan kemarahan dan penyesalan, juga kesedihan dan kepedihan. Tidak! Ia tak semestinya menerima kabar yang menghancurkan tentang dirinya dan Ryana. Kehamilan Ryana, istrinya, yang kesekian dan sudah sangat lama mereka nantikan ternyata berbuah petaka. Hasil tes darah yang dilakukan untuk memeriksa apakah akan ada gangguan dalam kesehatan dan kehamilan Ryana, menunjukkan istrinya positif mengidap virus HIV! Iskandar merasa disedot ke dalam pusaran badai dan tak tahu jalan keluar. Ia seolah bocah yang ingin pulang namun tak sampai-sampai.

Cerpen Rohyati Sofjan


Ia mengingat adegan dalam ruang pemeriksaan ketika dengan tenang sekaligus hati-hati Dokter Laksmi Rakasiwi memaparkan ketakterdugaan soal hasil tes darah bahwa Ryana…. Ah, mengingat kilas-balik itu Iskandar kian dihunjami rasa bersalah. Ia tahu dari mana muasal virus itu. Ialah yang menularkannya! Tidak mungkin Ryana -- yang bersih dari pengkhianatan.
Waktu itu Ryana terguncang. Iskandar cuma diam. Ia juga diam ketika Ryana meneriakkan penyangkalan.
“Itu tidak mungkin, Dok! Saya bersih, bukan pemakai narkoba, juga tak pernah menerima transfusi darah. Apalagi zina….” Napas Ryana tersengal dalam satu tarikan panjang. Lengan kiri Iskandar dicengkeramnya. Dan sorot mata Ryana itu, ah, Iskandar begitu membenci diri sendiri, betapa terekam penyangkalan dan kepedihan yang begitu dalam.
Dokter Laksmi hanya tersenyum. “Soal itu saya tidak tahu, namun barangkali Tuan Iskandar bersedia….” Ucapannya menggantung, ia mengalihkan pandangan pada Iskandar yang hanya diam.
“Katakan padaku, Iskandar, apakah kamu penyebabnya?” Ryana mengguncang lengan suaminya yang semula dicengkeram, dengan keras. “Kumohon.”
Senyap mengambang selama beberapa saat. Bagi Iskandar udara seolah sengak dan ia terperangkap.
“Barangkali,” jawabnya pelan. Begitu pelan dan berusaha menatap mata Ryana untuk tahu reaksinya, namun tak kuasa.
“Namun bagaimana?” kejut istrinya.
“Aku,” Iskandar menghela napas. Berat. Kehilangan kata, kata terbaik yang sering ia lontarkan dalam presentasi rapat perusahaan sekalipun.
Ryana mendengus. Lalu, “Ini bukan menyangkut soal kamu saja!”
“Aku tahu,” sesal Iskandar.
“Dan?” Nada suara itu, o, begitu tajam.
“Dan… aku telah melakukan kesalahan.”
“Kesalahan yang berimbas pada orang yang mencintaimu, juga janin dalam kandungan ini….” Suara itu mencapai taraf kasar, sesuatu yang jarang Iskandar dengar dari mulut istrinya, yang ia tahu penyabar sepanjang kebersamaan mereka selama ini.
Ia betul-betul marah, pikir Iskandar. Dan ia berhak untuk itu. Sedang aku? Pesakitan dungu lagi gagu. Seorang pendosa tak berharga.
“Sialan kamu, Iskandar!” sentak Ryana lalu bangkit dari kursinya. “Kita bicarakan ini di rumah. Sebaiknya kamu naik taksi.” Dengan kasar direnggutnya kunci mobil yang tergeletak di atas meja. “Saya pulang dulu, Dok. Sampai jumpa pada pertemuan selanjutnya. Terimakasih banyak, dan maaf…,” Ryana mengangsurkan tangan pada Dokter Laksmi yang hanya bisa terpana. Sungguh, meski sedang mengalami berbagai krisis, baru kali ini ia bertemu dengan seorang pasien yang begitu tenang dan tegar. Hanya matanya saja yang disaput kabut luka mendalam. Ia tak menangis, seperti ada sesuatu yang ditahan.
Namun disalami juga pasiennya dengan kagum dan seulas senyum. “Hati-hati di jalan, Bu.”
“Dan kamu, Iskandar,” suara Ryana penuh cekat, “sebaiknya bicarakan semua dengan dokter jika masih punya keberanian sebagai seorang lelaki sejati….”

“Saya biseks,” kata Iskandar kemudian. Setelah istrinya lama pergi, setelah ia diam untuk entah berapa lama dengan kepala tepekur ke lantai, setelah dengan sabar Dokter Laksmi mengingatkan. Dilihatnya raut wajah dokter itu. Ah, begitu datar, dan cuma memberi anggukan pelan.
“Sudah periksa darah juga tes kesehatan lainnya?”
“Belum,” gelengnya lemah.
“Anda tahu risikonya?”
Iskandar hanya diam. “Barangkali,” akhirnya, “namun saya tak mengira akan bisa seperti ini.” Ia sungguh menyesal. Sangat menyesal.
“Kita akan lakukan pemeriksaan menyeluruh, sekarang juga. Jika Anda tak keberatan sebab lebih cepat lebih baik.”
Iskandar hanya mengangguk, “Ya. Namun istri saya bagaimana, Dok?”
“Kami akan cari jalan. Butuh pemeriksaan dan perawatan menyeluruh juga. Anda tahu itu akan makan waktu dan butuh  biaya besar. Belum lagi janin dalam kandungan istri Anda berisiko ikut tertular.”
“Saya tahu, namun bukan itu yang saya inginkan.” Ia hilang kendali dalam kebingungan. Matanya terasa memanas oleh gelombang perasaan yang menghantam. “Sungguh!”
Hanya anggukan yang diberikan dokter. Seorang profesional kepada pasiennya. Dan Iskandar menyadari batas-batas kapasitas dalam relasi antarpersonal. Batas yang mendekatkan sekaligus berjarak.
***
Akhirnya ia tiba di rumah, setelah meminta taksi berputar-putar tanpa tujuan sekadar penundaan. Dilihatnya mobil Kijang Innova mereka diparkir di halaman, di luar garasi yang pintu dorongnya masih terpentang seperti tadi. Ryana sudah pulang. Ia membayar taksi sesuai tarif argometer. Dan udara di luar taksi betul-betul sengak seperti akan ada badai. Dilihatnya langit dipenuhi arakan awan kelabu. Bumi masih berputar dalam rotasi yang dikenalnya, rotasi yang kadang ia abaikan. Namun ia tahu badai yang sesungguhnya ada di dalam rumah yang akan dimasuki. Sungguh, ia tak ingin memasuki wilayah “badai” itu, namun ia harus. Ada kekuatan angkuh yang menyeretnya untuk itu. Kekuatan dari kesalahan bertahun-tahun lampau yang tak ingin dikenangkannya.
Pintu pagar masih terbuka. Ia menutupnya sebagaimana kebiasaan yang sering dilakukan agar rumah tetap aman. Namun apakah akan membantu sebab ialah penjahat yang telah merusak ketenangan rumah hunian mereka.
Dengan gontai ia menuju pintu depan. Betapa ia tidak ingin sampai. Kalau bisa, ia ingin melangkah mundur dan tak memasukinya sebab tak pernah menghuni rumah itu. Rumah yang asri bergaya mediterania dipenuhi rumpun-rumpun mawar, beberapa di antaranya membentuk pagar merambat di atas pergola. Warna merah muda sesekali menyembul membiaskan aroma harum yang segar di antara pucuk dedaunan. Iskandar tidak tahu apa nama latinnya, ia bukan arsitek seperti istrinya yang penggila jenis tanaman hias terutama bebungaan. Boleh dikata, halaman depan selalu beraroma bunga. Aroma tajam yang kadang terbawa angin ke dalam rumah mereka. Dari mawar, kenanga, cempaka, melati, sampai sedap malam dan entah apa lagi.
O, betapa silam belasan tahun ia dan Ryana telah menghuni dan merawat rumah itu. Dan belasan tahun lewat segalanya mesti berakhir seketika. Hanya karena ia, ya, hanya karena ia memilih jalan yang menyesatkan: jalan penuh kutukan ketika ia takluk atas nama syahwat. Sesuatu yang dianggap sebagai penyimpangan, atau perbuatan abnormal bagi orang yang merasa masih punya moral.
Semua karena Randy McLane, kawan sekamarnya kala kuliah di Sydney University demi mengambil gelar master untuk bidang periklanan. Waktu itu ia masih hijau untuk mengenal dunia kampus sebagai anak dari negara berkembang yang terdampar atas beasiswa perusahaan. Randy yang mengenal baik Indonesia dan sering berkunjung ke Bali, banyak membantunya. Ia sendiri mengambil gelar master untuk bidang jurnalistik. Iskandar, karyawan cemerlang asal dusun pedalaman, benar-benar tertarik dalam pusaran kebaikan Randy tanpa tahu ada udang di balik batu. Ia menganggap Randy sebagai sahabat tak tergantikan. Bulan demi bulan berlalu, mereka kian akrab dan tak terpisahkan. Sampai semua terjadi saja, sesuatu yang mengubahnya. Randy mengajak berlibur di suatu rancah luar kota, liburan yang mengesankan bagi Iskandar sebab ia bisa melihat langsung seperti apa tanah pertanian dan peternakan di Australia itu sesungguhnya. Namun di tempat itu pula, Randy melakukan sesuatu yang tak pernah dibayangkannya. Sesuatu yang mengubah hidupnya sampai sekarang. Semua bermula dari sentuhan kala mereka tidur dalam satu ranjang. Ranjang yang cukup sempit untuk memuat dua orang. Randy yang pelan-pelan “menggerayanginya”, Iskandar semula berontak namun kalah tenaga. Ia menyerah pada bisik rayu Randy dan gelombang getaran yang mulai dirasakannya. Terkutuklah ia. Terkutuklah Randy. Sampai pada akhirnya Randy berterus terang akan kegayannya. Ia membujuk agar Iskandar menjadi something special-nya. Pada mulanya Iskandar enggan dan mual. Namun bukan Randy namanya jika tak berhasil menaklukkan sesuatu yang diincarnya. Tak peduli di Indonesia Iskandar telah bertunangan dengan Ryana.
Randy, di mana ia sekarang? Setahun silam Iskandar berusaha berhenti dari dunia gay itu sejak Randy, kekasih gelapnya, tak lagi berkabar. Hasrat itu kadang menggelegak, tak peduli Ryana sang istri setia mendampinginya tanpa pernah tahu sejarah hitam Iskandar. Ya, dua belas tahun mereka menikah tanpa dikaruniai anak. Iskandar ingin berubah  meski terkadang ia takut punya anak dan menjadi ayah. Setahun ini ia mencoba memperbaiki diri begitu timbul kesadaran akan makna bahwa pada suatu hari manusia harus tampil sebagaimana adanya. Kesadaran yang barangkali terlambat sebab ia malah menularkan bibit penyakit pada diri sang istri. Dulu Ryana pernah hamil, sampai tiga kali namun selalu keguguran. Dan pada kehamilan ke empat, akankah Ryana, juga sang janin, selamat? Baru kali ini Iskandar sadar betapa rapuhnya kehidupan. Ia ingin bertobat.
Ia memasuki rumah dengan langkah setengah mengendap. Sungguh ia takut pada kemungkinan Ryana akan menyerangnya dengan apa saja. Atau mencacinya. Atau, atau, atau…. Iskandar merasa pening dan kepanasan. Akhir-akhir ini ia merasa tidak sehat namun semula beranggapan barangkali karena tekanan pekerjaan. Apakah sekarang ini karena virus yang bercokol di tubuhnya telah mencapai tahap ganas? Ia tidak tahu. Dulu ia kurang peduli soal itu. Ia tak berganti-ganti pasangan selain pada Randy dan Ryana. Namun apakah Randy, yang sampai sekarang tetap melajang, setia? Bagaimana jika Randy sendiri telah lama tertular virus itu? Iskandar ngeri.
Ia tak melihat Ryana di ruang tamu, tidak juga di ruang tengah. Namun ia mendengar suara gedebuk benda jatuh di ruang kerja merangkap perpustakaan mereka. Perlahan ia menuju sumber suara di arah paling belakang dekat taman. Pintu kaca  ruang kerja terpentang lebar, dari pintu itulah ia melihat Ryana sibuk dengan laptopnya di antara tumpukan buku tebal yang tampak baru. Ia tidak tahu buku-buku apa itu. Angin kencang dari kipas gantung menerbangkan tirai tipis dari pintu kaca yang sama terpentang lebar menghadap patio dan taman, ikut mengembus anak rambut di kening istrinya yang diikat ekor kuda. Ah, ia masih tetap muda dan cantik dalam usia jelang kepala empat. Betapa kemudaan dan kecantikan itu akan terenggut oleh sesuatu yang tak semestinya. Dan dosa itu, Iskandar harus menanggungnya sebagai beban selama sisa hidupnya yang entah sampai kapan.
“Ry….”
“Kamu sudah pulang?” Ryana sama sekali tak memalingkan wajah dari laptop tersebut.
Iskandar tidak tahu harus bagaimana. Apakah kepulangannya tak diinginkan? Apakah Ryana ingin agar Iskandar segera menyingkir dari hidupnya, dari rumah kebanggan mereka?
“Ry, aku… aku… menyesal.” Ia tetap mematung di ambang pintu, hanya beberapa langkah saja dari kursi oval Cellini tempat Ryana duduk di antara laptop dan tumpukan bukunya. Ia mendengar Ryana mendesah. Menggumamkan sesuatu yang tak jelas, serupa rapal doa.
“Tadi aku berkeliling dari toko buku ke toko buku demi mencari literatur mengenai HIV/AIDS, juga beberapa buku mengenai motivasi hidup dan keagamaan….” Kali ini Ryana memalingkan wajahnya ke arah Iskandar yang memandang dengan penuh sesal. Ada diam yang asing di antara mereka.
“Bagaimana tesnya?”
“Aku belum tahu, Ry.” Iskandar melihat bahwa mata itu seperti habis memeram tangis.
“Kemarilah,” Ryana melambai sembari menunjuk ke sampingnya. Iskandar ragu, namun demi dilihatnya kesungguhan sang istri, Iskandar terpaksa mendekat. Duduk di sisi kursi dengan segan.
“Masih ingat Rebbeca Watson rekan kerja Randy McLane?” Pertanyaan itu serupa guruh. Didengarnya guruh yang sebenarnya meledak di angkasa. Tentu ia kenal Beck yang pernah diajak Randy menginap di rumah mereka dalam rangka peliputan berita.
“Beck bilang bahwa Randy kemarin malam meninggal karena,” Ryana seperti sengaja mengambil jeda namun matanya tajam menghunjam wajah Iskandar seolah hendak mengelupasi dalam irisan tipis, “virus HIV yang sudah sampai taraf AIDS!” Ryana menyodorkan laptopnya, di sana ada surel dari Beck untuk Ryana.
Gemetar Iskandar menerima laptop itu. Ia kian pucat  membaca kalimat demi kalimat Beck sebagai jawaban atas pertanyaan Ryana barusan.
“Yang aku tahu tentang Randy denganmu hanyalah sepasang sahabat tak terpisahkan, namun lama-kelamaan aku mencurigai kalian. Entahlah, Iskandar, naluriku yang bilang. Sebagai istri kupikir kamu aneh karena ada saat di mana aku merasa kamu tidak seperti biasanya jika bersama Randy….”
“Ryana….”
“Namun aku mencintaimu, terlalu mencintaimu untuk…, untuk…. Ya, Tuhan, apa yang kulakukan? Aku tak mencegahmu, apalagi bertanya padamu!” Tangis Ryana pecah seketika.
Ia amat terguncang, begitu pun aku, pikir Iskandar dengan mata basah. Kematian Randy di luar dugaannya. Randy yang cerdas dan ramah, yang supel dalam setiap pergaulan serta selalu tampil gagah. Begitu cepat maut merenggut hidupnya. Randy yang tak ingin Iskandar tahu selama setahun ini sekarat digerogoti “karma” perbuatannya. Randy yang ternyata seorang petualang cinta. Bisakah Iskandar percaya?
Ryana masih terguncang dalam sedu-sedan. Itulah sebabnya mengapa di ruang praktik tadi ia bisa agak tenang, sekarang ia hilang kendali karena naluri bawah sadar seorang istri pada akhirnya menemu jawab meski sudah terlambat.
“Aku takut, Iskandar!”
Iskandar menjawab ketakutan Ryana dengan merengkuhnya dalam pelukan yang erat dan ikut menangis bersama. Ia pun sama takutnya, barangkali lebih takut. “Aku mencintaimu, Ryana, maafkan aku…,” sesal itu seolah sia-sia. Di luar guruh kembali meledak seolah langit pun murka. Angin kencang kian memainkan tirai, memberi bebunyian asing beserta dingin. Namun Iskandar merasa terbakar.
“Aku ingin janin dalam perutku tetap hidup, aku ingin tubuhku tak digerogoti virus laknat,” erang Ryana. “Aku benci kamu, Iskandar keparat!” tamparnya histeris. Lalu luruh kembali dalam pelukan lelaki yang selama dua belas tahun ini tak lebih dari seorang pemain sandiwara gagal. Iskandar merasa tamparan itu tak berasa apa pun bagi jiwanya yang hampa.
Hujan turun pelan-pelan. Kemudian menderas dan menderas, beserta gelegar guruh yang keras. Di luar, taman tampak kelabu dan muram. Di dalam, sepasang insan berpelukan dalam tangis penyesalan. Ada sesuatu yang belum usai.***
Limbangan, Garut, 10 Agustus 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D