HOME/RUMAH

Sabtu, 04 Januari 2014

Puisi: Refleksi Jiwa atau Permainan Kata?



Esai


Puisi: Refleksi Jiwa atau Permainan Kata?

Oleh Rohyati Sofjan



M
enurut Rendra; sebuah karya seni yang bagus atau bernilai hanya akan lahir jika di dalam karya seni tersebut mengandung kekuatan batin, isi pikiran dan perasaan. “Pendeknya bukan hasil rekayasa, yang diada-ada. Jika seorang seniman terjebak oleh rekayasa, dan mengabaikan kekuatan batin, isi pikiran dan perasaan, niscaya karya yang dibikinnya itu tidak memberikan nilai apa pun yang berguna bagi apresiatornya. Karya itu hanya sampah belaka. (Pikiran Rakyat, 24/10/1999)
            Menurut Soni Farid Maulana, “Sebuah puisi ditulis harus berangkat dari pengalaman hidup yang dialami secara konkret.”
Akan tetapi, ketika saya meragukan arti puisi karena sering merasa terjebak oleh permainan kata, Soni menyanggahnya, “Puisi itu bukan permainan kata. Puisi adalah ungkapan hati. Mencari kata yang tepat hanya merupakan sarana bagi ungkapan hati. Sebuah puisi indah karena ada bahasa figuratif.”
Bahasa figuratif?
“Bahasa metafora atau imaji,” jelasnya, lalu memberikan contoh.
Ketika saya berbicara soal artikel yang saya buat. Soni menyarankan agar saya jangan dulu menulis artikel. Dengan kata lain, belajar menulis puisi adalah belajar menguasai bahasa. Setelah lancar mengusai bahasa, logika, baru artikel. Sebab di dalam artikel, menurutnya, selalu ada logika yang signifikan dengan kehidupan dan teks (bacaan) yang dijadikan referensi. Nah, menulis puisi belajar juga tentang logika.
Demikianlah percakapan saya dengan Soni Farid Maulana, di ruang tamu kantor redaksi Pikiran Rakyat, 24 Mei 1999 lalu. Percakapan itu ternyata memberi arti bagi wawasan saya tentang puisi. Terus terang, saya sering dibingungkan dengan arti puisi, sesara esensial. Berapa banyak teori tentang definisi puisi yang saya baca lalu menguap begitu saja. Meski Samuel Johnson bilang, puisi adalah seni menggabungkan keindahan alam.
Atau Tendy K. Somantri, memberi definisi lain tentang puisi: “Awalnya dari rasa, kemudian mengalir melalui pembuluh-pembuluh merayapi relung-relung dalam bilik perenungan. Lalu, lahirlah kata demi kata, memancar deras untuk menonjok rasa dan perenungan lainnya. Itulah puisi! Terangkai lewat kata-kata ‘sakti’ bernuansa magis, juga melankolis.” (Galamedia, 15/8/2000)
Baiklah, barangkali saya harus terus berproses untuk mencari arti puisi secara alami dari aneka bacaan  dan pengalaman yang saya jumpai dalam perjalanan hidup yang penuh teka-teki. Bagi saya, puisi itu refleksi jiwa. Akan tetapi, refleksi tersebut bisa menjebak dalam permainan kata. Mungkin itu sensasi dari puisi. Kita bisa mencurahkan segenap perasaan dan pikiran dalam kalimat yang bercita rasa, atau gagal sama sekali.
Akan tetapi, apakah puisi itu harus indah? Penuh dengan kata-kata yang melodius, liris, bahkan sentimental? Bagaimana jika proses penciptaan puisi itu tak selalu “menghanyutkan”? Bisa saja kreatornya berada dalam mood yang amburadul. Lantas menciptakan kalimat atau tema yang sarkas, satir, berkesan verbal, jauh dari kata puitis, vulgar, bahkan liar.
Dalam “Sutardji” (Orba, 1998), Jeihan dengan nakal bermain kata, Seorang lelaki sambil buka baju/ berteriak lantang:/ Aku Sutardji Calzoum Bachri/ Turunan bangsa bahari/ Ini dadaku.// Dari kejauhan sekelompok anak/ berteriak:/ Itu tidak lucu, tanpa susu!//
Puisi mbeling  yang ditulis oleh Jeihan, jika dilihat sepintas, mungkin hanya permainan kata, tetapi mengapa Jeihan menjadikan Sutardji sebagai subjek? Pasti ada maksudnya. Entah untuk meledek penyair Sutardji Calzoum Bachri dengan humor ala Jeihan, atau ada maksud lain: Sutardji adalah simbol dari penyair mana pun, yang ketika bicara (baca: membacakan puisi), tidak selalu dimengerti, dikecam, atau jadi bahan olok-olok alias respons negatif dari audiens. Wallahu a’lam.
Mungkin (atau memang) hidup jadi penyair itu tidak mudah. Akan tetapi, mengapa minat orang untuk jadi penyair tak pernah surut? Media massa pun semakin membuka ruang untuk berpuisi ria -- selain di jagat maya. Belum lagi berdirinya berbagai komunitas sastra di seantero nusantara. Jika demikian, puisi memang tak pernah mati. Ia selalu ada, hidup, dan menghidupkan jiwa manusia agar lebih manusiawi. Tak peduli apakah mereka mengerti definisinya.
Apakah menulis puisi itu mudah?
“Menulis puisi itu sesungguhnya sulit,” kata Soni Farid Maulana. Dengan jam terbangnya yang cukup tinggi (dari tahun 1976), boleh jadi Soni tak main-main dengan perkataannya. Ada makna signifikan dari ucapannya. Tentunya bukan hanya seorang Soni saja yang mengalami hal demikian, penyair macam J.E. Tatengkeng pun mengakuinya.
Atau lebih jelasnya, menurut Abdul Hadi W.M., “Menulis puisi itu tidak mudah. Pengetahuan dan pengalaman semakin pelik, untuk bisa dinyatakan dalam sajak menuntut batasan yang lain lagi. Sedang untuk menangkap momen kreatif juga tidak gampang, sebab momen-momen itu justru datang ketika kita belum siap.” (Proses Kreatif, hlm. 190)
Ya, tiap penulis puisi pasti mengalami hal semacam itu. Siapa pun dia.
Positif dari puisi itu ada. Kita bisa mengeluarkan aneka rasa. Dari yang menyenangkan sampai menyebalkan, kebahagiaan sampai kekecewaan, kepasrahan sampai kemarahan, rasa syukur sampai frustrasi, dan entah apa lagi. Mungkin puisi bisa menjadi terapi kejiwaan bagi orang-orang yang cenderung frustrasi?
Mungkin saya tak bisa hidup dengan puisi, tetapi sensasi saat menulis puisi tak bisa dinilai dengan materi. Ada kepuasan jiwa tersendiri. Jadi, apa salahnya menulis puisi?!***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D