HOME/RUMAH

Sabtu, 11 Januari 2014

Farmer Blues



Farmer Blues


/Teringat sawahku

(I)
Aku hanya seorang petani, kataku pada pria tambun
yang hendak meminang sawah dengan wajah tak ramah.
Dan aku hidup menghidupi dengan tanah yang kugarap
dengan butiran keringat tak terhingga, air mata dan cinta.
Lalu apa hakmu untuk menyingkirkan kehidupan yang kujalani
secara turun temurun. Bukankah seperti butiran gandum
yang dihasilkan petani benua mana sama ada harganya,
seperti kau lihat buliran padi yang merunduk dalam aura
keemasan di rembang petang.

(II)
Mungkin kau masa bodoh dengan kami,
bagimu kami petani bau lumpur dan tanah lembab
aroma dedaunan. Namun kami mencangkul
dengan batin nanar, saat semua orang bilang
tanah air subur dan makmur. Namun mana kesuburan itu,
jika kami tak dapat apa-apa. Hanya tanah dan airlah
yang kami miliki. Kemakmuran hanya omong kosong
jika nasib kami tak pernah berubah, tetap dililit
himpitan kemiskinan. Gemah ripah loh jinawi
hanya slogan para birokrat yang tinggal sikat,
siap santap. Lalu buang hajat.

(III)
Dan kehidupan inikah yang diwariskan dari generasi
ke generasi. Kemerdekaan tak beda dengan zaman
penjajahan. Kami tetap sengsara dililit rodi.
Kekayaan terlalu jauh dalam hirupan peluh,
campur anyir tanah yang menjelma darah.
Dan kami pertaruhkan semua; kulit legam,
mata rabun, tulang ngilu, hanya untuk tanah
yang rasa-rasanya tak menghasilkan apa-apa.
Jika jerih payah kami untuk orang kota yang terlalu
sibuk membangun pemukiman, cerobong limbah.
Lalu di mana sawah berdiam dalam damai,
tanpa diusik sesiapa yang ingin menjadikannya bangkai
kerontang. Hanya lapangan golf yang begitu subur
dan makmur dalam tatanan kehijauan.
Apa kita cuma bisa hidup dari lapangan golf,
yang cuma membiaskan elegan kaum berkantung tebal.

(IV)
Aku hanya seorang petani, kataku pada pria tambun
yang mendengus seperti banteng mabuk siap menyeruduk
dengan tanduk kesewenangan. Namun bukan berarti
aku pasrah. Maka, dor! Dor! Dor!
Seperti Rambo atau Django, kulumuri tubuhnya
dengan rentetan pemberontakan. Namun inilah perjuangan,
darah sesiapa yang harus tumpah.

#Bandung, 22 Agustus 1999

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D