HOME/RUMAH

Jumat, 03 Januari 2014

Film dan Buku dalam Perspektif Penonton



 


Film dan Buku dalam Perspektif Penonton

Oleh Rohyati Sofjan


K
etika salah satu stasiun TV swasta akan menayangkan novel yang telah difilmkan, saya menyambutnya dengan antusias. Dalam benak saya, film yang dibintangi Tom Hanks dan meraih Oscar itu pasti sama dahsyatnya dengan novel Forrest Gump tersebut.
Nyatanya saya kecewa berat. Dari awal sampai selesai tak ada kedahsyatan yang sudah saya bayangkan. Bahkan, saya tak bisa tertawa sama sekali. Mungkin bagi orang lain film tersebut menggelitik saraf tawa, namun yang saya rasakan parodinya menghilang, sangat berbeda dengan novelnya. Satirenya lebih satiris, hanya saja membuat giris.
Yang saya rasakan kesepian semata. Akting Tom Hanks yang berperan sebagai Forrest Gump memang bagus dan hidup. Tak ada gambaran orang idiot savant biasa, boleh dikata Gump memang luar biasa. Termasuk sangat polos, lugu dan lucu, sekaligus mengharukan. Apakah memang demikian gambaran orang terbelakang seharusnya? Berbeda dengan idiot mongol atau moron atau imbesil; yang bahasa kasarnya orang cacat mental.
Saya seolah diseret sebagai Gump. Betapa dunianya terasing dari sekitar. Dikejar-kejar orang berengsek untuk diganggu sehingga terpaksa lari, tanpa henti, sekencang-kencangnya melintasi pagar, lapangan rumput, jalan, sampai lapangan football, hingga ke rumahnya tempat yang dianggap aman. Menuruti apa kata Jenny Curran, “Lari, Forrest!”
Apakah itu lucu?
Yang jelas sebagai orang yang merasa senasib dengan Gump, sulit bagi saya untuk tertawa, sama halnya ketika membaca novel Aki (Balai Pustaka, 1950) dan semua cerpen dalam Dari Ave Maria sampai Jalan Lain ke Roma (Balai Pustaka, 1948) keduanya terbitan lawas. Idrus menggambarkan satirenya dengan satir. Realistis-humoristis, menurut Jassin. Kisah Aki yang bergulat melawan malaikat maut, sampai orang-orang kalah di antologi cerpen Dari Ave Maria sampai Jalan Lain ke Roma.
Mungkin dalam humor terdapat kepahitan, atau dalam kepahitan terdapat humor tersembunyi maupun terang-terangan. Namun inilah hidup: kehidupan yang sesungguhnya senantiasa menyajikan serbaneka peristiwa paradoksal.
Kontraskah isi cerita film Forrest Gump dengan novel aslinya karya Winston Groom (dialihbahasakan secara ringan dan segar oleh Hendarto Setiadi)? Membaca buku dan menonton filmnya tentu sangat berbeda. Dalam film saya bisa melihat secara hidup daripada imajinasi, sebab adakalanya kita kesulitan membayangkan sesuatu yang tak pernah diketahui bentuknya. Seperti The Secret Garden (Taman Rahasia) karya Frances Hodgson Burnett yang saya baca waktu SMP, berikut filmnya beberapa bulan kemudian. Pensuasanaan (setting) bisa membantu imajinasi yang terasa mandek. Maklum sebagai bukan orang Inggris saya tak tahu cara hidup mereka. Meski, terus terang, jalan cerita dalam novel dan filmnya berbeda. Ada 2 atau 3 versi film yang saya tonton, salah satunya dibintangi Gary Oldman dan itu lebih menyerupai pakem novel aslinya.
Atau dalam The Jungle Book, Rudyard Kipling; inikah hutan India yang sebenarnya? Namun Kipling yang masa kecilnya tidak bahagia, membagi kebahagiaan bagi orang lain dengan karyanya. Dan tentunya Kipling yang begitu Inggris mencintai India -- tempat di mana ia lahir dan besar -- hingga membuahkan karya monumental sepanjang zaman dan menarik untuk difilmkan (dalam berbagai versi). Meski dulunya, sepanjang hidupnya Kipling dan keluarga dikecam habis-habisan, dianggap terlalu mengagungkan (kolonialisme) Inggris Raya.
Akan tetapi, tak setiap film sama dengan karya aslinya. Bisa saja yang di film lebih baik daripada novel aslinya, namun tak selalu demikian. Bagi pembaca fanatik yang lebih dulu membaca novel aslinya, bisa jadi akan kecewa berat jika disodorkan realita sangat berbeda daripada yang diketahui sebelumnya.
Saya tidak tahu apakah pembaca novel Forrest Gump yang membaca karyanya lebih dulu kecewa begitu menonton filmnya, atau penonton film tersebut heran begitu membaca karya aslinya. Sebab, terdapat perbedaan-perbedaan yang entah mengapa harus dibedakan.
Yang jelas dalam film yang disutradarai Robert Zemeckis, sama sekali tak ada tokoh Miss French, Profesor Quackenbush, Sue sang orang utan, Mayor Janet Fritch, Big Sam dengan suku Cargo Cult-nya berikut suku pigmi yang jadi musuh bebuyutan mereka, Mister Tribble, sampai Raquel Welch. Tak ada adegan jadi astronaut NASA, syuting film di Hollywood, gulat, sampai permainan catur segala. Singkatnya, film tersebut tidak seheboh novelnya. Apa boleh buat, Robert Zemeckis dkk. telah menentukan hal lain untuk filmnya. Terasa membumi dan sederhana, memang, namun sama sekali tak parodi. Boleh dikata sepi. Kasarnya sentimental.
Waktu film itu sedang ramai-ramainya dibicarakan, saya masih duduk di bangku kelas 1 SMU dan tinggal di suatu kota kecil yang tidak ada bioskopnya (Limbangan, Garut), untuk menonton ke kota besar (Bandung) pun pasti diveto orang tua. Namun hasrat untuk mengenal siapa Gump tetap terpendam sampai akhirnya 5 hari sebelum acara perpisahan SMU saya bisa membeli novel tersebut. Untuk itu butuh perjuangan tersendiri. Dari menabung, sampai kesasar gara-gara salah naik kendaraan dan salah turun. Boleh dikata, untuk mendapatkan Gump, saya merasa mirip Gump. Dan itu akan tersimpan rapi dalam ingatan sebab konyol sekali.
Beberapa tahun kemudian, ada Gump lain dalam film yang sangat berbeda dari novelnya, dan saya kecewa berat! Meskipun demikian, di lain saat, saya bisa menikmati adegan pergulatan seorang nelayan tua dengan seekor ikan besar hasil tangkapannya. Adegan tersebut begitu dramatis dan menegaskan ini soal perjuangan hidup dan mati. Meski saya belum baca karya aslinya (The Old Man and the Sea’s) karya Ernest Hemingway. Film tersebut terasa sangat menarik dan manusiawi, jauh dari kegemerlapan. Boleh dikata sangat sederhana, sesederhana kehidupan nelayan tadisional benua mana.
Alhasil, sebagai pencinta film dan buku (sastra maupun pop), saya mencoba menikmati hidup dan berusaha memandang dari segi yang berbeda. Hidup ini selalu menyajikan kemungkinan-kemungknan tak terduga. Akan tetapi, hidup lebih dari sekadar fiksi semata. Yang fiksi bisa hidup, atau hidup memang cuma fiksi?***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D