HOME/RUMAH

Rabu, 29 Januari 2014

Apa Makna Maut, Gabriel?



Apa Makna Maut, Gabriel?



Senin, 17 Juli 2006
K
etika gempa itu mengguncang bagian bumi yang ia diami. Ketika air laut Pantai Pangandaran yang sedang ia renangi mendadak surut. Ketika dalam hitungan detik atau menit entah  berikutnya, dalam ketercengangan, ia menyadari harus berbuat sesuatu untuk lari sejauh-jauhnya dari sisi laut yang surut menuju tempat yang lebih tinggi sebelum ditelan tsunami.
Namun terlambat, sore itu gempa dan air lebih melampaui gerakan yang ia bisa. Dan Gabriel Alexander Dijkstra terperangkap dalam adegan serba lambat ketika suatu kecepatan tak terhingga dari gelombang maharaksasa, seraksasa yang baru kali ini ia saksikan, menghantamnya. Mengombang-ambingkannya. Begitu keras. Dan ia merasakan seluruh kekuatan air merajamnya. Pedih, perih, asin, pahit! Seolah seisi laut berusaha menggelembungkan tubuhnya, kemudian menubrukkannya pada benda-benda asing yang ikut ditelan gelombang.
Ia mencoba mengingat suatu kalimat dalam bahasa Arab. Kalimat yang kerap ia dengar dari kumandang azan.
Gelap.
***
Jelang Zuhur,
Laut begitu damai. Dari kejauhan tampak beberapa perahu berlayar. Angkasa berhiaskan serakan burung camar. Orang-orang berenang di tepian. Laki-laki, perempuan. Tua, muda, anak-anak; semua beragam usia dan kebangsaan. Ada juga yang cuma berjalan-jalan.
Sepasang muda-mudi belia menyaksikan semua dalam keheningan. Yang perempuan berseragam SMA, yang lelaki berpakaian biasa. Angin laut mengembus mereka dengan kelembutan yang menyejukkan. Ada beberapa pepohonan di sekitar yang menjadi naungan. Mereka cukup lama berdiri mematung.
Tiba-tiba si perempuan berpaling, menatap lelaki di sampingnya dengan tajam, setajam kalimat yang diucapkannya. “Gue hamil, Gabe….”
Siang tiba-tiba menyedot tubuh si lelaki dalam gerah tak terkira. Gabriel merasa terbakar. Apa, hamil?! Bagaimana bisa Regina Siti Hajar Ishaq, perempuan yang ia pacari dua tahun lalu sejak sama-sama 1 SMA, bisa hamil padahal mereka melakukannya cuma sekali saja.
Ia balas menatap Regina dengan gusar. “Gimana bisa?!”
Yang dibentak cuma diam, balas menatap dengan mata bersalah campur entah. Sesuatu yang sulit Gabriel selami. Namun dari itu ia menyadari ada pergolakan dahsyat dalam ekspresi wajah dan mata Regina. Dan ia luruh dalam rasa bersalah campur marah, sekaligus bingung dan hilang jalan. Gabriel mengembus napas dengan keras, napas yang panas.
Lo yakin?” Ia mencoba lunak dalam keguncangannya.
Regina mengangguk. Menggigit bibir bawahnya keras-keras hingga berdarah. Darah itu merembes dari sudut bibir. Mengalir ke arah dagunya. Tak tahan campur iba Gabriel coba menyeka  tetesan itu. Namun Regina mengelak, tangannya menepis tangan Gabriel dengan kasar. Lalu disapunya darah dengan punggung tangannya sendiri. Partikel-partikel air tampak mengambang di kedua matanya. Perempuan itu siap menumpahkan buncah gundahnya, barangkali dalam ledakan dahsyat tak terkira. Dan Gabriel cuma bisa mematung, bingung.
Udah tes?” Gabriel coba memastikan keraguan yang mestinya tak ia rasakan; bahwa semua cuma ilusi semata, bahwa ia tak berada dalam posisi seperti ini. Hamil? Regina benar-benar hamil, oleh dirinya pula! Apa yang harus dilakukannya?! Gabriel sungguh linglung.
Gue pakai test pack, berulang. Tapi hasilnya selalu positif.”
Udah periksa ke dokter?” Gabriel benar-benar cemas, bukankah ia sengaja memakai “pengaman”, kok bisa kebobolan?
“Yang itu udah gue lakuin. Sendirian. Ke bidan gak dikenal di Banjar, di tempat yang orang-orangnya gak kenal gue. Dan gue tetap positif hamil. Sebulan lebih, Gabe!” Kali ini partikel-partikel air luruh, membasahi kedua pipi Regina, dan seolah tak ada habisnya karena ada lagi yang masih mengambang. Gabriel tidak tahu apakah akan siap menerima badai ledakan kesedihan dan barangkali campur kemarahan Regina. Perempuan keras kepala yang ia kenal sebagai makhluk anticengeng.
Gabriel meremas rambut di kepalanya yang keriting kecil sewarna rambut jagung. Gen warisan dari warna rambut ayahnya, Hendrick Willem Dijkstra, lelaki asal Belanda peranakan Jerman yang telah alih kewarganegaraan sebagai WNI. Lelaki 49 tahun yang telah 25 tahun menikahi perempuan asli Pangandaran, Mimi Mustika Maemunah, kini 45 tahun. Dan dikarunia dua anak: Gabriel dan Veronica Alexandra Dijkstra, 24 tahun, yang bermukim di Bandung.
Gimana bisa?” Gabriel mencoba sangsi, sekadar meyakinkan diri bahwa semua dusta. “Bukankah gue waktu itu pake kondom?”
Regina melengak. Kilatan marah di matanya yang cokelat gelap terbayang jelas. “Jadi lo sangsi, Gabe? Kondom gak bisa mastiin seks itu aman. Ada risiko bocor meski sekali, apalagi waktu itu gue barangkali dalam fase subur siklus bulanan. Dan gue ngerasa bodoh!” Isak itu tiba-tiba berevolusi menjadi guncangan hebat. Gabriel ingin merengkuh tubuh itu ke dalam pelukan aman agar Regina kembali damai seperti yang sering ia lakukan dulu sebelum “badai”. Namun tangannya seolah mengambang.
Lo gak main-main ‘kan, Gina?” Mata cokelat terang Gabriel memicing, alisnya yang tebal beralur bagus sewarna rambut membingkai kelopak matanya, memberi sapuan tegas pada parasnya yang tampan dengan kulit putih kecokelatan.
Gak, Gabe! Kalo mau bukti, mari kita ke dokter sekalian tes DNA jika lo masih sangsi.” Ia merogoh sack pack Eiger merah marun, hadiah ulang tahun Regina dari Gabriel November lalu. Ia mengambil sesuatu dari dalam, sesuatu yang dibungkus plastik bening dengan tulisan spidol: TES KEHAMILAN POSITIF. “Ini!”
Gabriel menerimanya dengan tangan dan tubuh gemetar. Benda kecil itu bagian warnanya jelas menunjuk tanda positif. Dan disodok seperti ini Gabriel merasa lemas. Ia mengenal Regina dengan baik. Bukan perempuan gampangan apalagi sembarangan. Namun sekarang?
Ia harus meminta maaf pada Regina. Mendiskusikan jalan keluar dari persoalan yang membelit mereka. Namun sesuatu menghalangi. Gabriel malah menawarkan solusi aborsi, dan Regina berang.
Lo pikir aborsi itu enak? Barangkali enak bagi lo jika gak punya nurani, tapi gak bagi gue. Ini rahim gue, Gabe, tubuh gue. Sakit….” Ia berhenti sebentar, mengusap perutnya. “Lo pikir gue gak tahu risikonya? Gue gak mau jadi pembunuh apalagi mati konyol gara-gara coba aborsi janin hasil kerja sama lo dan gue. Camkan itu, Gabe. Janin ini bagian dari darah daging kita!” teriak Regina nyaris histeris. Tiba-tiba angin berdesing, begitu kencang, nyaris menenggelamkan suara Regina yang tertahan dalam isak tangis.
Gabriel segera merengkuh Regina, meminta maaf atas semua dan ikut menangis bersama. Tenggelam dalam lamunannya, Regina benar. Ia pun tak ingin jadi pembunuh. Pembunuh bakal bayi, dan barangkali nyawa Regina; karena aborsi. Ia ngeri.
“Kita udah berbuat dosa besar dengan zina, Gabe. Dan inilah akibatnya.”
Hening mengambang di udara pantai. Siang perlahan menuju titik garang. Selain pekik camar, mereka mendengar kumandang azan dari kejauhan, begitu nyaring beresonansi seolah tak mempan ditelan deru gelombang.
Mereka berada di lokasi cukup terpencil dari keramaian. Regina sengaja mengajaknya ke tempat mereka biasa kencan, menikmati sunset atau sunrise dengan nyaman sebagai orang asli Pangandaran yang rumahnya dekat pantai. Tadi pagi mereka ke sekolah cuma untuk mengurus daftar ulang dan pemilihan jurusan.
Gabriel berdehem. Ia hilang kata. Jujur ia merasa damai bersama Regina, namun ia tak siap dengan langkah selanjutnya. Ia baru 17, Regina 18. Beda usia mereka 8 bulan. Gabriel lebih jangkung dan tegap dibanding rata-rata anak sebayanya hingga sering disangka mahasiswa. Selama dua tahun ia dan Regina duduk di kelas dan bangku yang sama, sebuah sekolah negeri Kecamatan Pangandaran. Sekolah yang sekarang lebih besar dibandingkan dengan masa kanak-kanaknya dulu. Mereka baru naik kelas 3. Gabriel memilih IPA, Regina IPS. Gabriel yang cerdas ingin jadi ahli geologi kelautan, Regina pembenci angka namun sangat kuat hafalan ingin jadi jurnalis.
Apa cita-citamu, Gabriel? Sekarang kau akan jadi ayah. Ayah dari perempuan yang kau cintai dan sayangi. Perempuan yang mencintai dan menyayangimu pula. Saling apa adanya. Luar dalam. Meski kadang bertengkar.
Namun siapkah ia dan Regina berperan sebagai orang tua, apalagi dalam usia belia? Bagaimana reaksi para orang tua mereka? Kawan-kawan, guru-guru, sampai tetangga?
Ah, ribet sekali, Gabe!
Dari segi materi keluarga Gabriel berkecukupan sebab memiliki rangkaian jaringan penginapan, restoran, toko kelontong, sampai bahan bangunan yang masing-masing tersebar di sepanjang pesisir pantai, mulai dari Kalipucang sampai Cijulang. Ia tak perlu khawatir soal materi, toh ia juga biasa bekerja mengurus tempat usaha keluarganya. Ia bukan tipikal anak manja melainkan pribadi mandiri yang disiplin, hasil imbas pola pikir Barat untuk bagian positif.
Ia yakin bisa menghidupi Regina dan anak-anak mereka kelak meski harus pontang-panting. Masalahnya, bagaimana ia akan diterima keluarga Regina dan Regina diterima keluarganya. Bagaimana cara menyatukan kubu Dijkstra dan Ishaq yang banyak bedanya, apalagi soal agama?
Papi ateis meski dalam KTP tertera Nasrani. Mami? Dari lahir Islam, namun sampai sekarang tak pernah sekalipun puasa, zakat, apalagi salat. Bahkan mereka tak pernah merayakan natal apalagi lebaran. Tak heran Gabriel menjadi insan gamang. Tak beragama apalagi mengenal Tuhan.
Vero lain lagi. Setelah ke sana kemari mencobai berbagai keyakinan, tiba-tiba membuat keputusan dengan menjadi muallaf dan menikah dengan Muhammad Fajar Ibrahim, kawan kuliahnya di Bandung. Mami dan papi membiarkan, mereka keluarga liberal yang cukup demokratis. Vero bilang ia telah menempuh sekian simpang soul searching dan berada dalam titik pertemuan dari apa yang selama ini dicarinya. Ia (dibantu Kang Fajar) berusaha mengajak keluarganya dalam jalan Islam. Namun mami, papi, apalagi Gabriel enggan. Cuma Vero tak putus asa meski harus tinggal berjauhan mengikuti pekerjaan Kang Fajar sebagai editor penerbitan Islam. Vero sendiri editor bahasa di penerbitan yang sama cum ibu rumah tangga.
Sekarang, Gabriel, apakah kamu akan masuk Islam hanya agar bisa menikahi Regina? Padahal apa yang kamu tahu tentang Islam jika buku-buku tentang agama itu, kiriman Vero dan Kang Fajar, tak pernah dibaca. Apalagi sekian VCD dan kaset mengenai ajaran Islami dalam bentuk film dan lagu. Paling sering dipinjam Regina, lalu Miko.
Bagaimana pula ia harus berhadapan dengan keluarga besar Ishaq demi mempertanggungjawabkan kelancangannya dengan “membuahi” Regina?
Pening berdenyaran di kepala Gabriel. Dengan gelisah ia mempererat pelukannya. Membenamkan kepala Regina lebih erat ke dadanya. Kekhawatiran berkejaran laksana ombak di bawah jurang yang tak henti membentur karang.
Puas menangis bersama Regina sekarang ia merasa damai. Regina melepaskan pelukannya. Mereka saling bersitatap. Gabriel menghapus sisa lelehan air mata di wajah Regina. “Jangan sedih, Sayang. Gue akan bertanggung jawab!” Bagaimanapun, ia seorang lelaki. Dan lelaki mestinya jantan dalam sikap dan tindakan. Sebab, itulah makna menjadi lelaki, kata Kang Fajar, sebagai qow…, apa ya? Ia lupa. Qowwam-kah? Ia tahu apa yang diinginkannya kini. Ada Vero dan Kang Fajar yang akan membimbingnya jika ia berada dalam kesulitan, termasuk kesulitan konyol macam ini.
“Benar lo akan tanggung jawab, Gabe?” Regina sangsi.
Gabriel tersenyum. Tiba-tiba ia merasa menjadi lelaki dewasa dan matang dalam usia belia. Apa karena janin dalam rahim Regina? Apa pun risikonya akan ia hadapi semua dengan tegar. Ada Regina si optimis yang tabah dalam cobaan. Termasuk ketika kedua orang tuanya bercerai kala ia 3 SMP. Si sulung itu memilih tinggal dengan neneknya dari pihak ibu di Pangandaran, meninggalkan “huru-hara” di Jakarta. Ia enggan memilih tinggal antara ayah atau ibu seperti yang harus dilakukan kedua adiknya.
“Apa pun risikonya, Gina. Gue minta maaf udah bikin kamu susah. Kalo aja gue gak tergoda dan maksa lo atas dalih cinta. Ah, ternyata lelaki mudah terangsang, seperti yang dikatakan Kang Fajar. Tapi gimana narik ketelanjuran itu selain melanjutkan hal yang udah telanjur sebagai….” Kalimat itu menggantung. Gabriel bingung. Regina tertawa dalam kedukaannya. Susah memang jika harus berkalimat panjang macam itu. Ia terbawa Regina si gila baca dan penyuka sastra.
Gue tahu, Gabe. Lo mau tanggung jawab atau gak, gak masalah bagi gue. Hidup harus terus berlanjut. Bentar lagi gue jadi ibu. Meski gue harus cuti sekolah dulu. Meski ortu sampe nenek akan murka. Meski, ah….” Regina menghela napas. “Tapi gue sangat berterima kasih pada lo dan Tuhan, jika lo mau tanggung jawab, Gabe. Demi bayi ini. Ia gak bisa lahir dan tumbuh tanpa mengenali apalagi dikenali ayahnya. Ia harus punya orang tua utuh sebagai keluarganya. Orang tua yang sebenarnya. Bukan orang tua macam ortu gue yang egois dan gak pedulian pada anak-anaknya selain sibuk mengejar materi dan ambisi. Ayah malah terang-terangan gak malu sebagai anggota dewan yang gemar main korup. Mau gimana anak-anaknya jika dikasih makan dari uang haram? Masih untung ada ibu yang kerja halal cuma terlalu ditelan pekerjaan sampe lupa fungsi utamanya sebagai ibu.” Kali ini tangis Regina kembali pecah. Ia sangat sensitif pada masalah keluarga berantakan yang harus dialaminya. Kehadiran Gabriel mampu membangkitkan semangat dan memupus lukanya. Kembali Gabriel coba merengkuhnya. Namun Regina mengelak.
Gue mau pulang, Gabe.”
Mang napa?” Gabriel khawatir adakah yang salah lagi dari sikapnya. Padahal ia sudah berusaha berlaku semestinya.
Gue mau mandi junub. Salat. Taubat nasuha. Lalu kembali mengaji Quran, juga belajar tafsir. Gue udah bikin dosa gede, sebagai pezina. Gue kapok dan gak ingin mati dalam gelimang dosa. Sekarang gue bukan mahram lo, Gabe, sampe kita resmi nikah meski sederhana.”
“Mahram?” Gabriel ingat kosakata yang baru-baru ini mulai didengungkan Miko Lukmanul Hakim, kakak sepupu Regina yang tak serumah. Belum lagi ceramah panjang dari Vero dan Kang Fajar begitu ketahuan pacaran. Waktu itu ia dan Regina cuma bisa manyun. Mereka sudah tentu ogah berpisah apalagi dipisahkan sebab sama-sama merasa sudah saling bergantung.
Lo bisa cari tahu sendiri artinya, Gabe, dari buku-buku kiriman kakak lo.” Regina tersenyum. Begitu lembut dan damai menaungi paras manis dengan kecantikan samar tanpa polesan. Ia begitu natural, ditambah warna kulitnya yang kecokelatan, imbas aktivitasnya di luaran. “Sekarang gue pulang dulu. Lo gak usah antar. Mending lo renungi dulu semua itu, Gabe. Gue mau bicara pada Mas Miko. Ia yang paling ngerti gue dan juga lo. Moga ia bisa bantu kita.”
Ada sesuatu meresap dalam jiwa Gabriel. Keharuan campur kebahagiaan yang spontan. “Gina, gue ingin jadi ayah!” Ia teringat bagaimana Vero dan Kang Fajar begitu bahagia dengan Sahal Habibi Ibrahim, buah hati mereka yang baru berusia 6 bulan. Dan ia jatuh hati dengan makhluk mungil itu, begitu pun mami dan papi.
“Dan gue ingin jadi ibu, Gabe. Titip salam maaf untuk Teh Vero dan Kang Fajar. Gue tunggu lamarannya, syaratnya lo mesti masuk Islam. Sampe nanti dan makasih, Gabe. Assalammualaikum..” Regina melambai dengan senyum sebelum berbalik meninggalkan Gabriel yang termangu.
Layakkah ia menjawab salam Regina barusan sedangkan dirinya dalam surat-surat formal beragama Nasrani, namun dalam perilaku keseharian seorang ateis yang tak peduli agama apalagi Tuhan.
***
Asar,
Gabriel berjalan menyusuri pantai. Ia ingin membuang bimbang. Regina telah lama pulang. Dari tadi ia sibuk memintal jaring-jaring pertanyaan sampai tak sadar hari hampir petang. Barusan azan lanjutan berkumandang, mengingatkan Gabriel untuk meninggalkan tempat pertemuan.
Gabriel tersenyum membayangkan bagimana ia akan mempelajari Islam dari titik nol. Bagaimana ia akan melapor pada Vero, Kang Fajar, dan kedua orang tuanya soal alih keyakinan untuk jadi muallaf. Syukurnya waktu kecil ia sudah disunat. Mami dan papi yang mengharuskan demi kesehatan. Juga keinginan untuk segera menikahi Regina sebagai istri sahnya. Bulan ini juga, lebih cepat lebih baik.
Laut begitu damai. Sewarna langit. Tiba-tiba ia ingin berenang. Menyegarkan tubuh dan pikiran dari berbagai kemumetan. Ia membuka kaus C-59 merah marun, oleh-oleh Kang Fajar dari Bandung. Celana pantai sebetis cukup praktis untuk berenang. Ia bersyukur tak membawa apa-apa dari rumah, toh rumahnya dekat pantai. Selain arloji sport khusus diving hadiah ultahnya dari Regina Juni kemarin, yang tetap ia kenakan setelah meletakkan kaus dan sandal gunung Eiger di atas pasir, di tempat yang dirasa aman dari tangan usil. Ia berenang ke bagian cukup aman namun tak terlalu dipadati wisatawan. Buih-buih air segera menyambutnya, dan ia ekstase dialun gelombang. Bumi terasa bulat dan laut tak bertepi. Air asin menerpa mulut. Ia berenang, terus berenang ke arah tengah namun dalam batas aman agar tak disapu gelombang atau disedot pusaran. Menikmati gelombang dan bermain di antaranya. Menikmati alur pikiran.
Gabriel ingat Miko, mahasiswa teknik informatika yang berusia dua tahun di atasnya.
Gue pernah takut mati, Gabe...,” ujarnya pada suatu sore kala ia, Regina, dan Miko berkumpul di beranda rumah Gabriel. Dan ia cuma tertawa, membalasnya dengan tanya; mengapa, Mas, toh cepat atau lambat kita akan mati. Dengan akibat Regina menendang kakinya.
Lo tahu gempa dan tsunami di Aceh sampe Nias? Yang itu gak terlalu gue peduliin meski korbannya banyak banget. Tapi semua berubah kala 25 Mei kemaren gue nekat libur ke Yogya cuma buat ngeliat erupsi Merapi. Erupsinya dahsyat sekali sampe bikin gue ngeri. Dari itu gue sadar kita tuh keciiil banget dibanding Tuhan. Serakan pengungsi yang kebingungan sampe penonton yang ingin tahu pada berjubel. Gimana kalo erupsinya dahsyat banget kayak Krakatau pada tahun 1883? Yogya, Magelang, dan sekitarnya gak cuma ancur. Kota-kota lain juga bisa kena, Gabe. Atau malah imbas dari letusan itu adalah tsunami yang bisa menggulung berbagai daerah pesisir pantai Laut Selatan, barangkali sampe Pangandaran sini.”
Miko barangkali berlebihan. “Pangandaran-Yogya ‘kan jauh banget, Mas.” Ia coba membantah namun dalam benaknya bermain tanya, akankah kelak ia kuliah di ITB jurusan Geologi, selain kelautan ambil spesialisasi bidang vulkanologi atau gempa bumi, agar ia bisa lebih memahami fenomena alam berikut isi semesta. Barangkali ia akan meneruskan jenjang master di Belanda, lalu doktoral di Jerman, Amerika, atau Hawai. Tentunya setelah tekun mempelajari karakteristik geografi dan geologi wilayah Indonesia, negeri yang ia cintai selain Belanda. Toh ia cukup fasih menguasai beberapa bahasa asing selain daerah macam Sunda dan Jawa.
Gak pasti juga, Gabe. Waktu Sabtu pagi, 27 Mei, gue jalan-jalan di Malioboro, cari oleh-oleh. Eh, ngedadak bumi bergoyang. Lalu bangunan-bangunan pada runtuh. Orang-orang panik berlarian, beberapa memekikkan Allahu Akbar. Gue ikut panik, mana nyaris tertimpa papan iklan gede. Ikut lari. Spontan bertakbir dan berzikir dan beristigfar. Kirain Merapi meletus, gak tahunya muasal gempa dari Samudra Indonesia. Gue gak tahu apa-apa. Gue tahunya cuma lari. Cari perlindungan. Cari tempat aman. Cari selamat. Pokoknya lari saja, dengan ransel membebani punggung dan langkah superberat. Ingin segera meninggalkan Yogya. Gak ingat soal oleh-olehnya. Gue bener-bener lemes, Gabe.”
Gabriel menyodorkan gelas jus avokad. Pascagempa Yogya masih membias di roman Miko yang pias. Regina tampak khusuk menyimak. Miko barusan mengisi libur kuliah dengan jadi sukarelawan di Yogya lagi.
“Dari itu, setelah jadi sukarelawan dadakan barang dua hari demi nolong orang-orang yang jadi korban sampe bikin panik orang rumah,” Miko terdiam sambil memegang gelas yang barusan diteguk isinya setengah. “Gue berpikir, apakah gue akan mati dalam keadaan amburadul? Begitu banyak kesempatan ngenal Tuhan yang disia-siain, dan gue ingin mati dengan cara terhormat sebab sebelumnya telah memasuki pintu tobat. Maut itu dekat, Gabe. Allah masih bermurah, jiwa gue yang hina diberi kesempatan untuk memperbaiki diri. Moga-moga gue sekarang lebih mengerti makna hidup dan juga maut.” Miko tersenyum. Tenteram.
Gabriel garuk-garuk kepala, asli gatal kepanasan. Tuh anak kok dalem amat. Bicara soal maut dan Tuhan segala. Padahal sebelumnya Miko muslim sekuler dan rada kekiri-kirian agar dianggap keren, hehehe.
Sejak kuliah sudah fanatik Che Guevara, Pramoedya Ananta Toer, dan segala hal revolusi sosialisme. Imbas pergaulan dengan aktivis kampus. Koleksi bukunya saja lucu. Kebanyakan soal politik dan ideologi-ideologi yang bikin Gabriel malas meliriknya. Namun Miko yang sekarang adalah Miko gaya baru, pakai baju koko ijo lumut dan peci bulat. Pokoknya rapi jali namun trendi, mana wangi. Beda dengan dulu, udah gondrong dan urakan kayak gembel antiair mandi. Sekarang tambahan koleksi bukunya kian lucu, kajian Islami! Dan Gabriel tetap malas meliriknya. Ia lebih tergila-gila pada fisika quantum dan aneka tulisan Stephen Hawking, selain soal geologi. Apalagi ia sering dikirimi buku-buku dari Paman Magnus yang dosen Universitas Heidelberg. Mereka bertiga sering diskusi dan jalan-jalan bareng. Termasuk berburu buku di Bandung macam Wabule, Ultimus, Tobucil, Rumah Buku, Malka, Omuniuum, Das Mutterland, Palasari, Gunung Agung, dan Gramedia. Sekalian menginap di rumah Vero dan keluarganya.
Diliriknya Regina. Mata Regina tampak mengawang. Miko masih meneruskan ceritanya. Sesuatu yang Gabriel simak dengan enggan. “Maut itu cuma awal dari kehidupan selanjutnya, demi hari perhitungan.”
Perhitungan? Bah, ada-ada saja Miko. Apalagi Vero dan Kang Fajar. Dasar!
Namun itu dua minggu lalu.
Dan sekarang, pada kenyataan asin laut, Gabriel menghirup udara dengan perasaan asing. Ia mencium sesuatu yang samar, mengambang. Seperti tubuhnya diayun lautan. Aroma mautkah yang diam-diam mengintai? Ia ingat Aceh. Ingat Nias. Ingat Yogya. Ingat sekian tempat lainnya yang diguncang gempa dan meninggalkan gelimpangan mayat-mayat binatang sampai manusia. Akankah Pangandaran digulung tsunami, ketika badai Laut Selatan membuat perhitungan tersendiri?
Ia ingin seperti Miko. Ingin seperti Vero. Ingin seperti Kang Fajar.
Ia ingat Regina dan janinnya -- janin mereka. Ingat mami dan papi di rumah. Ingat oma dan opa di Eindhoven.
Pikirannya terus mengawang.
Tiba-tiba bumi bergetar.***
Limbangan, Garut, 22 Juli 2006: untuk kotaku, Pangandaran dan segala kenangan masa kecil yang lantak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D