HOME/RUMAH

Sabtu, 11 Januari 2014

Bagi Moh. Syafari Firdaus



Bagi Moh. Syafari Firdaus


Lagi-lagi kau bawa aku mengendus aroma hujan,
seperti entah berapa tahun silam perjalanan.
Mungkin kelebat Layang-layang dan Delirium itu hadiah bagi pulangku ke asal.
Rumah puisi bagi jiwa teramat sunyi
namun selalu dahaga akan sunyi yang hakiki.

Aku lupa asal, lupa kata, lupa makna sajak.
Kemudian hujan yang kau guyurkan seumpama ucapan selamat datang.
Aku rindu sajakmu, yang murung, bertahun-tahun, lalu kau kembali muncul, menyambut wajahku yang muram disaput debu kehidupan.
Umpama mana lagi yang harus kureka kala rindu telah menemu muara:
kesedihan berulang sebagai tikaman dengan medium hujan.

Aku telah hidup di tepian rel, menyaksikan kereta lewat
seumpama rentetan peristiwa lain, mengikuti siklus musim.
Juga anak-anak yang kehilangan hangat rumah, menghirup kekerasan,
uap karbon, sodom, bahkan lem aibon; sebagai cinta.
Mereka didewasakan nasib dengan cara lebih gasing
daripada yang kau dan aku kenal dan ratapi sebagai takdir.
Juga kunang-kunang yang telah lama punah di tanah lapang,
digantikan laron-laron pemburu cahaya; jalan layang Kiaracondong
dengan sampah dan kubangan di bawahnya. Kota kita
kian sesak dijejali sekian jiwa -- bahkan mayat-mayat -- tak dikenal.
Meruapkan aroma tak sedap bagi ketidakpastian masa depan
yang kau dan aku cemaskan sebagai udara; ketika segala
sesuatu singgah dan berebut peran begitu saja.

Kukunyah semua, kala kau bertanya pukul berapa sekarang,
dengan jiwa hampa karena aku tak tahu berapa lama waktu
telah berlari dan membelakangi perjalananku yang menyimpang
dalam pencarian abadi bagi cinta tak terpahamkan:
menyusuri kesedihan sebagai puisi.

Seperti sajak-sajakmu, seperti suratku yang tak jadi kukirim
ke alamatmu.

: Karena aku tak mengharap kau menggali kubur!

#Bandung, 30 April 2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D