HOME/RUMAH

Jumat, 31 Januari 2014

Dukkha



Dukkha

:US


Sesuatu yang pahit telah kau sodorkan sebagai
perjamuan, bagi hidup kita di bumi yang kuyup
oleh luka dan suka cita. Dan ketika kepahitan itu telah
kureguk tanpa sulang pembuka, adakah matamu
mengerjap saja, lantas meninggalkan perjamuan itu
Karena telah kau dapatkan apa yang ingin kau
ledakkan, di saat kau tidak tahu siapa dan bagaimana
sasarannya, atau telah kau yakinkan bahwa akulah
sasaran seharusnya?

Kini setelah kutelan kepahitan itu, mestikah aku
menyimpannya dalam lambung jiwaku, sebagai
empedu bagi tiap tarianku yang melimbung
Namun akan kucoba agar luka yang kau tawarkan
bagi jiwaku dapat kutawarkan bisanya.
Bandung, 30 Agustus 2002

21.25 WIB



21.25 WIB


Matikan saja televisi, dan lanjutkan membaca koran
atau menulis puisi – meski yang ini berakhir
dengan rasa frustrasi. Di luar malam masih menyabit
kota di antara kegelapan yang tak kau pahami.

Siapa yang kau rindukan di luar sana? Seseorang
atau kenangan yang enggan melepas jangkar
Di laut imajinasimu yang tak berbatas;
juga kontemplasi dalam diri
Lantas kerinduan itu diam-diam mengaramkan
sosok-sosok yang bergerak di sekitarmu
Sampai kau lupa siapa dirimu di antara siapa mereka.

Lelaki dan kenangan adalah jiwa bagi perempuan,
biar ia menyadari apa arti kesepian.
Bandung, 9 Oktober 2002

Bandung, 11 Maret 2003



Bandung, 11 Maret 2003

Kang Cecep Syamsul Hari, Yth.

    Bukankah hujan itu indah, ia sumber inspirasi untuk kita ziarahi? Karena itulah Surat dalam Hujan  ditulis ketika saya merasa sangat  passion oleh stimung dengan hujan sebagai latar belakang yang memengaruhi aspek kejiwaan.
    Barangkali saat itu Chopin sedang memainkan partiturnya yang diinterupsi Mozart. Lalu Bach ikut ambil bagian. Lantas Beethoven dan Schubert pun ngotot ikutan. Kemudian mereka kompak memainkan harmonisasi dari berbagai komposisi. Ya, itulah Surat dalam Hujan dalam pandangan saya.
    Saya tidak tahu apakah saat Anda atau siapa saja membacanya; merasakan stimung macam itu? Yang saya rasakan kala membaca ulang adalah semacam ruh ketika saya berada di Limbangan. Sudah lama saya tidak pulang, sengaja demikian karena enggan. Namun Surat dalam Hujan senantiasa menghadirkan the past is the present wherever I were.
    Apakah hal macam itu Anda rasakan juga saat membaca ulang sajak Hujan Bulan November di antologi puisi Kenang-kenangan (yang kini lagi “piknik” pada Andi rekan kerja saya yang penggemar puisi meski tak merasa dirinya penyair sebagai pembaca biasa)? Wallahu’alam.
    Saya penyimak tulisan Anda, terutama di majalah Horison. Ulasan Anda tentang puisi dan cerpen sangat membantu sebagai bahan pembelajaran bagi saya yang sangat awam dalam dunia kepenulisan dan ingin terus belajar. Selain itu, insya Allah, saya akan berusaha memenuhi harapan untuk terus menulis selama  Tuhan masih memberi napas dan kekuatan yang tak saya sia-siakan demi mencapai esensi kehidupan akan rahasia Sang Maha Besar yang sangat menakjubkan dan senantiasa menggetarkan. (Ah, maafkan bahasanya.)
    Kadang saya berpikir apakah tulisan yang saya kirim ke Horison pun telah menginspirasi pengurusnya akan kinerja sampai estetika karya mereka? Seperti soal tenggat waktu yang 6 bulan. Itu ‘kan dulu waktu pertama kali saya mengirim tulisan ke Horison di sudut kiri amplopnya diberi topik sampai tenggat waktu, sesuai kebiasaan saya dalam setiap pengiriman agar memudahkan penyeleksian (terinspirasi dari ucapan Pak Tendy K. Somantri via telepon agar memberi batas waktu – yang saya kembangkan sendiri sesuai persepsi).
    By the way, sebelumnya keberatankah Anda jika saya berniat menulis banyak tentang dunia kepenulisan dalam imel ini? Mudah-mudahan tak terlalu menyibukkan.
    Lantas dalam salah satu esai Anda tentang puisi ketika mengulas sajak Cermin di bulan Januari 2003 ini, di sana Anda menulis tentang jalan sunyi menjadi penyair. Saya sempat tersenyum membacanya, dan memberi stabilo pada bagian itu agar saya (juga Andi yang sering saya pinjami aneka bacaan) mencamkannya. Jalan sunyi? Terima kasih, saya merasa seolah tulisan Anda menguatkan sekaligus mengingatkan akan hakikat kehidupan penyair yang penuh tikungan.
    Sejak mula saya sudah paham dunia itu. Apakah kesunyian yang saya reguk adalah semacam kekuatan akan cara pandang yang berbeda dalam menyikapi kesunyian dunia penyair yang berpendengaran normal? Saya tidak tahu. Tetapi semoga Anda benar bahwa suratan saya bisa saja semacam anugerah. Sebab jika tak seperti ini, bisa jadi jalan saya bukan di dunia menulis. Bisa jadi kehidupan saya malah tak tentu arah dalam kesempurnaan ragawi. Dan itu yang saya takutkan. Kadang saya merasa seperti dalam suasana yang sangat déjà vu jika mengingat saat di mana tiba-tiba “berbeda”. Seolah takdir telah mengharuskannya. Dan takdir pula menggharuskan saya menjalani ritus penyembuhan yang berakhir tanpa hasil. Sebenarnya ritus itu semacam pengalaman saja, jika saya telah berhasil melewatinya dan bisa menerimanya tanpa sesal. Baiklah jika demikian. Saya harus berusaha keras untuk lebih menerima diri sendiri dulu, sebab itulah semacam spirit agar orang lain pun bisa menerima saya apa adanya.
    Takdir itu aneh. Tidakkah Anda kadang merasa heran mengapa mendapati takdir sebagai penyair? Tetapi seorang penyair dalam sebuah keluarga menurut saya tidak berlebihan apalagi keterlaluan. Jika Anda bukan penyair, saya tak akan pernah mengenal Anda berikut karya-karyanya. Jika saya tak ditakdirkan memasuki dunia kepenulisan, Anda barangkali tak pernah punya bayangan akan sunyi yang lain dari sunyi yang selama ini Anda kenal.
    Sebenarnya jalan hidup saya pun tak mulus apalagi lurus – seperti para akhwat yang sangat agamis dan berasal dari keluarga yang terlindungi. Barangkali demikianlah jalan hidup penyair yang sebenarnya; mereguk kepahitan agar memahami esensi kehidupan. Dan sesekali menyerempet keluar jalur agar tahu apa itu kebenaran, toh pada akhirnya kita pun ingin kembali pada rel yang semestinya jika merasa sebagai manusia sejati. Demikianlah Kang Cecep Syamsul Hari, saya yakin Anda pasti tak terima jika harus meninggalkan dunia sastra yang Anda cintai demi ditukar dengan dunia lain yang lebih “kemilau”. Sebab bukankah kita menemui takdir dengan jalan “bergerak”. Dunia sastra terlalu kaya jika diukur dari segi materi. Maka saya tak keberatan lebih banyak output untuk itu, sebab nilai kehidupan rasanya teramat mahal jika kita berpengetahuan. Ya, life is beautiful and useful, demikanlah yang Pak Tendy camkan (bagi saya ia sokoguru karena bukan generasi Saini KM seperti Anda).
    Lewat dunia menulis dan membaca sastra, saya mengenal banyak kisah dan beragam budaya, karakter dan keunikannya, kawan dan rival, cinta dan luka, dan hal-hal lainnya yang memberi nuansa sepanjang usia. Sebab pada mulanya saya selalu merasa sendiri dan tak tahu apa-apa, namun lewat dunia menulislah tiba-tiba cakrawala saya terbuka lebar. Bumi Allah teramat luas, bukan?
    Kang Cecep/Syamsul/Hari (baiknya saya panggil apa?), saya senang bisa berinteraksi dengan Anda, sebagaimana saya berinteraksi dengan orang-orang yang sedunia. Terima kasih telah memberi suport dengan cerita Anda tentang Mozart. Sebab sebelumnya tidak pernah ada yang demikian. Tidak Indra kawan saya. Tidak juga almarhum ayah saya. Ia pasti merasa sebagai ayah yang gagal karena kalah daripada orang lain yang berhasil memberi keyakinan pada putrinya. Meskipun demikian, sepanjang hayat saya akan berusaha agar menjadi anak yang berhasil bukan pecundang yang pernah ia sangkakan. Ah, sajak Kahlil Gibran tentang anak senantiasa terngiang.
    Anda bukan pengagum Gibran? Saya bukan pembaca Gibran jadi tak bisa menilai dengan jujur untuk menyukainya atau tidak sama sekali. Tetapi jika Gibran tak pernah ada, sajak itu tak akan tercipta, dan saya barangkali tak mengenal makna pemberontakan selain jatuh cinta pada dunia kata-kata berupa sastra; seba kehidupan di luar pasti lebih ingar-bingar dan hampa makna jika tak mengenal kontemplasi. Dan sebagai ayah, Anda pasti tak akan memahami jiwa anak jika sajak itu tak Anda baca pula.
    Mengapa Tuhan begitu pintar sebab semuanya selalu berkelindan, dari manakah asal-Nya? Ah, cerpen Ayat-ayat Gelap, Hudan Hidayat (Horison, Februari 2003) pun seolah mewakili kegelisahan saya akan sekian pertanyaan yang terpendam. Itu cerpen yang bagus sebagai awal. Mudah-mudahan novelnya bisa berhasil nanti, sebab saya penasaran juga dengan pengembaraan spiritualnya.
    Pengembaraan spiritual Anda sendiri bagaimana?
    Terakhir, saya minta maaf karena belum meminta izin pada Anda sebab telah mengutip sajak Efrosina dan Meja Kayu dalam tulisan saya. Jadi, bersediakah Anda mengizinkan soal pengutipan itu? Mestinya saya menghubungi Anda dari dulu, namun tak tahu caranya dan bagaimana pengungkapannya. Maka dalam imel ini semoga mewakili keinginan lama, sebab saya tak ingin bernasib seperti Dewa yang digugat Yudhistira ANM Massardhie. Lagi pula, secara moral saya mesti mempertanggungjawabkan masalah pengutipan, sebagaimana yang majalah Annida tekankan juga.      
    Demikianlah Kang Cecep Syamsul Hari. Selamat malam dan terima kasih banyak atas waktu dan imel Anda, juga maaf saya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menjawabnya berhubung butuh konsep -- meski tiap bulan rajin ke warnet.
    Semoga kita terus berkarya. Amin 3X.


Sekadar Bercerita



Assalamualikum,
            Apa kabar hari-hari Anda?
            Maaf jika saya menunda pertanyaan soal jurnalisme. Ada hal urgent yang mesti saya prioritaskan. Membantu Chie (mahasiswi bahasa Prancis UPI) mengedit skripsinya. Cuma dalam gramatika dan cara pengetikan, berikut sedikit isi. Sebagai hasil akhir.Lumayan kelenger juga. Soalnya saya tak punya pengalaman apa-apa mengenai skripsi. Ya, setidaknya bisa tahu bagaimana plus mempererat ukhuwah kami.
            Jadi sadar, nih. Jadi editor itu pasti suka “gregetan”, ya? 
          Ada banyak kejadian, sekadar laporan selayang pandang , sejak tanggal 9 Januari kemarin kami ke Gegerkalong, menginap di tempat kos kawan Chie. Soalnya saya harus mengambil/men-copy naskah skripsinya di hard disk rental langganan. Ia tak begitu mahir dalam komputer sementara saya cuma bisa mengetik doang dan tahu sedikit soal transfer data.
            Jadi begitulah, Jumat malam itu kami gentayangan. Menyambangi Gedung Pentagon, keliling kompleks UPI yang luas dan sepi, makan malam dengan menu nasi goreng di kedai depan masjid DT, salat isya di sana, ke rental, lalu ke kamar kos kawannya -- yang sedang menginap di rumah saudara -- untuk menyimpan barang kami, ke warnet untuk minta bantuan Abda atau kawannya untuk mengedit resume karena dosen Chie bilang harus direvisi native b. Prancis sebab ada masalah dengan gramatikanya, pulangnya sempat beli susu Bandung Utara yang panas (ini pengalaman baru saya). Lantas bobo. Cuaca cerah.
            Esok paginya, saya baru tahu kalau daerah Sukajadi sampai Kiaracondong diguyur hujan semalam. Alhamdulillah, Allah memudahkan urusan kami.
            Tolong doakan ya, semoga Chie bisa berhasil dalam studinya. Setidaknya lulus sidang setelah skripsinya selesai. Amin.  Sebab kami sempat pontang-panting karena jarak yang berjauhan (ia tinggal di Kopo) dan cuma bisa dibantu internet serta SMS hasil pinjaman kawan saya.
            Saya sudah membuka surel dari moderator guyubbahasa tgl. 9 kemarin. Memasuki link-nya sesuai prosedur. Sempat membaca 4 halaman surel yang ada kemudian membuka halaman lama. Ada banyak sekali. Cuma sekadar melihat. Begitu pun lusanya kala memeriksa mailbox apakah ada jawaban dari Abda. Namun mengapa kala saya membukanya pada tgl. 18 ada surel dari milis yang masuk dalam mailbox, 12/13 surel.
            Sebenarnya saya bingung karena berpikir milisnya akan terpisah sehingga tak memenuhi inbox.
            Rasanya frekuensi ke warnet harus dikurangi. Ada banyak proyek pribadi yang terbengkalai. Sejak  November sampai bulan ini frekuensi saya rada gila-gilaan. November sengaja aktif kirim tulisan agar Desembernya bisa agak santai. Eh, Desember malah kelimpungan dengan naskah gagal kirim. Terus terang saja Januari ini saya cuma bisa dua kali kirim naskah karena fokusnya pada skripsi Chie.
            So, jika saya ke warnet cuma sebulan dua atau tiga kali, apakah akan memengaruhi mailbox karena tak sempat dibaca, di-copy, kemudian di-thrash (baik merespons maupun tidak)?
            Takut over quota lagi, euy.
            Di Internid, saya baca soal daily digest sementara milis yang saya ikuti ini bersifat individual mail.
            Sebenarnya tak masalah karena masih punya alamat lain. Cuma ingin tahu saja sebab masih awam. Tetapi dengan individual saya bisa ikutan dan masih aktual, ‘kan?
            Kang Erwan punya masalah, alamat surelnya di yahoo dan hotmail “hancur”, dijadikan milis orang asing. Saya tak tahu apa sebabnya. Apakah disabotase atau semata kelengahan Kang Erwan yang tak sign out sehingga alamatnya disalahgunakan orang usil. Chie saja menerima kiriman surel dari Kang Erwan. Isinya attachment pick Osama bin Laden exe. Waktu kami coba download, komputer bilang berisi virus, jadi kami hapus saja. Kasihan Kang Erwan jika ia tahu, sebab barangkali tak merasa pernah kirim.
            Saya tak paham cara kerja virus. Bagaimana makhluk itu bisa ada dan harus tercipta. Lantas berbiak sedemikian rupa. Merusak komputer orang. Disket saya sendiri terinfeksi virus ~temp45, my love, my heart, dan NQH_Kiss_You. Semacam lovebugs. Sebagai application yang tidak bisa dibuka namun memakan file dan mengubahnya (rename) sesuai nama virus. Jika dihapus, akan berkelit dan memakan file lain. Benar-benar canggih dan menyebalkan. Saya telah kehilangan beberapa naskah karenanya. Sampai sekarang terpaksa dibiarkan sebab operator rental menyarankan itu. Ia pun tak tahu bagaimana cara mengatasinya, seluruh komputer telah terinfeksi virus itu. Saya tak tahu apakah penyebarnya dari disket yang pernah dipakai di warnet. Padahal saya merasa sudah berhati-hati dan tak men-download dalam bentuk folder secara bulat-bulat. Paling dipindah ke words lalu di-save.
            Maukah Anda bercerita sedikit soal dunia virus? Sepanjang yang Anda tahu dan pengalaman sendiri. Sekadar menambah referensi dari apa yang pernah saya baca. Terima kasih banyak.
            Wassalam.

Ä     Matahari kemarin dengan matahari besok masih sama, Anda puitis juga. Masalahnya saya tak pernah baca karya Anda dalam bentuk puisi sampai cerpen. Jangan bilang tak bisa menulisnya. 
Ä     Bagaimana Anda bisa “tercebur” ke dalam dunia menulis?
Ä     Tgl. 24 Januari besok, ada acara di CCF. Anda akan hadir juga?
Ä     Maaf saya tak bisa datang ke Semarang. Sebenarnya jika FBMM bikin acara di Bandung, saya tak tahu apakah akan bisa menghadirinya. Aktivitas saya rasanya tak memungkinkan jika siang hari, karena kami bekerja dalam suatu tim dan sering tak jelas apakah akan sibuk atau senggang. Sekarang bos sedang berusaha mendisiplinkan cabang agar rajin belanja dan setoran karena ada yang membelot dan ogah-ogahan menyetor. Toko kami semacam usaha bersama antara beberapa pengelola cabang.
Ä     Maaf jika saat ini saya cuma bisa jadi penyimak, sebab masalah komunikasi kadang membuat ciut untuk berinteraksi secara langsung.