HOME/RUMAH

Sabtu, 18 November 2017

Penulisan Tahun Cetakan Terbit Buku



Oleh: ROHYATI SOFJAN

 

SELAIN penulisan ISBN, ukuran dan ketebalan buku, tahun cetakan merupakan sertaan wajib bagi buku terbit. Sangat penting dimuat karena akan merujuk pada data buku.
Apakah buku tersebut masuk kategori lama atau baru, dan sudah berapa kali mengalami cetak ulang (sekaligus revisi, kalau perlu). Memandu pembaca bahkan peresensi buku sendiri. Membantu penulis buku dalam hal penerimaan royalti, membantu penerbit untuk melaksanakan kewajiban sekaligus ajang kebanggaan jika bukunya ternyata laku dan masuk kategori cetak ulang.
Ada buku yang memuat data cetakan dengan menyertakan bulan dan tahun, ada yang cukup tahun saja. Entah untuk alasan gengsi atau praktis, apa pun pilihan yang diajukan penerbit, setidaknya data cetakan tersebut bisa merujuk sebagai peringkat, rangking yang memuaskan dalam pemasaran dan penjualan atau sebaliknya mengecewakan.
Dua buah buku laris karya Habiburrahman El Shirazy terbitan Republika dan Basmala yang saya miliki dengan bangga memampangkan data cetakan lengkap berupa bulan dan tahun terbit.  Cetakan 34, Maret 2008 untuk novel Ayat-ayat Cinta. Cetakan 15, April 2008 untuk Ketika Cinta Bertasbih 1. Prestasi yang menggembirakan untuk memberi harapan masih ada peluang bagi buku mana pun menembus kategori best seller.
Sebaliknya, ada juga penerbit yang “konsisten” hanya menyertakan tahun terbit saja. Dua buku laris karya Valiant Budi (Vabyo) yang saya koleksi menunjukkan trafik menggembirakan, selalu ada buku pendobrak visioner pembaca yang beroleh tempat (sekaligus dicerca).
Valiant menuliskan kisah nyatanya kala menjadi TKI di Saudi, pengalaman bekerja sebagai barista di kafe bertaraf internasional menjadi bahan untuk memperkaya khazanah pengetahuan kita akan bagaimana ragam dunia luar itu sebenarnya. Kita bisa percaya atau tidak, terserah yang baca. Meskipun demikian, di tengah cerca yang telah diterimanya, kedua buku Valiant malah laris. Unsur isi dan rasa penasaran pembaca, berikut pemasaran dan distribusi yang baik dari Penerbit GagasMedia, mendorong buku masuk kategori best seller.
Kedai 1001 Mimpi yang saya miliki telah masuk cetakan kelima untuk tahun 2014 s  etelah terbit pertama kalinya di entah bulan berapa pada tahun 2011. Sedang kelanjutannya Kedai 1002 Mimpi masuk cetakan kedua untuk tahun 2014 setelah terbit pertama kalinya pada tahun itu juga.
Habiburrahman dan Valiant adalah dua dari sebagian kecil penulis Indonesia yang mampu eksis, menyuguhkan karya penuh warna yang fenomenal atau kontroversial. Yang jelas, selalu masih ada celah bagi penulis dan penerbit mana pun untuk menyajikan yang terbaik bagi pembaca dengan jangkauan pemasaran lebih luas.
Sesungguhnya, apa pun pilihan penerbit untuk memampangkan tahun cetakan terbit dengan atau tanpa tanggal menunjukkan dualisme wajah perbukuan kita. Kebanggaan atau kemandekan. Ada penerbit yang barangkali lebih baik ambil jalan aman dengan cukup memampangkan tahun terbit saja pada cetakan. Kekurangannya, pembaca yang hendak meresensi dan kuper info teraktual bisa jadi bingung apakah buku tersebut masih kategori baru dan segar atau lama.
Meresensi adalah pekerjaan “mulia” bagi dunia penerbitan sendiri. Buku baru terbit bisa dikupas secara kritis oleh peresensi. Dimuat di media massa cetak atau internet untuk menyebarkan kelebihan dan kekurangan buku yang bersangkutan, selain bagaimanakah isinya. Peresensi adalah bagian dari pembawa promo buku sendiri setelah penulis dan penerbit (berikut media yang memuat resensinya). Singkatnya, pekerjaan meresensi sendiri adalah upaya memperkenalkan buku baru pada khalayak masyarakat.
Ada banyak buku bagus dan baik. Buku menarik untuk diresensi meski tahun terbit pada cetakannya termasuk kategori lama. Menimbulkan tanda tanya, apakah buku tersebut kurang laku, kurang populer, pemasaran dan distribusi mandek, tetapi masih layak untuk diupayakan peresensi agar disertakan naskahnya ke media massa tanpa khawatir hangus karena kedaluwarsa?
Selalu ada buku mana pun yang layak beroleh tempat untuk diperkenalkan pada khalayak pembaca secara lebih luas jangkauannya. (*)
Cipeujeuh, 26 Maret 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D