HOME/RUMAH

Kamis, 13 Maret 2014

Sumbangan Apa yang Bisa Kau Berikan Pada Bahasa Indonesia, Pemuda?


Ini naskah gagal, hiks. Saya kalah dari lomba esai FLP tentang pemuda. Mohon dibantai.

Naskah Kategori Umum


Sumbangan Apa yang Bisa Kau Berikan
Pada Bahasa Indonesia, Pemuda?
Oleh Rohyati Sofjan

Apakah bahasa Indonesia tak lebih dari perkara remeh-temeh semata? Kalah perbawa dibandingkan dengan hal-hal lain yang dianggap lebih utama? Lalu, bagaimana sesungguhnya cara pandang kita terhadap Sumpah Pemuda nun 28 Oktober 1928 silam? Apakah perjalanan panjang yang diikrarkan para pemuda kala Indonesia masih dalam fase dijajah dan baru idealisasi cita-cita suatu nation merdeka, akan kita abaikan karena telah merasa bebas lepas dari penjajahan padahal di depan mata tersaji ancaman penjajahan lain dalam bentuk yang lebih menggurita; semacam neoliberalisme yang kita "persilakan" menggilas harkat bangsa dan negara, juga bahasa!

Jadi, sumbangan apa yang bisa kau berikan pada bahasa Indonesia, Pemuda? 

Mungkin ada di antara kita yang hebat dalam berbagai bidang. Disegani pihak luar dan dalam karena sarat prestasi, tidak cuma di kancah dalam negeri semata, tetapi juga luar negeri. Sesuatu yang sungguh sangat membanggakan sebab mereka juga bisa menjadi teladan.

Namun apakah kita merasa cukup dengan semua?

Di antara ingar-bingar tabrakan kepentingan, konflik politik dan ideologi, juga kemunduran ekonomi dan moral, ditambah beragam bencana alam sampai buatan manusia, sesungguhnya bangsa kita menanggung beban tak tertanggungkan. Beban yang menuntut tanggung jawab dari kaum muda agar bisa mengatasinya. Mengapa yang muda? Ya, karena merekalah generasi harapan setelah kaum tua terlalu lelah atau berbuat banyak kesalahan.

Masalahnya, dengan cara apa kita berbuat, Pemuda?

Sanggupkah kita menjadi generasi yang mengemban amanat besar agar bisa mengangkat martabat Indonesia dari jurang kehancuran? Apalagi, jika cuma sebagian kecil saja dari populasi kaum muda yang bisa diharapkan sebagai generasi ideal. Sisanya pada kocar-kacir ke arah berlainan, tumpang tindih digerus peradaban atas nama modernisasi (atau westernisasi?) yang disalahtafsirkan sesuai Kamus Besar Hidup Mereka (KBHM). Lu ya lu, gue ya gue. Lalu lu di mana saat gue bagaimana? Sesuatu yang membuat mereka kehilangan arah atau malah berakhir sebagai sampah.

Jadi, kita akan ke mana, Pemuda? 

Masihkah Sumpah Pemuda yang diikrarkan kaum muda-mudi perindu hawa merdeka, nun 78 tahun silam, cuma berakhir sebagai ajang seremoni tahunan hampa makna, tak mengendap dalam ruang renung. Padahal berbagai ancaman siap memangsa, memangsa jiwa dari bangsa yang mudah melupa.

Sesungguhnya kita belum sepenuhnya merdeka. Penjajahan ada di mana-mana. Bahkan media pun terang-terangan menjajah kita dengan beragam acara dan berita yang didiktekan pihak luar, atas nama kapitalisme, agar dikonsumsi masyarakat lemah tak berpendirian. Semacam pembodohan.

Apakah kita akan diam saja, Pemuda?

Sudah cukup masalah datang bertubi-tubi, silih berganti. Akan tetapi, bisakah kita terus bangkit meski sering jatuh bangun demi menyongsong fajar baru alih generasi dengan kepemimpinan pemuda yang lebih baik dan sarat keteladanan. Bercermin dari masa lalu demi masa mendatang. Mengubah energi negatif menjadi positif: dari mental pecundang menjadi pemenang, dari peran korban bermetamorfosis menjadi pemeran, dari pendendam menjadi pengambil hikmah. Demikianlah.

Sekarang, mari kita telaah makna bahasa Indonesia di mata kaum muda. Bukan tanpa alasan jika butir ketiga dari Sumpah Pemuda berisikan: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia; yang alhamdulillah tetap bergaung sampai sekarang menjadi lingua franca (bahasa pengantar)! 
Namun gaung itu nihil arti jika tidak ada kepedulian dari kaum muda untuk terus-menerus mengembangkan bahasa Indonesia sebagai sesuatu yang sarat dinamika.

Seorang kawan ngotot berpendapat bahwa penjajahan itu ada di berbagai bidang, termasuk bahasa Indonesia yang telah terkontaminasi sebagai alat untuk dijajah dan menjajah. Ketika sifat bahasa yang semula netral berubah menjadi bias dan sarat ambiguitas. Saya setuju dengan makna penjajahan yang ditawarkan sang kawan, sebab ada berbagai kepentingan yang mengintai dan bahasa menjadi mediumnya. Dari sosial, politik, ekonomi, teknologi, agama, budaya, sampai gender. Akan tetapi, terlalu naif jika menyalahkan bahasa sebagai biang kerok dari berbagai "musibah", semuanya berpulang pada pelaku kebahasaan sendiri. Bagaimana mereka akan berbahasa dan meresepsi bahasa?

Sesungguhnya, sejarah bahasa Indonesia itu panjang sebagaimana sejarah bahasa-bahasa lain di dunia. Pelan namun pasti, ada semacam metamorfosis tersendiri yang mengiringi dinamika berbahasa di negeri ini. Sayangnya, metamorfosis tersebut kurang disadari sebagian besar pengguna bahasa. Yang lebih dominan malah masuknya peristilahan asing yang digunakan secara semena-mena oleh pelaku kebahasaan, baik kalangan tua maupun muda.

Itu memprihatinkan sebab ada pengaburan nilai ketika tanpa disadari mereka tercerabut dari akar. Merasa gagah mencampur kosakata bahasa asing atau gaul ke dalam bahasa Indonesia, tanpa memedulikan situasi atau konteks yang menyertainya. Walhasil, campur-aduklah jadinya. Apakah serendah itu nilai bahasa Indonesia dalam relasi komunikasi antarsesama? Belum lagi diperparah oleh ketidaktepatan pengungkapan, baik secara lisan maupun tulisan, seolah mereka gagap mengonsepsikan imajinasi dan gagasan dalam kerangka bahasa karena ketidakcakapan mereka sendiri untuk menyerap hal-ihwal tebaran kehidupan.

Memang, kehadiran bahasa asing pada hakikatnya bisa memperkaya khasanah bahasa Indonesia. Bahkan bahasa daerah pun ikut andil. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga yang tebalnya 1.382 halaman (plus xxxv lampiran), memuat berbagai lema dari bahasa Indonesia, daerah, Melayu, Arab, sampai bahasa asing yang masuk sebagai kata serapan.

Persoalannya, semua itu berpulang pada kecakapan kita dalam memperlakukan bahasa. Apakah akan peduli pada kaidah-kaidah yang telah dibuat dan disepakati dengan susah-payah? Dibutuhkan tanggung jawab personal dari insan-insan penutur bahasa, bahwa mereka bisa menjadi teladan bagi semua. Terutama generasi muda. Sudah cukup kenyang bangsa kita dicekoki sekian dogma dari gaya tutur petinggi negeri (sampai kaum selebriti) yang tak becus berkonsepsi. Kata-kata itu ajaib, bebas dan tak mengikat; namun kata-kata pun bisa menjadi bumerang atau menuntut tanggung jawab, Saudara!

Lalu bagaimana cara kita bertanggung jawab?

Bacalah tanda, pelajarilah isi semesta. Asah kepekaan panca indra dan akal pikiran. Lalu songsong perubahan dengan ketajaman berikut kejernihan perspektif. Semua itu membutuhkan daya kritis dari kaum muda agar sudi menjadi teladan demi regenerasi bagi insan-insan masa depan. Untuk itu dibutuhkan bimbingan dari kaum tua yang cendekia dan bijaksana. Sebab siklus kehidupan senantiasa menuntut perbuatan sebagai semacam daur ulang.

Saya prihatin karena sehebat-hebatnya kaum muda di berbagai bidang, sampai menjadi aktivis kepemudaan dan lingkungan, ada semacam kevakuman alih generasi atau regenerasi untuk bidang kebahasaan. 
Apakah ilmu bahasa Indonesia itu memang mubazir? Berapa banyak sarjana sastra dan bahasa yang dicetak Indonesia, namun berapa pula yang berkontribusi demi kemajuan bahasa Indonesia?

Sebenarnya, yang ingin saya sorot adalah kemampuan pemuda sendiri dalam berbahasa. Apa pun strata pendidikan dan status sosial-ekonominya. Sebab, bahasa Indonesia berada dalam perkembangan mengagumkan sekaligus memprihatinkan. Mengagumkan karena sempat membuat "gentar" negeri-negeri jiran terhadap hegemoni bahasa Indonesia, berkaitan dengan era teknologi informasi masa kini. Ketika Indonesia dianggap pesat dalam perkembangan sastranya.1 Memprihatinkan karena pada hakikatnya tak banyak muda-mudi Indonesia yang peduli pada perkembangan bahasa nasional mereka.

Secara umum, penutur bahasa Indonesia terbagi dalam tiga kubu: pakar bahasa, kaum profesi, dan masyarakat umum.2 Mereka saling melengkapi dan menunjang. Pakar berbuat demi kemajuan bahasa dalam masyarakat; kaum profesi menggunakan hasil kerja pakar sebagai elemen kinerja mereka kala melebur dalam kehidupan bermasyarakat; dan masyarakat umum berbahasa sesuai acuan yang diserap dari pakar, kaum profesi, sampai persentuhan dengan sesama mereka yang awam sekalipun. Tanpa salah satu elemen, maka akan timpang. Jadi, tak bisa salah satu dianggap lebih daripada lainnya. Akan tetapi, kehadiran pakar bahasa rasanya masih kurang dibanding dengan mayoritas penggunanya. Itu berkaitan dengan regenerasi. Ibarat alih tongkat estafet kepemimpinan. 

Dalam Konvensi Bahasa Forum Bahasa Media Massa (FBMM) ke III yang membahas topik mengenai bahasa periklanan di Wisma Kompas-Gramedia Pacet, Cianjur; saya amati bahwa kebanyakan peserta sudah sepuh dan berusia di atas tiga puluh tahun. Yang berusia di bawah tiga puluh cuma segelintir. Ada rekan asisten editor dari Mizan, editor bahasa dari Gatra dan Trust, beberapa rekan editor bahasa dari media massa lain (cetak dan elektronik), penerjemah lepas, staf peneliti dari divisi Laboratium Geografi UI, dan saya sendiri untuk kategori freelance sebagi penulis lepas cum karyawan biasa yang ikut forum tersebut karena anggota milis guyubbahasa FBMM cukup aktif.

Dari beberapa makalah yang dipresentasikan kalangan senior, mulai dari Ernst Katoppo, Irmina Irawati, dan Zainal Arifin; ternyata di tangan beberapa insan pencinta bahasa, bahasa bisa diuraikan secara ramah, kocak, bersahabat, cerdas, bernas, sekaligus tegas.

Betapa menyenangkan berada di ruang konvensi itu. Menambah wawasan dan ruang lingkup pergaulan di antara sesama (minoritas) pencinta bahasa Indonesia yang berusaha keras agar penggunaan bahasa tersebut sesuai ritme kehidupan.

Akan tetapi, dalam konvensi itu, ada semacam kerisauan: masalah regenerasi dan involusi yang berputar-putar. Boleh dikata, yang muda cuma sedikit ikutnya, dan rasanya belum bisa diandalkan untuk menjadi pakar selain tuntutan profesi semata. Padahal FBMM telah membuka diri pada berbagai elemen media massa dan mengundang mereka untuk bergabung, namun selalu terbentur pada kebijakan masing-masing perusahaan media yang diundang.

Ada juga beberapa kalangan muda sesama guyuber (sebutan untuk anggota milis guyubbahasa), namun tampaknya mereka kurang aktif dalam jalur diskusi, berkesan cuma mengamati atau miliser pasif. Bisakah mereka mengambil-alih tongkat estafet? Semacam regenerasi dari orang dalam demi dunia luar? Padahal, tak ada salahnya mereka aktif berbicara dan bertanya dalam ajang diskusi tersebut demi mengasah potensi diri. Bahwa bahasa bukanlah sesuatu yang pasif apalagi stag, dan itu membutuhkan dukungan dari banyak pihak. Betapa jauhnya pencapaian dan ketekunan yang diteladankan Anton M. Moeliono, J.S. Badudu, sampai Pamusuk Eneste.

FBMM memang khusus untuk editor media massa cetak dan elektronik, termasuk media penerbitan lain, namun mereka pun membuka diri pada khalayak luas yang tertarik dan serius untuk bergabung. 
Masalahnya, lagi-lagi, ada semacam involusi dalam diskusi FBMM di milis guyubbahasa, berkaitan dengan kaum profesi lain dan masyarakat kebanyakan yang tak akrab dengan penggunaan bahasa Indonesia cara FBMM (yang sebenarnya tak bermaksud menyaingi Pusat Bahasa sebagai lembaga resmi utama).

Ada "lelucon" yang disodorkan Agus R. Sarjono dalam esainya, "Bahasa Indonesia dan Orang Asing" (Pikiran Rakyat, 11 April 2004). Bahasa Indonesia adalah bahasa yang mudah dipelajari! Begitulah kesan yang diberikan hampir semua mahasiswa semester satu sampai empat Jerman -- juga Belanda -- yang mengambil studi bahasa Indonesia. Dalam satu-dua semester saja, seorang mahasiswa sudah dapat melakukan percakapan sederhana dalam bahasa Indonesia; sesuatu yang tidak mungkin mereka lakukan dengan bahasa Arab, Jepang, atau Cina. Namun marilah bertanya pada mahasiswa yang sudah lulus sebagai sarjana bahasa Indonesia di tempat yang sama, maka hampir seluruhnya bergumam serempak: bahasa Indonesia adalah bahasa yang paling sulit dikuasai.

Mengapa demikian? Itu berkaitan dengan cara tutur orang Indonesia sendiri dalam berbahasa. Mencampur bahasa Indonesia dengan bahasa daerah, gaul, atau asing; kalimat-kalimat yang kehilangan subjek atau predikat; sampai ketidaklogisan dan ketidakjelasan dalam berbahasa. Termasuk "kesaktian" imbuhan yang bisa mengubah suatu kata menjadi beragam makna.

Begitulah bahasa Indonesia, jangankan rumit bagi orang asing, kaum pribumi pun bisa pusing.

Akan tetapi, ada yang lebih memusingkan bagi saya. Berkaitan dengan tanggung jawab profesi di kalangan muda pengguna bahasa Indonesia. Mereka bisa saja pelajar, santri, mahasiswa, pengajar, jurnalis, ekonom, pengacara, peniaga, politikus, aktivis, dan sekian profesi lain yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai medium aktivitasnya. Sampai sejauh mana kepedulian mereka dalam berbahasa? Tidak cuma mengikuti kaidah gramatikal dan leksikal semata.

Saya ingin menyorot "kekonstanan" berbahasa di kalangan penulis muda. Mereka yang sangat potensial dalam ide dan imajinasi namun stagnan dalam bingkai. Mulai dari kesalahan sederhana macam ketidaktepatan berbahasa (atau ketidaktahuan karena memang tidak tahu atau kesoktahuan dan kemalasan tak mau membaca buku acuan gramatika apalagi kamus bahasa Indonesia). Seperti penggunaan kata depan dan imbuhan yang sering bertukar tempat tidak pada tempatnya. Padahal itu sangat besar dampaknya, mendorong orang awam untuk ikut-ikutan salah kaprah tanpa tahu maknanya.

Kalau sudah demikian, maka repotlah semua. Pakar bahasa terpaksa buang-buang energi untuk membetulkan, segelintir kaum profesi yang peduli dan mau mengerti mencoba mengikuti kaidah demikian. 
Namun akibatnya hal itu seperti menyita energi dan waktu untuk fokus pada hal lain yang lebih penting. 
Pembahasan kosakata baru sesuai dinamika teknologi informasi, misalnya. Seperti pembahasan kata serapan dari istilah komputer dan telekomunikasi. Bagaimana "memasarkan" tetikus sebagai kata serapan dari mouse, pindai/pemindai dari scan, penggandaan dari back-up, sampai Surat Menyurat Singkat (SMS) dari Short Message Service (yang pernah jadi bahan debat kusir di antara beberapa guyuber, apakah "pesan pendek" itu akan diubah jadi Sandek [konon ada suku bernama demikian] atau Pepen [nama orang], atau apa saja sesuka mereka, hehehe…).

Itu baru teknologi informatika, masih banyak bidang lain yang menanti "sentuhan" diskusi bahasa seperti kedokteran, pertanian, kelautan, perdagangan, kedirgantaraan, otomotif, kuliner, olah raga, ilmu-ilmu eksakta, dan sebagainya. Jadi, sesungguhnya dibutuhkan kerja sama semacam simbiosis mutualisme antara pakar bahasa dengan kaum aneka profesi, secara profesional, demi memajukan dan mengenalkan dinamika tersebut pada masyarakat luas bahwa bahasa Indonesia bukanlah sesuatu yang stagnan.

Saya tertarik pada bahasa Indonesia karena sifatnya yang fleksibel. Namun fleksibelitas itu membutuhkan pengikut, terutama dari kalangan muda, sang calon pemimpin bangsa; agar bisa sama-sama berkembang tanpa diburu kekhawatiran bahwa tak akan ada pakar bahasa di kalangan muda. Sebab mereka terlalu sibuk dan asyik sendiri dengan dunianya. Cuek pada bahasa Indonesia karena dianggap mudah jadi disepelekan, atau sukar lalu dipersetankan. Padahal mempelajari dan mengajinya adalah hal yang mengasyikkan; syaratnya, dibutuhkan kecintaan dan kepedulian.

Dan saya miris karena tak semua media massa sudi bergabung dan asyik berdiskusi soal bahasa di milis guyubbahasa@yahoogroups.com atau pertemuan bulanan FBMM. Soalnya, dalam pengamatan saya, ketidakkonsistenan berbagai media dalam berbahasa itu tak cuma membingungkan masyarakat awam (termasuk kaum profesi dan pakar yang peduli), tetapi juga menyesatkan. Bukankah pekerja media merupakan ujung tombak transformasi gagasan dan pemikiran pada khalayak banyak? Namun dibutuhkan kerendahhatian dari kubu pakar bahasa, kaum profesi, sampai masyarakat.

Ya, mari kita bekerja sama, membuang ego dan sinisme, demi memperjuangkan eksistensi bahasa sebagai identitas bangsa yang sangat signifikan untuk kita wariskan pada generasi mendatang. Juga menunjukkan pada dunia bahwa bahasa Indonesia cukup bermartabat sebagai lingua franca sebab telah diakui oleh berbagai kalangan di beberapa negeri jiran. Siapa tahu pula kelak, bahasa Indonesia bisa masuk kategori bahasa pergaulan utama dunia. 
Prosesnya memang panjang dan melingkar. Namun mengapa tidak? Tinggal, seberapa kuat dan gigih tekad kita untuk menjadi teladan? Menyumbangkan segenap potensi diri demi kemajuan bangsa, agama, dan tanah air.

Mari, Tuan-Puan muda!***

Limbangan, 17-21 Juli 2006
Catatan akhir:
1 Segenggam Gumam, Helvy Tiana Rosa, hlm. 128.
2 Bahasa dan Bonafiditas Hantu, Agus R. Sarjono, hlm. xi; merupakan bagian pengantar dari Hasan Alwi, Kepala Pusat Bahasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D