HOME/RUMAH

Rabu, 16 Juli 2014

Mak Empat Semoga Selalu Sehat

[Kontes Semangat Berbagi Blog Emak Gaoel Bersama Smartfren]

SAYA sudah mengenal Mak Empat lama sekali, sejak saya dan Ipah anak bungsunya baru beranjak ABG. Beliau adalah sosok ramah yang dermawan dan ringan tangan. Dulu kala Ipah saya kasih daster tidur yang masih lumayan bagus, Mak Empat malah datang ke rumah untuk balas memberi sesisir pisang hasil kebunnya. Hal yang tidak perlu dilakukannya namun saya sempat tercengang. Betapa ia berupaya membalas kebaikan dengan kebaikan pula. Padahal saya malu sebab sebelumnya ibu marah soal daster yang diberikan ke Ipah. Toh, daster itu kebesaran.
Seiring waktu, kala saya dan Ipah telah berumah tangga dan kembali akrab (karena Palung anak saya senang main dengan Astri anak Ipah), kunjungan sering saya bersama Palung ke rumah Ipah mau tak mau bisa mengenal bagaimana Mak Empat itu -- yang kini menghuni rumah di sebelah rumah Ipah.
Tanah tempat rumah Ipah berdiri adalah pemberian Mak Empat yang dibelinya dari tetangga lain. Kala itu harganya masih murah. Dan Mak Empat membagi jadi tiga bagian untuk anak-anaknya yang belum punya tanah, masing-masing dapat 5 tombak (1 tombak = 14 meter persegi).
Saya kagum, bagaimana janda yang sehari-harinya cuma jualan gula aren dan bantu Bi Enok, anak keduanya, bikin opak Cipeujeuh; mampu memberi sesuatu yang kelak akan sangat berharga bagi kelangsungan hidup keturunannya. Tanah tempat rumah naungan yang dibangun Ipah bersama suaminya yang cuma sopir truk. Sedang ibu saya yang meski telah diberi warisan berikut tunjangan pensiun hasil jerih payah pengabdian almarhum bapak selama 30 tahun jadi PNS, sama sekali tak meninggalkan apa-apa untuk saya. Malah tanah tempat rumah panggung ini berdiri dijualnya ke tetangga tanpa menimbang perasaan anak dan menantu, berikut masa depan cucunya, demi hasrat mubazirnya.
Saya melarikan rasa sakit untuk melihat masih banyak figur pengasih yang peduli pada anak mantu dan cucunya. Di kampung ini kebanyakan orangtua akan berupaya memberikan tanah bagiannya untuk ditempati anak yang telah berumah tangga meski mereka sendiri tidak kaya. Sedang saya malah harus menyaksikan bagaimana dengan entengnya ibu menjual sepetak tanah kebun lain yang 5 tombak agar bisa bayar utang bekas dagangnya yang bangkrut pada rentenir (kemudian kakak lelaki saya dengan enteng pula demi “keterpaksaan” menjual tanah kebun 8 tombak yang mestinya untuk saya padahal "lupa" mengganti bagian saya yang dulu pernah diambilnya, sehingga saya sekarang tak punya apa-apa).
Ibu yang selalu bangkrut jika berdagang namun tak pernah kapok-kapok itu sebenarnya tidak bisa berniaga dengan cerdas. Meminjam modal pada rentenir agar bisa jualan daging keliling dan mengontrak rumah di Kota Bandung yang mahal itu bukanlah pilihan bijak, namun ibu yang bilang suka kesal jika tak berkegiatan menolak ke pengajian rutin di majlis taklim sebagaimana ibu-ibu sepuh lain.
Amarah dan rasa lelah saya karena tidak punya acuan untuk diteladani, harus melihat bagaimana bahagianya Ipah karena beribukan Mak Empat yang perhatian. Saya iri dan kagum pada Ipah. Ipah yang baik seakan mewarisi sifat dermawan dan kesopanan dari seorang Mak Empat.
Mak Empat selalu berbagi hal kecil dan sederhana yang dimilikinya untuk Palung kala kami main ke rumah Ipah. Entah itu makanan dari kebun atau hasil olahan dapur. Saya terharu, dalam kesahajaan masih saja beliau sudi berbagi dengan ikhlas.
Mak Empat yang jago masak itu juga mewariskan keahliannya pada Ipah. Tidak heran saya senang sekali jika diajak mencicipi masakan Ipah. Saya selalu merasakan perbedaan besar antara masakan Ipah dengan saya padahal bahan dan bumbunya sama. Barangkali juga bakat dan rasa cinta ikut tersaji dalam citarasa olahannya.
Ipah yang sudah yatim sejak masih balita itu sangat kasih pada ibunya. Usia Mak Empat sekarang di atas 70 atau awal 80 tahun. Meski giginya sudah ada yang tanggal dan pendengarannya mulai berkurang, namun semangatnya tetap berkobar, mengisi masa tua dengan hal-hal berguna bagi orang terdekat; keluarga dan kerabat, berikut tetangganya. Senang membantu siapa saja.
Ia bukanlah orang yang suka macam-macam, selain ikut majlis taklim, sibuk mengurus cucu-cucu dari anak lelakinya yang telah bercerai dan hanya pengangguran. 3 cucunya yang masih kecil butuh bimbingan dan anak lelakinya tak bisa diharapkan untuk mengurus rumah tangga. Namun rasa kasihnya tidak menyediakan ruang untuk ketidakikhlasan, yang jelas beliau kerap cemas masih mampukah mengurus anak cucunya dengan baik kala usia beranjak renta dan tubuh merapuh.
Saat ramadhan pun, Mak Empat terap beraktivitas seperti biasa. Menyiapkan menu sahur dan berbuka sendirian saja. Cucu yang terbesar dari anak lelakinya baru memasuki SMP, lelaki pula, sedang si bungsu yang perempuan baru kelas 3 SD.
Meski kepayahan karena harus mengurus rumah tangga sendirian, Mak Empat termasuk sosok tegar. Semua risiko dapur dan keperluan keluarga sampai jajan cucu-cucunya ditanggung sendiri.
Kala suatu sore saya bertandang ke rumahnya, Mak Empat hanya menyajikan menu buka sederhana, sayur sawi hijau. Terkadang juga takjil jika ada bahan tambahan. Namun lebih sering seadanya sesuai anggaran yang tersedia.
Beginilah sosok Mak Empat sehabis masak

Nasi untuk berbuka empat orang
Di usia rentanya, Mak Empat seakan beroleh balasan kasih sayang dari seluruh anak, menantu dan cucunya. Menjadi figur yang dihormati karena bukan tipikal orang nyinyir dan pelit. Tidak membuang waktu untuk bergunjing atau hal tak berfaedah lain. Telah mewariskan keterampilan tradisional pada anak cucunya untuk membuat opak Cipeujeuh yang proses pembuatannya tidak mudah, agar keluarga anaknya bisa beroleh tambahan nafkah. Seakan sisa hidupnya telah dibaktikan untuk rasa cinta.
Dan ramadhan pun baginya bukan beban agar anak lelaki dan cucunya bisa ikut berpuasa. Mungkin ramadhan ini hari-harinya lebih melelahkan, namun semoga malaikat mencatat amal kebaikannya. Betapa rasa ikhlas yang bersemayam mampu mengalahkan ego agar bisa beristirahat dengan tenang tanpa rutinitas dan tetek bengek mengurus anak cucunya.
Mak Empat punya enam anak, belasan cucu, dan beberapa cicit dari berdua dengan almarhum suaminya yang hanya buruh tani kecil, beliau telah berjuang sedemikian keras demi kehidupan keturunannya agar tak sengsara. Semoga Allah memuliakan derajatnya. Bahkan di usianya yang renta beliau berupaya tetap puasa meski mulai sakit-sakitan. Ada nikmat dari ramadhan yang telah mulai diresapinya. Bukan sekadar pertemuan keluarga besar kala lebaran kelak, melainkan bahwa usia telah dibawanya ke arah bermanfaat untuk mengajarkan hikmat dengan cara sederhana.***

Limbangan, Garut, 16 Juli 2014

Mak Empat bersama Astri cucu paling bungsu anak Ipah diapit saya dan Palung




Bersama Kita Sebarkan Kebaikan dengan #SemangatBerbagi. Ikuti acara puncak Smarfren #SemangatBerbagi tanggal 19 Juli 2014 di Cilandak Town Square Jakarta.


#LombaBlog #EmakGaul #WindaKrisnadefa #SEMANGATBERBAGI #SMARTFREN

45 komentar:

  1. Semakin kita tua, semakin kita sadar betapa hidup itu perlu diperjuangkan.
    Mak ipah ini busa dijadikan uswah bagi semua anak muda yang masih berleha leha dalam kehidupannya. Yes :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tepat sekali, Ridwan. Soalnya percuma jika kita dikasih usia namun tak bermanfaat bagi diri sendiri berikut orang lain. Keluarga adalah hal terbaik dalam hidup seorang anak, makanya dibutuhkan sandaran yang kuat.
      Ayo, jangan kalah dengan Mak Empat dalam hal semangat.

      Hapus
  2. Dear Mbak RS, memang Mak Empat sukses jadi ibu plus nenek, kita do'akan semoga keberkahan selalu bersamanya. Amin..!

    Tentang ibu + kakak mbak RS yang 'sampai hati berbuat begitu, biarlah Allah SWT. Yang Maha Tahu yang membalasnya. Namun saya berharap mbak RS tetap 'berbakti pada ibunda tercinta, karena kebaikan hati seorang ibu tentu mbak RS juga sudah faham binti maklum, sebab mbak RS juga sudah jadi seorang Ibu.
    Saya yaqin 'masa depan kehidupan mbak RS dan keluarga pasti akan cenerlang..!! Semoga baik-baik saja. Amin..!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih doanya untuk Mak Empat, Abang.
      Yah, soal ibu, jangankan nasihat anak sendiri, dari pihak kerabat sampai orang lain gak mempan. Wataknya cenderung terlalu sayang diri sendiri, berbuat sesuka hati. Banyak yang menyerah, Soalnya secara psikologis orang yang sudah demikian sulit diperbaiki apalagi memperbaiki iri. Hidayah belum singgah, barangkali. Makasih nasihatnya. Dan soal kakakku, biarlah bumi yang menentukan bagaimana akan menerimanya atau tidak. Itu pelajaran berharga agar jangan sampai mengambil sesuatu secara berlebihan, dan dengan cara tidak baik pula.
      Aamiin, semoga hidup saya dan keluarga akan mencapai titik baik sekaligus mandiri. Makasih support-nya, Abang.

      Hapus
  3. Mak, saya turut prihatin, saya rasa saya membaca beberapa kali seputar Ibu Mak yang sebagai ibu, saya rasa ia ibu yang kurang bertanggung jawab. Sungguh kasihan sekali beliau, semoga dosa-dosa yang ia lakukan diampuni, dan juga sisa umurnya bisa digunakan untuk memperbaiki diri. Doakan yang rajin dan ikhlaskan, ya, Mak:) Kita bisa mencontoh bagaimana ikhlasnya seorang Mak Empat, sungguh, hidupnya terasa tiada masalah. Beban-bebannya seperti ada tangan yang sangat besar yang ikut mengangkatnya.

    Ah, semoga kita bisa menjadi jiwa yang bermanfaat, berguna, bagi diri sendiri, keluarga, lebih-lebih pada masyarakat. Mak Empat adalah suri tauladan, semoga umurnya makin barokah.. aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, Huda, kala kita mengalami sesuatu, terasa berat jika tak ada yang menguatkan. Makasih banyak. Barangkali musibah saya mengenai ibu hanyalah contoh dari Allah agar tak tergelincir dalam perbuatan tak baik. Semoga sosok Mak Empat yang menginspirasi bisa mengajarkan saya akan makna kasih yang hakiki.
      Aamiin, semoga Huda juag bisa jadi suri tauladan.

      Hapus
  4. wah hebat mak empat, walaupun sudah sepuh tapi semangat tetap membara. sebagai anak muda yang sering hilaf dan banyak malas aku jadi malu, kalah sama mak empat. semoga mak empat sehat selalu, dan selalu dalam lindungan allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Tifah. Makanya saya pun sayang dan kagum pada Mak Empat. Beliau itu figur yang penuh kasih pada sesama. Bayangkan, sendirian berjuang mengurus anak-anaknya yang masih kecil sepeninggal suami. Mengantarkan mereka untuk mandiri dan bahagia.

      Hapus
  5. Salut dah sama mak empat, beliau juga beruntung karena anak-anaknya masih memperhatikannya. Kan banyak juga tuh anak yang gak merhatiin Ibunya karena udah tua. Semoga membaca ini akan menginspirasi mak lima dan mak enam untuk berbuat baik. #halah

    Kalo soal ibunya teteh, yah.. Gak bisa diambil kesimpulan kayak gitu. Selalu ada cerita panjang dalam sebuah keputusan, mungkin dulu ibunya teteh emang perlu banget uang sampe ngejual tanah. :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mak Empat memang layak diteladani, sangat jauh dibandingkan dengan ibuku. Soal tanah yang dijual, berarti harus mengusir anak yang menempati. Padahal tak perlu demikian asal cerdas kelola uang dan jangan terbiasa main mata dengan rentenir.
      Oh ya, Erick, insya Allah setelah lebaran rumah ini akan dibongkar dan dipindahkan ke tanah carik desa milik pemerintah. Saya, anak dan suami harus menyingkir ke sana. Sungguh merepotkan. Yah, ikhlaskan saja. Meski tidak ada air sumur dan harus payah. Ada pelajaran berharga dari itu. Akan ke mana usia dibawa. Dan uangnya sayang entah diapakan ibu semua karena beliau yang pegang.

      Hapus
  6. salut dengan Mak Empat yang begitu baik dan gigih menjalani kehidupan, semoga kita bisa meneladani beliau dalam kebaikan ya mak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Arum. Hidup baginya ada banyak cara untuk beribadah di sisa usia. Meski sangat lelah. Menggantikan tugas menantunya yang tak bertanggung jawab dan ingin kebebasan.

      Hapus
  7. Ini kisah nyata, mbak? Kirain tadi cerpen fiktif gitu. Tapi begitu terus baca sampe hampir selesai ternyata ada fotonya juga..
    Semangat untuk Emak Empat yaaa! Semoga Barokallah sepanjang masa.
    Salut untuk perjuangan, ketabahan, dan ketulusan beliau. Saya turut mendoakan, mbak... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nyata, hehe gak nyadar akan terasa fiktif. Makanya sertakan foto sebagai kewajiban lomba. Masih belum lengkap sih.
      Iya makasih, akan disampaikan pada Mak Empat dan Ipah. Mereka pasti senang. Alhamdulillah.

      Hapus
  8. Ah hidup selalu memiliki rasa manis tersendiri, tak perlu payah-payah bergelimang harta untuk jadi suri tauladan, karna, yang sederhana saja sudah lebih dari cukup.
    Salut dengan pendirian si Mak Empat, dan agak gemes juga melihat kondisi anak-anaknya yang seharusnya membiarkan Mak Empat beristirahat menikmati masa tua, tetapi malah merepotkannya. Ah begitulah ...

    Ceritanya inspiratif sekali :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yah, dalam kesederhanaan ada keindahan jika bisa dijalani dengan rasa syukur. Soal anak-anak Mak Empat, pada umumnya kebanyakan membantu dengan uang atau apa saja. Termasuk Ipah sendiri. Kecuali pada anak lelakinya yang bercerai memang tak bisa diharapkan banyak untuk jadi single parent. Namun sepertinya Mak Empat bahagia meski lelah.

      Hapus
  9. Sama Kayak Zakia, awalnya aku kira ini kisah fiksi yang inspiratif. Tapi ternyata tulisan ini disertai foto yang bikin aku yakin kalau ini bukan cerita fiksi. Tapi kisah nyata yang benar-benar inspiratif. Betapa Mak Empat bisa jadi sosok yang patut buat dicontoh. Di usianya yang baru menginjak kepala 8, beliau masih semangat tidak hanya mengurus diri sendiri, tapi juga keluarganya.

    Ah, semoga setelah tua aku pun nggak akan egois dan lebih mementingkan keluarga. Semoga beliau selalu sehat dan panjang umur. Aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga jika kita tua kelak, bisa jadi insan yang dikasihi anak cucu dan keturunannya. Tidak merepotkan malah bermanfaat bagi sesama. Sedia menolong dan tak pelit berbagi. Tadi habis dari rumah Mak Empat lagi. Duh, malah bilang minta maaf gak punya apa-apa untuk dibagi pada Palung. Jadi malu saya.

      Hapus
  10. waaah, emak Empat keren sekali yaaa...sudah sepuh tapi juga tidak ingin merepotkan orang lain..dan buat emak mbak semoga bisa segera mendapat ttitik terang ya mbak, dan mbak sendiri juga semoga bisa punya usaha yang berkembang jadi nggak papa deh nggak dapat ;jatah' toh mampu mencari dengan perasan keringat sendiri :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mey, makanya kita harus berupaya sedari dini untuk punya jiwa murah hati dan baik agar tuanya tidak terkena karma jadi orang yang menyusahkan.
      Makasih support-nya. Aamiin. insya Allah akan tetap ikhtiar dengan hasil keringat dan otak berikut hati sendiri agar bisa mengumpulkan rezeki yang baik dan halal. Mungkin butuh waktu tahunan, namun akan membahagiakan jika terwujud. Bukankah Mak Empat sudah membuktikan, dalam keterbatasan malah bisa memberi lebih untuk anak-anak hingga keturunannya.

      Hapus
  11. Cipeujueh siga nami desa abi teh, emang aya nya opak cipeujeuh? sanes opak becak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cipeujeuh teh nami kampung abi di Kecamatan Balubur Limbangan, Garut. Opak Cipeujeuh teh seueur jenisna. Aya nu kolontong, opak amis, dugi opak cipati.
      Bari palih mana asalna? Masih sa-Garut?

      Hapus
    2. Sanes teh, Bari mah asli Cirebon. Tapi nami desana sami Cipeujeuh :D

      Hapus
    3. Cipeujeuh namina seueur tapi dibedakeun ku desa sareng kampung. :) Nembe terang di Cirebon aya nami Desa Cipeujeuh. :)

      Hapus
  12. wah.. salut banget sama mak Empat,, sama kayak almarhum nenek saya :)
    semoga diberikan kesehatan buat mak Empat sekeluarga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi kangen pada nenek Icang, ya? :)
      Aamiin, untuk Mak Empat. Makasih.

      Hapus
  13. saya semakin kagum sama mak empat ,kesabaran dan pantang menyerahah dia punya perasaan penasaran setiap ada kesempatan namun kita kembali lagi ke takdir kita tentunya yang sudah digariskan dari atas

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beliau sudah berjuang sejak ditinggal suaminya yang almarhum lebih dulu, padahal anak bungsunya masih balita. Sendirian membesarkan 6 orang anak bukanlah hal mudah. Alahmdulillah, berkat doanya, anak-cucunay bisa jadi orang yang berhasil dan bisa membawa diri dalam lingkungan meski ada seorang anak lelakinya yang terpaksa gagal menjalani kehidupan rumah tangga karena istrinya tidak puas secara materi. Anak lelakinya terpaksa meninggalkan pekerjaan di Bandung demi jadi single parent. Akibat ambisilah, seringkali orang lain jadi korban. Sering sedih lihat Mak Empat kalau repot dan kepayahan, tapi semoga Allah melapangkan jalannya dan memberi usai yang bermanfaat serta kesehatan yang baik. Aamiin.

      Hapus
  14. hebat hebat, pdhl usianya udh cukup tua tapi masih mampu utk masak sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masakannya tetap sedap. Meski yang dimasak cuma tiwul jagung ampas bikin puding jagung dari hasil memarut jagung kebun. Subhanallah.

      Hapus
  15. Mak Empat yang hebat :) Semoga selalu diberi kesehatan Aamiin.

    Mba mampir juga ya di rumahku


    http://nahlatulazhar-penuliscinta.blogspot.com/2014/07/berbagi-dengan-ilmu.html

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih sudah mampir. Salam kenal. Siap meluncur ke rumah nahfatul juga.
      Ma Empat adalah sosok sederhana yang banyak terdapat di sekitar kita. :)

      Hapus
  16. subhanallah :')
    Mak Empat seperti nenekku di desa, Mak. usianya sudah 80+ tapi masih suka pergi ke kebun :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lebih baik kala tua kita tetap giat adripada sakit-sakitan. Oh ya, alam desa dan makanannya bisa menyehatkan orang kampung sini. :)

      Hapus
  17. trimakasih teman ku akan kebaikan mu,aku sangat trharu kala membaca tulisan tntang mak empat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sawangsulna. Ini Ipah, ya? Tadi Ai kulihat OL di FB dan kasih tanda suka, hehe. Ini untuk kenangan kita. Sosok yang dikasihi karena penuh cinta dan tanggung jawab. Semoga anak dan cucu Mak Empat berkenan.
      Nuhun. :)

      Hapus
  18. Paling lemes kalo liat nenek2 seperti mak empat ini, orang yang masih punya semangat hidup yang jauh lebih besar daripada anak2 jaman sekarang yang abis diputusin aja langsung ngedrama bunuh diri. Aduh salam sayang ya untuk mak empat, love you mak empat:*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat hidupnya bermula dari muda. Padahal beliau juga sempat alami masa-masa sulit di tahun penjajahan dan kemerdekaan. Insya Allah salam sayangnya akan disampaikan pada Mak Empat. :)
      Hidup ini memang penuh drama, yang penting bagaimana menyikapinya.

      Hapus
  19. jadi ingat nenek kalo baca cerita ibu,, huhhh,,, semangatnya penuh keikhlasan dan keteguhan.... subhanallahhh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam untuk nenek juga. :) Makasih sudah mampir.

      Hapus
  20. Semua orang memiliki ujian yang berbeda-beda ya mbak :) ada yang diberi ibu yang luar biasa baik dan penyayang sebagai ujian syukur, namun ada juga yang diberi ibu yang kurang penyayang bahkan cenderung acuh pada anaknya, ini sebagai ujian sabar. Keduanya bisa menjadi kebaikan untuk kita asalkan kita bisa tetap menyikapi dgn baik. Mudah-mudahan Allah melapangkan hati mbak utk bisa sepenuh hati menerima sosok ibu apa adanya, insya Allah jadi jalan ke surga kalau mbak berbakti dgn ikhlas, aamiin.

    BalasHapus
  21. Assalamu'alaikum...
    Terima kasih sudah berbagi cerita inspiratif ini, ya!
    Good luck! ^_^
    Emak Gaoel

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumussalam,
      Sama-sama, Mak Winda. Senang saja bisa berbagi kisah keseharian yang dekat dengan saya. Agar bisa menguatkan saya juga selain, semoga, bisa menginspirasi.
      Terima kasih sudah mampir. :)

      Hapus
  22. Assalamualaikum. saya kenal betul dengan Bi Empat, karena sekampung. beliau istri almarhum mang Ateng. Sosok orang desa memang seperti itu. Sederhana namun selalu ingin membalas kebaikan yang diterimanya, dengan kebajikan yang lebih baik

    BalasHapus
  23. haturan tepang & nyanggakeun salam pangwanoh ti urang Majasari Cibiuk tapi sok kacaletot ngaku urang Limbangan.
    Nembe terang aya blogger edun urang Limbangan.
    Dupi ayeuna linggih dimana?

    BalasHapus

Terima kasih telah berkunjung, silahkan tinggalkan jejak persahabatan berupa komentar agar bisa menjalin relasi sebagai sesama blogger. Soalnya suka bingung, SILENT READER itu siapa saja, ya? :D