HOME/RUMAH

Selasa, 23 Januari 2018

Pukau E-Book

Seperti menemukan harta karun berharga kala menelusuri isi notebook (NB) Ai Ghina Siti Muthmainnah, anak sahabat saya. Bermula dari sering nyungkeun film dari NB HP Mini-nya untuk dimasukkan ke dalam netbook Acer Aspire One Pro saya. Ai yang baik tak keberatan NB-nya dioprek agar saya leluasa men-download.

Oleh Rohyati Sofjan


BERHUBUNG flashdisk (FD) saya cuma 4GB, maka diseling dengan unduh (download) yang lain untuk mengisi ruang FD agar penuh karena kapasitas film yang besar membuat saya cuma bisa menyimpan 3 atau 4 film saja, bergantung bagaimana isinya. Maka saya unduh juga game, program aplikasi antivirus sampai GOM Player (memiliki keleluasaan dan kelebihan dibanding Windows Media Player; bisa memasukkan subtitel dengan bahasa yang dikehendaki, dan lain-lain).
Yang paling menarik dalam penjelajahan itu adalah saya temukan banyak file asyik. Dari setiap folder tersimpan oase pengetahuan. Begitu banyak e-book bertebaran.
Dari Harun Yahya, kisah-kisah Islami, Al Qur’an, beragam hadis, panduan ibadah, tentang komputer, kumpulan soal tes CPNS, kata mutiara, teknik belajar sulap, resep masakan, ekonomi syariah, beragam novel, buku karya B.J. Habibie, sampai e-book berbahasa Inggris Sun Tzu The Art of War dan beragam GRE (Graduate Record Examination) semacam panduan tentang tes yang penting untuk beroleh beasiswa dari luar negeri.   
Rasanya dada saya sesak sekali dalam kebahagiaan tak terhingga. Apalagi Ai mengizinkan saya mengunduhnya. Pelajar kelas 3 SMKN 6 Garut itu hanya tersenyum kala saya bilang ada novel Andrea Hirata. Saya tanya apa sudah baca Harun Yahya juga, soalnya dari beberapa e-book yang dulu saya unduh dari NB-nya, baru baca beberapa halaman namun saya suka. Dapat dari mana? Oh, ternyata dari A Wawan kakak sepupunya, orang kuliahan yang sudah bekerja. Dulu sengaja memberi sebagian dari isi laptop-nya untuk dimasukkan ke dalam NB Ai kala membantu membelikannya di Bandung.
Saya menemukan gairah hidup yang meletup. Sebagai ibu RT bersuamikan buruh tani dengan penghasilan pas-pasan, inilah alternatif agar bisa meng-upgrade diri. Lebih murah, lebih cepat, lebih beragam. Saya sangat berterima kasih pada Ai karena telah membantu membukakan jalan, juga pada mamahnya yang merupakan kawan sepermainan di lembur sejak kecil.
Sebagai penulis yang mengawali karier sejak tahun 1999, saya sangat-sangat-sangat tertinggal dalam hal kemampuan. Hal terpenting untuk menggerakkan stimung adalah bahan bacaan! Tanpa amunisi itu saya blank. Kesempatan untuk beroleh bacaan adalah hal paling langka, sekalipun koran. Harus turun gunung ke kota Kecamatan Limbangan untuk membelinya di toserba atau depan pasar.
Cuma bisa beli buku atau majalah kalau kebetulan ada rezeki untuk ke Bandung. Kadang juga Rusi Hartati sahabat saya yang aktivis Jendela Seni, berbaik hati mengirim paket buku via pos. Paling sering saya ke warnet untuk copas. Baru tahu soal info di mana bisa beroleh e-book gratis kala Tiara kawan saya di Batusangkar SMS.
Jujur, dulu saya bosan dengan isi netbook. Gak ada kemajuan. Cuma bisa copas di warnet, isinya sastra melulu sampai resep masakan. Alami kesulitan unduh film dari internet. Setelah akrab dengan Ai, saya bisa belajar banyak. Pun tambahan silaturahmi darinya.
NB pernah alami kerusakan bagian luar dan dalam. Karena virus sampai kecerobohan, hingga habis nyaris sejuta untuk perbaikan dan ganti jeroan. Saya tak merisaukan soal uang karena ada tambahan ilmu yang bermanfaat. Pengetahuan saya tentang komputer bertambah, dan yang lebih penting NB keluaran pabrik Juni 2009, amanah dari seseorang sejak 17 Agustus 2009, didandani Pak Agus Sopian (Vikaru Gero-gero) hingga “sehat” dan canggih dengan program Windows 7 Ultimate. Sama seperti NB Ai, dan yang terpenting lagi bisa membaca banyak aplikasi. Termasuk e-book.
Saya telah selesai membaca novel Andrea Hirata. Laskar Pelangi, Sang Pemimpi, dan  Edensor. E-book versi PDF Foxit Reader. Sayang semua isinya tidak sampai tamat, begitu pun Taiko-nya Eiji Yoshikawa padahal saya pernah terpukau dengan Musashi. Saya tidak tahu apakah Andrea Hirata keberatan jerih payahnya digratiskan. Namun saya sangat-sangat-sangat terbantu untuk senantiasa belajar. Ada kehidupan di luar sana yang menggairahkan sebagai bahan penjelajahan.***
#Cipeujeuh, 24 Oktober 2013
~ Sudah dimuat di harian Tribun Jabar ~

 



Masih Juga “Menyuci”



Oleh Rohyati Sofjan


Penggunaan kata yang tidak tepat atau salah akan mengaburkan makna sebenarnya. Seperti contoh status yang ada dalam ruang status Facebook seorang kawan, sesama ibu rumah tangga dan bergiat di komunitas menulis, “Sembari menyuci di halaman belakang rumah,  saya suka duduk-duduk di sini. Di bawah pohon salam, berlatar belakang pohon pisang, dan tanaman bumbu lainnya. Melamun, mencari inspirasi, atau sekadar melepas lelah, selepas berkebun yang dilakukan di sela-sela aktivitas menyuci pakaian”
Kalau mencermati kalimat pertama dalam status itu, maka akan menimbulkan tanda tanya, apakah sedang menyuci(-kan diri) atau mencuci (pakaian atau perabot kotor) di halaman belakang rumah? Namun dalam kalimat selanjutnya ada keterangan “menyuci pakaian”.
Penggunaan  awalan (prefiks)  men- atau meny-  bergantung bagaimana kata dasarnya. Jika cuci maka akan jadi mencuci, dan jika suci maka menyuci. Awalan  meny- jika dilekatkan pada kata dasar  suci maka fonem ‘s’ diluluhkan, sedangkan kata dasar yang berfonem ‘c’ seperti cuci tidak ikut diluluhkan jika diberi awalan men-.
Dalam kasus ini, karena tidak ada objek dalam kalimat  “sembari menyuci di halaman belakang”,  maka akan membingungkan pembaca dengan apakah yang dimaksud menyuci itu? Objeknya berupa diri sendiri atau benda? Sedangkan dalam baris kalimat selanjutnya ada keterangan “menyuci” apakah itu (ternyata pakaian).
Memang ada perbedaan mendasar antara cuci dan suci. Cuci menurut KBBI  membersihkan. Bisa apa saja, denotatif atau konotatif.  Baik benda, darah, uang, atau hal lainnya.
Sedang suci dalam KBBI adalah kata sifat [1] bersih  (dalam arti keagamaan, seperti tidak kena najis, selesai mandi janabat); [2] bebas dari dosa; bebas dari cela; bebas dari noda; maksum; [3] keramat; [4] murni (tentang hati, batin).
Adalah  salah jika kita menulis (atau menyebut) menyuci pakaian, meski memang maksudnya pakaian dicuci agar bersih dan suci dari kotoran, namun sifat pakaian sendiri sebagai kata benda yang telah beroleh perlakuan untuk dicuci (dengan air dan sabun) tidaklah pas untuk disuci(kan). Pakaian bukanlah bayi yang murni, bukan pula tempat keramat yang dianggap suci, bukan pula sesuatu yang terbebas dari dosa atau barang mulia.
Yang tepat adalah pakaian dicuci agar bisa dipakai di tempat suci (ibadah) karena bersih. Jika kita seolah ingin menyucikan pakaian, maka cucilah dahulu dengan mencuci pakaian tersebut memakai air dan sabun.
Di sinilah dibutuhkan kemampuan dalam menalar pilihan kata agar cara berbahasa kita tidak membingungkan orang lain. Hal-hal yang kerap kita lakukan jika salah akan berdampak buruk , membuat orang lain salah mengartikan maksud kita atau ikut-ikutan salah dalam berbahasa.
Persoalan berbahasa Indonesia bukan melulu benar-salahnya. Bagaimana sebenarnya tanggung jawab kita sendiri sebagai penutur bahasa agar tak menimbulkan kerancuan pola pikir. Sudah terlalu sering masyarakat membuat kekeliruan macam itu dan abai akan maknanya.
Maka, mencucilah jika yang Anda maksud  memang mencuci, dan menyucikanlah jika yang Anda maksud memang menyuci atau bersuci.

KAIDAH PELULUHAN KATA BERIMBUHAN
Mari kita persempit luasnya cakupan kata berimbuhan dengan  awalan (prefiks) men- dan meny-  dulu. Kedua awalan itu jika dilekatkan pada suatu kata dasar tertentu sering alami kesalahkaprahan, pemakai kata tidak paham benar substansi kaidah yang seharusnya.
Dalam ilmu tata bahasa Indonesia kita mengenal kaidah fonologi, kaidah dalam tata bunyi. Ada empat fonem mengalami perubahan fonologi karena sifat dari huruf awal kata dasar yang menyertainya; seperti k, p, s, dan t.
Aturan KPST sebagai berikut:
1.    Kata dasar yang berfonem K seperti kampak (kata benda) jika diberi imbuhan maka yang pas adalah meng-.  Meng-  dan kampak jika disatukan fonem k-nya akan luluh jadi mengampak (kata kerja aktif).
2.    Kata dasar yang berfonem P seperti pancing (kata benda) jika diberi imbuhan maka yang pas adalah mem-. Mem-  dan pancing jika disatukan fonem p-nya akan luluh jadi memancing (kata kerja aktif).
3.    Kata dasar yang berfonem S seperti samping (kata benda) jika diberi imbuhan maka yang pas adalah meny-. Meny-  dan samping jika disatukan maka fonem s-nya akan luluh jadi menyamping (kata kerja aktif).
4.    Kata dasar yang berfonem T seperti torpedo (kata benda) jika diberi imbuhan maka yang pas adalah men-. Men- dan torpedo jika disatukan  maka fonem t-nya akan luluh jadi menorpedo (kata kerja aktif).

Dengan demikian, pemberian awalan pada kata dasar akan alami perubahan menjadi kata kerja aktif.
Mengapa ‘c’ tidak alami peluluhan? Dari segi penasalan, pengucapan awalan ‘c’ seperti mencuci tidak menghasilkan bunyi bahasa yang dikeluarkan udara melalui hidung. Oleh karena itu,  mencuci diucapkan tegas sebagai men.cu.ci yang berarti membersihkan. Sudah jelas memiliki perbedaan dengan menyuci yang bermakna bersuci.***
Cipeujeuh, 17 Juni 2016

Enigma




Tanah harapan,  seusai Zuhur menanti Asar. Jumat, 11 November 2005. Seorang perempuan duduk di kebun sendirian dalam naungan pohon-pohon pisang, dengan hamparan tikar koran dan makanan sisa lebaran. Ia menganggapnya semacam piknik yang unik.
KAMU akan mengatakan aku pecundang? Aku berpikir mestinya sejak Mei lalu  memutuskan pindah ke sini, sekeluar dari toko peralatan listrik dan komponen elektronik yang selama tiga tahun kulakoni sebagai buruh kecil. Namun sesuatu yang bernama optimisme bodoh menahanku untuk tetap tinggal di kota kita, Bandung. Dan pada akhirnya aku harus terpuruk di kota ini, Limbangan Garut. Tempat yang statis dan tak cocok bagi jiwa dinamis pencinta mobilitas.
Aku tak punya uang, simpananku di bank terkuras cukup besar dan saldo tabunganku cuma menyisakan batas minimum agar rekeningku tetap ada. Uangku habis untuk hal-hal dungu. Termasuk beberapa gaji terakhir untuk memperpanjang sewa rumah kontrakan. Sempat terselamatkan honor tulisan, namun itu pun habis untuk segala aktivitas kelangsungan hidup. Betapa menyebalkan.
Kini aku terjebak di sini, kamu tetap di sana dan barangkali bertanya aku sedang apa atau malah berdoa agar baik-baik saja. Aku tahu kamu akan mendoakanku ketimbang tertawa. Sesuatu di antara kita mencegahmu mengecam tindakanku, hal yang paling bodoh sekalipun, seolah kamu yakin aku akan bisa belajar dari kesalahan dan menjadikannya sebagai pedoman bagi masa depan. Namun kamu juga tak tinggal diam untuk mengingatkan.
Apa karena itu aku tambah mencintaimu dengan kadar rasa hormat  yang semestinya.
Ah, kamu tawadu, menolak pujian terdalam  yang tulus kusampaikan sebab kamu takut akan jatuh dalam jurang kesombongan. Sesuatu yang sama sekali tak pernah kuperkirakan. Darimu aku bisa belajar akan makna teladan.
Semakin mengenalmu, selama 5 tahun ini, semakin kerdil rasanya aku bagimu. Kematangan yang kamu miliki tak pernah kuperoleh dari lelaki lain. Termasuk lelaki yang sedang atau pernah dekat denganku. Dan aku memilikimu dengan cara tersendiri. Cara ganjil yang kadang tak kupahami.
Namun apakah kamu mengecapku sebagai pecundang karena aku ceroboh menata rencana masa depan?
Aku selalu terbuka padamu, semacam transparansi pribadi dalam menjalin relasi antarinsan berlandaskan persahabatan dan kepercayaan. Jujur bercerita apa saja, termasuk masalah pribadi, pekerjaan, finansial, selain diskusi tentang bahasa dan sastra. Sebab bagiku kamu sahabat sekaligus guru tempat bertanya dan mengadu. Akan tetapi, layakkah aku berbagi kisah ini? Kisah seorang perempuan yang selalu gamang pada banyak hal, termasuk menentukan tempat tinggal.
Kini aku tinggal di sudut kampung suatu lereng gunung, sekira tiga kilometer kurang lebih jauhnya dari kota kecamatan. Sinyal telefon bisa masuk, termasuk telefon selular. Namun tak ada warnet apalagi toko buku. Itu dua hal menyedihkan bagiku, tak bisa berkomunikasi dengan dunia luar, termasuk denganmu. Aku cukup kesepian, entah apakah kamu kehilangan. Ongkos transportasi kian mahal.
Namun kamu tahu, aku selalu sombong, berusaha keras menjadikan hal negatif sebagai energi positif, setidaknya dari segi perspektif. Masih ada hal baik. Setidaknya kamu akan bilang jika tahu aku punya tanah untuk rumah masa depan. Di lokasi agak terpencil dari rumah tetangga namun memiliki sudut panorama yang menakjubkan: arah Utara menghadap bentang pegunungan dan lembah-lembah dan hamparan sawah dan langit luas.
Bukankah kita mencintai alam? Terutama kamu “bukan sekadar Tarzan hutan”, seperti yang pernah kubaca dalam tulisanmu di sebuah situs pencinta alam. Dan sempat tersenyum heran kala tahu kamu juga nongkrong dalam ruang komentar situs pemerintah kotaku; www.garut.go.id.
  Aku memiliki harapan, pijar yang semoga tak padam, setidaknya ada kamu yang melihat dari kejauhan dengan tatapan menguatkan. Namun diam-diam aku takut gagal dan kamu mengecamku pecundang.
Aku mencintai kota ini juga kota kita, namun itu tidak cukup membuahkan keyakinan bahwa aku akan bisa membangun rumah impian dalam waktu sekejap dengan hasil jerih payahku sendiri. Bisa saja aku menyerah, kawin dengan sembarang lelaki yang disodorkan ibuku, lelaki yang tak paham duniaku apalagi dunia menulis yang kita geluti. Lalu belajar melupakan segala mimpi, termasuk pernah mengenalmu, kemudian menjalani kehidupan tak terencanakan yang jauh tak terpahamkan karena tercerabut dari akar.
Semoga tidak demikian sebab perempuan sepertiku termasuk sulit dapat jodoh karena invalid dari segi pendengaran dan terbiasa dengan penolakan dari orang-orang yang mengaku dirinya “normal”.
Perempuan itu diam. Matanya silau menembus bentang pegunungan arah Utara dengan sendu. Sinar matahari masih garang menyiram siang, namun angin yang kadang berembus cukup kencang di sela pepohonan terasa mengusir gerah. Beberapa burung sesekali berhamburan. Tak ada elang hitam terbang berputar-putar seperti yang dilihatnya kemarin.
Tanahku ini, atau tanah ibuku dari hasil warisan, cuma sebelas tombak. Tak terlalu luas untuk standar kehidupan perdesaan. Aku tak bisa membangun kolam ikan semacam balong atau empang luas, tempat di mana suatu saat mungkin kamu bisa mampir, beserta keluarga dan kawan-kawan, untuk memancing sambil menafakuri alam. Memenuhi rongga paru-parumu yang digeber asap nikotin rokok kesukaanmu plus polusi dengan udara segar pegunungan.
Barangkali akan kugunakan separuh dari tanah ini untuk membangun rumah panggung tropis sederhana khas bumi pasundan bertingkat tiga.
Tingkat paling atas semacam loteng untuk ruang kerja dan perpustakaan pribadi. Tingkat dua untuk kamar. Tingkat satu untuk ruang tamu, ruang makan, dapur, kamar mandi, dan gudang.
Sengaja kugunakan tanah separuh saja agar bisa menyisakan pekarangan cukup luas untuk menjemur padi, kayu bakar, sampai makanan macam rangginang. Bahkan masih ada kandang untuk bebek dan ayam. Juga kolam teratai kecil dengan sedikit ikan mas atau mujair di antara kebun apotek hidup agar aku tak kelimpungan mencari bumbu dapur di warung, dan beberapa pohon buah-buahan.
Oktober kemarin telah kutanam beberapa biji buah mangga dan limus karena tak sanggup beli bibit unggulnya. Semoga dalam jangka 6-8 tahun aku bisa jadi “juragan” buah-buahan. Sudah ada pohon petai, nangka, pisang, rambutan, dan entah apa lagi. Masih ingin kutanam jeruk garut dan buah-buahan lainnya kelak.
Perempuan itu tersenyum. Lalu senyumnya hilang dibilas muram.
Itu mimpiku, ironisnya aku tak punya uang. Berbagai upayaku untuk memperjuangkan tulisan sebagai sumber penghasilan masih gagal, dan ibuku marah-marah hingga kami kerap bertengkar.
Kalau sudah demikian, aku menyesal mengapa tidak dari dulu berpikir akan kembali ke kota ini, mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya demi rumah impian sebelum meninggalkan pekerjaan yang menyesakkan dan mempersetankan sekian orang yang berebut peran.
Namun kamu tahu, kakiku terikat di kota kita dan aku sedang sibuk dengan proyek calon qowwam, juga perkawanan. Kupikir aku akan menikah dengan seorang lelaki yang pernah mengajakku taaruf pada malam milad ke 29-ku.
Lelaki yang tak sekota dengan kita, namun sama-sama mencintai dunia menulis, juga cukup apik dalam berbahasa. Lalu mengepakkan sayap meninggalkan kota kita, kota ini, termasuk ibuku.
Namun semua berantakan dan menyisakan kepingan luka tak semestinya. Barangkali ia tak sungguh-sungguh menginginkanku. Barangkali keraguanmu ada benarnya juga. Ia “pacar” kedua (dan pertama secara maya) sesudah pacar pertamaku secara nyata nun 1 SMU yang cuma jalan 4 bulan saja.
Dan aku tak meyakini dunia maya lagi. Apalagi pacaran!
Perempuan itu mengembuskan nafas. Berat.
Entah kutukan atau apa, aku harus meninggalkan kota kita dan kembali pada kota ini setelah tiga tahun tak pulang, termasuk kembali memperuncing pertengkaran dengan ibuku soal jodoh dan uang.
Barangkali kamu akan menasihatiku agar bersabar, mengambil perumpamaan lain untuk menguatkan. Namun aku malu karena ternyata pecundang.       
Hidup memang penuh pasang surut, terkadang enigmatik; sebagaimana kerut di wajah kita yang melukis jejak usia. Apakah kamu merasa tua?
Ibuku sudah tua, sekira 57 tahun. Abangku cuma satu dan sudah berkeluarga, usianya 7 tahun di atasku. Aku anak perempuan satu-satunya. Usiaku baru kepala tiga, dan kamu sudah kepala empat.
Betapa ironisnya kehidupan. Kulihat anak-anak tumbuh besar, dan orang dewasa yang kukenal mulai beruban. Apakah rambutmu pun beruban?
Sepuluh tahun mendatang aku takut akan tetap melajang dan tak utuh sebagai perempuan. Lalu ibuku menghabiskan sisa hidupnya dengan pertengkaran dan penyesalan. Lalu kamu menganggapku sebagai murid yang gagal, setidaknya dalam urusan percintaan -- itu jika aku masih bertahan dalam dunia menulis sebagai mata pencaharian.
Namun apakah kelak aku akan sebijak dan sematang kamu?
Aku mencintai kota ini, termasuk kota kita juga. Kalau boleh memilih, aku ingin tetap berada di kota yang kamu tapaki. Mengapa aku harus sentimental? Kota cuma ruang untuk kita jelajahi. Namun kota lebih dari sekadar tempat tinggal.
Terus terang aku hanya takut kehilangan peran yang telah kita lakoni. Bagiku kamu guru terbaik yang pernah kukenal, dan aku belum menemu seorang guru ke-4 sebagai takdir bagi rahimku sekaligus qowwam.
Pendar-pendar cahaya matahari perlahan memudar. Hari telah Asar. Perempuan itu merasa alur hidupnya masih jauh dari harapan. Namun ia ingin tegar.***
   

Juring



[Dalam matematika  juring adalah luas daerah dalam lingkaran yang dibatasi oleh dua buah jari-jari lingkaran dan sebuah busur yang diapit oleh kedua jari-jari lingkaran tersebut. Seperti busur dan tembereng, juring juga dibagi menjadi 2, yaitu juring kecil dan juring besar. Pada umumnya, istilah dalam buku hanya juring saja. Ini berarti yang dimaksud adalah juring kecil. (http://dunia-matematika.blogspot.com/2010/03/pengertian-dan-unsur-unsur-lingkaran.html)

Oleh Rohyati Sofjan


KBBI menyederhanakan menjadi [nomina/kata benda] ulas; pangsa. Ulas adalah bagian buah-buahan (jeruk, durian, dsb) yang berbentuk ruang atau petak-petak (mudah dilepas atau dibuka dari bulatan buahnya).
Pangsa adalah [1] petak-petak dalam buah-buahan (seperti dalam buah durian); [2] bagian; jatah; jumlah banyaknya sesuatu; [3] garis-garis pada tapak tangan; [4] urat pada batu pualam.
Dalam keseharian, jika kita akan menyebut potongan buah dari jeruk, misalnya, maka disebut juring. Buah apa pun yang berbentuk bulat jika bagian dalamnya akan kita ambil maka merupakan juring dari keseluruhan buah. Sesuai ilmu matematika tentang lingkaran seperti yang telah disebutkan di atas.
Akan tetapi, tidak hanya buah saja yang potongannya beroleh sebutan juring. Bagaimana dengan makanan? Kue bolu yang dimasak (dipanggang atau dikukus) dalam loyang bundar kalau dipotong-potong maka akan berbentuk irisan persegi. Begitu pun dengan martabak, pizza, puding, bahkan telur dadar yang dipotong-potong. Namun sangat jarang kita menyebut potongan tersebut sebagai juring. Lebih sering irisan atau potongan.
Seloyang pizza sebenarnya mengikuti kaidah matematika. Namun sangat jarang kita menyadarinya. Jika dipotong-potong dalam beberapa bagian, maka bisa menghasilkan 12 juring atau bergantung selera potongan yang diinginkan besar-kecilnya.
Menerapkan bahasa matematika dalam keseharian bukanlah hal rumit, itu bisa membantu pembayangan dalam logika berpikir kita secara lebih jelas dan gamblang. Dengan kata lain, kita tahu ada kata untuk mengungkapkan suatu bagian benda. Tidak hanya khusus untuk bidang tertentu semata.
Pernah ada majalah yang salah menulis bagian dari potongan buah manggis yang seharusnya satu atau beberapa juring menjadi “sesisir”. Yang jelas manggis bulat bentuknya, tidak bertandan seperti gugus pisang. Di sinilah terungkap ketidakakraban suatu kata tertentu bagi pelaku kebahasaan yang bingung sehingga ikut membingungkan orang.***
Cipeujeuh,  9 Februari 2014