HOME/RUMAH

Rabu, 13 Desember 2017

Because This is My First Life 1-1


 

17 SEPTEMBER 1996

DI sebuah ruang tamu terdengar gema suara bahagia, ada yang menyanyikan lagu selamat ulang tahun.
S’lamat ulang tahun
S’lamat ulang tahun
S’lamat ulang tahun, So Yoon
S’lamat ulang tahun
Saat aku beranjak usia sembilan tahun, aku belajar hal baru. Dari televisi aku menonton adegan sebuah keluarga beranggotakan empat orang yang merayakan ulang tahun putrinya, dan sang ibu bilang pada putrinya yang hendak meniup lilin. “Kau harus buat permohonan dulu.”
“Oh, iya.” So Yoon terlihat senang sekali diingatkan. Ia langsung memejamkan matanya sambil merapatkan kedua tangan  di atas dadanya. Ia menangis bahagia. Adik lelakinya tak mengganggu.
“Sebelum meniup lilin kau harus buat permohonan.” Aku yang sedang duduk menghadap meja menonton adegan tersebut dengan terkesima, turut mengulang ucapan tersebut dalam hati.
Lalu adegan berubah pada pesta kecil perayaan ulang tahunku di keluarga kami. Hanya berempat. Aku, ayah, ibu, dan adik lelakiku. Ibu dan adikku bernyanyi riang sambil bertepuk tangan, “S’lamat ulang tahun Ji Ho….” sedang ayahku hanya diam menyaksikan. Dari luar ia memang terlihat pendiam namun dalamnya mudah meledak-ledak jika marah.
Dan aku kesal sekali begitu lagu itu usai dinyanyikan, adikku langsung meniup lilinnya, tidak memberiku kesempatan untuk meniup lilin sendiri apalagi membuat permohonan.
“Mari makan!” seru ayahku kaku. Dengan aksennya yang berat seakan aba-aba tentara sedang membentak. Dan aku hanya bisa terpana, memandang asap dari lilin yang barusan ditiup habis adikku. Sembilan lilin dalam beberapa kali tiupan.
Ya, begitulah. Di rumah kami yang mengutamakan laki-laki, keinginanku yang barusan kupelajari dari adegan acara televisi tak mungkin terjadi.

17 September 2001
Kami merayakan lagi acara ulang tahunku. Dan lagi-lagi perulangan adegan khas dalam keluarga kami terjadi. Adikku yang meniup habis semua lilinnya. Ayahku berseru mari makan dengan aksennya lagi, lalu mengambil sendok dan menancapkannya pada kue tar ulang tahunku. Langsung melahapnya dalam satu suapan besar. Kue tar rasa keju yang enak itu bagi ayahku tak lebih dari penutup lagu selamat ulang tahun. Kau tahu, seperti klimaks dari suatu acara. Dan aku tak berdaya, karena dalam keluarga kami yang lebih mengutamakan anak laki-laki, tak mungkin seorang anak perempuan berkesempatan membuat permohonan.
Begitu terus selanjutnya dalam setiap tahun-tahun perayaan ulang tahunku. Adikku akan meniup habis semua lilin, ayahku akan berseru mari makan lalu menancapkan sendok ke permukaan kue tar rasa keju kesukaanku sampai menembus ke bawah, melahapnya dalam suapan besar.
Lalu semuanya berubah kala aku merayakan ulang tahunku yang ke dua puluh, pada tahun 2007. Aku merayakannya dengan dua orang sahabat perempuanku di restoran, Woo Soo Ji dan Yang Ho Rang. Dan akhirnya bisa membuat permohonan sebelum meniup lilinnya. Tak ada lagi adik pengganggu dan ayah yang kaku.
Akhirnya aku bisa membuat permohonan pertamaku. Setiap tahun permohonanku sama. KABULKAN AKU MENJADI PENULIS YANG HEBAT!
Dan 10 tahun berselang, aku sungguh jadi penulis. Aku asisten penulis sebuah melodrama. Aku sudah jadi asisten selama lima tahun. Pengalaman menulis sub-bagianku cukup banyak, tapi dalam adegan yang kubuat aku harus menyertakan produk sponsor yang dipakai para pemain. Semisal gingseng merah yang diminum aktor utama, lipstik warna beludru merah yang tiga kali dipakai aktris utama senilai 30 juta won, sampai otoped canggih.
Begitulah, bagian terpenting dari pekerjaanku adalah menggalang dana. Maka aku harus menulis adegan sambil menyertakan produk sponsor. Aku menerima daftar produk tersebut dan menyusunnya dalam skrip, aku akan mencoreti produk sponsor yang telah selesai kumasukkan dalam skrip sampai beres.
Dan di dalam kamarku, akhirnya selesai juga pekerjaanku. Kulemparkan spidol warna dan lembaran kertas daftar produk ke atas. “Akhirnya, aku bebas!” Aku akan mengemas koperku dan pulang ke rumah untuk berlibur.
Ketika hendak pamit pada penulis utama, di luar ruang kerjanya aku mendengar beliau sedang uring-uringan, bicara entah dengan siapa lewat telefon genggam.
“Bukan salahku begitu banyak iklan sponsor di drama. kalau saja kau sudah pakai iklan itu di episode lain…, aku tidak perlu pakai banyak iklan dalam satu episode sekaligus.
Apa? Tak tahulah, berhenti menelefonku.” Ia gusar lalu mengakhiri percakapan. “Aku sudah sibuk sekali!” Omelnya. Lantas duduk di meja kerjanya kembali menghadap laptop. Mengoceh sendiri. “Setelah berciuman, dia harusnya menamparnya. Atau haruskah dia menamparnya dulu lalu ciuman? Tak tahulah….” Bingungnya.
Di ambang pintu, aku ragu sejenak sampai akhirnya berani menyapa ahjumma pertengahan 40-an, seorang penulis senior yang menjadi bosku. “Bu Penulis.”
“Ya?” Ia sama sekali tak menoleh ke arahku di belakang punggungnya. Serius menekuri laptopnya.
Jadi aku memberanikan diri untuk masuk ruang kerjanya dan menghampiri. “Draf akhirnya sudah kuunggah.”
“Ya.”
“Gingseng merah, kosmetik, dan iklan lainnya sudah kumasukkan.”
“Baiklah. Aku harus hapus ini.” Bos seakan tidak menanggapi ucapanku dengan baik. Pikirannya seakan berada di dimensi lain. Khusuk dengan laptopnya.
“Bu Penulis, aku pamit dulu, ya.”
“Ya, ke mana?”
Aku hanya diam. Sampai ia menengok ke belakang. Memandangku. “Omo, kau mau pulang?”
“Ya.”
“Baik. Terima kasih atas kerja kerasmu.”
Aku hanya mengangguk sambil sedikit merundukkan kepala.
“Apa ini sudah sebulan?” Mulai, deh, pikunnya kumat.
“Tidak, tiga bulan.”
“Sudah selama itu?” Wah, ia malah heran. Memori waktunya mungkin rada error.
Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Baiklah. Kau tinggal di Gangdong-gu, bukan?”
“Gangseo-gu yang benar.” Ralatku.
“Gangseo-gu?” Ia tampak malu dan terkejut. Jadi aku hanya mengangguk lagi sambil tersenyum ramah.
“Oh, iya, betul.” Ia mencoba sok akrab, “Kau tinggal dengan kakak perempuanmu?”
“Yang benar tinggal sama adik laki-lakiku,” jawabku canggung. Ia terkejut lagi. Sejenak kami berada dalam atmosfer canggung yang tak nyaman. Rasanya aku ingin segera cepat kabur dari tempat. Namun Bu Penulis dengan konyol malah bertanya lagi.
“Siapa dia?” Ia mengambil sesuatu dari mejanya, lalu malah melanjutkan seakan pertanyaannya tak lebih dari kalimat retoris. “Baiklah, kau boleh pergi.”
“Sampai nanti di pesta kita.” Pamitku, lalu membungkuk dengan sopan sebagai tanda menghargai etika pada seniormu atau yang lebih dihormati. Cara khas orang Korea.
Menyenangkan rasanya berada di luar, aku bisa merasakan sinar matahari pagi yang menyiramku dengan hangat. Kurentangkan tangan kananku tepat di atas wajah, merasakan berkas sinar berpendar. “Ada sinar matahari.” Aku hendak menyeberangi zebra cross bersama orang-orang. Tepat ketika lampu merah menyala, telefon genggamku berdering.
“Ya, ini Ji Ho.” Aku menerima telefon sambil menyeberang. “Ya, di mana lagi. Aku lagi jalan pulang.” Yang menelefon adalah Woo Soo Ji, sahabatku dari sejak kami sekelas di SMA Namhae, nun jauh di luar Kota Seoul. Sekarang kami tinggal di Seoul juga, menempuh jalur profesi yang berbeda. Kami terlibat percakapan seru khas gadis muda sampai jalan jauh menuju rumah yang kutempuh dengan kakiku tak terasa melelahkan.
“Sudah tiga bulan lamanya.” Aku menanggapi ucapannya. “Begitu aku sampai di rumah, akan mandi air panas…, terus aku bakal selimutan di tempat tidur…, habis itu, tidur seperti mayat.” Kuseret koper merah jinggaku sambil bercakap.
“Ji Seok itu lagi apa?” sahabatku mengomel. “Jika dia merepotkanmu, setidaknya dia harus datang menjemputmu.”
Aku hanya tertawa, “Aigoo, kau banyak sekali tanya. Aku malah bersyukur dia tidak membakar tempat itu.”
“Pokoknya, kalau sudah sampai rumah langsung tidur. Jangan beres-beres dulu atau cuci pakaian. Terus, jangan angkat telefon dari Ho Rang.”
“Kenapa?”
“Mereka bertengkar lagi. Paling tidak, mereka dua jam bertengkarnya.”
“Baiklah. Ya.” Aku hampir sampai rumah. Kuakhiri percakapan dan kuangkat koperku untuk menaiki tangga menuju rumah, jenis apartemen berlantai tiga di lingkungan menyenangkan dengan jalan lebar yang lengang.
Aku membuka pintu. Rumah sepi. Entah di mana adikku. Rumah berantakan sekali. Musik berdentam nyaring dari speaker digital. Kutaruh koperku lalu menghampiri kamar adikku dan mengetuk pintu. “Aku pulang.” Tak ada tanggapan. Jadi, otomatis aku membereskan ceceran barang yang berantakan di ruang duduk. Meja kopi di depan sofa berantakan dengan bekas makanan dan minuman. Adikku jorok sekali. Kumasukkan semua ke dalam kantung plastik sampai kulihat ceceran baju di lantai. Aku memungutnya.
“Astaga. Pakaian dalamnya…,” kutaruh semua di atas lemari dan melangkah ke depan pintu kamar adikku. “Yoon Ji Seok, aku pulang.” Tak ada tanggapan. Aku hendak membuka gagang pintu, namun ponselku berdering. Kulihat di layar, dari Ho Rang.
Aku lupa pesan Soo Ji tadi. “Ya, ini Ji Ho.” Aku melangkah ke ruang cuci dan malah terlibat obrolan panjang, lebih tepatnya mendengarkan keluh kesah Ho Rang sambil mencuci.
“Jujur, tujuh tahun lalu…, dia saja tak berani membuka omongan denganku. Dia saja dulu mirip beruang dan aku mengubahnya jadi manusia.” Ho Rang meneruskan curhat panjang, saking panjangnya aku menyimak sampai cucianku di mesin beres dan aku tengah menjemur semua di balkon. Mengibaskan pakaian yang hendak kujemur sebelum ditaruh di tempat penjemuran. Banyak sekali baju kotor yang harus dicuci sampai jemuran kecil ini terasa sarat muatan. 
Ho Rang masih sarat masalah untuk di-curhat-kan padaku. “Dan sekarang dia ingin tinggal sama neneknya?”
Aku hanya tertawa kecil, “Kau berlebihan sekali.”
“Kau barusan tertawa, Ji Ho?” Ho Rang malah sewot dan aku terpana. Tidak, bukan karena rengekan Ho Rang melainkan benda warna hitam yang tengah kupegang.
“Tidak.” Aku mengamati dan membolak-balik bra tersebut dengan heran. “Tidak.” Kali ini aku tidak sedang menjawab Ho Rang melainkan merasa bahwa benda asing itu bukan milikku.
Kudengar suara lain di latar belakang ponsel Ho Rang, “Manajer Yang.” Aku spontan mundur.
“Ji Ho, sudah dulu, ya. Nanti kita bicara lagi.”
“Ya.” Kuambil ponsel untuk mengamati layar. Ho Rang, durasi panggilan 41:54. Wow! “Bicara lagi nanti?” gumamku. Apa belum cukup juga Ho Rang menumpahkan curhat pada sahabat? Aku segera mencabut earphone dari telingaku. Mengamati bra hitam campur pink gelap yang kupegang. Apa aku punya bra warna ini? Kutempelkan di dada, ini bukan ukuranku.
“Hei, Yoon Ji Seok!” seruku dari balkon. Tak ada tanggapan. Aku berjalan ke kamarnya sambil ngedumel, “Padahal aku sudah pulang, tapi dia tidak mau menyambutku.” Aku melewati ruang tengah, “Bisa-bisanya kau dengar musik padahal rumah berantakan seperti ini?” Aku mencabut earphone lalu menaruhnya di atas bufet, “’Kan sudah kuperingatkan kau cuci handuk dan pakaian dalammu.”
Tak ada jawaban. Aku kesal. Segera kubuka pintunya. “Kau main game lagi, ya?”
Dan aku terkejut melihat apa yang ada di dalam kamar adikku. Ada adegan tak semestinya yang dilakukan adikku dengan seorang perempuan muda di ranjang.  Ji Seok spontan menoleh mendengar pintu dibuka. Sama terkejutnya denganku, ia segera turun dari atas tubuh pasangannya yang juga memekik kaget sambil berupaya menarik selimut untuk menutup tubuh.
Noona!”
Aish, mataku,” aku menutup wajahku dan segera berbalik menjauhi kamar adikku.
“Tidak, tidak.”
Adikku berseru dari kamarnya, “Tunggu dulu! Noona!”
Bagaimana ini? Di dekatku speaker digital masih berdentam. Aku kebingungan, jadi aku segera melangkah ke luar rumah dengan tergesa-gesa,  diikuti adikku beberapa meter di belakang yang tak henti memanggil sambil mengenakan kausnya.
Noona! Noona! Tunggu!”
“Jangan ikuti aku!” Aku mempercepat lariku, “Jangan ikuti aku!”
“Tunggu!” adikku malah mengejar.
“Jangan kejar aku!”
“Tunggu dulu.”
Aku tak menghiraukan adikku, terus berlari membelok ke jalan lain.
Noona! Tunggu!” adikku tak menyerah.
“Pergi kau!” ulangku sambil terengah-engah kecapaian namun terus berlari seolah adikku makhluk yang harus dihindari gegara peristiwa memalukan yang tak semestinya kulihat tadi. Sampai aku jatuh tersandung kakiku sendiri kala lari. Aku terjerembab dan adikku menghampiri.
Noona, kau tak apa?” Adikku berjongkok di dekatku dengan canggung sekaligus khawatir. “Ada yang luka? Kau keseleo?” repetnya. Aku bangkit dengan kesal.
“Ji Seok, aku tak apa.” Rasanya memalukan sekali, jadi aku ngeles, “Aku lagi ingin sendirian sekarang. Jadi, selesaikan saja tadi urusanmu.” Kugerakkan lenganku ke belakang sebagai penunjuk arah.
Namun adikku malah bilang, “Selesaikan apa?”
Uh, aku harus jawab apa? Rikuh, tahu!
 “Ayo, balik lagi ke rumah. Kau harus menyapa.”
Ha, aku kaget, “Menyapa siapa? Wanita tadi yang bugil itu?” Tidak, tidak! Aku langsung mengibas-ngibaskan lenganku sambil bangkit. Ngeri! “Tak usah,” aku coba memikirkan alasan. “Aku sudah ada janji sama orang. Aku hampir lupa.” Yeah, aku tak yakin juga apa ini bohong karena ada sobat-sobatku yang kurasa harus kutemui meski kami belum janjian.
Kumainkan kedua bola mataku, suatu kebiasaan tanpa-sadar kala aku gugup harus main dalih. “Ingatanku jelek sekali.” Adikku mengaduh, namun aku tak peduli, “Nanti aku pulang telat…, jadi kau bisa suruh dia santai saja sebelum pergi.” Aku tak berani menatap adikku, “Ya. Aku pergi, ya.” Aku hendak meninggalkan adikku, namun ia menahan dengan lengannya seakan portal.
“Ayolah. Dia tak pergi ke mana-mana. Dia tinggal di sini.”
“Kenapa?”
“Dia…. Dia istriku.” Adikku gugup.
Tentu saja aku terkejut, “Sejak kapan?”
“Sudah empat bulan. Kau sebentar lagi akan jadi bibi.”
Hah! Aku tambah terperangah. Kurang ajar betul adikku ini!
“Kau akan menjadi bibi. Dia hamil.”
Aku kehilangan kata. Sepertinya tidak ada orang yang menyadarinya…, tapi hari ini, hari ulang tahunku yang ke-30.

[Episode 1: Karena Ini Hari Ulang Tahunku yang ke-30]



PADA akhirnya, aku harus berkumpul dengan keluargaku. Maksudku, kedua orangtuaku (yang baru datang dari Namhae siang ini), adikku dan istrinya. Aku cemberut. Ibu tengah menata makanan di atas meja kecil tempat kami duduk berkumpul sambil bersila. Ia meletakkan piring berisi ikan di atas meja lalu ke dapur lagi.
Istri adikku memindahkan piring ikan itu ke dekat ayahku, “Pasti ayah kelelahan mengemudi.”
Aku memicing heran. Ayah?
“Tidak juga,” ayahku malah menggeser piring tersebut agar dekat menantunya, “Bukankah kau lelah, Nak?”
“Nak?” Aku memandang ayahku. Sampai ayah menoleh ke arahku dan tampak salah tingkah.
“Pasti kau sudah tahu dari Ji Seok…, tapi ayah tak bisa memberi tahumu sebelumnya karena kau sibuk bekerja.”
Adikku mengerling ke arahku, cuma diam. Aku murung.
“Bagaimanapun, karena kita semua keluarga…, antrelah pakai toilet dan dahulukan yang lebih punya keperluan mendesak,” ayahku malah menasihati. Nasihat yang sepertinya lebih ditujukan untukku, namun istri adikku mengangguk, seakan menyimak dengan sopan. “Salinglah bersikap baik, dan hidup dengan baik, ya?”
“Tinggal bersama?” tanyaku kaget.
“Tinggal bersama.” Ayahku menegaskan.
“Kami bertiga?” adikku tak terima.
“Kenapa? Tak bisa?” Ayahku memandang kami bergantian.
“Tak bisa lah.” Aku kesal.
“Tak bisa.” Adikku tak mau kalah.
“Mereka ‘kan pengantin baru!” aku cemberut.
“Kami pengantin baru!” adikku ngotot.
“Terus bagaimana? Terus bagaimana?” Ayah malah membentakku sambil menggebrak meja, aku terlonjak kaget. Cuma bisa diam, tak berani menjawab.

Begitulah, kala makan malam bertiga dengan sahabatku, aku mengadukan masalah pelik tersebut pada mereka.
Soo Ji menggebrak gelas birnya ke meja, membuat suara gaduh. “Hei, tentu saja Ji Seok yang harus pindah.” Omel gadis berambut lurus-panjang yang paling jangkung, seksi, atletis, sekaligus galak. Rahangnya yang keras seakan menandakan karakternya. “Yang bayar biaya hidup dan perawatan ‘kan kau. Beraninya dia menyuruhmu pindah padahal dia itu pengangguran!”
Ho Rang mengangguk setuju sambil makan camilan. Aku hanya bisa diam, mumet. Kuteguk gelas birku.
“Hei, rumah itu juga ‘kan terdaftar atas namamu.” Soo Ji melanjutkan repetannya, “Lagipula takkan ada masalah hukum.”
“Rumah. Rumah itu atas nama Ji Seok.” Aku merasa getir.
“Apa? Tapi kenapa?” Soo Ji kaget. “Kau kan yang bayar setoran sementara waktu ayahmu beli rumah itu.”
“Kau tak tahu apa-apa karena kau tinggal di Amerika.” Ho Rang menyela, “Ketika orangtua membeli rumah anak-anak mereka di Korea…, otomatis rumah itu jadi milik anak lelaki.” Ho Rang bicara sambil memainkan garpunya. Aku lebih suka membaringkan kepalaku di atas meja. “Itu semacam membayar demi generasi masa depan mereka…, dan ritual leluhur masa depan setelah orangtua meninggal dunia.”
Soo Ji tampak mumet mendengarkan penjelasan Ho Rang, dan aku harus setuju pada paparan Ho Rang tentang sistem patriarki yang tak kusetujui.
Ho Rang melanjutkan, “Ji Seok bertanggung jawab melanjutkan keturunan keluarga mereka. Ayahnya bahkan tak mempertimbangkan berapa banyak bayarannya.”
“Hei, itu pemikiran kolot,” Soo Ji nyolot. Ho Rang cuma mengedik, melanjukan makannya. Gadis itu paling doyan makan anehnya tetap langsing.
“Ji Ho,” Soo Ji memanggilku yang tengah suntuk, aku memandang ke seberang meja, ke arah Soo Ji yang duduk di sebelah Ho Rang. “Kau harus hamil malam ini juga.” Saran gila yang sebaiknya tak kupertimbangkan karena aku bukan penganut seks bebas ala dua sahabatku. “Berdiri, ayo kita ke kelab.”
Ho Rang melonjak senang, sedang aku masih merasa mengawang. Soo Ji bicara padaku sambil berdiri, “Kau harus hamil buat membuktikan kalau kau juga bisa melanjutkan keturunan keluarga.” Tegasnya sambil menyingsingkan bagian atas lengan bajunya.
“Baiklah.” Kurasa aku agak mabuk, dan mendadak ingat adegan kala membuka pintu kamar adikku. Aku malah membayangkan yang tidak-tidak. Aah! Kupegang kepalaku. “Sebentar.”
Soo Ji menyibakkan rambut panjangnya lalu menghempaskan pantat di kursi. Menyimak apa yang akan kukatakan. “Bisa tidak, jangan menyinggung hal-hal seperti itu di hadapanku?” kataku lemah, kedua sahabatku mencondongkan badan. “Aku sebenarnya… melihat Ji Seok melakukannya. Membuat istrinya hamil.” Aku merasa malu. Kedua sahabatku sampai kaget.
Ho Rang menutup mulutnya.
What the…,” ucapan Soo Ji kusela sebelum ia melanjutkan.
“Makanya. Kuharap aku tak melihatnya…,” aku menggoyangkan kepalaku, “tapi karena sudah telanjur, aku tidak bisa tinggal sama mereka.”
Kedua sahabatku cuma saling berpandangan dan tersenyum.
“Tapi bagaimana bisa?” tanya Ho Rang.
“Aku lagi ada di balkon dan telefonan denganmu. Jadi dia tidak tahu aku sudah ada di rumah.”
“Berapa lama kalian telefonan?” tanya Soo Ji.
“Sekira 40 menit.”
Kedua sahabatku terkejut. Soo Ji menutup mulutnya, “Berarti melakukannya selama 40 menit juga.”
Aku menatap Soo Ji dengan kesal, Ho Rang cuma cengengesan. Soo Ji melanjutkan, “Tak kusangka dia sekuat itu,” lebay-nya.
“Apa?” Ho Rang langsung menggebuk bahunya sambil tertawa. Aku jadi kehilangan selera, kupegang kepalaku yang pening dengan dua tanganku. Dan tepat saat itu terdengar suara keras dari meja di seberang, hingga kami sama terlonjak kaget, menoleh ke arah mereka untuk tahu ada apa. Tiga orang lelaki sedang duduk berseberangan. Lelaki bersetelan biru duduk di sebelah lelaki berkemeja biru lengan panjang tanpa dasi. Dan di depan mereka duduk lelaki berkemeja putih lengan panjang tanpa dasi pula.
Lelaki berkemeja biru itu telah menggebrak meja dengan gelas birnya hingga isinya menciprati meja. “Apa? Kau ingin aku pindah? Maaf, ya, bagiku kau sudah seperti adikku. Aku ingin menjagamu layaknya seorang kakak.”
Lelaki yang berkemeja putih rapi itu malah menyeka wajahnya yang ikut tepercik bir dan memanggil pramusaji yang segera menghampiri. “Bisa ambilkan dua tetes cuka?”
Lelaki berkemeja biru itu segera menyela sebelum pramusaji pergi. “Aku sungguh menganggapmu sebagai adik kandungmu. Kukira kita sudah bagaikan kakak beradik.” Sewotnya lagi, “Brothers, tahu tidak apa maksudku?” Lelaki bersetelan biru cuma diam saja namun mengangguk seakan mengiyakan ucapan temannya. Dan lelaki berkemeja biru itu melanjutkan, “Mengerti?”
Namun lelaki berkemeja putih malah dengan kaku menanggapi, “Tak tahu. Aku ‘kan anak tunggal.” Lantas ia mengambil sehelai kertas dari tasnya. “Ini kontrak pertama yang kita tulis.” Diletakkannya kertas berplastik itu di atas meja, tepat menghadap lawan bicaranya yang tadi sewot.
 “Aturannya sudah tertulis di sini. Sewaktu pihak kedua tinggal di rumah pemilik…, pihak kedua harus mengikuti aturan.” Maka di atas kepalanya mendadak muncul tulisan mengenai aturan tersebut: a, b, dan c. “Kau tidak mengikuti aturan pertama.” Tanda silang merah mencoret a. “Kau juga tidak mengikuti aturan ke-2 dan ke-3.” Lagi-lagi tanda silang mencoreti pasal b dan c.
“Kalau begitu, kembalikan uang sewaku bulan ini.” Lawan bicaranya tak mau kalah, gaya bicaranya marah-marah. Tepat saat itu pramusaji menghampiri lelaki berkemeja putih dan menyerahkan kain kecil terlipat rapi yang sudah ditetesi cuka lantas berlalu.
“Kau pulang ke rumah dalam keadaan mabuk Jumat malam lalu.”
Lelaki berkemeja biru menunjukkan reaksi kaget, dan lelaki berkemeja putih melanjutan sambil menyeka lengan kemejanya yang tepercik bir dengan kain tersebut, “Kau lupa kata sandi dan menendang pintu depan selama 10 menit. Kau makan lima kaleng makanan kucingku, dan salah mengira kalau itu kaleng tuna.” Kedua lelaki di depannya cuma menghela nafas. Dan lelaki berkemeja putih melanjutkan, “Dan kau buang air kecil di depan kulkas.”
Lelaki bersetelan menoleh ke arah kawan di sebelahnya dengan heran, namun lelaki berkemeja biru malah cuek bilang, “Jadi waktu itu, kau ada di rumah? Kukira hari itu kau lagi dinas.”
“Lalu polisi datang ke rumahku.”
“Oh, betul. Ada orang yang melaporkanku ke polisi.”
“Aku yang melapornya, dari kamarku,” kalemnya.
Dua lelaki di depannya bereaksi kaget lagi. Si kemeja biru langsung bangkit dari kursi dan memaki, “Si sialan ini, kau gila, ya? Hei, brengsek!” Ia melesat hendak menyerang lelaki berkemeja putih, namun kawannya yang bersetelan menahan dengan menarik bahunya agar menjauh. Kami dan para pengunjung restoran serentak memerhatikan mereka.
“Kalau kau waktu itu ada di rumah…,” kawan mereka yang bersetelan angkat bicara sambil menahan si kemeja biru agar tak menyerang dengan merangkul bahunya, “kenapa kau tidak keluar dan bicara denganku dulu?”
Lelaki berkemeja putih cuma diam, lelaki bersetelan kerepotan menahan kawannya yang mengamuk dan hendak menendang sampai menaiki kursi. Pramusaji yang tadi segera datang melerai namun sama ikut kewalahan.
“Bukankah begitu seharusnya?” Si setelan menahan amukan si kemeja biru sekaligus berupaya melanjutkan ceramahnya.
Dia memang tak waras.
Namun si kemeja putih cuma menjawab dengan memampangkan surat perjanjian lantas menyobeknya jadi dua bagian. 

***

DUA orang lelaki yang tadi di restoran barusan keluar lift dan hendak memasuki kantor mereka. Si setelan biru menegur kawannya, “Teganya kau melaporkan teman sekamarmu ke polisi?”
Si kemeja putih mengabaikan dan membuka pintu kantor, “Dia harusnya malah bersyukur aku tidak menuntutnya. Sampaikan itu ke seniormu itu.” Mereka memasuki ruangan luas yang dibagi dalam beberapa sekat berkaca sebagai semacam pemisahan ruang kerja, beberapa orang karyawan tengah bekerja di depan komputer. Kedua lelaki tadi mengelola perusahaan start up, membuat perangkat aplikasi untuk gawai.
“Tapi dia itu pria yang baik. Kau mungkin tidak tahu tapi ada hal yang manusiawi. Kau tahu apa artinya manusiawi?”
Si kemeja putih menghentikan langkahnya dan bilang, “Bukankah itu artinya tidak beradab ke orang itu?”
No,” sanggah kawannya dengan kedua tangan sedikit terentang sebagai aksen dari gaya bicara, “yang kumaksud manusiawi menjadi manusia biasa.”
Si kemeja putih terlihat kesal, “Aku jadi ingat ini. Sampaikan ke dia kalau kaleng yang dimakannya itu kaleng impor mahal.” Lantas ia mengambil tas jinjingnya.
“Kau mau ke mana?” kawannya menahan.
“Rumah.”
“Apa maksudmu? Kau harus menstabilkan situs hari ini. Pembaruan untuk versi baru dijadwalkan minggu depan.”
“Ada pendauran ulang hari ini…, dan aku harus kasih makan kucingku layaknya manusia.” Lantas ia berlalu.
Kawannya yang semula terpana setelah ditinggal si kemeja putih mendadak berteriak, “Tidak!” Sampai lima kepala yang sibuk berkutat di mejanya menoleh heran melihat ulah bos mereka, seorang CEO muda pendiri perusahaan start up bernama Gyeol Mal Ae.
“Maaf, silakan bekerja lagi.” Katanya, lantas ngeloyor menuju ruangannya.
***
MALAM ini aku pulang sendirian, berjalan kaki mendekati rumahku dengan perasaan muram. Jalanan lengang. Aku akhirnya tiba di depan rumah dan memilih duduk sebentar di tangga depan, berpikir langkah apa yang harus kuperbuat. Aku merasa nelangsa. Kuhela nafas dan kucoba kukumpulkan keberanian, mengingat saran Soo Ji di restoran tadi.
 “Baiklah. Selama lima tahun…, aku bertanggung jawab mengelola rumah… dan mengurus semuanya. Untuk itu…, situasi sekarang ini di mana aku harus diperlakukan seperti tamu… sungguh…. Sungguh….
Sungguh melanggar hak-hak fundamentalku. Suara Soo Ji bergema. “Akulah yang membayar setoran sementara. Akulah yang membeli kulkas dengan gaji pertamaku. Aku jugalah yang mengganti alat pemanas tahun lalu, bukan?” Demikianlah Soo Ji bersemangat mengajarkan kalimat apa yang harus kuucapkan. Dan si tegas itu setengah berteriak bilang, “Sampaikan itu ke ayahmu…, dan perjuangkan hak-hakmu.” Lalu ia mengangguk.
Aku membuka pintu, ayah dan adikku lagi menonton TV sambil tertawa, sedang ibu mengupas apel. “Ayah.” Mereka serempak menoleh, kubuka sepatuku dan masuk ruangan, aku bicara dengan semangat yang diajarkan Soo Ji tadi, “Ada yang harus….”
Ucapanku disela adik ipar yang berlari menghampiri mereka lantas duduk dekat ayahku, “Ada yang harus kukatakan pada ayah.”
“Oh, ya. Ada apa, Nak?” Ayah mengabaikanku dan malah bicara pada menantunya.
“Hari ini tadi aku ke RS…,” ucapnya manis.
Menyadari bahaya terselubung dari ucapan adik iparku aku segera berlari mendekati mereka, “Tunggu, Ayah.”
Ucapanku disela lagi dan mereka pada mengabaikanku. “Perkiraannya anak laki-laki.”
Aku dan ayahku terkejut. “Laki-laki?” Ayahku bicara dengan mulut berisi ikan pari kering yang tadi dikunyahnya.
Game… sudah selesai. Aku terpana dalam kekalahan telak. Sementara ayah, adik dan istrinya tertawa bahagia. Ibuku cuma menghela nafas tanpa kata.
Coba lihat. Bagus! Bagus! Tawa mereka bergema sambil melihat ponsel berisi foto hasil USG. Foto janin itu seakan bertangan mungil yang melambai-lambai ke arahku. Mengucap selamat tinggal!
***
PADA malam yang sama ini, dua sahabatku berjalan pulang dari restoran tempat kami berkumpul tadi. Hari sudah cukup larut namun jalanan Kota Seoul masih lumayan ramai. Ini kota 24 jam penghuninya masih beraktivitas di luaran.
“Apa menurutmu Ji Ho sudah bicara dengan ayahnya?” tanya Ho Rang pada Soo Ji.
Soo Ji yang mengenal baik watakku menghela nafas berat. “Kurasa tidak berjalan lancar.”
“Kurasa begitu.” Ho Rang mengangguk, lantas ia mengandeng lengan Soo Ji, “Kau mau minum bir lagi?” Ia merajuk sambil menunjukkan jarinya tanda sekali lagi.
“Aku sudah kembung.”
“Kalau begitu, mau pergi ke Itaewon? Ada banyak kelab di sana.”
“Berhentilah bertindak seperti bukan dirimu, telefon saja Won Seok itu.”
Ho Rang bereaksi ngambek, melepaskan gandengannya. “Sudah kubilang kami ini sudah putus!” Teriaknya. Soo Ji sampai menghentikan langkahnya, berbalik memandang Ho Rang dengan kesal. Namun Ho Rang tiba-tiba memandang ke arah blus Soo Ji dan bilang, “Kau tak pakai bra lagi?”
“Aku sesak pakai bra. Pencernaanku tak lancar kalau pakai bra,” ujar Soo Ji cuek.
Ho Rang segera menarik tas Soo Ji yang diselempangkan di bahu kiri agar menutupi bagian depan blus Soo Ji, “Tutup pakai tasmu ini. Kelihatan, tahu.”
“Hei, serius kalian sudah putus?” Soo Ji berupaya mengalihkan topik, agar Ho Rang tak lagi bicara mengenai hal sensitif soal bra yang jarang dipakainya.
“Ya, kali ini, seriusan.” Ho Rang memutar kepalanya. “Dia tidak menelefonku selama tiga hari. Berarti dia ingin putus.” Soo Ji cuma tersenyum simpul sembari menengok ke arah lain sementara Ho Rang bicara dengan pandangan mengawang, tidak memerhatikan Soo Ji. “Kami sudah tak saling terobsesi lagi,” lanjutnya.
Aigoo,” Soo Ji malah memegang kepala Ho Rang dan memutarnya ke arah depan, di depan ada pemandangan yang membuat Ho Rang terpana tak percaya. Won Seok, pacarnya, tengah bersandar di tiang reklame berlampu neon, seakan menunggu sesuatu.
Soo Ji berjalan menghampiri Won Seok masih dengan tas menutupi dadanya, “Hei, dia mau datang ke kelab.” Lantas berlalu. Won Seok menoleh ke arah Ho Rang yang ngedumel, dasar….
Namun tatapan imut Won Seok dengan tampang baby face-nya sanggup melelehkan hati Ho Rang yang bimbang. Pada dasarnya dia cowok baik yang keren dan terlihat polos seperti anak kecil dengan kacamatanya. Apalagi jika tersenyum. Ho Rang sampai salah tingkah.
***
DI dalam kamarku yang nyaman, aku duduk di meja belajar, mengamati ponsel berisi laman iklan penawaran tempat tinggal: kamar tersedia di Sangam-dong. Namun, wow, harganya rata-rata mahal bagi kantungku dan tak terjangkau. Kudengar percakapan di ruang makan antara ayah, adik, dan iparku; percakapan yang membuat mood-ku kacau-balau.
Hidungnya mancung… karena dia laki-laki.
Bukankah dia manis, Ayah?
Di tengah kesuntukanku itu, ibu masuk dan meletakkan baki berisi mangkuk sup. Aku memandang sup itu dengan heran, lalu pada ibu yang telah berbaring di ranjangku sambil bertumpu pada sebelah lengannya, “Makanlah.”
“Kenapa malam-malam Ibu bawakan sup rumput laut buatku?”
“’Kan ini ulang tahunmu, jadi makanlah.”
Aku menghela nafas, tak percaya ibu ingat itu, di tengah segala hari kacau yang kualami. “Iya, hari ini ‘kan ulang tahunku.” Aku merasakan ironi sekaligus haru karena perhatian ibu. “Aku lupa sekali.” Segera kuangkat mangkuk itu dan menyeruputnya, mengabaikan percakapan di luar. Dia manis sekali. Aku tak peduli lagi pada hal demikian karena masih ada ibu yang ternyata peduli padaku.
Ibu yang rupanya mendengar percakapan mereka berkomentar seakan hendak menghiburku, “Kenapa bocah itu banyak tertawa? Padahal Ibu menyuruhnya cari kerja…, malah dia buat anak.” Ibu menumpahkan unek-unek­-nya seakan ingin agar aku tahu bahwa masih ada yang berpihak padaku: ibu sendiri, agar aku tak merasa sendiri!
“bagaimana ini sekarang,” bingungku. “Dia menghamilinya. Jadi dia tidak bisa membatalkannya.”
Ibu spontan bangkit dari ranjang, dia mengeluarkan amplop dari saku celemeknya.“
“Apa ini?” tanyaku.
“Kau ‘kan harus cari kamar, jadi ini Ibu kasih uangnya.” Aku terpana, dan ibu melanjutkan, “Kau mana bisa tinggal sama pengantin baru.”
Eomma.”
“Rahasiakan ini dari ayahmu. Dia pasti sangat kesal kalau tahu Ibu diam-diam menyimpan uang.” Ibu cemberut, dan berlalu dari kamarku. Aku tersenyum haru memandang punggung ibu.
Selama 30 tahun ibu telah menghabiskan waktu dengan suami yang keras…, namun ibu selalu mendukungku.
Kubuka amplop itu, lumayan tebal dan isinya cukup banyak, beberapa lembar puluhan ribu won yang jumlah totalnya beberapa ratus ribu won. Masalahnya adalah …aku tak tahu apa-apa tentang dunia. Dan mendadak aku sangat sedih sekali. 
Suatu pagi di bank, di bagian pinjaman, aku sedang duduk di meja menghadap customer service yang malah dengan sopan bilang, “Maaf Pelanggan, kami tidak dapat meminjamkan uang bagi Anda.”
Aku terkejut sekaligus kecewa. “Sungguh tak bisa?” tanyaku pada perempuan muda berseragam bank warna biru tua dengan rambut diikat ke belakang membentuk kuncir kuda.
“Ya. Karena Anda masih freelance sekarang…, dan penghasilan tahunan Anda kurang dari 20 juta won. Anda juga tak memiliki asuransi pekerjaan. Tingkat kredit Anda sudah tingkat ke lima.” Dan ia mengakhirinya dengan senyum manis yang sopan, “Kami mohon maaf.”
“Tapi,” aku coba tak menyerah, kutunjukkan ponselku padanya, “Ini drama TV yang kutulis.” Perempuan itu mengamati layar. “Cukup populer tahun lalu,” lanjutku. “Walau ini drama pagi-pagi.” Dia tampak rikuh, jadi aku berupaya terus meyakinkannya, “Sangat mudah menjamin siapa aku. Anda bisa lihat namaku di sini.” Kutunjukkan tulisan namaku di drama itu. “Bisa dilihat. Ada namaku, Yoon Ji Ho.” Dan aku membuka file lain, “Tunggu, ini juga yang kutulis.” Kutunjukkan fotoku yang sedang berpose dengan seorang aktor terkenal dan aku sedang memegang skrip naskah.
Namun tanggapan yang kudapat malah mengecewakan, “Pelanggan, kami mohon maaf.”
“Ya. Sepertinya Anda belum pernah menonton drama itu.” Tiba-tiba aku merasa status profesiku dianggap bukan apa-apa, dan aku hanya bisa kecewa. Gagal beroleh kepercayaan untuk mengajukan kredit pinjaman.  
Maka kumasuki kantor Makelar Rumah Daeun, berharap masih beroleh harapan akan kepercayaan.
“Permisi,” kubuka pintu kaca dengan ragu.
“Selamat datang.” Ucap ramah dari seorang lelaki tua yang duduk di kursinya menyambut kedatanganku.
Aku membungkukkan kepala dan masuk, pintu di belakangku menutup sendiri. “Aku lagi cari-cari apartemen.”
“Berapa banyak deposit yang bisa Anda keluarkan?” Bapak tua itu masih duduk nyaman di sofanya sementara aku berdiri, tidak dipersilakan duduk.
Dengan canggung kutunjukkan tiga jariku, “Segini?”
“30 juta?” tanyanya senang.
Aku tersenyum malu dengan jari yang masih membuka, “Bukan.” Yah, maksudku cuma 3 ratus ribu, doang. Hanya itu yang kupunya.
Jadi, kemudian aku dibawanya memasuki kamar sempit lagi pengap. Lembab dan bau. Plester dindingnya terkelupas.  
“Kau beruntung sekali,” kata bapak itu. Aku merasa sulit bernafas. Ada bak cupir (cuci piring) dan kulkas besar, namun rasanya sesak. Lalu lanjutnya, “Kalau bukan sama aku, kau pasti tak akan menemukan tempat seperti ini.”
“Ya, kurasa begitu.” Kuperhatikan sekeliling ruangan tersebut tanpa yakin, aku melihat jendela dan memutuskan untuk membukanya. Namun ternyata sulit dibuka. Sampai aku meraba sekujur jendela itu dan menyadari sesuatu, “Ahjussi, sepertinya di sini ada… yang menggambar jendela di sini, ‘kan?” heranku.
Namun bapak tua itu malah menjawab dengan kalem, “Ya, kelihatan seperti asli, ‘kan?”
Ha. Aku memandang jendela jejadian tersebut dengan perasaan konyol. Kuputuskan kamar sempit itu bukan pilihan. Jadi aku ikut bapak tua itu berkeliling mengunjungi kamar demi kamar yang disewakannya untuk kupilih jika berkenan.
Kami menaiki gang sempit mendaki dan tiba pada apartemen yang kala aku berdiri di balkonnya ternyata rawan runtuh.
Mendaki gang lagi dan tiba pada kamar tepi jalan yang sering bocor dan tidak kedap suara.
Mendaki lagi lalu tiba pada rumah supersempit yang lebih mirip kandang anjing, pintunya bahkan lebih rendah daripada kepalaku. Sedada! Itu kurang dari 36 kaki persegi, tidak ada dapur dan kamar mandi. Bagaimana mungkin kau yang manusia bisa hidup di tempat seperti ini?
Aku cuma menghela nafas berat. Kembali mengikuti bapak tua jalan menapaki gang mendaki lagi. Menuju jalan besar, meninggalkan tempat itu. Ini akhir pencarian kami karena tidak ada lagi yang bisa ditawarkannya dengan deposit kecil yang kupunya. Aku sangat kecewa.
***
KANTOR start up Gyeol Mal Ae.
Beginilah suasana dalam ruang rapat jika diburu tenggat waktu. Delapan kepala duduk di meja persegi panjang yang besar. CEO mereka, seorang lelaki pertengahan 30-an berkacamata duduk di kursi paling ujung, tujuh anak buahnya duduk berhadapan dengan masing-masing rekan. CEO selalu beroleh tempat terhormat, di bagian kepala meja.
Kali ini sang CEO angkat bicara, “Batas akhir pembaruan baru seminggu lagi. Bisa kita periksa pertimbangan utama?” Ia lalu menoleh pada lelaki berkemeja hitam yang pernah ribut dengan penyewa rumahnya. Sebenarnya ia programmer jenius yang membuat aplikasi bisa berjalan baik dan perusahaan berkembang besar sampai sekarang. Bagi sang CEO, ia bukan sekadar rekan, ia adalah otak penggerak perusahaan. “Tuan Nam, kau merencanakan stabilisasi? Apa sudah selesai?”
“Belum. Lagi dalam proses.” Lelaki yang dipanggil Tan Nam menjawab tanpa menoleh, tangannya bersedekap, ia memandang ke bawah, ke arah meja. Semua kepala spontan menoleh ke arahnya.
“Tuan Nam, setidaknya kau harus menyerahkan draft pertama hari ini. “ Sang CEO gusar pada lelaki yang duduk di ujung sebelahnya.
Kali ini Tuan Nam menoleh pada Sang CEO dan bilang, “Tidak bisa.” tegasnya. “Beban kerja terlalu berat… jika harus menyelesaikannya sebelum jam 6 sore.”
Semua yang ada cuma bisa diam. Sang CEO sampai terpana dengan bantahan anak buahnya. Ia cuma bisa bilang, “Maksudnya kau mau pulang sekarang? Kita bekerja lembur malam-malam. Bukankah itu efektif.”
Sebagian anak buahnya cuma diam, tidak berani membantah bos mereka karena bisa jadi tak setuju namun tak punya keberanian karena mereka dibayar untuk bekerja. Meski harus lembur sekalipun. Kini ada rekan yang berani membantah bosnya.
“Saat ini aku tak bisa lembur. Kecuali tugas utama yang harus kuurus…, aku sudah membuat daftar tugas… yang harus dikerjakan untuk semuanya, jadi kalian harus….”
Ucapannya dipotong rekan kerja yang satu-satunya perempuan di kantor mereka, “Apa kau dapat kerja baru atau semacamnya?” Ia heran dengan keberanian seniornya dalam mendebat bos mereka.
Tuan Nam cuma mendesah. Sang CEO panik menunggu jawabannya, ia khawatir kalau aset berharganya hengkang. “Bukan begitu. Aku hanya harus kasih makan kucingku.” Kali ini ia memandang sang CEO tajam seakan hendak menyampaikan protes karena ada kesalahan. Para rekannya pada bengong. “Aku juga harus mendaur ulang,” lanjutnya. Sang CEO sampai tak bisa berkata-kata lagi saking syoknya.
 Kali ini mereka berdua bicara di balkon luar kantor, pembicaraan pribadi atas inisiatif CEO sendiri agar bisa membujuk kawannya yang keras kepala untuk mematuhi aturan main perusahaan. Siang ini sang CEO merasa wibawanya berkurang.
“Baiklah.” Lengan CEO bersandar ke pagar pembatas, seperti biasa, kedua tangannya membuat gerakan, “Aku maklum kau kesal padaku… karena teman serumah yang kukenalkan padamu. Tapi kau orang dewasa. Kau mana bisa melampiaskannya padaku seperti ini. Kita ini lagi berbisnis. Batas waktunya cuma seminggu.”
Tuan Nam yang punggungnya bersandar ke pagar pembatas dan pandangannya ke depan, ke arah gedung pencakar langit di seberang, bereaksi, “CEO Ma,” ia menoleh pada kawannya dengan nada bicara resmi sampai CEO Ma balas menoleh. “Apa syarat pertamaku agar bekerja di sini?”
“Gajimu?”
Tuan Nam membalikkan tubuhnya menghadap CEO Ma dan berkata, “Menurutku, bukan.”
CEO Ma tampak bimbang dan berpikir sebentar, “Kurasa tentang…. Apa orgasme, ya? Kurasa bukan.” Ia tampak konyol sampai Tuan Nam kesal. “Oh, algoritma. Algoritmamu….”
“Perusahaaan tidak bisa mematahkan prinsip algoritma hidupku.” Potong Tuan Nam. “Gara-gara kau, aku tak punya teman serumah lagi. Jadi algoritmaku hancur.”
CEO Ma cuma bisa diam dipersalahkan seperti itu. 
“Sebelum hidupku normal lagi… aku tak bisa kerja lembur.” Usai berkata itu ditepuknya bahu CEO Ma dan berlalu.
CEO Ma dengan lengan masih bersandar ke pagar akhirnya mengambil keputusan setelah berpikir lagi sebentar. “Oke.” Diraihnya ponsel dari saku, menghubungi nomor seseorang. “Akan kucarikan dia teman serumah… dan membuatnya bekerja untukku selamanya.” Sambil bicara sendiri ia mengetikkan pesan. “Kau tak tahu saja aku orangnya niat sekali.” Kali ini ia telah membulatkan tekad.
***
MALAM ini aku makan ramyeon cup panas-panas di toserba. Berpikir apa yang harus kulakukan, kuarahkan pandangan keluar jendela kaca yang memampangkan panorama lelampuan dari berbagai gedung apartemen di seberang. Indah sekali.
Berapa banyak drama yang harus kutulis agar tinggal di tempat seperti itu?
Tepat saat itulah ponselku berdering, dari Ho Rang. Kuangkat ponselku dengan lesu, “Ya, ini Ji Ho.”
“Kau sudah dapat apartemen?”
“Apartemen? Belum.” Tanganku yang sedang mengaduk ramyeon dengan sumpit langsung terhenti begitu mendengar paparan Ho Rang. “Apa? Tidak perlu deposit?”
“Ya, kau cuma perlu bayar 300 ribu sebulan.”
“300 ribu?” Aku terkejut, kuhentikan makan ramyeon dan membuka gimbab segi, “Di mana itu? Aku bisa ke sana sekarang juga?” habis itu aku menggigit gimbab.
“Tapi ada syaratnya.”
Jadi aku mendatangi tempat kerja Ho Rang di restoran mahal. Ia belum pulang. Ho Rang kerja jadi manajer. Ia langsung menyapaku begitu aku datang, “Ji Ho,” lambainya. “Mau minum apa?”
“Tak usah.” Aku mengikuti Ho Rang menuju kursi, “Siapa dia? Kenalannya Won Seok?”
Ho Rang duduk di kursi, “Ya, dia temannya teman kampusnya, Nam Se Hee.” Ia duduk dengan menyilangkan kaki, aku ikut duduk di kursi seberang. “Apartemen dua kamar, dan ada kamar kecilnya. Dan disewakan. Intinya, dia ingin orang yang bisa bayar sewanya dan jadi teman serumahnya.”
Aku jadi bersemangat. “Apa itu town house?”
“Ya. Tapi banyak sekali maunya dia. Dia ingin kau pindah sekarang.”
“Aku bisa sekarang.” Kulambaikan tanganku ke atas, spontan.
“Dia butuh satu minggu untuk penyesuaian diri.”
“Aku bisa walau dia butuh sebulan.” Tanganku yang semula di atas kugerakkan ke samping bawah. 
“Tapi dia agak gila. Kau tak keberatan?”
“Ho Rang, aku ini… sudah bekerja sama penulis paling sensitif dan gila se-Korea… selama lima tahun terakhir sebagai asistennya.” Yah, kuingat bosku, Madam aneh yang kadang pikun. “Jadi, aku sekarang ahli melayani orang gila mana pun di dunia ini.”
“Baiklah, biar kusuruh Won Seok kasih nomormu ke orang itu sekarang.” Ho Rang mengambil ponselnya dari saku dan SMS pacarnya.
Aku tersenyum menggoda. “Sepertinya kalian sudah berbaikan, ya.”
“Baikan dari mana? Aku cuma kasihan saja.”
“Kali ini kalian bertengkarnya tak lama. Wo Seok pasti tahu bagaimana cara membuatmu merasa lebih baik.”
“Dia memang lebih baik daripada sebelumnya.” Jawab Ho Rang tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel. Kemudian, Ho Rang mengerling padaku, “Dia juga ahli sekarang.”
Oh, aku membelalak, dan coba mengalihkan topik. “Aku tahu apa maksudmu. Aku tak mau dengar apa pun darimu lagi.” Aku merasa malu.
Ho Rang tertawa dan bilang, “Semalam Won Seok….”
Kututup kedua telingaku dengan tangan, berulang-ulang  sambil memejamkan mata, memberi isyarat tak mau dengar hal gituan.
Ho Rang tertawa dan kian menggoda, dicondongkan tubuhnya ke depanku dan memegang lenganku, “Dia langsung menghampiriku seperti ini.”
“Tidak, aku tak mau tahu. Bisa tolong ambilkan minum?” Aku melambai pada pramusaji lain, rekan kerja Ho Rang. Ho Rang terus tertawa menggoda.
***
AKU sedang berkemas di kamarku. Kumasukkan beberapa helai pakaian ke dalam koperku. Tahu-tahu Ji Seok dan istrinya masuk, menyanyikan lagu ulang tahun. Ji Seok membawa kue tar dengan tiga batang lilin warna-warni menyala.
S’lamat ulang tahun
S’lamat ulang tahun
S’lamat ulang tahun, Noona
Mereka lantas berjongkok di dekatku yang sedang duduk di lantai sambil mengemas pakaian. Lagu berakhir, istri Ji Seok bertepuk tangan gembira.
“Eun Sol membelikanmu kue ulang tahun. Buatlah permohonan.” Ji Seok menyorongkan kue tersebut ke depanku. Tak ada pilihan. Kupejamkan mataku, membuat permohonan dan segera kutiup habis semua lilinnya. Eun Sol bertepuk tangan lagi. Aku tak peduli. Masih membenahi sisa pakaianku ke dalam koper.
Unni, apa permohonanmu?” tanya Eun Sol, sok akrab.
“Aku ingin jadi siput di kehidupanku selanjutnya,” jawabku cuek.
Kedua orang di depanku saling berpandangan, tak paham.
“Kenapa?” tanya Eun Sol lagi.
“Karena siput takkan pernah diusir.”
“Kau keterlaluan sekali,” Ji Seok tersinggung. “Kau sengaja membuat istriku tertekan? Dia ini lagi hamil.” Ngototnya, “Dia bahkan membelikanmu kue. Inilah sebabnya aku tidak bisa tinggal denganmu.”
Kututup koper dengan sekali bantingan, mereka terlonjak kaget. Aku tak berkata apa-apa lagi. Jadi mereka pun saling diam. Aku sudah sangat marah sekali!
Di tangga pekarangan depan, Eun Sol menyusulku. “Unni, jangan pergi seperti ini.” Ia terus menguntitku yang mengabaikannya. “Kau bisa datang mengunjungi kami kapan saja. Aku sungguh tidak keberatan tinggal bersamamu.”
Aku berbalik sebelum ia mengoceh lagi. “Kau yakin?” Eun Sol diam saja, jadi kulanjutkan ucapanku, “Saat Ji Seok masih sekolah…, hanya dua orang di apartemen itu. Aku tidak bisa membayangkanmu beres-beres rumah. Kau ‘kan sedang hamil.”
Eun Sol tampak bingung.
Lanjutku, “Ji Seok juga pasti… ingin aku mengurus anakmu juga. Jadi, apa kau ingin aku bekerja, beres-beres rumah… dan mengasuh bayi kalian?”
Eun Sol masih diam.
“Aku tahu kau masih muda dan belum mengerti. Jangan membuatku jadi orang jahat.” Kurogoh sakuku dan mengeluarkan amplop pemberian ibu untukku. “Katanya kau suka daging. Belilah daging pakai uang ini.” Kuraih tangan Eun Sol dan kuberikan amplop tersebut yang menerimanya dengan cannggung. “Kalau masih ada sisa uangnya…, pakai saja buat tagihan RS ayahmu.” Karena Eun Sol hanya bisa tercengang, jadi kuanggukkan kepalaku dan pergi.
Aku meninggalkan tempat itu sambil menyeret koperku dengan lega. Karena bisa menumpahkan unek-unek tanpa pertumpahan darah apalagi airmata.
Aku melewati taman kompleks apartemen dengan kolam kecil terpelihara baik, seekor siput tampak damai di atas batu. Siput itu punya rumah sendiri, cangkang yang melindungi tubuh lunaknya. Tidak sepertiku.
Apartemennya di kamar 401 Matina Town House. Aku juga sudah mengirim alamatnya ke kau.
Demikianlah, isi SMS yang barusan kuterima. Lingkungan apartemennya menyenangkan. Ada ibu-ibu dengan anak mereka yang sedang bermain di taman.
Aku telah sampai di depan pintu kamar apartemen. Kubaca pesan tadi. Ini nomor sandi masuknya. Jadi kusentuh layar kunci elektrik dan mengetik sandi masuk, heran, cukup mudah juga. Cuma 0101 lalu bintang.
Kubuka pintu, “Permisi.” Lampu foyer menyala otomatis menangkap sensorku yang masuk.
Karena aku lembur belakangan ini, aku takkan pulang lebih cepat. Yah, SMS tadi mengatakan alasan mengapa tak ada orang yang menyambut kedatanganku. Kuletakkan. koper dan berkeliling ruangan.
Ada dua ruangan. Yang pintunya terbuka itu kamarmu.
Kumasuki kamarku. Wow, menyenangkan. Ada jendela besar yang membuat cahaya matahari menerobos masuk. Ranjang tertata apik dengan seprai dan sarung bantal abu-abu metalik. Ada lemari dan rak untuk menaruh sesuatu. Aku keluar kamar dan lanjut berkeliling.
Pintu kamarku selalu tertutup, jadi jangan hiraukan itu.
Kumasuki pantry, dapurnya rapi. Bahkan meja dapur tampak bersih. Ada tiga hal permintaanku. Pertama, aku ingin kau beres-beres rumah. Aku melongok ke ruang sebelah dapur, melihat kardus dan tempat sampah di ruangan itu. Kedua, aku ingin kau buang sampah sekali seminggu. Di ruang duduk aku memeriksa sekitar dan mendengar suara di bawah sofa. Terakhir, aku ingin kau merawat kucingku... sewaktu aku kerja lembur. Seekor kucing siam berbulu putih dengan ekor panjang bersembunyi di bawah sofa.
“Halo,” sapaku.
***
MALAM ini aku dan Soo Ji makan daging panggang di restoran langganan. Aku sedang SMS-an dengan pemilik rumah.
Kau pasti sudah tahu, tapi bagaimana pendapatmu kalau… kau menandatangani kontrak setelah seminggu.
Tentu aku tak keberatan, jawabku. Lantas kirim.
“Tak kusangka ada semacam magang buat penyewa kamar,” komentar Soo Ji. “Negara apaan ini?”
“Katanya, dia kesusahan gara-gara penyewa sebelumnya.”
Soo Ji mengangguk. Kami berbincang sambil makan.
Lanjutku, “Aku harus melakukan yang terbaik. Dan aku tak keberatan.”
“Apa pekerjaan pemilik apartemen itu?”
“Dia seorang desainer atau semacamnya. Pokoknya soal desain komputer. Aku belum sempat bertemu dia karena dia sibuk kerja. Kurasa dia sangat sibuk.” Kuhentikan makanku dan bertepuk, “Aku punya fotonya. Mau lihat?” Kuambil ponselku dan kuperlihatkan fotonya pada Soo Ji. “Ini?”
“Yang pakai baju merah muda itu?” Kami melihat seorang gadis cantik berambut pendek warna kecokelatan berdiri di samping teman Won Seok, bersama beberapa orang lainnya, mungkin rekan kerja. Mereka bersembilan. Satu-satunya perempuan. Masih muda lagi.
“Dia sepertinya baik,” komentar Soo Ji.
“Hei, dia lahir tahun 1980. Dia kelihatan muda sekali, ‘kan?” Takjubku.
Wah,” Soo Ji ikut takjub. “Berarti dia pandai merawat dirinya. Siapa tadi namanya?”
“Se Hee. Nam Se Hee.”

Di kantor start up, perempuan yang kami kira Se Hee berjalan gontai memasuki ruang tempat senior lelakinya sedang bekerja di depan komputer. Kacamatanya bertengger manis di wajah cantiknya yang suntuk, ia menenteng tablet layar 10 inci.  Di dekat mereka ada meja kerja rekan lain yang juga sibuk berkutat dengan komputernya.
“Se Hee-nim,” sapanya pada tokoh kita yang pernah ribut di restoran tempo hari lalu.
“Ya, Bo Mi-nim?”
Yang dipanggil Bo Mi, langsung menunjukkan tabletnya dan presentasi, “Seperti yang bisa dilihat, orang tak mendaftar karena prosesnya yang panjang. Terutama saat mereka memasukan informasi pribadi mereka.” Simpulnya, “Kurasa kita harus mempersingkat prosesnya di versi program baru kita.”
“Ya, baiklah.”
Bo Mi lantas membungkuk dan berlalu, namun Se Hee memanggil, “Tapi, Bo Mi-nim.” Bo Mi menoleh. Lanjut Se Hee, “Bukankah itu tak nyaman?”
Bo Mi cuma diam menunggu, tidak paham.
“Kau sepertinya memakai baju itu tiap kali tenggat waktu mendekat.”
“Paling tidak, aku harus pakai ini agar aku tidak melupakan identitas seksualku.” Ia memberi tekanan pada kata aku yang diulang. Lantas membalikkan badannya dan berlalu menuju ruang kerjanya.
Se Hee cuma diam. Dilihatnya sekeliling, para rekan kerja tampak benar-benar suntuk dan lelah. Beberapa menguap. Ia sebenarnya sama lelah seperti mereka namun berusaha menahannya. Ponselnya berbunyi, ada pesan masuk.
Kurasa hari ini kau lembur. Aku sudah pindah sesuai jadwal.
Lelaki itu segera meletakkan ponselnya dan memeriksa akun media sosial Yoon Ji Ho. Tak ada yang aneh. Ada fotonya dan foto sampulnya berupa suasana kelab malam dengan lampu kebiruan. 
Ia tiba di rumah larut malam. Begitu masuk, dinyalakannya lampu ruang duduk lantas menuju ruang sebelah berupa pantry. Ia membuka kulkas untuk mengambil botol air minum, sampai matanya tertumbuk pada kertas post-it yang tertempel di kulkas. Apa harimu berjalan lancar? Karena ini sudah malam jadi aku taruh memo di sini. Aku sudah buang sampah pagi ini. Aku sudah selesai memeriksa pemakaian listrik jam 11 siang. Aku sudah memeriksa penggunaan gas jam 3 sore.
Sembari membaca memo itu, Tuan Nam menuju meja dapur dan memeriksa catatan mengenai listrik dan gas yang tergeletak di meja. Lantas dibacanya lagi lanjutan memo itu. Terakhir, aku sudah kasih makan kucing dengan setengah kaleng tuna… dan dua cangkir makanan kucing. Ada dada ayam yang sudah kedaluwarsa di kulkas, jadi aku merebusnya dan memberikannya ke si kucing.
Dihampirinya tempat makan kucing, diperiksanya piring. Dada ayamnya tandas dihabiskan kucing. Mendadak Tuan Nam merasa puas. Ditengoknya pintu penyewa yang tertutup. Pintu itu ditempeli poster film The Graduate, seakan memberi aksen akan keberadaan penghuni baru.
Dan saat itu Ji Ho tengah pulas, tidak menyadari bahwa ia serumah dengan seorang lelaki, bukannya perempuan. Sebagaimana Tuan Nam tidak menyadarinya pula. Ia duduk di sofa dan mengelus kucing, “Kau pasti sudah kenyang.”
Si kucing cuma menggerakkan kepalanya manja, keenakan dielus tuannya. Dan Tuan Nam membaca lanjutan memonya. Oh ya, siapa nama kucingnya?
Pagi harinya, mereka bangun pada saat yang berbeda. Tuan Nam subuh jam 5, Ji Ho lebih siangan saat matahari sudah terbit. Tuan Nam langsung menempelkan memo di depan pintu kamar Ji Ho. Mengelus kucingnya sebentar, lantas berangkat kerja.
Pagi harinya saat Ji Ho bangun, dengan langkah mengendap ia mendekati kamar pemilik rumah dan menempelkan telinganya di pintu. Tak terdengar suara apa pun. Jadi dibukanya pintu kamar. Penghuninya sudah pergi. Lantas dilihatnya si kucing, Ji Ho menyapa dengan bahagia, “Selamat pagi juga.”
Ditutupnya pintu dan berbalik, matanya tertumbuk pada pesan yang ditempel di pintu kamarnya sendiri, kertas post-it di samping posternya. Dicabutnya memo itu, pesannya berupa si pemilik rumah ingin menulis kontrak sambil makan siang ini jika bisa. Senyum Ji Ho terkembang.
Di kantornya, Tuan Nam membaca aplikasi pesan ponsel yang masuk ke dalam layar komputer. Baiklah. Nanti aku datang ke kantormu hari ini.
CEO Ma, yang kepoan lagi minum teh botol, dilihatnya Tuan Nam tampak tercenung di depan komputernya. Ia mendekat dan turut intip-baca pesan tersebut. “Kau sudah memutuskan teman sekamarmu?”
Reaksi Tuan Nam cuma diam.
“Aku senang mendengarnya.” Jadi CEO Ma yang terkenal bawel itu malah berkoar bangga pada karyawan lainnya yang seruangan. “Semuanya, pernahkah kalian melihat CEO dan perusahaan semacam ini?”
Enam kepala yang seruangan dengan Tuan Nam serentak menoleh, memerhatikan bos mereka karena ingin tahu. Lanjut CEO Ma, “Aku cukup baik mencarikan dia teman sekamar. Tidak semua CEO seperti ini.”
Enam kepala itu malah memalingkan kepala dari CEO Ma, seakan tak peduli karena mereka kenal watak Tuan Nam yang dirasa aneh, paling juga akan berakhir seperti penyewa terdahulu.
“Bagaimana kau mengenal orang ini?” Tuan Nam menyela CEO Ma karena merasa tidak nyaman dengan koaran tadi.
“Dia teman juniorku dari klub bisnis.”
Karena tanggapan Tuan Nam cuma diam, jadi CEO Ma bertanya dengan khawatir. “Kau tak suka?” Ia berdiri canggung dengan botol minuman yang dipegangnya. “Apa menurutmu ia akan menelefon polisi lagi? Apa kucari orang lain saja?”
“Tidak. Aku sangat menyukinya.” Ia ucapkan itu dengan tampang dan nada kaku seperti biasa, namun kali ini ada yang luar biasa bagi CEO Ma dan rekan lainnya sampai kepala mereka sontak menoleh ke arahnya.
CEO Ma yang tercengang heran, bertanya, “Sangat?”
***
DI atas bus, aku sedang telefonan dengan Soo Ji. “Ya, aku lagi jalan ke kantornya. Dia sibuk.”
”Aigoo, aku senang mendengarnya. Dia teman Ho Rang, jadi dia pasti orang baik.” Soo Ji adalah insan paling optimis yang kukenal.
“Yah,” ujarku sambil membaca memo yang tadi, dan ada tulisan tambahan, namanya Kitty.  “Kurasa dia orangnya asyik.”
“Jangan pergi dengan tangan kosong. Belilah makanan buat teman sekantornya juga.” Saran Soo Ji. Ia selalu tahu apa yang harus dilakukan dalam kehidupan sosial.
“Jangan khawatir. Akan kubelikan buat mereka.”
Di kantor, Tuan Nam bangkit sambil melihat ponselnya. Ia keluar ruangan. CEO Ma yang menyaksikan sambil berdiri di sebelah meja kerja Bo Mi bergumam, “Dia sangat menyukai teman sekamarnya. Aku belum pernah dengar dia pakai kata ‘sangat’ ke orang, seumur hidupku.”
“Kadang, dia pernah.” Bo Mi menanggapi sambil bekerja menekuri komputernya, “CEO Ma ‘sangat’ terlambat hari ini. Candaan CEO Ma sangat garing.”
CEO Ma kesal, “Kau begini buat mencari perhatian orang, ‘kan?”
Bo Mi cuma diam.
“Atau membuatku kesal?”
“CEO, kenapa sandwich kita tidak datang? Padahal sudah dari tadi kita pesan.” Bo Mi malah mengalihkan topik pembicaraan. Mungkin ia sudah lapar.
CEO Ma mengamati jam di ponselnya sebentar, “Aku maklum mereka sibuk mengirim sandwich, tapi mereka selalu saja terlambat.”
“Mungkin lebih cepat kalau kita yang ke sana saja? ‘Kan cuma jalan kaki 5 menit.”
CEO Ma yang penyuka efisiensi waktu tidak setuju, “Kau ini terlalu baik. Apa aku saja yang harus mengambil makanannya?”
“Ya.
“Baiklah,” ucapnya spontan dengan jari ter-oke lantas jalan menjauh, mendadak balik lagi seakan teringat sesuatu.
Namun Bo Mi malah bangkit dari meja kerjanya dan menundukkan kepala, “Aku akan segera kembali.”
“Hei.” CEO Ma tidak sempat mencegah Bo Mi apalagi mengomelinya soal hierarki.
***