Selasa, 01 April 2014

Menjadi "Editor"




Tulisan ini pernah dimuat "Jawa Pos" (12/6/2005).

Semoga bermanfaat. Meski ada bagian yang diedit. Ini versi aslinya, yang diedit adalah tentang paparan karate karena kepanjangan atau agar tak sok. 

Menjadi "Editor" (Esai)


            Beberapa kali saya dipercaya sekian kawan untuk mengedit tulisan mereka, dari skripsi sampai fiksi. Atau sekadar komentar sampai bantaian. Beberapa kali saya nikmati tugas tersebut dengan rasa takjub dan geleng-geleng kepala. Saya takjub pada hasil pengembaraan imajiner yang mereka bagi, sekaligus geleng-geleng kepala jika bangunan imajiner tersebut tak terstruktur. Entah dari narasi, ide, cara penyampaian, sampai gramatika.



            Berhubung kebanyakan yang meminta tolong masih pemula, saya coba memaklumi kelemahan mendasar mereka. Meskipun demikian, bukan berarti saya bisa lunak, ada saat tertentu terpaksa galak. Bukan apa-apa, saya cuma peduli saja. Sebagai seseorang yang telah 6 tahun berkecimpung dalam dunia menulis (sejak Mei 1999),  saya merasa bertanggung jawab untuk mengenalkan proses. Proses menjadi” yang tak bisa seketika.



            Bertahun-tahun saya belajar secara natural, jatuh bangun dalam meniti jenjang kepenulisan tanpa ada yang membimbing atau sekadar memberi sentuhan secara langsung. Memahami penerimaan dan penolakan sebagai semacam keharusan untuk dipasrahi atau diberontaki. Namun yang lebih utama lagi, saya menyadari ada kenikmatan tersendiri yang bersifat sangat personal kala menghayati proses. Barangkali hasil merupakan tujuan, namun ukuran tersebut bukan merupakan acuan utama. Kegagalan adalah peluang yang masih menuntut kesungguhan untuk diperjuangkan. Keberhasilan merupakan jenjang menuju perjalanan selanjutnya yang masih membentang. Dan untuk itu dibutuhkan kesabaran sebagai penyeimbang kegigihan. Percuma gigih jika tidak sabar, namun percuma pula sabar jika tidak gigih.



            Bertahun-tahun, saya mencoba mencari jalan tersendiri untuk mengembangkan diri. Pelan namun pasti, perjalanan saya telah sampai di pertengahan untuk menuju etape selanjutnya. Tak percuma menempa diri dengan berbagai cara,  selama sekian lama. Sebab pada akhirnya “hasil” tersebut bisa saya bagi pada sekian kawan yang butuh bantuan untuk memahami proses dalam dunia kepenulisan.



            Saya belum sepenuhnya berhasil, belum mencapai taraf terkenal apalagi produktif; yang saya punya adalah pemahaman dan empati untuk dibagi, sebab dari situlah saya bisa merasakan nikmatnya proses.



            Seperti di arena dojo, untuk menguasai gerakan kata (perpaduan kihon dan gohon), Anda harus punya dasar berupa gerakan kihon (pukulan) dan gohon (tendangan). Untuk pemula (sabuk putih) awalnya cuma satu kali kihon dan gohon (contoh: kihon/gohon kanan lalu kiri sesuai aba-aba). Lalu tingkat sabuk selanjutnya (kuning), dua kali kihon dan gohon (contoh: kihon/gohon kanan dan kiri secara serempak dalam satu aba-aba). Lalu tingkat sabuk selanjutnya lagi (hijau), bisa beberapa kali kihon dan gohon yang masuk dalam kata. Tingkat kesulitan tersebut memiliki dasar untuk memudahkan. Semacam latihan berjenjang. Itu pun berlaku untuk tingkat sabuk selanjutnya (biru, cokelat, dan hitam), yang memiliki kesulitan tersendiri namun butuh latihan dan konsentrasi selain disiplin dan kerendahhatian menuju kumite (adu tanding/pertempuran).



            Demikianlah saya umpamakan dunia menulis dengan olah raga karate yang pernah diikuti semasa SMU di kota kecil Limbangan, Garut. Olah raga yang menempa jiwa saya untuk memahami proses dalam hasil, lalu saya ambil intisarinya bagi dunia menulis.



            Mengapa demikian?



        Kebanyakan mental penulis pemula masih perlu diasah, namun yang lebih penting lagi, mereka harus punya dasar dalam menyusun kerangka cerita berupa struktur bahasa dan gramatika; selain jeli melihat peluang untuk mengembangkan diri.



            Kedua hal tersebut sering saya dapatkan telah diabaikan kala mengedit, geleng-geleng kepalalah hasilnya. Entah karena struktur kalimat yang kacau atau ide yang tak bernalar atau gramatika yang acak-acakan. Kalau sudah demikian, teguranlah yang harus saya sampaikan, dengan contoh begini-begitu, lalu bla-bla-bla....



            Syukur-syukur jika ada yang “ngeh, namun ada juga yang mengabaikan dan terus membuat kesalahan berulang terutama dalam gramatika karena merasa“ dilindungi” licentia poetica.



            Licentia poetica bagi saya ada acuannya. Yang lebih penting adalah bagaimana  pendobrakan” atas dalih licentia poetica itu bisa berterima, sebab esensi utama dari tulisan adalah mengundang hasrat pembaca untuk memasukinya. Tanpa itu, onanilah.



            Saya tidak tahu mengapa hanya segelintir penulis yang benar-benar peduli pada gramatika. Ada beberapa penulis muda berbakat yang saya acungi jempol karena punya dasar cukup kuat dalam menyusun kerangka cerita sampai struktur bahasa. Beberapa di antaranya adalah Agus Hernawan (yang ternyata sesama guyuber), Linda Christanty, Raudal Tanjung Banua, Gus Tf Sakai, Ryana Mustamin, Stefany Hid, dan Stefany Irawan. Saya tidak tahu apakah ada campur tangan editor bahasa di media tersebut, namun sebagai seorang pembelajar gramatika bahasa Indonesia di milis guyubbahasa Forum Bahasa Media Massa (FBMM), saya mengagumi keapikan mereka dalam mengikuti dinamika berbahasa dan taat asas EYD. Di situ terasa bahwa mereka bertanggung jawab, baik pada masyarakat pembacanya sampai diri sendiri. Semacam menjaga reputasi bahwa mereka peduli, menghargai proses, dan mau belajar.



            Benarkah demikian?



            Citra itu sangat mahal, bahwa mereka bersungguh-sungguh bekerja dengan rasa dan karsa yang diiringi tanggung jawab. Sebab gramatika bukanlah sesuatu yang bisa disepelekan. Di sana terkandung kepribadian penulis yang bersangkutan dalam mengolah alur pikiran secara apik dan terstruktur. Maksud saya, ide boleh liar, namun jangan lupa bahan bangunannya: pondasi utuh berupa bahasa dan gramatika. Sebab bagaimana seseorang bisa menyampaikan pokok pikiran jika tak mampu menyusunnya secara mengena?



            Demikianlah pengalaman saya selama menjadi “”editor”. Tugas yang saya terima dengan senang hati sebagai semacam “pencerahan” dan “rangsangan” bagi alur kehidupan.***



Bandung, 7 Mei 2005


Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)









DATA BUKU

JUDUL      : Jangan Main-main (dengan Kelaminmu)
PENULIS   : Djenar Maesa Ayu
PENERBIT : Gramedia Pustaka Utama
CETAKAN  : Ketiga, April 2004
TEBAL      : xxvii + 122
ISBN        : 979-22-0670-1
HARGA      :Rp35.000

TULISAN DI SAMPUL BUKU:


Saya heran, selama lima tahun kami menjalin hubungan, tidak sekali pun terlintas di kepala saya tentang pernikahan. Tapi jika dikatakan hubungan kami ini hanya main-main, apalagi hanya sebatas hasrat seksual, dengan tegas saya akan menolak. Saya sangat tahu aturan main. Bagi pria semapan saya, hanya dibutuhkan beberapa jam untuk main-main, mulai main mata hingga main kelamin. Bayangkan! Berapa banyak main-main yang bisa saya lakukan dalam lima tahun?

INI TIDAK MAIN-MAIN!


Minggu, 23 Maret 2014

Penipuankah? Gak Pernah kirim Aplikasi ke Situs Careers!

Account Operator (IDR 1,100,000 - 1,600,000 per week) + 29 new jobs - Job Alert from JobStreet.com

Ke Saya
Mar21 pada 2:18 AM
Kami menghubungi Anda mengenai aplikasi Anda di situs Careers dan kami
menganggap Anda memenuhi kriteria kami untuk posisi . Payment Manager.
Perusahaan kami, Gran Turismo Club, sedang mencari karyawan paruh waktu.
Para pekerja yang baru kami rekrut memiliki kesempatan untuk mendapatkan
penghasilan dari Rp 1,100,000 hingga Rp1,500,000 per minggu.
Perusahaan kami berhubungan dengan orang-orang dan organisasi di belahan
dunia yang berbeda. Salah satu arah lapangan kerja kami adalah layanan
transfer di seluruh dunia. Ke mana pun orang ingin bepergian di mana pun
mereka berada, perusahaan kami ada di sini untuk membantu mereka dengan
tarif dan layanan konsumen terbaik! Untuk mengoptimalkan manajemen, kami
mempekerjakan orang-orang yang penuh perhatian, kreatif, dan bertanggung
jawab.

Untuk menjadi bagian dari tim besar kami, Anda perlu memiliki motivasi,
ijasah SMA atau universitas, keinginan untuk menghasilkan uang, serta
perhatian terhadap detil dalam proses transfer pelanggan. Anda juga
perlu memiliki keterampilan organisasi kerja dan pemecahan masalah
dasar.

Persyaratan Minimum:
- Berumur 21 atau lebih
- Memiliki KTP atau SIM yang masih berlaku
- Diperbolehkan bekerja di INDONESIA
- Tidak pernah melakukan tindak kriminal
Dengan menjadi bagian dari Gran Turismo Club, Anda akan memiliki
penghasilan tambahan yang baik dan kami juga memiliki sistem bonus yang
menggiurkan.

Jika Anda masih mencari pekerjaan, silakan email saya kembali -
rio.grande@gmx.com

Saya akan mengirimkan detilnya kepada Anda SECEPATNYA.
Kami akan meninjau jawaban Anda hanya dalam bahasa Inggris!
Periksa folder Junk pada email Anda jika email kami terkirim ke sana dan
bukan ke inbox Anda.

Best Regards,
JobStreet.com

PT JobStreet Indonesia, Wisma Bumiputera 5th floor, Jl. Jend. Sudirman,
kav. 75 Jakarta 12910

Privacy Policy - Copyright 2014 JobStreet.com
Klik untuk membalas se

Jumat, 21 Maret 2014

Menulis Biji Buah

Oleh Rohyati Sofjan 


 MUTIARA Aryani, kawan saya di Batusangkar, dengan riang menyatakan keheranannya kala membahas soal resep salad yang dimuat suatu majalah terbitan ibukota.
“Satu sisir buah manggis….” Ia tertawa. Bukankah menurutnya yang benar adalah satu atau beberapa juring buah manggis. Barangkali redaktur majalah yang bersangkutan  tidak bisa membedakan bahasa yang tepat atau bingung bagaimana cara menulis biji buah manggis.
Analogi yang tepat, menurutnya adalah “juring”, sama seperti jeruk. Mutiara mengumpamakan jeruk karena susunan buahnya yang melingkar dan tinggal dicopoti dari cangkang atau kulit buah.
Demi ketenteraman bersama, SMS tersebut dengan jenaka saya teruskan pada Pak T.D. Asmadi, kawan saya yang bergiat di FBMM (Forum Bahasa Media Massa). Mengajukan argumen Mutiara dan argumen saya yang sependapat dengannya, sebab merasa “sisir” itu lebih tepat untuk hitungan buah pisang. Saat itu saya sedang berada di dalam elf  ke Bandung jadi tidak mungkin langsung merujuk pada kamus. Pak T.D.A. ternyata sependapat bahwa kata yang tepat untuk buah manggis adalah “juring” bukan “sisir”.

 
Persoalan bagaimana cara menulis “satuan” atau “bijian” petak buah ternyata bukan perkara remeh. Sekali saja media terpeleset dalam ketidaktahuan macam tadi, bisa fatal akibatnya. Pembaca awam bisa ikut salah paham. Padahal maknanya beda jauh dan berlawanan. Alangkah elok kiranya jika redaktur majalah yang bersangkutan memeriksa dulu kata yang meragukan itu ke dalam kamus macam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Satuan sisir biasa dikenakan pada buah pisang. Barangkali karena bentuknya yang mengingatkan pada sisir untuk merapikan rambut. Dalam KBBI edisi ketiga sisir (n: nomina/kata benda), selain sisir beneran, bermakna gugus pisang (bagian dari tandan).
Sedangkan juring (n) searti dengan ulas dan pangsa.
Menyusuri halaman lain dalam KBBI untuk memahami ulas ternyata berarti bagian buah-buahan (jeruk, durian, dsb) yang berbentuk  ruang atau petak-petak (mudah dilepas atau dibuka dari bulatan buahnya). Pun pangsa berarti petak-petak dalam buah-buahan (seperti buah durian).
Tidak bisa dibayangkan lucu dan ironisnya jika petak-petak dalam buah manggis yang manis dan menggiurkan disebut sisir.
Amboi, sertakan cermin!***
#Cipeujeuh, 23 Desember 2013

~Gambar hasil paint sendiri~
#Juring #UlasBahasa     

Kamis, 20 Maret 2014

Dan Alam pun Bertasbih



Jelajah Pustaka

Dan Alam pun Bertasbih

Oleh Rohyati Sofjan

*Penulis Lepas


S
aya iri pada anak zaman sekarang, mereka beroleh akses informasi dengan mudah, bagus pula. Syukur-syukur jika mereka bisa menggunakannya untuk mengoptimalkan potensi diri ke arah yang lebih baik secara positif. Apalagi dunia penerbitan sekarang lebih maju dibanding dengan zaman saya masih bersekolah dulu. Itulah sebabnya mengapa saya iri ketika membaca buku ajar biologi anak tetangga yang pelajar kelas XII Madrasah Aliyah. Judul di atas merupakan judul buku ajarnya, diterbitkan Balai Pustaka (cetakan pertama, Mei 2008), dengan stiker “Milik Departemen Agama RI Tidak Diperjualbelikan”, itu milik sekolah.
Dan Alam pun Bertasbih, begitu puitis. Andai saja semua buku ajar menggunakan metafora sastra baik sebagai judul maupun isi pasti itu akan sangat menggugah minat siswa agar mereka mencintai ilmu dengan kesungguhan hati. Pelajaran biologi bisa disampaikan secara menarik dengan ilustrasi berupa tabel, bagan, grafik, dan beragam foto berwarna yang bisa mempermudah siswa untuk mengenali bentuk sekaligus keagungan ciptaan illahi. Yang lebih penting lagi adalah bahasa! Bagaimana menyampaikan sesuatu yang dianggap berat secara ringan, jelas, bernas, dan meresap. Bahwa tidak zamannya lagi siswa harus hafal tanpa paham substansinya. Mereka bisa belajar dengan rasa cinta pada ilmu. Belajar dengan rasa syukur dan tawadu pada Allah Sang Maha Mencipta, sebab relung kesadaran mereka digugah untuk merenungkan makna kehidupan. Manusia tak lebih dari partikel kecil dari penciptaan jagat raya ini. Ilmu semestinya disampaikan secara bersahabat dengan bahasa yang komunikatif dan mengena. Bahasa kering dan bertele-tele hanya akan membuat anak didik merasa berjarak dengan ilmu sendiri. Ini pengalaman yang pernah saya rasakan selama 12 tahun bersekolah di sekolah umum. Apa yang pernah disampaikan menguap begitu saja. Buku ajar tak lebih dari materi yang membosankan, sekumpulan teks miskin imajinasi. Itulah sebabnya saya iri pada anak zaman sekarang, mereka beroleh kemudahan yang mestinya dimanfaatkan sebaik-baiknya.
Jika pelajaran sastra dianggap terpinggirkan, tidakkah sastra sendiri bisa diaplikasikan dalam beragam buku ajar? Setidaknya keindahan dan fleksibilitas bahasa Indonesia menyentuh masyarakat banyak, secara dini pula. Dan dengan itu, siapa tahu masalah kekacauan berbahasa bisa diatasi. Tentunya sastra yang tak mengabaikan gramatika.
Dan Alam pun Bertasbih sesungguhnya bisa membantu siapa saja untuk memahami biologi secara keseluruhan, dengan kajian islami. Buku yang terasa istimewa karena terdapat beberapa kolom seperti Tahukah Kamu agar kita bisa tahu berbagai macam keterkaitannya dengan materi yang dibahas; Aplikasi Nyata yang memuat artikel penting tentang materi terkini; Ayat-ayat Qauliyah berisi kutipan arti ayat-ayat Al Qur’an yang berhubungan dengan materi; Mutiara Hikmah; Hadist yang mencantumkan hukum Islam; Tafakur yang memuat kontemplasi mendalam terhadap fenomena alam yang didasari atas keseimbangan daya pikir dan zikir; Tokoh Muslim yang menampilkan sosok-sosok pahlawan muslim biologi yang berjasa; dan Fakta yang Menakjubkan.
Ilmu sesungguhnya sangat bermanfaat jika disampaikan dengan bahasa yang jelas sekaligus mengena, bukan saatnya lagi siswa dicekoki buku ajar yang abai soal itu. Alangkah indahnya jika bahasa Indonesia tidak melulu mencakup sastra semata peruntukannya.
Limbangan, Garut, 17 April 2011