Kamis, 28 Desember 2017

Bisakah Memisahkan Pelajaran Sastra dari Bahasa?



 

Oleh Rohyati Sofjan


SEBUAH  surel masuk ke dalam inbox saya, surel yang ditujukan untuk beberapa orang selain disebarkan ke milis. Judulnya saja sudah provokatif: “Dunia Pengarang adalah Dunia yang Egois”, apalagi isinya.
Rekan penulis surel itu dari Padang, Sayyid Madany Syani. Ia mengomentari acara temu-temuan atau pesta sastra yang menurutnya “mubazir”. Ia justru membidik, katakanlah memaparkan secara argumentatif tentang peran pengarang/sastrawan/penyair dalam mengakrabkan pendidikan sastra di tingkat dasar sampai menengah yang dianggapnya lengah.
Surel itu membuat saya selaku orang awam bingung, ada kebenaran dari peryataannya. Meski, sejujurnya saya merupakan orang pinggiran yang tak tahu menahu soal temu-temuan apalagi pesta-pestaan sastrawan.
Namun saya tertarik pada substansinya, tergerak untuk menanggapi secara everyone. Intinya, meski bingung, saya sepaham dengan Sayyid sebab sudah cukup kenyang dijejali kabar mengenai klik-klikan antarkubu pegiat sastra.
 Kesannya, sastra itu “menyeramkan”. Membuat saya tidak tahu harus berada di posisi mana. Posisi kaum muda demi solidaritas antarkawan, posisi kaum tua karena menghargai proses tanpa niat melakukan kultus individu, atau posisi netral saja karena saya masih suka ke sana-kemari dan tak ingin memihak namun juga tak suka jika mandek di tempat.
Oke, kehidupan sesungguhnya tak melulu hitam-putih, ada wilayah abu-abu yang lebih menantang. Daripada terlibat konflik, mending selaku orang awam yang ingin menikmati sastra namun tak mengasingkan diri dari pergaulan sekitar, baik tua-muda, sekuler-Islami; saya memilih tak berpihak pada pegiat sastra melainkan pada sastra itu sendiri. Dan itu bukan hal mudah sebab eksistensi sastra tak bisa dilepaskan dari pegiatnya. Namun haruskah klik-klikan itu menjadi sesuatu yang abadi dalam sejarah pergerakan sastra Indonesia?
Sebagai penanda bahwa sastra memang harus begitu, demi cemin kehidupan yang tak jauh beda? Bahwa klik-klikan atau acara temu-temuan itu hal biasa sebab telah mencontoh kaum pendahulu sebelumnya, sepanjang sejarah sastra yang kita ketahui dari angkatan Pujangga Lama, Pujangga Baru, sampai masa sekarang?
Sebagaimana halnya opini berbuah opini juga. Tanggapan saya ditanggapi seorang rekan penulis lain. Ia beranggapan secara pribadi dan didukung dua kawannya bahwa Sayyid terlalu menuntut banyak agar kaum sastrawan sesuai konsepsi ideal.
Menurutnya, kaum sastrawan/pengarang/penulis banyak yang hidupnya kacau jadi jangan berharap terlalu banyak. Pun, sangat tidak adil jika kaum guru dipersalahkan dalam kegagalan sistem pendidikan bahasa Indonesia jika anak didiknya saja malas belajar dan meremehkan mapel itu. Belum lagi sistem pendidikan yang ada sekarang sangat tidak kondusif, sehingga wajar jika dalam UAN kemarin banyak siswa yang tidak lulus gara-gara nilai bahasa Indonesianya terjegal.
Baiklah, melihat gelagat semacam itu yang cuma bikin saya tambah bingung, bagaimana jika persoalan siapa yang jadi kambing hitamnya dialihkan pada hal lain. Daripada bangsa kita dianggap bangsa kambing karena suka saling tuding.
Saya mengandaikan agar mapel bahasa Indonesia dirombak total. Antara bahasa dan sastra merupakan dua mapel berbeda. Dan itu dilakukan sejak tingkat dasar. Dari SD sampai sekolah menengah. Agar sastra menjadi sesuatu yang akrab dalam kehidupan bangsa Indonesia. Begitu pun cakupan tata bahasa  tidak diulang melulu. Padahal, sebagai miliser guyubbahasa Forum Bahasa Media Massa (FBMM), saya merasakan betapa dinamisnya ilmu tata bahasa itu.
Ya, andai saja pelajar kita sudah akrab dengan sastra sejak dini, mereka bisa lebih termotivasi menjalani kehidupan dan kaya imajinasi. Tentunya mapel sastra yang asyik bukan melulu hafalan atau pengajaran teks “asing” berulang-ulang tanpa pernah dibacanya. Semacam teori kosong yang cuma harus diingat tanpa dipahami benar intisarinya, apalagi bersentuhan dengan sumber aslinya.
Lalu tata bahasa, mengapa orang bisa berbahasa Indonesia tanpa paham kaidahnya (apalagi makna), malah sering menyalahi kaidah? Ada semacam kegagalan kurikulum, seolah-olah mapel tata bahasa merupakan perulangan membosankan. Hal yang sudah diajarkan sejak SD atau SMP malah diulang kala SMA. Kalau sudah demikian, bagaimana pelaku kebahasaan sendiri bisa menghargai bahasa yang dituturkan? Seolah-olah ilmu-tata-bahasa-itu-sempit-banget-dan-tak-asyik.
Sandra, anak tetangga sebelah yang baru lulus SMK, sependapat agar mapel sastra dan tata bahasa Indonesia dipisahkan saja. Gadis cantik itu memang cukup pintar dan tak mengalami kesulitan dalam UAN kemarin, mengingat perjuangan kedua orang tuanya yang harus banting tulang membiayai sekolah dua anak saja sudah cukup berat. Apalagi biaya sekolah Sandra sendiri, sudah jauh di kota kecamatan, mahal lagi.
Baginya materi tata bahasa itu membosankan daripada sastra sebab ia mengalami kebingungan dan perulangan yang tak perlu. Kalau sastra sebaliknya merangsang sayap-sayap imajinasi, meski Sandra sendiri mengalami kesulitan untuk hal tertentu yang dirasa asing dari sastra sendiri.
Paparan Sandra mengingatkan saya pada guru bahasa Indonesia yang mengajar kala kelas dua di SMP Muhammadiyah 8 Antapani Bandung. Pak Edi Sabarudin punya cara khas yang asyik, memisahkan sastra dan tata bahasa. Artinya, satu jam pelajaran dibagi dua bagian. 30 menit untuk tata bahasa, sisanya untuk sastra. Buku catatan pun terpisah.
Alhasil, murid-murid menjadikannya sebagai mapel favorit. Belum lagi tugas-tugas sastra dalam bentuk paper dan makalah dengan tenggat waktu tertentu. Seperti membuat paper mengenai Chairil Anwar sebagai permulaan.
Akibatnya, saya jadi suka sajak “Datang Dara, Hilang Dara” karena merasa terinspirasi untuk menemukan sesuatu dari puisi. Pelajaran tata bahasa pun tak dirasa sulit sebab catatan murid-murid sistematis. Itu membuat mereka cepat paham akan sesuatu bukan hafal semata -- kecuali untuk murid tertentu dengan kasus tertentu. Selain itu, Pak Edi pun mewejang agar murid-muridnya mengikuti kaidah berbahasa secara benar (gramatikal dan leksikal).
Sayangnya, hanya Pak Edi saja yang mengajar cara demikian, cara yang penuh kecintaan. Guru selanjutnya ternyata tak seluwes apalagi sesistematis beliau. Tak heran, masa SMU adalah masa membosankan untuk mapel bahasa Indonesia. Sesungguhnya anak didik membutuhkan keteladanan dan inisiatif dari pengajar sendiri. Selain sarana pustaka yang memadai.
Jika pun pemerintah tak melakukan perubahan signifikan dalam dunia pendidikan, semoga ada banyak guru mapel bahasa Indonesia yang mendedikasikan ilmunya dengan semangat seperti Pak Edi Sabarudin. Meski 30 menit itu tak cukup untuk bahasa dan sastra.
Pun, soal idealisme Sayyid Madany Syani, saya menghargainya. Juga tetap menghargai opini dari rekannya. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana agar kita bisa tetap berbuat bagi sesama selain berkarya. Dengan atau tanpa pesta dan temu-temuan segala.***

Cipeujeuh, 23 Juli 2008

Padanan pun Harus Patut


OLEH Rohyati Sofjan


PADA umumnya kata yang berasal dari bahasa asing beroleh istilah baru sebagai kata serapan. Kata serapan adalah kata yang diserap dari bahasa lain. Akan tetapi, tidak serta-merta kita menyerap suatu kata dengan mengindonesiakannya sesuai pelafalan dalam bahasa kita. Masih ada jalan lain untuk menerjemahkan suatu kata (benda, sifat, kerja, dan lainnya) ke dalam padanan bahasa Indonesia yang sesuai.
        Jika KBBI IV saja memiliki lema sebanyak kurang lebih 78.000 buah, baik dalam kata asli atau serapan, berarti bahasa kita sangat kaya kosakatanya. Dan ketika suatu kata atau istilah asing sedang populer penggunaannya, berkaitan dengan situasi yang ada; kata tersebut ramai digunakan, dan ramai pula pelaku kebahasaan yang peduli berdiskusi demi mencari padanan yang tepat ke dalam bahasa Indonesia.
        Media massa lebih banyak berperan dalam menyebarkan penggunaan istilah asing. Akan tetapi, ironisnya, media massa, terutama cetak, pun berupaya menjadi penyebar informasi bagi masyarakat untuk memadankan istilah tersebut ke dalam bahasa Indonesia, dan masyarakat awam yang pada mulanya tidak tahu bisa sangat terbantu.
Ketika suatu istilah asing tengah ramai diperbincangkan, masyarakat bisa ikut-ikutan memopulerkan istilah tersebut karena ketidaktahuan padanan. Sayangnya, jika pelopor pemopuleran istilah asing tersebut (media massa) terlambat mengantisipasi dengan mencari padanan kata, lalu entah karena koreksi dari pakar bahasa atau kesadaran internal mulai memadankan istilah tersebut ke dalam bahasa Indonesia, masih ada sebagian orang awam yang bingung kala disodorkan padanan tersebut karena tidak dijelaskan artinya.
        Ambil contoh, isi berita suatu harian Pikiran Rakyat yang memuat kalimat perundungan seksual  pada awal Januari 2016. Kita terbiasa dengan kalimat dirundung nestapa atau dirundung kemalangan. Dirundung seakan merupakan hal negatif, tidak baik, sial, dan sejenisnya.
        Dan ketika membaca perundungan seksual mungkin ada yang bingung mengartikannya sebagai apa. Perundungan sebagai kata berimbuhan awalan dan akhiran (konfiks), merujuk pada suatu kejadian atau hal yang dialami dari kata dasar rundung.
        Rundung sendiri memuat dua arti: 1. Ganggu, usik, usik terus-menerus; untuk pekerjaan atau perbuatan negatif. 2. Tertimpa suatu kejadian buruk dan biasanya kecelakaan, bencana, kesusahan, dan sebagainya.
        Arti kedua lebih populer penggunaannya daripada arti pertama. Karena itu kalimat perundungan seksual yang bermakna penggangguan atau pengusikan seksual terasa asing daripada kalimat pelecehan seksual yang kekerapan pemakaiannya lebih sering.
        Beberapa tahun yang lalu, dalam diskusi di milis guyubbahasa Forum Bahasa Media Massa (FBMM), Pak T. D. Asmadi pernah membahas soal padanan kata untuk bully atau bullying. Maka ramailah anggota milis sumbang saran. Ada yang memadankan dengan menggencet, menggertak dan menindas.
        Menggencet berarti menekan. Menggertak berarti mengancam dengan suara keras. Tindas bermakna tindih, himpit, tekan pula. Menindas berarti memperlakukan pihak lain dengan lalim, sewenang-wenang, atau kekerasan.
        Memadankan suatu kata atau istilah asing ke dalam bahasa Indonesia harus mempertimbangkan rasa bahasa atau nuansa bahasa untuk kalimat yang akan digunakan.
        Pada umumnya pemakaian bully atau bullying digunakan untuk kasus kekerasan yang dilakukan oleh pihak yang lebih kuat pada yang lemah. Entah senior pada yunior di sekolah atau kampus. Karena itu, kasus bully dikalangan anak-anak dan remaja lebih rentan, dan kekerapan pemakaiannya pun lebih sering.
        Entah terpengaruh bahasa dari film tentang kekerasan, maka bully atau bullying pun dipakai tanpa dicarikan padanannya, padahal KBBI telah memuat beragam padanan yang ada.
        Seperti contoh hasil diskusi guyubbahasa di atas, bisa sebagai pilihan padanan bully. Namun ada nuansa bahasa yang dirasa kurang pas karena bersifat situasional. Maka, ada media yang beralih memilih padanan macam rundung lalu risak.
        Menurut Tendy K. Somantri, sesama anggota FBMM, rundung atau risak sudah ada dalam KBBI yang bisa dipadankan dengan bully. Penggunaannya kembali sudah cukup lama juga, sejak 2014, bahkan mungkin sebelumnya.
        Bagi yang belum tahu, risak (kata sifat) bermakna mengusik, mengganggu. Sama dengan makna pertama dari rundung. Di google, kata kunci risak berada di urutan pertama untuk nama orang asing seperti Martin Risak. Hanya sedikit link yang memuat perihal risak sebagai pengganti bully.
Di situs Tribun Medan, Abul Muammar menulis judul “Perkenalkan Risak Pengganti Kata Bully”. Atau dalam situs lain, Ketika Sandiaga Uno Sudah Mulai Curhat Kena Risak _ layanan_publik _ tempo.co.htm.
Dalam pernyataannya, anggota Komisi X DPR, Venna Melinda mendukung kebijakan Mendikbud yang melarang kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa). Menurutnya PLS (Pengenalan Lingkungan Sekolah) harus bertujuan memberikan kesan baik bukan malah merisak. (Pikiran Rakyat, 15/7/2016)
Entah Venna atau redaktur yang mengambil istilah merisak, namun itu semacam terobosan baru agar risak bisa populer sebagai padanan bully. 
        Sebab, risak sebagai kata yang "baru" dan dipopulerkan lagi terasa asing dan kurang populer penggunaannya. Entah penulis atau penutur bahasa ragu bahwa kata tersebut akan berterima dan mudah dipahami oleh pembaca atau lawan bicaranya. Maka kata asing pun kerap dipakai dengan beragam alasan, entah agar keren atau gagah, meski pemakaian bully atau bullying bersifat negatif.
        Ambil contoh kasus tetikus yang kurang laku sebagai kata serapan dari mouse karena pengucapannya agak ribet. Beda dengan unggah (upload) atau unduh (download) yang lebih sering digunakan karena mudah diucapkan.
        Mengungkapkan sesuatu ke dalam istilah asing tak ada salahnya, namun jika telah ada padanan dalam bahasa Indonesia, lebih baik kita pergunakan padanan tersebut.
        Bagaimanapun, peran media massa cetak (berikut pemuatan rubrik/kolom bahasa Indonesianya) sangat besar manfaatnya bagi kita untuk menyebarkan dan menjelaskan suatu kata atau istilah yang telah lama ada.
        Indonesianisasi adalah suatu sikap agar kita tak minder dengan bahasa sendiri. Kita harus punya konsep kesadaran pada kapasitas diri yang tak terbatas untuk digali dan dieksplorasi.
        Sudah saatnya kita punya identitas diri yang tak membeo pada istilah "asing". Bahasa mencakup nasionalisme pada kebangsaan: BANGSA INDONESIA!(*)
#Cipeujeuh, 14 Agustus 2016
~Gambar hasil paint sendiri~
#NasinalaismeBahasa #BahasaIndonesia #PadananKata

Menanti Suami




Saya tak bisa mengenyahkan mimpi buruk itu. Sudah lama sekali. Apakah arti mimpi, semacam ketakutan alam bawah sadar atau firasat yang mungkin terjadi? Namun mimpi yang satu ini memang sialan! Saya takut jadi kenyataan.

MIMPI saya: mendatangi rumah suami. Ia sedang di teras bersama seorang perempuan cantik dan sedang hamil juga. Saya tidak kenal siapa ia. Bingung dari mana muasalnya. Ia lebih rapi dan berperhiasan, rambutnya lurus sepundak. Memakai baju hamil yang bagus, perawakannya lebih besar daripada saya, pun gundukan perutnya.
Sedang saya? Ampun, lusuh juga. Pakai kaus hijau belel, rambut tergerai sepunggung dan berantakan. Tak memakai riasan apalagi perhiasan. Saya menarik lengan suami agar menjauh dari perempuan itu. Namun tangan mereka malah saling erat berpegangan.
Saya berusaha keras menarik suami sampai mendekati sumur. Dan tak tahu mengapa saya sudah berada di mulut sumur dengan sebelah kaki di dalamnya. Seolah hendak menceburkan diri berikut suami jika bisa. Mimpi itu tak jelas akhirnya, saya sudah terjaga. Sendirian di ranjang. Suami kerja jauh jadi buruh bangunan di Tangerang. Saya kesepian sekaligus ketakutan!
Cemburu? Tentu setiap istri miliki rasa itu. Apalagi jika harus tinggal berjauhan, pasti ada syak wasangka. Apalagi sudah dari sononya saya termasuk cemburuan. Saya mengkhawatirkan suami dan takut kehilangan!
Beginilah nasib istri yang ditinggal jauh suaminya mencari nafkah di luar kota. Sesuatu yang bahkan tak pernah terbayangkan. Menikah saja masih dalam hitungan bulan. Dan saat lajang jika dalam kendaraan melihat sepasang suami-istri, terkadang dengan anak mereka, saling berpamitan; saya hanya melihatnya sebagai adegan wajar. Tak pernah merasa harus sentimental karena bukan pemeran demikian.
Namun setelah menikah segalanya berbeda. Saya menjadi bagian dari peristiwa-seorang-istri-ditinggal-suami-untuk-kerja. Belajar memahami lintasan kehidupan. Dan saya mencintai suami meski tidak tahu seberapa besar rasa cintanya pada saya.
Saya takut perempuan itu menjadi sosok nyata di kemudian hari. Bahwa saya harus kalah bersaing dalam banyak hal. Kurus mungil dan tak seksi, berpenampilan sembarangan dan tak pandai menggunakan riasan meski punya seperangkat kosmetik dari seserahan.
Perempuan itu cantik dan tahu bagaimana merawat penampilan. Bukan berarti saya tak bisa dandan dan mengurus penampilan, namun harus saya akui kurang peduli untuk selalu apik sepanjang hari. Saya ibu rumah tangga yang cukup sibuk dengan dunianya.
Dulu suami tak pernah meributkan penampilan, namun sejak pulang ia protes menyuruh saya selalu dandan, barangkali terpengaruh pada selera orang kota, atau hanya ingin bangga bahwa istrinya cantik senantiasa.
Saya merindukan suami.
Ia lelaki yang baik meski sering dicela orang lain. Setidaknya ia cukup  baik pada saya. Saya membutuhkan lelaki macam demikian, yang tidak kasar pada istri dan bertanggung jawab. Jika bercinta, ia selalu tanya apa saya sudah orgasme atau belum. Dulu saya tak tahu apa arti orgasme, tetapi saya menikmati persetubuhan kami karena tidak macam-macam dan cara konvensional. Tak bisa saya bayangkan jika bersuamikan macam Wen Fu tokoh rekaan Amy Tan dalam novel The Kitchen God’s Wife, lelaki kasar bahkan dalam percintaan. Itu mengerikan!
Suami akan berusaha lagi dan lagi sampai saya orgasme. Ia bahkan rela memenuhi keinginan saya jika tak puas dan ingin lagi, bukan karena tak memuaskan melainkan saya menyukai persetubuhan kami. Saya hanya suka jika tubuh kami sudah menyatu, seperti ada ikatan agar tak terpisahkan. Apakah semua perempuan menikah demikian?
Ia lebih suka bercinta dengan lampu menyala, katanya lebih menggairahkan jika sambil melihat wajah saya. Ekspresi aneh yang tak dijumpai dalam rutinitas keseharian selain di atas ranjang. Apakah pasangan yang sedang bercinta selalu jauh lebih rupawan?
Saya tertawa dan menceritakan hal demikian pada seorang kawan yang sudah dianggap abang. Kami selalu blak-blakan jika chatting di YM! sebab entah mengapa merasa nyaman. Ia belum menikah juga meski usianya sudah 35. Namun ia minta saya mendoakan agar bisa menikahi perempuan pilihan yang dikenalnya. Ia begitu bahagia cerita perihalnya, dan kebahagiaannya meresap pula pada saya.
Kami bisa bicara berjam-jam perihal apa saja, ia berbeda dan tak membuat saya terhakimi jika bercerita mengenai hal pribadi yang paling memalukan. Padahal kami hanya dipertemukan jaringan Multiply, dan dulu saya sering baca tulisannya karena kagum pada keahliannya dalam membuat desain grafis sampai fotografi. Ia yang mulai meng-add saya, kawan Fakhurradzie Gabe yang jurnalis juga. Padahal Radzie hanya kawan maya saya di milis guyubbahasa. Radzie sudah lama tak berkabar. Mungkin masih sibuk jadi aktivis LSM kemanusiaan. Saya juga sudah lama tak nongkrong di milis guyubbahasa, terlalu sibuk memasarkan tulisan ke berbagai media. Segalanya berbeda, apalagi setelah menikah kini. Lebih fokus pada kehamilan dan suami.
Kembali pada suami, pernah di awal pernikahan kami, saat bangun pagi saya merasa lemas sekali. Ia membangunkan saya sampai menyadari sakit sungguhan untuk pertama kali dalam pernikahan. Ia cemas sekali. Saya berantakan daripada biasanya. Kelelahan dan kurang makan. Juga demam.
Jadi, ialah yang mengerjakan aktivitas harian. Sampai membangunkan saya lagi untuk mandi air panas. Ia yang memasaknya. Katanya saya harus makan dan minum obat, jadi diminta mandi dulu agar mendingan. Lalu boleh tidur lagi, ia yang menyelimuti. Namun saya bosan jadi pesakitan, jelang sore kembali beraktivitas mengabaikan sarannya agar beristirahat. Saya tak suka terus-menerus menggigil kedinginan dan butuh gerak. Ia tak bisa melarang. Namun saya menyukai perlakuannya dalam merawat istri.
Kami tak pernah bertengkar hebat, hanya perselisihan kecil yang tak meninggalkan riak. Namun pernah satu kali kami berselisih untuk hal konyol. Saya ingin bercinta sedang ia terlalu lelah dan tak bergairah. Saya marah dan memunggunginya, ia merasa bersalah dan coba mengalah. Berupaya menghidupkan “peralatannya” agar siap tempur dan mencumbu saya.
Namun saya terlalu marah dan sok jual mahal. Gantian ia tersinggung dan kembali berpakaian. Saya menyesal dan minta maaf, namun ia malah marah. Jadi begitulah, ketika ia berpakaian, saya kembali mengenakan pakaian yang dilucutinya. Ditambah sarung, dan bersiap pergi ke rumah ibu saya. “Mau ke mana?” tanyanya sambil berbaring.
“Pulang!” jawab saya, kesal karena tak beroleh keinginan apalagi dimaafkan untuk yang tadi.
Ia pikir saya main-main, namun saya benaran keluar kamar dan hendak membuka pintu ruang tamu. Ia menyusul dan mencegah saya. “Sudah tengah malam,” katanya sambil menunjuk jam yang terpajang di dinding gedek.
Saya tercengang. Pukul dua belas lebih. Berapa lama tadi kami berselisih? Namun saya terlalu egois dan kecewa padanya jadi tak peduli. Tiba-tiba ia malah bersimpuh memegang kaki saya. Itu peristiwa paling mengagetkan, seumur hidup baru ada yang demikian. Namun saya mendorongnya dan terpaksa berbalik ke kamar. Lalu saya menyesal apalagi ia tidak ikut masuk kamar. Saya membuka tirai dan masih melihatnya bersimpuh cara tadi, ia sedang tercenung dan tampak menyesal.
“Masuklah,” kata saya akhirnya, tak tega juga melihat ekspresi wajahnya.
Ia mendongak tak percaya, dan saya harus minta maaf agar ia kembali masuk kamar. Pada akhirnya kami saling meminta maaf dan memaafkan. Kembali berbaring di kasur dan berpelukan. Tidak ada amarah apalagi kebencian.
Dan saya tak memaksanya jika ia enggan bercinta karena stres atau kelelahan. Meski pada akhirnya saat lelah pun ia berusaha agar bisa memenuhi keinginan saya maupun keinginannya. Ia seolah takut peristiwa tersebut berulang. Biasanya jika sedang ingin, ia tanya dulu apa saya rida melayani dan tak memaksa jika ternyata enggan. Kalaupun memaksa, ia tak kasar dan saya selalu luluh untuk melayaninya toh juga menikmati.
Saya hanya engan pada bulan ke-5 kehamilan karena khawatir pada bayi. Namun suami selalu melakukannya dengan cara lembut dan pelan-pelan. Rasanya kami tidak bermasalah di atas ranjang. Hanya kadang menjumpai masalah dalam hidup keseharian. Dan seks bagi kami bisa jadi semacam pelipur lara, penghilang kesedihan agar tetap bahagia.
SMS dari Reni kawan saya di Bandung membuat heran. Ia mengutip saran dokternya agar lebih sering bersebadan biar bayi kuat. Anaknya satu, perempuan dan sudah masuk TK. Pasti cantik seperti ibunya.
Saya kangen dan ingin menjumpainya, namun tak boleh bepergian terlalu jauh. Suami akan melarang untuk alasan apa pun. Ia mengkhawatirkan saya dan bayi, apalagi saya pernah ambruk dan nyaris pingsan pada kehamilan bulan ke-3 karena kecapaian. Menjadi pemalas dan sangat moody pada bulan ke-4, malah muntah-muntah pada bulan ke-5. Lalu membaik pada bulan ke-6. Lalu masih mual dan kadang muntah pada bulan selanjutnya jika di jamban.
Ada banyak peristiwa. Ia bukan lelaki yang romantis apalagi sok puitis. Namun ia bisa romantis. Pernah suatu malam ia meninggalkan saya tidur sendirian untuk nonton TV di tetangga sebelah. Ia merasa bersalah meski saya tak melarang. Sebab begitu saya terjaga, mendapati lengannya sudah memeluk tubuh dan kepala saya. Ia sendiri sudah terbaring nyenyak. Entah pukul berapa. Namun biasanya ia tak pernah meninggalkan saya lama. Rumah suami dikononkan angker lokasinya. Meski saya tak peduli dan biasa keluar sendiri untuk panggilan alam, suami lebih sering menemani.
Ia menyuruh saya memakai sawen di kutang, katanya untuk jaga-jaga. Entah jaga-jaga dari apa. Saya tak percaya klenik dan enggan harus berjimat. Isi sawen lucu, kantung kain kecil beraroma bawang putih. Namun saya terpaksa mematuhinya, ia hanya ingin mematuhi petuah orang tua tentang kepercayaan karuhun.
Yang lucu adalah pada suatu malam ia mengupas bawang putih dan menggosokkannya di jempol kaki saya. Disuruh neneknya. Penolak setan yang barangkali doyan mengemut jempol perempuan hamil untuk diisap darahnya. Ada-ada saja. Saya jadi berbau bawang putih dan tak menggairahkan untuk bercinta. Lucunya ia tetap mengajak bercinta di antara aroma bawang yang menguar.
Saya menanti suami pulang. Mencoreti angka di kalender setiap hari. Berharap ia baik-baik saja dan dijauhkan dari perbuatan maksiat maupun petaka. Saya mencintainya dengan doa yang melimpah. Ia lelaki bersahaja yang tak keren dari segi penampilan. Celana dalamnya saja sudah belel dan menyedihkan padahal cuma lima. Saya tak ada waktu untuk menjahit ulang dan menyarankan beli lagi karena tak tahu ukurannya. Namun ia mengabaikan. Katanya lebih mementingkan keperluan saya dan bayi.
Sekarang sejak kerja jauh, ia bertambah kurus. Saya sedih melihatnya. Seperti interniran zaman perang. Hampir menyerupai jerangkong terutama di tulang selangkangan. Namun ia hanya bilang, “Semua demi kamu.” Membuat saya termangu.
Ia menjawab kecemasan saya kala melepasnya pergi atau menyambutnya pulang, bahwa saya khawatir sesuatu menimpanya di perjalanan. Ia rela mengorbankan nyawanya demi saya dan bayi. Saya tak tega dan tak ingin jadi janda. Bayi kami membutuhkan figur ayah, bukankah ia sangat ingin jadi ayah. Dan kami mensyukuri kehamilan ini sebab ada banyak pasangan yang sulit beroleh keturunan. Namun kami sadar bahwa itu harus diperjuangkan dan butuh pengorbanan besar.
Bayi selalu bergerak, kata orang pertanda sehat. Saya melihat hidup dan bayi dan suami; sebagai bagian dari lingkaran takdir. Dan saya tak berharap perkawinan kami kandas menuju titik nadir!***
Cipeujeuh, 5 September 2009